Disclaimer : Eichiro Oda
Part II
"Nona Vivi, kupersembahkan bunga ini untukmu." Luffy menyodorkan sekarung bunga bangkai berbau mayat kepada wanita yang duduk dihadapannya.
Vivi yang menerima bunga berbau busuk itu menghirup aroma bunga yang mampu menghilangkan selera makan tersebut.
"Harum sekali." Puji Vivi, ya begitulah bila orang jatuh cinta, kotoran pun bila dimakan akan berasa cokelat dan bila putus cinta? Rasanya ya balik lagi jadi kotoran.
"Sudah pesan?" tanya Luffy pada Vivi seraya membolak-balik menu yang berada di cafe tersebut.
"Sudah, tuh pesanan aku datang." Sahut Vivi seraya menunjuk waitress wanita berambut oranye yang nampak membawa nampan dengan segelas kopi mendidih.
Ketika sang waitress ingin menghidangkan kopi mendidih itu, tiba-tiba kakinya terpeleset dan kopi itu dengan sukses tumpah di kepala Luffy.
"HEH KAMU! KALO KERJA YANG BENER!" jerit Luffy yang emosi karena kopi mendidih itu menyirami rambutnya yang baru saja dipotong dengan tarif seratus juta per satu helai rambut.
"Ma-maaf tuan." Cicit sang waitress ketakutan.
Namun Luffy tak mengindahkan perminta maafan sang waitress, dengan ganasnya dia malah menonjok wajah sang waitress.
"Jantan sekali..." puja Vivi lagi dengan tatapan penuh kekaguman, padahal laki-laki pujaannya itu baru saja memukul seorang perempuan.
"Siapa nama kamu? Akan saya laporin kamu ke manajer kamu!" bentak Luffy lagi, sedangkan sang waitress memegangi wajahnya yang lebam karena pukulan Luffy.
"Na-nami tuan."
"Panggil manajer kamu! SEKARANG!" bentak Luffy lagi.
"Bu-buat apa tuan?" tanya Nami yang terlihat bingung dengan permintaan Luffy.
"BUAT MECAT KAMU LAH! EMANG BUAT APAAN COBA?"
Mendengar kata-kata Luffy itu, Nami segera bangkit berdiri, "SAMPAI INI CAFE TUTUP PUN GAK BAKAL GUE PANGGIL MANAJER GUE! EMANGNYA GUE BEGO APA MAU MANGGIL MANAJER GUE BIAR LO BISA LAPORIN DAN MECAT GUE?"
"HEH! KAMU..."
Belum sempat Luffy menyelesaikan kata-katanya, Nami sang waitress langsung menendang selangkangan Luffy, membuat Luffy menjerit seraya memegangi penis nya tercinta.
Sang waitress lalu pergi kembali bekerja sementara Vivi kembali memandang Luffy yang sedang kesakitan memegangi penisnya, "Waktu sedang kesakitan pun kamu tetap keren, sugoiiiiiiiii!" Jerit Vivi seperti anak kecil baru dikasih permen.
Part II
"Kamu ngaa apa-apa?" tanya Vivi seraya memandang penis Luffy yang dikompress dengan es batu.
"Ya, tenang saja sayang, anu ku tahan pukul kok." Ujar luffy, sok kuat padahal 'senjatanya' udah nyut-nyutan.
"Kalau begini tahan nggak?" sahut Vivi seraya menggenggam penis Luffy dan mengocoknya pelan.
'Kamprettttt penis gue lagi sakit malah dirangsang.' Batin Luffy dengan sedikit kesal tapi sedikit keenakan juga.
Vivi mempercepat kocokannya, membuat penis Luffy menegang dan membuat Luffy mengerang, penisnya menegang karena keenakan dan Luffy mengerang karena kesakitan.
"Ahhh, terus sayang, ahkkk enakk, enak tapi sakit, eh, sakit tapi enak." Racau Luffy sambil merem melek.
Vivi semakin bersemangat mempermainkan kemaluan Luffy hingga akhirnya...
Crooooootttttss!
Penis Luffy memuntahkan cairan putih kental ke tangan Vivi, dan dengan rakusnya Vivi menjilat habis cairan itu.
"Ngomong-ngomongsayang, pekerjaan kamu apa?" tanya Luffy dengan nafas tersenggal karena baru memuntahkan energi nuklir yang sangat besar (?).
"Aku seorang polisi." Jawab Vivi yang masih memegangi penis Luffy yang sudah tidak bertegangan tinggi.
Mendengar pekerjaan Vivi, tiba-tiba Luffy jadi sedikit gentar, keringat dingin membasahi wajahnya, dan penis nya kembali menegang.
