Wait, Girls?!
M
GenderswitchxBoyslove
Seventeen Pairing
. . .
Hari ini setidaknya Maya harus melakukan sesuatu. Maya, salah seorang penduduk dunia peri yang bekerja di bagian keadilan. Kelebihan, tidak ada. Kelemahan, sangat banyak. Satu-satunya peri yang tidak bisa terbang, ceroboh, dan pembuat onar. Apapun yang di sentuhnya pasti akan berujung dengan kekacauan. Selama kurang lebih seratus tahun dunia peri –yang artinya satu tahun di dunia manusia- Maya sama sekali belum mencetak prestasi kerja di kantornya. Itu sebabnya sampai sekarang ia masih belum juga mendapatkan sayap dan juga tidak ada orang yang mau memberinya tugas sungguhan. Selama ini ia selalu di beri tugas-tugas ringan yang tidak berarti apa-apa.
Orang-orang di kantor sudah bolak balik sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing. Sedangkan Maya masih duduk diam di tempatnya. Tanpa mengerjakan sesuatu. "apa yang akan kau lakukan hari ini? Melamun seharian? Lagi? Ahahaha." Sindir teman sekantornya. Laki-laki berwajah sok ganteng itu memang musuh bebuyutan Maya. "Chan, aku sedang tidak ada mood untuk berkelahi denganmu hari ini." Ucap Maya mendengus, memundurkan kursinya. Chan tersenyum dengan menyebalkannya hanya membuat Maya semakin kesal melihatnya.
"apa aku salah?"
"kau selalu salah." Bergantian Chan yang mendengus.
"hm yasudah kalau begitu aku tidak jadi memberimu tugas." Tubuh Maya seketika mengegak dengan tatapan penuh harapan. Tugas! Itu yang di tunggu-tunggunya selama ini tapi..
"tunggu! Ini tugas sungguhan kan? Bukan tugas semacam membersihkan debu peri atau menjaga anak kepala direksi?" Maya sering sekali di panggil untuk di beri tugas-tugas rumah tangga untuk di urusnya di kantor. Bukannya tugash sungguhan. Matanya memicit menatap Chan penuh selidik. Chan yang tadi sempat berbalik untuk pergi kembali menoleh pada gadis peri berambut panjang dengan dress putih selutut yang menjadi seragam kantor dinas keadilan. "bukan, ini tugas sungguhan." Ucap Chan dengan yakin.
"kalau begitu apa tugasnya?"
"sabar, aku sedang menyiapkannya.." Chan memejamkan matanya kemudian menjentikan jari. Seketika muncul sebuah map yang berisikan informasi untuk tugas yang akan di jalankan oleh Maya. "tebal sekali.." Maya menghitung tebal berkas itu yang kira-kira setebal lima cm.
"setelah kau baca semua berkas itu, yang kau harus tau adalah, bagaimana pun cara kau harus menghukum anak-anak itu, mereka semua telah melakukan kejahatan dan keadilan harus di tegakkan." Ucap Chan dengan serius. Maya mengintip-intip berkas itu, halaman pertama tugas itu berjudul "karma"
"karma?"
"itu kata kuncinya." Ucap Chan lagi. Kening Maya mengkerut, otaknya yang pas-pasan masih belum bisa mencerna maksud dari tugas ini. "ohiya kau kan bodoh makanya tidak mengerti." Chan mulai menyebalkan lagi. Ingin rasanya Maya melepas sepatu bertumitnya ini lalu menyumpelkannya di dalam mulut Chan. Setelah berkata seperti itu Chan berlalu dengan tawanya yang sangat mengejek.
