Dan dia mengejarku dengan cepat—coret, sangat cepat. Tak mau kalah, aku mempercepat lariku. Kami sampai di kedai es krim dengan nafas terengah-engah. Aku tertawa melihatnya mengomel dan mengumpat—walaupun akhirnya dia ikut terkekeh juga. "Sudah lama tidak lari-lari." Katanya.

Saat itu, rasa cemas di hatiku terlupakan sama sekali. Aku terlena dengan tawa yang berderai diantara aku dan dia.


Another


Akhirnya malam hari sebelum resitalku berlangsung tiba. Perasaanku tak karuan. Gugup, gembira, cemas bercampur jadi satu. Kalau sudah begini, biasanya aku menghampiri pelarianku, kakak. Tapi kali ini, aku tak bisa melakukannya.

"Mon lapin, kau telepon saja cowok Italia itu ya. Mama masih merecokiku dengan jumlah pasokan bahan restoran." Adalah kata-katanya saat kudekati di konter restoran kami.

Well, aku tahu sekali kalau dia bohong. Orangtuaku tak mungkin mempercayakan hitung-hitungan restoran ke kakakku yang cuma tahu cara memasak dan merayu itu. Apalagi dia mengatakan kalimat itu diakhiri dengan kedipan nakalnya.

Yah.. Aku tahu sia-sia mengharapkannya. Jadi, disini aku sekarang, diatas tempat tidur, bergulat dengan perasaanku sendiri. Haruskah kutekan tombol hijau ini dan bicara dengan pemilik nomor diseberang sana? Uuh.. Ini agak sulit. Walaupun aku sudah cukup akrab dengannya, tetap saja aku merasa salah tingkah kalau harus meneleponnya. Apalagi untuk hal sepele begini. Karena biasanya selalu dia yang menelepon duluan dan mengabari hal-hal penting.

Dan nada dering petikan gitar Depapepe dari gadget di tangan memutuskan rantai pikiranku, dengan cepat kulihat nama yang tertera, 'Lovino Vargas'.

Nice timing!

"Ya, Emily Bonnefoy."

"Hei, ini aku."

"Ya Lovino. Ada apa?" Kenapa kujawab ketus sekali sih? Payah!

"Em.. Ya.. Besok hari resitalmu kan? Jadi, kupikir kau butuh penyemangat atau apa gitu.."

Eh?

"E, eh tapi bukan maksudku mau menyemangatimu. Y, ya, siapa tahu kau tiba-tiba lupa not atau titi nada mutlak[1]mu hilang mendadak. Terus—"

Rasanya aku bisa melihat mukanya memerah diseberang sana. Dan, gawat aku sudah tak bisa menahan tawaku lagi.

"Kenapa kau malah tertawa sih! Aku sudah rela buang-buang pulsa ta—"

"Terimakasih ya." Hanyalah kalimat biasa yang sering kuucap, tapi aku merasa efeknya kali ini luar biasa, wajahku rasanya panas sekali dan senyum lebar tak bisa kutahan di bibirku.

"E, eh.. Iya.."

Kemudian hening hadir. A, aku harus gimana ini? Argh, ucapkan apa saja deh!
"Lo—"

"Feliciano titip salam untukmu."

"Eh?"

"Yah.. Aku cerita padanya, dan dia bilang sayang sekali tidak bisa datang."

Syukurlah.. Pembicaraannya mengalir lagi. As expected from Italian guy.

"Oh.. Ya, sampaikan salamku padanya ya."

"Ya, kalau aku pulang atau dia telepon lagi."

"Oh? Memang kapan kau pulang ke Italia?" Gawat, salah kalimat.

"Saat kepala kakek sudah tidak besar dan sekeras karang." Tuh, kan.

Pertemananku dengannya selama tiga bulan ini cukup memberitahuku beberapa hal mengenai dirinya. Seperti titi nada mutlak yang juga dimilikinya, kecintaannya terhadap tomat dan pasta, juga alasan kenapa dia bisa ada di Prancis.

Tak mau dikekang kakeknya, dia itu. Nasib cucu tertua keluarga kaya, harus meneruskan trah dan melupakan idealisme di kepala. Lari dengan hanya beberapa lembar Euro dan biola dari si adik lebih dipilihnya. Beruntung si adik kembar masih mau menanggung beban yang ditinggalkannya. "Terbelenggu di kandang emas." Katanya. Yah, kurasa kakeknya tak semudah itu melepaskan dia. Terbukti dari masih seringnya si adik membujuk kakaknya pulang atau beberapa mafia suruhan sang kakek datang ke flat kecilnya.

