Crash Into you

Chanbaek

Remake of Alia Zalea


.

.

.

27 Agustus

Siapa sangka aku akan bertemu dengannya lagi? Tapi mengapa harus sekarang? Dan mengapa aku bisa mempermalukan diriku didepannya. Aku tak tahu mau ditaruh dimana mukaku ini. Dan, kenapa ia harus bersikap sok ramah terhadapku? Toh aku sudah mengetahui sifatnya sejak dulu. Dan aku yakin dia tak banyak mengalami perubahan. Okay, dia mengalami perubahan. Ada beberapa perubahan pada dirinya, terutama wajahnya dan tubuhnya yang… maybe, aku akan ditendang ke neraka jika memikirkannya. Ermm… tapi kalau ku pikir – pikir. Sebenarnya sebenarnya aku sekarang tak "mungkin" hanya masuk neraka. Aku memang sudah berada di neraka.

"Well… apa kabar?" tanyaku sambil perlahan-lahan mengambil langkah untuk mendekatinya.

Hanya Chanyeol yang akan memanggilku Baekkie. Walaupun dulu dia akan mengatakannya dengan nada mengejek sehingga lebih terdengar seperti "Bebek".

Aku masih tak menyangka bahwa lelaki yang sekarang berdiri di hadapanku hanya dengan menggunakan handuk ini adalah anak laki-laki yang paling kubenci sepanjang hayatku.

Chanyeol tertawa mendengar nadaku yang betul-betul terdengar terkejut ketika melihatnya. "Aku baik-baik saja," jawabnya. "Bagaimana denganmu?" tanyanya balik.

"Aku biasa saja," balasku.

"Aku selalu berfikir bahwa kau pasti memiliki sisi liar, tetapi aku tak menyangka bahwa anak emas sekolah kita ternyata menyukai dunia malam. Clubbing dan minum."

Cara Chanyeol mengatakannya tak seperti orang yang sedang menilaiku. Dia benar-benar terdengar terkejut bahkan sedikit penasaran. Liar? Apa aku tak salah dengar? Chanyeol menggunakan kata liar untuk menggambarkan diriku. Aku tak tahu apakah aku harus merasa tersinggung atau tersanjung dengan kata itu. Pada saat yang bersamaan, aku mencoba untuk memutuskan dari mana dia tahu bahwa aku memang pergi clubbing tadi malam? Tetapi kemudian aku menyadari bahwa pakaian yang kukenakan pada dasarnya sudah meneriakkan statusnya sebagai pakaian clubbing dengan glitter yang bisa membutakan mata bila dipandang terlalu lama.

"Aku hanya pergi clubbing pada saat waktu luang saja. Aku tak banyak berubah. Masih tetap kutu buku yang membosankan."

"Bagiku kau tak pernah membosankan dan style kutu bukumu itu malah membuatku selalu penasaran denganmu." Chanyeol lalu membuka lemari pakaian yang ada di sebelah kanannya dan narik sehelai kaus putih, sehingga dia tak melihat ekspresi wajahku yang sedang menatapnya dengan mulut terbuka.

Kalau saja kata-kata itu diucapkan dengan nada lain, aku mungkin tidak akan merasa sepercaya diri-ini, tetapi Chanyeol mengucapkan seakan-akan ia sedang mengujiku. Tidak.. Ini tak mungkin. Tadi aku pasti salah mendengar.

Chanyeol tak memiliki kemampuan untuk memuji orang, ia hanya bisa mengejek. Well, menurutku. Dan tanpa memedulikan diriku yang masih berdiri di hadapannya Chanyeol mengenakan kaus putih itu dan aku harus menutup mataku ketika dia melepaskan handuk yang mengelilingi pinggulnya.

Tetapi ketika aku mengintip ia ternyata sudah mengenakan celana dalam jenis boxer-briefs berwarna hitam di bawah handuk itu. Aku mencoba menahan diri agar tak mendengus karena menyadari kekonyolanku yang sudah berpikir terlalu jauh.

"Kau tinggal di sini?" tanyaku mencoba mengisi keheningan.