"huh." Dengus Maya menyenderkan bahunya di kursi kerja. "karma.." ia menggumamkan judul itu sambil mengetuk-ngetuk dagunya. Daripada membuang waktu memikirkan maksud judul itu, Maya lebih memilih untuk membuka halaman selanjutnya. Terdapat sebuah profil lengkap dengan foto dan riwayat hidup. Profil pertama, Maya sempat mengira dia adalah wanita dengan rambut panjang pirangnya itu. Kemudian profil kedua adalah dua orang cowok ganteng bermata sipit. Yang satu berambut pirang yang satu rambutnya kecoklatan. Maya membalik lagi halamannya dan menemukan profil dua orang lagi, dua duanya terlihat sangat manis untuk seorang laki-laki. Dengan rambut yang seperti permen kapas. Yang satu silver keunguan yang satu lagi berwarna pink. Terutama yang rambutnya warna pink, sangat menggemaskan dengan pipinya yang berisi. Kemudian Maya membalik lagi, yang terakhir ini juga sangat menggemaskan dengan pipi bulat, mata bulat, dan bibir tipis yang kissable. Di foto itu ia tersenyum lebar dan sangat menggemaskan untuk ukuran seorang laki-laki.
Maya hanya sempat melihat-lihat wajah para manusia itu. Maya belum membaca apa yang tertulis di sana. Setelah membacanya.. rahang Maya hampir jatuh. Masalah yang mereka buat sungguh menjijikan, mengerikan, dan sangat melanggar. Meski tidak semua tapi hampir semua mempunyai masalah yang fatal. Sebagai peri dinas keadilan yang bertugas untuk mengadili manusia-manusia yang melakukan kesalahan yang tidak bisa di selesaikan oleh manusia biasa karena tak kasat di mata manusia. Maka Maya yang harus bertindak. Dengan semangat Maya menutup lagi berkas itu dan beranjak menuju portal yang akan membawanya kedunia manusia. "mereka harus diadili seadil-adilnya." Gumamnya lagi sebelum masuk ke portal.
. . .
Playboy. Sebutan untuk seorang cowok yang sering gonta ganti cewek. Sebutan untuk cowok yang bermulut manis. Selain itu, apa yang ada dipikiran kalian begitu membaca kata 'playboy'? tampilan necis. Biasanya ganteng emang tapi kebanyakan sok ganteng. Orang supel dan gak bisa diam.
Sebut saja dia Wonwoo. ganteng, kharismanya luar biasa, sekali senyum aduhhhh bikin meleleh. Hobinya, baca buku, penampilan necis abis. Kekampus aja pakai jaket bomber + ripped jeans. Ga heran kalau banyak cewek yang naksir.
Kelebihannya, dia ganteng, kekurangannya, dia gak bisa liat cewek bening sedikit. Wonwoo sedang asik membaca buku klasik kesukaannya di perpustakaan saat ia melihat sesosok cewek berkacamata dan berambut panjang. Gayanya boleh nerd, but pretty innocent. My type. Ucapnya dalam hati.
Pas sekali. Cewek itu duduk di hadapan Wonwoo, ia sempat melirik Wonwoo sekilas. Yang dilirik tentu saja sudah tebar pesona seperti yang biasa ia lakukan untuk menaklukkan cewek. Dan sepertinya pesona itu telah menjadi umpan. Karena cewek itu langsung tersipu begitu Wonwoo melayangkan tatapan mautnya.
Cewek itu tidak konsentrasi membaca buku karena terus memperhatikan Wonwoo yang kembali pura-pura membaca bukunya. Tetapi cewek itu tidak melakukan lebih dari memandangi Wonwoo. Padahal Wonwoo ingin sekali berbicara dengannya untuk sekedar menanyakan nama dan id katalknya atau jenis sns lain yang di milikinya.
Tiga puluh menit. Bahkan cewek itu sekarang tidak memperhatikannya lagi. Sekarang Wonwoo yang harus bertindak. Wonwoo diam-diam meletakkan handphonenya di meja. Kemudian ia menutup bukunya dan hendak beranjak pergi. Ia sengaja meninggalkan handphonenya di sana. Kalau cewek itu sadar ada sesuatu milik Wonwoo yang tertinggal, cewek itu akan mengejar Wonwoo untuk mengembalikannya. Dalam hitungan, satu.. dua..
"chogi," tiga. Wonwoo menoleh, cewek tadi berdiri di belakangnya dengan handphone Wonwoo ada di tangannya. Disini Wonwoo mengeluarkan bakat aktingnya. "astaga, teledornya aku." Ucapnya pura-pura terkejut. Tangannya terulur untuk mengambil handphonenya di tangan cewek itu. Wonwoo sengaja menyentuh sedikit tangan cewek itu saat mengambil handphonenya. Lembut. Ucap Wonwoo dalam hati lagi.
