Judul : LIKE THAT DAY
Author : dianamutiara09 -twitter- (Editor : hidaderamson)
Cast : EXO, SUPER JUNIOR, Oh Senna (OC)
Rating : T
Genre : Angst, Friendship, Brothership
Length : Chapter 1
Warning :
- author ( dianamutiara09 ) -menyusul-
- editor ( hidaderamson) Typo bertebaran, bahasa sangat baku karena author edit dan menceritakan semacam kayak nonton film-apa coba ini/?- THANKS FOR BTOB EUNKWANG KARNA LAGU LIKE THAT DAY -NYA. BEAST BUAT 12:30 DAN FICTION. BTOB BUAT FATHER. LYN DAN LEO KARNA BLOSSOM TEARS –NYA. DAN BUAT MICHAEL BUBLE BUAT END OF MAY.
Note's : Maaf sebelumnya kalau ini sangat buruk dan judul gak sesuai sama isi ceritanya. Ini adalah ff teman saya yang saya edit ulang dan rombak sana-sini bagi yang ingin lihat versi aslinya bakal di update setelah versi editannya selesai /kalau mau/ Terima kasih :)
.
.
AUTHOR CUMA MAU BILANG LAGI MIRACLE IN DECEMBER -NYA TERPAKSA HARUS DI TULIS ULANG KARENA FILE YANG HILANG. MAAF MEMBUAT READERS MENUNGGU LAMA :(
.
HAPPY READING !
-Senna Pov-
"Annyeong!" sapaku pada teman sebangkuku yang sedang melamun. Namun tidak ada respon darinya. 'Ada apa dengannya?' batin ku.. "Seeehuuunn-aahh.." teriakku tepat di telinganya, sontak dia kaget dan sedikit jengkel karna tingkah ku itu.
"Hisshh, kau ini.." sahut Sehun lalu sedikit menjitak kepalaku. Aku hanya memajukan bibirku kesal.
"Hari ini kau bertingkah aneh lagi Sehun. Wae? Apakah kau baru saja ditolak?" Ejekku kepadanya.
"Kalau iya, kenapa?" Balasnya.. Hal itu sempat membuatku kaget tak percaya.
"Wae? Apakah kau cemburu, Senna-ssi?" Dengan senyuman nakal, lalu mencubit pipiku.
"Nan(aku)? Anni.. Mengapa aku harus cemburu?" Jawabku agak gugup.
"Hahaha.. Aku hanya bercanda, wajahmu sangat imut kalau sedang kebingungan" tertawa lepas sedangkan diriku hanya tertunduk malu dibuat olehnya.
.
-Author Pov-
Pagi ini seperti biasa Sehun berangkat kesekolah. Namun, ia masih tak bisa melupakan kejadian yang terjadi 4 tahun silam itu, kejadian itu yang membuat hyung-hyung-nya sangat membencinya sampai saat ini. Entah sampai kapan Sehun diperlakukan seperti ini, walaupun seperti itu Sehun tetap menyayangi hyungdeul-nya sampai kapanpun.
.
-SuhoPov-
"Dimana anak sial itu?" Tanya Kris-hyung pada pelayan pagi itu.
"Sudah pergi dari tadi, Tuan" jawab pelayan itu.
"Mengapa kita mempunyai dongsaeng yang tidak berguna dan hanya membawa kesialan saja?" Tanya Luhan kepada Kris-hyung
"Sudahlah.. Luhan, Kris-hyung, apa kalian sudah tidak keterlaluan, ini sudah 4 tahun semenjak kejadian itu." Balas ku yang sedikit menceramahi.
"Keterlaluan? Jadi sekarang kau berada di pihaknya, Suho? Apa kau tidak sadar apa yang diperbuat Sehun sampai kita seperti ini, hah?" Jawab Luhan dengan emosi yang membara.
"Bila kau memang mau berada di pihaknya, Silahkan! Tapi jangan harap kami mau menganggap kau sebagai saudara kami, bila perlu kau boleh tinggalkan rumah ini." Balas Kris dengan nada yang sama dengan Luhan.
Kini aku hanya bisa menunduk kaku di depan para mereka, setelah mereka membentak ku. 'Mian.. Sehun-ah aku tidak bisa berbuat apa-apa' ucap ku dalam hati.
