My True Angel

Chapter 2

Ketemu lagi minna….!

Saya terharu banget….. ternyata banyak yang minta agar fic abal ini nggak dihapus

Makasih… makasih…*nangis haru*

Tanpa kalian, fic ini gak akan bisa dilanjutkan karena patah hatinya seorang author…*ditendang*

Banyak yang tanya Sakura mati betulan nggak? Jawabannya iya. Tapi karena genrenya fantasy dan bukan tragedy, maka Sakura masih punya peran sampai akhir cerita.

Terus tentang pairnya, fic ini pairnya Sasusaku dan Naruhina. Maaf baru diterangin sekarang…*dasar author tidak berpengalaman*

Readers: nggak usah banyak bacot… cepetan mulai*mandang sinis*

Aoiqua: iya…iya…*sambil menghapus air mata-lebay deh*

NarutoMasashi Kishimoto, maaf Kishi-senpai, disclaimernya baru ada di ch 2

StoryAoiqua

Warning: AU, OOC, Fantasy (jadi susah diterima dengan akal sehat), Naruhina, Sasusaku, diksi gaje, miss-typo,dll

DON'T LIKE? DON'T READ!

"Di… di mana ini?"

Gadis berambut merah muda dan bermata emerald itu terbangun. Dalam keadaan setengah sadar, ia melihat sekelilingnya. Putih. Bagaikan kabut yang mengelilinginya. Tak berujung, dan tak ada siapapun di sana. Mimpikah ini? Ia kan baru saja bersama sahabatnya Hinata. Tapi di mana ia sekarang?

Ternyata ia tidak sendirian. Seorang pemuda juga berdiri di sampingnya sambil menatapnya dingin. Pemuda itu berambut raven dengan style seperti pantat ayam. Ia mengenakan jubah berwarna putih dan celana panjang putih. Sebuah sayap tampak bertengger di punggungnya. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Ia seperti…malaikat! Atau sebaliknya?

'Tampannya' pikir Sakura. Tidak! Tak seharusnya dia memikirkan itu sekarang.

"Hei, siapa kau? Dan di mana ini?" tanya Sakura dengan terikan khasnya.

Ia melihat Sakura dengan tatapan tajam, seakan mengatakan kau-harusnya-sudah-mengetahuinya.

"Cepat jawab! Aku ada di mana!"

Tapi pemuda raven itu malah menarik lengan Sakura dan menahannya di suatu tempat. Ini… seperti televisi dengan layar awan! Sakura tak pernah melihat hal ini sebelumnya, yah.. setidaknya setelah ia bangun dari mimpi yang penuh terasa begitu nyata ini.

Pikiran Sakura tentang televisi awan yang indah itu buyar ketika matanya menangkap sesuatu, ah bukan, dua orang yang paling dikenalnya. Dua sosok yang paling dekat dengannya, sahabatnya, dan….

Kekasihnya!

Penglihatan Sakura dipenuhi oleh orang-orang dengan pakaian serba hitam. 'Mengapa mereka berdiri di sana? Mereka terlihat mengerumuni sesuatu, dan beberapa dari mereka menitikkan air mata. Gundukan tanah apa itu? Apa yang terjadi sebenarnya? Dan apa hubungannya denganku?'

Semua pertanyaan Sakura terjawab ketika ia melihat sebuah batu nisan pada gundukan itu. Dan sekarang semuanya makin membingungkan. Tapi putaran-putaran memori otaknya seakan terlihat jelas, dan satu hal yang pasti diketahui gadis itu adalah bahwa

.

Ia telah meninggal!

.

Lalu, di mana ia sekarang?

Satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaannya ada di sampingnya sekarang. Matanya menatap pemuda raven dan bermata onyx itu, meminta penjelasan. Dengan tatapan dingin yang biasa, pemuda itu menjawab dengan menunjuk layar di depannya.

"Sekarang kau ada di dunia peralihan. Diam dan perhatikanlah"

Setelah berkata demikian, pemuda raven itu masuk ke layar dan mengajak Sakura. Tanpa protes Sakura pun ikut dengannya. Mau bagaimana lagi? Satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang hanya mempercayai pemuda yang ada di sampingnya itu.

*MyTrueAngel*

Hinata menatap orang itu dengan wajah penuh penyesalan. Pemuda jabrik berambut kuning itu sedang mengubur sesuatu, sebuah bola kaca. Bola kaca yang bertuliskan 'Untuk Naruto, Happy Brithday', hadiah terakhir dari kekasihnya.

"E.. eto…. Naruto-kun.." ucapnya pelan.

"Aku mohon, biarkan aku sendiri, Hinata-chan!" kata pemuda itu dengan suara serak.

