Sekian waktu berlalu cepat. Kini tiba hari dimana Eren akan menari bersama dengan Levi. Seperti pesan Hanji tempo hari, Eren menjaga jarak dan sebisa mungkin menyesuaikan dengan Levi. Eren tidak tahu ada apa, tapi jelas rasanya aneh ketika seniornya itu berada dekat dengannya.
Perayaan itu berjalan mulus, semulus tarian Eren. Tidak ada hal aneh terjadi sampai perayaan berakhir selain Levi yang tiba-tiba membanting gelas kaca.
"Anda baik-baik saja?" Eren mendekat-nekat.
'Jangan mendekat, Eren. Aku tidak akan bisa menahan diriku kalau kau mendekat.' Batin Levi. "Pergi," perintah Levi.
"Tapi-"
"Pergi, Eren."
"Apa saya mengecewakan anda?" Tanya Eren naif. "Maaf."
"Sudah malam, Eren. Kubilang kau pergi sekarang atau-"
"Aku tidak bisa meninggalkan anda sempoyongan begini sendirian!"
Serigala sudah meminta domba untuk lari, tapi ia menolak. Artinya, domba siap dimakan serigala sekarang juga. Levi meraih tubuh Eren, mendorongnya kuat-kuat ke dinding terdekat, memeluknya erat, dan mengusap rambutnya pelan.
"Kalau kau tidak mau pergi, aku takkan bisa menahan diri lagi, bocah. Kau ini masih polos, tahu apa tentang aku." Levi mengusap pipi Eren sebelum mencium bibirnya-ciuman pertama Eren.
"Apa-" Eren mendorong Levi kuat-kuat, kemudian lari sekuat tenaga tapi Levi meraih tangan kirinya.
"Kau bocah sial yang membuatku gila, Eren. Besok aku akan mengunjungi rumahmu."
Eren melepaskan diri dan lari segera. Ia tidak peduli apapun, yang jelas ia harus segera pulang. Ia takut, sangat takut hingga kakinya gemetar tanpa henti sepanjang jalan. Ia percaya adanya penyuka sesama jenis, tapi ia tak mengira akan sedekat itu. Eren tidak pernah berharap mengalami itu. Selama ini ia menganggap rangkulan, sentuhan, atau tatapan mata seperti itu adalah hal wajar, tapi hari ini ia sadar itu salah. Selama ini ia selalu menjadi korban, tanpa ia sadari. Eren mulai menangis, merinding, geli, muak bercampur jadi satu. Ia tidak mau dimanipulasi seperti ini!
"Ayah! Besok, Ayah jangan ada di rumah!" Teriak Eren sambil membuka pintu rumah
Nafasnya memburu, tapi ia takkan bilang mengenai apa yang menimpanya barusan
. "Kenapa?" Tanya Grisha-ayah Eren.
"Sudah, Ayah pergi saja!" Eren mengamuk, lari ke kamarnya. Semua orang di rumah bingung, termasuk Carla dan Mikasa.
Eren mengunci diri di kamarnya sampai siang hari berikutnya. Bingung, panik, takut menggelayuti pikirannya, apalagi saat ia melihat Levi datang.
"Apa maunya?" Gumam Eren mendengarkan dari balik pintu.
Di ruang tamu, Levi dan orang tua Eren duduk. Levi menunjukkan wajah datar seperti biasa, sehingga orang tua Eren tidak curiga sedikitpun.
"Jadi begitu.." Carla menatap suaminya sebentar. "Tolong jaga Eren, ya."
"Saya tidak mungkin meragukan anda," Grisha menyambung.
"Saya yakin Eren senang berada bersama anda."
'Tunggu dulu. Apa maksudnya? Hei? Kata-kata itu, apa Ayah tidak sadar? Aku sedang dilamar, Ayah! Oleh seorang laki-laki.." batin Eren panik. 'Sudah kubilang kau pergi saja huhh Ayaahh!'
"Saya tidak mengira anda berdua menerima saya. Tapi memang benar, saya sangat menyayanginya dan saya janji untuk menjaganya.." Suara Levi menembus telinga Eren, membuat jantungnya seperti mau pecah. Takut. Ayolah, ini memang menyeramkan bagi orang awam.
