A/N : Hai, Minna
Mau balas review dulu deh..
@Aizawa Afifa : Nih.. udah di next kok, btw arigatou ya udh baca dan review. Yaa, aku pribadi juga berharap NejiTen gak dipisahin kok ;)
@liepah : Iyaa yaa tega bgt Masashi-san T_T #plaakk.. eh tapi perpisahan mereka jadi semakin menguatkan cerita lho.. Sankyu yaa udh baca dan review ;)
@Aaii-Chann : Iyaa deh, akan diusahakan supaya NejiTen gak berpisah. Makasi lho udah baca dan review :)
Terimakasih juga utk silent readers walaupun gak meninggalkan jejak :D
Setidaknya, ada yang mau baca ajah udah senang.
Adakah pecinta NejiTen disini? Kalau ada acungkan jempol!! :D
Ehh gak ding, gak bakal bisa ngeliat juga kalaupun ngacungin jempol, nah cara utk buktiin sebagai NejiTen lovers cukup dengan...
RnR
#Sankyu ;)
•
•
Disclaimer : Naruto@Masashi Kishimoto
Title/Story : Kimi to Boku/ @Komagata Haniko
Pairing : NejiTen (slight NejiHina, KibaTen, SasuSaku)
Genre : Drama, Romance, Angst, Hurt, AU
Warning!! Tidak bermaksud untuk bashing chara, OOC, Typo
*Happy Reading*
Chapter 2
"Tousan, aku berubah pikiran. Saat ini aku sudah memilih dan memutuskannya. Tolong Tousan, nikahkan aku dengan Neji-Nii secepatnya!"
Hiashi menatap lekat puteri sulungnya. Wajah Hinata menyiratkan kesungguhan hatinya, tatapan matanya tegas tak terbantahkan khas Hyuuga.
Hiashi lalu menghampiri Hinata, menariknya ke sebuah sofa di sudut ruangan. Hiashi tampak begitu sabar menghadapi puterinya yang mewarisi watak ibunya yang keras kepala.
"Hinata, Tousan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kau tiba-tiba meminta Tousan untuk menikahkanmu dengan Neji. Tapi, semua tidak bisa terjadi semudah itu, nak. Tidak semua hal yang kau inginkan dapat terwujud."
"Tsk.." Hinata memutar bola matanya. " Tousan, bukankah Tousan sendiri yang menginginkan aku untuk menikah dengan Neji-Nii? Lalu kenapa sekarang Tousan malah berkata seperti itu?"
"Jangan lupakan kalau kau sudah menolak Neji ketika Tousan mengusulkan tentang pernikahan kalian."
" Ya.. Saat itu aku hanya merasa belum siap. Dan sekarang aku menginginkannya."
" Neji bukan mainanmu, Hinata! Neji juga punya perasaan. Neji sudah menelan kenyataam pahit ketika kau menolaknya. Dan sekarang kau seenaknya saja menginginkannya kembali?" Hiashi menatap Hinata dengan tatapan tidak setuju. Hinata menjadi gusar.
"Tousan, apa salahnya untuk memanggil Neji-Nii dan mengatakan kalau aku sudah bersedia untuk menikah?! Aku yakin Neji-Nii bahagia dan akan menerimanya." Hinata berkata asal, walaupun dalam hati menyadari kalau kemungkinan hal itu kini hampir tidak ada. Hinata kembali mengingat potret wajah manis seorang perempuan berambut coklat yang tengah tersenyum riang. Hinata mendengus sebal.
"Tidak, Hinata. Yang Tousan ketahui, Neji sudah memiliki calon pendamping."
Dan jawaban Hiashi sukses membuat sekujur tubuh Hinata seperti tersiram seember penuh air es.
'Bagaimana mungkin Tousan mengetahui hal itu?'
"Aku tidak peduli, Tousan!" Ego Hinata bergejolak, mengalahkan nuraninya. Hati kecilnya menyadari bahwa apa yang diinginkannya saat ini adalah salah. Namun rasa ketakutannya akan kehilangan Neji membuat Hinata menggelapkan kata hatinya.
"Tousan sayang padaku 'kan?" Hinata mulai melirih dengan mata berkaca-kaca. Hiashi menahan nafas. Hinata adalah seorang wanita yang manis dan lembut, apabila dia sampai bersikap seperti ini itu artinya dia sangat menginginkan hal itu.
"Hinata.. kau tahu jelas bagaimana Tousan sangat menyanyangimu, nak." Hiashi mengelus kepala puterinya.
