Aldnoah/Zero by Olympus Knights

Orange Colored Bat by Revantio

.

.

Enjoy!

.

.

.

Daydream

Semuanya dimulai dengan suara tembakan, ledakan, lalu teriakan. Manik merahnya menangkap Asseylum yang terbaring, tidak sadar, dengan darah. Lalu ada Slaine. Slaine, dengan pistol di tangannya, darah di atas seragam biru yang sama sekali tidak ia kenali, dan air mata menuruni pipinya. Ia marah. Mungkin juga bercampur frustasi. Inaho tahu kalau Slaine marah padanya entah karena apa. Dan Slaine siap untuk menembak kapanpun. Lalu Inaho merasa tubuhnya sangat kaku, kaku, sakit dari ujung kepala hingga kaki, dan ia tidak akan bisa menghindar.

Ini salah, pikir Inaho. Ia mencoba membuka mulut untuk menghentikan Slaine tetapi sakit di kepalanya bertambah menjadi berkali lipat dan tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Pandangannya menjadi samar.

Jangan.

Slaine menatapnya tajam.

Tidak.

Pelatuk itu ditarik—

—dan Inaho terduduk secara refleks. Dengan detak jantung yang tidak karuan dan kebingungan yang amat sangat saat melihat pepohonan di sekitarnya.

"Selamat pagi, orenji-iro."

Inaho memutar badannya, mendapati Slaine yang duduk di atas rerumputan hijau, bersandar pada pohon di belakangnya. Sebuah senyum mengejek tersungging di wajahnya. Bungsu Kaizuka itu tahu kalau sapaan yang Slaine katakan tadi adalah ejekan, karena langit menampilkan perpaduan warna oranye dan ungu yang menandakan bahwa malam akan segera datang. Slaine mengangkat sebelah alis saat melihat Inaho menatapnya dengan datar dan lama. Maksudnya, sangat lama.

"Kenapa?" Slaine mengernyit halus. "Kalau kau bingung atau lupa kenapa kau ada disini dan apa yang terjadi, aku sedang membacakan Hamlet untuk drama kelasku nanti," Ia menutup buku di tangannya dan menunjukkan cover buku itu, yang bertuliskan 'HAMLET' berwarna emas. "Suaraku pasti merdu sekali, sampai-sampai kau tidur nyenyak seperti itu, orenji." Sebuah kekehan tanda jumawa keluar dari mulutnya.

Alih-alih mendapat ejekan balik dari Inaho, Slaine justru merasakan tangan Inaho yang melingkar di tubuhnya. Lalu embusan napas halus di sekitar tengkuknya. Lalu detak jantung yang jauh lebih cepat dari biasanya. Bukan, bukan miliknya. Itu detak jantung milik Inaho.

Awalnya, tubuh Slaine menegang karena dipeluk mendadak, dan ia sempat memprotes sebentar, tapi Slaine sadar kalau Inaho tidak biasa memeluknya mendadak seperti ini. Jadi mungkin, ada sesuatu yang terjadi. Tubuh Slaine menjadi rileks seiring dengan gerakan tangannya yang menepuk-nepuk punggung Inaho, perlahan. Mencoba menenangkan.

"Ada apa?"

Slaine bertanya, dan Inaho mengeratkan pelukannya. Tapi detak jantung Inaho yang mulai kembali menjadi normal adalah pertanda baik.

"Mimpi buruk?"

Inginnya sih Slaine mengejek Inaho, mengatakan 'ah payah kau Orenji, masa karena mimpi saja jadi lemah begini HAHAHAHAHA,' tapi tentu saja ini bukan saat yang tepat. Dalam hatinya Slaine bertanya-tanya, mimpi buruk macam apa yang bisa membuat Inaho menjadi seperti ini? Tapi Inaho tidak menjawab dan itu berarti ia tidak mau membicarakan soal itu.

Slaine menghela napas, membiarkan dirinya dipeluk selama beberapa waktu sementara Inaho menenangkan dirinya sendiri.

Ketika pelukan itu akhirnya dilepas, hal pertama yang ingin ditanyakan Slaine adalah 'mimpi apa tadi?' tapi Inaho mendahuluinya dengan berkata,

"Suaramu itu tidak merdu sama sekali, Bat. Ini semua karena aku mendengar suaramu sebelum tidur, makanya aku bermimpi buruk."