"terima kasih." Lanjut Wonwoo tersenyum tipis. Senyuman tipisnya selalu membuat gadis-gadis lugu menjadi lemah. Cewek ini salah satunya. Ia tersipu bukan main. Padahal Wonwoo hanya tersenyum tipis padanya. "kalau boleh tau, siapa namamu?" Wonwoo melancarkan modusnya.
Gadis itu langsung gelagapan. "a-aku? Namaku.. Minkyung." Ucapnya mengenalkan diri dengan menundukkan kepalanya sedikit sebagai etika. "nama yang bagus, aku Wonwoo, salam kenal." Ucap Wonwoo. Dari situ Wonwoo memulai aksinya.
Sepulang dari perpustakaan Wonwoo langsung mencari informasi tentang gadis itu melalui sns. Padahal saat ini ia tengah dekat dengan seorang gadis lain bernama Nayoung. "lime!" dering notifikasi sns masuk ke handphone Wonwoo saat ia asik menscroll halaman bukuwajah milik gadis bernama Minkyung tadi.
[oppa! Oppa ingat tidak hari ini hari apa? ^3^]
Wonwoo hanya memandangi layar handphonenyadengan ekspresi datar sambil mencoba mengingat-ingat.
[hari ini … hari kamis?]
Wonwoo mengirimkan pesan itu, taklama kemudian masuk lagi notifikasi yang membuat Wonwoo berdecak kesal.
[-mengirimkan stiker cemberut- hari ini kan hari ke 100 kita!]
Wonwoo mengerutkan kening. "apa aku sudah selama itu pacaran dengannya? Rekor baru." Gumam Wonwoo tetapi tidak segera membalas dan lebih memilih mencari id lime Minkyung lewat outstagram. Setelah menemukannya, Wonwoo dengan cepat menambahkannya sebagai teman dan memulainya dengan mengirimkan sebuah pesan "hi!" dengan stiker melambai.
Dalam hitungan detik Wonwoo sudah mendapat notifikasi lagi. Wonwoo sudah senang, tetapi ternyata notifikasi dari chat dari Nayoung.
[kenapa cuman di read?]
[oppa!]
[kau menyebalkan!]
Wonwoo mendecak melihat Nayoung yang sibuk memenuhi chatnya.
[kita putus saja. Aku sudah bosan denganmu. ]
Balas Wonwoo singkat tanpa berpikir panjang. Tanpa mempertimbangkan apa resiko dan keuntungan ia memutuskan sebelah pihak dengan seenak udelnya. Di tempat lain sudah pasti gadis bernama Nayoung itu terkejut, tidak terima, dan menangis tersedu-sedu. Wonwoo sih lebih memilih menunggu balasan dari gadis yang bernama Minkyung. Bodo amat dengan Nayoung.
"hyung! Ada twice di music bank!" seru seungkwan yang kebetulan lewat di depan kamar Wonwoo. Wonwoo langsung menegakkan tubuhnya mendengar nama Twice. Ia adalah fans berat seulgi ia hampir tak pernah absen untuk datang ke acara fansignin yang di adakan setiap grup idolanya itu comeback. Langsung saja Wonwoo melompat ke depan tv yang berada di samping meja belajarnya dan menyetel Channel kbs.
Benar saja, grup idolanya sedang tampil. Membawakan lagu dengan judul seperti orang mendesah. Lagunya unik dan menarik juga bikin kecanduan. Diam-diam Wonwoo hapal gerakan dari lagu itu karena Soonyoung –sebenarnya kembaran tapi tak sama- sering berlatih dengan lagu itu. Tentu saja hanya Wonwoo yang tau soal ia bias menarikan lagu twice, jika yang lain tau terutama seungkwan bisa bisa menjadi rahasia public.
