Disclaimer: Boku no Hero Academia © Kouhei Horikoshi

Todoroki Shouto x Midoriya Izuku

(AU, nggak ada quirk, berusaha IC tapi OOC sulit dihindari)

x

Musim Panas (2)

Shouto's POV

x

Shouto tidak pernah tertarik pada seseorang, apalagi yang sudah punya pacar. Jadi dia sendiripun tidak paham kenapa matanya tidak mau lepas dari pemuda rambut hijau yang sedang dipeluk-peluk seorang gadis di pinggir kolam renang.

Tapi dia tetap mencoba mendekat, lalu berakhir memuntahkan entah kalimat apa dari mulutnya. Yang pasti bukan hal yang benar karena sampai sekarang pinggangnya masih nyut-nyutan bekas disikut Yaoyorozu.

Untuk saat ini Shouto berusaha instropeksi, tapi kesulitan fokus karena matanya lagi-lagi tidak bisa lepas dari objek yang sama. Terutama bibir si objek yang sedang mengulum es loli honeydew.

"Todoroki-kun… es krimmu meleleh." Ada suara tawa pelan di ujung kalimat teguran.

"Saking panasnya cuaca, semua jadi meleleh lebih cepat." Shouto menjilat punggung tangannya santai, es krimnya memang sudah lumer kemana-mana.

"Haha iya, memang kalau sedang begini enaknya di rumah, tapi sayang ACnya sedang rusak."

"Aku juga berpikir begitu, tapi Yaoyorozu memaksaku keluar." Shouto mengingat saat bel apartemennya dipencet berkali-kali dengan lubang pintu yang dipenuhi wajah memaksa gadis itu. "Katanya aku butuh pacar."

Suara batuk terdengar agak keras.

Shouto terkejut. "Kau baik-baik saja, Midoriya?" Tangan mengelus-ngelus bahu yang ditutupi kemeja tipis.

"Tidak apa-apa, cuma kaget sedikit." Midoriya tersenyum serba salah. "Habisnya Todoroki-kun jujur sekali."

"Yang kukatakan salah ya?"

"Tidak sih…" Midoriya menyengir polos. "Tapi kelihatannya kau bukan orang yang butuh pacar. Wajahmu saja tampan begitu, pasti banyak yang mengejar… kan?"

Kalimat Midoriya tersendat di akhir. Shouto berpikir mungkin itu karena wajahnya sekarang terlihat aneh. Dia tidak tahu persisnya seperti apa, tapi yang jelas Shouto merasa kedua pipinya memanas sekarang.

"Eh… aku…" Shouto menutup wajahnya dengan sebelah tangan, "…tidak merasa tampan sih."

Entah kenapa wajah Midoriya memerah seperti gugup. "A-aku… tidak bermaksud apa-apa, soalnya kan memang faktanya wajahmu tampan."

Sekarang bukan cuma wajahnya, tapi jantungnya juga bereaksi aneh. Apa aku sakit? Shouto mulai merasa cemas.

"Terimakasih. Kurasa Midoriya juga tampan." Shouto hampir meremas corong es krim yang untungnya sudah hampir habis.

"H-Haaaa? Aku? Tentu saja tidak, hahaha… aku kan biasa-biasa saja." Midoriya mengibas-ngibaskan tangannya dengan tawa malu.

"Menurutku kau punya mata besar yang bagus." Shouto mengamati lawan bicaranya lekat. "Senyummu juga manis."

Shouto tidak tahu dia salah bicara atau tidak karena wajah Midoriya berubah merah padam dengan mulut terperangah.

"T-Todoroki-kun, kau sedang membalasku ya?" Pemuda rambut megar itu menyembunyikan muka dibalik lengan. Pose yang lucu.

"Membalas apa?" Shouto mengerjap. "Aku hanya bicara fakta kok."

"Aaaa… tuh kan! Kau pasti sengaja, ya kan?" Midoriya mengangkat kakinya ke atas kursi dan menenggelamkan wajahnya ke lutut, hampir menggulung seperti bola. Shouto masih bisa melihat telinganya yang merah padam.

"Sengaja soal apa? Aku tidak paham." Shouto tersenyum lebar. Berharap jantung Midoriya sedang berdebar sama kerasnya dengan jantungnya sekarang.

