Uchiha Sasuke membenci takdir. Sebab, skenario takdirlah yang selalu membuatnya terluka. Kini, dia kembali dihadapkan pada skenario kecil takdir yang kelak akan memberi perubahan besar dalam garis hidupnya yang hampa. Tapi, apakah skenario takdir kali ini tak akan melukainya?

The Beautiful Mess》

Kota Ame dipayungi langit cerah berawan ketika Sasuke menginjakkan kakinya di kota tersebut. Kota kecil yang tenang tanpa hiruk pikuk penuh kesibukan itu sangat berbanding terbalik jika dibandingkan dengan Konoha.

"Aku sudah memesan kamar untuk kita menginap. 2 hari cukup 'kan?" Pemuda bertato segitiga terbalik -yang menghampiri Sasuke- bertanya

"Hn."

Kiba mengangguk. "Ini kuncimu."

Sasuke menangkap kunci yang dilemparkan Kiba padanya.

"Aku mau mandi dan ganti baju dulu," kata Kiba berjalan mendahului Sasuke. Ia hanya melambai singkat sebelum masuk ke kamar penginapannya.

Sasuke juga turut melangkah masuk ke kamarnya, tepat di sebelah pintu yang Kiba masuki sebelumnya.

Kota Ame tak punya hotel berbintang 5 seperti Konoha, hanya ada sebuah penginapan sederhana yang berada di beberapa titik kota, jumlahnya pun bisa dihitung tangan. Untuk ukuran sebuah kota, tempat itu bahkan lebih pantas disebut desa dibanding kota. Bukan hanya tak ada hotel, cafe mau pun mall hingga pusat hiburan lainnya benar-benar tidak bisa ditemukan di kota itu. Hanya ada beberapa kedai kecil atau toko oleh-oleh, dan beberapa toko sederhana lainnya yang terkadang dilihat Sasuke saat di perjalanan. Yang membedakan kota Ame dan desa hanya fasilitas umumnya saja yang sudah lebih maju, terutama di bidang transportasi.

Pemuda berambut gelap itu berjalan menuju balkon. Penginapan terbagus yang Sasuke temukan hanya bertingkat dua. Dari arah balkon, Sasuke dapat melihat pohon sakura yang memikat di halaman depan penginapan. Terkadang, ketika angin berhembus, bunga berwarna pink tersebut akan terbang hingga ke balkon Sasuke-yang jaraknya tidak jauh. Sasuke meraih salah satu kelopak bunga yang jatuh di dekatnya. Suasana tenang kota Ame adalah satu-satunya hal yang membuatnya selalu ingin kembali ke kota ini.

Jika saja waktu itu Itachi-kakaknya- tidak salah memberikan alamat padanya, Sasuke mungkin tak akan pernah tahu ada kota kecil senyaman ini.

Dari lantai dua penginapan itu, Sasuke dapat menyaksikan segala hal yang terjadi di luar penginapan. Sesekali, ia melihat beberapa pejalan kaki akan berlalu lalang di trotoar, dan hanya ada segelintir kendaraan yang melintas di jalan.

Saat itu, ketika sebelumnya ia tak pernah memperhatikan detail setiap pejalan kaki, seorang pemuda berambut pirang mencolok yang lewat di seberang jalan depan penginapan berhasil menarik perhatiannya.

Pemuda itu berlari dengan langkah tergesa sembari kepalanya sesekali menoleh ke belakang. Ia mengenakan seragam sekolah yang terlihat sangat berantakan.

Sasuke menemukan ada rasa takut di wajah pemuda itu. Dia bertanya-tanya apa yang terjadi, namun ketika sekelompok pemuda berseragam sama dengan pemuda berambut pirang itu ikut berlari di belakangnya, Sasuke akhirnya berhasil menyimpulkan jawabannya sendiri. Jika pemuda pirang itu sedang terlibat masalah dengan teman-temannya. Entah apa yang dia lakukan hingga memicu kemarahan sekelompok orang bodoh yang hanya tahu cara menggunakan ototnya.

Tepat ketika pemuda berambut pirang itu dan sekelompok orang berjumlah 3 orang tersebut tak lagi dapat diraih oleh jangkauan penglihatan Sasuke, sebuah ketukan pintu mengalihkan tatapan Sasuke.

