Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Sakura membuka knop pintu. Rumah sepi saat itu. Tidak heran sih, kedua orangtua Sakura sering menghabiskan waktu mereka di kantor. "Masuklah." Ujar Sakura ketika Sasuke masih diam saja di depan pintu.

Mereka masuk ke ruang tengah. Sakura menyalakan televisi sambil lalu, "Kau bilang kita akan belajar." Sasuke menatap punggung Sakura tajam. Gadis bermanik emerald itu berhenti melangkah lalu berbalik untuk mematikan televisi. Sasuke duduk di sofa putih pucat bak salju dan Sakura berjalan menuju dapur.

Sakura menuangkan teh hangat dari poci kesayangan ibu ke dua buah cangkir bercorak hijau. Dengan hati-hati ia membawanya ke ruang tengah. Sasuke menyambutnya dengan tatapan datar tak bersahabat. "Kau tidak keberatan kan, mengajariku, Sasuke?" Sakura menggigit bibir bawahnya serambi meletakkan cangkir-cangkir tersebut di meja kaca di depan sofa.

Sasuke menatap Sakura merendahkan, "Bagaimana tidak, seharusnya sekarang aku bisa tidur di ranjangku. Dan kau, dengan bodohnya menanyakan hal seperti itu." Sakura memanyunkan bibirnya, ia mengeluhkan jawaban pemuda Uchiha yang amat menohok itu. Seenaknya sekali menjawab, Sakura kan tidak memaksanya, dia saja yang mau.

Sakura mulai mengeluarkan beberapa bukunya dari rak dan meletakkannya di meja. Di waktu berikutnya, Sasuke mulai menyuruh gadis Haruno itu mengerjakan beberapa soal kimia. Sakura tidak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan Sasuke, ia tidak sungguh-sungguh memperhatikan penjelasan Sasuke. Yaaaah, ia sedang mendengarkan suara hatinya yang menggebu-gebu mengisahkan betapa senangnya ia berada di rumah yang hanya ada mereka berdua, ia hanya memperhatikan paras Sasuke yang telah menariknya sejak pertemuan pertama mereka.

"Pelajaran selesai."

Sakura terkejut, ia melihat ke arah jam dinding. Apa-apaan ini? "Ada apa, sih? Bahkan kita belum setengah jam belajar dan kau…. Uh!" Sakura merajuk seraya meletakkan lipatan tangannya di bawah dadanya. Oh, sungguh, demi neraka!

"Pikiranmu sedang di alam lain, kan?" Sasuke menatap Sakura, tatapannya terarah langsung pada manik Sakura. Sakura tercengang beberapa saat, sempat terhanyut. "Jadi, aku benar kan? Memintaku mengajarimu…. Hanya alasan saja." Sasuke menyeringai. Sakura diam saja. Sasuke melempar dirinya bersandar di sofa dan menengadahkan kepalanya. "Sudahlah… Rileks saja, Sakura. Kemarilah." Ujarnya lagi setelah menghela napas panjang.

Demi petir yang menyambarnya, hal itu sungguh di luar dugaan. Perlakuan yang belum pernah Sakura dapatkan dari seorang Uchiha Sasuke. Setengah tidak percaya, ia menutup katupnya yang menganga kecil dengan kedua telapak tangannya.

"Jangan hanya mematung begitu." Cibir Sasuke.

Sakura sedikit merangkak ke arah Sasuke dan mengambil posisi di sebelah kirinya. Ia duduk kaku dengan kedua lutut ditekukkan dan dipeluknya. "Kau lelah ya, Sasuke?" Sasuke terkekeh kecil. "Aku pasti sering merepotkanmu. Maaf ya, aku hanya…" Sakura mendengus, mengurungkan niatnya untuk menyampaikan perasaannya.

"Aku tahu, Sakura." Sasuke meluruskan kakinya dan duduk tegak, masih menyandar. Sakura mengangguk, tersenyum miring.

Dengan antusias, Sakura berdiri dari tempatnya. "Seingatku, masih ada puding untuk bisa kita makan. Tunggu sebentar, ya…" Sasuke tidak memberikan jawaban sama sekali. Sebenarnya, Sakura agaknya tidak nyaman dengan suasana yang begitu canggung seperti tadi. Ia jadi bersikap aneh, aneh sekali. Sasuke… Dia juga bersikap tidak biasa tadi.

Tungkainya berarah ke kulkas. Diraihnya gagang lemari es lalu menarik membukanya, ia mengambil 2 cangkir es krim. "Sasuke, kau suka es krim, tidak? Ternyata pudingnya habis…" Sasuke menoleh pada Sakura dengan tatapan dingin, tetapi yang tidak biasa ialah, terdapat seulas senyum simpul dari bibirnya.

