Disclamer : Naruto, Boruto and all character belongs to Masashi Kishimoto, Ukyō Kodachi, Mikio Ikemoto. I didn't receive any profit in this fanfiction.


Trilogy Journey of Love 2 : What Can I do?

By Raika Miyazaki

Character : Boruto Uzumaki, Sarada Uchiha, Sumire Kakei

Genre : Hurt / Comfort / Romance

Rating : T

Warning : AU, OOC(berusaha tidak OOC pastinya) , typo(s) yang bertebaran, Bahasa "Lu – Gue" dan agak sarkasme, EYD masih berantakan, dll.

Summary : Entah kenapa tatapan wajahnya berbeda dari biasanya padaku? Kenapa hanya pada Mitsuki yang berbeda? Ada apa sebenarnya ini? Sejak Mitsuki pindah kemari, kenapa Sarada lebih dekat dengannya dibanding denganku? / Boruto's POV

A/N : Biar ceritanya ga kaku, ku buat percakapannya bahasa sehari-hari ya :D soalnya kok berasa garing yang kemarin itu hohohoho :"v tapi kalo ternyata kurang bagus ku ubah lagi ke biasanya deh XD oh iya selamat menikmati " Trilogy Journey of Love : Chap 2" :*


.

.

~ Happy Reading All ~

.

.


Bagimu aku ini apa

Pernahkah kau memikirkanku?

Kau selalu berbeda setiap kali aku melihatmu

Aku jadi bingung

.

.

"Bor!?"

"Eh apa?"

"Lu napa bengong kayak ayam ga dapet jatah pagi sama istrinya?"

"Sialan lu pala ijuk! Lu minta di timpuk nih buku Ekonomi!?" sahutku kesal melihat temanku dari kecil selain Sarada –Shikadai.

"Gue udah pinter kali ga butuh lu timpuk make tuh buku," ujarnya seraya menghindar dari pukulanku.

"Ciih!" Aku mendecih. "Lagipula emang kenapa gue bengong? Gue ga ganggu tidur lu ini kan?"

"Justru lu aneh kalo begitu, bro. Tumbenan aja pagi-pagi lu kayak gitu?" tanya Shikadai padaku.

"Ga ada." Kulihat ke arah jendela yang berada tepat disampingku yang memperlihatkan dedaunan yang perlahan tidak mampu untuk bertahan di ranting pohon yang selama ini memberinya kehidupan. Tunggu? Kenapa aku malah melankolis begini!?

"Nah kan bengong lagi lu! Ngopi lah ngopi!" Tiba-tiba sebuah tangan melingkar erat di leherku.

"Woooy! Sakit ooy!" seruku mencoba melepas cekikan dari temanku yang lainnya –Iwabe.

"Lu pagi-pagi udah bengong aja. Ngomong dong ma kita-kita lu kenapa?" sahut Iwabe melepas cengkramannya dariku. Haaah ... akhirnya bisa bernafas lega.

"Gue cuma ngantuk, guys! Sudahlah sana duduk lu pada. Gue mau tidur aja." Ku letakkan kedua tanganku diatas meja dan menenggelamkan kepalaku di antara lipatan tanganku.

"Ini bocah napa yak!? Hari ini ga ada asik-asiknya."

"Hoaaaam ... entahlah. Gue pengen ikutan tidur juga dah mumpung belom masuk."

"Buset dah lu berdua. Terserah lu pada dah. Ini tumben si Kagura belom kelihatan?"

"Kenapa lu? Kangen sama dia?" sahutku mengejek ke Iwabe.

"Pea lu! Lu kira gue homo apa!?" maki Iwabe padaku dan ku balas tawa cukup keras.

"Pagi semua." Sebuah suara menginterupsi kami. Aku pun melihat siapa yang menyapa kami.

"Hoo, si muka pucat."

"Namaku Mitsuki, Iwabe Yuino-san." ujar Mitsuki.

"Sudahlah Iwabe, jangan memancing keributan di pagi hari dong," sahut suara yang juga kukenal dari belakangnya Mitsuki.

"Kagura, lu dicariin si Iwabe tuh!" sahutku padanya. "Katanya dia kangen sama lu!"

"Sialan lu pisang! Gue bonyokin lu baru tau rasa!"

"Ampuuun Iwabe! Sakiit ooy!"

"Kalian! Pagi-pagi sudah ribut aja!" teriak Sarada dari kejauhan.

"Wooowooow ... Sarada mengamuk! Cabut dah!" Iwabe langsung melepaskanku. Gila nih anak tenaga badak juga ya!?

"Sangkyu, Sar. Kau penyelamatku."

"Lu pagi-pagi bikin onar aja sih bisanya. Heran gue sama lu, Bor." Sarada menghela nafas panjang padaku.

"Yeee, sorry lah. Lu kan tau cowo di kelas kita gimana."

"Pagi, Sarada."

"Oh! Pagi Mitsuki. Kau tidak ikutan seperti mereka kan?"

"Tidak. Aku baru datang sebelum kau datang." Mitsuki tersenyum ke arah Sarada. Entah kenapa aku tidak menyukai hal itu.

"Oh baguslah." Sarada balas tersenyum. "Kupikir kau ikut kekonyolan mereka."

"Kurasa akan menyenangkan. Benar kan, Boruto?"

"I, iya! Ikutan saja dengan kami, Mitsuki." sahutku merangkul bahu Mitsuki. "Kau tidak perlu khawatir, Sarada."

"Haaaaah ... terserah kalian saja deh." ujar Sarada. "Lebih baik kalian duduk deh, sebentar lagi Konohamari-sensei masuk."

"Duluan ya, Boruto." Mitsuki berpamitan padaku dan berjalan di belakang Sarada.

