Ghost Apartement

Chapter Two

"Alone"

Warning : Typho(s), OOC.

-oOo-

Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi dan Tao masih memeluk Kris tanpa mau melepaskannya. Kejadian saat di toilet itu terus berputar di dalam pikiran dan benak Tao, bayang-bayang kejadian tersebut tidak mau menghilang. Jelas saja hal itu membuat Tao semakin takut luar biasa karena ternyata kejadian itu bukanlah mimpi tapi kenyataan.

Tapi Tao masih belum mengerti apa yang dia lihat sebenarnya tadi itu. Apakah itu hanya halusinasinya saja karena waktu itu dia sedang ketakutan? Atau jangan-jangan memang yang Tao lihat itu bukan halusinasi tapi benar-benar nyata. Tapi jika memang benar nyata, siapa dan mahluk apa sebenarnya itu? Hantukah?

Tubuh Tao langsung menggigil ketakutan dan makin mempererat pelukannya pada tubuh Kris. Kris yang melihatnya hanya bisa menghela napas dan menatap tidak mengerti pada kekasihnya. Kris tidak tahu apa yang terjadi pada Tao sesaat sebelum Kris menemukannya terbaring dilantai, didepan pintu kamar mandi.

Kris bahkan tidak menemukan apapun yang mencurigakan disekitar kekasihnya yang mungkin bisa membuat Tao pingsan. Maka dari itu Kris hanya berspekulasi bahwa Tao kelelahan dan dia kemudian pingsan. Dan itu mungkin karena dirinya yang terlalu kasar 'bermain' dengannya malam tadi. Dan Kris tentu saja merasa bersalah pada kekasihnya yang tengah memeluk dirinya dengan tubuh bergetar ini.

Tapi yang tidak Kris mengerti adalah... Kenapa ketika dia mengatakan pada Tao bahwa dia mendapati dirinya pingsan didepan pintu kamar mandi, wajah Tao langsung pucat pasi dan terlihat sangat amat ketakutan. Memang apa yang Tao lihat dikamar mandi? Karena Kris sewaktu disana tidak melihat apapun selain ruangan kamar mandi yang kosong melompong.

"Tao baby, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Kenapa kau pingsan didepan pintu kamar mandi tadi?" tanya Kris lagi yang masih penasaran.

Tao Pov

Aku tersentak saat Kris memberikan pertanyaan tersebut. Tubuhku seakan membeku mendengarnya, mengingat aku tidak tahu harus mengatakan apa pada dirinya. Jauh di lubuk hatiku, aku ingin mengatakan kejadian sebenarnya pada Kris. Tapi... apa Kris akan percaya padaku?

Aku yakin Kris tidak akan mau percaya karena aku ini memang penakut dan dia mungkin menganggapku hanya sedang berhalusinasi saja. Jika pun dia percaya padaku, aku tidak tega padanya. Karena aku yakin, Kris akan langsung mencari apartemen baru dan itu berarti kami mengeluarkan cukup banyak uang dan juga tenaga.

Aku mulai mengangkat wajahku yang sembab karena menangis. Aku menggelengkan kepalaku pelan padanya dan tersenyum walau dia tahu bahwa senyumku itu palsu.

"Tidak apa-apa Kris... aku hanya... mungkin, sedikit kelelahan," bohongku padanya dan sekuat tenaga aku tidak membuang mukaku dari hadapannya. Karena jika aku melakukan itu, Kris tahu aku berbohong dan aku tidak mau Kris marah dan kecewa padaku.

Kris menghela napasnya dan mulai mengusap pelan rambutku.

"Maafkan aku Tao, itu semua salahku karena kemarin malam aku terlalu kasar padamu," ucapnya dengan nada sedih yang langsung membuatku menggelengkan kepalaku dengan cepat.

"Tidak Kris, bukan itu. Aku lelah karena... yah kau tahu, lelah pikiran dengan tugas-tugas kuliahku," ucapku lagi berbohong dan jujur saja aku sudah tidak kuat untuk berbohong lagi pada kekasihku ini.

"Kalau begitu banyak-banyaklah beristirahat Tao. Hari ini kau tidak perlu kuliah saja dan mungkin aku harus mengajakmu jalan-jalan untuk menyegarkan pikiranmu minggu depan," kata Kris sembari tersenyum kecil padaku. Aku membalas senyumnya dan memeluknya dengan sayang.

"Baiklah, terima kasih Kris." Balasku yang kemudian melepas pelukanku padanya.

"Kau tidak apa jika aku tinggal sendirian dirumah? Aku sudah agak telat untuk berangkat kerja," kata Kris yang kini tengah melihat arlojinya.