Meskipun aku sudah ingin melarikan diri dari hadapannya, tetapi aku telah dibesarkan untuk mengutamakan tata krama jika bertemu dengan seseorang yang kukenal. Meskipun orang tersebut adalah Chanyeol si anak sialan itu.

"Di hotel ini maksudmu?" balas Chanyeol sembari menarik jeans yang di gantung di dalam lemari sebelum mengenakannya. Saat itu aku menyadari betapa bodohnya pertanyaanku itu.

Mencoba menutupi kesalahanku, aku pun menambahkan.

"Bukan, maksudku di… uhm… di…" aku berusaha sebisa mungkin mengingat-ingat dimana aku berada, tetapi tak satu nama pun muncul di kepalaku.

"Di Jeju?" Chanyeol mencoba membantuku.

"Iya… Jeju," teriakku antusias.

Chanyeol hanya menggeleng sambil memasang kancing celana jinsnya.

"Tidak. Aku hanya ada seminar saja disini," jelasnya sembari mengeluarkan sabuk kulit suede berwarna cokelat muda dari dalam lemari dan mulai melingkarkannya di pinggangnya.

Aku hanya mengangguk-angguk, mencoba untuk mencari topic lain, dan yang keluar dari mulutku adalah,

"Mengapa aku ada disini?"

"Kamu tak mengingatnya?" tanyanya sambil bertolak pinggang dan mengerutkan dahi.

Aku tak memberikan jawaban, tetapi hanya diam, menunggu penjelasannya.

"Aku menemukanmu dalam keadaan mabuk di dalam lift dan aku membawamu ke sini," jelas Chanyeol.

"Mengapa harus kesini?Mengapa kau tidak membawaku ke kamarku?" Itulah pertanyaan selanjutnya yang muncul di kepalaku.

Aku menyadari bahwa aku sudah menyinggung perasaannya ketika dia berkata,

"Kau pikir aku lelaki model apa?"

Sebenarnya aku memiliki beberapa kata seperti "Sialan","tidak punya hati", dan lain-lain, yang bisa kugunakan untuk menjawab pertanyaan itu, tetapi mendengar nada tajamnya aku memilih untuk diam.

"Sungguh tak mungkin kan,aku membiarkanmu merusak reputasi goodgirlmu dengan dirimu yang ditemukan mabuk berat di dalam lift? Lagipula aku juga tak mengetahui nomor kamarmu, aku hanya mengetahuimu disini, karena aku melihat ada kunci hotel ini ditasmu, jadi aku hanya mengambil keputusan yang menurutku paling benar saat itu," lanjut Chanyeol.

Kuanggukan kepalaku, terlebih karena aku masih terlalu pusing untuk adu mulut dengannya daripada karena aku menerima alasan yang telah dikemukakannya. Chanyeol mengusap-usap dagunya sambil menatapku dengan ekspresi antara kesal dan terhibur.

Tiba-tiba aku menyadari betapa anehnya keadaan ini dan mengucapkan satu-satunya hal yang muncul di kepalaku, "So, I'm gonna go. Nice to see you again."

Buru-buru kubuka pintu kamar hotel itu, melangkah ke lorong dan berjalan secepat mungkin tanpa berlari ke arah kanan. Tetapi aku langsung menghentikan langkahku dan memutar tubuh.

"Baek, kau mau kemana?" Tanya Chanyeol dengan suara dan wajah yang terlihat agak sedikit bingung.

"Lift," jawabku pendek dan memutar tubuhku untuk kembali berjalan ke arah yang tadi sedang kutuju ketika kudengar suara Chanyeol lagi.

"Kau salah arah, Baek," Mendengar kata-kata itu sekali lagi kuhentikan langkahku dan menatap sumbernya.

"Liftnya berada di sebelah sana," ucapnya sambil menunjuk ke arah yang berlawanan dari arah yang telah kuambil.