"HAH?! KAU BILANG APA TADI, ORENJI?!"

"Suaramu itu jelek, Slaine. Aku mimpi buruk karena suaramu."

"SIALAN KAU—"

Inaho berhasil melarikan diri sebelum Hamlet setebal hampir empat senti itu mengenai kepalanya. Hari ini pun, Klancain si kapten ganteng tim futsal SMA Aldnoah melihat pasangan idiot InaSure bermain kejar-kejaran di lapangan futsal dengan Slaine yang sibuk misuh-misuh.

.

Equation

Terkadang, jika musim ujian sudah datang, Inaho dan Slaine akan mengadakan belajar bersama. Tapi bukan belajar bersama di rumah Inaho atau rumah Slaine, melainkan di perpustakaan. Atau mungkin di halaman belakang, ruang musik, atau atap sekolah. Pokoknya tetap di area sekolah. Biasanya sih, dua minggu sebelum musim ujian, sepulang sekolah, kalau tidak ada kegiatan ekskul, mereka akan membahas pelajaran yang agak sulit dan mulai mendiskusikan penyelesaiannya.

Dari sini Inaho tau kalau kadang Slaine itu tidak teliti atau kalau sedang capek ya—ngaco parah.

("Dua kali tiga itu enam, Bat."

"Hah? Lima, kok!"

"Enam."

"Lima!"

Inaho menghela napas. Beginilah kalau Slaine udah capek, dia jadi nggak konsen dan agak-agak begini. Udah salah, ngotot lagi. Coba Inaho lupa kalau Slaine adalah pacarnya, pasti sudah ia tinggal dari tadi.

"Eh iya deng enam eheheheheh—")

Dan Slaine juga jadi tau kalau Inaho itu tidak kuat belajar sejarah atau bahasa. Karena nanti dia akan ketiduran.

("Jadi Shogun Tokugawa dipaksa menyerahkan tahtanya pada Kaisar, itu yang menandakan sistem pemerintahan Jepang yang baru. Lalu—Astaga, kau ini mendengarkan atau tidak, Ahorenji?!"

Inaho, dengan mata menyipit, menggeleng lalu menguap. Biasanya sih, Slaine akan menghela napas sebelum mengulang perkataannya yang tadi, tapi ini sudah ketiga kalinya ia mengulang, dan walaupun Inaho adalah pacarnya, tetap saja ia capek.

"Oke, aku pulang."

Inaho menatap Slaine dengan datar. "Maaf. Tolong ulangi."

Walaupun ekspresinya datar, tapi Slaine tau Inaho bersungguh-sungguh, kali ini. Ia menghela napas.

"Dengarkan baik-baik, Ahorenji. Atau kau kubiarkan tidur disini sampai besok sementara aku pulang."

Slaine mengancam, dengan tatapan tajam yang biasa ia tunjukkan pada para pelayannya di rumah kalau mereka melakukan kesalahan fatal. Rasanya Inaho ingin menjawab 'siap yang mulia,' tapi toh ia hanya mengangguk sebelum mulai mendengarkan dan berusaha memasukkan segala perkataan Slaine ke dalam kepalanya.)

Jadi, bukanlah hal yang aneh jika kalian melihat Inaho dan Slaine duduk di salah satu meja di dalam perpustakaan sekolah, biasanya di bagian paling pojok di samping jendela, dengan buku, tempat pensil, dan earphone di atas meja mereka. Orang awam pasti tidak akan menyangka kalau mereka berdua ini sebenarnya pacaran, karena kalau sedang belajar, keduanya menganut prinsip 'diam dan bertanya kalau memang dibutuhkan.' Dan karena keduanya dikenal sebagai murid paling pintar satu sekolah, keduanya akan sibuk dengan materi pembelajaran masing-masing, tanpa ada hal yang perlu ditanya, seolah dua orang asing yang berbagi meja untuk belajar.

