WARNING: KONTEN INI MENGANDUNG UNSUR R-18 DAN VIOLENSI YANG MUNGKIN AGAK BERLEBIHAN. JADI SEBAIKNYA LEWATI CHAPTER INI ATAU JANGAN BACA BAGIAN INI! PENULIS TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS APA YANG TERJADI OLEH PEMBACA AKIBAT KESALAHPAHAMAN YANG MUNGKIN TERJADI SETELAH MEMBACA CHAPTER INI /woyselawgeklu

Di sebuah tempat dekat emperan kota, jarak yang strategis untuk dijangkau oleh para muda-mudi. Sangat cocok untuk mengisi waktu luang, ataupun mencari inspirasi dan suasana yang hangat dan loyal. Ditemani secangkir kopi atau teh di sebelahmu, makin menambah acungan jempol tempat ini. Jangan lupa dengan dekorasi dan arsitektur tempat yang unik dan terlihat menambah kesan simplify modern lifestyle . Tak heran orang-orang, baik para teenager sampai pekerja paruh baya tidak pernah bosan untuk meluangkan waktunya sejenak di tempat manis ini.

Ya, kafe.

Kafe yang terletak tidak jauh dari kampus, hanya 5 menit berjalan kaki pun anda akan tiba di kafe ini.

Sebuah tempat yang menjadi lokasi pertemuan seorang pemuda pirang dengan seorang pemuda raven berkacamata.

Namun kenyataanya, sepertinya acara itu belum sepenuhnya terjadi. Di salah satu meja kafe dengan spot persis di sebelah kaca yang menghubungan pandangan dengan jalan raya, terlihat si pemuda pirang tengah terus memandang laptopnya, jari-jari kurusnya tidak berhenti untuk menekan beberapa huruf secara acak. Ya, tugas nambah lagi. Padahal tugas yang sebelum aja belum kelar. Jika anda penasaran apa tugas selanjutnya untuk seorang mahasiswa fakultas Hubungan Internasional bernama Kano Shuuya, 2 minggu lagi ia harus siap tampil prima untuk debbate class dengan topik perbandingan perkembangan politik dan ekonomi di negara Asia Timur dengan negara Western. Supaya biar terkesan elite tidak hanya sekedar numpang nge-WiFi di kafe, ia memesan Marocchino sebagai teman di sela-sela hawa despair-nya.

Karena terlalu asik mencari inspirasi di mesin pencari internet, ia bahkan tidak menyadari telah duduk sosok yang dinantinya persis di hadapannya. Masih berkacamata, tidak lupa jaket hijau neon yang memekakkan mata, penampilan yang selalu cool walaupun casual.

"Wah, lagi banyak tugas nih?" Seto pun memulai pembicaraannya dibanding ia terus menunggu Kano sampai ia siap dengan agenda seharusnya hari ini.

"Astaga. Sejak kapan kau ada di sana?!" Pekik kecil dari sang junior pirang. Ia segera menutup laptopnya dan berusaha menahan nafas. Ia masih merasa terkejut akan kehadiran senior yang selalu tiba-tiba.

"Lima belas menit lalu pun aku sudah diam di tempat ini, kau tahu"

"Mengapa kamu tidak menyahut?"

"Aku tidak berani melakukannya. Kamu terlalu asyik sampai aku tidak tega mengacaukannya, hehehe" Cengiran tampan pun keluar dari wajah sang raven. Ia mengesap Green Tea Latte yang telah disajikan beberapa waktu tadi ditemani dengan Green Tea Chocolate Melt Cake. Kano memandang cairan yang diteguk seniornya.

"Bahkan apa yang kau pesan pun hijau-hijau juga. Apakah aku harus mengecat warna kulitku supaya lengkap sudah hidupmu yang penuh kehijauan itu?" Sindir Kano dengan menggeleng-geleng kepalanya, mendesah pula tambahannya.

"Hei, Green itu menyegarkan, keren pula. Memang kamu tidak suka ya?" Seto menyela pernyataan meledek dari Kano itu.