Aku menahan diri untuk tidak menggeram dan tersenyum simpul kepada Chanyeol, lalu mulai berjalan ke arah yang di tunjukkannya. Ketika aku melewati Chanyeol, sekali lagi langkahku terhenti oleh kata-katanya.

"Tunggu, sepertinya ini milikmu. Dan sudah jelas ini bukan milikku. It's not my style." Dia sedang menggenggam clutch berwarna emas yang kubawa tadi malam. Kuulurkan tangan untuk mengambil clutch itu dari genggamannya ketika tiba-tiba Chanyeol menarik pergelangan tanganku. Aku terpekik karena terkejut, sedangkan Chanyeol hanya tersenyum dan meletakkan clutch itu di dalam telapak tanganku yang terbuka sebelum kemudian menyelubungi tanganku dengan kedua tanganku dengan kedua tangannya. Aku hanya bisa terdiam sambil menatap tanganku yang ukurannya relatif kecil, yang kini hampir tidak kelihatan di dalam genggaman kedua tangannya yang besar. Dan tanpa kusangka, Chanyeol kemudian menunduk dan mencium pipi kananku.

Setelah merasa cukup aman berada di dalam lift yang kosong, kukenakan sepatuku kembali. Melalui lift ini setidaknya aku tahu bahwa tebakanku benar. Aku memang masih berada di dalam hotelku tetapi sekitar tiga lantai lebih rendah dibandingkan kamar hotelku. Selama perjalanan menuju lantai enam kuputar otakku untuk mencari penjelasan bagaimana aku bisa berakhir di kamar Chanyeol, tetapi ingatanku masih kabur. Kucoba untuk menenangkan jantungku yang berdetak dengan suara yang cukup keras dan tempo yang tidak bisa terkendali.

Tetapi setidaknya sakit kepalaku sudah sedikit reda, hingga ketika kusadari satu hal yang sudah aku coba kesampingkan dengan paksa selama beberapa menit ini karena aku belum sanggup untuk menghadapinya, yaitu bahwa ada kemungkinan besar aku tadi malam bercinta dengan… kutarik napas dalam-dalam mencoba menahan sakit kepala yang sepertinya akan kambuh lagi.

Dengan Chanyeol. Aku bercinta dengan Chanyeol? Apa mungkin? Tidak mungkin. Tapi… aggghhh… bencana! Ini bencana. Setidaknya aku berharap bahwa ia memiliki kesadaran untuk mengenakan pelindung karena sekarang bukan waktu yang tepat untukku untuk berhubungan seksual tanpa menggunakan pelindung. Kalau betul-betul sial, aku bisa hamil. SHIT. Sepanjang hidupku aku hanya pernah bercinta satu kali dan tanpa pelindung, yaitu dengan Jungkook, pacar keduaku.

Untungnya peristiwa itu tidak membuatku hamil. Yang aku ingat dari pengalaman pertamaku itu adalah bahwa aku cinta mati dengannya sehingga rela melakukan apa saja untuknya. Tapi, ternyata Jungkook menyerangku dengan ganas. Alhasil, hubungan yang telah aku jalin dengannya selama hampir dua tahun terpaksa aku akhiri seminggu kemudian karena aku tahu hakku sebagai seorang wanita untuk memutuskan bahwa tidak ada laki-laki mana pun yang berhak mengobrak-abrik diriku atas nama cinta.

Setelah kejadian itu aku berjanji untuk tidak akan pernah bercinta lagi dengan lelaki mana pun sampai aku menikah. Aku tahu bahwa kalau sampai orangtuaku, kedua kakakku, dan sahabat - sahabatku (kecuali Zitao yang kemungkinan besar kehilangan keperawanannya pada saat yang bersamaan denganku, tapi di benua berbeda) tahu bahwa aku bukan perawan lagi dalam usia yang bisa dibilang relative muda, mereka pasti akan terkejut dan sangat kecewa.

Itu sebabnya aku tak pernah bercerita apa-apa kepada mereka. Tetapi aku tahu bahwa orang-orang terdekatku ini tidak buta, meskipun mereka tak pernah dan tak akan pernah menanyakannya padaku. Sejujurnya, aku telah diajari oleh orangtuaku bahwa bercinta di luar nikah itu tabu.