Asik-asik ia menonton penampilan twice, Nayoung sudah beberapa kali menelponnya namun Wonwoo tidak sadar karena keasyikan. Ia baru sadar ketika notifikasi balasan dari chat Minkyung masuk. Wonwoo tidak memperdulikan miscall Nayoung. Ia memilih chattingan dengan Minkyung.
Mulai dari sana Wonwoo semakin asik dengan Minkyung. Banyak informasi yang di galinya. Minkyung ternyata satu tahun lebih muda darinya, dan bersekolah di kampus wanita di gangnam, dekat dengan kampusnya sendiri, dengan begitu mereka bisa sering bertemu. Mulai dari jam enam sore sampai jam Sembilan malam Wonwoo hampir tidak pernah melepas handphonenya. Merasa cukup dekat –walaupun baru kenal- Wonwoo langsung mengajak jalan Minkyung.
[besok sore.. apa kau ada waktu?]
Wonwoo send.
[besok sore? Ada, kenapa?]
Wonwoo read.
[bagaimana kalau kita jalan-jalan?]
Wonwoo send. Jarinya terketuk di layar handphone menunggu balasan dari Minkyung.
[ayo..]
Wonwoo bersorak senang. Walaupun sudah malam sorakannya tidak akan membangunkan siapa-siapa. Karena lagi-lagi malam ini ia tidur sendiri karena Wonwoo yang biasanya tidur di bagian atas ranjangnya tidak pulang. Bodo amat dengan Wonwoo. Yang penting besok ia ada jadwal kencan. Dengan gadis baru.
Sorenya Wonwoo benar-benar pergi dengan gadis yang sudah menunggunya di halte tempat mereka janjikan. Wonwoo datang lebih dulu ke halte itu kemudian di susul oleh gadis berambut panjang, berkulit putih susu, kacamata berframe bulat itu masih tersangkut di hidung mancungnya. Malu-malu ia mendekati Wonwoo. Gayanya yang innocent membuat Wonwoo semakin senang melihatnya. "m-maaf aku terlambat." Ucapnya merunduk sedikit.
Manis sekali. Gumam Wonwoo dalam hati. "tidak papa, aku juga baru sampai, ayo." Minkyung terlihat malu-malu menyamakan langkah dengan Wonwoo yang membawanya naik ke bus. Di jam siang seperti ini bus tentu saja ramai sehingga Wonwoo dan Minkyung tidak kebagian tempat duduk dan mau tidak mau berdiri. Wonwoo memposisikan dirinya di belakang Minkyung. Gadis yang beberapa senti lebih pendek darinya ini ternyata terlihat lebih menggemaskan dari belakang.
Singkat waktu, mereka akhirnya sampai di sebuah kawasan perbelanjaan yang menjadi tempat favorite anak-anak muda untuk menghabiskan waktu. Banyak yang di lakukan oleh Wonwoo dan Minkyung, melihat-lihat, berbelanja, membeli permen kapas, memilih buku, hingga bercerita tentang apa saja yang membuat mereka menjadi terhubung. Sesekali Wonwoo melempar candaan khasnya pada Minkyung. Walaupun tidak lucu tetapi Minkyung tetap tertawa.
Merasa sudah cukup lelah dan sedikit lapar, Wonwoo pun mengajak Minkyung untuk pergi ke sebuah kafe kecil yang berada di ujung jalan. Mereka berdua duduk di sebuah tempat di sisi kafe yang berbatas langsung dengan kaca bening sehingga mereka bisa melihat pemandangan luar. Dan pengunjung dari luar pun dapat melihat mereka dari dalam. Seperti, Nayoung contohnya, mulutnya ternganga, matanya terbelalak begitu dari seberang jalan ia melihat Wonwoo duduk berdua berhadapan dengan seorang gadis.
Ia melangkah besar-besar dan cepat menyeberang masuk ke dalam kafe. Di carinya tempat duduk Wonwoo dan Minkyung. Tatapannya sudah seperti mesin scanner, memindai semua sisi dan bagian. "awas kau." Gumamnya dengan tangan terkepal menghampiri Wonwoo juga Minkyung.