Dari sudut matanya Inaho melirik Slaine di depannya yang tampaknya masih sibuk dengan rumus-rumus dan angka di bukunya. Ia menangkap Slaine yang sekali-kali menggumamkan 'asas black' atau 'akar enam tujuh' dan berbagai gumaman lainnya. Sementara Inaho, di depannya, sudah selesai dengan soal-soal latihannya dan hanya membalik-balik buku di depannya untuk mengingat kembali rumus-rumus yang ada.

Jujur saja, Inaho merasa bosan saat ini.

Tapi ia tidak mau pergi duluan dan meninggalkan Slaine sendirian. Juga tidak mau mengerjakan soal-soal lain. Atau sekedar berjalan menuju rak buku di sekitarnya untuk mencari novel sementara menunggu Slaine selesai. Manik merahnya lalu melirik ke bawah, ke buku catatannya, dan mendapatkan sebuah ide.

Slaine tersentak dan mengernyit menatap Inaho yang mendadak mengetuk kepalanya dengan pulpen di tangannya. Satu alis diangkat, tanda bahwa Slaine bertanya 'kenapa?' secara non-verbal. Inaho, di sisi lain, memindahkan buku catatan di depannya tepat ke depan Slaine. Di sana, di atas kertas bergaris di buku Inaho, terdapat sebuah pertanyaan.

9x – 7i 》3(3x – 7u) = ?

Slaine menyunggingkan senyum asimetris ketika ia menatap Inaho, seolah mengatakan 'yang benar saja, Orenji' dan 'masa soal seperti ini saja kau tidak bisa, sih?' Tapi toh Slaine menarik buku catatan itu ke arahnya, dan mulai menulis penyelesaiannya di atas buku itu dengan sebuah senyuman jumawa yang seolah permanen di wajahnya.

Selang satu menit, Slaine terdiam. Inaho melihat Slaine menunduk melihat jawaban yang baru ia selesaikan dengan wajah merona hingga ke telinga. Dan ia masih menunggu, ngomong-ngomong, menopang dagu dengan satu tangan sementara ia memperhatikan reaksi Slaine.

Slaine lalu menarik napas dalam-dalam, menghela napasnya, menuliskan sesuatu di buku catatan Inaho, sebelum kembali menyerahkan buku itu kepada pemiliknya. Manik sewarna karatnya melirik jawaban yang ditulis oleh Slaine.

9x – 7i 》 3(3x – 7u) = ?
9x – 7i 》 9x – 21u
-7i《 -21u
7i《 21u
i《 3u

AHO!

Inaho menyipitkan matanya saat ia melihat ada tulisan lain di samping tulisan 'AHO!' itu, ditulis dengan ukuran yang jauh lebih kecil. Sebuah senyum tipis mengembang di wajahnya saat ia menyadari bahwa tulisan itu adalah,

(I 《 3u)2

.

Cheating

"AAAH! Orenji-iro sialan! Kenapa kau tidak membangunkanku, sih?!"

Slaine, dengan langkah cepat setengah berlari menyusuri koridor kelas 3 SMA Aldnoah, bersama Inaho yang keliahatan mengantuk berusaha mengimbangi langkah pemuda bermarga Troyard itu di sampingnya. Beberapa siswa yang lewat di koridor mengernyit heran melihat ekspresi marah-plus-galak milik Slaine, dan tambah mengernyit saat melihat Inaho yang kelihatan baru bangun tidur. Langka sekali, lho, melihat Inaho yang sepertinya bisa bangun setiap saat dengan bantuan cafeine mendadak mengantuk begitu. Atau Slaine, yang biasanya ramah dan murah senyum mendadak galak begitu.

Apalagi dengan ditambah rentetan makian yang terlontar dari mulut pemuda bersurai silver-blond itu.

Inaho, sebagai jawaban dari makian Slaine, hanya menguap, terlihat acuh tak acuh sebelum akhirnya menjawab,

"Aku ketiduran."

"KOK BISA?!" Slaine memutar badannya, sekedar menatap galak ke arah Inaho di sampingnya sebelum mempercepat langkahnya. "Kan tadi aku sudah bilang—"

"Karena aku manusia, Koumori." Inaho membalas dengan datar, walau sebenarnya agak capek juga mendengar pacarnya kumat begini. "Bagaimanapun aku juga bisa membuat kesalahan."