"Tentu. Kami percaya pada anda.."
Eren langsung naik ke ranjang dan menarik selimut lalu menangis.
Dua hari Eren demam dan tidak sekolah. Setelah ia kembali pun, Eren tetap tampak pucat, lemah, dan memprihatinkan. Ia terbebani betul dengan masalah hati ini. Bum pernah pacaran, dan diperlakukan istimewa oleh lelaki. Minus sudah harga dirinya sebagai laki-laki.
"Armin, ini siapa?" Tanya Eren seraya menunjuk foto seorang pria. "Kekasihmu?" Eren bercanda.
"Eh.. err..aa.. iya." Jawab Armin serius. Eren melongo. Baru sebulan ia melupakan Levi-menghindar lebih tepatnya-karena Levi menyukai sesama jenis, ternyata sahabatnya sendiri demikian. Dengan pria yang lebih tua dari Levi pula. Kenyataan memang mengerikan. Apa di kelas ini hanya Eren yang merasa geli?
"Oh.. bagaimana bisa?" Eren menggumam, tapi Armin mendengar.
"Tadinya aku takut. Tapi, dia begitu baik padaku dan sungguh mencintaiku, Eren. Aku tidak bisa menolak karena dari lubuk hatiku, aku menginginkannya."
Penjelasan yang mencerahkan. Eren tidak mau dan tidak suka, jadi dia takkan menjalaninya. Selesai.
Belum sempat Eren mengganti buku pelajaran, guru sudah datang. Alhasil, dia keabakan sendiri dan dihukum-sendiri. Ia harus berdiri di lapangan karena dianggap tidak menghargai guru. Ah, dasar gurunya kolot.
Lapangan sekolah itu luas, di beberapa sisi lorong yang menghadapnya ada mading, koran, atau hasil karya siswa. Biasanya Eren tidak peduli, tapi ada berita di koran yang membuatnya mendidih.
"SEORANG REMAJA DISUKAI KETURUNAN RAJA"
Ini pasti Levi. Apa-apaan dia, semaunya sendiri. Mentang-mentang punya kuasa dia melakukan apa saja seperti ini. Tidakkah ia berpikir tentang perasaan Eren? Ah atapi Eren juga tidak mengerti dengan perasaannya, sih.
Dirobeknya koran itu, lalu dilemparnya ke tong sampah terdekat. Ia melupakan hukumannya dan berlari ke UKS-hatinya sakit. Ia akan membuat surat permohonan izin istirahat di UKS karena sakit, daripada ketahuan menangis seperti orang gila di pinggir lapangan.
"Mengerikann," desis Eren merinding.
Beberapa hari setelah itu, Eren tidak masuk sekolah lagi. Kepalanya sakit, dalam artian denotatif dan konotatif-ganda. Ia tidak tidur berhari-hari dan kepalanya penuh dengan Levi. Ia takut. Orang yang dikabarkan sangat misterius itu tanpa basa basi datang melamarnya, tanpa pendekatan, tanpa apapun.
"Dikiranya aku ini apa.." gumam Eren kesal sambil meremas selimutnya-frustasi.
Pada dasarnya Eren tidak benci pada pria berambut hitam kelam itu, ia hanya takut. Ia merasa ingin menghindar, jangan sampai bertemu lagi dengannya kalau bisa. Tapi, ia tidak mungkin melakukan itu, karena pasti Levi akan mengejarnya dan matilah Eren nanti. Ia terlalu muda untuk masuk ke dunia orang dewasa yang serius.
Eren menjerit dalam hati lalu memaksakan diri tidur.
xxxxxxxxxx
Di bawah langit yang sama, Levi duduk di bangku taman istana. Di hadapannya ada Hanji yang sengaja menemuinya. Pagi sudah tak berkabut, tapi suasana dingin disana tak terdeskripsikan lagi. Levi menyilangkan tangannya seraya bertanya, "ada perlu apa?"
"Ini tentang Eren."
