Jongin menatap datar rentetan pesan percakapan dalam ponsel berwarna hitam itu. Matanya sesekali melirik pria tinggi yang tengah tersenyum penuh makna di antara kegiatannya menyesap kopi hazelnut-nya. Jongin menghela napas kasar seraya mengembalikan pandangannya ke ponsel hitam di tangannya. Tangannya terus bergerak dengan mata yang memancarkan aura mati kebosanan, namun dia bersikap seolah membaca seluruh isi pesan percakapan dalam ponsel itu agar pria tinggi di hadapannya puas.

"Jadi," Jongin berhenti membaca saat kursor dalam ponsel itu tidak bisa turun lagi, kemudian menatap pria tinggi di hadapannya, "Pria cebol ini akan melamar kerja disini?" tanyanya dengan intonasi super datar.

Pria tinggi itu meletakkan kopinya di atas meja kerjanya. "Mm-hm."

Jongin mengembalikan ponsel hitam itu pada pemiliknya –yang ternyata adalah milik pria tinggi itu. "Dan kau ingin mempekerjakannya?"

Pria tinggi itu mengambil ponselnya, kemudian membaca isi pesan percakapan yang dibaca Jongin tadi dengan senyuman yang terlihat mengerikan –bagi Jongin. "Mm-hm."

"Dia bahkan tidak memiliki minat dalam mode, bagaimana mungkin kau ingin mempekerjakannya?" tanya Jongin dengan intonasi tidak percaya.

"Tapi aku mengenalnya," Pria tinggi itu tersenyum seraya berjalan ke kaca besar dalam ruangannya –menatap pemandangan kota, "Dia adikku."

Jongin mendengus. "Untuk yang kesejuta kalinya, dia bukan adikmu!"

"Aku tahu." sahut si pria tinggi. Dia menoleh pada Jongin dengan senyuman mengerikannya lagi. "Dan tugasmu, asisten pertamaku, adalah mewawancarainya dan mempekerjakannya sebagai asisten keduaku."

Jongin menatap datar si pria tinggi yang merupakan sahabat sekaligus pemimpin redaksi di tempatnya bekerja. Ini gila –pikirnya. Tapi dia bisa apa? Semua keputusan yang berhubungan dengan perusahaan ini berada di tangan pria tinggi itu. Jadi yang bisa Jongin lakukan adalah menghela napasnya, kemudian bertanya, "Kau yakin dengan keputusanmu ini?"

Pria tinggi itu kembali menatap pemandangan kota. Dimasukkannya kedua tangannya ke dalam saku celananya, kemudian mengembangkan senyuman penuh makna di bibirnya. "Sangat yakin."

.

.

.

###

LIES IN BETWEEN

Chapter 1 The Devil

Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol

Support Casts : Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae

Genre : Romance, Drama

Rate : M

Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy

Note: Chapter pertama bukanlah awal dari semua kebohongan itu bermula. Akan ada flashback di beberapa chapter yang menceritakan awal kebohongan itu. Tapi kalian harus ingat, meskipun FF ini rated M, bukan berarti ada NC di setiap chapter. NC akan datang saat tiba saatnya. Sip, semoga kalian suka and enjoy~

###

.

.

.

Jongin memerhatikan pria pendek di hadapannya dengan saksama. Pria itu bernama Byun Baekhyun. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh lima senti, rambutnya berwarna coklat kopi, kulitnya putih bersih, dengan mata sipit berhiaskan eye-liner dan bibir tipis merah muda. Bila dilihat dari segi fisik, Jongin baru mengerti kenapa sahabatnya itu tertarik pada pria pendek di hadapannya. Si cebol –begitulah panggilan kesayangan sahabatnya untuk pria Byun ini. Dia lulusan Dong-ah Institute of Media and Arts jurusan Broadcasting and Journalism yang lulus dengan nilai rata-rata A. Cukup mengesankan –pikir Jongin. Bila dilihat dari segi otak, Jongin kini mengerti kenapa sahabatnya –sangat– yakin ingin mempekerjakan pria pendek ini. Namun bila dilihat dari segi gaya–

"Jadi," Jongin membaca resume Baekhyun sekilas seraya melirik pria pendek yang sedang ia wawancarai itu, "Kau punya ketertarikan dalam dunia mode? Melihat matamu dihiasi eye-liner, kupikir kau punya minat dalam mode."

Jongin bohong.

Memakai eye-liner tidak membuktikan seseorang memiliki minat dalam mode.