"Tapi kenapa harus sekarang?!" Slaine mengerang frustasi. "Yang Mulia M bisa membunuhku kalau aku sampai terlambat masuk ke kelasnya!"

Meskipun ekspresinya masih terkesan datar, maniknya melebar sedikit, tanda kalau Inaho terkejut. Yang Mulia M, itu sebutan anak-anak untuk guru fisika mereka, Darzana Magbaredge. Alasan kenapa disebut Yang Mulia? Satu, karena dia selalu benar. Dua, jika dia tidak benar, kembali ke hukum yang pertama. Intinya sih, dia itu guru super; super sadis, super seram, super jutek, super benar—yang disegani oleh seluruh murid. Sssh, gosipnya sih dia itu pernah mengajar di sekolah militer.

"Kalau sudah tahu pelajaran setelah istirahat itu pelajaran Magbaredge-sensei, kenapa kau masih berani tidur di atap, Slaine? Pakai mengajak aku ikut, pula." Inaho baru ingat kalau kadang, pacarnya ini memang suka rada-rada.

Walaupun Slaine tidak menoleh ke arahnya, Inaho tahu kalau Slaine pasti sedang mengernyit karena omelannya barusan.

"Aku kurang tidur." Balasnya, singkat. "Kupikir kau bisa membangunkanku, Orenji-iro, kau ini kan tidak tidur dua hari juga tidak masalah."

Ingin rasanya ia menjawab 'walau aku kuat begadang semalam tapi nggak sampai begitu juga, koumori bodoh,' tapi Inaho menahan dirinya sendiri. Lagipula mereka sudah mencapai kelas Slaine, saat ini, dan Slaine juga tidak akan peduli dengan jawabannya.

Inaho dan Slaine sama-sama terdiam saat Slaine membuka pintu kelasnya dan mereka melihat kalau kelas Slaine kosong. Sangat kosong. Tidak ada satupun orang di dalamnya. Inaho dengan ekspresi datarnya yang biasa dan Slaine dengan ekspresi kalem-tapi-kaget miliknya.

"Mereka di lab fisika," Ujar Inaho, sebelum ia menyesali perkataanya karena setelah itu ia harus mundur untuk melindungi gendang telinganya dari jeritan histeris Slaine.

"MATIAKUMATIAKUMATIAKU—"

Rasanya Inaho bisa mengerti kenapa Slaine menjerit begitu. Jarak kelasnya dengan laboratorium fisika itu terhitung lumayan jauh, dan walaupun lari sampai kesana pun rasanya Magbaredge-sensei sudha akan sampai duluan di laboratorim fisika. Dan itu artinya, hukuman. Hukuman ala militer yang dijamin bisa membuat anak senakal apapun tobat dalam sehari. Inaho menatap datar ke arah Slaine, walaupuns sebenarnya ia sedang mengasihani sang pacar.

Dan Slaine akan terus meratapi nasib, seandainya tidak ada buku fisika yang mengetuk kepalanya. Slaine mendongak, melihat Harklight yang menaruh buku itu di atas kepalanya. Pemuda bersurai hitam itu mengernyit, sedikit sebal, sebelum ia berkata,

"Bukankah tadi aku sudah memperingatkanmu, Slaine-sama? Aku juga sudah bilang ke Magbaredge-sensei kalau Slaine-sama akan terlambat, jadi tidak perlu khawatir."

Manik hijau itu membelalak saat ia mengambil buku di atas kepalanya, menyadari bahwa itu miliknya, sebelum kedua manik itu lalu berbinar dengan efek berlebihan—sparkles dan glitter yang membuat Harklight silau dimana-dimana. Slaine tersenyum lebar sebelum ia melompat, memeluk Harklight.

"HARKLIGHT I LOVE YOU SO—"

"Slaine."

Yang dipanggil menoleh, masih dalam posisi memeluk si pelayan pribadi, menatap Inaho yang sudah terlupakan dengan bingung seolah mengatakan 'apa?' Dan ngomong-ngomong, Harklight juga ikut menoleh, dan merinding seketika ia mendapat tatapan dingin dari Inaho.

"Kau tidak boleh begitu. Itu selingkuh namanya."

"—Hah?"

Sepertinya Slaine sedang lambat, hari ini. Otaknya masih memproses perkataan Inaho yang barusan.

