Man, I wrote this story in 2007. I was 16. Crazy.

I just found this on my drive yesterday (3000++ words!) and decided to edit and continue this for fun.


Hinata mendongak ke arah langit pagi yang cerah, dengan awan-awan putih yang mengambang seperti permen kapas. Matanya menangkap segerombolan burung migrasi yang memulai perjalanannya ke Selatan.

Warna biru langit selalu mengingatkannya akan mata kakaknya yang berwarna serupa. Dan dengan perpaduan warna dari dedaunan Pohon Ginko yang sudah menguning dan meranggas di musim gugur, semuanya semakin mengingatkan Hinata akan Fuubuki.

Nii-san-nya.

Hinata tidak pernah suka menunggu. Dia benci harus melakukannya setiap waktu. Namun hanya itulah yang bisa Hinata lakukan untuk mengusir rasa rindunya pada Fuubuki. Hanya dengan menunggu, Hinata bisa sedikit melepaskan rasa rindunya pada kakaknya.

Hinata mengalihkan pandangannya ketika ia mendengar suara anak-anak bercanda dan berlarian dengan gembira. Ia mengamati satu per satu anak-anak yang ada, namun tak satu pun yang dikenalinya dengan baik, yang membuatnya tidak bisa bergabung. Hinata cuma punya Ryo sebagai temannya di desa ini.

Biasanya Hinata sudah akan asyik bermain dengan Ryo, kalau saja kemarin Ryo tidak mengatakan hal yang membuat Hinata menolak bertemu dengan Ryo tadi pagi, membuat Ryo pergi bermain sendiri.

"Fuubuki kan selalu saja bertingkah dengan dingin! Aku heran, memangnya dia sayang padamu? Dia membuatmu menangis di gerbang, aku melihatnya!"

Kata-kata yang sangat, sangat membuat Hinata enggan bertemu lagi dengan Ryo, paling tidak untuk sekarang.

Hinata tidak memungkiri Fuubuki selalu bersikap sopan dan formal pada semua orang, yang membuatnya terlihat sangat datar. Bahkan kepada Hinata, adiknya sendiri, sikapnya tidak berbeda. Fuubuki memang populer di antara gadis-gadis desa, namun bagi kebanyakan penduduk, sikapnya yang tidak cukup ramah membuatnya tidak terlalu disenangi.

Bukan hanya Ryo. Orang-orang yang mengenalnya seringkali bicara soal kesabaran Hinata dalam menunggu Fuubuki, sosok yang dikenal selalu tersenyum dengan mata yang dingin. Bermacam-macam reaksi dan tanggapan yang memujinya dan memintanya sabar sama sekali tidak berguna.

Hinata kembali memikirkan kata-kata Ryo. Sekasar apapun mulut Ryo, baru kali ini Hinata sakit hati dibuatnya. Ia menghela napas, kembali mendongak memandang langit, sambil berusaha membayangkan sedang apa kakaknya sekarang.

Tidak sayang padanya? Tidak ada yang bisa bilang begitu soal kakaknya.

Benak Hinata mulai memainkan ingatan terakhir sebelum kakaknya pergi ke S-Class Mission di Konoha.


Hinata mengikuti Fuubuki berjalan ke genkan depan rumah, setelah berjanji dia akan mencuci piring bekas sarapan kalau sudah mengantarkan Fuubuki pergi. Ia mengawasi Fuubuki memakai sepatu shinobinya sebelum mengikatkan hitai-ate berlambang Konoha Gakure di dahinya.

"Boleh aku mengantar Nii-san sampai gerbang desa?" tanya Hinata pelan sambil duduk bersimpuh di sebelah Fuubuki. Ia menunggu Fuubuki menjawab, dan sekalipun ia memaksa bertanya, Hinata toh sudah tahu jawabannya.

Fuubuki berkata kaku. "Kita sudah pernah membahas hal ini kan? Aku melarangmu mengikutiku sampai ke gerbang desa." Ia melirik sekilas, memberikan Hinata pandangan yang biasanya, dingin dan datar. "Kenapa? Biasanya kau sudah tahu tanpa perlu menanyakannya."