"Emily! Kau dengar aku tidak?"

Kalimatnya yang sedikit menghentak mengembalikanku dari rentetan pikiranku sendiri.

"E, eh.. Maaf aku bengong. Kenapa Lovi?"

"Jangan panggil aku Lovi! Dasar kau ini, dengarkan orang bicara dong! Tadi aku tanya, kakakmu datang tidak besok?"

"Haha.. Maaf, maaf.. Kakak? Datang tentu saja. Kenapa kau tanya? Kangen?"

"Enak saja! Untuk memastikan, apa aku harus pakai celana besi atau tidak besok, tahu."

"Jahat. Begitu-begitu kakakku manis lho."

"Iya, kalau dia tidak nempel-nempel! Beneran deh, lebih baik cepat carikan kakakmu itu pacar, Emily."

"Kalau soal itu sih kakak tak perlu butuh bantuanku. Lagipula dia sudah punya pasangan kok."

"Oh, ya? Jadi pacarnya pasti makan hati banget."

"Hmm.. Yang kulihat sih Arthur memang selalu ngomel kalau kakak ganggu orang lain, tapi mereka akur-akur saja tuh."

"Tuh, kan mana ada cowok yang ga ma— Eeh?" Responnya lambat juga dia ini.

"Iya. Makanya aku selalu bilang pasangannya kakak. Karena aku sendiri masih sedikit sulit melihatnya sebagai pacar kakak. Kenapa? Kau phobia ya?" Selalu ada senyum miris di bibirku kalau hal ini terlontar.

"Tidak juga. Cuma kusangka kakakmu bercanda saja. Aku tidak menyangka dia memang begitu."

Senyumku masih bertahan sebelum kubalas kalimatnya.

"Kakak tidak begini dari dulu lho. Dulu dia punya pacar yang cantik sekali, mereka bahkan hampir menikah."

"Hmm.."

Tiga bulan aku berteman dengannya juga sudah memberitahuku bahwa jawaban pendeknya itu mempersilahkanku bercerita. Dia siap mendengarkanku, sepanjang apapun itu.

Maka, berceritalah aku tentang kak Jeanne. Tunangan kakak yang direnggut Tuhan lebih cepat dari yang kakak inginkan.

"Lovino, kau tahu puing ruko terbakar diujung jalan rumahku?

"Ya?"

"Empat tahun yang lalu, tempat itu adalah toko bunga. Kak Jeanne si pemilik yang ramah, bunga-bunga yang merekah sepanjang hari, toko mungil yang cantik, semua orang menyukainya. Termasuk kakak. Dan, tidak perlu waktu untuk kakak jatuh cinta pada si pemilik toko. Cinta sungguhan kalau boleh kutambahkan. Karena, baru kali itu kulihat kakak yang hanya fokus pada satu wanita. Manis sekali."

Kurasakan bibirku tersenyum mengenang semua itu. Dengan jeda yang tercipta, aku bangkit dari kasur dan menghampiri balkon. Terduduk aku disitu bersandar pada kusen dan menatap langit malam bertabur bintang sebelum melanjutkan,

"Untuk menyingkat cerita, setelah beberapa bulan, mereka memutuskan untuk menikah. Semua gembira menyambutnya. Khususnya para tetangga yang punya anak gadis, karena itu berarti tak ada lagi yang akan menggangu putri mereka." Aku terkekeh pelan mendengar Lovino mendengus diseberang sana, "Tapi semua kebahagiaan itu hanya sesaat. Kejadian seminggu sebelum pernikahan mereka mendatangkan luka di hati semuanya, khususnya kakak."

Aku terdiam sejenak dan mengambil nafas dalam. Bagiku pun, kejadian ini masih membekas dan sulit kuceritakan dengan mudah.

"Waktu itu belum terlalu malam, aku dan kakak sedang membantu di restoran ketika tiba-tiba terdengar keributan dan jeritan diluar. Refleks kami keluar melihat keadaan. Dan kau tahu? Toko kak Jeanne dilalap api."

