YOU DON'T KNOW

(Wanna One, Produce 101 Season 2)

Main Character : Kang Dongho x Lee Daehwi x Hwang Minhyun

Other Character : Produce 101 Season 2 member (karakter bisa bertambah sewaktu-waktu)

Rated : T

- Kang Dongho (Senior)

- Hwang Minhyun (Senior)

- Choi Minki (Senior)

- Ong Sungwoo (Senior)

- Lee Daehwi (Junior)

- Bae Jinyoung (Junior)

- Kim Samuel (Junior)

.

.

Saat ini Daehwi tengah duduk di kafe bersama dua temannya Samuel dan Jinyoung. Mereka sama-sama fokus menatap laptop masing-masing tanpa mempedulikan makanan yang sudah tersaji di depan mata mereka. "yes!" teriak Jinyoung. "aku diterima. Ya.. bagaimana dengan kalian berdua?" tanya jinyoung. "assaaaa! Akhirnya aku diterima. Jinyoung-ah~ kita diterimaaaaa." girang sang pemilik nama Samuel sambil memeluk Jinyoung. Tapi orang ke-3 di meja itu hanya menatap kosong ke arah laptopnya.

"w..wae Daehwi-ah? Kenapa hanya menatap laptopmu seperti itu?" tanya Jinyoung. Cukup lama Daehwi diam, sampai akhirnya ia menjawab pertanyaan Jinyoung, lebih tepatnya berbisik. "aku akan bertemu dengannya lagi" bisik Daehwi. "mwo? What? Aku tidak mendengarmu Daehwi-ah." Samuel menatap bingung ke arah Daehwi. "AKU AKAN BERTEMU DENGANNYA LAGI JINYOUNG-AH! MUEL-AH!" seketika suara Daehwi memenuhi kafe tersebut dan tanpa tahu malu dia melompat-lompat seperti anak kecil yang baru mendapat hadiah baru.

"ya! Daehwi-ah berhenti. Aish jinjja anak ini. Kau membuat kami malu!" Jinyoung berusaha menghentikan sahabatnya itu sambil menutupi wajahnya malu. "oh my God. Anak ini. Sit down!" Samuel menarik paksa tangan Daehwi dan membuatnya duduk. "eat!" dan pelaku yang sama menyumpal mulut Daehwi dengan makanan yang ada di meja mereka. "benar-benar memalukan. Aku tahu kau senang tapi kontrol emosimu itu Lee Daehwi. Kau bisa merusak reputasi kami berdua bahkan sebelum kita masuk Universitas. Lagipula kenapa kau senang jika bisa bertemu dengannya lagi? Bukankah waktu itu kau bilang bahwa kau sudah melupakannya?" tanya Jinyoung sambil menatap Daehwi yang tengah berusaha menelan makanan yang dipaksa masuk ke mulutnya oleh Samuel. "aniyaaa. Siapa bilang aku melupakannya. Aku hanya bilang bahwa aku sedikit melupakannya. Tidak 100% melupakannya. Aku senang karena mungkin Tuhan memberikanku kesempatan lagi." Daehwi menunduk sambil tersenyum. "karena saat terakhir kali, aku rasa aku belum menyelesaikan urusanku dengannya. Mungkin ini kesempatan terakhirku."

Kedua sahabat itu hanya tersenyum mendengar penjelasan Daehwi yang begitu tulus. Mereka sangat tahu bahwa Daehwi sangat menyukai namja itu. Dan mereka juga sangat tahu bagaimana sedihnya Daehwi saat kejadian pada hari 'itu'. "Good luck, Lee Daehwi. Aku dan Jinyoung akan selalu mendukungmu. Dan kali ini kami berdua akan membantumu untuk bisa dekat dengan sunbae itu. Benar kan, Jinyoung-ah?" Jinyoung langsung ber high-five dengan Samuel. "itu benar, Daehwi-ah. Kau tidak sendiri. Kami berdua akan membantumu." Daehwi sangat senang mendengar apa yang kedua sahabatnya itu katakan padanya. "gomawo, aedeul-ah. Tapi, apa dia akan mengenalku? Kalian tahu kan bagaimana perubahanku saat ini." Samuel melihat Daehwi dengan sangat fokus sampai-sampai bola matanya terlihat hampir keluar dari matanya. "hmm.. ne kau sudah banyak berubah. Kau tidak lagi menggunakan kacamata, kawat gigimu juga sudah kau lepas, dan kau sudah merubah warna rambutmu. Tapi, kau masih masih terlihat seperti seorang Daehwi yang semua orang kenal. Pendek, kurus, dan pemalu." Daehwi mendengus kesal mendengar ucapan sahabat blasterannya itu. "aku tahu kau sedang menghinaku." Samuel hanya tertawa melihat sahabatnya itu. Yup! Sekarang mereka bertiga sudah diterima di Universitas Seoul. Jinyoung dan Daehwi diterima di Fakultas Sains, Jurusan Biologi. Sedangkan Samuel diterima di Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Komputer.