"Sekarang nafsu makanku sudah hilang karna anak sial itu" Kris bergegas pergi meninggalkan ku dan Luhan.
"Nado.." jawab Luhan
.
-Author pov-
Kini meja makan yang luas ini hanya tersisa diri Suho saja, dengan hati yang kecewa Suho tetap menyantap sarapannya. Sejujurnya Suho juga kecewa pada Sehun tapi, itu sudah hilang seiring berjalannya waktu. Mereka berempat memang bersaudara tapi, Kris dan Luhan lebih mirip sifat Appa-nya yang keras kepala, pantang menyerah, dan emosional. Sedangkan Suho dan Sehun lebih ke Eomma-nya yang lembut, penyayang, dan penuh kesabaran.
"Ketahuilah Sehun aku selalu dipihakmu meski aku tak sanggup melawan para hyung. Aku tak ingin kau sakit hati lebih dalam pada mereka dan jangan pernah menganggap dirimu sendirian di dunia ini. Kau memiliki teman Sehun-a. Bicaralah padanya" sambil menangis Suho mencium poto keluarga yang ada di dompetnya.
"Tapi, aku memang kakak yang tak berguna, tak bisa melindungi adik kandungnya sendiri. Bukannya tidak mau aku hanya... tidak menginginkan Sehun lebih menderita." Sambungnya.
.
-Flashback- 4 Tahun yang lalu
"Sehuuunnniieee,, palli wa palli(cepat kemari, cepat)." Panggil Luhan dengan semangatnya.
"Aigoo.. cepatlah Sehun" Panggil Kris dengan tidak sabaran.
"Arraseo(iya) hyung, Chankamman(sebentar)." Jawab Sehun senang. Dengan senyuman yang lebar, sehun kini duduk diantara hyung-hyungnya.
"Eomma…. Eomma…. Eomma…." ujar Sehun penuh semangat saat mereka saling terhubung lewat video call.
"KYAA! Eomma… Bagaimana Kota Tokyo tahun ini?" ucap Luhan sambil merampas ponsel touchscreen milik Sehun itu.
"HYA! KEMBALIKAN PONSELKU, HYUNG!" kata Sehun marah seraya merebut kembali ponselnya.
"Luhan, Sehunnie… Berhentilah bertengkar.." nasehat Tiffany, eomma mereka dari Jepang sana sambil tersenyum.
"Eoh, eomma… Bogoshippoyo(aku merindukan mu).." Suho-pun ikut mengungkapkan kebahagiannya.
Mereka berempat kini menatap ponsel bersamaan dengan raut wajah yang berseri-seri karena sangat sangat senang.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, eomma. Bagaimana Kota Tokyo tahun ini?" Ulang Kris.
"Disini menyenangkan. Eomma berjanji jika kalian libur eomma akan mengajak kalian kesini!"
"Ah, jinjja?" Sahut Sehun dan Suho bersamaan.
"Ne.. Oh ya, Sehunnie, kemarin kau berulang tahun. Apa yang kau inginkan?"
"Akan kujawab setelah aku melihat appa, eomma."
"Arraseo, biar eomma panggil dulu. Chankhammaneyo(tunggu sebentar)…."
Sesaat Tiffany menghilang dari video call tersebut dan tak lama kemudian ia kembali dengan menggandeng lengan namphyeon(suami)-nya, Choi Siwon.
"Aappppaaaaaa…!" Teriak mereka bersamaan. Terlihat Siwon melambaikan tangannya kearah mereka disertai senyuman hangat.
"Appa sudah disini, Sehunnie. Jadi katakan pada kami apa yang kau mau?" Tanya Tiffany bermaksud menagih janji.
"Aku ingin kalian ke Seoul." Sahut Sehun penuh harapan.
"MWO?!" Semua pun terkejut dengan ucapan Sehun.
"Hanya kali ini saja, eomma, appa… Ditahun-tahun sebelumnya kan kalian tak pernah ada saat hari ulang tahunku. Kalian selalu disibukkan dengan banyak pekerjaan, tapi aku tidak pernah marah pada kalian bukan? Jebal… Kali ini saja! Kalian mau kan?!"
"Hun.. Mereka pasti sangat sibuk disana. Lagi pula masih ada aku, Luhan dan Suho yang bisa merayakan ulang tahunmu bersama." Sambung Kris yang sebenarnya agak keberatan dengan permintaan dongsaeng-nya yang satu itu.