Dan aku ingin menjaga statusku agar tak kelihatan seperti perempuan gampangan. Untungnya aku tak perlu khawatir gosip mengenai hilangnya keperawananku tersebar, karena sejujurnya, kalaupun gosip itu ada, aku rasa tak akan ada orang yang percaya. Aku bisa membayangkan kata-kata apa yang akan keluar dari mulut mereka semua.

"Baekhyun? Sudah tidak perawan? Itu tak mungkin."

"Baekhyun? Seks? Aku rasa ia tak mungkin mengetahui apa itu seks."

"Tidak mungkin ia sudah melakukan seks diluar nikah. Ia bukan tipe perempuan seperti itu."

Kalau saja orang-orang ini tahu yang sebenarnya, mereka mungkin akan sama kagetnya seperti keluarga dan sahabat - sahabatku. Yatuhan. Tiba-tiba aku teringat pada STD, alias Sexually Transmited Diseases- penyakit menular seksual. Bagaimana mungkin tiga huruf yang seharusnya tidak berarti apa-apa itu bisa membuat bulu di tengkukku langsung berdiri?

Aku membuat catatan di dalam kepalaku untuk pergi cek kesehatan begitu aku sampai di Seoul. Aku akan membunuh Chanyeol kalau sampai dokter menemukan hal-hal yang aneh, entah itu penyakit kelamin, AIDS, apalagi bayi di dalam tubuhku. Itu tak boleh terjadi!

.

.

.

.

Kututup mataku beberapa detik dalam usaha menenangkan diriku, dan ketika pintu lift terbuka lagi kukeluarkan kartu kunci kamar hotel dari dalam clutch-ku. Setidaknya aku masih ingat di mana aku menyimpan kartu kunci itu. Seperti kartu kunci kamar hotel pada umumnya, kartu kunci ini tak mencetak nomor kamar untuk keselamatan tamu hotel seandainya kartu kunci ini jatuh ke tangan yang salah. Itu sebabnya mengapa Chanyeol tak bisa mengantarku kembali ke kamarku karena ia memang tak bisa mengetahui nomor kamarku. Karena aku masih bingung akan kejadian pagi ini, aku mencoba untuk membuka pintu kamarku sepelan mungkin agar tidak membangunkan sahabat-sahabatku. Tanpa kusangka pintu itu ditarik dari dalam dan aku hampir saja jatuh tersungkur karena tanganku masih menggenggam gagang pintu.

"Yatuhan, Baek, kemana saja kau tadi malam?" meskipun Sehun sedang berbisik tetapi aku bisa merasakan adanya nada hampir histeris di belakang bisikan itu.

"Aku menelfonmu berkali – kali, tetapi kau tidak mengangkatnya," lanjutnya. Di antara ketiga sahabatku, sebenarnya aku paling tak mengenal Sehun kalau dihitung dari lamanya kami menghabiskan waktu bersama-sama. Sehun baru-baru ini saja kembali dari Amerika, tempat dia bermukim semenjak Senior High School. Tetapi selalu ada satu hal yang bisa kuandalkan darinya, yaitu kepeduliannya terhadap orang lain. Untuk hal yang satu itu, ia tak pernah berubah semenjak Junior High School.

"Dimana yang lainnya?" tanyaku sambil berbisik juga dan melangkah masuk ke dalam kamar sebelum kemudian menutup pintu.

"Luhan baru saja tidur, ia kesal karena kau tak kunjung kembali. Kalau Zitao, aku tak tahu apa anak itu akan bangun sebelum tengah hari," lapor Sehun mengenai keadaan kedua sahabatku yang lain sambil terkikik.

Luhan adalah sahabatku yang paling dekat, tapi lain dengan Sehun, ia tak bisa diandalkan bahkan hanya untuk memastikan agar aku tetap sadar di bar semalam. Kedatangan kami ke Jeju memang untuk merayakan status baru Zitao sebagai calon pengantin kurang dari tiga bulan lagi. Aku, Sehun, dan Luhan memang sudah berniat dari awal untuk membujuk Zitao, seorang perawan kalau sudah urusan alcohol, untuk minum sebanyak-banyaknya.