Setelah mereka menghabiskan makanan mereka, mereka langsung kembali ke rumah masing-masing dan mulai mempersiapkan segala sesuatu yang mereka butuhan untuk kehidupan perkuliahan mereka. Karena mereka juga akan mulai tinggal di asrama universitas, makan banyak hal yang harus mereka siapkan. Seminggu kemudian, awal cerita Lee Daehwi dimulai.

.

.

.

.

.

Satu minggu kemudian

Alarm di kamar Daehwi berbunyi. Dan sang pemilik bergegas bangun dan mematikan alarmnya. Dia berdiri dan melakukan peregangan tanpa menghilangkan senyum di wajahnya. Dia terlihat sangat senang pagi ini, padahal ini masih sangat pagi. Lebih tepatnya pukul 5 pagi. Yap. Daehwi sengaja memasang alarm sangat pagi karena ia sudah tidak sabar untuk segera pindah ke asrama barunya. Dia segera menuju kamar mandinya dan bersiap-siap. Daehwi bahkan sempat bersenandung riang saat mandi. Tipikal remaja yang sedang jatuh cinta.

Setelah mandi, ia bergegas turun menuju dapur dan menyapa ibunya yang sedang memasak. "pagi eomma." Daehwi memeluk ibunya dari belakang. "ommo, Lee Daehwi. Kau sudah bersiap-siap? Ini masih pukul 6 pagi sayang. Kau baru akan berangkat pukul 9 nanti." Daehwi hanya menyengir polos dan menampakkan gigi putihnya itu. "aku hanya terlalu senang eomma. Dan kurasa aku akan berangkat lebih awal saja. Jinyoung dan Samuel juga berangkat lebih awal." Melihat tingkah anaknya tersebut, sang ibu tidak dapat menolak keinginan Daehwi. Ibunya juga berpikir bahwa sudah saatnya ia membiarkan Daehwi untuk membuat pilihannya sendiri.

Setelah sarapan dan melakukan beberapa persiapan, akhirnya ia berangkat menuju asrama Universitas Seoul. Selama perjalanan, senyuman tak pernah luntur dari wajahnya. Ia sangat menantikan momen dimana nantinya dia dapat bertemu dan meliat wajah sunbaenya itu. Cukup lama perjalanan dari Busan menuju Seoul, akhirnya Daehwi sampai juga di Universitas Seoul. Tak ingin kehilangan kesempatan, ia menurunkan kaca mobilnya dan melihat suasana kampus yang akan menemaninya selama 4 tahun kedepan. "selamat datang di dunia yang baru, Lee Daehwi" batinnya.

Disisi lain, tampak beberapa namja berwjah sangat tampan tengah bermain sepak bola di lapangan sepak bola kampus. Walaupun mereka hanya berlatih, tapi banyak mahasiswa terutama mahasiswa perempuan yang menonton mereka. Jelas saja mereka menonton kumpulan namja dari Fakultas Kedokteran yang terkenal sangat tampan, salah satunya adalah Kang Dongho, casanova di kampus tersebut. Sejenak Kang Dongho melihat ke arah SUV putih yang melewati jalan di depan lapangan tersebut. Melihat mobil tersebut ia mengingat mobil milik seseorang yang sampai saat ini tidak bisa ia lupakan. "Kang Dongho! Lanjut bermain tidak?" tanya Ong Sungwoo, salah satu sahabatnya. "sepertinya tidak. Aku akan kembali ke asrama dan mengerjakan beberapa laporan. Kalian lanjutkan saja latihannya. Aku pergi dulu." Setelah mengambil tas dan botol airya, ia kembali menuju asrama.

.

.

.

.

.

Daehwi telah sampai di depan asramanya. Dia membantu para kurir untuk menurunkan barang-barangnya. "barang-barang tuan sudah kami letakkan di dalam kamar asrama tuan. Biar saya antarkan tuan sampai depan kamar tuan." Ucap salah satu kurir. "ah aniya ahjussi. Gamsahamnida. Aku bisa sendiri." Tolak Daehwi. "baik tuan. Kalau begitu kami permisi dulu." Setelah dia para kurirnya pergi, ia tidak langsung masuk ke dalam asramanya itu. Dia memandangi gedung tersebut dengan seksama. "good. Kamarku tepat di lantai 5 dan asrama disini tidak memiliki lift. Good luck, Lee Daehwi. Anggap saja kau sedang berolah raga untuk mengencangkan otot kakimu." Ia bermonolog. Sejenak ia menolehkan kepalanya ke arah taman asrama, dan tidak sengaja dia menangkap sosok namja yang tengah berjalan ke arahnya. Namja itu, namja yang sudah satu tahun ini tidak pernah ia lihat lagi, Kang Dongho.

