Math
Disclaimer (c) Fujimaki Tadatoshi
Story (c) Chesee-ssu
Rate: T
Beware of typo(s), OOC characters, etc, etc
Happy reading...
"Ma, lihat! Abang yang rambutnya merah itu seram sekali."
"Hush! Jangan dilihat, Nak. Nanti kamu dapat sial."
Percakapan ibu dan anak yang berada di dalam kafe itu bukanlah bualan. Manusia-katakanlah begitu-yang berambut merah ini memang seram, lihat saja, urat-urat di pelipisnya menyembul keluar, belum lagi tanduk imajiner tiba-tiba nampak secara ajaib. Yah … bisa dibilang, orang itu lebih mirip setan yang turun ke bumi lalu siap menghancurkan umat manusia. Dan karena Akashi sedang jengkel setengah mati, tentu saja anak yang tadi mengatainya seram mendapatkan pelototan gratis yang membuat anak itu takut setengah mati, ia bahkan mendengar sang ibu merapal doa-doa kemudian cepat-cepat keluar dari kafe.
Akashi menghela napas. Tahu begini mereka belajar di rumahnya saja. Daripada di sini, sudah ramai, orang yang diajari bikin jengkel, pengunjung yang lain pun bikin dia jengkel.
"Akashicchi jangan ngambek begitu, dong," Akashi mendelik pada orang yang duduk di depannya, terpisahkan oleh meja dan buku-buku yang berisi rumus-rumus matematika. Sumber kekesalannya malah seenak jidat bilang begitu, Akashi jadi tambah murka.
"Kau itu, ya … astaga … kaupikir aku kesal gara-gara siapa, hah?"
Marah Akashi mulai mereda ketika melihat Kise menundukkan wajahnya, bergerak-gerak gelisah karena tahu bahwa ia yang membuat Akashi kesal.
"Maaf," Kise buka suara, matanya dan Akashi saling bertemu. "Tapi, hei! Ini 'kan bukan salahku juga. Matematika, 'kan memang sulit, Akashicchi. Aku berusaha untuk memahami rumus-rumus sialan ini, tapi rumus-rumus ini tidak mau memahamiku." Rengek Kise dramatis, Akashi jadi tambah pusing.
"Oke aku hargai usahamu. Tapi, tiga hari kita baru belajar SATU materi dan pemahamanmu NOL BESAR." Saking kesalnya Akashi menekankan kalimat 'satu' dan 'nol besar'. Sumpah, kalau kalian bertanya pada Kise lebih berani mana menghadapi hantu atau Akashi yang sedang kesal, memilih menghadapi hantu mungkin lebih baik baginya.
Memberanikan diri, Kise pun mulai bicara lagi, memutar otak untuk berargumentasi.
"Tapi, Akashicchi. Materi fungsi komposisi ini sulit."
"Sulit darimana, sih. Yang perlu kau lakukan hanyalah menggabungkan dua fungsi jadi satu. Misalnya," Akashi mengambil penanya, mulai menulis. "fungsi f(x) nya itu 2x + 1 dan fungsi g(x) nya 2x-1. Yang diminta fog (x). Jadi, fungsi g(x) nya dimasukkan ke fungsi f(x)." Akashi menatap Kise lurus. " Sampai sini paham?"
Kise mengangguk sebagai jawaban.
"Oke, kita lanjut. Fungsi f(x) itu 2x+1, kita masukkan fungsi g(x)nya ke fungsi f(x), jadinya 2(2x-1)+1." Akashi menyeruput melon sodanya, kerongkongannya kering. "Jadi hasil dari fog (x) adalah 4x-2+1, kita sederhanakan jadinya 4x-1. Paham?"
Kali ini, ada secercah harapan bagi Akashi, raut wajah Kise menunjukkan tanda-tanda bahwa ia paham. Walaupun tidak seratus persen paham, tapi setidaknya ia bisa bernapas lega.
"Nah, Akashicchi." Kise tersenyum cerah, nampak bunga-bunga imajiner bermekaran sana-sini. "Karena aku sudah paham, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja? Maksudku, 'kan dari awal kita di sini mau kencan."
Akashi mengulum senyum. Hoo, mau modus rupanya.
"Ryotaku sayang," masih dengan senyum yang sama, Akashi berbicara. "Waktu harus digunakan sebaik-baiknya, oke? Bukannya malah bagus kencan sambil belajar? Sama seperti membunuh dua burung dalam satu batu."
"Tapi, 'kan, kita sudah belajar tiga hari berturut-turut. Otakku rasanya mau pecah. Lagipula, kenapa Akashicchi ngotot sekali, sih, mengajariku?"
"Karena aku tidak mau punya pacar bodoh."
"Hei!" Kise menaikkan suaranya. "Kalau Akashicchi tak mau punya pacar bodoh, putuskan saja aku. Cari pacar yang baru."
Akashi terkekeh pelan, lucu rasanya kalau melihat Kise marah, telinganya bisa berubah menjadi merah.
"Apa? Kenapa tertawa?"
Tuk. Gelas melon soda yang Akashi pegang kini ia taruh di atas meja. "Tidak apa, aku suka melihatku marah. Telingamu jadi merah kalau marah."
Kise otomatis menutup telinganya.
"Dan, oh. Mungkin kau memang kurang di pelajaran matematika ini, tapi selebihnya, nilai-nilaimu bagus. Jadi aku masih belum masih memutuskanmu, karena kau masih punya otak." Salakan "Hei!" dari Kise ia abaikan. "Belum lagi kau manis, kalau aku melepasmu, bisa-bisa kau bakal jadi permata yang tak terawat."
"Akashicchi, bahasamu terlalu tinggi, aku jadi pusing."
"Kalau begitu mau ke Disneyland? Biar pusingmu hilang."
Mata kuning bagai lampu pijar itu berbinar-binar senang. "Benarkah? Sekarang?"
"Yap. Tapi ini masih terik, mungkin nanti kalau sudah agak sore baru kita ke sana. Bagaimana?"
Seperti anak kecil, Kise melompat dan memeluk Akashi saking senangnya. Untung saja kafenya sepi, walau dari luar mereka bisa merasakan tatapan orang-orang yang melihat mereka di jendela kafe, sedikit memalukan, tapi tak apa.
"Sudah tak marah lagi?" kini Kise duduk di pangkuannya, ia menggeleng pelan, senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Nah, karena kita nanti jalan-jalan. Pulangnya kau harus mengerjakan semua latihan fungsi komposisi, oke? Besok ketika jam istirahat, kukoreksi."
"Semua, Akashicchi?"
"Iya. Semua, Sayang~"
Tahu begini, mending Kise minta putus saja.
a/n:halooo, astaga ga kerasa tiga tahun fic ini terbengkalai, dan yahh, karena tiga tahun dan saya sudah kuliah, jadi saya lupa semua pelajaran matematika waktu sma, dan akhirnya liat di internet lagi materi-materinya, maafkan kalau salah wkwkw mungkin bisa dibenerin kalo salah XD dan juga, karena saya hampir lupa keseluruhan jalan ceritanya jadi saya rombak (?) deh. Dan karena prinsip saya yg gamau discon fic jadinya ga jelas gini wkwk. Semoga chap ini suka ya XD dan ya, kritik, saran, sangat diperlukan disini, makasih udah baca *terbang melayang dengan naga tercinta*
