Not a Bad Girl (c) darkjune a.k.a Junee_Park

Drama-Romance

Teenager-Rated

Main cast: Jeon Jungkook x Kim Yerim

Other cast: Jung Hoseok, Park Jimin

Jungkook, Yeri, dan karakter lainnya milik Tuhan, keluarga, agensi, fans, dan dirinya sendiri. Da aku mah apa atuh, cuma punya alur cerita hehehe

...

Jungkook memeriksa catatan pelanggaran siswa yang dibawanya. Saat mendekati ujian kenaikan tingkat, catatan pelanggaran harus dikumpulkan dan anggota komisi kedisiplinan akan memeriksa siswa mana yang butuh bimbingan dari pak Hoseok, guru konseling di sekolahnya.

Pemuda itu menghela nafas begitu melihat nama Kim Yerim berderet dengan pelanggaran berpoin lima. Belum termasuk berandalan yang butuh teguran, hanya saja Jungkook penasaran. Karena pemuda itu tahu bahwa Yeri bukanlah gadis nakal, dia gadis baik dan polos.

"Hey, serius sekali." Jungkook menoleh dengan wajah terkejut saat melihat sepupunya merangkul pundaknya.

"Kak Jimin mengagetkan saja." Park Jimin mencebikkan bibirnya. "Mengagetkan apanya? Kau yang terlalu serius dengan kertas-kertas itu. Memangnya itu apa sih?." Jimin mengambil buku catatan pelanggaran yang sudah selesai dikoreksi Jungkook, pemuda itu sekarang sedang sibuk mencatat nama-nama calon anggota konseling semester depan.

"Kim Yerim? Hey bukankah dia- waaah" Jungkook mengangguk-angguk sebagai balasan terhadap Jimin yang mulai heboh. "Bagaimana bisa dia melakukan- ah, hanya pelanggaran-pelanggaran ringan rupanya. Gadis ini mencari perhatian sepertinya."

Jimin menutup buku itu dan melemparnya ke meja, sementara Jungkook belum bergerak dari posisinya. Sang kakak sepupu hanya berdecak kagum melihat fokus Jungkook yang luar biasa. Tiba-tiba ponsel Jungkook bergetar, membuat gantungan kura-kura miliknya bergerincing. Jimin mengintip, ternyata sebuah panggilan.

"Hey Kook, ada telfon." Jungkook berdehem tidak jelas.

"Hey ada telfon dar-." "Sst, diamlah kak, aku sedang sibuk." Jimin akhirnya mengangkat bahu dan menyandarkan dirinya di sofa, mengambil ponselnya sendiri dan mulai bermain game. Keduanya berakhir dengan mengabaikan ponsel Jungkook yang terus bergetar.

...

Yeri tersenyum manis saat melihat Jungkook di gerbang sekolahnya. Gerbang itu baru saja ditutup lima menit yang lalu. Yeri bergegas mendekat dan menyapa Jungkook dengan ramah.

"Hai. Guru piket yang lain mana?." Yeri menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tidak menemukan orang lain.

"Kau ini tidak punya jam atau bagaimana sih?." Yeri memandang Jungkook bingung. Nada suara Jungkook terdengar kesal.

"Kau kenapa?."

"Aku? Kau yang kenapa Yeri? Kenapa kau terus menerus melanggar peraturan?." Yeri tergagap saat mendengar rentetan pertanyaan yang Jungkook ajukan dengan nada yang meninggi.

"Ini sekolah, bukan taman bermain. Seriuslah sedikit. Kalau kau masih ingin bermain-main, pergi saja ke taman di dekat rumahmu, tidak usah ke sekolah." Gadis di hadapannya nampak terkejut, tapi Jungkook belum selesai berbicara. "Ini sudah hampir ujian kenaikan tingkat. Jika kau masih bemain-main jangan berharap kau bisa mendapat nilai yang baik." Yeri menunduk sambil memainkan jarinya. Kali ini dia gugup.

"Ya sudah, masuk. Kali ini masih ditolerir." Yeri melangkah dalam diam. Sebelum benar-benar pergi ke kelasnya, gadis itu menoleh dan menghela nafas tanpa tenaga.

