oooooo

Aku terlalu terbiasa dengan kehadirannya

Jadi ketika dia tidak berada dalam jangkauanku. Itu akan terasa aneh

oooooo

Pagi yang begitu cerah dikota seoul yang sangat sayang untuk dilewatkan, Matahari yang sudah menampakkan dirinya memberi kan kehangatan apapun yang berada di sekelilingnya. Pria bersurai coklat itu menuruni tangga dengan Headphone yang tergantung dilehernya. Pria berusia 16 tahun ini sudah rapi dengan seragam sekolah dan tas biru yang ada di pundaknya.

"Selamat pagi" sapa Haechan

"Selamat pagi, apa tidurmu nyenyak" suara lembut ibu Mark membuatnya secara tidak sadar tersenyum.

"Duduklah kita sarapan bersama" Haechan segera berjalan menuju kursi disamping perempuan satu - satunya yang ada diruang makan ini.

"Kau bisa berangkat bersama Mark"

Mark mengangkat wajahnya ketika namanya di sebut oleh ibunya, dia juga menatap sekilas Haechan yang sedang sibuk dengan roti panggangnya.

"Tak usah bibi, aku akan berangkat bersama temanku"

Mark tersenyum mendengar jawaban Haechan, untung saja anak itu menolak permintaan ibunya. Bukan apa - apa tapi kemarin dia sudah berjanji untuk menjemput Yeri dan berangkat kesekolah bersama nya.

"Dia akan datang menjemputku kemari"

"Apa dia pacarmu?" Pertanyaan prontal Taeyong hyung membuat nya tersedak air yang sedang diminumnya.

Mark segera menyambar tisu dan membersikan mulutnya, sedangkan Mark bisa melihat wajah ibunya yang terlihat kecewa pada Haechan. Apa benar anak itu sudah punya pacar? Dia jadi penasaran siapa yang nanti akan datang menjemputnya.

"Sepertinya dia sudah datang" Haechan segera berdiri dari kursinya tak lupa dia memberikan ciuman di pipi ibunya Mark dan pamit kepada ayah dan kakaknya Mark.

"Bagaimana ini Haechanie sudah punya kekasih" ujar ibunya. Pupus sudah harapan wanita berumur 45 tahun ini, tadinya dia ingin menjadikan Haechan menantu untuknya dan pasangan untuk anak bungsunya.

Motor sport yang dia kendarai kini telah memasuki sekolahnya bersamaan dengan sebuah mobil hitam mewah yang berhenti tepat di gerbang sekolah. Hari ini Mark sengaja membawa motor hyungnya karena dia harus menjemput gadis yang disukai nya terlebih dahulu, meskipun Yeri tidak keberatan dengan apapun yang dia pakai sebagai alat transportasi tapi dia juga ingin terlihat sedikit keren di depan gadis itu.

"Terima kasih Mark" Tangan Mark secara spontan langsung merapikan rambut Yeri yang terlihat sedikit berantakan karena helm yang di pakainya tadi, dia juga tersenyum ketika melihat rona merah yang muncul di kedua pipi gadis itu.

"Woahh siapa ini" goda Doyoung yang baru datang bersama Jaehyun dan Jhonny. "Ini masih pagi dan kalian sudah membuat orang lain iri"

Mark hanya tertawa canggung mendengar godaan hyungnya, Mark berdoa agar hyungnya itu tidak membuat suasana menjadi canggung antara dirinya dan Yeri.

"Tak apa" ucap Yeri lembut, seakan mengerti kegusaran yang sedang dia alami.

Mereka berjalan bersama menuju kelas. Mark dan Yeri terlihat sibuk berbincang, mereka mengabaikan tatapan orang - orang terhadap mereka.

Ini akan menjadi gosip yang segera tersebar luas Mark Lee siswa pandai salah satu anggota club basket terlihat dekat dengan Yeri ketua Cheerleader idola hampir semua siswa disekolah.

"Oh pasangan yang serasi" Mark dan teman - temanya menghenti kan langkah mereka.

"Hentikan Lee Jeno"

Pria itu langsung tersenyum menyambut kedatangan sahabatnya, Haechan bersama Chenle.