"Ne, Sehunna... Masih ada kami! Kajja(ayo) kita rayakan ulang tahunmu yang ke-13. Kau tak perlu meminta mereka untuk kembali ke Seoul." Tambah Luhan sambil memegang pundak kiri Sehun.
"Ah, shireo(aku tidak mau)! Aku mau tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Eomma, appa, kalian mau ya? Jebal… Untuk tahun ini saja? Kalian tak perlu memberi hadiah apapun padaku tahun ini, yang terpenting kalian hadir dihari ulang tahunku. Ottokhe(bagaimana)!?"
Sehun benar-benar merengek sampai-sampai merapatkan kedua tangannya didepan wajah dan memasang puppy eyes terbaik yang ia pernah pelajari dari Luhan.
"Namphyeon, ottokhe?" Tanya Tiffany pada Siwon seakan meminta pendapat.
"Hmm.. Geurrae(baiklah), tapi kita tak bisa berlama-lama disana." Jawab Siwon sambil mengangguk.
"Eoh, jinjja? Jinjjanayo?!" jawab sehun bersemangat.
"Ne…."
"KYA! Gomawo, eomma, appa! Oh ya, satu lagi permintaanku, bisakah kalian ucapkan 'Saranghae' sambil membentuk lambang hati dengan tangan kalian."
"Seperti apa?"
"Seperti ini…." Sehun pun mengangkat tangan kananya menyentuh kepala dan menyuruh Luhan untuk melakukan hal yang sama, namun dengan tangan kirinya.
"URI SARANGHAMNIDA(kami cinta kalian)!" Teriak Sehun penuh keceriaan.
"NADO SARANGHAE(kami juga cinta kalian)..!" Tiffany dan Siwon pun meniru gerakan HunHan.
"Kris-ah…." Panggil Siwon
"Ne, appa."
"Tolong jaga dongsaengdeul(adik-adik) mu itu! Karena kau yang paling tua disana kau harus menjaga mereka baik-baik. Jangan buat mereka menangis. Arraseo?"
"Ye, arrayo, appa. Tanpa perlu kau katakan itu aku akan melakukannya." Jawab Kris tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu jaga diri kalian baik-baik. Sehun, sampai jumpa dihari ulang tahunmu. Annyeong…."
"SARANGHAE…." Tiffany dan Siwon kembali melakukan gerakan yang Sehun inginkan. Kemudian Tiffany beranjak dari duduknya dan layar ponsel Sehun seketika menjadi gelap.
.
3 hari kemudian
-Sehun Pov -
Kris hyung mengendarai mobilnya begitu cepat. Aku yang duduk tepat di sampingnya hanya diam ketakutan dan menuruti semua ucapannya, seusai menjemputku di sekolah. Padahal pelajaran belum selesai, tapi aku harus terpaksa pulang karena hal yang tidak kuketahui seperti saat ini. Setiap kali kutanya kemana kita akan pergi, dia hanya diam dan tak menatapku. Akan tetapi, sungguh tak dapat kupercaya ketika melihat tujuan kami ternyata adalah Seoul International Hospital.
"Kenapa kita kesini, hyung? Apa ada yang sakit? Bukan Luhan-hyung kan yang ada disini?"
Tapi ia masih saja diam dan justru meninggalkanku. Aku pun segera berlari untuk menyusul dan mengikuti irama langkah kakinya yang begitu tergesa-gesa.
Saat memasuki area RS, menaiki lift untuk naik ke lantai 4. Kris-hyung masih terus mendiamkan ku dan mulai membuatku khawatir ketika pintu lift telah terbuka. Ia memilih jalan sebelah kanan dari pertigaan, tak lama setelah menelusuri koridor rumah sakit tersebut. Kris-hyung masuk kedalam ruangan yang terdapat papan bertuliskan 'RUANG MAYAT'. Spontan langkah kakiku terhenti, rasa ragu untuk memasuki ruangan itu pun terbesit dalam benakku dan entah mengapa air mataku jatuh berlombaan dengan mudahnya.