"Tidak paham apanya? Mukamu mencurigakan begi—hei jangan menertawaiku!"

Shouto tidak bermaksud menertawakan siapapun. Dia hanya tertawa karena ini menyenangkan. Kalau saja ini bukan pertemuan pertama mereka, Shouto ingin memeluk pemuda manis yang masih protes sambil salah tingkah di depannya dan mengacak-acak rambut hijaunya itu.

"Midoriya, kau—"

"Oi, Deku."

Entah suara apa itu, tapi Shouto merasa terganggu. Di samping meja mereka berdiri menjulang laki-laki pirang jabrik dengan ekspresi tidak ramah.

Midoriya terlihat terkejut. "O-oh… Kacchan?"

Kacchan?

Urat di pelipis Shouto berkedut. Kenapa panggilannya terkesan akrab sekali?

"Mana si Ochako?"

Shouto tidak mengerti kenapa orang yang disebut 'Kacchan' itu cara bicaranya seperti sedang menahan geraman marah.

"Sedang berenang di sebelah sana…" Midoriya menunjuk ke suatu arah sebelum memekik terkejut karena kedua kerah kemejanya ditarik sampai badannya terangkat dari kursi.

"Lalu kenapa kau malah santai-santai disini, Deku sialan?!"

"Tidak perlu kasar." Teguran itu terdengar agak kontradiktif karena Shouto mencengkeram kuat pergelangan tangan si pemuda pirang. "Kau ini preman ya?"

"HAAAA?! LALU KAU SIAPA?! JANGAN IKUT CAMPUR!"

Respon ngegas itu otomatis memancing emosi Shouto.

"Bukannya yang ikut campur itu justru anda? Tiba-tiba muncul menyela pembicaraan orang, tidak sopan sekali." Shouto mendadak formal saking kesalnya. Wajahnya menggelap dengan tatapan mata sengit yang sepertinya membuat si lawan bicara semakin murka.

"TUTUP MULUTMU! KAU YANG—"

"KACCHAN!"

Tinju Shouto tidak terasa terkepal saat Midoriya memeluk lengan makhluk darah tinggi itu. Maksudnya memang untuk menahan karena orang itu hampir maju menyerang Shouto, tapi tetap saja rasanya mata Shouto seperti kemasukan debu saat melihat lengan si preman jadi menempel ke dada telanjang Midoriya karena kemejanya dibiarkan terbuka.

"A-aku memang janji padamu untuk menjaga Ochako kalau kau tidak ada. Tapi Ochako baik-baik saja kok!"

"BAIK-BAIK SAJA APANYA, HA?! MATAMU ITU TIDAK LIHAT BERAPA CECUNGUK YANG MEMANDANGINYA DISANA?! KAU BUTA YA?!"

"Eeee… eeh… ituuu… mereka bukan memandangi Ochako, tapi Yaoyorozu-san yang di sebelahnya. Itu yang rambutnya dikuncir dan pakai bikini merah di sebelah Ochako, kau lihat ka—"

"CARI-CARI ALASAN KAU, DE—"

"Kalau kau tidak suka gadis itu dipandangi orang kenapa kau tidak segera kesana? Kenapa malah marah-marah disini?"

Shouto menginterupsi dengan suara tajam. Kesabarannya sudah habis. Dia sendiri heran bagaimana bisa Midoriya tahan bicara lebih dari sedetik dengan orang yang napasnya saja sudah meledak-ledak menyebalkan begi—

—oh?

Shouto menyadari si dinamit pirang itu mendadak membeku.

"Kacchan?" Midoriya mendongak takut-takut.

Sejenak terdengar suara helaan napas dari si preman. "Ayo pulang, Deku."

Hah?!

Jarang-jarang Shouto terperangah.

"Panggil Ochako sekarang, bilang padanya kalau mau ACnya dibetulkan nanti kuperbaiki."

"Ta-tapi, Kaccha—"

"Mau membantah?!"

"Bu-bukannya begi—"

"YA SUDAH CEPAT PANGGIL SI OCHAKO ITU, SIALAN!"

"I-iyaaaa!"

Shouto masih terperangah saat Midoriya lari ke arah gadis yang sedang bersama Yaoyorozu di ujung sana. Kalau tidak salah gadis itu kan adiknya Midoriya. Lalu preman galak ini siapanya mereka? Kenapa kelakuannya posesif sekali?