Aku berhenti lagi. Ini menyakitkan, entah kenapa rasanya aku masih bisa merasakan panasnya api saat itu.

"Pemadam kebakaran sudah dihubungi, namun tetap butuh waktu untuk memadamkannya. Kakak kalut tentu saja. Dia berusaha menerobos api tanpa persiapan apa-apa. Papa berusaha menahannya, tapi itu tidak dibutuhkan karena tiba-tiba kakak berlari mengejar seorang pria yang dengan jelas berteriak 'Akhirnya Jeanne mati!' sambil tertawa-tawa. Malang nasib orang itu, kakak yang saat itu masih menggenggam pisau daging, melempar benda tajam itu tepat ke lengannya. Orang itu roboh, dan kakak langsung menyergapnya."

Bibirku kelu. Sudah, cukup, tak kuasa aku mengingat lagi wajah kakak saat itu. Amarah dan kesedihan yang bercampur, teriakannya yang serak, terekam jelas di otakku.

"Emily?" Kudengar suara Lovino dari seberang sana. Setelah menggigit bibir dan berusaha untuk tidak menggetarkan suara, aku kembali melanjutkan.

"Di sela-sela pukulan kakak, orang itu mengakui semua kejahatannya. Tanya semua tetangga yang ada saat itu, aku yakin mereka juga masih ingat kalimat orang itu, 'Jeanne harus mati karena tak mau jadi satu denganku! Kalau aku tak bisa memilikinya, tak ada yang bisa!' ucapnya. Begitu mulut lelaki itu menutup, kakak langsung menyambar pisau tadi untuk menusuknya. Beruntung atau tidak, seseorang menghentikannya. Orang itu menarik dan memukul kakak dengan keras disertai sumpah serapah dengan aksen British yang kental.

"Dibantu ayah dan beberapa teman, kakak berhasil dijauhkan dari si pelaku. Aku terus mendampingi kakak, berusaha kembali menjernihkan pikirannya dan menjaganya agar tak kembali mendekat ke lokasi kebakaran . Namun apa daya, kakak berhasil mengecohku dan saat dia tiba disana, toko bunga dan pemiliknya hanya tinggal bongkahan hitam. Aku takut saat itu. Karena kakak hanya diam. Tidak menangis, ataupun menyalahkan para pemadam yang tidak bisa menyelamatkan kak Jeanne. Dia diam. Begitupun saat pemakaman. Tak ada air mata atau isakan darinya. Seperti boneka, kakakku waktu itu.

"Papa menyarankan membawanya ke psikiater, tapi mama dan aku tahu, kakak baik-baik saja. Karena itu kami membiarkannya pulih pelan-pelan. " Aku tertawa kecil akhirnya dan Lovino menyela,

"Kenapa tertawa?"

"Tidak. Kupikir saat itu mungkin blessing in disguise dari Tuhan."

"Maksudmu?"

"Yah, saat itulah aku jadi lebih dekat dengan keluargaku. Karena sebelumnya aku tidak mengerti bagaimana berinteraksi dengan mereka. Kami terlalu sibuk sendiri-sendiri." Aku menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan, "Saat itu, aku seperti baru mengetahui sisi lain kakakku. Kau belum liat sih kakak yang menolak ajakan teman perempuannya pakai kalimat, 'Maaf, tapi aku sedang bersama adikku. Bisa tinggalkan kami?' manis, kan?" Entah kenapa dibibirku ada cengiran saat itu.

"Terima kasih Emily, kau sukses membuatku mual."

"Kuberitahu ya, jangan terlalu membencinya, nanti kau jatuh cinta padanya lho."

"Emily, kalaupun air laut tiba-tiba berubah jadi wine, aku tetap tak mungkin jatuh cinta pa. da. nya."

Ada tawa kecil dibibirku sebelum membalasnya, "Kau tahu tidak? Dulu Arthur juga bilang begitu."

"Haah?"

"Kau ingat, tadi kubilang yang menghentikan kakak menusuk pelaku pembakaran itu orang Inggris?"

"Hm mh."

"Kurasa kau sudah bisa menebak kalau dia itu Arthur," Kutunggu sesaat, tak ada jawaban, kulanjutkan ceritaku, "Waktu itu kira-kira setahun setelah peristiwa kematian kak Jeanne. Aku dan kakak bertemu lagi dengannya di marchés alimentaires[2]. Aku menyapanya, berterimakasih atas bantuannya saat itu. Singkat cerita, setelah ngobrol-ngobrol di kedai sekitar situ, kami tahu dia seorang penulis yang kerjanya bolak-balik Inggris-Prancis dan dia jadi tahu restoran kami, lalu dia jadi pelanggan tetap kami sekaligus pasangannya kakak, end of story."