"Kalau begita aku mohon Tousan.. Tolong katakan pada Neji-Nii kalau aku telah bersedia menikah dengannya. Apapun jawabannya nanti, aku berjanji.. aku akan menerimanya. "
Hiashi tampak diam berpikir, pada akhirnya ayah Hinata itupun menghela napas kemudian mengangguk menyanggupi permintaan puterinya.
"Baiklah. Tousan akan bicara pada Neji."
"Hontou??" Hinata langsung tersenyum riang. Sekali lagi Hiashi menganggukan kepalanya. Hinata langsung memeluk ayahnya.
"Arigatou ne, Otousan."
•
•
~000~
•
•
Tenten melihat kalender yang terpajang di dinding kamarnya. Sudah dua bulan dirinya dan Neji berpisah, hal itu membuat rasa rindu seperti menggelegar menyiksa bathinnya.
Perempuan bersurai coklat itu kemudian mengirimkan sebuah pesan kepada Neji. Hanya berbasa-basi. Namun tampaknya Neji sedang sibuk karena waktu untuk membalas pesan Tenten terbilang lama. Namun Tenten tidak ingin mengeluh, dirinya sendiri sejak awal sudah menerima konsekuensi dari hubungannya. Jadi yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu Neji dan bersabar.
"Pada akhirnya, apapun yang diyakini dan dijalani dengan hati tulus pasti akan berakhir baik." Tenten meyakinkan dirinya sendiri.
Perempuan itu lalu menyisir rambut cokelat gelapnya, membentuk dua cepolan yang membuatnya terlihat semakin manis.
Sambil bersenandung ringan Tenten berjalan riang ke arah cafe yang di kelolanya. Cafe warisan keluarga yang terletak di depan rumahnya.
Beberapa pelayannya tampak sudah rapi dan berberes. Ada yang menyapu, mengelap meja dan kaca, mencuci piring dan menyiapkan bahan-bahan untuk menu yang dihidangkan.
"Ohayou Minna.." Sapa Tenten riang.
"Ohayou Tenten-San.." Balas mereka kompak.
Tenten kemudian menuju ruang kerjanya, menyalakan komputernya. Perempuan itu mulai tenggelam dalam pekerjaannya, mengecek keuangan dari pengeluaran dan pemasukan, lalu mensearching di google tentang beberapa resep hidangan baru. Tenten selalu rajin memperbaharui setiap menu andalan cafe nya sehingga para pelanggan tidak merasa bosan.
Waktu pun berlalu tanpa Tenten sadari, begitu asyik bergelut dengan komputernya.
'Ting..'
Terdengar suara bell pelanggan. Tenten mengintip dari balik kaca jendela ruangannya. Rupanya itu Kiba. Pria itu tampak keren dengan kaus tipis berwarna cokelat gelap dan dilapisi jaket berwarna hitam. Kiba memakai celana olahraga pendek dan sepatu kets putih. Keringat tampak membasahi dahi dan wajah tampannya. Pemandangan yang menggoda bagi kaum hawa. Rupanya pria itu baru saja pulang dari berjoging lalu mampir untuk sarapan.
Tenten tersenyum dalam hati mengingat dirinya pernah jatuh cinta pada Kiba. Bahkan sempat berpikir kalau Kiba adalah cinta sejatinya. Namun sekarang semua itu telah menjadi masa lalu. Sudah ada Neji yang berhasil menggeser posisi Kiba. Dan tampaknya Neji sudah menyegel tempat itu sehingga tempatnya tidak akan bisa terisi lagi oleh pria lainnya.
Tenten memutuskan untuk keluar dan menemui Kiba. Pria bersurai coklat jabrik itu langsung tersenyum lebar ketika Tenten muncul dan duduk di hadapannya.
"Kau sengaja mau menarik perhatian para wanita dengan penampilan menggodamu ya?" Sindir Tenten membuat Kiba menaikan sebelah alisnya. Tenten tidak sadar bahwa dirinya malah memuji Kiba.
"Jadi menurutmu aku menggoda eh?" Kiba menatap Tenten sambil tersenyum menggoda. Tenten langsung menyesali ucapannya barusan.
"Lupakan!" Dengusnya kemudian. Baru saja Tenten akan beranjak, Kiba langsung menahannya dengan menarik sebelah tangan Tenten.
"Kau mau kemana Tenten?"
"Tentu saja bekerja. Kau pikir aku mau membuang waktuku percuma dengan menemanimu sarapan? Baka!"
