Chap 1 "Which One?"
Warning! Typo Everywhere
.
.
Tinggalkan Jejak ^3^
.
.
"Kookie? Sudah bangun?!" Jin menggoncangkan tubuh Jungkook yang mulai setengah sadar.
Jungkook merasakan sedikit pusing di kepalanya sesaat setelah ia mulai membuka kedua matanya perlahan. Orang yang pertama kali ia lihat adalah Jin yang langsung panik saat menyadari hoobae-nya mulai sadar setelah pingsan dari beberapa menit yang lalu.
Jungkook bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di tepi tempat tidur. "Apa yang terjadi, hyung?"
"Kau tau? Aku sangat panik saat melihat kamu pingsan di kelasmu tadi. Yaampun, kau ini kenapa, Kookie? Aku langsung panik, tau!" Ujar Jin dengan nada cemas.
"Aku pingsan? Kenapa aku pingsan?" Jungkook mulai tertarik dengan arah pembicaraan Jin. Mungkin karena ia baru menyadari bahwa sepertinya ada sesuatu yang buruk telah menimpanya.
"Ya, saat Kim Taehyung –ssi yang tampan itu dengan gagah mengatakan 'Jungkook, mulai dari 5 detik yang lalu, kau sudah resmi menjadi kekasihku. Mengerti?' lalu mata indah Park Jimin –ssi dengan Kim Taehyung –ssi saling menusuk satu sama lain. Dan Bam! Oh tidak mereka berdua sangat keren saat melakukan hal itu! Aku pikir mereka melakukan hal itu karena sesuatu yang sangat berharga. Ternyata mereka memperebutkan namja sepertimu, aish~ Aku rasa mereka punya selera yang buruk, Kookie!" Jin terkekeh sambil mencubit kecil lengan Jungkook.
Jungkook yang mendengar godaan Jin ditambah copycat suara Taehyung yang Jin lakukan, membuatnya tertawa terbahak-bahak. Jangankan hyungnya yang satu ini, Jungkook pun tidak percaya kedua namja paling 'diinginkan' di sekolah menyukai dirinya.
"Kau ada-ada saja, hyung" Jungkook mengelus perutnya yang mulai sakit karena terus-terusan tertawa.
"Iya. Dan puncak acaranya adalah saat Taehyung –ssi langsung mengangkat mu kesini. Astaga itu keren sekali!" Wajah Jin mulai merona. Membayangkan bila ia yang berada di posisi Jungkook.
"Apa, hyung? Kau seri—" Ucapan Jungkook terhenti saat seorang pemuda berambut hitam membuka lebar daun pintu ruang kesehatan. Wajahnya penuh keringat yang didukung dengan ekspresinya yang menafsirkan sebuah kekhawatiran.
"Jungkook –ssi?! Kau tidak apa-apa kan?" Jimin mengenggam tangan Jungkook. Bola matanya benar-benar menatap mata Jungkook tajam. Menyadari tatapan Jimin, Jungkook mulai menundukkan kepalanya.
"Ti-tidak apa-apa, sunbae" jawab Jungkook tanpa mengangkat kepalanya.
"Kau pulang bersamaku ya hari ini" Lanjut Jimin yang langsung mengalihkan pandangannya pada Seokjin.
Seokjin yang sadar akan 'kode' dari Jimin, mengangguk samar. "I-iya Jungkook. Hari ini aku juga tidak bisa pulang bersamamu dulu. Aku ada janji dengan Baby Namjoon. Jaga dia baik-baik ya, Jimin –ssi" Seokjin tersenyum kecil, lalu langsung berlari keluar ruangan, takut merusak momentum yang Jimin tunggu-tunggu.
"Ayo aku bantu." Jimin memegang pundak Jungkook, menuntun namja itu ke arah motor sportnya.
"Sebenarnya kau tidak usah begini sunbae. Aku bisa pulang sendiri." Jungkook mencoba untuk melepas tangan Jimin dari pundaknya.
"Bagaimana bisa aku membiarkan namja yang aku sukai pulang sendiri disaat-saat seperti ini?"
"A- apa?"
"Diamlah" Jimin dengan cepat menutup kepala Jungkook dengan helm yang sudah ia siapkan.
Setelah segalanya sudah dipastikan aman, Jimin meng-gas motornya. Tak sadar bahwa dari kejauhan, seseorang tengah memperhatikan mereka dibalik mobil sedan hitam.
.
.
.
Perjalanan mereka berakhir hening. Tanpa pembicaraan sedikit pun.
"Jungkook, kita sampai." Jimin menggoncangkan tubuhnya, berharap namja yang tengah diboncengnya sadar bahwa mereka telah sampai di tujuan.
"Jungkook?" Jimin masih belum mendapat jawaban.
Ia menggeser sedikit arah kaca spion. Reflek tertawa kecil saat melihat Jungkook yang tertidur pulas di pundaknya.
Tak ingin mengganggu, Jimin memutuskan untuk turun perlahan dari motornya namun tetap menopang kepala Jungkook dengan kedua tangannya. Setelah memastikan kedua kakinya sukses berdiri diatas tanah tanpa membangunkan namja mungil yang masih tertidur pulas, ia mulai mengangkat tubuh Jungkook, dan menggendongnya dengan gaya ransel.
Jimin mengetuk pelan pintu berbahan kayu dihadapannya. "Aaa masa sekolah ku menjadi suram" Jimin kembali tertawa saat mendengar Jungkook yang menginggau. 'manisnya' pinta Jimin dalam hati. Wajah Jungkook lebih manis saat tertidur, begitulah yang terlintas dalam pikiran seorang Park Jimin.