Kakiku terasa sangat lemas ketika berada didalam ruangan itu. Kulihat juga Luhan-hyung beserta Suho-hyung yang sudah menangis didepan dua tempat tidur yang telah terisi 2 orang dengan ditutupi kain putih hingga terurai kelantai. Perasaan cemas kini memuncak dipikiranku ketika melihat sedikit wajahnya dari kejauhan dan matanya yang nampak membengkak tersebut. Perlahan demi perlahan ku hampiri mereka meskipun rasa takut semakin menggangguku.
"Hyung…." Panggilku ragu.
Kemudian Luhan-hyung menatap kearahku, tapi itu bukanlah tatapan yang biasa kulihat. Melainkan tatapan yang dipenuhi rasa kebencian dan kemarahan yang besar.
BRUKK…!
Betapa terkejutnya aku, saat Luhan-hyung mendorong tubuhku hingga membentur dinding rumah sakit. Ia mendekatkan wajahnya dengan wajahku dan terlihat begitu kacau karena air mata yang sudah merusak penampilannya selama ini. Membuatku merasa begitu takut setengah mati karna belum pernah sebelumnya kudapati ia seperti ini.
"Apa ini yang kau mau?" Tanyanya pelan. Suho dan Kris-hyung yang juga menatapku tak berkutik sedikitpun dari tempatnya berdiri. Satu hal yang membuat benar-benar khawatir adalah mimik wajah mereka yang sama.
"Kau bisa buat mereka hidup kembali?" Tanyanya yang masih terdengar pelan namun menakutkan sambil menunjuk kearah dua mayat tersebut.
Aku hanya bisa terdiam sambil mulai menitikkan air mata.
"AKU TIDAK MENYURUHMU MENANGIS! AKU MENYURUHMU UNTUK MEMBUAT MEREKA HIDUP KEMBALI!" Teriak Luhan-hyung penuh amarah
"Apa itu eomma dan appa?" Aku sungguh berharap dugaanku salah dan pikiranku ini tidaklah benar.
"KAU PIKIR SIAPA, HAH?! INI SEMUA KARENA KEEGOISANMU… ANDAI SAJA KAU TAK PERNAH MEMINTA MEREKA UNTUK DATANG KE SEOUL, MAKA MOBIL YANG MEREKA TUMPANGI TAK AKAN PERNAH MENEROBOS PEMBATAS JEMBATAN HINGGA MOBIL MEREKA TENGGELAM DI SUNGAI. KAU TAHU ITU TERJADI KARENA APA?!"
"…." Belum bisa rasanya kukeluarkan kata-kata untuk menyahut ucapan Luhan-hyung.
"ITU TERJADI KETIKA MEREKA MENUJU BANDARA DI JEPANG!" Bentaknya kembali hingga membuatku meringis sedih.
"Andwe(tidak)…. Itu tidak mungkin!" Ucapku sambil terus menangis dan menggelengkan kepala.
"Kau pasti bohong kan, hyung? Jebal.. Biarkan aku melihat mereka." Sambungku lagi.
"TIDAK BOLEH! SAMPAI KAPANPUN AKU TAK AKAN MENGIZINKAN KAU MELIHAT MEREKA, MESKIPUN INI UNTUK YANG TERAKHIR KALINYA! AKU MAU KAU TERUS MERASA MENYESAL SEUMUR HIDUP!"
"Tapi hyung….."
"KELUAR DARI SINI! SEMUANYA!" bentak Suho-hyung yang sedari tadi menahan amarahnya. Aku tak pernah melihat Suho-hyung marah.
Aku menangis sejadi-jadinya dikoridor rumah sakit yang sepi ini seorang diri dengan rasa sesal yang sepertinya tak akan hilang dalam hidupku sampai kapanpun.
-Flashback End-
.
-Jo Ajusshi Pov-
Sekarang aku berada di depan pintu kamar Sehun, sudah lebih dari setengah jam aku mondar mandir di depan pintu kamarnya. Aku sangat mengkhawatirkannya, ku pikir ia semalaman menangis di kamarnya ini.
"Ada apa, ajusshi?" Tiba-tiba terdengar suara mengagetkanku.
"Oh, OMO Sehun?" jawab Jo ajusshi yang kaget.
"Mi..mian ajusshi. Aku tak bermaksud mengagetkanmu." Seraya menunduk
"Gwenchanna.. aku bermaksud kesini untuk mengajak mu sarapan.. Kajja!" Namun, Sehun terdiam seakan memikirkan sesuatu.