Hinata dapat mendengar suara bergetar dari pemuda jabrik itu. Sungguh, ia betul-betul tak tahan melihat keadaan pemuda itu. Kemana Naruto yang selalu ceria? Naruto yang mengumbar senyum cerah dari wajahnya?

"Maaf, maafkan aku… Hiks.. hiks… sungguh, aku tidak bermaksud…" Hinata tak dapat melanjutkan kata-katanya. Rasanya ada yang menghalangi kata-kata itu keluar dari mulutnya. Ditambah lagi dengan bulir-bulir air mata yang kini mengaburkan pandangannya.

"Pergilah, aku mohon… Ini sama sekali tak ada hubungannya denganmu"

DEG!

Hinata sadar. Ia tahu. Ia hanya orang ketiga. Tak lebih. Di pikiran Naruto hanya ada Sakura. Ia bukan siapa-siapa. Sambil menghapus air matanya, Hinata pun meninggalkan tempat itu.

*MyTrueAngel*

"A.. apa maksudnya ini?" kata gadis bermata emerald itu kepada pemuda di sampingnya.

"Sudah jelas bukan? Mereka menghadiri pemakamanmu…" kata pemuda raven itu, tetap dingin seperti tadi.

"Baka! Aku tahu… sekarang beritahu aku! Jelaskan aku apa sebenarnya yang terjadi! Aku bingung setengah mati tau….! Kenapa aku tiba-tiba di sini, lalu… lalu siapa sebenarnya kau, hah? Aku muak! Kau seakan-akan mengejekku dengan tatapan dinginmu seolah hanya kaulah yang mengetahui segalanya dan aku hanyalah orang bodoh yang tak tahu apa-apa!" bentak gadis itu, mengeluarkan segala kebingungan yang melandanya.

"Hn… kau gadis yang enerjik juga….

.

Sakura…"

.

Heh?

Lalu… darimana pemuda berambut raven itu menetahui namanya?

"Hn.. kau menarik juga. Baiklah… kita mulai saja.. dari perkenalan! Perkenalkan namaku Sasuke. Dan pemuda jabrik tadi itu, kekasihmu-Naruto, adalah adikku.." pemuda raven itu memperkenalkan diri dengan senyum tipisnya.

.

.

A P A ?

*MyTrueAngel*

Di sinilah ia, Sakura. Rumah mewah itu memang telah dilihatnya berulang kali. Bagaimana tidak, itukan rumah Hinata-sahabatnya sejak kecil. Sakura mendengus. Huh. Kenapa coba pemuda raven itu harus mengirimku ke sini?

Flashback

"Kau seharusnya sudah mati. Tapi, sebelum itu, kau diberi kesempatan untuk kembali memperbaiki kesalahan yang telah kau perbuat sebelumnya. Kau belum mengerti ya? Hinata itu mencintai Naruto. Setidaknya itulah tujuanmu. Menyatukan mereka. Aku ditugaskan untuk memantaumu. Sampai tugasmu selesai, kau akan diberi keleluasaan untuk merubah wujud menjadi manusia. Dan jangan membuat kehebohan. Jangan memperlihatkan dirimu di depan orang lain. Akan aneh bukan jika mereka melihatmu sedangkan kau telah meninggal?" Sakura masih ingat perkataan Sasuke sebelumnya, "Kesempatan pertamamu. Bulan depan ulang tahun Hinata. Ia akan mengadakan pesta di rumahnya. Pergilah ke sana dan jalankan tugasmu. Jangan buat aku kecewa, mengerti?"

"Iya, iya. Huh. Bawel. Aku tidak menyangka ternyata kau bawel juga" gumam Sakura acuh tak acuh.

End of flashback

Pada lantai 2 rumah bercat putih itu, Sakura bersiap-siap mengenakan topeng yang telah diberikan oleh Sasuke. Alasan apa lagi selain agar tak ada seorangpun yang dapat mengenalnya? Namun sayangnya, sebelum ia sempat mengenakan topengnya, sebuah suara familiar memanggilnya….

"SAKURA?"

Gadis pink itu berbalik dan wajahnya menjadi pucat. Terlihat di depannya seorang gadis yang selama ini dikenalnya. Emerald bertemu Lavender. Masing-masing berusaha untuk menangkap makna dari sirat kekagetan yang terlukiskan di matanya.

.

.

'Oh, tidak. Hinata'

TBC

Author Note:

Yaah… masih pendek ya, minna! Author abal ini rupanya masih harus berjuang keras….

Pokoknya segitu dulu ya.. sorry telat banget updetnya! Saya jarang ol sih….

Kritik dan saran anda sangat membangun dalam rangka peningkatan fic ini…

Tapi yang konkrit ya…

Cuman mau memastikan apakah fic ini layak untuk dilanjutkan atau tidak! Harap reviewnya…. :)

Jaa Mata,

Aoiqua