"Tidak apa-apa." Hinata mengutuki dirinya sendiri yang sudah memberanikan dirinya bertanya. Pagi ini keinginannya untuk mengantarkan kakaknya bekerja sampai di gerbang lebih kuat daripada pagi-pagi yang lainnya sampai-sampai tidak bisa dibendung.

Fuubuki tidak membahasnya lagi. "Aku dipanggil untuk S-Class Mission, mungkin aku baru akan pulang seminggu lagi."

"Seminggu..." gumam Hinata pelan. Ia menatap Fuubuki, yang lagi-lagi hanya memberikan lirikan sekilas padanya seperti biasa.

"Maaf ya." katanya pendek.

"Kenapa lama sekali Nii-san?" tanya Hinata. Dan sekalipun ia berusaha menjaga nada suaranya setenang mungkin, bahkan telinganya masih bisa menangkap nada tidak suka di kalimatnya sendiri.

"Ini misi yang cukup rumit, namun kurasa tidak terlalu berbahaya. Hanya saja memang memakan waktu yang lama." jawab Fuubuki. "Akan kuminta Asuka datang menemanimu di rumah."

"Tidak... tidak usah... Nii-san...Aku tidak apa-apa kok. Aku bisa di sini sendirian." tolak Hinata, halus. "Aku sudah cukup banyak merepotkan Asuka nee-san setiap harinya..."

Asuka nee-san. Hinata yakin Asuka tidak akan keberatan kalau harus menjaganya atau bahkan harus tidur menemaninya. Keluarga Asuka sudah seperti menjadi bagian dari keluarga mereka berdua bagi Hinata, karena Fuubuki yang harus bekerja ke Konohagakure membuat Hinata sendirian kalau saja dia tidak dititipkan.

Fuubuki kelihatan tidak terkesan dengan penolakan Hinata. Ia berdiri setelah hitai-ate itu terikat kuat. "Aku tetap akan bicara pada Asuka. Atau aku akan khawatir seminggu penuh dan misiku tidak akan berjalan dengan baik." ujarnya.

Hinata menunduk. "Maaf…." ucapnya pelan.

"Untuk apa?" tanya Fuubuki.

Hinata mengangkat bahunya. "Untuk membuat Nii-san khawatir… Untuk membuat Asuka-nee san kerepotan…"

Hinata bisa mendengar Fuubuki mendesah, sebelum kemudian dengan ibu jari dan jari telunjuknya, Fuubuki memegang dahu Hinata dan mengangkat wajahnya untuk bertatapan langsung dengannya.

"Hinata... berhenti berpikir seperti itu." Fuubuki menegurnya lembut. Namun mata yang dilihat Hinata masih dingin. Sekalipun dia berkata dengan nada yang lunak, mata Fuubuki tidak pernah berubah. "Aku tidak menganggapmu sebagai beban."

"Tapi..." Hinata mencoba berargumen, namun Fuubuki menggeleng, pertanda ia sudah tidak mau membahasnya lebih jauh lagi, membuatnya terpaksa mengatupkan mulutnya.

"Aku akan selalu mengkhawatirkanmu, Hinata." Fuubuki melepaskan tangannya dari wajah Hinata. Sebagai gantinya ia meraih tangan kecilnya dan menggandengnya keluar. "Karena kau adikku, satu-satunya orang yang penting bagiku."

Dia mengatakannya dengan dingin.

Hinata tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia dan Fuubuki berjalan ke depan sebuah rumah berukuran sederhana. Bagian belakang rumah itu nampak seperti rumah biasa, sementara bagian depannya berbentuk sebuah rumah makan kecil. Terlihat kesibukan sudah dimulai di rumah keluarga yang memiliki papan nama bertuliskan 'Kudo' itu.

"Asuka." Fuubuki memanggil. Seorang gadis yang dua tahun lebih muda dari Fuubuki menoleh. Ia langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangannya dengan bersemangat.

"Ah! Fuubuki! Dan Hinata-chan!" sapanya ceria seperti biasanya. Gadis berambut cokelat sepunggung itu langsung setengah berlari menghampiri mereka. "Tidak biasanya kalian datang sepagi ini!"

Fuubuki tersenyum kalem. Namun Hinata memerhatikan, mata langit itu sama sekali tidak berekspresi. "Konoha punya misi S-Class untukku... Aku tidak boleh terlambat." katanya tenang. "Dan... aku harus pergi selama seminggu."