"Nggak juga. Hanya aja terlalu pantas untukmu, Green-senpai"

"Hei, jangan panggil itu lagi dong-"

"Bodo amat lah" Kano menjulurkan lidahnya kepada senior hijaunya itu. Bukannya sebal, Seto justru membalasnya dengan senyum, senyuman jahil. Tangannya tergerak untuk mencolek pipi putih sang junior.

"HEH!" Ekspresi Kano mendadak menjadi kesal, sebenarnya sih untuk menyembunyikan rasa malunya. Sang senior alhasil tertawa puas karena tingkah juniornya yang sangat menggemaskan ini.

"Dia tertawa aja aura sensualnya masih keluar. Kampret bener nih orang" Sang pirang kembali bergumam tidak jelas. Persetan dengan senior di hadapannya. Gara-gara dia, awal aja sudah membuat Kano jadi kurang serius menjalani kuliah, gimana kedepannya?

Pandangan sang pirang terganggu karena sang raven terus memandangnya sambil senyum semringah, sebelas dua belas seperti orang gila yang suka mangkal di trotoar. Tetapi si raven terlalu peka dengan ekspresi juniornya ini.

"Kau tahu? Baru kali ini aku begitu merasa dekat dengan juniorku sendiri~"

"Aku tidak merasa begitu. Kau terlalu naif, Green-senpai" Sang pemuda yang dipanggil Shuuya itu menyindirnya.

"Kalau kau belum merasakannya. Mari dari sekarang kita mencoba untuk dekat"

Kano menarik nafas dalam-dalam mendengar kalimat yang diucapkan oleh seniornya itu. Untuk menghilangkan grogi, ia hirup dalam-dalam secangkir Marocchino yang telah dipesannya.

"Kenapa aku harus melakukannya?!" protes sang pirang.

"Karena aku merasa aku memiliki ketertarikan terhadapmu"

"Bahkan aku tidak terlalu tertarik denganmu, sialan"

"Tidak terlalu? Aku rasa kau perlu menarik kembali ucapanmu itu, Kano-kun"

"Aku tidak yakin"

"Maukah kita bertaruh, Kano-kun?"

"Hah?!" Kano kaget mendengar tawaran seniornya itu. Ia bingung seketika, tetapi daripada ketahuan.. "Aku tidak takut. Kau pikir mentang-mentang aku lebih muda darimu, aku akan takut kepadamu?"

Si pirang tidak tahu apa akibatnya jika ia sembarang mengucapkan kalimat. Seketika aura gelap pun mulai terbersit di benak sang raven.

"Jika kau memang tidak jatuh hati kepadaku, aku akan berhenti mendekatimu. Tetapi jika memang terbukti..."

"Kau harus menikmati permainanku nanti"

Permainan...

.

.

.

.

.

.


Satu setengah bulan setelah pertemuan singkat di kafe itu...

"Kano?"

"Kano? Kau tidak bangun?"

"Hoy, Kano-saaaaannnnnn" Seorang gadis bersurai oranye tengah duduk di sofa, untuk mengguncangkan tubuh kurus sahabat lelakinya itu. Jangan salah sangka, ia tidak tinggal bersama Kano. Tetapi sang idol memang suka mengunjungi kediaman lelaki pirang itu, bahkan dianggapnya sebagai rumah kedua sang idol.

"Eh, Kisaragi-chan. Kau mengagetkanku aja" si pirang akhirnya terbangun. Wajahnya kusut, rambut urak-urakan, mata yang masih terlihat berair, seperti habis mabuk-mabukan. "Ada apa lagi nih? Kelihatannya kau terburu-buru banget. Kamu ada jadwal syuting?"

"Tepat banget! Sampe malem nih jadinya aku nggak bisa ikut kuliah lagi. Aku mau kesini nitip tugas makalahku"

"Lagi..." Kano mendesah lelah. "K-kano jangan marah dulu dong! Nanti setelah aku selesai syuting aku traktir kamu deh! Maaf bangeeeet ya Kano"

"Hahaha disogok juga nih. Tapi nggak apa-apa kok. Tunggu aku bersiap sebentar ya..." Ia segera turun dari sofa untuk merapihkan dirinya. Beruntung tadi dia sudah mandi dan berpakaian, jadi ia bisa tidur sebentar untuk menunggu jam kuliah.