Di luar dugaan, Kiba malah menarik tangan Tenten, membuat perempuan itu kembali jatuh terduduk.
"Apa-apaam kau Ki-"
"Temani aku, please..!" Tatapan memelas Kiba membuat Tenten tak dapat menolak.
"Huh.. Baiklah." Kiba tersenyum lebar.
Kiba tidak mempedulikan tatapan memuja dari pelanggan-pelanggan wanita yang ada di sekitarnya. Di matanya hanya ada Tenten saat ini, bahkan hampir setiap saat.
Kiba merasa panah cupid sedang bermain-main di hatinya ketika melihat wajah Tenten merona dan tersenyum lembut sambil memainkan Handphone nya.
Tenten harus menggigit bagian dalam rongga mulutnya untuk menahan senyumannya. Dirinya tidak mau disangka sinting karena senyam-senyum sambil melihat ke layar handphonenya. Apa lagi saat ini ada Kiba yang duduk di hadapannya, dan pria itu tidak akan sungkan untuk mengejeknya apabila melihat wajah bodohnya saat ini.
Bukan tanpa alasan Tenten tersenyum-senyum sambil memainkan handphone kesayangannya. Perempuan itu sedang saling berkirim pesan dengan kekasihnya.
09:05
Aku merindukanmu.
-Neji
09:07
Aku juga, Neji. Cepatlah kembali ke Konoha!
-Tenten
09:11
Sabar nona, aku sedang berjuang untuk masa depan kita.
-Neji
09:12
Baiklah, aku akan selalu menunggumu. Kau jaga diri baik-baik yaa!
-Tenten
09:13
Ya Sayang. Aku akan menghubungimu lagi nanti. Paman Hiashi memanggilku. Love u
-Neji
09:14
Ya sayang. Love you too.
-Tenten
Tenten kemudian memasukan handphone tersebut ke dalam saku kemejanya. Matanya kemudian menyadari tatapan mata Kiba yang tertuju ke arahnya. Cara Kiba melihatnya mau tak mau membuat Tenten merona.
"A-apa sih Kiba?" Tenten memalingkan wajahnya ke arah lain karena merasa risih.
Kiba tersenyum. Kali ini bukan senyuman jahil atau menggoda. Namun benar-benar senyuman yang tulus.
"Kau terlihat sangat cantik, Tenten. Aku sangat suka."
Deg!
Tenten seketika menahan nafas. Kiba masih menatapnya sambil tersenyum lembut.
"Hahaha apa-apaan sih Kiba. Kau mau menggodaku ya?" Tenten tertawa garing, mencoba untuk tidak mempedulikan kata-kata Kiba barusan.
'Suka katanya? Suka pada apa? Kiba ini membuatku malu saja.' Bathin Tenten
•
•
~000~
•
•
"Paman Hiashi memanggilku?" Neji memasuki ruangan kerja pamannya. Di sudut ruangannya terlihat Hinata yang sedang duduk dengan anggunnya. Keduanya saling melemparkan senyuman.
Dalam hati Neji merasa lega karena Hinata baik-baik saja, semenjak insiden kemarin ketika Hinata berlari dan menangis dari dalam kamarnya, mereka belum sempat bertemu. Walaupun merasa cemas, namun Neji tidak mau memaksa menemui Hinata.
"Ya, Neji. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Neji sedikit berdebar melihat wajah serius pamannya. Namun pria itu mencoba bersikap setenang mungkin.
"Tentang apa paman?"
"Neji, selama ini aku sudah menganggapmu seperti putera kandungku sendiri. Kau tahu itu 'kan?"
"Tentu saja paman. Dan aku sangat berterimakasih pada paman, Hinata, dan juga Hanabi karena sudah menerimaku dalam keluarga kalian." Neji melirik Hinata lalu bergantian melihat ke arah Hiashi yang masih dengan wajah seriusnya.
"Kau tidak perlu seformal ini, nak." Hiashi memegang kedua pundak keponakannnya itu, menatap lurus pada sepasang mata lavender milik Neji.
"Neji, bolehkah pamanmu ini meminta sesuatu darimu?"
"Katakan Paman! Apa yang bisa aku lakukan untuk paman?"
Hiashi melirik Hinata. Perempuan itu juga kini sudah melangkah dan berdiri di belakang Neji.
"Neji, menikahlah dengan Hinata!"
•
•
~000~
•
•
Kiba mendengus geli melihat wajah Tenten yang merona.
" Nah 'kan kau ini benar-benar menyebalkan! Kau sengaja ya mau menggodaku?!" Tenten menggembungkan pipinya kesal.