Mata hijau Asuka melebar. "Seminggu? Lagi?" katanya. Hinata bisa mendengar nada suaranya terdengar lebih cemas sekarang. "Apakah ini misi yang berat?"

Fuubuki menggeleng. "Tidak juga. Cuma makan waktu." jawabnya. "Maaf aku sudah sering merepotkanmu. Tapi bisakah kau menjaga Hinata sekali lagi?"

Asuka mengiyakan dengan sangat cepat. "Tentu saja, Fuubuki! Serahkan saja padaku! Aku akan menjaga Hinata! Jadi jangan khawatir ya!" katanya antusias. Ia menatap ke arah Hinata. "Asik ya, Hinata-chan! Aku bisa menginap di rumahmu lagi!"

Mau tak mau Hinata berpikir betapa baiknya gadis yang ada di hadapannya ini. Ia yakin sekalipun Asuka tidak menyimpan perasaan pada kakaknya, gadis itu akan masih bersikap semanis sekarang. Hinata tersenyum kecil membalas antusiasme Asuka.

"Terima kasih, nee-san.." katanya pelan, malu-malu.

Ia mengalihkan pandangannya ke arah kakaknya, yang tersenyum kecil ke arah Asuka, dan menatap gadis itu dalam-dalam sampai rona kemerahan muncul di pipi putih itu. Dengan gerakan yang aneh, Asuke mengalihkan pandangannya dari mata Fuubuki.

Reaksi yang biasa. Fuubuki tidak pernah ke mana-mana di desa kecil ini tanpa Hinata, sehingga Hinata tahu persis bagaiamana reaksi gadis-gadis yang akan merona dan terkikik saat Fuubuki memberi mereka senyum seperti itu.

Hinata sendiri harus mengakui kalau wajah Fuubuki yang sederhana cukup tampan untuk menarik perhatian gadis-gadis. Dan kemampuan Fuubuki untuk menjaga wajahnya tetap tenang dan datar sekalipun saat itu ia sedang tersenyum adalah salah satu daya tariknya.

"Terima kasih." Fuubuki berkata dengan lembut, matanya yang tajam menatap Asuka. "Aku harap aku tidak terlalu merepotkanmu."

"Tidak, sungguh. Ini bukan apa-apa." gumam Asuka, kikuk. Hinata menyadari, beberapa gadis seumuran Asuka melempar pandangan mencemooh saat mereka melewati Asuka.

Tepat saat itu, Ran, ibu Asuka yang masih cukup muda, keluar dari rumahnya. Seperti Asuka, ia langsung tersenyum begitu melihat Fuubuki dan Hinata ada di sana.

"Aaa.." katanya lembut. Ia memang begitu tenang, sehingga Hinata langsung tahu bahwa keceriaan Asuka diwarisi dari ayah Asuka yang seorang nelayan. "Pagi sekali hari ini ya. Fuubuki-san, Hinata-chan, aku sudah selesai memasak sarapan. Bagaimana kalau kita ke dalam dan makan bersama?"

"Aku tidak bisa." Fuubuki menjawab sopan. "Aku benar-benar harus segera pergi sekarang. Terima kasih atas tawarannya, Ran-san."

Ran mengernyit. "Terburu-buru sekali."

"S-Class. Satu minggu." Hinata melihat Fuubuki tersenyum lagi. "Aku harus meminjam Asuka untuk menemani Hinata... Kalau Ran-san tidak keberatan."

Ran tertawa. "Tentu saja aku tidak keberatan! Beritahu aku kalau Asuka keberatan, akan kumarahi dia!" Ia tidak mengindahkan protes Asuka yang berkata kalau tidak mungkin dia akan menolak. "Kau dan Hinata-chan sudah seperti anakku sendiri, kau tahu itu kan? Pergilah bekerja dengan tenang! Hinata akan aman di sini bersama kami."

"Terima kasih, Ran-san." Suara Ran yang begitu tulus membuat Fuubuki terdengar sedikit agak manusiawi dibandingkan pagi lainnya. Ia menoleh ke arah Hinata. "Hinata, kau juga ya, ucapkan terima kasih pada Ran-san."