Sang idol pun memerhatikan Kano, lalu memecah keheningan antar kedua manusia berbeda kelamin itu.

"Ngomong-ngomong. Kau pernah dekat dengan seseorang ya?"

"Hah? Siapa?"

"The lord of pain and pleasure"

"Itu siapa lagi? Mana aku tahu coba"

"Lah kamu ternyata belum tahu ya? Itu loh, mahasiswa senior fakultas botani yang mendapat julukan green dari teman sebayanya, Kousuke Seto"

Ia yang tengah memegang cangkir pun spontan menjatuhkan ke arah kakinya. Tetapi tidak kerasa sakitnya bila dibandingkan dengan betapa kagetnya sang pirang mendengar julukan itu.

"Pain... pleasure... julukan macam apa itu?"

"Ah. Kamu harus hati-hati, Kano" nada sang Momo terdengar sangat mengintimidasi. "Aku baru mendengarnya dari perbincangan orang-orang. Orang itu adalah penguasa dari rasa sakit dan kesenangan. Ia dikabarkan telah memperkosa 20 orang yang telah jatuh ke permainannya. Padahal di luarnya ia sangat dikenal pintar, baik hati dan ramah. Tetapi semua itu hanyalah perangkapnya"


Malam hari, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Kano berpikir sang Momo tidak mungkin lagi mentraktirnya di jam segini. Jadi lebih baik dia pulang saja. Ia berjalan kaki di tengah kesunyian, ditemani hembusan angin malam yang cukup menusuk.

Tetapi, ada rasa sesuatu di hatinya mencekam begitu dalam.

Ia menyadari akan ucapan sahabatnya tadi petang. Apakah dirinya sudah termasuk korban dari lord of pain and pleasure ? Selama ini ia sudah merasakan betapa hangat dan lembutnya sensasi sang senior ketika ia sedang dekat dengannya. Hangat yang begitu bergairah, bergelora dan membuat ingin merasakan lebih dan lebih lagi. Walaupun sampai saat ini Kano belum mengakuinya.

Ia teringat akan ucapan seniornya sebulan lalu

"Kau harus menikmati permainanku nanti"

Permainan.

Sesungguhnya pria kecil itu takut, sangat takut dengan pernyataan temannya tadi. Tetapi di sisi lain pun, ia begitu penasaran akan permainan apa yang akan dipersembahkan untuknya jika sampai seniornya itu tahu bahwa Kano memang sudah jatuh hati kepadanya.

"Pantas aja, ia begitu percaya diri..."

Sebetulnya, sebulan ini ia belum berani melihat kembali wajah seniornya.

Ia terlalu takut dengan tantangan yang diberikan seniornya itu, sehingga ia lari, lari tenggelam di kesibukan kuliahnya, berusaha untuk tidak mengingat semuanya.

Walaupun sebenarnya ia rindu akan sensasi kehangatan yang hanya dirasakannya bila ia bersama senior.

Ngomong-ngomong, angin malam jam sekian sungguh terasa kencang, terasa begitu tajam di kulit, terasa menerjang rangsangan di tubuhmu. Cukup berbahaya

BRUK!

Hingga Kano pun terkena efek dari angin malam itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ugh... Sakit sekali kepalaku..."

Perlahan mata karamelnya itu terbuka, berusaha menyadari akan apa gerangan yang terjadi pada dirinya.

"Aku dimana?"

"Syukurlah, ternyata kau sudah bangun" terdengar suara husky yang tentu saja suara yang sudah lama tidak didengarnya lagi. Walaupun belum sepenuhnya kesadaran sang pirang pulih, ia telah mengenal suara yang sudah sebulan tidak didengarnya itu.

Walau dirinya kaget dan panik luar biasa akan kenyataan bahwa dirinya saat ini ... sedang bersama dengan seorang senior berkacamata dengan jepit rambut di sisi kirinya. Meski begitu ia memilih diam dibanding ekspresi terkejut luar biasa yang tengah ditahannya.

"Aku menemukanmu tergeletak di jalan saat angin malam cukup kencang. Aku tidak tahu rumahmu dimana, jadi aku membawamu ke kediamanku dan menunggumu sadar kembali. Sepertinya Kano-kun kena angin duduk" Seto menjelaskan walaupun tidak ditagih oleh sang pirang.