"Ayolah Haechan" goda Jeno

"Aku hanya ingin mengucapkan selamat" Haechan tau perkataan itu bermaksud untuk mengejeknya, Tatapan Haechan kini tertuju pada Mark dan Yeri.

"Aku akan mengajak semua anggota sepak bola ketempat biasa nanti" Jeno menempuk pundak temannya "kami akan menghabiskan uangmu"

"Sialan kau" umpat Haechan melihat kepergian Jeno.

Mark yang menyadari situasi ini langsung menatap marah pada Haechan, apa anak itu menjadikan hubungan dirinya dengan Yeri sebagai bahan taruhan Haechan dengan teman - temannya?

Sore ini hujan lebat mengguyur jalanan kota Seoul, membuat orang - orang enggan untuk meninggalkan tempat mereka.

Mark yang baru keluar dari ruangan itu langsung disambut dengan dinginnya udara diluar ruangan, Mark yang sedari tadi berlatih basket bahkan tidak tahu sejak kapan hujan turun dengan lebat.

"Wahh dinginnya" keluh Lucas meskipun sebuah jaket sudah membungkus tubuhnya.

"Mereka benar - benar gila" ucap Jaehyun yang sudah berdiri di sampingnya, Mark yang mendengar ucapan hyungnya itu segera mengikuti arah tatapan Jaehyun "hujan lebat seperti ini tidak akan bisa menghentikan mereka"

Mark menatap kearah lapangan dimana dia bisa melihat beberapa anggota sepak bola yang tengah bermain, entah apa yang ada dipikiran mereka bermain sepak bola di tengah hujan lebat dengan memakai seragam sekolah lengkap.

Tentu saja ini bukan bagian dari latihan seperti kemarin, meskipun jaraknya cukup jauh karena dia sedang berada dilantai 2 gedung sekolah tapi matanya masih bisa melihat Haechan, Jeno dan Chenle yang ada diantara mereka.

Retinanya bergerak mengikuti setiap gerakan Haechan, anak itu terlihat sangat bahagia ketika berhasil mencetak satu gol. Dia bahkan langsung memeluk anak China itu, Mark juga bisa mendengar samar suara tawa mereka ketika Jeno jatuh tergelincir atau mereka yang saling bertubrukan dan jatuh bersama.

"Jangan terlalu sering memandangnya"

Memang sejak tadi Doyoung menatap kearah dongsaenya itu, dia sempat melihat Mark tersenyum ketika mendengar suara tawa Haechan, kening dongsaengya akan berkerut saat Haechan terjatuh dan mata Mark seakan terlihat gusar melihat Haechan yang ditindih oleh beberapa anggotanya.

"Bisa - bisa ucapan Jhonny hyung jadi kenyataan"

Mark membuang muka sebal pada hyungnya sekaligus malu karena ketahuan memperhati kan Haechan, memang benar selama ini Jhonny hyung yang selalu menggoda hubungannya dengan Haechan. Setiap kali dia sudah bertengkar dengan Haechan, senior jangkungnya akan berkata "Benci dan Cinta itu beda tipis" atau "urusan rumah tangga memang rumit".

"Hyung bisakah aku minta bantuanmu" Mark segera membisikan sesuatu tepat di telinga Jaehyun, setelah itu dia pamit pada anggotanya untuk pulang lebih dulu.

Haechan terus mengacak rambutnya yang basah, baju seragamnya juga terasa berat dan sialnya dia tidak membawa baju ganti. Memang permainan kali ini tidak termasuk dalam jadwal latihan, sejak awal ini merupakan rencana Haechan untuk menghindari kekalahan nya dalam taruhan yang dibuat nya sendiri.

Senjata makan tuan itulah yang Haechan alami kali ini.

Haechan tidak akan membiarkan uang sakunya habis begitu saja, jadi dia tadi menantang Jeno untuk bermain dengan syarat jika dirinya menang maka taruhan yang mereka buat akan hangus tapi jika dia kalah Haechan yang akan membayar uang makan siang anggotanya selama 1 minggu. Untunglah dewa keberuntungan berpihak pada nya, karena dia memenangkan permainannya.