Hinata mengangguk. Sekilas ia memandang ke arah wajah cantik itu dan berkata pelan, sekalipun ia tidak pernah memandang Ran. "Te-terima kasih... Ran-san..." katanya malu-malu.

Ran tertawa lagi. "Jangan sungkan Hinata-chan." ujarnya baik hati. Hinata tersenyum kecil, menghargai kehangatan keluarga itu padanya. Kemudian ia mendongak, memandang ke arah Fuubuki yang kembali bicara dengan Asuka.

Dadanya sesak mengingat seminggu ini dia tidak akan melihat Fuubuki. Ia tidak suka memikirkan Fuubuki mengikuti misi-misi yang berbahaya. Sekeras apapun Hinata mencoba untuk bersikap biasa, ia merasa rapuh.

Yah, harusnya dia sudah terbiasa dengan kepergian Fuubuki. Bukan hanya kali ini saja Fuubuki meninggalkannya untuk bekerja selama lebih dari tiga hari. Namun ia selalu saja merasakan perasaan kehilangan berulang kali. Dan kali ini, perasaannya semakin menguat, membuatnya resah.

"Ada apa, Hinata-chan?" Suara Ran menyadarkannya dari pikiran buruknya.

Hinata bisa merasakan pandangan Fuubuki, dan memutuskan untuk berhenti mengeluh. Ia tersenyum, sekalipun tidak yakin bagaimana senyumnya yang dilakukannya dengan setengah hati itu terlihat. Hinata berusaha terlihat seperti biasa.

Namun Hinata punya kesan kalau Fuubuki tidak bisa ditipu semudah itu. Menurutnya, Fuubuki bisa saja membaca hatinya tanpa kesulitan. Seperti saat ini, Fuubuki memandangnya, namun ia terlihat seperti melihat menembus Hinata.

Hanya saja, Fuubuki selalu bersikap seakan dia tidak tahu apa yang ada di pikiran Hinata.

Dugaan Hinata benar. Fuubuki hanya melemparkan senyum kecil padanya, sebelum kemudian ia melangkah pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.

Hinata menghela napas. Asuka menepuk bahunya. "Jangan khawatir, dia akan segera pulang kok!" kata Asuka, gagal menangkap apa sumber kegelisahan Hinata. Berbeda dengan Ran yang diam saja. Hinata tahu mungkin saja Ran mengerti. Ia pernah baca bahwa seorang ibu tahu segalanya.

Wanita muda itu melangkah mendekati meja terdekat dan meraih bungkusan berukuran sedang, dan menyodorkannya pada Hinata. "Hinata-chan. Fuubuki lupa membawa ini." katanya tenang sambil memberikan senyuman yang bisa Hinata artikan. "Kenapa kau tidak mengejarnya?"

Hinata menerima bungkusan itu, dan terpana melihat isinya. Onigiri. Masih hangat, sehingga Hinata masih bisa mencium aroma hangat yang menguar. Dua diantaranya berisi ikan, dua lainnya dilapisi nori, dan kedua sisanya berisi umeboshi.

Hinata menggeleng. "Aku... tidak diperbolehkan mengantarnya sampai di gerbang..." jawab Hinata, pelan. "Nii-san akan sangat marah padaku."

"Yah, kau kan punya alasan." kata Ran. "Lagipula ia bisa sakit kalau lupa sarapan, iya kan?"

Hinata berpikir sedikit lagi, sebelum kemudian memutuskan untuk mengejar Nii-san-nya itu. Sementara ia berlari, Hinata tahu Fuubuki akan marah padanya. Dan suasana buruk pagi ini akan memperparah kemarahannya. Dan Hinata biasanya tidak akan pernah berani mengejar Fuubuki sampai ke depan gerbang desa.

Hanya pagi ini saja yang berbeda. Mendadak saja Hinata ingin mengantarkan Fuubuki sampai ke depan gerbang desa. Sebelumnya, topik Gerbang Desa antara mereka berdua adalah topik yang paling tidak suka dimunculkan. Fuubuki melakukan apa saja untuk menjauhkan Hinata dari sana, terutama setiap kali Fuubuki hendak berangkat bekerja.

Dan Hinata tak punya alasan untuk menolak. Sekalipun ia heran kenapa Fuubuki selalu bersikeras memaksanya untuk tidak mendekati gerbang desa.