Sang pirang masih terdiam.

"Ah, sudah seharian kau dalam keadaan begini, kau tahu... Aku begitu khawatir akan keadaanmu"

"Padahal sudah sebulan ini kita belum bertemu. Aku tidak tahu apa yang terjadi kepadamu..."

Sang raven memang tidak berbohong. Matanya amat menunjukkan rasa cemas.

Tetapi siapa yang sangka bahwa sang pirang yang begitu sarkas kepada seniornya ini malah memeluknya.

"K-kano-kun?"

"...Aku kalah"

"H-hah?!"

"Maaf, Seto-san..." Kano kembali mengeluarkan kata-katanya di tengah pelukannya terhadap sang raven. "Aku... aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak kuat dengan semua aura yang telah kau berikan kepadaku. Aura yang hanya terasa bila aku bersamamu. Aku tidak tahu kenapa, tetapi karena hal inilah membuatku menyesal untuk menghindarimu sebulan ini. Aku sangat rindu kepadamu, aku sangat rindu kehangatan dan kelembutanmu, senpai"

Sang Shuuya mengencangkan pegangannya pada jaket hijau sang raven. Ia mengeratkan pelukannya.

"S-sejak pertama aku melihatmu, i've been liked you, Kousuke..."

Wajah sang raven langsung memerah mendengar kata-kata itu. Apalagi mendengar pertama kali dalam hidupnya, ia mendengar namanya disebutkan dengan suara yang halus dan indah, menawan dan menggairahkan.

Dari seseorang yang selama ini telah ia kagumi.

Orang itu pun tersenyum. Senyum yang terlihat senyum untuk membalas semua senyum yang telah ia berikan selama ini kepadanya.

Terlalu lama bereaksi, sang senior pun mulai merespon.

"Akhirnya kau mengakuinya juga... Aku sudah tahu kalau kau telah berbohong selama ini..." Seto membalas senyuman sang pirang dan membalas pelukannya dengan erat.

Hangat, kedua insan itu saling memberikan kehangatan antar satu sama lain. Memecah semua rasa canggung yang bergejolak.

"Jadi... Aku sudah siap menerima hukuman darimu, karena aku berbohong padamu..."

Seto pun memekik kaget "Apa? Aku tidak mungkin melakukannya. Aku hanya bercanda kok. Lagipula, kamu masih belum pulih kan?"

"Hei hei hei..." Suara Kano mulai terdengar amat dalam dan menekan "Aku tidak mau mendengar omong kosong darimu, aku tidak peduli. Sekarang tunjukkan apa yang selama ini sudah kau lakukan kepada 20 orang sebelumku..."

"The lord of pain and pleasure..." Tangan Kano tergerak untuk menyentuh kacamata sang raven dan melemparnya sembarangan.

.

Secercah hawa panas terbersit di kepala Seto. Hawa erotik yang bergerak untuk menguasai jiwanya, hawa yang menunjukkan bagaimana sisi gelap dan menekan dari seorang senior bernama Seto Kousuke.

Kano tahu Seto mulai terangsang dengan ucapannya. Ia tahu itu pasti mantra untuk memperlihatkan betapa menyakitkan dan menyenangkannya permainan yang akan dilakukan oleh sang raven. Meski begitu, Seto masih mencoba untuk menahan dirinya. Ia memang sangat ingin melakukannya dari dulu untuk orang yang ia cintai ini. Tetapi ia takut kehilangan sang pirang bila ia tidak bisa mengendalikan dirinya.

"Kousuke-kun... Ayolah"

Suara yang dalam dan erotis itu makin membuat aura gelap sang raven makin menjadi-jadi. Ternyata sisi erotis seorang Kano Shuuya yang selalu berbohong akan perasaannya itu sangat ampuh untuk membangkitkan aura gelap sang raven. Dan pada akhirnya jiwa normalnya pun kalah dengan aura gelap yang menguasai naluri dan emosi di dalam dirinya itu.

"Shuuya..."