Meskipun lelah dan kedinginan setidaknya dia bisa menyelamat kan uang sakunya.

"Kau akan mati kedinginan jika terus berdiri disana dengan baju yang basah" Haechan menatap Mark yang kini ada di belakang nya, sejak kapan Mark ada disana? Haechan bahkan tidak mendengar langkah kakinya. "Cepat ganti bajumu"

Mark melemparkan sebuah tas hitam kecil yang dengan repleks Haechan tangkap.

"Hei, ini seragam basket yang tadi kau pakai untuk latihan" Cibir Haechan, meskipun tidak tercium bau keringat pada seragam yang ada di tangannya tapi tetap saja. Malah ketika dia mengeluarkan baju itu harum maskulin Mark masih menempel disana.

"Jangan bercanda Mark, bahkan keringatmu masih menempel di baju ini"

"Setidaknya keringatku tidak akan membuat tubuhmu menggigil kedinginan seperti itu"

Haechan bahkan tidak menyadari tubuhnya yang menggigil, dengan kaki yang di hentakan cukup keras akhirnya Haechan terpaksa menyetujui sana Mark. Dia juga tidak mau membuat Ibu Mark cemas melihat keadaannya yang basah kuyup.

"Pendek" itulah kata pertama yang Mark ucapkan saat Haechan keluar dengan seragam basket miliknya yang terlihat kebesaran di tubuh anak itu.

Disepanjang jalan Mark terus memanggilnya dengan sebutan pendek dan setiap ucapan itu keluar Haechan akan selalu menghadiahi Mark dengan tendangan keras dikakinya, tapi tindakan Haechan tak lantas membuat Mark berhenti memanggilnya pendek.

"Berhenti memanggilku pendek" ancam Haechan sedikit jengkel.

"aku punya nama, namaku Lee Haechan bukan pendek

"Sedang apa kau disini?" Tanya Jeno

"Aku sedang menunggu Mark" Yeri menatap bosan pria yang ada di sampingnya.

"Sepertinya pria yang kau tunggu sedang sibuk dengan teman priaNya" Jeno menunjuk kearah gedung diseberang mereka, disana Mark yang tengah berbicara dengan Haechan yang tak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan Mark "Sepertinya mereka akan pulang bersama"

Apa yang dilakukan Mark disana? Apa dia lupa bahwa mereka sudah berjanji akan pulang bersama seperti kemarin.

"Mereka bukan teman, mereka hanya tumbuh bersama"

Jeno hanya menganggukkan kepalanya "karena mereka tumbuh bersama jadi mereka lebih mengerti satu sama lain. Dibandingkan orang luar"

Orang luar, Apa yang dimaksud Jeno orang luar itu adalah diri nya.

"Untunglah kau masih ada disini" Suara asing itu bukan berasal dari Jeno yang ada di samping nya, ketika berputar kebelakang dia melihat Jaehyun yang berjalan mendekat ke arahnya.

"Mark ada urusan mendadak, jadi dia menyuruhku untuk menyampaikan permintaan maapnya dan mengantarkanmu"

"Tak perlu repot - repor sunbae, aku sudah menghubungi supir untuk menjemputku"

Haechan masih terdiam menatap hujan, dia sekarang sedang menunggu Mark yang menghilang entah kemana. Seniornya itu hanya menyuruh nya duduk disini menunggunya.

"Ini" Haechan menerima minuman coklat panas yang Mark berikan, matanya masih menatap penuh selidik orang yang kini sibuk membuka sebuah payung.

"Itu murni coklat panas"

"Uji coba" perintah Haechan, dia bisa mendengar Mark mendengus sebelum meminum minumannya.

Setelah melihat wajah Mark yang biasa saja, akhirnya dia meminum coklap panas itu. Kenapa dia bersikap seperti ini karena dia memiliki trauma dengan minuman yang Mark berikan padanya, dulu Mark pernah menipunya dengan berkata bahwa minuman itu adalah jus jeruk tapi nyatanya itu merupakan jus wortel yang dibencinya.