Kulihat Sarada dan Mitsuki bercanda sebelum mereka duduk di kursi mereka yang letaknya bersebelahan. Entah kenapa tatapan wajahnya berbeda dari biasanya padaku? Kenapa hanya pada Mitsuki yang berbeda? Ada apa sebenarnya ini? Sejak Mitsuki pindah kemari, kenapa Sarada lebih dekat dengannya dibanding denganku?

.

.

Kau punya waktu untuk orang lain

Tapi tak punya waktu untukku

Ini tak adil, kenapa kau harus

Membuat kesabaranku habis

.

.

"Hey! Sarada! Mau makan siang bareng ga!?" ajakku pada Sarada yang masih merapikan buku-buku miliknya.

"Hm? Gue ada perlu sebentar sih," ujar Sarada. "Kalau lu lapar, duluan aja nanti gue menyusul."

"Gue ikut dengan lu saja ya?"

"Tumben? Gue mau ke perpustakaan dulu." Raut wajah Sarada terlihat bingung. "Lu mau ikut ke tempat membosankan itu?"

"I, itu ... " Uuukkh tau saja dia kalo aku tidak terlalu suka berlama-lama disana. Tapi aku ingin memastikan sesuatu, apa cuma perasaanku saja kalau Sarada berubah?

"Boruto-kun."

"Ketua kelas!?" Aku terkejut melihat Sumire berada di sampingku. Astagaaaaa! Kenapa mendadak! Aku kan belum siap!?

"Kau mau makan siang?" tanya Sumire. "Kalau kau mau, aku ingin ikut denganmu."

"Nah, tuh sama Sumire saja Boruto."

"I, itu ..."

"Nah sudah ya! Gue udah ditunggu Mitsuki disana." ujar Sarada menunjuk Mitsuki yang tersenyum ke arah sini dari dekat pintu kelas.

" . . . . . . . . . . . . . ." Kenapa? Sarada malah pergi dengannya!?

"Duluan ya!" Kurasakan Sarada begitu saja melewatiku dan berlari ke arah Mitsuki. Sebelum mereka pergi, kulihat Sarada tertawa kecil dan akhirnya mereka menghilang dari pandanganku. Aku tidak mengerti kenapa aku tidak suka melihatnya bersama Mitsuki?

"Boruto-kun?"

"Aaah, iya maaf ketua kelas. Ayo ke kantin! Udah ditungguin yang lain!" ajakku padanya. Kesampingkan dulu deh soal Sarada. Kapan lagi uum ... bisa makan siang bareng yang ditaksir kan?

"Hooy, Boruto!"

"Yo!"

"Lah? Sarada mana?" tanya Shikadai. "Loh ada ketua kelas juga?"

"Bolehkah aku ikut kalian makan siang? Wasabi-chan dan Namida-chan lagi ada perlu di ruang guru."

"Tentu saja! Boleh kan teman-teman?" kataku sedikit penekanan pada mereka bertiga. Awas saja kalo mereka 'bocor' mulutnya.

"Eheeem boleh kok ketua kelas."

"Iya tentu saja boleh."

"Hoaaaam ... ayo kita ke kantin deh."

"Lu masih aja ngantukan, Shikadai?" ujarku menepuk Shikadai. "Padahal lu dah sukses tidur tadi di pelajaran sejarah."

"Benarkah itu, Shikadai-kun?"

"Eetto ... Maafkan aku, ketua kelas."

"Sudah, sudah ... kapan kita ke kantinnya kalo begini?" sela Kagura.

"Oh iya benar juga! Ayo ke kantin, keburu ramennya penuh nih!" Iwabe langsung berjalan mendahului kita semua.

"Hooy, Iwabe! Jalannya jangan cepat-cepat dong!"

"Hoaaaam ... mendokusai." Kulihat ketiga temanku itu sudah berjalan menjauh dariku dan Sumire.

"Hehehehe ... Mereka heboh sekali ya," ujar Sumire padaku dengan tawa kecilnya. Mendengar tawa kecilnya membuatku tersipu malu.

"Maafkan mereka ya, ketua kelas."

"Tidak perlu minta maaf kok. Teman-temanmu menyenangkan."

"Oke deh ayo kita susul mereka."

"Ayo!"

Huft ... sebaiknya ku kesampingkan dulu saja soal Sarada. Mungkin lain waktu aku bisa menanyakannya.

.

.

Kau jahat, dan aku tahu itu

Lalu kenapa aku

Mengejarmu?

.

.

"Hooy! Sarada!" panggilku padanya yang berjalan keluar kelas. Kuberlari mendekatinya yang sudah berada di pintu kelas.

"Ada apa, Bor?"

"Hmmm ... pulang bareng yuk." ucapku canggung. Entah kenapa rasanya sangat aneh, saat mengajaknya pulang? Aku tidak mengerti kenapa begini.

"Maaf gue ga bisa."

" ... Kenapa?"

"Gue udah janji ... "

"Pada sia- "

"Sarada." Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, sebuah suara yang cukup kukenal menginterupsi pembicaraan kami.

"Ah, ada Boruto rupanya."

"Mitsuki? Bukannya lu sudah pulang?" tanyaku padanya yang tiba-tiba muncul di hadapan kami.

"Gue janjian untuk pulang bersama." Sarada menyela pertanyaanku pada Mitsuki.

"A, apa?"

"Kenapa? Apa ada yang salah, Boruto?" Mitsuki melihat ke arahku.

"Ti, tidak kok ahahahahaha ... tidak biasanya kalian pulang bersama."

"Oh itu karna kami ingin belajar bareng sambil membahas tugas kelompok, apa kau mau ikut?" Dengan tersenyum Mitsuki mengajakku.