Kapan lagi dia bisa melakukan hal itu kalau dia sudah menikah dengan calon suaminya yang berasal dari keluarga paling uptight yang pernah aku temui? Aku yakin mereka tak akan memperbolehkan Zitao bertingkah laku yang tak senonoh seperti itu. Zitao adalah satu-satunya sahabatku yang hingga sekarang tak pernah bisa kupahami betul jalan pikirannya. Dia adalah tipe orang yang selalu melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan apa yang diharapkan oleh orang lain darinya. Intinya ia tak pernah bisa ditebak.

"Berapa banyak martini yang ia minum?" tanyaku sambil melepaskan sepatuku dan melangkah masuk ke kamar mandi.

"Aku sudah tak menghitungnya lagi setelah yang kelima." Sehun pun melangkah masuk ke kamar mandi yang besar itu dan menutup pintu.

Dia kemudian duduk di atas toilet yang sedang dalam keadaan tertutup.

"Mungkin kita akan dibantai oleh calon suaminya," ucapku sambil menatap Sehun yang kusadari kelihatan agak kuyu dan pucat.

"Jangan bilang bahwa kau tak tidur semalaman karena menungguku?" lanjutku khawatir.

"Tidak. Aku tidur. Namun tadi pagi luhan membangunkanku," jelas Sehun.

Aku pun mengembuskan napas lega. Aku betul-betul tak berniat untuk membebani sahabatku hanya karena kecerobohanku yang tidak bisa menjaga diri sendiri. Lalu aku menghadap ke cermin dan berteriak.

"What? What?" Teriak Sehun sambil melompat ke atas toilet dan melihat ke sekelilingnya dengan wajah panik. Kuputar tubuhku untuk menghadapnya.

"Mengapa kau berdiri di atas toilet?" tanyaku bingung.

"Dan kau. Mengapa berteriak?" balas Sehun sambil bertolak pinggang.

"Mengapa kau tak memberitahuku bahwa wajahku seperti ini?" omelku sambil menunjuk wajahku dengan jari telunjuk.

Rambutku yang tadi malam kelihatan seksi dengan bantuan curling iron dan hair spray kini terlihat seperti rambut setan. Selain itu, ada garis hitam di bawah kedua mataku akibat tidur dengan mascara, dan lipstikku yang berwarna merah sudah berpindah ke pipi kananku. Bagaimana mungkin Chanyeol tidak tertawa terpingkal-pingkal ketika melihatku, anak perempuan yang selalu terlihat rapi dan tak akan pernah ditemukan dengan satu helai rambut pun yang salah tempat, berpenampilan seperti ini? Untungnya aku tak bertemu dengan tamu lain ketika berada di dalam lift, karena aku tak yakin bahwa mereka akan bisa mengontrol reaksi mereka sebaik Chanyeol. Sehun mengembuskan napas.

"Jadi kau berteriak hanya karena wajahmu? Kukira kau melihat sesuatu seperti kecoa." Perlahan-lahan Sehun turun dari atas toilet.

"Mana ada kecoa di hotel bintang lima?" balasku dengan nada agak sedikit tajam karena merasa sedikit tersinggung sebab Sehun sepertinya tak memedulikan keluhanku akan penampilanku.

"Bisa saja kan kalau itu kecoa Hollywood," bantah Sehun sambil mendudukkan dirinya kembali di atas toilet dengan wajah sedikit kesal.

Aku hanya menggeleng-geleng sambil mengikat rambutku dan mulai memercikkan air dingin pada wajahku. Perlahan-lahan pikiranku mulai jernih kembali.

"By the way. Kemana saja kau tadi malam? Aku kan sudah memberitahumu untuk menunggu didekat pintu keluar, baru ku tinggal sebentar untuk mengambil tas. Pas ku kembali kau sudah tak ada," ucap Sehun dengan nada lebih serius.