Kano yang masih berada di kasur sang senior pun memerhatikan sang raven dengan seksama. Sang raven pun mulai membuka jaket hijaunya, lalu dilanjutkan dengan kaus putih yang melindungi kulitnya. Dan terlihatlah sebuah tubuh yang begitu kekar dan memperlihatkan ke-enam tonjolan pada perutnya. Mata yang terlihat menyempit dan senyum mengintimidasinya pun makin menambah image seksi dan panas yang terpapar dalam dirinya.

"Berlarilah jika engkau tidak tahan dengan permainanku..."

Sang Shuuya tersenyum puas, ia tidak akan kabur kali ini. Ia akan menikmati perjalanan cintanya dengan sang senior.

Dan beberapa saat kemudian pun bibir antar kedua pemuda ini menyatu. Dari sebuah ciuman yang lembut mengakar menjadi ciuman yang amat panas dan berapi-api. Sepertinya ini pelumas bagi kedua orang untuk bermain di malam purnama ini.

Kousuke mulai menutup mata sang Shuuya dan sedikit mencengkeramnya. Sang pirang mengerang kecil, dirinya pun mulai dibutakan karena sebuah ikatan kencang yang menghalangi penglihatannya. Ternyata sang raven sudah mempersiapkan tali dan rantai untuk membatasi gerak tangan dan kakinya. Kedua tangannya dibentangkan dan diikat dari ujung gagang kasur. Sedangkan kakinya mulai dirantai laksana seorang narapidana atau sebagai seorang budak.

Ya, Shuuya harus siap untuk "dibudaki" oleh seorang senior tampan yang begitu panas.

Ikatan itu amat kencang, ia mulai merintih apalagi sang senior mulai menyerang leher dan bahunya, dari yang lembut dan penuh cinta menjadi kasar dan amat menyakitkan. Bekas-bekas gigitan itu tampak sekali karena gigitan yang amat dalam. Ia lakukan dengan pelan tetapi amat dalam dan menyentuh. Kedua tubuh itu mulai memproduksi cairan asin dari kelenjar kulitnya.

Ketika sang raven telah puas dengan leher yang amat eksotis itu, ia mulai meremas dan mencubit dengan kasar bagian dada dan putingnya, ia tarik dengan sembarangan tanpa perasaan. Sang Shuuya mengerang amat keras. Desahan demi desahan pun terdengar dari bibir kecilnya, desahan itu makin menjadi-jadi ketika Kousuke meremat, mengulum lalu menggigit putingnya. Pelan, tetapi terasa makin menghisap dengan kencang, membuat sensasi tersendiri kepada Shuuya. Setelahnya, ia menutupi tonjolan dada sang Shuuya dengan sebuah gulungan lem berwarna hitam alias lakban.

Kousuke pun mulai menelusuri tubuh putih yang mulus seorang junior fakultas HI di bawah dominasinya, mengelusnya dengan penuh perasaan.

"Kousuke.. aaah... permainanmu mulai membosankan..."

"Tenang saja Shuuya, aku belum selesai kok" Seto hanya terkikik kecil.

Ternyata tangannya sudah menyiapkan sebuah tongkat dengan bagian seperti tali yang panjang. Wah, sebuah cambuk besi.

CTAKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK!

"AAAaAKKhhHH..."

Cambukan demi cambukan pun dikerahkan kepada tubuh mulus sang Shuuya. Ia hanya mampu terguncang, bukan bergerak. Karena ikatan itu terasa sangat kencang, benar-benar menghalangi gerak tangan dan kakinya.

Desahan yang kuat, memilukan namun menunjukkan kenikmatan yang kuat pun terdengar berulang, mengikuti irama cambuk. Desahan itu membuat semangat sang Kousuke makin membara laksana pejuang yang akan berjuang mati-matian demi kemerdekaan. Besi itu keras, juga tajam. Seto munghujatnya dengan amat bertenaga. Lihatlah hasilnya, tubuh sang Shuuya yang mulus mulai terhiasi dengan goresan abstrak kemerah-merahan, ada sedikit bagian yang mengeluarkan darah. Sang Shuuya begitu ketakutan, tetapi berimbang juga dengan semangatnya melayani senior yang ia cintai ini.