Hell, tentu saja dia harus berbohong atau –bahasa halusnya– mencari alasan agar dirinya yakin pada pria pendek –yang cara berpakaiannya tidak terlalu modis ini– sehingga Jongin bisa mempekerjakannya sesuai perintah atasannya yang gila. Well, bayangkan saja. Korean Vogue –tempat Jongin bekerja– adalah perusahaan yang menciptakan salah satu majalah mode paling sukses dan termahal dalam dunia bisnis di Korea Selatan. Majalah Korean Vogue menampilkan artis-artis hebat dan terkenal abad ini yang di dalamnya mengenakan berbagai macam rancangan designer terkenal di penjuru negeri. Banyak yang ingin bekerja disana dan tidak sembarang orang bisa bekerja di perusahaan ini, apalagi jika ia tidak memiliki minat dalam mode. Karena walaubagaimanapun Korean Vogue itu majalah mode, jadi minat dalam mode itu sangat penting. Dan Park Chanyeol –pemimpin redaksi Korean Vogue– si pria tampan workaholic berhati dingin nan kejam yang terkenal sangat ketat dalam memilih karyawan yang ia pekerjakan, ingin mempekerjakan seseorang tanpa minat dalam mode dan tidak mengidolakan majalah Korean Vogue hanya karena 'seseorang' itu bernama Byun Baekhyun. Bisa kalian percaya itu?

"Well, jika itu membuktikan aku memiliki minat dalam mode, maka jawabanku adalah ya." sahut Baekhyun seraya tersenyum tipis.

Jongin tersenyum. Dia berdiri dari duduknya, kemudian mengulurkan tangannya ke hadapan Baekhyun. "Kalau begitu, selamat datang di Korean Vogue, Baekhyun-ssi."

Mendengar ucapan Jongin, senyuman lebar terkembang begitu saja di bibir Baekhyun. Dengan cepat, ia bangkit dari duduknya, meraih uluran tangan Jongin, dan menjabatnya. "Terima kasih banyak. Aku akan bekerja dengan keras."

Jongin tersenyum.

Kuharap begitu –Jongin menjawab dalam hati.

.

.

Jongin melemparkan kertas resume milik Baekhyun ke atas meja kerja Chanyeol, kemudian melipat kedua tangannya di dada. Chanyeol yang sedari tadi sibuk mengetik, beralih menatap asisten pertamanya dengan alis bertautan.

"Kau dapatkan asisten keduamu, Tuan Park. Dia akan bekerja mulai besok."

Chanyeol tersenyum puas mendengar ucapan Jongin. Dia meraih kertas resume Baekhyun dan menatap foto Baekhyun berukuran 3x4 disana. Hanya menatapnya. Dan itu membuat senyuman Chanyeol terkembang semakin lebar. Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya melihat sahabatnya bisa tersenyum bak orang gila hanya karena menatap foto formal seorang pria cebol bernama Byun Baekhyun.

"Kau puas?" Pria berkulit tan itu memecahkan keheningan di ruangan pribadi Chanyeol.

"Mm-hm." Chanyeol melirik Jongin tanpa melepaskan senyuman mengerikannya. "Thanks."

Jongin memutar bola matanya malas. "Dia bahkan tidak tahu apa-apa mengenai mode dan kau malah mempekerjakannya disini sebagai asistenmu? Dia akan kelabakan bekerja disini. Belum lagi pemimpin redaksi di perusahaan ini gila." sindirnya seraya menatap tajam Chanyeol.

"Dia itu pintar, Jongin. Aku yakin dia bisa belajar dengan cepat. Kau tidak perlu khawatir." sahut Chanyeol enteng seraya meletakkan kembali kertas resume Baekhyun di atas mejanya.

"Ya, kuharap dia bisa bertahan dengan sifat menyebalkanmu." Jongin mencibir sekali lagi.

"Oh, ayolah. Kau berlebihan, Tuan Kim. Kau tahu aku ini sangat pemilih dalam hal mempekerjakan karyawan disini. Dan Baekhyun, dia itu sangat berbakat. Kau lihat sendiri dia memiliki banyak prestasi dalam bidang jurnalistik. Ditambah lagi, dia baru lulus dari universitasnya, otaknya masih segar dan itu akan membantunya untuk menyesuaikan diri bekerja disini. Aku hanya memberinya kesempatan. Itu saja."

"Wow." Jongin menatap Chanyeol takjub. "Kau ingin menidurinya."

"What? No! Dari mana pemikiran itu datang?" Chanyeol menepis kuat pernyataan Jongin.