"Anu, Slaine-sama—" Sebagai pelayan yang baik coretdanmasihsayangnyawacoret, Harklight menunjuk tangan Slaine yang melingkar di lehernya. Slaine terdiam sejenak. Oh.

Pewaris perusahaan Saazbaum itu lalu tertawa, garing, awkward, sebelum ia berkata,

"Oooh, iya, ya. Itu selingkuh namanya. Maaf ya, hehehehe—"

Inaho menghela napas, sebelum akhirnya ia mengangguk dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju kelasnya sendiri.

Siang itu, Slaine mendapat tutup spidol yang melayang menghantam kepalanya karena ia ketahuan melamun di kelas Yang Mulia M. Mungkin karena terlalu memikirkan soal seribu satu cara bagaimana cara meminta maaf yang benar pada pacar yang ngambek.

.

Push-ups

"Come, seeling night. Scarf up the tender eye of pitiful day—"

Inko menoleh ke tengah lapangan, mengabaikan aktivitas merapikan bola basket yang saat ini sedang ia lakukan itu sejenak, untuk melihat pemandangan yang menjadi buah bibir hampir seluruh murid dan guru di sekolahnya. Sebuah helaan napas diikuti senyum tipis muncul di wajahnya. Ah, mereka.

Ya, mereka. Inaho dan Slaine. Posisi mereka itu, saat ini, wajar saja kalau menjadi bauh bibir satu sekolah.

Inaho yang sedang push-up dengan Slaine yang berbaring di atasnya, menghadap ke langit-langit, membaca buku yang Inko tahu sebagai 'Macbeth' karya Shakespeare. Sebenarnya Inko bingung juga kenapa Slaine tidak jatuh-jatuh saat Inaho bergerak untuk push-up, mengingat posisinya itu sangat rentan untuk jatuh ke samping. Atau kenapa Inaho bisa kuat push-up dengan Slaine yang berbaring di atasnya. Inko berpikir, yang lain juga mungkin berpikir sama, makanya mereka berdua jadi bahan gosip.

"—And with thy bloody invisible hand, cancel and tear to pieces that great bond—"

Atau mungkin juga karena suara Slaine yang dengan lantang membacakan dialog dari buku itu. Selain lantang, pelafalan inggrisnya juga sangat bagus, mungkin yang paling bagus di sekolah ini. Tidak heran kalau banyak murid (yang didominasi kaum hawa) yang duduk di tepi lapangan untuk mendengar Slaine membaca buku itu, lalu membicarakannya dengan teman-teman mereka yang lain.

"—which keeps me pale! And the crow—"

"Ha, dasar pasangan tukang pamer."

Inko tertawa saat ia mendengar komentar Rayet, yang mendadak muncul di sampingnya, menaruh beberapa bola basket sekaligus ke dalam keranjang di depannya. Manik violetnya lalu mengernyit menatap Inaho dan Slaine yang rasanya hilang ke dalam dunianya sendiri.

"Yaa, ganteng dan pinter sih bebas." Calm berkata, mendadak muncul dari belakang Rayet sambil membawa keranjang berisi bola voli. Ia menaruh keranjang itu di samping keranjang bola basket sebelum menghela napas dan mengeluh 'capeknyaa.'

Gadis bersurai hitam itu lalu mengingat alasan utama kenapa Inaho dan Slaine menjadi buah bibir satu sekolah; karena keduanya terlihat sangat akrab dan bahkan ada yang berkata kalau mereka itu sudah pacaran, walau Inko sendiri sih tidak percaya. Manik violet-kemerahan Inko lalu melirik para murid yang satu persatu melangkah keluar lapangan. Lalu melirik jam yang ternyata sudah menunjukkan waktu istirahat.

"—Makes wing to the rooky wood, Good things of day begin to droop and drowse—"

"Iiinkoo!"

Tubuhnya terguncang sedikit saat Nina mendadak memeluknya.

"Nina! Aku baru saja mau mencarimu. Hari ini mau makan di kantin atau di atap?"

"Kantin saja deeh, aku mau beli minum dulu."

Dan dengan itu Inko dan Nina melangkah keluar lapangan, bersama Rayet yang mengikuti di belakang, membicarakan soal pelajaran setelah istirahat dan tumpukan pekerjaan rumah minggu ini selama mereka melewati koridor menuju ruang ganti wanita.