Aku langsung menggigit bibir bawahku, tidak tahu apakah aku harus menahan Kris tetap disini atau membiarkannya berangkat kerja. Jujur saja, kejadian saat di kamar mandi masih membuatku takut dan aku tidak mau sendirian dirumah ini. Tapi, aku tidak mau egois begitu saja menahan Kris untuk hal sepele seperti ini. Mungkin... hal seperti itu tidak akan terulang lagi padaku jika aku beristirahat, mengistirahatkan pikiranku di kamar hingga Kris kembali pulang.

"Pergilah Kris, aku tidak apa-apa," ucapku dengan nada sedikit ragu. Kris memandangiku khawatir, karena dia tahu aku ragu-ragu mengatakannya.

"Kau yakin baby? Apa kau tidak apa-apa aku tinggal saat kau sedang tidak sehat seperti ini?" tanya Kris lagi memastikan diriku. Kedua tangannya kini menangkup wajahku dan kedua mata kecoklatannya menatap lurus pada kedua bola mata hitamku. Aku mengangguk kecil dan memberikannya senyum terbaikku.

"Jangan khawatir... aku akan memberikan pesan pada Sehun atau Kai untuk datang kemari menemaniku jika mereka punya waktu," balasku dengan nada yakin padanya.

Kris terlihat menghela napasnya dan mengangguk. Dia mengecup bibirku sebentar dan kembali menatapku.

"Jika terjadi sesuatu, cepat kirim pesan atau telepon aku. Kau mengerti?"

Aku kembali mengangguk mendengar pertanyaan Kris yang masih terlihat khawatir padaku. Kris akhirnya tersenyum lega dan bergegas mengambil tas kerjanya yang ada di nakas lalu kembali berjalan menuju diriku.

"Aku berangkat dulu, akan aku usahakan agar aku pulang lebih cepat. Oke?" aku hanya tersenyum dan Kris kembali mengecup bibirku dengan lembut.

"Love u Tao," ucapnya.

"Love u too Kris," balasku sembari tersenyum kecil padanya.

Kris kemudian keluar dari kamar kami dan setelahnya dia benar-benar pergi dari apartemen menuju tempatnya bekerja dengan mobil miliknya. Aku kembali membaringkan tubuhku dan mengambil smartphone milikku untuk mengirim pesan pada Sehun agar dia dan Kai mau ke apartemenku dan menemaniku hari ini. Jujur saja aku sangat benci dan tidak suka ketika aku sendirian dan atau kesepian.

Sehun dan Kai adalah teman kuliahku, hari ini dia tidak ada jadwal kuliah untuk mereka berdua. Maka dari itu aku mengirim pesan pada mereka berdua. Jari-jariku mulai mengetik kata demi kata dengan lincah di layar smartphone milikku yang dimana adalah pemberian Kris. Setelah selesai, aku mulai menyentuh kata send di layar smartphone milikku.

BLANK

"HWAAA!"

BRAK

Aku terkejut dan langsung berteriak saat tiba-tiba layar smartphone milikku menghitam dan muncul sebuah gambar. Gambar dengan sosok perempuan berambut hitam panjang mengerikan menatapku dengan bola matanya yang putih pucat. Dengan refleks, aku tentu aja melempar smartphoneku kelantai dengan tubuh bergetar karena takut.

Aku menatap sebentar smartphoneku sebelum akhirnya aku dengan tergesa-gesa kembali berbaring dikasur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Aku memeluk diriku sendiri didalam selimut, tubuhku mulai menggigil ketakutan karena gambar tersebut kembali muncul dalam benakku. Bulu kudukku mulai berdiri dan yang bisa aku lakukan hanyalah menutup kedua mataku dan berdoa dalam hati. Aku memutuskan untuk keluar dari kamar saja secepatnya.

CKLEK

Aku tersentak saat mendengar suara pintu kamarku yang terkunci entah oleh siapa. Kontan aku turun dari kasur menuju pintu dan mulai mencoba membuka pintu yang ternyata memang benar terkunci. Aku mencoba membuka pintu tersebut dengan sekuat tenaga dan mulai mendobrak-dobrak pintunya dari dalam.

"Buka! Siapa saja, tolong buka pintunya," teriakku dengan nada yang amat panik. Tapi tidak aku dengar sahutan dari luar sana. Siapa sebenarnya yang mengunci pintu? Dan aku sangat yakin itu bukanlah Kris.

Aku mulai mundur dan berjalan kembali menuju kasur. Kembali aku berbaring di kasur dan menutup seluruh tubuhku lagi dengan selimut. Aku yang tengah dilanda rasa takut, mulai memeluk diriku dan makin merapatkan pelukanku pada tubuhku sendiri saat telingaku mendengar suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa menggema didalam kamarku.