Sehun yang memang tubuhnya sangat sensitive dengan alcohol, lebih memilih untuk minum Coca-cola tadi malam, sehingga mungkin hanya dia semalam yang masih sadar seratus persen. Sambil membersihkan wajahku dengan cleanser, sepotong demi sepotong kejadian tadi malam mulai kembali lagi padaku.

.

.

.

.

Aku memang sedang berdiri sambil menyandarkan punggung pada pintu kaca masuk bar dan menunggu hingga Sehun kembali. Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku bisa kembali ke kamar sendiri, tapi Sehun tetap bersikeras untuk mengantarku. Perutku masih terasa agak sedikit mual yang kemungkinan besar disebabkan oleh tiga gelas martini yang aku minum satu jam yang lalu tanpa henti. Itulah sebabnya kenapa aku mau kembali ke kamar lebih dulu. Setelah menunggu selama lima menit dan Sehun masih belum muncul juga, aku memutuskan untuk menuju ke kamar hotelku sendiri.

Alcohol di dalam darahku sepertinya tidak memengaruhi penglihatan ataupun pikiranku, hanya perutku dan aku berhasil masuk ke dalam lift yang kebetulan kosong tanpa mengalami kendala apa pun. Tetapi ketika aku mencoba untuk menekan tombol lantai di dalam lift, pandanganku tiba-tiba kabur. Kukedipkan mataku berkali-kali dan mencoba membuka lebar kelopak mataku agar bisa melihat dengan lebih jelas, tapi tetap tidak berhasil. Penglihatanku semakin kabur dan aku harus menyandarkan punggung pada salah satu dinding lift karena tiba-tiba aku sepertinya kehilangan keseimbangan yang disusul dengan serangan vertigo yang cukup dahsyat.

Saat itu aku baru betul-betul merasakan efek penuh dari alcohol di dalam darahku. Selanjutnya yang kuingat adalah seseorang yang tak kukenal, yang kini aku tahu sebagai Chanyeol, memapahku berjalan melalui lorong kamar hotel.

Aku ingat bahwa aku sempat mencoba menyanyikan lirik lagu Wannabe ketika sedang dipapah dan kudengar suara tawa Chanyeol. Andaikan bisa memutar balik waktu, aku akan kembali ke enam jam yang lalu dan memilih untuk menunggu hingga Sehun kembali untuk mengantarku kembali ke kamar. Terutama ketika mengingat kata-kata yang keluar dari mulutku.

"I tell you what, what I really want. So tell me what you want what you really really want," teriakku dengan cukup kencang.

"Ssshhh, jangan kencang-kencang. Ini sudah malam," ucap Chanyeol mencoba memperingatkan aku. Tapi dari nadanya sepertinya dia sedang menahan tawa.

"Ini bukan malam lagi, tapi ini sudah pagi," balasku lalu mulai cekikikan.

Kudengar Chanyeol ikut terkikik mendengar komentarku.

"If you wanna be my lover you gotta get with my friends."

"Shhh," sekali lagi Chanyeol mencoba mengingatkanku agar menurunkan suaraku.

Kuulangi baris lagu Spice Girls itu tetapi sambil berbisik.

"If you wanna be my lover you gotta get with my friends." Pada saat itu langkahku terhenti. Chanyeol pun terpaksa menghentikan langkahnya jika tidak mau terpaksa menggeretku.

"Kenapa?" tanyanya dengan ekspresi agak khawatir ketika melihat wajahku yang mungkin kelihatan superbingung.

"Teman-temanku masih di bar," ucapku.

"Kau disini dengan teman-temanmu?" Aku mengangguk dengan semangat yang langsung membuatku pusing dan mungkin akan jatuh terjerembab kalau Chanyeol tak sedang melingkarkan lengan kanannya pada pinggangku.

"Nanti aku akan memberitahu teman – temanmu bahwa kau ada bersamaku," kata Chanyeol sambil mulai menarikku untuk kembali berjalan.

"Kau mengenal mereka?"

