DISCLAIMER | Naruto (C) Masashi Kishimoto
...
Jangan Menangis lagi, Ya!
#06 : When You Say Goodbye
Naruto dan Hinata duduk di depan kelasnya. Mereka berdua sama-sama menggunakan syal dan jaket tebal. Libur musim dingin dimulai besok, jadi hari ini adalah hari terakhir sekolah di bulan ini.
"Naruto-kun... Setelah liburan musim dingin... aku... pindah..."
Yang tadinya memainkan kaki, Naruto jadi diam. Yang tadinya tersenyum-senyum karena bisa mengobrol lama dengan Hinata, ia jadi muram.
"Ah, aku tahu, pasti Naruto-kun—"
Tes
"Hiks, hiks."
"Naruto-kun... Jangan menangis... Aku mohon..."
Percuma saja. Mata Naruto semakin panas, air terus mengalir dari pelupuk manik safirnya. Bagaimana mungkin ia tidak menangis, ia harus berpisah dari Hinata, orang yang dikenalnya baru empat bulan lalu. Sudah begitu, Naruto telah terlanjur sayang pula.
"Hiks hiks," Bahu Naruto naik-turun karena sesenggukan. "Hinata-chan, jangan pergi dulu, hiks. Kita baru saja berkenalan, 'kan?"
Hinata ikut sendu. Dalam hatinya juga tak rela jika harus berpisah dengan Naruto. Tapi apa boleh buat, kalau ayahnya sudah memerintah, tidak mungkin dilanggar oleh siapapun, termasuk anaknya sendiri.
"Iya, ya? Tapi, aku juga tidak tahu harus bagaimana..."
"Hueee... Hinata-chan, jangan pergiii... Hueee..."
Ah, pecah juga.
"A-aku tidak pergi jauh, kok! Hanya di luar kota!"
"Hiks, itu jauh, tahu. Aku tidak bisa berjalan kaki ke sana, hiks."
Benar. Sepertinya Naruto benar-benar telah menyayangi Hinata. Tapi..., kalian masih anak TK, 'kan? Hee.
"Aku... tidak tahu harus bagaimana, Naruto-kun..." Hinata menunduk sedih. "Aku juga... tidak mau pergi."
Naruto kecil melompat turun dari bangku. Ia menyeka terus air yang keluar dari mata dan hidungnya. Pipinya basah semua. Ia membelokkan badan, seperti ingin pergi dari Hinata.
Tak mungkin Hinata kecil membiarkan itu. Ia juga melompat turun dan mengambil beberapa lembar tisu. Ia berjalan ke hadapan Naruto yang terus berusaha mengeringkan bagian wajahnya. Tangan mungil Hinata segera membantu menyeka bagian wajah Naruto yang basah.
"Naruto-kun," Hinata ingin menangis juga, tapi tak bisa, entah kenapa. "Jangan menangis... Jangan menangis, hiks."
Naruto berhenti menangis. Hinata mengeluarkan air mata saat tengah menyeka pipi Naruto.
"H-Hinata-chan!"
"Aku, hiks, tidak mau berpisah dengan Naruto-kun, hiks."
Tangan Hinata berhenti bergerak, kembali ke posisi normal, namun bergetar di sisi-sisi tubuhnya. Seketika, Naruto malah tercengang. Matanya terbuka lebar—jelas, baru kali ini ia lihat Hinata menangis.
"Hinata-chan..."
"Hiks hiks, Naruto-kun, hiks, jangan menangis lagi, ya, hiks hiks..."
Di tengah derasnya aliran air mata, Hinata tersenyum mengatakan kalimat itu. Naruto merasa seperti di surga saat melihatnya. Padahal masih umur segitu, tapi sudah mengenal rasa sayang terhadap lawan jenis. Kekuatan cinta memang hebat. Cupid mana cupid?
"U-hueee..." Tangis Hinata meledak. "Jangan menangis, Naruto-kun... Hueee..."
Naruto tertawa dengan imutnya. "Aku sudah berhenti menangis, lho."
...
Hari pertama masuk sekolah setelah libur musim dingin. Sepulang sekolah, Naruto dan Hinata pulang bareng seperti biasa. Mereka berjalan bergandengan ditemani matahari siang yang tak terlalu terik dan dipayungi beberapa gulali putih di atas langit sana. Di dalam hati masing-masing masih terasa sedih karena harus berpisah sore ini.