Saat ini Kang Dongho tengah berjalan menuju asramanya. Angin segar berhembus ke arahnya seakan-akan ikut menyebarkan kharisma yang dimilikinya. Namun langkahnya sedikit terhenti ketika ia melihat sesosok namja mungil tengah berdiri di depan asrmanya sambil memegang koper. Dia berhenti tidak jauh dari namja itu. "mahasiswa baru?" tanya Dongho. Sedangkan yang ditanya hanya diam menatap ke arah Dongho. "hey pendek. aku sedang bertanya padamu. Kau ini patung atau manusia? Jika kau memang junior paling tidak berikan salam pada seniormu disini." Daehwi hanya mengedipkan matanya dan memberikan salam singkat pada Dongho sambil membungkukkan badan "annyeong haseyeo." Dongho menatap Daehwi dari atas sampai bawah. "kau tinggal di lantai berapa? Dari fakultas apa? Biar kuberitau seniormu tentang tingkahmu ini" ancamnya. Daehwi hanya menatap heran ke arah Dongho, tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan. "kurasa itu bukan urusanmu". Setelah itu Daehwi berlri masuk ke asramanya dan meninggalkan Dongho yang sedang kesal. Sesampainya di kamarnya, Daehwi langsung mengunci pintu kamarnya dan meletakkan koper tersebut di pojok ruangan. Ia membanting badannya di kasur sambil tersenyum menatap langit-langit kamarnya. "setelah bertahhun-tahun, tadi itu adalah percakapan pertamaku dengannya." Gumamnya sambil mengingat apa yang baru saja terjadi antara dia dan sunbaenya itu.

.

.

.

.

.

Saat ini Daehwi, Jinyoung, dan Samuel sedang makan siang di kafe dekat kampus mereka. "jinjja. Dia sangat menyebalkan. Cara bicaranya sangat kasar kepada mahasiswa baru sepertiku. Harusnya dia bisa memberikan contoh yang baik sebagai seorang senior. Dan lagi..pendek? Dia memanggilku pendek. Iish. Aku ini tidak pendek eoh! Hanya saja dia lebih tinggi dariku. Tidak sadar diri" Namja mungil itu mengomel sambil menyesap strawberry milkshake-nya. "menyebalkan? Dibandingkan dengan kata 'menyebalkan', kau lebih sering menggunakan kata 'mempesona' untuk mendeskripsikan Dongho sunbae." Ujar namja bule didepannya. "hmmm... benar juga. Dia selalu mempesona untukku. Setidaknya itu yang selalu kulihat dari duniaku. Aku tidak tau bagaimana di dunia yang sebenarnya. Apa dia benar-benar mempesona atau tidak." Daehwi memangku dagu sambil membayangkan saat ia melihat Kang Dongho sedang bertanding sepak bola sewaktu SMA dulu. Dia selalu hadir di setiap pertandingannya, tidak pernah absen sekalipun. "apa dia mengingatmu?" tanya Jinyoung, "sepertinya tidak.." daehwi menjawab sambil memainkan ponselnya "aku bisa melihat matanya bahwa dia tidak mengenalku. Dan aku juga belum siap jika dia bisa mengenaliku." Kedua sahabatnya hanya menatap satu sama lain karena mereka mengerti dengan apa yang dirasakan sahabat mungilnya itu.

Setelah selesai makan siang, mereka segera kembali ke asrama masing-masing. Daehwi tinggal di gedung asrama yang berbeda dengan kedua sahabatnya itu. Setelah sampai di kamarnya, ia langsung menata sisa-sisa barang miliknya yang masih tersimpan di kardus. Ia menata beberapa foto milik Kang Dongho di bagian atas lemari kecil di pojok ruangan. Tak lupa ia juga meletakkan box kecil berwarna hitam di dekat deretan foto tersebut. Sejenak ia memandangi foto namja tersebut dan berakhir memandangi box kecil berwara hitam hitum. Kembali ia menunjukkan senyumnya, namun kali ini senyum miris yang ia tunjukkan. "begitu berharganya dia untukmu, Lee Daehwi. Bisakah kali ini bertahan lagi?" ia bertanya pada dirinya sendiri. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dan memandang langit-langit kamarnya.