Sampai pada akhirnya, yang tersisa di dalam lapangan gym sekolah adalah Inaho dan Slaine, yang masih dengan aktifitas push-up dan membaca mereka masing-masing.

"—While night's black agents to their preys do rouse."

Slaine menjatuhkan bukunya ke atas lantai, mengubah posisinya ke arah sebaliknya—ia berbaring di atas punggung Inaho sambil memeluknya dari belakang; melingkari tangannya di sekitar torso Inaho. Tiga push-up dengan tangan gemetaran dan Inaho menyerah pada gravitasi.

"Hari ini—berapa?" Inaho bertanya, disela-sela napasnya yang terengah-engah.

Slaine memutar posisinya menjadi di samping inaho, berbaring terngkurap sambil mengamati Inaho, sebelum ia menjawab, "Sepuluh." Tangannya bergerak untuk menyingkirkan surai-surai cokelat Inaho yang menutupi matanya.

Inaho yang meyadari hal itu lalu menggenggam tangan Slaine, menyingkirkannya dari wajahnya. Ia menarik tangan Slaine untuk membuat pemiliknya mendekat dan menggunakan jarak yang sudah dipersempit itu untuk mengangkat dagu Slaine dengan tangan yang satunya dan mencium bibirnya.

"Cium aku. Sepuluh kali."

Rona merah muncul di pipi Slaine.

"Nanti."

"Sekarang."

Slaine paham kalau ini adalah aktivitas rutin mereka tiap minggu—Inaho push-up dengan Slaine sebagai beban tambahan di atasnya, lalu Inaho mengajukan permintaan berdasarkan hasil push-up itu. Tapi ya tetap saja, kalau disuruh mencium disini kan—malu. Apalagi sepuluh kali.

Slaine mengambil buku yang ia jatuhkan, berguling menjauh inaho, lalu memunggunginya sebelum berdiri.

"Koumori,"

"Kalau disini nanti dilihat orang, Orenji-iro."

Inaho mengubah posisinya menjadi duduk, lalu berdiri. Dari sudut matanya ia melihat wajah Slaine yang sudah merah sampai ke kuping. Oh, ia paham sekarang.

"Dasar mesum."

Slaine refleks berbalik ke arah Inaho. "HAH?! Siapa?! Ngaca dulu sebelum bicara, Orenji-iro!"

Inaho berjalan ke samping Slaine, sebelum ia berbisik tepat di depan telinganya, "Tonight."

Wajah Slaine yang memang sudah merah menjadi semakin merah. Ia menyikut dada Inaho agar ia menjauh, sebelum ia menggumamkan "iya, tau."

.

.

.

(not) FIN

.