Menyadari pertengkaran yang bisa saja dipicunya, debaran di jantung Hinata bertambah. Namun dia sudah tidak mungkin kembali sekarang.

"Nii-san!" Hinata melihat sosok yang sangat dikenalinya itu berdiri membelakanginya. Fuubuki menoleh, dan Hinata tidak terlalu terkejut melihat Fuubuki begitu kaget, disusul dengan ekspresi marah.

"Hinata!" Ia nyaris saja membentak, Hinata yakin Fuubuki sudah cukup menahan dirinya. "Kenapa kau ada di sini?! Sudah kuberitahu kan, kalau kau tidak boleh ke sini!"

Hinata agak tergagap ketika ia bicara. "A-aku... mengantarkan bekal..." jawabnya takut.

Oke, Hinata sudah menduga akan ada kemarahan. Namun sebelum ini, belum pernah Hinata melihat Fuubuki semarah sekarang.

Fuubuki memandang kertas itu sekilas sebelum beralih kembali pada Hinata. Tatapannya yang tajam membuat Hinata tidak berani berkata apa-apa lagi.

"Hinata." Nadanya sangat dingin, dan langsung membuat Hinata sakit hati. "Jangan pernah mengulangi ini. Oke?"

"Kenapa Nii-san?" Akhirnya Hinata membuka mulutnya. "Kenapa semarah ini?"

"Kau melanggar perintahku, Hinata! Itu kesalahanmu!" bentak Fuubuki.

"Tapi Nii-san tidak pernah menjelaskan kenapa Nii-san melarangku kemari. Aku jadi tidak mengerti." Hinata berusaha menelan hilang getaran di suaranya. Ia sama sekali tidak berniat menangis, namun bentakan Fuubuki membuat air mata tahu-tahu sudah menggenang di pelupuk matanya. Ia pura-pura tidak tahu, berusaha keras menahan agar air matanya tidak jatuh supaya Fuubuki tidak sadar ia sudah menangis, tapi ia tahu itu percuma.

Fuubuki terdiam melihat air mata Hinata. Ia mengalihkan pandangannya ke tanah dan menggumam. "Maaf." Dengan perlahan ia meraih bungkusan di tangan Hinata. "Terima kasih. Maaf aku lupa. Lebih baik cepat kau pulang. Jangan dekati gerbang lagi, ya Hinata?" Suara Fuubuki kali ini dipaksakan untuk tenang.

Hinata tersenyum sedih. Bibir bawahnya bergetar. Ia sudah bicara sebelum ia berhasil mencegah dirinya sendiri, "Apakah Nii-san benci padaku?"

Wajah Fuubuki memucat. Samar, tapi Hinata bisa melihatnya. Ia langsung merasa bersalah, sadar ia telah menyakiti perasaan kakaknya. "Tidak. Tentu saja tidak. Bukan begitu Hinata. Maafkan aku." Fuubuki berlutut di hadapan Hinata sehingga tinggi mereka sejajar, sebelum kemudian ia mengulurkan tangannya dan memeluk Hinata. Samar-samar, Hinata mengenali bau sabun yang dipakai Fuubuki ketika ia sengaja membenamkan wajahnya di dada kakaknya.

"Maaf. Aku hanya tidak ingin kau mendekati gerbang, itu saja Hinata. Demi keselamatanmu, aku tidak mau kau ada di sini. Aku hanya ingin melindungimu." bisik Fuubuki.

Hinata mengangguk pelan. Ia berusaha memasukkan sebanyak mungkin kehangatan pelukan Fuubuki ke dalam ingatannya. "Aku juga minta maaf."

Setelah beberapa saat, Fuubuki melepaskan pelukannya. Mereka berpandangan.

"Baiklah." Fuubuki bangkit berdiri. "Aku pergi dulu." Ia menepuk-nepuk kepala Hinata seperti yang bisa ia lakukan. Dan setelah sekali lagi melemparkan pandangan yang memintanya untuk segera pergi dari situ, Fuubuki menghilang di antara rerimbunan pepohonan lebat di depan jalan masuk desa.

Hinata memandang nanar ke jalan setapak berbatu yang terbentang di depannya. Berpikir apa alasannya kenapa ia sampai tidak bisa di sini barang sedetik-pun juga. Tapi ekspresi wajah Fuubuki tadi membuatnya segera melupakan keinginan untuk mencari tahu kenapa dia tidak diperbolehkan berada di situ, dan bergegas pergi.