Jongin mendengus. "Oh, ayolah! Dilihat dari sudut manapun, kau itu menyukai pria Byun ini. Apa kau bahkan menyadari bahwa kau selalu tersenyum aneh saat membicarakan pria ini? Dan itu terlihat sangat mengerikan, kau tahu?"

"Senyumanku itu menawan, Jongin. Dan aku tidak selalu tersenyum saat membicarakan Baekhyun, oke?" Chanyeol sekali lagi menepis pernyataan Jongin. Pria tinggi itu mulai menyibukkan dirinya sendiri dengan mengetik kembali di laptopnya.

Jongin menghela napasnya kasar –tidak habis pikir dengan sahabatnya itu. "Kuharap dia tidak bunuh diri setelah bekerja menjadi asistenmu."

"Drama Queen." cibir Chanyeol tanpa menghentikan acara mengetiknya.

Jongin menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum akhirnya ia keluar dari ruangan Chanyeol.

###

Baekhyun baru saja melepaskan mantelnya saat ia sampai di lantai sepuluh dalam gedung Korean Vogue. Ini hari pertamanya bekerja disana dan dia sangat bersemangat. Well, meskipun bekerja disana bukanlah impiannya, tapi pengalaman bekerja disanalah yang ia butuhkan untuk mencapai impiannya menjadi seorang jurnalis. Senyum itu terkembang saat melihat seorang pria berkulit tan yang sedang membereskan beberapa dokumen di salah satu meja yang terletak di depan sebuah ruangan besar di antaranya. Baekhyun ingat padanya. Dia adalah orang yang mewawancarainya kemarin. Dihampirinya pria berkulit tan itu tanpa melepaskan senyuman manisnya.

"Hai," sapa Baekhyun, membuat pria berkulit tan itu menoleh, "Kita bertemu lagi."

Jongin mengernyit untuk beberapa saat sebelum akhirnya ingat pada wajah pria pendek itu. "Byun Baekhyun, benar?"

"Ya. Ini hari pertamaku bekerja, jadi mohon bantuannya."

Jongin terkekeh karena ucapan Baekhyun barusan. "Kau harus terbiasa bekerja tanpa bantuan orang lain jika ingin bertahan bekerja disini, Baekhyun." Baekhyun mengernyit bingung, namun ia tidak bertanya apapun. "Namaku Kim Jongin. Aku adalah asisten pertama Park Chanyeol –pemimpin redaksi di perusahaan ini. Dan sebelum kau bekerja, kau harus mengetahui beberapa hal. Pertama-tama, tugas kita adalah menjawab setiap telepon yang berdering. Jangan sampai ada voice mail karena itu akan membuat Chanyeol marah. Jika aku tidak ada disini, kau tidak boleh meninggalkan mejamu."

"Um..bagaimana kalau aku harus ke toilet atau semacamnya?"

"Tetap tidak boleh. Pernah ada satu asisten meninggalkan mejanya hanya karena ingin buang air kecil sehingga Chanyeol kehilangan salah satu kliennya dan dia harus rela terbang ke Australia untuk mengurusnya sendiri, mantan asisten itu kini bekerja di tempat yang tidak ingin kau ketahui." tutur Jongin seraya menepuk pundak Baekhyun –secara tidak langsung menyemangatinya akan peringatan yang ia berikan.

Baekhyun menelan ludahnya kasar. "Harus selalu ada di mejaku, aku mengerti."

"Secara teknis, tugasmu dan tugasku itu berbeda. Aku bertugas mengatur semua jadwal Chanyeol, sedangkan kau mengurus tetek bengek yang dia inginkan –membeli kopi misalnya." Baekhyun mengangguk paham menanggapinya. Tak lama setelahnya, Jongin merasakan ponselnya bergetar –menandakan sebuah pesan yang baru masuk. Saat pria berkulit tan itu membaca pesan itu, matanya membulat sempurna. Baekhyun sempat melihat Jongin menahan napasnya saat membaca pesan yang ditebaknya merupakan berita mengejutkan. "Uh-oh."

.

.