...

Hari ini Jungkook bisa pulang tepat waktu, rapat rutinnya berakhir jauh lebih cepat karena hanya untuk memberikan nama-nama anggota konseling kepada pak Hoseok. Di halte bus, Jungkook menemukan Yeri yang sedang menunggu kedatangan bus untuk pulang. Pemuda itu mengenalinya dari gantungan berbentuk kelinci yang tersemat di tas Yeri. Jungkook segera berjalan mendekati gadis itu.

"Kau langsung pulang?." Yeri menoleh sekilas lalu kembali memandang ke depan tanpa menjawab pertanyaan Jungkook. Jungkook kebingungan, saat pemuda itu hendak membuka suara kembali, bus yang mereka tunggu datang.

Yeri segera berdiri, diikuti Jungkook yang terus mengekor. Bahkan kini duduk di sebelah Yeri. Rumah keduanya memang searah, sayang sekali Jungkook sering menghabiskan waktunya bersama anggota komisi kedisiplinan, sehingga waktu pulangnya lebih lambat.

Dalam bus, Yeri masih membisu. Bahkan ketika Jungkook terus bicara dan bertanya, gadis itu tetap diam. Yeri memilih untuk memandang dahan yang berjalan menjau saat bus bergerak.

"Hey hey, kau tidak mendengarkanku ya?." Yeri melirik, gadis itu mendengarkan Jungkook sejak tadi. Dia tahu apa saja yang dikatakan Jungkook, mulai dari ujian yang sebentar lagi akan dilaksanakan, tugas-tugas komisi kedisiplinan, hingga ekstrakulikuler yang mulai diliburkan. Tapi Yeri memilih untuk mengacuhkannya.

Dua puluh menit berlalu dan Yeri sampai di halte tujuannya. Jungkook turun bersama Yeri sekalipun halte yang dia tuju masih dua blok dari situ. Pemuda itu hanya penasaran apa yang terjadi hingga gadis seceria dan secerewet Yeri berubah begitu pendiam. Jungkook takut seseorang melukai gadis itu.

"Yeri, kau sebenarnya kenapa sih?." Yeri berhenti, dua langkah di depan Jungkook, membuat pemuda itu ikut menghentikan langkahnya. Yeri menoleh dengan wajah kesal.

"Sudah? Apa kau sudah selesai berbicara?." Jungkook bisa menangkap nada tak enak dari kalimat yang dilontarkan Yeri. "Kau benar-benar penasaran kenapa aku melakukan pelanggaran-pelanggaran itu?." Seolah terhipnotis, Jungkook mengangguk tanpa sadar.

"Karena aku ingin melihat wajah pacarku, juga mendengar suaranya." Jungkook terdiam, mulai paham kemana arah pembicaraan Yeri. "Apa kau tahu sulit sekali menemui pemuda itu? Bahkan untuk mendengar suaranya di telfon saja aku tak bisa." Yeri melangkah mendekat, hanya satu langkah.

"Aku sudah sering mengatakan padanya, tapi dia tidak mengerti. Atau mungkin dia tidak peduli lagi." Yeri terkekeh sedih. "Apa lagi yang bisa ku lakukan?." Suaranya mulai pelan.

"Kalau memang dia tidak bisa mengerti, mungkin memang harusnya aku yang paham kalau aku tidak sepenting itu untuknya." Yeri melangkah mundur lalu berbalik dan melanjuykan perjalanannya menuju rumah.

Sementara itu Jungkook masih mematung. Saat dia kembali ke dunia nyata, Yeri sudah melangkah jauh. Jungkook ingin mengejarnya, tapi entah mengapa dia merasa Yeri kini sudah terlalu jauh. Lebih jauh dibanding jarak antara kakinya dan punggung Yeri yang terus mengecil.

TBC

A/n: ((diupdate sebagai bahan pengalihan dari beritanya SNSD)) Ini next chap udah kelar kok. Ngelarin ini dulu ya, baru lanjut Assumed terus fokus ke Game juga.