Dari kejauhan Minkyung sudah melihat Nayoung yang wajahnya di tekuk, keningnya berkerut, wajahnya menahan emosi. Tanpa di sadarinya ternyata Nayoung sudah berdiri di samping meja mereka dan menatap marah Wonwoo. "oppa! Siapa cewe ini?" Minkyung tidak mengerti dengan situasi seperti ini hanya bisa terkejut. Ia pikir Wonwoo akan bereaksi terkejut ketika melihat Nayoung seperti kebanyakan reaksi laki-laki playboy lain. Tapi Wonwoo hanya memasang wajah datar dan dengan santainya menjawab, "dia? pacarku."
Tangan Nayoung semakin terkepal. Wajahnya mendadak sedih dan matanya mulai berkaca-kaca. "l-lalu.. aku ini apa?" tanyanya dengan suara bergetar. "pacarku juga." Jawab Wonwoo dengan lebih santai. Minkyung dan Nayoung sama-sama menahan nafas. Bedanya Nayoung sudah hampir menumpahkan air mata sementara Minkyung terkejut dan.. kesal?
"kau bercanda, Wonwoo?"
"apa aku terlihat seperti seseorang yang sedang bercanda?" Nayoung semakin menahan air mata dan emosinya yang semakin memuncak.
"kau.. kau tidak pernah menyukaiku sebelumnya?"
"menurutmu? Ah.. aku berpacaran denganmu hanya karena kasihan, aku hanya ingin membuatu berhenti mengemis cinta padaku." Wonwoo menyeringai. Lihat, betapa jahatnya playboy satu ini.
"kau akan menyesal!" Nayoung berteriak dengan airmata yang sudah mengalir karena tak tertahankan. "menyesal tidak ada di dalam kamusku." Sahut Wonwoo membuat Nayoung mengangkat tangan kanannya dan..
PLAK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Wonwoo. Tetapi tangan Nayoung masih terangkat. Tamparan itu bukan dari tangan Nayoung melainkan tangan Minkyung. Kacamata bulat itu tak lagi bertengger di hidungnya. Wajah manis dan lugunya berubah menjadi menyeramkan. Tatapan tajam dan ekspresi penuh amarah. Aura hitam seperti sedang menyelimutinya. Wonwoo terkejut melihat perubahan drastic itu. "Lelaki brengsek!" ucapnya pelan tapi menusuk lalu meninggalkan Wonwoo di café itu masih bersama Nayoung. Wonwoo hendak mengejar Minkyung namun di tahan oleh Nayoung. Ketika Wonwoo berbalik, belum sempat berbicara, segelas kopi hangat di siramkan ke wajahnya. Puas dengan segelas kopi, Nayoung melangkahkan kakinya keluar dari café itu meninggalkan Wonwoo yang menjadi tontonan pengunjung.
"sial." Gumam Wonwoo. "apa yang kalian lihat?!" sambarnya marah membuat para pengunjung itu semakin berbisik dan mengalihkan pandangan. Yah, hari ini mungkin memang hari sialnya Wonwoo, kasian.
. . .
Apa sebelumnya aku pernah bilang kalau Wonwoo punya kembaran? Benar, namanya Soonyoung. Tepatnya ia lahir lima menit sebelum Wonwoo. Jadi statusnya ia adalah kakak kembar Wonwoo. Matanya lebih sipit, kulitnya sama pucat dengan Wonwoo. Bedanya wajahnya lebih manis dan kegiatannya lebih ganas.
"Soonyoung kemana?" tanya seseorang dengan wajah garang, tubuh besar, dengan banyak pengikut. Seorang bertubuh besar itu bertanya pada seorang yang lain yang sedang duduk di depan sebuah aula tak terpakai di belakang sekolah. Aula tak terpakai itu kini menjadi markas para penguasa sekolah. Bukan kepala sekolah ataupun kepala yayasan, melainkan sekelompok pembuat onar.
Para pembuat onar yang memakai jaket kulit bukannya blazer untuk seragam sekolah. Rambut di cat warna warni, tato, tindik, sudah menjadi ciri khas. "Jawab aku, idiot!" termasuk kata kasar, juga menjadi dasar tata karma mereka untuk berkomunikasi. Laki-laki bertubuh besar tadi terus-terusan saja meneriakan nama Soonyoung dengan mencengkram kerah kemeja laki-laki bertubuh kecil yang tadi duduk di depan pintu aula. Entah kenapa ia bisa semarah itu, mungkin.. ah.. sudah biasa.