Kenapa ia bisa-bisanya meragukan kasih sayang Fuubuki padanya?


"Hinata-chan, kenapa kau tidak bermain keluar?" Ran datang dari dalam rumah. Hinata terlonjak, kaget dengan kehadirannya.

"Oh, tidak, Ran-san." jawabnya pelan sambil tersenyum malu-malu. "Aku tidak main.."

"Mana Ryo? Biasanya dia akan memaksamu sampai kau mau bermain dengannya?" ujar Ran sambil duduk di bangku sebelah Hinata, dan tersenyum lembut padanya.

Hinata menggeleng. "Aku..." Ia tidak bisa menemukan jawaban yang tepat.

"Aaa. Aku tahu kejadiannya dari Asuka. Ryo mungkin sudah mengatakan sesuatu yang membuatmu gelisah." Ran menebak dengan benar, dan ia kelihatan puas ketika wajah Hinata terasa panas, yang memberitahunya wajahnya sedang memerah saat ini.

"Kau marah padanya?" Ran bertanya lagi.

Hinata menggeleng enggan. "Tidak, Ran-san. Aku... hanya gelisah. Nii-san belum pulang juga, padahal sudah lewat seminggu satu hari." jawab Hinata. "Dan kata-kata Ryo memang... agak membuat tidak tenang."

"Saat dia berkata Fuubuki tidak menyayangimu?" Lagi-lagi Ran menerka dengan tepat. Hinata mengangguk lamat-lamat.

"Aku hanya berpikir... Dia satu-satunya keluargaku. Bagaimana kalau aku dibencinya?" Hinata tersadar suaranya bergetar dan merasa agak konyol karena ia terlalu sentimentil. Ia memperbaiki nada suaranya. "Aku sangat sayang padanya Ran-san. Dia kakakku satu-satunya."

"Tentu saja aku mengerti Hinata-chan." Ran diam sejenak sebelum meneruskan. "Kau tahu, waktu Fuubuki datang ke desa ini adalah malam sehabis hujan. Dia kebasahan, jelas sekali dia habis kehujanan. Dia berada di rumah Ketua Desa, menggigil di ruang tamunya, sementara tangannya dengan erat menggendong seseorang yang sama sekali kering dan nyaman karena dia membawanya dengan selimut yang tebal."

Hati Hinata berdesir pelan.

"Itu kau Hinata-chan." Ran tersenyum lembut, dan wajahnya yang sudah tidak muda bersinar cantik. "Aku berpikir. Tujuh belas tahun. Anak itu cuma berbeda dua tahun dengan Asuka. Namun dia sudah bisa bertanggung jawab atasmu. Dia benar-benar menjagamu untuk tetap kering dan hangat. Belum pernah aku melihat anak seusianya berusaha keras merawat adiknya seperti Fuubuki."

Hinata melempar pandangannya ke arah lain. Ya, ia tahu itu. Semua gadis-gadis terkesan dengan cara Fuubuki membesarkannya, dan bukan hal baru bagi Hinata, mendengar usaha keras kakaknya dalam merawatnya. Mungkin justru itulah yang membuat Hinata bisa bersabar menunggu kakaknya. Tapi..

"Tapi... sikap Nii-san kadang membuatku bingung. Kadang dia terlihat sangat sayang padaku. Kadang ia kelihatan seperti orang asing..." Hinata berkata lamat-lamat setelah jeda panjang yang dibuatnya.

Ran menghela napas. Ada sedikit rasa iba di matanya. "Yah, kau tahu Hinata-chan. Kadang semuanya tak berjalan dengan baik. Bisa kukatakan kalau Fuubuki terkadang agak terlalu memaksakan diri. Dan saat ia kelelahan dan tertekan, ia tidak biasa menunjukannya pada orang lain, mungkin dia memendamnya sendiri."

"Yang membuat matanya selalu dingin sekalipun ia sedang tersenyum..." Hinata bergumam tanpa sadar. "Ya.."