Sebuah mobil Porche Boxster Cabriolet berwarna hitam terparkir tepat di depan gedung Korean Vogue. Tak lama setelahnya, seorang pria tampan berbalutkan setelan berkelas yang dilapisi mantel bulu berwarna hitam, keluar dari mobil itu. Dari balik kacamata hitam itu terdapat mata bulat indah yang terkesan tegas, garis rahang yang tajam mempertegas pembawaannya yang dingin nan tegas, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang tebal menambah daya tarik sosok dengan tinggi seratus delapan puluh lima senti itu. Itulah Sang Iblis. Orang-orang memanggilnya seperti itu karena pria dengan nama Park Chanyeol itu terkenal dingin dan kejam pada semua karyawan yang bekerja dengannya –meski hal itu tidak sepenuhnya benar jika mereka mau mengenal sosok tinggi itu lebih baik. Chanyeol terlahir dari keluarga kaya yang menggeluti bisnis dalam bidang mode. Bermodalkan otak cemerlang dan paras tampan, membuat pria lulusan Yale University itu disegani banyak orang. Pribadinya yang tidak suka tersenyum pada sembarang orang membuatnya terlihat angkuh. Ketegasannya dalam bekerja kerap membuat semua karyawannya bergidik ngeri. Bahkan dalam setiap langkahnya, orang-orang akan menatapnya segan –bahkan ngeri.

Langkah Chanyeol yang lebar itu memasuki gedung tinggi yang menjulang di hadapannya. Ia tidak membutuhkan izin ataupun harus meng-scan kartu karyawan –seperti yang dimiliki karyawan di perusahaan itu– untuk memasuki gedung itu karena dia adalah pemimpin redaksi majalah mode disana, jadi para penjaga pintu perusahaan langsung membiarkannya masuk. Seorang pria yang baru saja memasuki lift langsung keluar dari lift itu saat ia melihat Chanyeol. Ada raut takut bercampur khawatir di diri pria itu saat Chanyeol menatapnya tajam dari balik kacamata hitamnya. Dengan cepat, pria itu keluar dari lift seraya meminta maaf pada pemimpin redaksi Korean Vogue itu.

.

.

Di saat yang bersamaan, suasana dalam gedung Korean Vogue itu nampak riuh. Orang-orang berlari panik setelah Jongin memberitahukan mereka bahwa 'dia' telah datang. Baekhyun tidak tahu siapa yang dimaksud Jongin, namun itu berefek besar bagi semua karyawan disana. Terlihat beberapanya sibuk membereskan dokumen yang berserakan di meja, beberapanya sibuk menempelkan beberapa model pakaian di papan presentase, dan beberapanya sibuk mengatur penampilannya di cermin. Jongin sendiri tidak kalah sibuknya dengan orang-orang itu. Pria berkulit tan itu berlari ke ruangan besar –yang terletak di antara meja Jongin dan meja Baekhyun– dan meletakkan beberapa majalah mode di atas meja dalam ruangan besar itu. Begitu Jongin selesai, dia berlari menuju suatu tempat dengan sebuah daftar jadwal dan pertemuan milik seseorang, juga sebuah buku catatan berwarna merah dengan pulpen hitam di tangannya. Baekhyun tidak yakin kemana Jongin pergi, jadi ia putuskan untuk menunggunya di mejanya saja.

Pintu lift terbuka di lantai sepuluh, menampakkan Chanyeol dengan kacamata hitamnya. Chanyeol segera keluar dari sana seraya membuka kacamata hitamnya. Raut angkuh namun penuh wibawa itu terlihat kentara di wajah tampan Chanyeol. Pria tinggi itu melewati beberapa ruangan dengan dinding terbuat dari kaca saat ia berjalan menuju ruangannya. Dan di saat yang bersamaan, Jongin menyambutnya disana.

"Katakan, Jongin. Apa begitu sulit mengonfirmasi sebuah janji?" tanya Chanyeol tanpa menghentikan langkahnya.

Jongin memberikan daftar pertemuan dan jadwal di tangannya pada Chanyeol seraya mengikutinya dari samping. "Aku tahu, Yeol, dan aku minta maaf. Aku sudah mengonfirmasinya tadi malam dan–"

"Kau tahu aku tidak tertarik mendengarkan alasan tidak bermutumu." Chanyeol membaca sekilas daftar yang diberikan Jongin dan memberikannya kembali pada pria berkulit tan itu. "Katakan pada Joonmyeon, aku tidak mau menerima rancangan gadis Brazil itu. Yang kuminta itu yang bersih, atletis, dan indah, bukannya yang kumal, loyo, dan jelek. Aku bersedia datang ke pesta Jessica Jung, jemput aku pukul 8.30 tepat. Lalu beri tahu Ahra, jangan memilih model tahun 60an. Aku ingin model muda yang cantik dan langsing, bukannya teman satu angkatan Ji Sukjin. Jangan lupa katakan pada Yuri, aku akan menemuinya di restoran Perancis yang pernah kudatangi bersamanya. Dan katakan pada Wendy, aku sudah melihat semua foto yang dikirimkannya untuk fitur penerjun payung wanita dan mereka benar-benar tidak menarik. Apakah begitu sulit mencari penerjun payung wanita yang langsing dan menarik?"