Selesai bermain dengan cambuknya, ia mulai menindihi kembali Kano yang terikat dan menderita itu. Mulai menyingkap celana jeansnya. Belum terbuka sepenuhnya, ia memainkan paha mulus sang Shuuya, mengangkatnya dengan kasar dan mencengkeramnya dengan kekuatan penuh. Kousuke menjilat, menggigit kasar bagian selangkangannya itu. Ia bahkan menggerakkan pahanya dengan kasar serasa melipat dirinya. Rantai yang mengikat kaki sang Shuuya itu disambungkan ke tali yang terhubung dengan ujung kasur. Oh, Seto ternyata benar-benar melipat tubuh sang Shuuya, dikira Kano itu penari balet apa ya bisa tahan dengan posisi seperti itu.

"A..akhhhh... kkhhhh..."

Shuuya harus menahan beban dirinya sendiri karena kakinya diikat di atas dirinya, perutnya terasa pegal dan sakit. Tetapi ini hukuman untuknya, dan sang Shuuya masih penasaran karena hukuman belum berlanjut ke bagian inti. Ditambah celana jeansnya belum dilepas membuat kakinya terasa amat gerah dan sakit.

Karena bagian boxer sudah terlihat, langsung saja Seto bermain ke permainan selanjutnya. Sebelumnya, Seto mencium dengan ganas bibir sang Shuuya lalu mulai mengikat bibir kecilnya dengan gag ball, Sang Shuuya langsung tersedak karena tidak bisa mengeluarkan batuk akibat ciuman ganas barusan. Gag Ball itu perlahan mulai basah dengan sebuah cairan lengket dari mulut manusia, saliva.

"Bagaimana Shuuya-chan? apakah permainanku masih membosankan?" Ujar sang raven sembari menyeringai tajam, lidahnya pun keluar, menunjukkan betapa hot nya seniornya ini. Sayang Kano tidak bisa melihat wajah tampan yang begitu seksi itu, padahal Shuuya sangat menyukainya.

Ia tahu pertanyaannya itu tidak mungkin dijawab, karena mulutnya dihalangi oleh sebuah bola besar yang menyangkut di pangkal mulutnya. Tetapi tak apa, ini akan membuat desahan sang pirang makin terasa indah karena melodinya yang tertahan sesuatu, terasa seperti penderitaan yang menyenangkan.

Langsung ke permainan dan bagian intinya, sang Kousuke mulai menelusuri bagian boxer, meremas sesuatu yang masih terbungkus di sana. Remasan itu terasa kencang dan membuat gerakan mengocok, padahal boxernya belum di lepas. Entah bagaimana alasannya, Kousuke tidak mau menyingkap semua pakaian sang Shuuya, ia biarkan menempel begitu saja. Supaya ia bisa melihat betapa seksi dan menggodanya pemandangan Shuuya yang amat sangat berantakan ini.

"Nggghhhmmmmm... Kkhhmmmnggghhh..." Benar kan, melodi desahannya makin terasa indah. Seto pun makin memuncak libido dan gairahnya.

Langsung ia singkap secara paksa boxer nya itu. "Shuuya, kau begitu indah. Jangan hentikan desahan mu itu ya" dan kembali melanjutkan gerakan mengocok itu. Biar puas sekalian, ia gigit pula ujungnya dan mengulumnya, sampai sesuatu mengucur keluar dan membuat bibir sang Kousuke belepotan. Tetapi ia tahan cairan itu dan ia telan sebagian. Sisanya, ia arahkan kembali ke bibir sang Shuuya, melepaskan sedikit bola yang menahan rahang sang Shuuya, lalu menciumnya. Kedua insan itu sama-sama menikmati rasa cairan semen sang Shuuya. Alhasil Shuuya yang tersedak itu dibuat makin tersedak karena bola yang menahannya tadi dipasangkan kembali. Sang pirang merasa amat tercekik, lama-lama ia bisa mati juga.

Menjilat sisa cairan yang masih meper di mukanya dengan amat seksinya, ia kembali melakukan sex play, sebuah benda seperti sendok menerobos lubang surgawi sang Shuuya seenaknya. Kano memekik dengan amat kencang, memilukan dan menunjukkan penderitaan yang amat dalam. Benda asing seperti besi itu masih tertahan di lubangnya, sekarang malah jari telunjuknya ikutan welcome ke gua privasi sang pirang. Jari yang masuk terus bertambah menjadi tiga, bahkan empat sampai lima sekaligus. Karena ia sudah merasakan keelastisan gua privasi sang pirang, langsung saja ia keluarkan kelima jari itu. Tetapi benda besi itu masih menancap.