"Kau bersaudara dengan Midoriya juga?" Pertanyaan Shouto meluncur begitu saja.

"HA?! Ngelantur apa kau?! Mana mungkin aku bersaudara dengan Kuso Deku itu!"

Oh, iya tentu saja mana mungkin Midoriya yang seperti malaikat itu punya hubungan darah dengan makhluk yang suaranya mirip kaleng rombeng berisik ini?! Mendadak Shouto merasa idiot.

"Lalu kalau bukan saudaranya, kau siapanya?"

"Pacarnya." Jawabannya singkat, padat, dan jutek.

Alis Shouto bertaut. "Pacarnya Midoriya yang cewek, kan?" Sebenarnya sudah cukup jelas kalau dilihat dari percakapan orang itu dengan Midoriya tadi.

Tapi si pirang jabrik itu hening sejenak sebelum menjawab, "Bukan urusanmu." Dengan suara kesal yang terdengar lemah.

Shouto menatapnya aneh.

Kejadian berikutnya terasa senyap karena dia tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia masih bisa mendengar gadis rambut coklat yang adiknya Midoriya marah-marah protes karena belum mau diajak pulang tapi si pirang jabrik itu memukul kepalanya dan mengancam entah dengan apa sampai gadis itu akhirnya berbalik cemberut dengan sedikit menghentakkan kaki ke arah ruang ganti pakaian. Laki-laki pemarah itu membuntuti si gadis dari belakang, seperti memastikan supaya gadis itu tidak kabur.

"Hei, maaf ya?" Suara menenangkan Midoriya membuyarkan lamunan Shouto.

Pemuda rambut hijau itu sudah mengancingkan kemejanya dengan tas ransel di punggung.

"Memangnya dia siapa?" Shouto tidak bisa menyembunyikan nada kesal dalam suaranya.

Midoriya tertawa serba salah. "Ah, itu Kacchan. Pacarnya Ochako."

Shouto masih menautkan alisnya seolah minta jawaban lebih.

"Um… aku berteman dengannya sejak kecil. Memang orangnya galak begitu sih, haha…"

"'Aku'?" Alis Shouto mengernyit makin dalam.

"Eh iya, aku." Midoriya mengerjap. "Ochako baru kenal Kacchan waktu kami SMP."

"Oh…" Shouto masih penasaran, tapi dia merasa sudah menuntut terlalu banyak info untuk pertemuan pertama.

"Hehe… begitulah. Sebenarnya Ochako dulu hanya teman sekolah. Tapi orangtua kami menikah tahun lalu, jadi sekarang kami bersaudara. Karena aku lebih tua lima bulan darinya, jadi aku kakaknya."

"O-oh…" Mata Shouto melebar terkejut. Tadinya dia merasa tidak enak karena mengira Midoriya sempat hidup terpisah dari adiknya karena masalah keluarga atau apa. Karena Shouto sendiri juga sudah beberapa tahun hidup terpisah dengan ibu dan kakak-kakaknya, sampai akhirnya memutuskan untuk hidup sendiri dan keluar dari rumah ayahnya setelah jadi murid SMA. "Tapi kurasa kalian cocok bersaudara, wajah kalian cukup mirip."

"Entah kenapa banyak yang bilang begitu sih setelah kami jadi keluarga." Midoriya menggaruk pipinya dengan cengiran polos. "Padahal sebenarnya dulu aku sempat naksir padanya, hahaha…"

Mata Shouto membulat syok.

Terlalu banyak info!

"Ta-tapi jangan bilang-bilang…" Midoriya menyengir sambil meletakkan telunjuk di depan bibirnya. "Aku sudah sama sekali tidak merasakan perasaan semacam itu lagi padanya, tapi tetap saja memalukan kalau dia tahu dulu aku pernah begitu. Rahasiakan ya?"

"O-oke…" Shouto menghembuskan napas lega saat mengatakan itu.

"Lalu, um…" Midoriya mengeluarkan smartphonenya yang membuat mata heterokrom Shouto berbinar-binar penuh harap tanpa bisa dicegah. "Nomor teleponmu berapa, Todoroki-kun?"

Shouto bisa melihat Yaoyorozu mengacungkan jempolnya penuh semangat dari seberang sana.

xXx