"Apa tidak masalah?" tanyaku agak ragu.

"Tidak masalah kok. Benar kan Sarada?"

"Ah iya, terserah kau saja Mitsuki." Sarada berlalu dan berjalan mendahului kami.

" . . . . . . . . . . . . " Aku hanya bisa terdiam melihat Sarada berjalan mendahuluiku dan Mitsuki.

"Ayo kita jalan, Boruto." Dengan tersenyum Mitsuki menepuk pundakku. Dan kami pun mengikuti langkah Sarada yang sudah terlebih dahulu berjalan di depanku. Ada apa dengan dia? Kenapa seperti ... menghindariku?

"Boruto?"

"Ah, iya ada apa, Mitsuki?" Aku terkejut dengan

"Aku hanya penasaran ... " ujar Mitsuki. "Tentang kalian."

"Hah!?"

"Kalian rasanya sangat dekat bukan?"

"Ke, kenapa kau bertanya, Mitsuki?"

"Apakah kalian sepasang kekasih?"

"Hah!? Bu, bukan! Kami hanya teman masa kecil!" sanggahku padanya. Kenapa dia juga harus bertanya seperti itu sih!?

"Tapi kenapa tidak seperti itu? Kalian seperti lebih dari sepasang 'teman masa kecil'."

"Maksudmu apa sih!? Kalo mau berantem jangan sekarang deh!"

"Apa perkataanku menyakitimu?"

"Bukan seperti itu! Hanya saja–"

"Hanya saja apa?"

"Sudahlah! Kita bisa dimarahi–"

"Hey kalian! Kalau tidak cepat keburu cafe-nya penuh!" Teriak Sarada dari kejauhan.

"Ga, gawat! Apa kubilang! Ayo cepat sebelum dia marah." Kutarik tangan Mitsuki dan mengajaknya berlari mendekati Sarada. Lebih baik ku kesampingkan perasaan aneh begini.

.

.

Aku menyukaimu, aku tak tahan

Meskipun aku tahu ini bodoh

Aku senang bisa bersamamu

Aku sangat bodoh

Aku tak berdaya

.

.

Kenapa malah aku terjebak dalam suasana begini sih? Dan lagi ... ini kan tugas kelompok sedangkan kemarin aku sudah sekelompok dengan Sumire. Tapi kenapa ... melihat Sarada dan Mitsuki seperti ini aku kesal ya?

"Bor?"

"Ah ya?" Kualihkan pandanganku ke arah Sarada "Ada apa?"

"Lu melamun? Ada sesuatu?"

"Tidak, lanjutkan saja tugas kelompok kalian."

"Melanjutkan apa? Kita sudah selesai 10 menit yang lalu. Lu yang terlalu larut dalam pikiranmu itu."

"A, aah masa sih? Cuma perasaanmu saja." Kuambil cola di hadapanku dan meminumnya. Entah kenapa aku berpikiran aneh seperti itu? Aaah aku kan suka dengan Sumire, jadi ngapain aku mikirin aneh-aneh sih.

"Sarada, Boruto. Aku harus pulang, ayahku sudah meneleponku." Mitsuki beranjak bangun dari kursinya.

"Loh kok? Bukannya kau sudah kirim pesan ke ayahmu?"

"Kurasa ada hal penting, jadi aku harus pulang. Aku duluan, Boruto, Sarada." Mitsuki langsung berlari keluar cafe. Tunggu sebentar? Kalo begini aku jadi berdua dengan Sarada dong!?

"Jadi? Mau ngapain kita disini?" Suara Sarada menginterupsiku.

"Apa pulang saja?" Sahutku tanpa pikir panjang.

"Ide bagus, gue harus merapikan beberapa hal untuk tugas kali ini." Kulihat dia beranjak berdiri dari kursinya.

'Grep'

"Eh?" Aku terkejut dengan tindakanku menahan tangannya untuk pergi.

"Tu, tunggu sebentar-ttebasa."

"Kenapa?" Wajahnya yang begitu bingung akan sikapku terpampang sangat jelas. "Apa kau masih mau disini, Bor."

"Bu, bukan begitu! Hanya saja ... bolehkah kita pulang bersama?"

"Kenapa kau menanyakannya? Bukannya tadi lu sendiri seperti ingin mengatakan sesuatu sebelum kemari?"

'Glek' Kenapa Sarada bisa tau ya!?

"Ah itu ... "

"Memangnya ingin bicara apa?" Kulihat dia duduk kembali di kursinya dan melihat ke arahku dengan intens. Bagaimana caranya untuk mengatakannya ya? Aaarrrgghhh kenapa aku jadi aneh begini?

"Apa ... apa lu menghindarin gue, Sarada?" Lidahku mendadak kelu saat mengatakan ini. Tapi lebih baik kuutarakan apa yang kurasa dibanding harus seperti ini terus.

"Hah?" Sarada begitu terkejut sampai membenarkan letak kacamatanya. "Kenapa lu berpikir begitu?"

"Entahlah, rasanya lu memang menghindari gue."

"Phhffttt ... " Sarada menahan tawanya.

"Apanya yang lucu, hah?"

"Tidak ada kok, maaf hanya saja terasa aneh tau."

"Anehnya?"

"Seperti seseorang yang cemburu, mungkin." Heh? Cemburu? Mana mungkin!

"Ga kok!" Elakku sekuat mungkin. Mana mungkin aku cemburu!?

"Iya, iya aku paham kok. Gue cuma bercanda. Gue tau lu juga lagi dekat dengan ketua kelas kan?" Sarada tersenyum padaku.