"Dan kau mungkin masih terlalu kecil untuk melihat keluargamu dibunuh," Ran berkata dengan nada meminta maaf. "Aku rasa sesuatu telah terjadi pada Fuubuki. Dia melihat semuanya, dan mungkin itu menghantuinya sampai sekarang."

Keluarganya. Ayah dan ibunya. Hinata tidak terlalu sering membicarakan hal itu, Fuubuki jarang menyebut-nyebut soal keluarga mereka. Jawaban yang diterimanya waktu ia bertanya hanyalah kalau keluarga mereka terbunuh. Itu saja.

Sulit bersedih untuk kematian seseorang yang nyaris tidak pernah kau kenali seumur hidupmu, sekalipun itu adalah orang tuamu. Hinata sedih, tentu, tapi hatinya justru lebih sakit saat melihat Fuubuki yang nampak limbung kalau mereka membicarakan orang tua mereka. Hinata jadi tidak berani bertanya banyak-banyak.

Ia tersentak ketika Ran memegang kedua tangannya dan meremasnya dengan lembut. Ia memandangi Ran, berpikir kalau mungkin, ini rasanya punya ibu.

"Hinata-chan, sekalipun Fuubuki selalu saja bersikap datar, namun aku yakin dia sangat menyayangimu." Ran berkata dengan sungguh-sungguh. "Dia selalu berusaha untukmu. Sekalipun ia tidak ramah dan selalu memasang senyum palsu, aku tidak membencinya. Karena dia pasti punya sesuatu yang membebaninya. Dan aku juga tahu dia sangat baik hati hanya dengan melihatmu."

Hinata mengernyit. Bagaimana caranya? Ia memutuskan tidak sopan kalau ia bertanya. Namun toh Ran kemudian berkata.

"Lihat Hinata-chan, kau tumbuh menjadi anak yang sangat sehat dan baik hati. Itu pertanda kalau dia sudah membesarkanmu dengan baik."

Hinata tersenyum. Kata-kata Ran membuatnya bersemangat, sekalipun ia sama sekali tidak tahu kebenarannya. Namun bayangan kakaknya yang selalu berusaha untuknya membuat Hinata paling tidak sedikit merasa lega.

"Ano... Hinata-chan."

Hinata menoleh ke arah bocah kurus yang hanya memakai kaus dalam dan celana pendek yang sudah agak kusam. Celana itu kotor kena tanah dan lumpur, jadinya terlihat semakin menyedihkan. Kaus putihnya juga ternoda sana-sini, begitu juga lengan dan wajahnya. Hinata mengamati lumpur kering yang mengotori pipi sahabatnya itu, berpikir apa yang baru saja Ryo lakukan.

"Ryo? Kau habis dari mana? Kenapa kotor begitu?" Ran yang berbicara dengan nada tidak setuju. "Akan kuambilkan handuk dan baju ganti. Tunggu di sini ya." Wanita itu berdiri dan masuk ke dalam rumah.

"Hinata-chan..." Ryo menarik kedua tangannya yang sedari tadi ia sembunyikan di balik punggungnya, dan Hinata terpana melihat apa yang dia bawa. Seikat bunga favoritnya, yang tumbuh di dekat rawa di belakang desa. Sekarang tahulah ia bagaimana Ryo mendapatkan semua tanah dan lumpur itu.

Ryo menyodorkan bunga itu. "Ini. Kuharap kau suka. Maafkan aku karena aku mengejek Fuubuki. Aku... hanya kesal. Kau tidak terlalu senang bermain kalau Fuubuki pergi lama." katanya dengan mata yang memandang ke jari-jari kakinya yang cuma mengenakan sandal yang hampir lepas.

Hinata masih terdiam sebentar, masih mengamati Ryo dengan saksama, melihat goresan-goresan kecil di kaki dan lengannya. Ia kemudian mengulurkan tangannya dan mengambil bunga itu dari tangan Ryo.

"Terima kasih.." kata Hinata sambil tersenyum. Ia yakin kalau saja ia tidak mengatakan apa-apa dalam jangka waktu lima menit saja, Ryo akan jatuh saking tegangnya. "Setelah membersihkan dirimu, bagaimana kalau kita menyiapkan makan malam bersama, seperti kemarin?"

Senyum girang yang merekah di wajah Ryo membuat perasaan Hinata semakin membaik. Ia menahan tawanya saat dengan bersemangat, Ryo merebut handuk yang ada di tangan Ran dan langsung berlari riang ke kamar mandi belakang.