Shuuya merasakan sakit yang amat dalam, air matanya sudah banjir, ditambah air keringatnya, mungkin cukup untuk menenggelamkan satu pulau. Tetapi ini belum selesai. Ia juga lelah dengan posisi tubuhnya yang terlipat begini, sepertinya ia harus membuang jauh-jauh impian menjadi diplomat. Ia lebih cocok kerja di arena sirkus ataupun menjadi seorang ballerina.

Terlalu banyak melamun, ternyata lubangnya sudah diterobos oleh segumpal daging keras, ya, milik Seto. Lubang itu terus diterobos ditambah dengan sendok yang masih menancap, terus ditancap semakin dalam. Tancap gas bung. Sang Shuuya mulai mendesah sekencang mungkin sebisa yang amat dia bisa, Kousuke malah makin semangat. Ia terus melalukannya dengan nafsu tinggi sampai berkali-kali menabrak final di dalam lubangnya. Fiks, keperawanan sang Shuuya ternyata telah menguap entah kemana, seorang senior mahasiswa botani, orang pertama yang ia temui di masa awal kuliahnya lah yang melakukan hal itu.

Permainan itu makin menggairahkan kedua insan itu. Apalagi Seto, ia sangat bahagia bisa melakukan hal ini kepada orang yang sungguh-sungguh ia sukai. Paras indah yang selama ini ia lihat dari kejauhan, sekarang sampailah saatnya ia bisa melihat bagaimanakah kehidupan yang lebih dan amat lebih dekat dengan pemuda bermata kucing ini. Ia begitu manis, menggoda, seksi membuat rasa semangat yang terus membara lebih terang dari biasanya. Semangat untuk terus melakukannya lagi dan lagi.

Sang Kousuke begitu puas, tetapi belum. Ia menarik dengan paksa sekali lakban yang menempel kencang di dada sang Shuuya, bayangkan sendiri rasanya gimana.

"!BAHSKUQIPBWLKSXBLBLSKAX LSBJBXS!"

Semua rasa sakit ini menyatu di permainan seorang Seto Kousuke, mulai dari tenggorokannya menyempit karena tidak sanggup menghembuskan udara di mulutnya dan rasa sakit di bagian leher menyerangnya, rasa dadanya yang nyut-nyutan dan lengket karena ditarik paksa dengan lakban hitam besar, untung aja ia tidak kehilangan tonjolan dadanya, belum lagi sang Kousuke malah menyerang bagian dada yang belum refleks karena tiba-tiba diremas dan digigit dengan ganas, posisi tubuh yang terikat kuat dan terantai juga terlipat, kaki yang gerah maksimal, dan bagian victimnya amat sakit luar biasa. Oh iya jangan lupa tubuhnya yang perih dan berdarah karena cambukan bertubi-tubi menghujamnya tadi.

Sepertinya cambukan itu datang lagi, padahal posisinya masih menyutubuhi sang Shuuya.

Shuuya ingin menangis kencang-kencang setelah ini.

Jangan lupa, sang Kousuke masih belum puas, ia mulai meluruskan tubuh sang Shuuya. tetapi tangannya masih diikat dalam bentuk x. Kakinya digelinjang, diinjak dan ditindih oleh sang Kousuke dengan rantai, lalu memukulnya terus.

Setelah itu sang raven kembali menyetubuhinya dengan kasar berkali-kali. Semua penyiksaan yang telah dipersembahkannya, dilakukan kembali berulang-ulang sampai jiwa setan sang Kousuke sudah lelah merasuki dirinya.


Di sebuah kamar yang luas dan tadinya tertata dengan rapi, sekarang terlihat seperti rumah yang terkena bencana gempa bumi. Kasur kusut yang ambruk rangka-rangka tempat tidurnya, bulu-bulu angsa pada bantal mulai tersoak keluar dari dalamnya. Beberapa pakaian yang tergeletak acak entah kemana, juga alat-alat kekerasan seperti rantai, cambuk, tali-tali dan yang lainnya dibiarkan tergeletak entah kemana.

