Warning: typo(s), alur berantakan, tidak sesuai EYD. Thank you for your attention, sistur! Enjoy!
—
"Kak Luhan! Cepet turun! Kita hampir telat! Gue gak mau kena semprot di awal masuk sekolah! Kak!" Yeri berteriak sambil berkacak pinggang, "Gue hitung sampai 5 lo gak ke bawah, gue tinggal lo! Gue gak mau telat! Gue udah kelas 9!"
"1!" Yeri mulai berhitung. Dirinya meniup kuku-kuku baru nya. Berwarna biru pastel serta adanya glitter berwarna grey mempercantik kuku itu.
"2!"
"Yeri, ayo kita sarapan dulu, Nak. Keburu dingin nasi goreng buatan Mama," Hangeng selaku Kepala Keluarga akhirnya turun tangan. Beliau menggiring Yeri ke meja makan, mendudukkan anak bungsu nya tersebut sambil mengusak rambut gadis itu sayang.
DRAP DRAP DRAP
"Astaghfirullah, Luhan! Jangan berlari seperti itu, Nak! Nanti jatuh!" jerit Heechul sambil mengelus dada nya, merasa jantung nya berdegup kencang lebih dari biasanya. Bagaimana kalau anaknya jatuh dari tangga itu?! Heechul tidak ingin membayangkannya!
Luhan memakai kaos kaki nya sambil berjalan menuju meja makan, mendudukkan dirinya di samping Yeri yang masih memasang wajah cool dan tidak berdosa nya.
Luhan mendengus, "Puas?! Udah bikin gue panik kek begini?!"
Yeri ikutan mendengus, "Apasih, kak?! Gue tuh membantu lu biar gak telat! Coba kalau lo belum bangun, kita udah ditinggal Abang Yifan!"
"Udah., udah., Sayang. Jangan bertengkar di hari pertama kalian bersekolah." Heechul menuangkan nasi goreng pada kedua piring anak gadisnya, "Luhan, sudah dipersiapkan semua untuk sekolah mu, Sayang?"
Luhan mengangguk cepat, "Sudah, Mama! Hari ini hanya opening setelah itu pembagian kelas dan perkenalan,"
Yeri menoleh kearah kakaknya, "Terus? Habis itu lo pulang gitu, kak? Seriously? Kok enak? Gue aja pulang kayak biasanya!" protes gadis itu.
Luhan tertawa jahat—menyombongkan diri, "Makanya, cepet-cepet kelas 10. Murid baru, kelas baru, sekolah baru, terus dapet jam pulang sekolah yang cepet."
"Gue sleding, nih?" ancem Yeri.
"Hus, Yeri! Gak boleh ngomong gitu sama Kakaknya!" Hangeng memincingkan matanya pada anak bungsu nya. Merasa kalau Yeri sudah hampir melewati batas.
Yeri menundukkan kepala—menciut karena mendapatkan ancaman dari sang Ayah. Dirinya hanya bisa berkomat-kamit memaki kakaknya yang sudah tertawa puas. Ugh, dirinya benar-benar ingin balas dendam pada Luhan!
Yifan bergabung dan mendudukkan diri waktu Luhan maupun Yeri sedang menyantap sarapan mereka, "Good Morning, my princesses," pemuda itu mengecup kedua kening adiknya sayang, "Good Morning, Mom-Dad," dan mengecup kedua pipi Hangeng dan Heechul secara bergantian.
Yeri hanya bisa mendengus, sedangkan Luhan ingin memuntahkan nasi goreng nya, "Please, dude. Tumben banget Abang memperlakukan kita waras hari ini. Biasanya, kita disuruh ini-itu," protes Luhan.
"Tau nih, Abang," Yeri menimpali, "Biasanya jahat banget sama kita," gadis kecil itu menyeruput susu segar nya secara perlahan.
Yifan sekarang yang mendengus, "Abang lagi happy hari ini. Tau, kenapa?"
"Apa?" Luhan maupun Yeri segera mendekatkan wajah nya pada wajah Yifan. "Apa! Jangan bikin penasaran!"
Yifan menyodorkan ponsel nya pada Luhan-Yeri, "Abang sekarang pacaran sama Zitao!"
Di ponsel Yifan, terdapat lockscreen hasil potret dirinya dan Zitao yang sedang tersenyum senang.
"Dih, gue kira apaan. Gak asik," Luhan kembali fokus pada makanannya, "Gue kira lo berhasil membuat perbuatan yang bikin gue terkagum-kagum gitu,"
"Udah., udah., ayo kalian berangkat sekarang." Heechul menengahi perdebatan anak-anaknya, "Yifan, tolong antar Luhan dan Yeri, ya. Mama harus ke butik hari ini. Banyak pesanan gaun,"
"Ayeye, Bu Negara!" Yifan mengangguk cepat. Setelah bersalaman dengan Hangeng maupun Heechul, pemuda tinggi itu menggiring kedua adiknya menuju mobil. Menuju ke sekolah Luhan maupun Yeri.