"Tidak." jawab Jongin tanpa menghentikan gerakan tangannya –menulis semua yang diperintahkan Chanyeol tadi– di buku catatannya.

"Menurutku juga tidak." Chanyeol berhenti melangkah di depan ruangannya seraya membuka mantel bulunya. Pria tinggi itu meletakkannya di meja Jongin tanpa menghentikan ucapannya, "Satu lagi, aku ingin lihat semua yang diajukan Kyungsoo untuk sampul majalah bulan ini." Chanyeol berhenti bicara saat matanya bertemu dengan mata sipit berhiaskan eye-liner yang duduk di meja asisten kedua.

Hening.

Oke, ini canggung.

Dan keadaan canggung ini cukup membuat Baekhyun gugup. Ditatap seintens itu oleh atasannya yang tampan tentu saja membuat pria mungil itu menelan ludahnya susah payah. Melihat itu, Jongin segera berdehem, mengambil inisiatif untuk mencairkan suasana. "Ini adalah Byun Baekhyun. Dia akan bekerja mulai hari ini sebagai asisten keduamu."

Dengan cepat, Baekhyun bangkit duduknya dan menghampiri Chanyeol. Pria pendek itu membungkuk –memberi salam. "Salam kenal, namaku Byun Baekhyun."

Chanyeol tidak menyahutnya. Pria tinggi itu malah memerhatikan penampilan Baekhyun dari atas sampai bawah. Pria pendek pendek itu mengenakan kemeja coklat, celana bahan berwarna hitam, dan sepatu kerja biasa. Sangat sederhana. Chanyeol tahu tak satupun dari yang dikenakan Baekhyun merupakan rancangan designer ternama. Dan Chanyeol merupakan orang yang suka memerhatikan penampilan seseorang, terutama dari selera berpakaiannya. Chanyeol juga tahu bahwa Baekhyun bukan tipe orang yang modis, tapi ia tidak menyangka Baekhyun akan berpakaian sesederhana ini di kantornya. Jadi, yang dilakukan pria tinggi itu adalah menusuk Baekhyun dengan pandangan menilainya. Menyadari pandangan menilai itu diajukan ke pakaian yang Baekhyun kenakan, Baekhyun refleks menatap penampilan dirinya dari bawah sampai atas. Alisnya bertautan sempurna. Dirinya berpikir apakah ada yang salah dari caranya berpakaian?

"Kopi hazelnut dengan krim."

"Ne?" Ucapan Chanyeol yang tiba-tiba dan terkesan tidak jelas itu tentu saja membuat Baekhyun bingung. Pria pendek itu melirik Jongin yang berdiri di belakang Chanyeol –mengirim sinyal SOS pada pria berkulit tan itu. Jongin yang mengerti akan hal itu hanya menganggukkan kepalanya, seolah menyuruhnya untuk menuruti yang Chanyeol inginkan tanpa banyak bertanya. "B–baiklah."

Begitu Baekhyun pergi dari sana, Chanyeol terkekeh pelan. Jongin menatapnya datar. "Kau menikmati kejahilanmu, hah?" cibirnya.

Chanyeol menoleh pada Jongin. "Oh, ayolah. Aku hanya membantunya menyesuaikan diri bekerja disini." bela pria tinggi itu.

"Ya, kau terdengar membantunya. Aku sangat bangga padamu, bung." ucap Jongin sarkastis. Sedangkan Chanyeol hanya tertawa menanggapinya seraya berjalan menuju ruangannya.

.

.

Baekhyun meletakkan kopi hazelnut yang ia beli di atas meja Chanyeol. Ia memundurkan langkahnya dan menatap Chanyeol yang sedang sibuk membaca sebuah dokumen. "Ada lagi yang bisa kubantu?"

Chanyeol melirik Baekhyun, kemudian menatap kembali dokumen yang ia pegang. "Duduklah."

"Ne?"

"Peraturan pertama, Byun," Chanyeol menatap tajam mata Baekhyun, "Aku hanya mengatakan perintahku satu kali."

Baekhyun menelan ludahnya kasar. Tanpa banyak bicara lagi, pria mungil itu kemudian duduk di seberang meja Chanyeol. Melihat itu, Chanyeol tersenyum tipis –sangat tipis, puas melihat reaksi asisten barunya.

"Jadi," Chanyeol meletakkan dokumen –yang sebenarnya tidak ia baca– di atas mejanya, kemudian menatap Baekhyun lekat, "Siapa yang menyuruhmu bekerja disini?"