"I, itu ... "

"Sudahlah, yuk pulang. Lu tadi mau ajak pulang bareng kan?"

"Iya juga ya. Yaudah ayo pulang." Kuseruput habis minumanku dan mengikuti langkah Sarada yang sudah terlebih dahulu pergi. Yaaah kurasa tidak ada yang perlu ku khawatirkan lagi.

.

.

Senyuman yang kau tunjukkan padaku

Terus menghantuiku

Sekali lagi, sekali lagi

Aku ingin melihat senyummu lagi

.

.

"Heh? Ada-ada saja kau Mitsuki."

"Tapi memang benar loh aku terpukau."

"Ahahahaha ... tapi beneran ga salah nih?"

"Ga! Serius aku sangat ingin dekat tapi tau sendiri."

"Ahahahaha ... kau ini benar-benar aneh."

Huuuh ... masih pagi sudah terlihat begitu sih? Sarada tertawa riang sekali dengan dia.

"Wooy pala pisang!" Tepukan keras mendarat di pundakku.

"Apaan sih nanas?"

"Lu daritadi gue panggilin diem aja. Kenapa lu?"

"Kaga! Nape lu manggil gue?"

"Lu ga ngerjain tugas Ekonomi?"

"Hah? Emangnya ada tugas? Tugas apaan?"

"Kerjain soal essay halaman 25."

"Memangnya Moegi-sensei kemana?"

"Moegi-sensei tadi ngasih tugas karena ada rapat guru. Gue disuruh ngumpulin tugas anak-anak sekelas nih. Hoaaam ... Mendokusai."

"Mampus gue beloman! Gimana ini!?" teriakku frustasi dan mengacak rambutku.

"Yaudah lu kerjain gih, gue mau nagih ke yang lain dulu."

"Woooy! Lihat punya lu dong, Shikadai!" teriakku namun tidak di gubris olehnya. Sial! Tugasnya banyak amat sih!?

"Bo, boruto-kun?" Suara lembut mengalun di pendengaranku. Kulihat siapa yang memanggilku.

"Loh? Ketua kelas? Ada apa?" Aku terkejut melihat Sumire di depanku.

"Kalo kau mau, kau bisa lihat punyaku." Sumire menyerahkan bukunya padaku.

"Apa ga apa-apa ini, ketua?"

"Ga apa-apa kok. Boruto-kun lebih baik cepat menyalinnya, soalnya jam pelajaran sebentar lagi habis."

"Sangkyu ketua kelas! Aku akan membalas kebaikanmu ini."

"Tidak perlu kok, Boruto-kun. Kalau boleh ijinkan aku duduk disini sebentar sambil melihatmu mengerjakannya."

"Heh? Y, ya ga apa-apa sih. Yaudah aku salin dulu ya!" Aku langsung mengerjakan tugas kelewat sadis ini. Duh semoga ga salting deh.

Beberapa menit kemudian aku pun telah menyelesaikan tugas ini. Bener-bener tugas yang membuat tangan keriting ini mah.

"Yooosssh! Akhirnya selesai juga-ttebasa!"

"Hooh udah selesai, sini mana buruan mau gue kumpulkan nih."

"Loh? Kok jadi lu disini? Mana ketua kelas?"

"Sejak tadi dia memang tidak ada disini bodoh."

"Tapi tadi dia ada disini kok!"

"Memang dia ada disini tadi, cuma udah pergi barusan. Dah sini buku lu sama dia, mau gue kumpulin ini."

"Iya, iya nih bukunya." Kuserahkan buku milikku dan Sumire.

"Yaudah gue cabut dulu." Shikadai langsung pergi begitu saja. Benar-benar dia itu.

'Srek'

"Hm? Apa ini?" Kulihat kertas kecil terselip di dalam kotak pensilku. Kubaca isinya ...

~ Maaf Boruto-kun aku pergi dulu tanpa pamit. Tidak enak kalo mengganggumu. Kalo sudah selesai berikan ke Shikadai-kun. Aku pergi istirahat dulu di taman belakang sekolah. From : Sumire ~

"Hmmm? Kususul saja deh! Aku kan belum mengucapkan terimakasih." Aku buru-buru bangkit dari kursiku dan berjalan keluar kelas. Sesaat kulihat Sarada tengah asik bersama Mitsuki dan Chocho. Aaah sudahlah! Abaikan saja dulu yang terpenting sekarang aku harus menyusul ketua.

Aku berlari menyusuri koridor sekolah menuju taman belakang sekolah. Sesampainya disana ternyata taman ini agak sepi dari perkiraanku. Lalu dimana ya ketua kelas? Kuedarkan pandanganku melihat taman ini dan menemukan seseorang yang sedang duduk di bangku taman.

"Apa itu dia ya? Coba kesana deh." Kulangkahkan kakiku berjalan ke arah seseorang yang kuyakini itu adalah Sumire. Sesampainya aku di dekatnya dan ternyata memang dia.

"Ketua?"

"Loh? Boruto-kun? Sedang apa disini?"

"Aku mencarimu, tiba-tiba saja hilang kupikir tadi kau duduk disampingku."

"O, oh begitu. Maafkan aku, aku sedang ingin disini saat jam istirahat."

"Oh iya sekarang sudah istirahat ya?"

'Kruuuk' Duh sial! Kenapa malah bunyinya kencang sekali!

"Hihihihi ... kau lapar?"

"Aaah, iya begitulah hehehehehe ... "

"Tenang saja, aku punya makanan untukmu. Kurasa kau pasti suka." Sumire menyerahkan bungkusan kertas padaku. Kubuka bungkusan itu dan ternyata hamburger!?

"Waaah! Kenapa bisa!?"