Lee Daehwi sudah menyukai Kang Dongho sejak ia masih kelas 1 SMP. Saat itu ia juga satu sekolah dengan Kang Dongho. Awalnya ia mengabaikan perasaannya pada Dongho, tapi entah kenapa matanya benar-benar tidak bisa berpaling dari namja bertubur kekar itu. Demi bisa dekat dengan Kang Dongho, ia rela merelakan SMA impiannya demi masuk di SMA tempat Dongho bersekolah saat itu. Disitu sedikit demi sedikit dia bisa dekat dengan sunbae kesayangannya. Dia bahkan ikut beberapa organisasi dan menjadi panitia beberapa event agar bisa bertemu dengan sunbaenya itu. Tapi saat hari kelulusan Kang Dongho, sesuatu terjadi. Dan itu membuat Daehwi berpikir bahwa mungkin dia tidak akan bisa menyatakan perasaannya kepada Kang Dongho.

.

.

.

.

.

Pagi hari yang sangat cerah serta udara segar di kota Seoul setelah semalam turun hujan deras yang mengguyur kota tersebut dan hari ini adalah hari pertama mahasiswa Universitas Seoul memulai tahun ajaran baru. Saat ini mahasiswa fakultas Sains sedang berkumpul di tribun dekat lapangan sepak bola untuk mengikuti OSPEK dari fakultas mereka. Lee Daehwi yang terlambat datang segera berkumpul dengan yang lain dan langsung duduk di sebelah Jinyoung. "kau tidak pernah terlambat sebelumnya, Lee Daehwi." Tanya Jinyoung heran melihat sahabatnya datang terlambat. "aku tidak bisa tidur semalam. Dan aku tidak mendengar alarm pagi tadi." Ia bergegas merapikan dasi hitamnya.

Tak lama setela itu datanglah sosok namja yang penampilannya sangat nyentrik dengan cara berjalan yang penuh percaya diri. Di lehernya tergantung ID card yang sama dengan panitia OSPEK lainnya. "selamat pagi semuanya.." sapa namja tersebut yang dijawab serempak oleh mahasiswa lainnya. "waahh.. lihat wajah-wajah muda ini. Perkenalkan, namaku Park Jisung. Kalian bisa memanggilku Jisung sunbae, Jisung hyung, atau Jisung oppa. Aku tidak masalah dengan panggilan apa saja dan tidak perlu terlalu sungkan denganku" namja itu tersenyum. "disini aku berperan sebagai ketua panitia OSPEK di fakultas Sains ini. Jadi aku harap, kita semua bisa bekerja sama selama satu bulan kedepan. Ah ya.. kalian sudah mendapatkan jadwal kegiatan ospek kalian? Kalian harus mengikuti jadwal tersebut dengan disiplin. Tidak perlu takut, ini bukan kegiatan yang berat." Para mahasiswa menyimak penjelasan dari seniornya itu. "kurasa sebentar lagi dia akan membahas masalah pemilihan duta kampus." Bisik Jinyoung "aku tidak tertarik." Sahut Daehwi. Jinyoung melirik Daehwi dengan senyuman licik di wajahnya.

"ada informasi tambahan untuk kalian. Kalian pasti sudah tau tentang pemilihan duta kampus di universitas ini. Acara tersebut dilaksanakan tepat di hari penutupan OSPEK semua fakultas. Hari ini juga aku akan memilih kandidat yang akan bertanding di pemilihan duta kampus. Aku tidak akan menggunakan metode yang sulit, kalian dari masing-masing jurusan bisa merekomendasikan mahasiswa yang akan mengikuti duta kampus. Satu namja dan satu yeoja." jelas Park Jisung. Segera Jinyoung mengangkat tangannya dan berkata. "dengan sangat bangga aku merekomendasikan salah satu pria yang tampan yang kukenal, walaupun tidak tinggi. Dia pintar dan kurasa dia bisa menjadi pesaing kuat diacara tersebut. Aku merekomendasikan sahabatku, Lee Daehwi..!"

.

.

.

.

.

Haii para readers.. finally aku bisa lanjutin ini ff. Setelah sempat stuck karena lagi banyak problem di rumah, akhirnya aku bisa bikin new chapter untuk ff ini. Ah iya, for information aja ya, ff ini aku buat bisa dikatakan remake dari novel dan drama Thailand 2Moons The Series. Tapi ada sedikit perbedaan di cerita yang aku buat ini. Jadi buat yang udah tau alur cerita 2Moons The Series mungkin setelah baca ff ini bakalan ngerasa ada sedikit perbedaan, dari segi alur, tempat, kondisi, dan karakter juga. Setelah aku lihat-lihat lagi, si Dongho dan Daehwi sebenarnya punya tinggi yang sama, tapi anggep aja ya si Daehwi itu lebih pendek dari Dongho hehe.

Aku berterimakasih banget buat yang udah nungguin ff ini dan ngikutin ff ini. Aku juga tunggu review, komentar, dan saran kalian, insyaallah bakalan aku baca semua dan aku jadikan rujukan untuk penulisan chapter-chapter berikutnya.

Happy reading my lovely readers..

With love : MADMADDIE9