—
Luhan melangkahkan kakinya menuju auditorium besar milik SMANSA, sekolah barunya. Begitu besar dan mewah. Sekolah impian Luhan sejak sekolah menengah pertama. Sudah banyak sekali siswa-siswi baru yang telah sampai. Tak ingin menunggu terlalu lama, gadis itu akhirnya mendudukkan pantatnya pada salah satu kursi disana.
"Hai," seseorang membuat Luhan mengadahkan kepalanya, "Boleh duduk disini?"
Luhan terdiam sejenak, "Tentu saja! Silahkan!" gadis itu menepuk-nepuk kursi sebelah nya dengan cepat.
"Terima kasih," seseorang itu mendudukkan diri, "Namaku Kyungsoo, Roro Kyungsoo Ramadhesya. Namamu?"
Luhan tersenyum hingga memamerkan gigi-giginya, "Luhan Dewi Farasya. Kyungsoo, asal sekolah dimana?"
"SPENSA. Luhan?"
"SPENDA. Sekolah kita bersebelahan, Kyungsoo." Luhan terkekeh lagi karena telah mendapatkan teman di hari pertamanya sekolah, "Masuk jurusan apa? MIPA atau IPS?"
"IPS, of course. Aku tak bisa berhitung dengan baik." Kyungsoo mendengus sebentar, "Kalau kamu, Luhan?"
"Aku juga," Luhan menyenderkan badannya pada kepala kursi plastik itu, "Aku tidak sudi bertemu dengan fisika, kimia, dan antek-antek yang terlihat di dalam nya, Kyung. Mereka menyiksa otakku!"
"Kita sehati," Kyungsoo tertawa pelan, "Kamu asli sini?"
Luhan mengangguk, "Kalau kamu? Asli sini juga?"
Kyungsoo menggeleng, "Aku dari Solo."
"Pantas saja! Cara kamu berbicara begitu kalem! Gak kayak aku! Bar-bar, katanya," Luhan mengerucutkan bibirnya sebal, "Padahal aku tidak bar-bar,"
"Luhan!" suara cempreng nan melengking itu membuat Luhan menoleh kearah belakang, menemukan Baekhyun yang melambaikan tangannya heboh.
"Baekhyun! Sini!" Luhan menepuk-nepuk bangku di sebelah nya pula, "Duduk sini! Kenalan sama Kyungsoo!"
Baekhyun menghampiri mereka, "Gue cari lo kemana-mana, sumpah. Eh—siapa ini?" gadis mungil itu termangu melihat Kyungsoo yang menurutnya—kalem.
"Kyungsoo," gadis bermata lebar itu mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman, "Baekhyun,kan?"
Baekhyun mengangguk sambil terkikik, "Benar sekali! Salam kenal, Kyungsoo! Semoga kita menjadi teman yang baik!" Baekhyun menerima uluran tangan Kyungsoo.
TEST TEST MI
"Baiklah, semuanya! Dimohon untuk siswa-siswi baru memasuki auditorium karena opening akan dimulai. Terima kasih," suara yang terdengar dari atas panggung membuat ketiga gadis yang sedang bercakap-cakap itu menyudahi pembicaraan mereka. Mereka bertiga langsung fokus pada panggung dan auditorium yang mulai penuh karena para siswa-siswi kelas 10.
"Assalamuallaikum , selamat pagi, semuanya." Seorang gadis berambut hitam legam berkuncir kuda tersenyum manis dari atas panggung, "Terima kasih karena telah tidak terlambat untuk menghadiri pembukaan penerimaan siswa-siswi baru tahun ajaran 2017/2018 ini. Saya BoA Septiawardhani selaku ketua OSIS ingin mengucapkan selamat datang pada siswa-siswi kelas 10. Selamat datang!"
BoA tersenyum manis lagi, "Setelah itu, mari kita sambut kepala sekolah kita, Sooman Herdiansyah ., .,!"
Seluruh siswa-siswi kelas 10 SMANSA mendengarkan sambutan dari Kepsek Sooman dengan jengah. Ada yang tertidur, ada yang bergossip, bahkan ada yang tak tanggung-tanggung menguap dengan keras.
"Baiklah, sekarang mari kita dengarkan kata penyambutan dari perwakilan kelas 10!" BoA tersenyum manis kembali, "Dengan ini, kamu persilahkan,"
Seusai BoA mengatakan hal itu, Luhan merasa hidupnya telah dibolak-balikkan oleh perasaannya sendiri. Jantung yang berdegup kencang, bibir yang bungkam karena tak bisa berkata-kata, serta mata yang terus mengamati sosok indah itu. Luhan merasa kalau dirinya—jatuh cinta.