"Tadinya aku ingin memberikan ini padamu setelah selesai makan siang disini."

"Aku tidak menyangka, terimakasih ketua kelas!"

"Yaudah dimakan dulu selagi masih hangat."

"Baiklah ... Itadakimasu!" Kulahap burger pemberian Sumire. Aku benar-benar lapar dan ternyata burger ini rasa yang biasa kubeli. Tapi bagaimana dia tau ya? Aaah sudahlah itu tidak penting, kulahap habis saja deh.

"Hihihihi ... Boruto-kun sangat suka hamburger ya?" tanya Sumire sambil menyerahkan minuman padaku dan langsung kuminum.

"Glek ... Tentu saja! Ini makanan favoritku." Ujarku padanya. "Aku tidak tau harus berterimakasih seperti apa, apa ada yang bisa kulakukan untuk membalasnya?"

"Tidak perlu kok, Boruto-kun."

"Tapi aku tidak enak dengan ketua."

"Hmmm yasudah gini saja. Kebetulan ada yang ingin ku katakan padamu."

"Hmm? Apa itu?"

"Ano ... aku ... " kulihat Sumire mengalihkan pandangannya kesana-kemari.

"Apa ketua sakit?"

"Bu, bukan!"

"Lalu?"

"A, aku ... su ..."

"Su?"

"Suka padamu, Boruto-kun!"

"Heh!?"

"A, aku suka padamu, Boruto-kun!"

Sungguh! Aku terkejut mendengar pengakuan Sumire. Tapi kenapa ... perasaanku aneh ya?

"Bo, boruto-kun?"

"I, iya?"

"A, apa kau mau menjadi kekasihku?" Sumire menatapku dengan wajah meronanya. Melihatnya seperti itu membuatku harus meneguk ludah dalam-dalam.

"A, aku ... "

"A, aku tau ini mendadak. A, aku hanya menyampaikan perasaanku saja."

"Ke, ketua ... aku ... " Sial! Bukannya ini memang kemauanku! Tapi kenapa mengucapkan kata 'iya' lidahku kelu seperti ini!?

"Tidak apa kok, Boruto-kun. Kau tidak perlu menjawabnya sekarang." Sumire tersenyum padaku. "Ayo kembali ke kelas, sebentar lagi pelajaran Geografi akan dimulai."

"Ba, baiklah." Akhirnya kami berdua pun berjalan kembali ke kelas. Sungguh kenapa malah tidak bisa mengatakan hal yang sama dengan Sumire!? Ada apa dengan diriku!? Bukannya aku memang menyukainya juga!? Tapi kenapa aku jadi ragu seperti ini!?

.

.

Pesan yang kau kirimkan padaku

Aku terus membacanya, tersenyum

Aku tahu, aku tahu

Bahwa aku membohongi diriku sendiri

.

.

Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih, bagaimana bisa Sumire terlihat bisa aja setelah pengakuannya tadi di taman? Dia masih bisa tersenyum padaku selama pelajaran seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Apa yang tadi kualami itu hanyalah halusinasi?

"Hey!"

" . . . . . . . . . "

"Hey! Baka Boruto!" Pukulan keras menghantam pundakku.

"Adaaw! Apaan sih!?" Kulihat pelaku yang seenaknya saja memukul pundakku. "Sarada?"

"Kau ini aneh banget dipanggil berulang kali ga nyaut. Udah jam pulang nih."

"Hah? Masa!?"

"Lihat saja sekelilingmu sudah pada pulang semua." Kulihat kelas sudah sepi dan matahari pun mulai tenggelam.

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan sih?" lanjutnya padaku.

"Aku ... sepertinya berhalusinasi hari ini."

"Hah?"

"Sudahlah abaikan, mungkin aku sedang tidak enak badan." Jawabku acuh dan membereskan barang-barangku.

'pluk'

"Heh?" Kening Sarada menempel langsung di keningku.

"Tidak demam kok." Gumamnya dan menjauhi wajahku. "Tapi kau agak pucat, kau bawa sepeda kan?"

"Iya."

"Kalau begitu, kali ini kubonceng kau duduk aja di kursi belakang."

"Hah? Mana bisa begitu!" tolakku keras padanya. Masa dibonceng perempuan sih!?

"Daripada kau bawa sepedanya lalu oleng dan jatuh lebih bahaya mana!?"

"Ukkh ... "

"Sudahlah lagipula kita kan sering gantian membawa sepedanya." Sarada beranjak dari mejaku. "Ayo pulang keburu malam."

"Iya." Aku pun mengikuti langkah Sarada.

Sepanjang jalan kami hanya terdiam ditemani hembusan angin dingin karena mendekati musim dingin dengan lembayung senja di cakrawala. Aku tidak mengerti apa baru kusadari sekarang kalau teman masa kecilku ini begitu cantik, dengan rambut terurai yang dipermainkan oleh sang angin menari-nari di udara. Tunggu? Apa yang kupikirkan? Aaarrrrggghhh! Kenapa kau malah melankolis begini sih!?

"Hey, Boruto."

"Ah, ya?"

"Kalau kau sakit bilang saja. Besok tidak usah masuk sekolah, aku akan katakan pada ortumu dan guru."

"Tidak apa, lagipula ini sungguh tidak keren-ttebasa."

"Apanya?"

"Masa aku dibonceng olehmu!? Itu sangat tidak keren tau!"

"Kau ini bukannya terimakasih malah mengatakan hal seperti itu!?" Sarada berteriak. "Kalau aku tidak ingat kita sedang di sepeda, kupukul kepala kuningmu itu!"

"Ampun nona Uchiha yang agung."

"Hah, kau ini ... kalau ada masalah katakan saja." Lirih Sarada. "Bukankah kita teman masa kecil?"