Ran memandang ke arah Hinata. "Apa yang kau katakan padanya, Hinata-chan?"

Hinata menggeleng, tersenyum kecil. "Bukan apa-apa."


Malam itu, lagi-lagi Hinata tidak bisa tidur. Ia gelisah di dalam futonnya, bergerak kanan kiri, berganti posisi setiap tiga menit sekali. Hujan begitu deras di luar, begitu keras suaranya sampai seolah-olah atap rumahnya akan rubuh, tapi Hinata merasa kepanasan. Kalau selimutnya dibuka ia kedinginan, kalau tidak ia kepanasan. Serba salah. Hinata mengernyit, kesal kepada dirinya sendiri. Di sampingnya, Asuka tidur nyenyak, bernapas dengan suara halus.

Akhirnya Hinata menyerah. Ia membuka selimutnya dan keluar dari dalam futon sambil mengipas-ngipas lehernya dengan satu tangan. Kulitnya lembab oleh keringat dan hujan. Rasanya ia ingin melepas kimononya, yang mungkin saja sudah dia lakukan kalau Asuka tidak ada di situ. Pengap. Karena tidak tahan, ia berjalan ke arah pintu shoji yang menghadap ke arah taman dan membukanya sedikit, membiarkan sedikit hawa dingin di luar masuk ke dalam. Hujan di luar deras, namun tanpa angin, sehingga rintiknya turun lurus menghujam bumi. Begitu tebal sampai-sampai ia tidak bisa melihat apapun di dalam kegelapan taman belakang rumahnya.

Beberapa saat melihat hujan membuat kantuknya kembali. Hinata memandangi taman belakang rumahnya dengan pandangan kosong karena mengantuk… sampai ia melihat sesuatu tergeletak di tanah. Bukan. Seseorang. Jantungnya langsung berdegup keras. Ia memicingkan mata, tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Jari-jarinya gemetaran, melekat erat di pinggiran pintu shoji.

"Nii-san…?"

Baru setelah ia bilang begitu, Hinata sadar dan yakin bahwa yang ia lihat adalah Fuubuki, tersungkur dengan wajah menghadap tanah di taman rumah mereka sendiri. Bahu Hinata tersentak ke belakang, seolah-olah ada tangan-tangan tidak kelihatan yang memukul dan mendorongnya ke belakang. Ia langsung meluncur turun dari beranda. Kakinya mendarat ke lumpur basah, menghamburkan percikan lumpur yang mengotori kimono dan wajahnya. Saat ia berlari ke arah Fuubuki, Hinata nyaris jatuh beberapa kali.

"Nii-san!" Ketika ia berhasil meraih Fuubuki, Hinata langsung sadar betapa dingin tubuh kakaknya itu. Seperti es. Tubuhnya sendiri terasa seperti disengat listrik ketika terlintas di pikirannya bahwa kakaknya sudah mati. Sudah berapa lama ia terbaring di sini? Ada darah dan luka-luka yang baru akan dilihatnya nanti. Hinata hampir menjerit, bahkan sudah mulai menangis, namun ia menggigit bibirnya keras dan memegang erat pergelangan tangan kakaknya.

Ada denyut nadi, lemah berdetak di bawah tangannya. Dia tahu apa artinya ini. Tubuh Hinata melemas seketika. Kakaknya masih hidup.

Di tahun-tahun berikutnya, setiap ia pergi ke kuil, Hinata akan terus berterima kasih kepada para dewa untuk satu momen ini, bahkan sampai ia beranjak dewasa.

Ia tak bisa lagi menahan isak tangisnya. Dengan masih menggengam erat pergelangan tangan Fuubuki, Hinata menoleh ke arah rumahnya dan menjerit sekuat tenaga, "ASUKA NEE! TOLONG!"

Suaranya yang bercampur tangis nyaris kalah dengan derasnya hujan. Namun tak lama kemudian, Asuka muncul di pintu. Awalnya ia tidak melihat apa yang terjadi, tidak menyadari. Namun kedua matanya cepat melebar dan tangannya melayang ke atas untuk menyekap mulutnya.

"Ya Tuhan, Fuubuki…!"