"Iya," jawab Chanyeol pendek.

"Hahaha mana mungkin kau mengetahui mereka. Mereka saja belum pernah bertemu denganmu," ucapku sambil tertawa.

"Kau tak usah khawatir soal itu. Aku pasti bisa mengenali mereka."

"Oh ya? Bagaimana bisa?" tanyaku mencoba untuk memfokuskan diri pada percakapan ini.

"Karena pasti mereka memiliki style yang sama sepertimu, kan?"

Aku terdiam sejenak untuk memikirkan jawaban itu dan entah bagaimana tetapi aku tak menemukan adanya kejanggalan dari kata-katanya itu, sehingga aku hanya mengangguk sambil mencoba memerintahkan kedua kakiku agar tetap melangkah.

"Who are you anyway?" tanyaku padanya.

"Kau tak mengenaliku?" Tanya Chanyeol dengan nada serius. Kugelengkan kepalaku.

"I am Jesus," ucap Chanyeol masih dengan wajah serius.

Dan meledaklah tawaku, diikuti tawa terkekeh-kekeh dari Chanyeol. Aku tak menyangka bahwa penolongku itu ternyata bisa melucu juga. Kami lalu kembali melangkah menuju entah kemana. Tanpa kusadari aku sudah mulai menyenandungkan lagu Spice Girls yang lain. Kemungkinan besar adalah Spice Up Your Life.

"Kau menyukai Spice Girls, ya?" Tanya Chanyeol ketika mencoba untuk membuka pintu kamar hotelnya sambil menopangku agar tak merosot dari pelukannya.

"Siapa yang tidak menyukai Spice Girls? They're the best," ucapku.

Setidak-tidaknya itulah kata-kata yang aku coba ucapkan, tetapi sepertinya lidahku tidak mau bekerja sama sehingga aku tidak bisa mengucapkan kata-kataku dengan jelas.

"Jadi, kau sudah tak menyukai New Kids on the Block lagi?"

"Tentu saja masih! they're the best of the best," balasku.

Dan setelah agak lama aku menambahkan. "I love, love, love them," yang disambut gelak tawa oleh Chanyeol.

"I suppose they were wicked," balas Chanyeol sambil masih tertawa.

Entah kenapa tapi bahasa Inggris yang di gunakan Chanyeol terdengar agak lain dari yang biasa kudengar, sehingga membuatku tertawa. Chanyeol telah berhasil membuka pintu kamar dan memapahku masuk ke dalam.

"Wah, tempat tidurmu besar," ucapku dan perlahan-lahan melepaskan diri dari pelukan Chanyeol lalu melangkah kearah tempat tidur.

Tanpa menunggu undangan aku langsung merangkak naik ke atasnya dan merebahkan tubuh dengan masih mengenakan semua pakaian, termasuk sepatu. Tempat tidur itu nyaman sekali dengan sisa-sisa aroma parfum laki-laki. Kutarik napas dalam-dalam sebelum mengembuskannya dengan suara yang cukup keras.

"Bantal. Aku mau bantal," teriakku dan dua bantal besar muncul di sebelah kiri dan kananku.

Aku merasakan seseorang sedang melepaskan sepatuku sebelum kemudian menarik bed cover untuk menyelimuti tubuhku.

"Hmmm… thank you," ucapku.

"You're welcome," balas Chanyeol sebelum kemudian duduk di sampingku dan membelai rambutku.

"You're nice," gumamku, dan kurasa aku langsung tertidur setelah itu karena aku tak bisa mengingat apa-apa lagi.

Tetapi kalau aku langsung tidur pada saat itu juga dengan masih mengenakan semua pakaianku, bagaimana mungkin aku terbangun hanya dengan pakaian dalam? Aku harus pergi menemui Chanyeol lagi nanti untuk meminta penjelasannya atas kejadian tadi malam. Tiba-tiba tubuhku terasa panas-dingin. Bagaimana mungkin setelah dua puluh tahun ini aku masih merasa takut untuk bertemu dengan Chanyeol?

.

.

.

.

.

TBC