"Ne?"

"Melihat cara berpakaianmu, aku tahu kau bukan orang yang ingin bekerja disini. Seseorang menyuruhmu bekerja disini?"

Baekhyun menggaruk tengkuknya kikuk. "Uh..itu..Hyung-ku yang merekomendasikannya."

"Kenapa dia merekomendasikan Korean Vogue?" tanya Chanyeol lebih lanjut seraya menyesap kopinya.

"Um..sebenarnya aku pindah ke Seoul untuk menjadi seorang jurnalis. Hyung-ku bilang aku harus mengawalinya dengan bekerja disini untuk membuka peluang yang lebih besar, lalu–"

"Jadi, kau tidak pernah membaca Korean Vogue?" Chanyeol menyela.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. "Um..tidak."

Bisa Chanyeol lihat dengan jelas Baekhyun duduk dengan tegangnya di seberang mejanya karena petanyaannya. Pria tinggi itu semakin ingin menggodanya –jika menatapnya tajam itu dikategorikan sebagai menggoda.

"Sebelum Hyung-mu merekomendasikan Korean Vogue, kau tidak pernah mendengar tentangku?"

Baekhyun menelan ludahnya susah payah. "Tidak." Tatapan Chanyeol yang tajam itu membuat pria pendek itu semakin gugup, namun Baekhyun berusaha untuk tidak menunjukkannya. "Tapi aku sudah mencari tahu sebelum memberikan resume-ku kesini."

"Begitukah?" cibir Chanyeol. "Apa kau mencari tahu di google atau semacamnya?"

Baekhyun memainkan jemarinya –pertanda ia sangat gugup. Perlahan, ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Pipinya agak merah karena malu. Melihat reaksi itu, membuat Chanyeol menyunggingkan seringaiannya. Hell, tentu saja Chanyeol sudah menduga hal ini sebelumnya.

"Kalau begitu, hapus semua informasi yang kau baca itu dan mulai mencari tahu sendiri..," Chanyeol mencondongkan badannya ke arah Baekhyun tanpa menghilangkan seringaian di sudut bibirnya, "..siapa itu Park Chanyeol."

Baekhyun merasa tenggorokannya sangat kering. Sebenarnya ia cukup takut melihat seringaian Chanyeol itu. Dia merasa ada hal yang aneh dan mengerikan mengenai atasannya ini. Dan itu membuat perasaannya jadi tidak enak.

"Mengerti?" Baekhyun tersentak karena suara Chanyeol yang dalam itu. Dengan cepat, pria pendek itu mengangguk. Chanyeol memundurkan kembali badannya ke posisi semula. Ia mengambil dokumen lainnya dari atas meja dan mengatakan, "Itu saja."

Baekhyun segera bangkit dari duduknya dan membungkuk sebelum ia keluar dari ruangan Chanyeol. Setelah siluet pria pendek itu pergi dari ruangannya, Chanyeol tersenyum puas. Ya, puas karena berhasil menggoda pria cebol itu. Pria tinggi itu bahkan tidak menyadari keberadaan seorang pria bermata belok yang baru masuk ke ruangannya.

"Ada apa dengan senyuman itu?"

Suara si pria bermata belok membuat Chanyeol mengalihkan perhatiannya kepadanya. "Hey, kapan kau datang?"

Pria bermata belok yang bernama Do Kyungsoo itu duduk di seberang meja Chanyeol –masih dengan alis bertautan. "Siapa tadi?"

"Siapa?"

"Yang baru keluar dari ruanganmu."

"Oh, dia asisten keduaku yang baru."

Tautan alis Kyungsoo semakin dalam. "Asistenmu? Kau serius?"

"Mm-hm." Chanyeol meletakkan kembali dokumen yang ia pegang di atas mejanya. "Kau membawa sampul majalah untuk bulan ini?"

Kyungsoo memberikan dokumen di tangannya kepada Chanyeol. Mata beloknya itu kini menatap Chanyeol curiga. "Siapa nama asistenmu?"

"Kim Jongin."

Kyungsoo berdecak kesal. "Bukan Jongin, bodoh. Asistenmu yang baru."

"Kau harus bertanya dengan jelas, Kyung," Chanyeol menyeringai pada Kyungsoo, "Orang bisa salah paham, kau tahu?"

Kyungsoo memutar bola matanya malas. "Sejak kapan kau mempekerjakan seseorang dengan selera berpakaian buruk sepertinya?"

"Byun Baekhyun." Chanyeol melirik Kyungsoo sekilas. "Namanya Byun Baekhyun. Dia memang tidak modis, tapi dia pintar."