"Ya sia—. Jungkook?!" Seseorang keluar dari bilik pintu kayu dihadapan Jimin. Menanggapi hal itu, Jimin langsung mebungkuk kecil.
"Kyungsoo ahjumma? Saya Park Jimin, teman Jungkook. Jungkook tertidur pulas saat perjalanan pulang, saya tidak ingin membangunkannya." Jimin tersenyum ramah.
Kyungsoo membalasnya dengan senyuman lebar dan anggukan kecil. "Yeobo! Kemarilah!" Kyungsoo berteriak kecil.
Beberapa detik kemudian, seorang pria bertubuh jangkung dengan kulit kecoklatan datang menghampiri mereka.
"Aigoo. Chagi, lihat! Anakmu berulah lagi. Cepat berikan Jungkook kepadaku, anak muda!" Pria itu membentak Jimin ringan. Jimin yang merasa tidak enak hati, langsung memberi alih tubuh Jungkook pada ayahnya.
Kyungsoo yang mendengar bentakan Kai, langsung memukul lengan suaminya yang satu itu. "Yeobo! Dia itu justru membantu anak kita! Kau ini bagaimana sih?"
Tidak ingin menambah perkara, Kai langsung melengos kedalam rumah bersama Jungkook yang masih tertidur di punggungnya. Meninggalkan Kyungsoo yang masih menjamu Jimin di halaman rumah mereka.
"Saya ingin pamit pulang, ahjumma" Ujar Jimin tetap menyungging senyum.
"Ah nde. Hati-hati ya, Jimin –ah. Tapi sebelumnya, pasti kau teman dekat Jungkook ya? Sampai tau namaku" Kyungsoo terkekeh kecil
"Ah itu karena— eum tentu. Saya permisi dulu"
.
.
.
"EOMMA! KENAPA TIDAK MEMBANGUNKAN AKU SIH?" Jungkook menggoncangkan tubuh Kyungsoo kencang. Ia sangat menyesal atas peristiwa yang berlalu sore hari tadi. Tepatnya saat Jimin mengantarnya pulang.
"Ah eomma tidak kepikiran. Sudahlah, eomma jadi pusing, takutnya nanti malam eomma sakit. Appa mu kecewa. Tidur lah sana, sayang" Kyungsoo keluar dari kamar Jungkook. Meninggalkan pemuda itu dengan rasa malu yang berlipat ganda.
Jungkook menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang berukuran king size. Ia menutupi wajahnya dengan bantal. Mencemaskan apa yang akan terjadi di esok hari.
Namja itu meraba-raba ranjangnya. Mencari benda kecil yang setidaknya bisa membuat ia sedikit melupakan kecemasannya. "Ini dia handphone kesayanganku. Lihat! Kenapa hari ini banyak sekali pesan masuk?"
Today, 16:01 PM
Kau ini jangan suka cari perhatian Jimin Sunbae ya!
Today, 16:18 PM
Hey you bit*h! You ****sensored*** !
Today, 17:05 PM
Taehyung itu milikku! Sialan!
(18 other incoming messages)
Jungkook menghapus air matanya. Ia merasa sangat malu untuk kembali ke sekolah. Saat ia masuk, mungkin tidak ada lagi yang ingin menjadi temannya. Masa sekolahnya akan menjadi suram seketika.
"Loser oetori sen cheokhaneun geopjaengi
Mosdoen yangachi geoul soge neon
Just a loser oetori sangcheoppunin meojeori
Deoreoun sseuregi geoul soge nan"
Mendengar nada dering handphonenya berbunyi, Jungkook dengan kecil hati memberanikan diri untuk melihat pesan yang mungkin tidak ingin ia lihat.
Today, 21:05 PM
Apakah ini Jungkook?
Iya. Kau siapa?
Send, 21:06 PM
Today 21:08 PM
Kau tidak apa-apa?
Iya. Kau siapa?
Send, 21:10 PM
Today , 21:12 PM
Aku Kim Taehyung dari kelas 2-B
Jungkook menelan salivanya. Tidak percaya dengan yang baru saja ia baca. Bagaimana mungkin Taehyung mengirim pesan padanya? Tidak mungkin.
Aku tidak percaya.
Send, 21:20
Today, 21:23 PM
Bagaimana caranya agar kau percaya?
Telefon aku.
Send, 21:25 PM
Sudah 1 jam sejak Jungkook membalas pesan dari orang yang mengaku sebagai Kim Taehyung. Namun nihil, tak kunjung ada jawaban. "Dasar haters jahil" Gerutu Jungkook yang langsung menon-aktifkan handphonenya.
.
.
.
Taehyung's Pov
"'Ini aku, Jungkook.' Ah tidak tidak."
"'Hai Jungkook.' Ini tidak keren"
"'Mmm. Bagaimana keadaanmu?' Tunggu. Aku sudah menanyakannya tadi."
"'Kau percaya?' Bukankah itu terdengar dramatis?"
"'Ini aku. Percaya?' Ah itu dia!"
Taehyung tersenyum lebar didepan cermin. Dihitung-hitung, sudah 1 jam Taehyung berlatih didepan cermin hanya untuk membuktikan bahwa ia benar-benar Kim Taehyung.
"Oke Jungkook, aku akan menelfonmu" Ujar Taehyung bersemangat.
"Maaf, nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Tolong hubungi beberapa saat lagi."
"SIAL" Taehyung mengutuk dirinya saat itu juga.
TBC