Knightinred, iya saya orang sunda. Kyaa dibilang lucu jadi malu /) Aduh, Slaine-nya cewek bangett? Maaf ya, saya akan berusaha membuat Slaine menjadi lebih manly, urgh. Dan saya nggak tau dia disini udah manly atau belum. Saya juga kalau lagi lelah/? cari asupan biasanya ke AO3 sih, hahahaha. Makasih atas reviewnya, ya!
Oh reallyy? Well, my plesure! Thanks for your review~!
Haqua Waaa senangnya bisa membuat anda dokidoki /) Terima kasih atas reviewnya!
Ryurezeno, Waah, anda suka ff ini? Makasih banyak! Fanart InaSure banyak kok, kalau di canon sih mereka rebutan Asseylum tapi kan sseylum sama Klancain makanya mereka lebih baik homo aja 8D /JING. Chapter yang ditunggu-tunggu udah saya update nih, terima kasih atas reviewnya ya!
Kaoru Ishinomori AAEEEEEH MB KALEM MB /GANGACA/ Senangnya anda suka ff ini padahal anda lebih senior dari saya ;v; IYA MEREKA MEMANG UNYU BANGET I KNOW RIGHT /UDAH/ Gapapa mb, saya seneng kok dapet temen menggila. Jarang-jarang ada yang gila A/Z kayak saya gitu kan hahaha. Makasih atas reviewnya ya mb! Situ nggak nyampah kok hahaha saya seneng malah dapet review dari mb (wink)
Fadhjimori Waah, terima kasih atas reviewnya. Saya nggak tau harus bales apalagi ini saya seneng banget soalnya sampe speechless hahaha. Ini juga udah dilanjutin kok. Makasih banyak yaa :")
Aiko Shimazaki Kyaa senangnya ada yang mau nyumbang idee :"D Mungkin nanti kalau saya ada wkatu lagi, ide anda akan saya realisasikan. Makasih atas idenya, ya. Dan soal Rating, itu hmmmm saya nggak bisa nulis lime, dan nggak berniat untuk nulis lime karena saya nggak kuat /cri/ Saya uke sih jadi- /apahubungannya
Nelicious Senangnya bisa bikin anda diabetes, hahaha. Tapi toh saya nggak yakin yang ini bisa bikin anda diabetes juga atau nggak. Semoga update-an ini nggak mengecewakan, ya :") Terima kasih atas reviewnya!
Rea woah penonton baru tapi udah baca homo. Anda semangat sekali, ya /heh. Terima kasih banyak atas reviewnya! Datang lagi, ya!
LyraKuruta WAAH MB AWAS DARAHNYA ABIS /kasih tisu/ Terima kasih atas reviewnya ya, senang bisa membuat anda mimisan lol
Guest, Ini juga sudah saya tulis lagi kok, hahahaha. Drabble yang pertama di chapter ini tadinya mau dijadiin angst tapi nyatanya jadi kejar-kejaran alay, maaf yaa. Terima kasih atas reviewnya!
Nearo O'Nealy, hahaha, iya, tapi semoga dengn ini kamu nggak sedih lagi, ya. Dan saya juga sering kok buat delusi homo untuk merek berdua hahahaha. Bagaimana update-an yang ini? Suka, kah? Terima kasih atas reviewnya ya!
Karinken salam kenal juga karinken-san! Hahahaha, jangan males dong karinken-san, kan saya jua pengen baca karya InaSure Karinken-san X) Iya Inaho memang sengaja dibuat nyebelin ala remaja SMA pada umumnya dan Slaine itu sebenernya saya sedang membuatnya jadi agak manly tapi—TAPII—ah sudahlah. Syukurlah kalau Karinken-san suka. Terima kasih atas reviewnya!
Opurple Hahaha, Slaine kalau nggak tsun itu nggak seru /KAMU Ini juga udah kok, gimana chapter yang ini? Terima kasih atas reviewnya, ya!
Rikka Aduuuhhhh senangnya dipijetin. Saya terharu :") Salam Fujo juga, Rikka-san. Terima kasih atas reviewnya ya!
Akaneiro
segitunya kah? Hahaha, terima kasih atas reviewnya ya! Ditunggu kedatangannya lagi!
Carine du Noir
: ( Carine ga boleh ngomong eek sama abang sendiri. Makasih reviewnya ya, padahal udah ngereview di chat juga hahahaha
Kim Arlein 17
Slaine yang unyu memang idaman semua orang kan? (wink) Ada kok, ini udah dilanjutin. Gimana? Kamu suka nggak? Terima kasih atas reviewnya!
Seijuurou Eisha
nah ini juga udah di-update kok. Terima kasih atas reviewnya ya!

.

Waaah, balesin review ternyata lebih pegel dari bikin fanficnya, ya /KAMU
TAPI SAYA SENENG BANGET KARENA REVIEW KALIAN SEMUA KYAA YOU GUYS ROCK! Tenang aja, saya masih punya banyak persediaan drabble—di dalam kepala saya. Doain semoga saya nggak lupa yaa.

Itu Line yang dibacakan Slaine itu Macbeth, Act 3 Scene 2 Line 46-53. Bagian Push-up itu terinspirasi dari fanart yang lewat di timeline fb. Yang equation juga, dapet dari dojin free yang lewat di fb hahaha.

Dan psst, tau ga

SAYA POTEK KARENA SLAINE KETANGKEP APA-APAAN HUHUHUHUHU KZL TERUS KLANCAIN GANTENGNYA ILEGAL /HEH /UDAH

Singkat kata, terima kasih sudah baca sampai disini! Sampai ketemu di chapter depan!