"Para hyung-mu sudah sarapan sedari tadi." Ungkapku sok tahu. Sehun pun tersenyum namun senyuman ini hanyalah sebuah senyuman yang kosong.
.
-Author pov-
"YA, AKU MENYURUHMU MEMBUATKAN KU KOPI TANPA GULA, TAPI APA INI? KOPINYA TERASA MANIS. APA KAU TAK MENGERTI UCAPANKU, HAH?" Bentak Kris kepada salah seorang pelayan muda.
"Maafkan saya, Tuan.. Maafkan saya, Tuan" Jawab pelayan itu ketakutan.
"Oh, Jo-ajusshi. Kebetulan sekali kau berada disini"
"Ne, Tuan. Anda yang bisa saya bantu?" Jawab Jo-ajusshi.
"PECAT DIA" tunjuk Kris pada pelayan yang tadi.
"Baik tuan" Jawab Jo-ajusshi langsung karena ia tak bisa membentah.
Ini sudah yang ke-15 kalinya Kris memecat seorang pelayan. Hanya persoalan sepele saja Kris dan Luhan langsung memecat mereka. Demi menuruti sikap angkuh dan keegoisan mereka maka orang lain lah yang akan menderita.
Tampak dari kejauhan seseorang melangkahkan kakinya menuju meja makan, iya benar dia adalah putra bungsu dari keluarga Choi, Choi Sehun. Namun, tanpa ada yang memperdulikannya. Para hyung-nya yang kini asyik dengan gadget mereka tak sedikitpun menoleh kearah Sehun. Walau terlihat jelas mata Sehun yang sembab akibat menangis semalaman.
Padahal dulu mereka tak pernah memperlakukan Sehun seperti ini. Semenjak kejadian 4 tahun yang lalu mereka telah berubah, ketika kehilangan seseorang yang mereka cintai dan membenci dongsaeng-nya tanpa tau kesalahan apa yang diperbuat dongsaeng-nya itu.
.
-Sehun Pov-
Sejauh ini aku terus berlari menuju halte bus. Saat mendapati gedung tertinggi di depan mataku, langkah kakiku terhenti. Kemudian kuangkat kedua tanganku menyentuh kepala hingga membentuk lambang hati, lalu meneriakkan,
"SARANGHAE HYUNG!"
Pengguna jalan yang lain pun menatapku aneh karena sikap ini. Tapi tidak sedikitpun aku memperdulikan mereka, toh aku juga tak mengenal salah satu pengguna jalan di sekitar sini. Jadi aku bisa bebas melakukan apapun yang ku inginkan. Sebenarnya ingin sekali aku melakukan hal yang lebih dari ini, aku benar-benar merindukan mereka…. Terakhir kali menginjakkan kaki di gedung itu saja sudah terasa begitu lama terlewati.
Berlari dan kembali berlari meninggalkan gedung tinggi yang merupakan perusahaan kedua hyungdeul(Kakak-kakak) ku itu, karna hanya itulah yang bisa kulakukan setiap paginya ketika melewati gedung tersebut. Ada juga sedikit sisa rasa sedih yang mengiringi langkah kakiku, apakah sungguh aku harus melakukan ini seumur hidupku?
Ketika tiba dihalte, tak lama kemudian bus yang hendak kutumpangi pun datang. Dengan sigap dan napas yang sedikit tersengal-sengal aku pun masuk kedalam bus tersebut, memasukkan uang dan seperti biasa menyapa seseorang didalam sana.
"Annyeong, ajusshi… Huss.. huhh.. Semoga hari ini…. Menyenangkan!" sapaku dengan terputus-putus sambil membungkuk dan tersenyum pada ajusshi pembawa bus.
"Kau juga, Sehun-a. YA, apa kau berlari lagi?"
"Aku takut tertinggal bus yang kau kendarai, ajusshi." Sahutku yang masih berdiri didekatnya.
"Arraseo, pililah tempat dudukmu."
"Ne…."
Dari halte bus menuju Shin Seoul High School, kira-kira membutuhkan waktu 20 menit. Dalam waktu sebanyak itu aku bisa beristirahat ataupun melihat pemandangan sepanjang jalan yang kulalui.
.
.
TBC
.
Maaf kalo kurang ngefeel. Review dengan saran ato kritik untuk author intropeksi diri :)
