"Sayang, sampai kapan kau akan terus berhubungan dengan Sakura" ucap gadis blonde itu pada kekasihnya.
"..." ia tak membalas perkataan lawan bicaranya.
Merasa diabaikan , Ino mencoba membujuk pria itu dengan ungkapan lebih lembut dan sedikit keromantisan.
"Hey kau jangan mengabaikan aku, lihat aku sekarang" kata Ino sambil membelai wajah tampan milik Itachi. Namun ia tak bergeming sedikitpun.
Itachi sama sekali tak membalas tatapan wanita pirang itu walau saat ini ia tengah menciumi wajahnya.
"jika kau melepaskan Sakura, aku akan memberikan semuanya untukmu."
"..." Itachi diam tanpa kata.
"Kenapa diam saja? Apa kau tak mau menerima tawaran menggiurkan dariku? Jadi kau lebih memilih Sakura dari pada aku?" Ino sedikit menaikan nada bicaranya pada Itachi, serasa di abaikan ia terus menciumi pria itu dengan sangat liar dari sebelumnya. Lalu ia naik kepangkuan Itachi dan kini penampilan Ino yang memakai rok mini itu sedikit vulgar karena pakaian yang dikenakannya itu terangkat hingga menampilkan paha yang mulus nan putih itu. Dan lagi wanita itu tengah menggoyang-goyangkan pinggulnya supaya sang pria terangsang. Ia berusaha mendapat perhatian dari Itachi. Namun Itachi saat itu tak membalas sedikitpun ciuman atau sentuhan Ino, ia masih tetap saja diam tak bergerak.
"Kau sudah tak menginginkan aku lagi , hah?"
Tangan Itachi kini bergerak perlahan menuju pundak Ino. Seringaian nakal terpancar dari wajah Ino. Berfikir tindakannya itu berhasih mengambil perhatian Itachi dan berharap ia mendapatkan sensasi nikmat itu. Namun dugaannya salah besar. Itachi malah menggendong Ino dan diletakan di meja yang ada dihadapannya itu. Merasa dipermainkan Ino geram pada pria berkuncir itu.
"Maaf aku harus pergi" ucap pria berkepala dingin itu, lalu pergi meninggalkan Ino. Entah apa yang ada difikirannya saat ini hingga meninggalkan wanita nakal nan menggoda tersebut.
"Hey kau mau kemana ? apa kau sudah tidak mencintaiku lagi hah" teriakan melengking yang menggelegar menggema seisi ruangan. Namun orang yang diteriakinya sudah menghilang.
Sementara itu ditempat lain ...
"kakak mau masuk dulu kerumahku?"
"Sepertinya tidak bisa, aku ada urusan. Maaf yah Sakura aku tidak bisa menemanimu"
"baiklah aku mengerti. Sekali lagi terima kasih banyak yah kakak memang sangat baik" ucap Sakura diiringi senyuman manisnya. Sasori terlihat kikuk saat ini, betapa senangnya melihat gadis cantik yang ada dihadapannya itu bisa tersenyum lagi.
"iya aku pergi dulu yah, kau jangan bersedih lagi oke"
"oke" Sakura mengacungkan jempolnya
"berjanjilah padaku"
"Janji .."
Sasori memang begitu baik dan mengerti perasaan Sakura. Bahkan ia tahu saat ia sedang membutuhkan seseorang untuk mencurahkan perasaannya Sasori selalu hadir, dia satu-satunya teman laki-laki Sakura yang sangat dekat dengannya. Ia memang baik sekali atau mungkin terlalu baik?
"tadaima..." ucap Sakura mencoba membuka pintu. Tapi pintu itu di kunci. Sakura mendesah pelan, ia tahu sekarang tidak ada siapa-siapa dirumanya dikarenakan kedua orang tuanya yang sangat sibuk dengan pekerjaan. Sakura memang terbilang kaya karena usaha kedua orang tuanya. Mereka begitu sibuk hingga jarang sekali pulang.
Untung saja ia memiliki kunci cadangan, dan berlalu membuka pintu dan terbukalah pintu itu.