"aish kalian ribut sekali!" Soonyoung keluar dengan menendang pintu aula. Padahal ia bisa menggunakan tangan untuk membukanya. Biasa, ia hanya memancing kegaduhan.
Suara Soonyoung itu membuat laki-laki bertubuh besar tadi melepas cengkramannya dan melempar sandraannya lalu beralih pada Soonyoung. Ia berganti mencengkram kerah Soonyoung. Soonyoung menghela nafas, hanya sekali dorongan, laki-laki bertubuh besar itu terlepas cengkramannya. Tanpa babibu dengan sedikit perenggangan, satu tonjokan melayang di pipi laki-laki itu. Di balas dengan tonjokan untuk Soonyoung. Tonjokan itu pun menular kepada para anak buah mereka. Terjadi pertumpahan darah dan pertempuran yang sengit antara kubu Soonyoung dan kubu laki-laki bertubuh besar itu.
Tinjuan di pipi kanan kiri, perut, tendangan selangkangan. Lempar sana lempar sini sudah menjadi olahraga rutin para pembuat onar. Guru sendiri pun sudah lelah untuk menegur mereka atau menghukum mereka. Kadang jika memang mereka sudah melebihi batas, tidak segan-segan kepala sekolah sendiri yang menelpon polisi untuk menangkap mereka. Tetapi mereka tetap saja lolos. Heran.
Yah itu cuman sekelibat dari kegiatan kembaran Wonwoo. Anehnya, tubuh kurusnya itu mampu menjatuhkan lawan yang tubuhnya lebih besar. Tawuran itu pun berakhir dengan kemenangan dari kubu Soonyoung. "Mati lo! Babi!" ucapnya mengakhiri dengan menendang tubuh pingsan lawannya tadi. Kasar.
. . .
Soonyoung merupakan sosok yang di takuti di sekolah. Sebut saja dia pentolan sekolah. "dia datang!" seru seorang siswa di koridor sekolah saat geng yang di pimpin Soonyoung hendak berjalan melewati koridor. Serempak mereka kocar-kacir kabur. Ada yang langsung minggir membuka jalan, ada yang langsung sembunyi di kelas, ada yang entahlah kenapa mereka bisa setakut itu dengan gengnya Soonyoung.
Ada satu orang, yang berani berjalan mendekati geng mereka. Seorang gadis, berdiri di tengah-tengah koridor menghalangi jalan mereka. Soonyoung mendelik gadis itu langsung menunduk takut. Kedua tangannya berada di belakang, ia sedang menyembunyikan sesuatu di balik badannya.
"dari gelagatnya, ia ingin menyatakan cinta padamu bos." Bisik salah satu anak buahnya. Membuat Soonyoung mendelik kea rah gadis tadi yang gelisah, gugup, bahkan bicaranya juga terbata-bata. "s-Soonyoung shii," ucapnya malu-malu. Soonyoung hanya menatap datar gadis di hadapannya yang melangkah semakin mendekat.
Dengan tangan bergetar gadis itu menyodorkan sebuah kotak berwarna pink dengan ornament biru. Kotak hadiah yang sangat cantik. Soonyoung tersenyum tipis, ia menerima kotak itu, "terima kasih," ucapnya kemudian berjalan bersama rombongannya melewati gadis tadi. Dengan tidak berprikemanusiaannya sooyoung melempar ke tong sampah hadiah pemberian gadis itu. Gadis tadi menyaksikan secara langsung adegan tersebut. Ia terkejut bukan main. Saksi mata adegan itu hanya bisa menggelengkan kepala.
"maaf, tapi aku tidak perlu sampah seperti itu." Ucap Soonyoung menoleh dengan seringaiannya lalu di ikuti oleh tawa dari para anggotanya meninggalkan gadis malang yang menangis sedih. "kau jahat! Kau akan menyesal!" gadis itu berteriak. Sementara mereka masih tetap tertawa.