Wajah merengut Kiba ada di balik pintu.

"Aku tak akan pernah lagi ke desa ini!" raungan Kiba menyembur saat Sasuke membuka pintu kamarnya. Tanpa dipersilakan, Kiba berjalan masuk ke kamar Sasuke dengan kaki yang dihentakkan keras.

Sasuke mengernyit samar. Namun, sebelum ia sempat bertanya, Kiba sudah berceloteh duluan.

"Kau tahu, Sas. Bahkan tak ada air panas di penginapan ini!" semburnya seraya menjatuhkan bokongnya di kursi kayu di dekat balkon. "Aku sudah mencoba sebisa mungkin bersabar dengan kasur keras, atau pun ruangan kusam dan berdebu itu yang mereka sebut kamar, tapi untuk air panas," Kiba menarik panas, "aku tidak mau kompromi!"

Sasuke tahu seharusnya ia tidak pergi dengan Kiba. Jika saja Shikamaru tidak harus menggantinya untuk membawa pidato di upacara penerimaan siswa ajaran baru tahun ini, ia pasti akan menyeret tuan kritis itu bersamanya. Setidaknya, selama ada kasur untuk tidur, Shikamaru tidak akan mengeluhkan hal lain.

"Pokoknya, kita cari barang itu hari ini. Bagaimanapun caranya, aku mau sesegera mungkin kembali ke Konoha," tukasnya tak ingin dibantah.

"Terserah kau saja," balas Sasuke tak acuh. Dia tak memiliki niat beradu mulut dengan Kiba.

"Biar aku yang menghubungi kolektor sialan itu, jika dia tidak datang sekarang juga, akan kupastikan dia dan seluruh keluarganya hidup sengsara selamanya," geram Kiba meraih handphonenya dan mulai bergumam dengan berbagai umpatan ketika kolektor tersebut tak kunjung mengangkat telephonenya.

Sasuke tak lagi peduli pada Kiba, ia memilih mengalihkan atensinya pada trotoar jalan yang sepi. Pikirnya bertanya-tanya apa pemuda pirang itu sudah tertangkap?

Angin kembali berhembus lembut,menggoyangkan ranting pohon sakura hingga menimbulkan suara gemerisik yang menenangkan. Ah, Kiba hanya tidak tahu cara menikmati ketenangan. Pikir Sasuke. Seandainya saja ia menikmati kota yang disebutnya desa ini, mungkin saja ia akan sama betahnya dengan Sasuke.

"Ayo pergi, aku sudah dapat persetujuan dengan kolektor itu," kata Kiba kemudian.

"Kau yakin?"

Kiba mendengus pelan seraya memamerkan senyum terbaiknya. "Kau meremehkan keluarga Inuzukaku, huh? Walau tak seberpengaruh Uchiha milikmu, keluargaku tentu saja tidak kalah darimu," ucapnya bangga. "Kau tahu aku, Sasuke. Aku tak akan pernah bercanda soal ancamanku." Ia mengulas senyum sinis.

Sasuke hanya mengangguk sembari mulai berjalan ke luar dengan Kiba yang mengekorinya. Sepertinya, ia akan segera kembali ke Konoha malam ini.

《The Beautiful Mess》

Itachi meminta Sasuke kemarin untuk segera berangkat ke Ame dan mewakilinya mengambil sebuah permata pada salah satu kolektor yang tinggal di sana. Sasuke awalnya menolak keras, sebab besoknya adalah upacara penerimaan siswa baru sekaligus hari pertamanya di SMA.

Namun, ketika Itachi berkata permata itu adalah hal yang paling ibunya inginkan untuk hadiah ulang tahun, Sasuke tak dapat menolaknya. Walau ia sudah meminta Itachi mengundur waktunya, tapi tetap saja kolektor itu merasa sangat sibuk dan tak akan mau menjual permatanya pada Itachi jika ia tidak mau datang sendiri ke Ame pada hari pertemuan yang mereka atur. Karena Itachi harus segera ke Suna untuk mengurus beberapa hal mendadak, ia terpaksa memohon pada adiknya untuk mewakilinya.

Kolektor keras kepala itu tak akan menjual permatanya jika orang yang bersangkutan tak datang sendiri. Untuk itu, Itachi tak dapat meminta orang lain menggantinya. Setidaknya, Sasuke adalah pengecualian. Itachi dan Sasuke bersaudara, dan permata itu untuk hadiah dari keduanya pada ibunya. Jadi, Sasuke termasuk orang yang bersangkutan.