Sepertinya perasaan tadi masih menghantui Sakura. Ia berlalu menuju kamar mandi berniat untuk membersihkan diri, mungkin lebih tepatnya melepaskan rasa emosional yang ikut mengalir bersama air tersebut. Sedikitnya ia merasa tenang dari semua fikiran yang membuat ia hampir setengah stress. Diraihnya handuk itu dan dililitkan ditubuh mungilnya itu. ia berjalan menuju kamarnya namun langkahnya terhenti saat ia mendengar bel berbunyi
Ting tong ...
Ia menghampiri pintu tersebut. "yah tunggu sebentar" ucap Sakura berlari kecil sambil memegang handuk supaya tidak lepas.
Saat pintu itu dibuka nampaklah seseorang yang membuat Sakura dongkol beberapa jam yang lalu. Siapa lagi kalau bukan Itachi.
"mau apa kau kesini?"
Itachi tak menjawab pertanyaan Sakura namun ia langsung menerobos masuk kerumahnya dan menarik tangan Sakura.
"Apa ayah dan ibumu sudah pulang?" kata Itachi. Dia memang sudah tahu betul kalau orang tua Sakura jarang ada dirumah.
"Belum"
"Bagus" kini Itachi menarik Sakura menuju kamarnya. Sakura merasa bingung atas apa yang akan dia lakukan padanya. Masih dengan memegang handuknya dengan rambut yang bercucuran air membuat ia terlihat semakin menggoda.
"kau mau apa?"
Itachi tetap dengan sikap dinginnya ia tak menjawab pertanyaan Sakura. Kini mereka tengah berada dikamar Sakura dan mengunci pintu. Muka Sakura terlihat merah padam saat ini, ia sudah tahu apa yang akan dia lakukan padanya. Namun hatinya tetap marah pada pria kuncir itu setelah apa yang dia perbuat beberapa jam lalu.
"kau sangat menggoda sekali, Sakura" akhirnya laki-laki itu membuka suara
"aku masih marah padamu tentang tadi" Sakura berjalan mundur menjauhi Itachi, dan Itachi berjalan mendekati Sakura. Seringaian nakal terpancar jelas diwajah tampan itu.
"aku sudah tidak bisa menahannya lagi" ucap Itachi.
Tanpa basa basi, ia membuka paksa handuk yang dipakai Sakura.
"lepaskan aku ... !" teriak Sakura memegangi handuknya namun nihil tangan kekar milik Itachi berhasil membuka handuk itu dan kini nampaklah tubuh indah mulus putih bak porselen. Wangi sabun bunga sakura tercium oleh Itachi yang membuat suasana semakin menarik.
"kemarilah, bukankah kau mencintaiku" ucap Itachi dengan suara seksinya sambil memeluk tubuh yang tanpa dibalut sehelai kain sedikitpun.
"lepaskan akuuu, aku sudah melupakanmu, Itachi san" Sakura mencoba berontak dan berusaha melepaskan pelukan Itachi. Tapi ia semakin mengeratkan pelukannya.
"coba saja kalau bisa" Itachi menggendong Sakura dan dilemparkan ke tempat tidur berukuran king sizenya.
Satu persatu baju seragam yang menutupi Itachi dibuka dengan paksa olehnhya. Oh ya sepertinya ia langsung kerumah Sakura sepulang sekolah.
Dan kini keduanya nampak tidak berbusana satu sama lain. Sakura yang kini sepertinya sudah pasrah atas perlakuan kasar kekasihnya itu tengah meneteskan kembali air matanya.
Itachi terlihat sudah tak mampu membendung perasaanya. Ia mencium bibir Sakura secara paksa tanpa adanya sisi keromantisan. Hanya dia yang dipenuhi hasrat , hanya dia yang terbakar nafsu birahi yang begitu besar. Oh yah sepertinya ia sudah menahan birahinya sejak tadi bersama Ino. Ia tak mau melepaskan nafsunya pada Ino melainkan melampiaskannya pada Sakura. Sedangkan Sakura, ia tak tahu menahu akan melakukan ini sekarang dengan Itachi, tanpa ada pemanasan sebelumnya yang membuat Sakura teransang tidak dengan Itachi yang sudah teransang sejak tadi.