Di samping itu, ada gadis lain lagi yang menghalangi jalan mereka. Kali ini bukan gadis yang tak di kenal seperti tadi. Yang ini adalah gadis spesial, sooyoung dan gengnya mengenal baik gadis satu ini. "Kyungwon," gumam sooyoung terkejut melihat kekasihnya muncul di hadapannya lagi setelah seminggu ini gadis bernama Kyungwon itu tidak memberikan kabar.
Gadis berambut pendek itu menatap Soonyoung dengan tatapan misterius. Antara sedih, marah, dan kecewa. Tidak bisa di tebak. "bisa kita bicara?" pintanya pada Soonyoung. Soonyoung menatap para anggotanya, "kalian duluan saja," perintahnya, para anggotanya pun menuruti perintah tersebut. Mereka pergi berlalu meninggalkan Soonyoung dan Kyungwon berdua.
Kyungwon menatap sekitar. Tidak ada siapa-siapa selain mereka. "apa ada sesuatu yang akan kau sampaikan?" tanya Soonyoung. Kyungwon mendadak serius, ekspresinya sedikit takut tetapi tekadnya lebih besar daripada rasa takutnya. Sooyoung menghela nafas, ia teringat suatu kejadian, tapi menurutnya kejadian itu tidak perlu di sesali karena mereka melakukannya berdasarkan suka sama suka. Hal seperti itu tidak bisa di bilang pemerkosaan karena Kyungwon sendiri yang menyerahkan tubuhnya. Hell, kucing mana yang tidak mau menerima ikan segar?
"aku.." Kyungwon mulai berbicara. Soonyoung memasang telinga untuk mendengarkan kelanjutannya. Tapi Kyungwon malah berhenti berbicara dan terlihat semakin takut. "katakan saja jangan tak-."
"apa kau akan menerima setelah aku mengatakannya?" Soonyoung mengerenyitkan keningnya.
"kau punya pacar baru?" Kyungwon menggeleng. "lalu? Katakan saja, aku akan menerimanya." Ucap Soonyoung santai.
"aku hamil." Ucap Kyungwon dengan cepat, singkat, dan padat. Soonyoung terdiam. "katakan sekali lagi." Perintahnya.
"aku hamil!" ucap Kyungwon dengan tegas membuat Soonyoung mendecak kesal. "aish! Bagaimana bisa.. sial!" ucapnya marah-marah sendiri sambil menendang-nendang angin. Tangannya tertumpu di tembok terdekat. Sebelahnya lagi memegang kening, mendadak kepalanya menjadi pusing luar biasa.
"kau yakin itu anakku?" tanyanya setelah cukup tenang. Pertanyaannya yang kurang ajar itu membuat dirinya di hadiahi tamparan keras di pipi kiri dari Kyungwon. "aku memberikan segalanya untukmu tapi kau malah menuduhku selingkuh!" ucap Kyungwon berteriak keras.
Soonyoung mendecak kesal sambil mengelus pipi kirinya. "aku tidak mau bayi itu." Ucapnya menunjuk bagian perut Kyungwon. "k-kenapa?"
"pokoknya aku tidak mau, aku belum siap jadi ayah." Sooyoung berbalik hendak meninggalkan Kyungwon.
"tapi ini anakmu! Soonyoung!" Kyungwon mengejar sooyoung dan menahan tangannya.
"siapa yang peduli!" tepis sooyoung dengan kasar lalu mendorong Kyungwon menjauh. "pokoknya aku tidak mau, selamat tinggal!" tambahnya membuat Kyungwon semakin marah.
"Dasar Brengsek! Bajingan! Seharusnya aku tahu kalau aku itu bajingan! Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal!" teriak Kyungwon namun di acuhkan oleh Soonyoung yang meninggalkannya menangis sendirian di sana. Soonyoung tidak peduli. Yang pasti ia tidak mau bayi itu dan ia tidak peduli apakah Kyungwon akan menggugurkan atau membuangnya ketika lahir nanti. Ia sudah tidak peduli.
. . .
To Be Continue..
_Lady Chulhee_