"Kau yakin di sini tempatnya, Sas?" Kiba bertanya ragu.

Sasuke tak memedulikan Kiba dan berjalan masuk ke dalam sebuah toko barang antik yang etalase kacanya bahkan terlihat sangat berdebu dan tak terawat.

Melihat keyakinan temannya itu, Kiba hanya pasrah mengikuti.

"Kau yakin Itachi tidak sedang ditipu, 'kan? Tempat ini err … tidak terlihat, kau tahu, dipercaya," bisik Kiba.

Sasuke menoleh pada Kiba, ia menatapnya lurus dan bertanya, "Apa Itachi terlihat mudah ditipu di matamu?"

Kiba meringis pelan, mengingat senyuman ramah Itachi mungkin Kiba akan percaya dia mudah ditipu. Tapi, ketika dia ingat ratusan pikiran licik di balik senyuman itu, Kiba merasa bulu kuduknya bergidik. Hanya Itachi satu-satunya yang bisa membuat seorang Inuzuka Kiba merinding takut hanya dengan mengingat senyumannya.

"Iruka-san?" Sasuke mengernyitkan dahinya samar ketika menatap seorang pria yang mungkin berumur sekitar tiga puluhan di balik meja penjaga toko.

Pria itu mengangkat kepalanya dari buku yang ia tekuri. Matanya menatap tubuh Sasuke dari atas ke bawah, sedetik kemudian ia tersenyum ramah. "Ah, kau pasti Uchiha Sasuke?" Tatapannya beralih pada pemuda lain tanpa perlu menunggu jawaban Sasuke. "Dan kau pasti Tuan-Tidak-Sabaran itu," ucapnya dengan penuh penekanan.

"Kupikir kolektor menyebalkan itu seorang pria tua membosankan," tukas Kiba menyuarakan pikirannya blak-blakan. "Kau tahu, orang mana yang betah dengan setumpuk barang rongso-eh kuno maksudku," kata Kiba dengan ringisan pelan setelah Sasuke menegurnya lewat tatapan tajam.

Sasuke juga tidak akan mengira kolektor keras kepala itu adalah seorang pria ramah seperti di depannya saat ini.

Pria bernama Iruka itu hanya mengulum senyum ramahnya. "Kalian beruntung. Aku tiba lebih awal dari perjalananku. Jika tidak, kupikir kalian perlu menunggu beberapa hari lagi," ucapnya tanpa menggubris pernyataan Kiba sebelumya.

"Aku menginginkan barangnya," kata Sasuke kemudian.

Iruka mengangguk. "Tunggu sebentar."

Iruka berbalik. Masuk lebih dalam ke tokonya. Ia menelusuri jari-jarinya di rak berantakan penuh debu. Setelah mengutak-atik beberapa barang-barang di sana, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu tua dari rak dan membawanya pada Sasuke.

Sasuke tidak dapat menahan dirinya untuk mengernyit dalam. Menurut Itachi, itu adalah sebuah permata mahal. Tapi, mengingat pria itu meletakkannya sembrono ada sebersit perasaan ragu di hatinya.

"Tempat menyimpan terbaik adalah tempat yang tidak akan pernah kau kira," kata Iruka menebak pikiran Sasuke.

Sasuke perlahan mengangguk paham beberapa saat kemudian. Tangannya meraih kotak usang itu dan membukanya. Ada sebuah kalung berantai perak dengan hiasan batu permata berwarna safir memukau berukuran sekitar satu ruas jari kelingkingnya. Tangannya menyentuh permukaan permata safir itu. Ia mengangguk puas. Mata Itachi memang tidak pernah salah.

"Aku akan mengambilnya," kata Sasuke meraih kalung itu dan mengenggamnya di tangannya. Kemudian memindahkannya ke dalam sebuah kotak kecil yang ia persiapkan sebelumnya lalu meletakkannya di saku jaketnya.

"Itachi-kakakmu sudah membayarku di muka sebelumnya," kata Iruka.

Kedua sudut bibir Sasuke naik membentuk kurva tipis. "Kalau begitu, kami undur diri."