Seorang pria berambut raven mengambil sebuah kain, mengelap dan mengusap tubuh sosok satunya dengan hati-hati dengan penuh kasih sayang dan cinta tulus yang suci. Sosok satunya yang berambut pirang, tampil sangat kusut, berantakan dan badannya penuh dengan corengan keabstrakan berwarna merah kecoklat-coklatan, matanya terlalu sayu. Tetapi sosok itu masih sanggup tersenyum ke arah lelaki raven yang merawatnya kini. Sang raven pun membalas senyumannya yang menawan dan membuat hati meluluh bagi siapapun yang melihatnya.

"Kau baik-baik saja kan, Shuuya?" tanyanya lembut

"Menurutmu gimana?" tanya balik sang Shuuya dengan nada agak nyolot. Ia tertawa lemas

Seto pun tertawa kecil, lalu mencium sosok pirang juniornya dengan lembut di bibirnya. Ia membalutkan tubuh yang menderita itu dengan selimut putih terbaiknya, lalu membaringkannya ke springbed yang telah lepas dari rangka kasurnya. Setelahnya, ia ikut membaringkan diri di sebelah tubuh lemah itu.

Sesuatu masih mengganjal di benak sang pirang.

"Kousuke.."

"Ya, Shuuya?"

"Apakah 20 orang sebelum diriku itu mendapat perlakuan yang sama sepertiku?" tanya sang Shuuya.

"Tidak" jawab Seto mantap "Mereka hanyalah orang-orang yang suka kepadaku karena paras dan penampilanku saja. Bukan karena hati dan naluri mereka yang dalam. Jadi setelah aku menyiksa mereka, aku meninggalkannya begitu saja"

Senyum dari sang pirang sirna mendengar kalimat itu. Seto menyadarinya, ia mencium kembali bibir sang Shuuya.

"Tetapi berbeda denganmu, Shuuya. Walaupun aku sudah 20 kali melakukannya, tetapi baru kali ini aku menikmati permainanku sendiri, karena sensasi yang kau berikan pun benar-benar ditujukan kepadaku. Aku pun tahu kau juga suka kepadaku dari awal, walaupun aku lebih dahulu menyukaimu. Kamu memiliki paras yang indah, tidak hanya itu kamu pun berjuang amat keras, entah untuk kuliahmu, entah untukku, entah untuk masa depanmu... Shuuya itu seperti seribu harapanku yang membangkitkanku dari kehidupanku yang kelam dan suram, apalagi terhadap 20 orang itu. Maka dari itulah, kamu adalah orang yang tangguh, Shuuya"

Shuuya pun membalasnya dengan pekikan kecil "Seperti Welwitschia Mirabilis, bukan?"

"Hahaha. Tentu saja. Rasa cintaku kepadamu pun akan setangguh dia, kau tahu?"

"Kau selalu saja naif, Green-senpai..."

.

Malam yang panjang itu pun selesai, tanda akan dibuat sebuah jalan baru menuju kebahagiaan mereka berdua.

Seribu harapan, seribu cahaya yang akan selalu menyinari sehelai daun hijau setiap hari, huh?

.

.

.

.

.

.

OWARI

(A/N): YEEEEEEEEEEEEEEEEEEESSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSSS SELESAI JUGA. CAPEK SUMPAH DEMI KANCUT NEPTUNUSS BUSETDAH. PEGEL BANGET TARGET GUE 3 HARI NYELESAIN FF INI. SUMPAH. GUE mUAK. GUE GAK MAU NULIS MACEM GINIAN. NYALINYA GEDE CUY /HEH GAK BERANI BUAT BACA ULANG. OH IYA GUE GAK MAU BANYAK BACOT. KRISARNYA YA BOSH MAK PAK GAN DAN TETEH TETEH. MAAF GAYA PENULISAN ANEH DAN GAK NYAMBUNG, BAGIAN INTINYA JUGA KAYAKNYA GAK SREG. BODO YANG PENTING SETOKANO FOREVAH SAMPE MAMPUS BYEEEEE