"Tunggu. Didengar bagaimapun, ceritamu itu ada plot hole nya Emily."

"Sebelah mananya?"

"Itu gimana caranya bisa tiba-tiba dia jadi pacarnya! Sementara kakakmu kondisinya lagi begitu."

"Oh itu. Hmm.. Gimana ya, dia jadi sering datang ke restoran, dan ngobrol dengan kakak. Itupun kalau bertengkar bisa didefinisikan sebagai ngobrol. Jujur saja, kami sekeluarga kaget, saat tiba-tiba kakak yang saat itu tidak punya emosi, seperti boneka, bisa merespon sarkasme orang itu dengan nada mengejek." Ada tawa miris di akhir penjelasanku, memancing kata kenapa dari lawan bicaraku diseberang sana. Kubeberkan saja semuanya, sudah terlanjur.

"Aku yang adiknya tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi dia, lelaki tak di kenal, pendatang di kehidupan kami, bisa mengembalikan kakak ke keadaan semula. Walaupun mungkin caranya salah sih. Tapi aku, rasanya tak berguna sama sekali."

Ku akhiri kalimatku dengan menenggelamkan wajah di lipatan tanganku yang memeluk lutut. Berusaha menguasai diri. Hei, aku tak mau terlihat lemah lagi. Cukup sekali aku menangis didepan pria Italia ini.

"Kau salah." Jawabnya. Tak mendapat tanggapan dariku, dia melanjutkan, "Kau sendiri yang cerita kalau kau tak pernah meninggalkannya. Bukankah itu sudah lebih dari cukup untuknya? Aku memang tidak tahu bagaimana kakakmu, tapi kalau aku jadi dia, keberadaanmu saat itu pasti berarti sekali."

Keberadaanku, ada artinya. Sembilan belas tahun aku hidup, baru kutahu kalimat sesederhana itu bisa membuat perasaan membuncah di dadaku.

"Kalau kau masih merasa ingin memberi kontribusi, ingatlah kembali apa tujuanmu bermusik, Emily." Dia melanjutkan dengan lembut.

Memberi kejutan yang cukup untuk membuatku mengangkat kepala dan memandang ke gelapnya malam.

"Membagikan rasa senang pada orang lain." Jawabku lirih.

"Ya." Dari satu kata pendeknya itu, rasanya aku bisa membayangkan senyumannya diseberang sana, "Musikmu, tidak hanya popularitas dan penghargaan bukan?"

"Ya. Ya.." Kurasakan ada senyuman diantara jawabanku,"Terimakasih, Lovino." Dan ada setetes air mata mengalir dipipi yang sudah terlalu panas ini.

"Lebih baik sekarang kau tidur, sudah terlalu larut." Balasnya setelah jeda yang entah kenapa aku yakin ada senyum disitu, "Aku tak mau buang-buang waktu melihat resital yang pianisnya punya kantung mata."

Ada nada bercanda disitu. Kembali membawa ceria.

"Iya, iya.." Sahutku dengan nada serupa.

Aku beranjak dari beranda, menutup jendela dan melangkah menuju tempat tidur sambil menunggu balasannya. Yang ternyata tidak ada. Ya sudah ku panggil saja namanya.

"Ya?"

"Terimakasih ya."

"Ya, ya, ya.. Sudah, tidur sana."

"Bonne nuit Lovino."

"Bonne nuit."

Tanpa suara, dengan sentuhan lembut di layar yang berpendar, sambunganku terputus.


[1] Titi nada mutlak atau Tala mutlak atau absolute pitch adalah kemampuan untuk mengenal suatu nada dengan namanya tanpa bantuan suatu nada rujukan, atau kemampuan menghasilkan suatu nada (misalnya dengan menyanyi) dengan tinggi nada benar tanpa bantuan nada rujukan; id. wikipedia wiki/ Tala_ mutlak ; en. wikipedia wiki/ Absolute_ pitch

[2] marchés alimentaires : Pasar mingguan yang menjual bahan makanan

.

.