Aku makin ketakutan, tubuhku mulai terasa dingin dan firasatku tidak enak. Aku bahkan tidak berani untuk sekedar melihat siapa kira-kira orang atau mahluk yang masuk kedalam kamarku. Aku mulai menangis dalam diam saking takutnya. Aku ingin Kris ada disini dan menenangkan diriku yang tengah ketakutan ini. Tapi itu mustahil, Kris sudah berangkat kerja dan aku tidak bisa menghubunginya karena smartphoneku kini berada dilantai akibat ulahku sendiri.

Aku menggigit bibir bawahku agar tidak bersuara saat langkah kaki tersebut perlahan menghilang dari pendengaranku. Aku terdiam sebentar dan mulai mengatur napasku yang memburu akibat kejadian barusan.

Hening...

Aku mulai bernapas dengan lega namun itu hanya sebentar saja. Langkah kaki itu kembali terdengar, namun hanya satu derap langkah kaki saja. Dan aku yakin, langkah kaki itu menuju kearah kasur tepatnya menuju kearahku. Jantungku mulai berbedar-debar keras karena takut, terlebih saat suara langkah kaki itu makin kencang terdengar yang dimana menandakkan bahwa jarakku dengan siapapun itu kian dekat.

Aku mulai menutup mulutku dengan kedua tangan, tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun walau aku sekarang ingin berteriak karena takut dan panik. Aku juga berusaha mengontrol tubuhku agar tidak bergetar karena ketakutan. Rasa panik dan takut mulai terasa hinggap dihatiku saat langkah kaki itu berhenti dan aku yakin dia kini ada didepan kasurku.

SREET

Tubuhku membeku saat selimut yang aku pakai ditarik. Dengan refleks aku menahannya agar tubuhku tidak tersibak sepenuhnya oleh selimut. Tapi mahluk itu atau siapapun itu terus menarik selimutku hingga kami berdua pun saling tarik menarik. Aku mulai kembali menangis dalam diam karena dilanda rasa takut yang amat sangat.

Karena takutnya, aku menarik selimut terlalu keras hingga membuat mahluk yang beradu denganku mungkin tertarik dan menindih tubuhku. Bisa kurasakan betapa dingin tubuh yang menindihku dan bisa kucium aroma busuk yang mulai masuk kedalam indra penciumanku.

"HWAAA!" aku bangkit dan terkejut setengah mati saat tidak mendapati siapapun di kamarku. Aku mulai terisak pelan, apa sebenarnya tadi itu? Halusinasiku atau apa? Jika halusinasi, kenapa terasa begitu nyata?

"Hiks Kris... aku takut hiks... Kris..." isakku dan kemudian aku menatap smartphoneku yang masih tergeletak di lantai.

Aku menelan ludahku takut dan mulai memperhatikan sekitarku. Tidak ada tanda kehadiran akan sesuatu menurutku. Dengan sedikit berani, aku turun dari kasur untuk mengambil smartphone tersebut. Kedua bola mataku masih memperhatikan keadaan sekitarku dan bersyukur saat aku mengambil smartphone itu tidak terjadi apa-apa.

Aku menutup kedua mataku saat smartphone milikku mulai kunyalakan. Kemudian kubuka pelan satu mataku dan kembali aku bernapas lega karena smartphoneku normal seperti biasanya tanpa ada gambar bersosok mengerikan lagi. Ditengah isakkanku, aku mulai membuka menu messages dan terkejut pesanku pada Sehun dan Luhan tidak terkirim. Aku mencoba yang lainnya, yaitu dengan menelepon kekasihku Kris.

Aku mulai mencari nomor teleponnya dengan terburu-terburu dan langsung menekan tombol call. Kudekatkan smartphone milikku pada telingaku. Kedua bola mataku masih memandang kesegala arah diruangan kamarku.

Tuutt

Tuuuttt

"Kris... ku mohon angkatlah," bisikku masih sembari menatap keadaan sekitar kamarku.

Tuuttt

Tuuttt

Cklik

Aku tersenyum bahagia saat Kris menjawab panggilanku.

"Hallo Kris a-"

Aku terdiam saat mendengar suara air keran yang menyala dari dalam kamar mandi dikamarku. Dan suara kaca pecah dan langkah kaki yang amat keras dari dalam sana yang membuatku kembali bergidik takut.

"Hallo Tao, ada apa baby? Kenapa kau memanggilku? Apa terjadi sesuatu padamu?" ucap Kris diseberang sana dengan nada khawatir.

"Kris pulanglah, aku takut Kris. Ada sesuatu dikamar kita, kumohon hiks pulanglah," pintaku yang kembali menangis. Kedua mataku tidak lepas dari pintu kamar mandi yang kulihat gagangnya terlihat bergerak-gerak sendiri. Air mataku keluar makin banyak karena takut setengah mati.