Sasuke berbalik dan pergi dengan Kiba yang mengekorinya di belakang dengan senyuman yang tak lepas.

"Jadi, kita bisa pulang malam ini, 'kan?" tanya Kiba saat mereka telah keluar dari toko menyesakkan itu.

"Hn," Sasuke bergumam pelan.

Sepasang manik hitamnya menyisir ke sekitar. Jalan raya masih lenggang seperti sebelumnya. Namun, bukan suasana jalanan yang menarik minat Sasuke melainkan sesosok pemuda berambut pirang yang tertangkap matanya. Sasuke melihat bayangan pemuda itu yang diseret masuk di gang sempit di seberang jalan dengan tiga pemuda yang mengejarnya sebelumnya.

"Oi, Sas, sampai kapan kau mau berdiri di sana?!" seru Kiba yang berdiri di depan pintu mobil yang terbuka, menunggu Sasuke.

"Kau duluan saja," kata Sasuke pada Kiba.

"Kau yakin?"

"Aku ingin berjalan-jalan sebentar," dalih Sasuke dengan ketegasan di nadanya.

"Perlu kutemani?" Kiba merasa tak yakin meninggalkan Sasuke sendiri. Shikamaru sudah memperingatkannya, si Tuan Pemalas itu berkata pada Kiba sebelumnya, "Selalu ada hal merepotkan yang terjadi jika kau membiarkannya berkeliaran sendirian."

"Tidak perlu, kembalilah," kata Sasuke dengan nada dingin dan tajam yang membuat tubuh Kiba bergidik takut.

Kiba hanya pasrah mengangguk dan masuk ke mobil lantas meninggalkan Sasuke dengan berat hati.

Memastikan Kiba telah pergi, Sasuke berjalan cepat menyeberangi jalan dan menuju ke arah gang.

Manik obsidian Sasuke menajam tatkala menyaksikan pemuda berambut pirang itu diinjak dengan tak berperasaan oleh seorang pemuda lainnya.

"Aku akan memberikan kalian kesempatan untuk pergi," Sasuke berkata dengan suara dingin.

Pemuda berbadan cukup kekar yang sedari tadi menginjak-injak itu menghentikan gerakannya. Dia dan dua orang temannya yang lain berbalik cepat dan menemukan Sasuke yang berdiri tenang di mulut gang.

"Siapa kau?" Seorang pemuda berbadan tinggi yang menyandar di tembok menatap Sasuke lurus.

"Dalam hitungan ketiga. Sebaiknya kalian enyah dari hadapanku," ujarnya sembari melangkah mendekati tiga orang tersebut.

Kakuzu menggertakkan giginya penuh amarah. Dia sudah cukup kesal dengan Naruto yang membuat pekerjaannya semakin sulit, ditambah orang asing dengan kesombongan yang membuat amarahnya semakin memuncak.

Kakuzu berjalan cepat ke arah pemuda berambut hitam itu kemudian hendak menarik kerahnya.

Namun, sebelum Kakuzu mencapai baju Sasuke, Sasuke terlebih dahulu mencengkeram pergelangan tangannya lalu semuanya berjalan sangat cepat. Sasuke membuat gerakan berbalik memunggungi Kakuzu sembari tetap menggenggam pergelangan tangannya dan membanting tubuh pemuda berbadan kekar itu ke tanah.

Kakuzu dapat merasakan tubuhnya yang bergetar saat tatapannya beradu dengan netra sekelam malam yang menatapnya begitu dingin dan menusuk.

"Aku sudah memperingatkanmu," lirih Sasuke sembari menginjakkan kakinya ke pergelangan tangan Kakuzu.

Kedua teman Kakuzu tak dapat menonton begitu saja ketika Kakuzu diperlakukan seperti itu. Walau ketakutan menyerbu di tubuh mereka, terlebih lagi ketika pemuda asing itu menatap mereka begitu dingin. Jika saja tatapan bisa membunuh, mereka mungkin sudah tiada.

Dengan menggertakkan gigi, kedua teman Kakuzu menyerbu Sasuke secara bersamaan. Sasuke menyeringai tipis menyaksikan keduanya menyerangnya. Jika teman-teman Sasuke menyaksikan seringai itu saat ini, mereka mungkin akan mundur teratur secara bersamaan.