Kyungsoo sempat menganga tak percaya karena ucapan Chanyeol. "Kau menyukainya."

Chanyeol memutar bola matanya malas. "Tidak, Kyungsoo-ya. Aku tidak sedang menyukai siapapun."

"Aku mengenalmu sejak kecil dan aku tahu kau itu payah dalam hal berbohong." Kyungsoo sempat melirik Baekhyun yang duduk di mejanya di depan ruangan Chanyeol, kemudian beralih menatap Chanyeol dengan mimik serius. "Kau menyukai pria Byun itu'kan?"

Chanyeol tersenyum mengejek pada Kyungsoo. "Tidak ada yang perlu kusukai darinya, Kyungsoo." Dikembalikannya dokumen yang tadi Kyungsoo berikan padanya. Pria tinggi itu menyesap kopinya sesaat sebelum seringaian terpatri di bibir tebalnya –seringaian yang ia tujukan untuk Kyungsoo. "Daripada itu, kau sepertinya kesal karena posisi asisten kedua diambil olehnya?"

Dengan kasar, Kyungsoo mengambil dokumen dari tangan Chanyeol, kemudian berdiri dengan pipi memerah. "Aku benci kau."

Chanyeol terkekeh melihat reaksi Kyungsoo. Setelah pria bermata belok itu keluar dari ruangannya, Chanyeol mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja. Dibukanya pesan masuk dalam ponsel hitam itu, membuka sebuah pesan dari seseorang dengan nama 'si cebol', dan membacanya. Senyuman terukir di wajah tampan itu tanpa si pemilik wajah sadari. Tangannya terus bergerak membaca rentetan percakapannya dengan 'si cebol'. Otaknya kembali teringat bagaimana nama 'si cebol' muncul di layar ponselnya untuk pertama kalinya dan menjadi orang yang paling memenuhi pesan masuk di ponsel Chanyeol sampai saat ini.

.

.

.

Chanyeol menghentikan acara sarapannya saat ia merasakan getaran di saku celananya yang berasal dari ponsel hitam miliknya. Segera diambilnya benda persegi itu dan melihat layar touchscreen ponselnya. Terdapat satu pesan dari nomor tak dikenal. Chanyeol mengernyit, tapi dia tetap membuka pesan itu.

From: 010 – 4181 – xxx

Hyung, ini nomor adikmu tercinta. Cepat simpan ya!

Kerutan di dahi Chanyeol semakin dalam karena pesan asing itu.

'Hyung?' Jelas orang ini salah sambung karena Chanyeol hanya memiliki seorang Noona.

Tanpa berpikir untuk membalas pesan itu, Chanyeol mengedikkan bahunya. Namun saat ia hendak menyimpan kembali benda persegi itu di saku celananya, benda itu lagi-lagi bergetar dan menampilkan pesan dari nomor yang sama.

From: 010 – 4181 – xxx

PS. Kalau kau menyimpannya dengan nama 'cebol' atau julukan tak bermutu lainnya, aku akan membunuhmu!

Chanyeol kembali mengernyit.

'Cebol?' Apakah si pemilik nomor ini adalah pria pendek? –batin Chanyeol.

Tak berapa lama kemudian, ponsel hitam itu bergetar untuk ketiga kalinya dan menampilkan pesan baru dari nomor yang sama.

From: 010 – 4181 – xxx

PSS. Aku tidak main-main dengan ucapanku, arasseo?!

Chanyeol terkekeh karena pesan itu. "Orang aneh."

.

.

.

Jongin menghampiri Baekhyun di mejanya. "Baek?"

"Ya?"

"Aku harus pergi ke departemen seni untuk menyerahkan beberapa dokumen. Kalau Chanyeol menyuruhmu ini-itu, turuti saja. Dan jangan tanya apapun mengenai perintahnya, arasseo?"

Baekhyun mengangguk paham. "Baik."

Setelah Jongin pergi, Baekhyun merasakan ponselnya bergetar. Segera ia ambil ponsel berwarna putih miliknya dan melihat nama si penelepon. Itu Kim Jongdae –sahabatnya.

"Hai~" sapa Baekhyun setelah ia menekan tombol jawab.

"Hey~ bagaimana hari pertamamu bekerja?"

"Aku sedang bekerja, Jongdae-ya," Baekhyun melirik sekilas Chanyeol yang sedang berdiskusi dengan beberapa orang di dalam ruangannya, "Tapi aku bisa menyimpulkan satu hal."

Jongdae mengernyit di seberang sana. "Apa itu?"