"Hallooo Tao, kenapa kau diam saja baby?" tanya Kris lagi. Aku membulatkan mataku karena ternyata Kris tidak mendengar suaraku diseberang sana.

"Kris pulanglah! Cepat pulang, aku mohon hiks aku takut," kataku dengan nada keras dan juga panik.

"Benarkah? Sehun dan Kai sudah menemanimu disana?" ucap Kris yang kembali membuatku terdiam. Apa lagi ini?

"Baiklah... jika mereka mau menemanimu hingga aku pulang. Baik-baiklah dirumah Tao dan jaga kesehatanmu," tubuhku mulai melemas mendengar kelanjutan ucapan Kris. Kris berbicara dengan seseorang diteleponku tapi itu bukan aku.

Bukan Kris, bukan aku yang bicara denganmu sekarang. Kumohon... kumohon siapapun tolong aku dari keadaan ini.

"I love u too Tao," ucapnya lagi.

Tuuttt

Aku mulai menangis dan menggenggam erat smartphoneku sekarang. Ya Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?

CKLEK

Tubuhku membeku saat pintu kamar mandi terbuka. Karena takut, aku mulai naik keatas kasur dan duduk di ujung kasur dengan selimut yang menyelimuti tubuhku.

Tap Tap Tap

Sesosok mahluk keluar dari dalam kamar mandi. Tubuhku mulai melemas melihat sosok mengerikan tersebut. Sosok Kris yang sebelumnya aku lihat di kamar mandi didekat dapur, tengah berjalan dengan tertatih tatih menuju diriku. Seluruh tubuhnya yang tanpa benang sehelai pun terikat oleh kawat, membuat darah mengalir dengan deras disekujur tubuhnya.

Kedua matanya yang rusak dengan darah yang keluar dari dalam lubang mata itu membuatku langsung berteriak ketakutan. Terlebih saat perut Kris kembali terbelah dan muncullah sebuah sesosok kepala dari dalam sana, sosok kepala yang aku lihat tadi didalam smartphoneku. Kepala itu menyembul keluar dan menatapku dengan mata merah tajamnya.

Aku menjerit dan berteriak makin keras saat mahluk yang mirip Kris itu makin mendekatiku.

"JANGAN MENDEKAT! PERGI KALIAN HIKS JANGAN GANGGU AKU," pintaku sambil menatap kesamping tanpa mau memandang kedepan, kearah mahluk mengerikan tersebut.

Aku bisa merasakan mahluk yang mirip Kris itu sudah dekat denganku. Aku mulai menjerit dan berteriak-teriak tidak terkendali saat merasakan kasurku serasa dinaiki oleh sesuatu dan aku yakin mahluk tersebut yang kini naik kekasur dan mendekat padaku.

"Tao~" aku tersentak saat suara ini, suara lembut Kris yang memanggilku tertangkap indra pendengaranku. Tanpa sadar, aku menatap kedepan dan langsung berhadapan dengan wajah mahluk yang mirip Kris tersebut. Tenggorokanku tercekat saat aku ingin berteriak dan setelahnya pandanganku pun menggelap.

TBC

Huuuu~ panas dingin ngetiknya sendirian di kamar hohoho~ moga yang ini agak serem dari chap kemaren.

Fic yang aku update selanjutnya

Exo In Kindergarten

Spesial thanks to :

needtexotic, Shin Min Hwa, ajib4ff, ayulopetyas11, imNari, StringKyu893, mitaitu, Riszaaa, Arista Estiningt, kim nana love exo, rarega, 13ginger, Rany Panda Bbuing-bbuing, Park EunRa JewELFishy, Happy Eyeliner280, Deer Panda, Pyolipops, paprikapumpkin, Shin SeungGi, uchihaputry, Golden Peacock, Gita Safira, YuniNJ, TiiloveRyeoTao, Wookiecha8797, christina, BabySuLayDo, Jaylyn Rui, arvita kim, Raichi Lee Sangjin ELF, Brigitta Bukan Brigittiw, onix hangel, nanda, autumnpanda, Albert adiknya Argha jeyek :D, Arga jeyek#plak, Guest, 00'no name, fujo yaoi, cassieYJS, Rin Rin Kim ChenMin EXOtic, Nurul Fajrianti, Dianaanisti1, Mei, KecoaLaut, la, putrikhaido, Flame Key, Ryu, , Xylia Park, HunHan's Wife.

Terima kasih atas review, saran, kritik kalian. Juga terima kasih buat reviewer baru yang mau membaca ff gaje ini *deep bow* Love u soo muucchhh muuaacchhh *kecup basah*#ditabok rame-rame XD