"Dan aku sedang mengusut kasus pembunuhan sadis terhadap seorang wanita yang wajahnya hancur digores! Sialan pembunuh itu! Kalau kutangkap akan aku sunat 10 kali!" geram Vivi yang saking emosinya meremas dengan kuat penis Luffy yang masih dipegangnya.
"ADAAWWWWWW! SAAKIIITT!" teriak Luffy yang penis nya dihancurkan oleh remasan Vivi, kasihan penis Luffy.
"Maaf sayang, aku sengaja, eh aku tidak sengaja!" Vivi langsung melepaskan remasannya.
Luffy hanya mengangguk seraya menahan tangis dan mengelus penisnya dengan lembut.
Part II
Luffy mondar-mandir di apartemennya, Vivi telah pergi dan kini Luffy tampak cemas setelah mengetahui pekerjaan Vivi.
'Gawat, bagaimana ini, tak kusangka wanita yang mampu membuatku terangsang dan melepaskan bom atom dari penisku ternyata adalah polisi, bagaimana kalau aku tertangkap? Kalau aku di penjara aku tak bisa membunuh lagi dan ku dengar di penjara banyak pria haus seks yang lama tidak di belai dan akhirnya memangsa pria lain yang satu sel, kampret membayangkannya saja aku sudah muak!' batin Luffy dengan pikiran tertekan.
Tok Tok Tok
Terdengar pintu apartemen diketuk, Luffy segera melangkah ke pintu dan membukanya.
"Anda tuan Luffy? Saya tetangga anda, perkenalkan saya Sanji, seorang polisi." Ujar Sanji seraya menunjukan kartu pengenal kepolisian miliknya.
"Hah? Polisi? Kenapa lo kemari? Gue bukan pelaku pembunuhan wanita yang wajahnya hancur! Sumpah dehhhhh."
Sanji sweatdrop dan tanpa diberi izin sebelumnya dia langsung memasuki apartemen Luffy.
"Tuan Luffy semalam saya mendengar ada keributan di apartemen anda, sampai saya harus memperingatkan anda dua kali!" ketus Sanji tanpa banyak cincong.
"Tapi kan gue udah minta maaf, dua kali juga!" balas Luffy sengit.
"Oh, iya ya.. Eh bukan! Bukan itu intinya! Intinya kenapa anda berisik sekali tadi malam!"
"Memangnya ada hukum yang melarang untuk berisik di malam hari!" tanya Luffy.
"Tidak ada sih.. Tapi kenapa anda bisa tahu kalau ada seorang korban pembunuhan wanita yang wajahnya hancur, hayoooo?" balas Sanji sengit.
"Suka-suka gue donk tahu apa nggak, itu kan hak gue! Mau lo gue laporin ke komnas ham! Ke komnas orang ganteng! Ke komnas orang kaya!?" ancam Luffy.
"Oh ti-tidak, ya sudah maaf sudah menggangu, tuan Luffy." Gagap Sanji seraya pamit dan pergi meninggalkan Luffy.
"WAHAHAHAH UNTUNG TUH POLISI BEGO!" tawa Luffy dengan keras karena puas telah mengelabui polisi.
"APA! LO KATAIN GUE BEGO!" tiba-tiba Sanji kembali masuk ke apartemen Luffy.
"Eh, bu-bukan lo yang gue maksud ta-tapi.." kepala Luffy celingak-celinguk mencari sesuatu, lalu dia menemukan sebuah buku komik berjudul Detective Conan di dekat meja tempat dia berdiri, lalu dia menyambar buku itu.
"Maksud gue polisi di komik ini! Bego banget yah polisinya hahaha." Sambung Luffy seraya menunjuk komik tak berdosa itu sambil tertawa jayus.
Sanji menatap Luffy sebentar, lalu dia kembali meninggalkan Luffy.
"Fiuhh nyaris saja."
Part II
Luffy memandang cafe yang tadi siang didatanginya bersama Vivi, malam sudah sangat larut, nyamuk-nyamuk bertebangan menghinggapi tubuh seksi Luffy dan menghisap darahnya, namun Luffy tampak tak perduli akan hal itu.
Tak beberapa lama kemudian, tampak seorang perempuan berambut oranye keluar dari cafe itu.
"Akhirnya target baru gue keluar." Seringai Luffy menakutkan.
To be Continue
A/N : Tidak ada gore di chap ini, tadinya mau kami tamatkan ini fict di chap ini nggak tahunya semua data yang kami tulis ke delete, karena semua fict kami nulis di warnet akhirnya kami nulis secara sistem kebut dan akhirnya jadilah chap yang singkat ini.
Tapi chap depan kami pastikan bakal jadi chap terakhir ciaattttt!