Levi mengernyitkan kening. Alisnya terangkat satu, tapi eksoresinya tak berubah banyak.
"Apa kau tahu dia sakit setelah apa yang kauperbuat padanya?" Hanji memulai percakapan dengan wajah serius-langka.
"Kau bicara seolah aku baru saja memperkosa seorang anak dibawah umur. Apa yang kuperbuat padanya sampai dia sakit? Tidak ada," Levi menukas dengan nada terganggu.
"Kau tahu, dia anak polos yang baik. Kurasa tindakanmu terlalu tergesa dan dia syok. Aku kehilangan anak ceria yang biasa menari bersamaku, Levi. Kau membuatnya ketakutan."
"Hm. Lalu?"
"Entahlah. Aku tidak tahu. Aku hanya ingin Eren baik-baik saja. Jangan libatkan dia dalam masalah, Levi. Dia terlalu kecil untuk terlibat dalam masalahmu."
"Hm, kau tahu masa laluku. Secara implisit kau ingin aku meninggalkan Eren dan juga meninggalkan masa laluku, bukan? Tapi kau harus tahu Hanji, Erwin memintaku kembali. Tentu aku takkan melibatkan bocah itu, karena aku tidak sebodoh itu. Pergilah."
"Dengar, Levi. Aku cuma teman masa kecilmu, aku tidak bisa bayangkan bagaimana sulitnya hidupmu. Tapi, tolong. Kalau kau mau kembali ke duniamu, jangan bawa Eren. Itu saja. Permisi."
Levi menghela napas panjang, kemudian mengambil benda terdekat sebelum melemparnya jauh-jauh. Ia kesal. Sambil menggertakkan gigi, ia bangkit dan pergi. Mobil hitamnya sudah menunggu di garasi, siap meluncur. Tujuannya satu, rumah Eren.
Xxxxxxx
Masih bergelung dalam selimutnya, Eren ditepuk oleh sebuah tangan. Ini bukan tangan ibunya, juga bukan tangan ayahnya. Ini tangan Levi.
"Hah?!" Eren melonjak panik. "A-Apa-"
"Kudengar kau sakit.." Levi menempelkan tangannya ke pipi Eren, membuat remaja itu seperti disetrum karena rasa geli bercampur risih.
"Jangan sentuh!" Eren menampik tangan Levi. Mata hijaunya marah.
"Aku mengkhawatirkan keadaanmu."
Eren nyaris berteriak, "kalau kau sungguh peduli pada keadaanku, pergilah dari hidupku!"
Penolakan Eren seperti api yang jatuh di tumpukan kayu. Levi terbakar. Emosinya tak terkontrol, kembali seperi masa lalu. Tangan itu tanpa sadar melayang, menampar remaja di hadapannya itu dengan kuat.
Eren membeku seketika. Panas di pipinya mengosongkan pikirannya. Nafasnya tercekat, air matanya menetes.
"Dengar, bocah. Aku menginginkanmu, dan aku harus mendapatkannya. Aku bisa melakukan apa saja yang aku mau, termasuk memilikimu. Kau boleh menolakku, tapi pada akhirnya kau akan datang padaku. Semua akan terjadi begitu saja, tanpa perlu kukendalikan," Levi menengadahkan Eren dan menciumnya paksa. "Hanya aku yang bisa melindungimu."
Levi beranjak pergi begitu saja, meninggalkan Eren ketakutan di tempat tidurnya sendiri.
Memeluk dirinya sendiri, Eren gemetar. Rasanya ia ingin lari ke jurang yang dalam agar tak seorang pun menemukannya.
"Apa yang harus kulakukan?" Isaknya seraya membenamkan kepalanya ke bantal agar tangisnya tak tumpah-setidaknya tak tampak kalau-kalau ibunya atau siapapun tiba-tiba masuk. Takkan ada yang percaya kalau Eren menceritakan ini, semua akan mengira dia mengarang cerita.
Putus asa, Eren menelan obat tidur dari laci meja dan segera tidur. Ia berharap, waktu segera berlalu atau kalau bisa dunia sudah berubah ketika ia bangun nanti.