《The Beautiful Mess》

Kiba masih bergelut dengan pikiran ragunya. Dia tiba-tiba menginjak rem dengan keras membuat suara berdecit yang menggema keras. Untung saja, jalanan kota Ame sedang lenggang. Jika ini di Konoha, mobil miliknya mungkin sudah tak sempurna lagi.

"Ah, sial!" Kiba mengacak rambutnya kesal.

Kemudian, tanpa berpikir dua kali, dia memutar mobilnya kembali. Pesan Shikamaru terus terputar dalam benaknya membuat Kiba menyerah dan pasrah. Setelah ini, Sasuke pasti akan marah besar padanya. Pikirnya muram. Namun, dia tetap tak menghentikan laju mobilnya yang terus berjalan kembali ke tempat semula untuk menemukan Sasuke.

《The Beautiful Mess》

Sasuke menginjak dada pemuda yang dia buat terkapar di tanah. Keduanya benar-benar tak dapat menyentuh Sasuke sedikit pun. Alhasil, mereka hanya dapat menerima setiap pukulan dan tendangan yang dilayangkan padanya.

Sasuke kemudian berjalan ke arah pemuda berbadan kekar yang menatap Sasuke dengan mata membulat lebar. Dia melirik kedua temannya yang hanya dapat meringis di tanah.

Untuk bangun pun, Kakuzu tak lagi mampu. Tubuhnya bergetar hebat di bawah tatapan intimidasi mata itu. Seumur hidupnya, dia tidak pernah merasa setakut ini sebelumnya.

Sasuke menginjak wajah Kakuzu, namun pemuda itu tidak lagi melawan. Sasuke menyaksikan tubuh besar itu bergetar di bawah kakinya. Dia menendang kepala itu dengan keras.

"Kuulangi sekali lagi, dalam hitungan ketiga … enyah dari hadapanku," gumamnya dingin.

"Tiga!"

Kakuzu segera berdiri dengan tergopoh-gopoh begitu pun dengan kedua temannya dan berlari sekuat tenaga.

Sasuke kemudian menoleh ke arah sesosok pemuda berambut pirang yang sedari tadi terbaring tanpa gerakan. Dia berjalan ke arahnya dan berjongkok di depan pemuda itu.

Mata Sasuke semakin mendingin ketika menemukan luka yang didapatkan pemuda berambut pirang tersebut jauh lebih parah dari dugaannya.

"Seharusnya aku tidak membiarkan mereka pergi sampai melumpuhkan tangan dan kakinya," gumamnya geram.

"Sasuke!"

Sasuke tidak menoleh untuk tahu siapa yang memanggilnya. Dia hanya terdiam menekuri wajah terluka pemuda berambut pirang itu.

Kiba menarik napas lega ketika dia menemukan Sasuke. Di dekat toko si kolektor, Kiba menemukan tiga orang yang berlari ke luar dari gang dengan babak belur. Pikiran buruknya memastikan Sasuke pasti turut campur di dalam.

"Siapa dia?" Kiba bertanya.

"Aku tidak tahu."

"Kalau begitu, ayo pergi. Kau sudah menolongnya dari preman-preman itu. Itu adalah kemurahan hati terbesar. Jadi, mari kita kembali," ujar Kiba cepat.

Sasuke tak mengidahkan Kiba lantas menggendong pemuda pirang itu ke dalam dekapannya bagai seorang wanita.

"Hei, Sas, kau serius membawanya?!" Kiba menahan langkah Sasuke.

"Di mana kau parkir mobilnya?" tanya Sasuke dingin.

Kiba mengerjap. Tatapan dingin Sasuke membuatnya ciut. Ketika si bungsu Uchiha sudah memutuskan, dia tak pernah punya kesempatan untuk menolak.

Kiba hanya menghembuskan napas berat kemudian berjalan dengan pasrah di belakang Sasuke.

To Be Continued ...

Aku berterima kasih banget sama kalian yang sudah mau berkenan membacanya dan meninggalkan jejak.

Ah, dan untuk pertanyaan kemarin ff ini yaoi, ya heheh

Pairnya SasuNaru dan yang lain menyusul nanti wkwk

Ok, keep like and comment karena respon dari kalianlah yang membuka jalan apa ff ini akan lanjut sampai tamat atau enggak wkwkwk

With Love, Sei-sama :3