". . . . . . . . . . "

"Yasudah, nanti kalau kau sudah siap mengatakannya, akan kudengarkan." Sarada memberhentikan sepedanya.

"Loh? Kenapa berhenti?"

"Karna sudah sampai bodoh." Sarada menengok kebelakang. "Kau kayaknya benar-benar sakit deh, sampai tidak sadar ini depan rumahmu."

"A, aku akan mengantarmu dulu." Buru-buru aku turun dari kursi belakang sepedaku.

"Boruto ... rumahku tepat di samping rumahmu." Sarada menekan perkataannya dan menyerahkan stang sepedaku. "Kau benar-benar sakit ya? Sudah cepat masuk sana!"

"Ta, tapi ... "

"Tidak ada kata tapi! Cepat masuk dan istirahat!" Sarada mendorongku masuk ke dalam perkarangan rumahku. Haaaah ... lebih baik kuturuti saja dia daripada marah-marah di depan rumahku. Sebelum benar-benar masuk ke garasi, kulihat dia masih berdiri disana menatapku, aku tidak bisa melihat jelas raut wajahnya namun apakah aku membuatnya begitu khawatir? Tapi kenapa? Lebih baik kulambaikan tanganku saja supaya dia pulang ke rumahnya. Benar saja setelah kulambai tanganku, dia beranjak pergi dari sana. Apakah ... Sarada benar-benar mengkhawatirkanku ya?

"Tadaima ... "

"Okaeri, Boruto." Sebuah suara lembut menyambutku pulang.

"Ibu? Mau kemana?" kulihat ibu seperti ingin pergi keluar.

"Ibu mau kerumah Bibi Sakura ada urusan, tolong jaga rumah ya!"

"Loh? Hima mana?"

"Dia menginap di rumah temannya untuk persiapan lomba besok."

"Oh begitu ... "

"Makan malammu sudah ibu siapkan, ayah kemungkinan pulang malam jadi makan duluan saja ya."

"Baiklah, bu."

"Ibu pergi dulu."

"Hati-hati dijalan." Kulihat ibu sudah pergi. Lebih baik aku ke kamarku saja deh.

.

.

"Haaaaah ... bagaimana ini? yang tadi itu beneran nyata atau halusinasi saja sih!?"

'Ting'

"Hmm?" Kulihat ponselku menunjukkan notifikasi dari Whatsapp. Dari siapa ya?

WhatsApp

Uchiha Sarada :
Kau baik-baik saja?
Apa perlu aku kerumahmu?
Ibumu tadi kerumah dan pergi bersama ibuku.
Kalau kau memang sakit, aku akan kesana.

Uzumaki Boruto :
Tidak perlu, aku tidak sakit
Tak usah khawatir ya

Uchiha Sarada :
Beneran? Jangan bohong loh
Tadi kau saja sampai tidak ingat rumahmu = ="

Uzumaki Boruto :
Ahahaha ... sengaja soalnya biar lihat muka kesalmu
:p

Uchiha Sarada :
Ngeselin banget sih :(
Kupukul kau besok

Uzumaki Boruto :
Ampun nona!
Maafkan hambamu yang ganteng ini XD

Uchiha Sarada :
Kau membuatku ingin memuntahkan isi perutku hah?

Uzumaki Boruto :
Idiiih ... bilang aja terus terang kalo gue ganteng uhuuy
:"v

Uchiha Sarada :
Dalam mimpi lu aja deh, Bor

Uzumaki Boruto :
Wkwkwkwkwk :v

Uchiha Sarada :
Tapi ... Gue rasa lu ada masalah ya?
Cerita bisa kali, siapa tau gue bisa bantu
(dilihat 19:20)

"Apa ... gue ngaku aja ya?" Gumamku tanpa membalas pesan terakhir Sarada. Kulihat dia masih terlihat online, mungkin menungguku menjawabnya. Aaah baiklah mungkin karna dia perempuan, dia bisa membantuku.

Uzumaki Boruto :
Sebenarnya memang ada sih ...
Gue bingung harus bilang bagaimana

Uchiha Sarada :
Pelan-pelan aja ceritanya
Gue tau kok kapasitas kepala lu ga bisa gece :p

Uzumaki Boruto :
Lu ngeledek mulu dah perasaan!? :(

Uchiha Sarada :
Hanya mengungkapkan kebenaran :"v

Uzumaki Boruto :
Rese lu ye! Yaudah lah ga jadi

Uchiha Sarada :
Idiih digituin ngambek :p
Dasar anak mami :p

Uzumaki Boruto :
Jadi mau dengerin ga sih?
Gondok nih gue lama-lama = ="

Uchiha Sarada :
Iye-iye apaan dah? Kayaknya warning banget

Uzumaki Boruto :
Gue ... tadi jam istirahat
Gue ditembak Ketua Kelas, Sar

Uchiha Sarada :
Ditembak? Mati dong lu?
Lalu gue chatting-an sama hantu dong?

Uzumaki Boruto :
Ih kampret lu, Sar
Maksud gue itu dia nyatain perasaannya sama gue

Uchiha Sarada :
Oooh ... udah tau kok

Uzumaki Boruto :
Wait? Lu tau darimana?

Uchiha Sarada :
Ga sengaja gue lihat lu tadi sama dia di taman belakang sekolah

Uzumaki Boruto :
Loh bukannya lu tadi istirahat ada di kelas?

Uchiha Sarada :
Tadi gue pengen beli minuman di kantin
Dan gue lihat lu berduaan deh
Lalu gimana? Lu terima kan?

Uzumaki Boruto :
Justru itu! Gue ga tau mesti gimana

Uchiha Sarada :
Lu pasti bercanda?
Bukannya lu suka Sumire?