Kiba masih terkikik geli ketika Sasuke dan Sakura terlihat memasuki cafe Tenten kemudian ikut bergabung dengan mereka.
Sasuke mengerutkan keningnya melihat Kiba yang tertawa lucu sedangkan Tenten tampak merajuk.
"Huh.. Kiba, berhentilah menggoda Tenten!" Omel Sakura sembari mendudukan dirinya di samping Tenten. Sasuke mengikutinya dengan duduk di samping Kiba yang sudah mulai berhenti tertawa.
"Hahaha.. aku hanya merasa geli melihat Tenten tersipu malu seperti itu."
"Baka! Aku tidak tersipu malu. Aku hanya kaget dengan ucapan norakmu itu tahu!" Elak Tenten yang tidak terima dengan pernyataan Kiba.
"Kau masih mau mengelak ya? Hahahaha.."
Blettaakk!
Sebuah benjolan langsung muncul di jidat Kiba. Jitakan Tenten sukses membuatnya bungkam dan kini merengut sebal.
Sasuke tampak menyeringai, sementara Sakura sudah terkikik geli.
Tenten menarik nafas lega.
"Rasakan! Siapa suruh kau menggodaku terus dari tadi." Kata Tenten pada Kiba.
"Ittai na., Kau kejam sekali pada pelangganmu sendiri, Tenten!" Rajuk Kiba. Tenten hanya memeleletkan lidahnya jahil.
"Kalian mau pesan apa Sakura, Sasuke?"
"Ah ya, aku mau..."
•
•
~000~
•
•
Neji menatap foto Tenten dengan sendu. Dirinya tidak bisa mendustai hatinya yang terus menjeritkan nama Tenten, dia sangat merindukan perempuan itu.
"Tenten.. aku berharap kau ada disini.."
Neji mengusap wajahnya kasar. Percakapannya dengan Hiashi minggu lalu masih saja mengganggu pikirannya.
Tiba-tiba saja sekarang Hinata menyatakan ingin menikah dengannya setelah beberapa kali dirinya di tolak.
Besok adalah batas waktu yang diberikan oleh Hiashi pada Neji untuk menjawab perihal rencana pernikahannya dengan Hinata.
Tentu saja hal itu sangat membebani pikiran Neji. Saat ini satu-satunya wanita yang ingin dinikahinya hanyalah Tenten. Namun Neji juga tidak dapat memungkiri kalau dirinya tidak bisa mengabaikan Hinata dan permintaan Hiashi.
Hatinya pun kini semakin resah, setelah seminggu tersiksa karena hal ini, ternyata hari inipun Neji belum bisa mengambil keputusan yang paling bijak menurutnya.
Jika saja dulu Hinata menerimanya. Jika saja Tenten tidak pernah ada di kehidupannya. Jika saja dirinya tidak pergi ke Konoha-ah.. tapi Neji tahu ini bukan lah salahnya karena bertemu dan akhirnya jatuh cinta dengan Tenten, cinta itu adalah rasa yang berada di luar kuasanya. Bukan dirinya yang meminta, namun hatinya.
Senyuman teduh dalam potret Tenten membuat Neji semakin nelangsa. Hati dan pikirannya mulai beradu.
Dia mencintai Tenten. Namun dia juga harus membalas hutang budinya kepada keluarga Hinata.
"Aku harus bagaimana, kamisama?"
Neji terus mengerang frustasi.
Sementara itu dari kota yang berbeda, nampak Tenten yang juga sedang menatap foto Neji di tangannya. Tatapan perempuan itu dipenuhi oleh rasa rindu. Sudah seminggu ini Neji seolah mengabaikannya. Entah mungkin dirinya sedang sibuk dengan pekerjaannya atau apa..
Hal itu membuat Tenten menjadi galau. Beberapa kali Tenten mencoba menelfon Neji, namun pria itu tidak menjawabnya.
Sebagai gantinya pria itu hanya akan mengirimi sebuah pesan singkat berisikan kata 'maaf' dan alasannya tidak menjawab telfon adalah karena sedang ada rapat atau bertemu klien penting.
Tenten tidak mengeluh. Perempuan itu tetap tegar dan setia menanti Neji.
Dan pada angin malam Tenten mengadu..
"Sampaikan salam rinduku pada Neji.. Katakan kalau disini, aku akan selalu menantinya."
T.B.C
Dan berakhirlah chapter 2 dari fict abal ini.
Ummm gomen ne apabila chapter ini tidak memuaskan T_T