Pertigaan sudah di depan mata. Setelah ini, seharusnya mereka akan berbelok berlawanan. Tapi keduanya berhenti bersamaan. Keduanya membuka ransel masing-masing bersamaan.
Pertama, Naruto mengeluarkan sebuah boneka musang. Kulitnya berwarna cokelat dan berekor sembilan.
"Ini boneka Kurama, tokoh kesukaanku di kartun Bijuu. Kurama adalah musang berekor sembilan, hewan terkuat di Kelompok Hewan Berekor."
Naruto mengulurkan tangannya ke depan. Hinata tidak segera mengambilnya, namun menunjukkan hadiahnya terlebih dahulu. Ia tersenyum.
"Ini dompet Gamabunta, sahabatnya Kurama," ucapnya sambil tertawa, matanya sudah berkaca-kaca. "Aku juga suka Bijuu. Kita akan seperti Kurama dan Gamabunta, 'kan?" Dengan suara bergetar, ia menyerahkan dompet berbentuk katak dengan mulut sebagai pengaitnya itu pada Naruto.
Keduanya saling menerima pemberian masing-masing.
"U-hueee... Naruto-kuuun... Hiks, kenapa jadi aku yang menangis duluan, hiks. Hueee..."
Naruto merogoh saku celananya, mengambil sapu tangan. Ia mendekati Hinata dan mengusap air mata anak berambut indigo itu, seperti yang dilakukan Hinata sekian kali padanya tempo hari.
"Pegang saja sapu tangannya. Sampai jumpa! Belajar yang baik, ya, Hinata-chan!"
Naruto meninggalkan Hinata dan melambaikan tangan mungilnya.
"K-KATA AYAH, 'LAKI-LAKI TIDAK BOLEH MENANGIS'!"
Naruto berhenti sebentar untuk tersenyum, lalu berjalan lagi.
"Sampai jumpa." bisik mereka berdua bersamaan—tanpa saling tahu.
Hinata masih menangis di tengah jalan yang sunyi, masih mengandalkan sapu tangan dari Naruto untuk menyeka air matanya. Setelah dirasa cukup, ia berjalan pulang sambil menyisakan isakan dan wajah anak kecil yang sedih sekali; bibirnya agak manyun dan alis bertaut. Sapu tangan Naruto dipegangnya di tangan kanan, sedangkan tangan kirinya terkepal. Huh, seperti sudah dewasa saja, ya!
Malamnya, malah Naruto yang menangis. Ia duduk di tempat tidurnya sambil memandang sinar bulan purnama dari jendelanya.
"... LAKI-LAKI TIDAK BOLEH MENANGIS!"
Ia teringat kalimat Hinata tadi siang. Yang dikatakannya bukanlah "Jangan menangis lagi, ya.", namun lebih kepada peringatan terakhir yang membuat Naruto akan ingat terus pada Hinata. Mungkin. Kalimat itu memang lebih menusuk, 'kan? Mungkin saja karena kalimat dari Hinata itu, Naruto tidak akan menangis pada hal-hal sepele lagi!
"Hiks, aku janji, hiks, ini hari terakhir aku menangis, hiks."
Wajah Naruto seperti berusaha untuk menahan tangis, persis seperti Hinata saat berjalan pulang sepulang sekolah tadi; bibir manyun dan alis bertaut. Kedua tangannya sibuk menahan air mata yang terus mengalir.
Dari ruang keluarga, Minato mendengar suara tangisan Naruto dan hendak menanyakannya. Ia membuka pelan pintu kamar Naruto, lalu—
"Hinata-chaaan, hiks, jangan pindaaah, hueee..."
Ayah Naruto tidak jadi masuk, malah menutup pintu kamar itu lagi perlahan agar tak didengar oleh anaknya. Ia bersandar di pintu sambil mengurut dahinya, "Sebenarnya, usia Naruto berapa, sih?"
-OWARU/FINISHED/SELESAI-
Maaf lama apdet-nya, karena saya baru berduka, jadi banyak acara adat (kata-kata penghiburan) dan udah mulai sekolah, jadi ga sempet buka net (:
Hueee, nggak nge-feels sama sekali TwT *nangis bawang* Saya aja yang nulis nggak nge-feels, apalagi—tapi semoga readers nge-feels, yaaa TTATT *berharap*
Sedih itu saat baru kenal beberapa bulan, udah terlanjur saling sayang, malah harus berpisah. Kan sedih :') Maaf bila karakterisasi seenaknya; Masa' iya anak TK udah sayang-sayangan? Maaf!
Sampai jumpa~