"emphhh .. kumo..hon henti..emhh achh " ucap Sakura disela ciumannya. Beberapa desahan lolos dari mulut Sakura dan kini kamar itu diiringi suara erotis mereka. Mana mungkin bisa tahan dengan posisinya yang berada dibawah Itachi.
Air mata Sakura mengalir lebih deras. Tubuh Sakura bergetar, hatinya begitu pilu. Laki-laki yang kini ada dihadapannya itu tidak mengerti sama sekali perasaannya.
Itachi melepaskan ciuman mautnya itu sambil terengah-engah dan kembali menghirup nafas dari paru-parunya.
"kenapa kau menangis?"
"aku benci kau. Segitu mudahnya kau mencumbuku setelah bercumbu dengan wanita lain. Mencintaimu adalah hal menyakitkan bagiku." Ucap Sakura terbata-bata diiringi tangisannya.
"maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku juga mencintaimu Sakura. Kau jangan marah lagi padaku."
"mudah sekali kau meminta maaf. Lihat sekarang kita? Apa kau tidak malu pada dirimu sendiri. Kau.. Acchh .."
Suara Sakura terhenti saat ia menerima bebera hentakan dari kejantanan milik Itachi. Sakura tak menyadari hal itu kalau dia tengah dimasuki oleh sesuatu benda lunak di kewanitaannya.
"aku benciii aahhh kauuu acchh .." Sakura yang kini memukul-mukul dada bidang milik Itachi serta teriakan campur desahan dan tangisan menyelimuti Sakura, kenikmatan bercampur kesakitan menjadi satu. Itachi hanya menikmatinya saja tanpa mempedulikan Sakura.
"kenapa kau menangis, kita kan sering melakukan ini"
Pria yang bernama Itachi itu memang terlihat seperti pria baik-baik dimata Ino, oh dia salah besar kalau dia bukan lagi perjaka ting-ting.
.
.
.
[Sakura POV]
Aku terbangun dari tidur lelapku. Kepalaku terasa pusing, saat kutengok jendela kamar sudah terang menandakan ini sudah pagi. Hah Pagi? Sejak kapan aku tidur, dan lagi kenapa tubuhku terasa dingin sekali. Apa aku sakit? Ku sentuh dahi lebarku tidak terasa adanya tanda-tanda sakit. Saat aku membuka selimut ini, aaaahh aku telanjang ? aku tidur tanpa mengenakan pakaian. Ah yah sekarang aku ingat, kemarin sore aku tengah bercinta dengannya hingga aku tak sadarkan diri. Laki-laki itu sudah berapa kali kuperingatkan jangan melakukannya lagi. Tapi ... ah yasudahlah ini sudah terlambat.
Aku segera mandi lagi dan setelah itu menuju lemari baju. Ah tunggu hari apa ini? aku sampai lupa hari karena beban fikiran terus menerus bisa gila aku jika mengingat Itachi san. Aku semakin tak sanggup untuk melupakan laki-laki itu.
Ini hari minggu, semoga ayah dan ibu sudah pulang. Aku merindukan mereka, selalu saja tidak ada waktu bahkan untuk anaknya saja mereka sibuk sekali dengan pekerjaannya itu.
Aku menuju dapur karena perutku sudah minta diisi. Dari kemarin aku belum sempat makan sepulang sekolah karena si bodoh itu. Hanya cereal dan susu serta beberapa potong roti, ini cukup untuk mengganjal perutku. Saat ku teguk susu murni itu, rasanya sedikit mual dan begitu menyengat dihidung. Sungguh aku ingin muntah, kenapa ini? aku sedang tidak alergi pada susu. Lalu aku minum air putih untuk menetralisir rasa mual itu. kulahap beberapa roti berisi selai kacang. Dan lagi-lagi mual itu menyebar diperut, terasa tak enak dimulut. Aku tak tahan lagi dan segera berlari ke kamar mandi memuntahkan semua yang ada didalam perutku. Ah kenapa ini, perutku terasa tak enak sekali. Apakah ini morning sickness?
Ah tidak mungkin, tidakk mungkin.. aku tidak boleh berfikiran yang negative. Ini hanya masuk angin yahh masuk angin karena semalam aku tidur tidak memakai baju. Ini masuk angin kan ...