Uzumaki Boruto :
Justru itu! Gue kan udah bilang gue bingung

Uchiha Sarada :
Bingungnya? Gue ga paham deh maksud lu

Uzumaki Boruto :
Waktu itu gue ga bisa bilang 'iya'
Gue ga paham kenapa gue begini, Sar
Bantuin gue dong
(dilihat 20:15)

"Ebuset! Cuma di read doang lagi!?" Amarahku mulai memuncak. Kenapa malah di read doang sama dia sih!? Gue kan kebingungan ini jadinya.

'Ting~' Hm? Notif wa? Oh bagus dia dah jawab!

Uchiha Sarada :
Gue bingung harus bilang apa
Harusnya kalo memang lu suka Sumire
Lu bisa menjawabnya dengan mudah

Uzumaki Boruto :
Gue juga ga ngerti kenapa bisa susah banget bilang
Gue juga punya perasaan yang sama dengan dia

Uchiha Sarada :
Apa lu ... ragu dengan perasaan lu?

Uzumaki Boruto :
Maksudnya?

Uchiha Sarada :
Iya ... lu menyadari kalo perasaan lu ke Sumire
Bukanlah rasa cinta, tapi sebatas kagum saja

Uzumaki Boruto :
Kenapa lu bisa simpulin seperti itu?

Uchiha Sarada :
Sekarang gue tanya balik, waktu lu sama Sumire di taman
Apa lu berdebar-debar?
Apa lu gugup dan salting?
Dan yang terpenting adalah
Waktu dia menyatakan perasaan itu, bagaimana perasaan lu?

Uzumaki Boruto :
Gue ... ga tau

Uchiha Sarada :
Haaaah ... gini nih yang bikin susah
Kalo gitu cobalah lu tanya sama diri lu sendiri
Dari pertanyaan gue barusan, kalo lu sudah dapat jawabannya
Lu bisa katakan pada gue nanti

Uzumaki Boruto :
Hmm ... Baiklah
Ngomong-ngomong makasih loh
Lu memang sohib gue yang terbaik X"D

Uchiha Sarada :
Iya, sama-sama
Gue akan berusaha mendukung lu dengan Sumire

Uzumaki Boruto :
Maksud lu apa?
Wooy Sarada?
Wooy!
Hallo?
Ebuset jawab diiih

Uchiha Sarada :
Berisik anjaaay! Bokap tadi masuk kamar gue!
Dah gue mau tidur dulu, oyasumi.

Uzumaki Boruto :
Ebuju! Mampus dah gue tar di goreng bokap lu
Yaudah, oyasumi. Besok bantuin gue ye
(dilihat 20:45)

.

.

Aku menyukaimu, aku tak tahan

Aku sudah tergoda olehmu

Kau memainkan aku

Dan aku menyukainya

Aku tak tahan, begitulah aku

.

.

"Haaaaah ... Cuma di read lagi. Yaudah lah dia kan pasti udah tidur. Ada paman Sasuke pula, pasti dia dimarahi barusan."

Kuletakkan handphone-ku di meja belajarku. Kurebahkan tubuhku diatas kasur dan menatap langit-langit kamarku. Aku cukup kepikiran perkataannya barusan. Masa iya aku hanya kagum? Tapi jika diingat kejadian di taman ... aku agak berdebar-debar sih. Lalu kalau gugup, mungkin sedikit tapi rasa lapar mengalahkan kegugupanku. Dan ditanya bagaimana perasaanku waktu dia menyatakan perasaannya ... sejujurnya terkejut dan terasa biasa saja deh. Hmm? Tunggu? Biasa? Bukannya aku memang suka Sumire? Tapi kenapa malah mendengar pernyataan itu malah terpikir biasa saja?

"Aaaarrggh ... aku tidak mengerti!"

"Ada apa, Boruto?" Sebuah suara menginterupsiku. Kulihat siapa yang masuk ke kamarku.

"A, ayah?" ucapku kaget. "Kapan ayah pulang?"

"Baru saja, ada apa teriak malam-malam begini?"

"Ti, tidak ada kok."

"Hmm? Yasudah kalo tidak mau bilang." ucap Ayah seraya menepuk pelan kepalaku. "Kalau ada masalah bilang sama ayah, oke."

"Uuumm ... aku penasaran satu hal. Bagaimana ayah bisa menikah dengan ibu?"

"Ke, kenapa kau bertanya seperti itu-ttebayo!? Bu, bukannya ibumu sudah memberitahumu."

"Aku hanya penasaran saja dari sudut pandang ayah." Kutatap ayahku yang terlihat salah tingkah. Terkadang lucu juga melihat ayah seperti ini.

"Aaah, itu ... ceritanya agak sedikit membuatmu tidak senang."

"Tidak apa, mungkin kalau ayah bercerita bisa membantuku."

"Apa kau ada masalah dengan perempuan, Boruto?"

"I, itu ... sudahlah ayah ceritakan saja!"

"Baiklah, ayah akan mengatakannya lebih ringkas." ucap Ayah dengan raut wajah berpikir. "Mungkin cerita ini berawal dari seumuranmu kayaknya. Kau tau bukan kalau ayah, ibu, paman Sasuke dan Bibi Sakura sudah berteman sejak lama? Seperti kau dengan Sarada."

"Iya, lalu?"

"Sebenarnya saat seusiamu, ayah menyukai bibi Sakura."

"Se, serius!? Ja, jadi ibu bohong kalau cinta pertamanya itu ... "

"Ibumu tidak bohong. Cinta pertamanya adalah aku. Tapi ... aku menyukai Sakura, namun disaat yang sama aku pun tau bahwa Sakura menyukai Sasuke sejak dulu saat kami berempat masih kecil."