Tak ada yang bisa Luhan katakan sekarang. Sosok itu—begitu sempurna, baginya. Langkah tegap yang dihasilkan sosok itu berhasil mengambil seluruh perhatian Luhan. Dari apapun.
Badan yang tegap nan tinggi, surai hitam yang mengagumkan, hidung bangir dan bibir tipis, serta rahang yang tegas berhasil membuat Luhan tak bisa berpaling.
Salah satu poin yang sangat Luhan sukai—mata tajam nya. Mata tajam itu menatap dalam pada apapun yang dilihatnya. Luhan—jatuh cinta! Luhan jatuh cinta!
Suara mic yang sedikit berdengung bahkan tak Luhan perdulikan. Yang Luhan perdulikan sekarang adalah pemuda yang telah berada di atas panggung! Memegang mic sambil tersenyum tipis! Astaga, candu bagaikan narkotika untuknya!
"Selamat pagi, semuanya," suara pemuda itu terdengar lembut dan berat, "Terima kasih atas kesempatan yang diberikan Senior BoA karena itu saya hadir disini untuk memberikan sedikit kata sambutan di pagi hari ini," dia berdeham sebentar, "Terima kasih kepada Kepala Sekolah—blablablabla," dia berkata dengan lugas dan lantang.
"Saya, Oh Sehun Satyadwitama mengucapkan terima kasih banyak. Sekian, assalamuallaikum," tak perlu waktu lama, Sehun turun dari atas panggung. Tentu saja mendapatkan tepuk tangan yang sangat meriah. Bahkan tak jarang ada jeritan yang berujung pujian untuk Sehun.
"Oh Sehun Satyadwitama," Luhan merapalkan nama pemuda itu berkali-kali dari bibirnya, "Tampan."
—
Tak perlu menunggu lama untuk Luhan mencari kelas yang akan ia tempati selama 3 tahun kedepan. Kelas X IPS 3 membawa Luhan pada nasib belajar dan di masa depannya selama 3 tahun kedepan.
Luhan memang sudah berpencar dengan Kyungsoo maupun Baekhyun karena kedua gadis itu sedang berada di toilet. Luhan yang memang tidak pemalu hanya bisa bersenandung senang sambil melangkahkan kakinya menuju kelas.
BRAK
Luhan tertabrak oleh siswa-siswi yang sedang berlarian. Menyebabkan dirinya terhuyung dan jatuh terduduk ke lantai. Sungguh sial nasib gue hari ini, gerutunya.
"Kamu baik-baik saja?" suara yang sangat familiar pun terdengar di telinga Luhan. Disusul oleh sebuah tangan putih yang tertangkap di retina matanya.
Luhan mengadahkan kepalanya. Menemukan pujaan hatinya yang sedang mengulurkan tangan padanya—disertai dengan tatapan tajam yang memukau. Luhan—merasa tersihir.
"Permisi, kamu baik-baik saja?" Sehun membuyarkan seluruh imaginasi Luhan, "Tidak ada yang terluka?"
"Ah., tidak ada apa-apa!" Luhan panik seketika. Dirinya langsung bangkit dan tidak memerhatikan kakinya yang sedikit terkilir karena terjatuh, "Aw!"
GREP
Pinggang Luhan dipeluk oleh sesuatu yang hangat—tangan putih berwarna hampir pucat menangkapnya dengan kokoh. Seketika—Luhan yang selalu banyak tingkah menjadi pribadi yang tak bisa melakukan apapun.
"Tidak apa-apa? Sebaiknya aku antar ke UKS. Sepertinya—kaki mu terkilir," Sehun terus berbicara pada Luhan yang tidak fokus. Bahkan Luhan tidak menyadari kalau dirinya sudah dipapah Sehun menuju UKS dengan tangannya yang melingkar di leher jenjang Sehun.
Sehun—gue suka!, jerit Luhan dalam hati.
—
CHAPTER 1 END.
Lebih sedikit, lebih membosankan, lebih tidak berbobot. Maafkan saya. Karena itu—saya akan hadirkan chapter selanjutnya yang inshaAllah akan lebih enak dibaca nya. Untuk masalah fanfic yang lain, akan saya tulis ketika waktu senggang karena urusan sudah semakin menumpuk dan itu menyita waktu saja hanya untuk sekedar menulis beberapa kalimat-kalimat untuk fanfic saya. /bow/
Review? Likes? Thank you, sweetheart.
Pretty sign,
syyaaaaak.