Dan sejak saat itu, dia akan selalu meminta Mark untuk menjadi orang pertama yang mencicipi minuman yang Mark berikan padanya.

"Kau membuatku basah Mark, pegang payungnya dengan benar"

Baru setengah perjalanan menuju tempat parkir tapi sebelah tangannya sudah basah oleh air hujan dan ini tentu saja ulah Mark.

"Jangan terus mendorong, kau akan membuat seragamku basah" Mark segera menyingkir kan tubuh Haechan yang terlalu dekat dengannya

"Seharusnya kau meminta payung yang cukup besar"

Mark menghentikan pembelaan yang akan dirinya lancarkan ketika melihat Haechan menatap kearahnya, Retina hitam miliknya bertemu dengan retina coklat milik Haechan. Wajah mereka sungguh dekat.

Pendengaran Haechan seakan menjadi tuli, waktu disekitarnya seakan berhenti. Tatapan Mark seakan sudah mengunci pergerakan Haechan, bahkan kedua kakinya sampai tidak bisa bergerak.

Sekarang Mark dibuat bingung dengan dirinya sendiri. Disisi lain pikirannya berkata agar segera menjauhkan dirinya dari Haechan tapi tubuhnya seakan mengkhianatinya, dia bahkan semakin mendekat berusaha mengeliminasi jarak antara dirinya dan Haechan.

Haechan memejamkan matanya saat wajah milik Mark semakin mendekat, Haechan semakin mengeratkan kedua tangannya pada minuman coklat yang ĸibawanya ketika bibir Mark bersentuhan dengan bibir miliknya.

Dingin, itulah hal pertama yang ada di benak Mark saat bibir mereka bersentuhan. Cukup lama Mark hanya menempelkan bibir mereka.

Mark menggerakan bibirnya diatas bibir milik Haechan, dia bahkan berani mengigit setiap centi bibir mungil Haechan. Pegangan pada payungnya semakin menguat ketika Mark memperdalam ciumannya.

Keadaan sekolah yang sudah sepi dan Hujan yang semakin lebat sepertinya tidak mengganggu aktifitas dua orang yang berada dalam satu payung itu. Entah sadar atau tidak minuman yang Haechan pegang kini sudah terjatuh dan terbawa arus genangan air hujan.

Mark menghentikan ciumannya ketika dirasa bahwa mereka membutuhkan oksigen, napas mereka terengah seperti habis berlari mengelilingi lapangan sekolah mereka yang luas.

"Hujan semakin lebat, sebaiknya kita cepat pulang"

Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, terlalu sibuk dengan pemikiran masing - masing. Mark yang terus memaki kebodohannya atas apa yang terjadi di halaman sekolah tadi sedangkan Haechan yang terus mengigit bibirnya saat mengingat kejadian tadi.

Baru saja memasuki rumahnya, Mark dan Haechan dikejutkan dengan 2 buah koper yang ada diruang tengah rumah. Mark sangat tahu bahwa koper itu milik orang tuanya, tapi kenapa ada disana. Apa orang tuanya akan pergi?

Kedatangan ibunya yang sudah berpakaian rapi disusul oleh ayahnya menyadarkan Mark dari lamunannya.

"Untunglah kalian sudah pulang"

"Kami akan pergi ke Busan selama 3 hari"

"Untuk apa?" Tanya Mark, dia menatap ayah dan ibunya secara bergantian.

"Pekerjaan" balasnya dengan tersenyum canggung " dan Tayeongie sedang melakukan perjalanan ke Paju bersama teman - temannya"

Mark sedikit heran dengan sikap ibunya, lihatlah sekarang ibunya tersenyum penuh arti dan malah memberikan kedipan tak jelas padanya.

"Bibi tidak sedang berbohongkan" setelah menyimak percakapan dan membaca situasi akhirnya Haechan membuka suara "apa pekerjaan yang bibi maksud adalah agar aku dan Mark tinggal berdua dirumah ini"

"Tentu saja bukan"

Ibu dan anak sama saja. Sama - sama mudah terbaca gumam Haechan

*

*

*

*

*

Haechan tertidur di atap sekolah nya. Haechan menatap awan mendung yang tampak bergerak di atas langit karena tiupan angin.