"Pemimpin redaksi disini benar-benar mirip iblis." Baekhyun berbisik seraya memutar tubuhnya ke arah lain agar orang lain tidak melihat atau mendengarnya.

Jongdae tertawa renyah. "Benarkah?"

"Uh-huh. Dan kau tahu? Dia menyuruhku untuk tidak mempercayai hal yang kubaca di internet mengenai dirinya dan mencari tahu sendiri tentang dirinya."

"Well, mungkin dia ingin kau mengenalnya lebih baik. Siapa tahu yang ditulis di internet itu tidak benar, bukan?"

"Kuharap itu dalam artian yang bagus karena demi Tuhan, Jongdae-ya, seringaiannya itu benar-benar mengerikan di mataku." Baekhyun bergidik ngeri mengingat seringaian Chanyeol yang ia lihat tadi.

"Tapi yang kulihat di internet, Park Chanyeol itu tampan."

"Well, dia memang tampan, tapi–"

"Byun Baekhyun." Suara bass dari dalam ruangan Chanyeol memanggil namanya.

"Aku harus pergi. Nanti kuhubungi lagi, oke?" Tanpa menunggu jawaban Jongdae, pria pendek itu segera menutup teleponnya dan memasukkannya kembali ke saku celananya. Dengan langkah terburu-buru, Baekhyun masuk ke dalam ruangan Chanyeol. "Ada yang bisa ku–"

"Aku butuh sepuluh rok dari Coco Chanel." ucap Chanyeol –memotong ucapan Baekhyun.

"Baik. Rok seperti apa yang kau–"

"Tanyakan saja itu pada orang lain." Chanyeol kembali menyela Baekhyun. Pria tinggi itu nampak jenuh karena Baekhyun banyak bertanya padanya. "Dan beri tahu Jaekyung, aku ingin melihat tas-tas yang dirombak oleh Sungmin. Katakan pada Ahra untuk menyiapkan model yang berbeda untuk pemotretan Glambition dan Sedona. Oh ya, apa Kris sudah mengonfirmasi?"

Mata Baekhyun begerak gelisah mendengar sederet perintah dari Chanyeol. Dia bahkan semakin bingung karena pertanyaan terakhir Chanyeol. Siapa pula itu Kris?

"K–Kris?" Baekhyun terbata.

"Wu Kris. Cepat telepon dia." Chanyeol menekan suaranya yang terdengar kesal.

"B–baik." Baekhyun mengiyakan saja. Dia tidak ingin Chanyeol tambah kesal hanya karena Baekhyun bertanya lebih lanjut tentang perintahnya, padahal Jongin juga sudah memperingatkannya beberapa saat yang lalu. Jadi, yang Baekhyun lakukan adalah berjalan kembali ke mejanya untuk menelepon Kris atau siapapun itu untuk mengonfirmasi hal yang bahkan Baekhyun tidak tahu.

"Byun?" Chanyeol memanggilnya kembali saat Baekhyun baru mengambil beberapa langkah.

Baekhyun berbalik menghadap Chanyeol. "Ya?"

Chanyeol menatapnya tajam. "Jangan teleponan di jam kerja."

Baekhyun melotot mendengarnya. Tentu saja dia terkejut. Meskipun mejanya ada di depan ruangan Chanyeol, tapi pria pendek itu cukup yakin tadi Chanyeol sibuk –bahkan terlalu sibuk– untuk memerhatikannya karena dia terlihat serius mendiskusikan sesuatu dengan beberapa orang disana. Bagaimana dia bisa tahu bahwa Baekhyun tadi sedang berteleponan?

"Itu saja." Chanyeol membuyarkan lamunan Baekhyun.

Baekhyun menelan ludahnya susah payah, kemudian membalikkan badannya, dan berjalan menuju mejanya.

Oke, Baekhyun mendapatkan pelajaran pertamanya –tidak berteleponan di jam kerja terutama saat Chanyeol ada di sekitarnya.

TBC

Thanks a lot buat yang udah review kemaren di prolog. Saya baca semua review kalian dan saya terharu karena banyak yang menantikan FF ini *lap ingus*

Untuk Eclaire Oh, jawaban saya adalah ya, FF ini diadaptasi dari film The Devil Wears Prada. Tapi saya kembangkan lagi ceritanya dengan menggabungkannya dengan beberapa FF saya yang baru jalan dikit, biar inti ceritanya beda dan alurnya agak kompleks.

Oke, nantikan perjuangan Baekhyun kerja dengan Sang Iblis di chapter berikutnya. So, review?