Tetap saja walaupun aku berusaha melupakan, fikiran ini terus menggangguku. Aku berlari ke kamar mandi, beberapa kali menatap tubuhku dicermin yang besar itu. Rasanya ada sedikit perubahan, aku gemuk? Masa iya aku gemuk, aku tidak banyak makan, aku makan sehari paling 2 kali. Jangan-jangan ...
.
.
Kriiiinggg !
Telepon rumah berbunyi, aku mengangkat telepon itu.
"moshi-moshi "
"ibu, ini ibu? Kapan ibu pulang, cepatlah pulang aku sangat takut dirumah sendirian"
"iya sayang iya ibu sedang diperjalanan bersama ayahmu. Biasanya kau berani dirumah sendirian"
"i-iya cepatlah pulang"
Aku memutus sambungan telepon itu. Kini aku merasa sangat gugup, takut , aku sangat takut sekali. Tubuhku gemetar tak karuan, seakan jelly kakiku ambruk seketika.
Tapi ini masih firasatku, aku belum yakin sebelum mengetesnya.
.
.
Aku akan membeli testpect sebelum ibu dan ayah pulang. Tapi tunggu dimana belinya? Aku tidak tahu. Kami-Sama tolonglah aku, saat ini aku sangat bingung. Apa yang harus aku lakukan.
Dimana aku membelinya, di supermarket? Di pasar swalayan? Ditoko obat? Emmm toko obat, alat kontrasepsi. Apotik .. yah Apotik, aku akan mencoba membelinya disana semoga saja ada.
.
.
.
"Bisa saya bantu nona muda?" ujar pelayan itu yang bername tag 'Kabuto'.
"Apakah ... disini ada alat kontrasepsi?" tanyaku dengan sedikit agak ragu. Tentu saja ragu mana ada gadis muda sepertiku membeli alat tersebut bisa-bisa aku ketahuan gadis nakal atau semacamnya. Kupikir memang benar aku adalah gadis yang nakal.
"Tentu, disini sangatlah lengkap. Bisa saya bantu anda membutuhkan apa?"
"T-ttes ..pect" ucapku pelan pelan
"Oh tunggu sebentar" ujar pria berkacamata bulat itu pergi mengambil pesananku. Ah sepertinya dia tidak curiga
"Ini nona"
"Ah terima ka-" saat aku mau mengambil benda itu dia menarik lagi benda itu kebelakang dan berkata padaku.
"iIi untuk siapa?"
Apaaa? Kenapa dia menanyakan itu? apakah ini penting untuknya sih.
"Ibu.. yah untuk ibuku. Aku disuruh membelinya"
"Oh begitu ya."
Lalu aku segera membayarnya sebelum dia bertanya-tanya lagi padaku.
Sesampai dirumah, memang benar mereka sudah sampai dirumah. Ayah ibu, aku begitu sangat senang sekali mereka datang. Serasa baru bertemu saja dengan mereka ingin rasanya aku menangis.
"kau dari mana sayang?" kata Ibuku yang kini tengah duduk diruang utama bersama ayahku
"aku habis dari apotik" ... 'ahh tidak aku sangat bodoh kenapa otakku ini tidak bisa diajak kompromi'
"kau sakit, eh?"
"yah, aku sakit kepala bu" kataku sambil berlalu ke kamar. Saat dikamar aku membaca cara pemakaiannya. Oh seperti itu, dan berlalu kekamar mandi.
"Aaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh..."
"ada apa sakura?" kata ibu dari ruang sebelah. Ia mendengarkan teriakanku.
"ah tidak bu, ini ada tikus"
.
.
AKU HAMIL ...
To Be Continue
Chap ini dari awal hingga akhir lemon terus, sampe tissue abis buat nyumpel idung. Hahaha. Maaf kalo kurang hot atau semacamnya, Mei gak pandai bikin fic lemon sih.
Itachi kejam yah.. #ditimpuk batu sama Itachi FG.
Selanjutnya tokoh baru muncul dan sosok Sasori sebenarnya akan terungkap.
Apakah Sakura membenci Itachi atau lebih mencintai Itachi.
Oke bubaayyy di Fic selanjutnya. #tebarinduitduit.
#digondolKakuzu. What the ?