"Kenapa berasa rumit sekali-ttebasa."

"Jadi masih mau diteruskan atau tidak?" Ayah menatapku sedikit kesal.

"Iya, iya maafkan aku, ayah."

"Sampai dimana tadi?"

"Tadi sampai kalian berempat kejebak cinta rumit."

"Ckckckck dasar kau ini." Ayah mengacak-acak rambutku gemas. "Kalau diingat-ingat memang cinta yang rumit. Tapi saat itu ... ibumu mendukung ayah, membantu ayah untuk dekat dengan bibi Sakura."

"A, ayah bercanda kan?"

"Ayah tidak bercanda. Saat itu ayah tidak menyadari perasaan ibumu dan terfokus menyukai bibimu itu."

". . . . . . . . . . . "

"Tapi makin lama ayah menyadari kalau rasa yang ayah punya hanya sebatas suka dan kagum terhadap seorang kakak perempuan. Ayah menyadari hal itu saat Sasuke mengumumkan bahwa dia berpacaran dengan Sakura di akhir masa sekolah kami."

". . . . . . . Bagaimana dengan ibu?" Tanyaku hati-hati. Aku tidak bisa membayangkan seberapa besar hati ibu waktu itu.

"Ibumu ... aku lupa sebenarnya. Tapi yang kuingat adalah ibumu membawaku pergi setelah itu dan menenangkanku. Walau sebenarnya aku sendiri juga bingung, aku merasa tidak sedih dengan berita jadiannya mereka-ttebayo."

". . . . . Lalu? Kenapa ayah bisa menyadari perasaan ibu?"

"Hmm? Kalau itu ... setelah kejadian itu, ibumu selalu menemani ayah. Mendengarkan keluh kesah ayah, memberikan perhatiannya pada ayah, dan ayah bisa melihat cinta yang tulus dari mata ibumu. Dan ayah akhirnya menyadari bila ayah sudah lama menyukai ibumu tanpa ayah sadari. Mangkanya saat Sasuke dan Sakura jadian, ayah tidak merasakan perasaan sedih dan justru bahagia melihat mereka bersama."

". . . . . . . . . . . . . . "

"Apa cerita ayah bisa menjawab masalahmu?"

"Uuumm ... sedikit sih. Aku masih sedikit tidak menyangka saja."

"Ahahahaha ... kau ini."

"Tapi ... cinta ayah ke ibu sekarang ... bagaimana?"

'Tuk'

"Aduh! Kenapa kepalaku di getok!?"

"Kalau kau menanyakan hal itu, buat apa ada dirimu dan Himawari? Kau ini ada-ada saja pertanyaannya." Ayah mengusap-usap kepalaku. "Aku mencintai kalian bertiga melebihi nyawaku. Aku akan berusaha terus membahagiakan kalian, karena kalian segalanya buat ayah."

"Ayah ... " Aku tidak bisa menahan haru mendengar ucapan ayah.

"Nah, sudah malam. Besok kau kan sekolah, cepat tidur supaya tidak kesiangan karena ibu dan hima tidak dirumah."

"Hey, ayah. Bagaimana kalo kita tidur bareng saja?"

"Hmm? Boleh saja-ttebayo! Ayah mau mandi dulu."

"Tapi kita main game sebentar ya."

"Iya-iya kau atur saja Boruto." Asiiik! Sudah lama juga tidak main bareng dengan ayah.

Hmm? Kalau dipikir-pikir cerita ayah barusan sedikit memiliki kemiripan denganku. Aaaah aku bingung apa yang harus kulakukan, tapi aku juga tidak bisa menjawabnya terlalu lama. Kasian Sumire kalau aku terlalu lama menjawab perasaannya. Sebenarnya apakah benar perasaanku sama seperti ayah waktu itu ke bibi Sakura seperti yang dikatakan Sarada? Kalau begitu ... bagaimana perasaanku pada Sarada? Terkadang dia juga mengalihkan atensiku akhir-akhir ini. Entah kenapa aku sedikit tidak suka saat dia dekat dengan Mitsuki. Aaaaah ... lupakan dulu sejenak deh, mending buruan ke kamar ayah dan setting PS4 yang ayah belikan kemarin saja.

.

.

Aku menyukaimu, aku tak tahan

Meskipun aku tahu ini bodoh

Aku senang bisa bersamamu

Aku sangat bodoh

Aku tak berdaya

.

.

~ The End or To Be Continue? ~

.

.

Note : Wahaaaay ... balik lagi dah sama author yang keche badai *dilemparin piring* #yey ufo terbang XD *plak* Maafkan saya sodara" semua saya baru saja kembali sebenarnya sih banyak hal yang terjadi, masalah realku begitu banyak sampai-sampai aku tidak bisa menulis cerpen lagi huhuhuhuhu T_T sama ingin tanya nih gimana penulisan kali ini? uumm kalo make bahasa "Lu-Gue" kurang cocok, berikutnya akan ku ubah kembali ke semula ^^"a

Oh ya silakan review-nya ya. Menerima flame asalkan ngeflame ceritanya dengan alasan yang jelas dan bisa memberikan solusi, dan yang pasti buka ngeflame karakternya oke ;) Silakan readers yang terhormat meninggalkan review untukku :D

Dan maaf ini memang seri "Trilogi", tapi aku akan update cerita lanjutannya tidak menentu dikarenakan masalah realku yang begitu pelik, mohon doanya ya semuanya supaya masalah"ku cepat selesai biar aku bisa berkarya terus disini (T_T)

.

.

Sign,

Raika Miyazaki