Jika sudah mendung seperti ini pasti sebentar lagi akan turun hujan. Dan Haechan tidak menyukai hujan, karena hujan selalu mengingatkan nya pada kejadian dimana dirinya dan Mark berciuman. Dan lebih parahnya lagi itu merupakan ciuman pertamanya.

Sudah 5 bulan berlalu sejak kejadian itu tapi Mark maupun dirinya tak pernah membahas masalah itu. Seakan kejadian itu tidak pernah terjadi diantara mereka.

Setelah kejadian itu beberapa hari kemudian Mark dan Yeri resmi menjadi sepasang kekasih. Kenapa diri nya tahu? Karena hampir semua murid membicara kan mereka. Ada yang memberi selamat, ada yang merasa iri, banyak yang merasa patah hati dan tidak banyak juga yang tidak peduli pada hubungan mereka.

Dia membiarkan angin siang yang mendung menerbangkan rambut coklatnya membuat rambutnya sedikit acak - acakan. Dia ingin menenangkan diri dari turnamen yang akan dia hadapi minggu depan.

"Apa yang kau lakukan disini?" Ketenangannya terganggu oleh suara yang sudah tak asing di telinganya.

Dengan buru - buru Haechan membuka matanya. Dia menoleh kesamping dan mendapati Mark berdiri di sampingnya.

"Aku sedang melakukan meditasi" balas Haechan malas "jadi pergi sana, jangan ganggu aku"

Matanya tertutup kembali berusaha mengabaikan keberadaan Mark yang ada di sampingnya.

"Bagaimana keadaanmu?"

Pertanyaan konyol memang? Tapi itu pertanyaan yang ingin Mark tanyakan. Meskipun mereka bertetangga mereka jarang sekali bertemu, percaya atau tidak mereka hanya berpapasan beberapa kali disekolah tanpa bertegur sapa.

Kini Mark membaringkan tubuhnya di samping Haechan, menggunakan kedua tangannya sebagai bantal. Bibirnya tersenyum saat melihat awan - awan mendung yang menyembunyikan matahari.

Rasanya nyaman dan tenang. Pantas saja Haechan selalu menghabiskan waktu di atap sekolah.

"Apa kau ingin tahu sebuah rahasia"

"Aku merindukanmu"

Haechan menolehkan kepalanya kesamping, menatap Mark yang memandang keatas.

"Aku rindu saat kita bertengkar, aku rindu teriakanmu bahkan aku merindukan tendangan kakimu"

"Bukankah itu konyol" Mark tersenyum, membalas tatapan Haechan.

"Kau berlebihan Mark"

Haechan terlalu bingung dengan pengakuan dadakan yang Mark lakukan saat ini. Niatnya ingin mencairkan suasana tapi ketika melihat wajah seniornya yang begitu serius membuatnya terdiam sesaat.

Haechan bangkit, mendudukan dirinya. Matanya menerawang jauh kedepan. "Mulai saat ini kau harus terbiasa dengan keadaan seperti ini" hidup tanpa kehadiranku dan fokus pada apa yang kau miliki sekarang.

Cukup lama keduanya terdiam, tidak ada kata - kata terucap dari bibir keduanya. Haechan memutar badannya, menghadap pada Mark yang berbaring disampingnya dengan kedua matanya yang tertutup rapat.

Maapkan aku Mark

Mark membuka matanya ketika merasakan tetesan air yang mengenai wajahnya.

Hujan.

Mungkin karena terlalu nyaman membuat dia tertidur di atap sekolah. Awalnya langit itu hanya berisi awan - awan mendung namun saat dia terbangun dari tidurnya tetesan - tetesan air telah membasahi daratan.

Dia tidak terlalu mempedulikan seragamnya yang sudah basah.

Mark masih menatap tempat yang tadi diduduki Haechan, tempat itu sudah kosong.

Dia meninggalkannya.

oooooo

TBC

#2 : Friend? # 04 Oktober 2017