"SAKURAAAA!"

Suara yang begitu antusias dari luar rumah sedikit mengejutkan Sakura. Sebelum ia sempat ke ruang depan untuk mengetahui tamu yang datang, sosok Karin dan Ino muncul, Sakura dan Sasuke melongo tidak menyangka. "A… Apa yang…" Sasuke tidak melanjutkan kalimatnya, ia berdeham lalu kembali bersikap dingin.

"Pantas saja ada aura aneh sejak tadi." Pekik Sakura kecil hingga hanya terdengar seperti cicitan saja.

Karin menggunakan baju ungu tanpa lengan dan rok hitam yang amat mini, terdapat polesan lipstik yang sangat kentara di bibirnya. Ino tampak lebih sederhana. Ia menggunakan kaus oblong dan celana training.Mereka tersenyum lebar ke arah Sasuke, mengacuhkan Sakura sama sekali. Sial.

"Oh, Sasuke, kau ada di sini juga rupanya. Ini seperti… Takdir." Karin berjalan mendekati Sasuke dan duduk di mana Sakura tadi menempatinya. 'Oh, perkara, konyol sekali. Itu kan, sengaja!' Sakura berteriak dalam hatinya. Ino mengerling ke arah Sakura lalu juga berjalan ke arah Sasuke, menempatkan diri di hadapan Sasuke. "Kami tadi berniat mengajak Sakura belajar bersama." Ino berujar, nadanya tidak biasa, terdengar manis yang terlalu dipaksakan. 'Mereka…. Matilah!' Pekik Sakura pada nalurinya.

Sakura melirik Sasuke. Sejujurnya saja, ada kengerian dan keterkejutan yang Sasuke rasakan, tentunya, tapi ia tetap memasang tampang tidak peduli. Sakura berjalan melangkah mendekati mereka. "Ini es krimmu, Sasuke."

Sasuke meraih es krim yang disodorkan Sakura. Karin menatap mereka berdua, "Oh, aku juga mau…" Rengeknya manja. "Sakura, kurasa tidak sopan kalau hanya Sasuke dan kau yang menikmati es krim manis itu." Karin memanyunkan bibirnya.

Dengan tampang siap menerkam, Sakura menjawab, "Sudah habis." Sesungguhnya, Sakura tahu bahwa kedua rivalnya itu pasti mengikuti mereka secara diam-diam sejak mereka meninggalkan sekolah tadi. Sialan sekali mereka itu!

"Kau sedang apa, Sasuke?" Tanya Ino dengan nada datar, seakan amat acuh dengan jawaban Sasuke.

Selanjutnya, jawaban pemuda Uchiha memberikan sorak-sorai gembira dalam hati Haruno. Sasuke mengangkat bahu pelan tanpa menoleh, ia menyuapkan sesendok es krim ke mulutnya. Sakura senang Sasuke tidak begitu peduli dengan Karin ataupun Ino.

Karin membetulkan letak kacamatanya yang sedikit miring. "Umm… Sasuke, aku juga mau es krim…" Karin mendekati sendok Sasuke yang akan disuapkan ke mulut Sasuke. Letak bibir mereka cukup dekat.

Sasuke mencibir, "Ambil ini saja." Sasuke menutup wajahnya dan menyodorkan es krimnya. Sakura dan Ino menahan napas mereka.

Karin mengambil es krim Sasuke dan melahapnya, ia kembali menyendokkannya, "Sasuke, makan ini." Ia mengarahkannya pada Sasuke. "Tidak." Sasuke berdiri.

"Aaaah, Karin…" Sakura memekik.

"Ya, Sakura?" Tanya Karin tanpa dosa.

"Sasuke terganggu denganmu, tahu!"

"Hah?" Karin tampak terkejut, tapi percayalah… Itu hanya akting. "Sasuke-kun, aku mengganggumu?" Karin merengek untuk kedua kalinya, ia cemberut.

Sakura mendengus kesal, Sasuke memalingkan wajahnya. "Aku harus pulang." Sasuke membereskan perlengkapannya. Karin dan Ino serentak bangkit dari duduk mereka. "Aku pulang, Sakura." Ujarnya mengerling pada Sakura. Sakura cemberut. Pemuda itu berjalan keluar rumah, Ino dan Karin serta Sakura mengekorinya. "Sakura-chan, aku juga pamit ya…" Dengan nada manjanya ia menyusul Sasuke yang tengah membuka gerbang.

"Sabar ya, Sakura. Menurutku, Uchiha tidak begitu tertarik pada gadis sepertimu." Ino berbisik, lalu ia terbahak menuju gerbang. Sakura menahan napasnya, emosinya telah sampai di ubun-ubun. Mereka berdua benar-benar cari mati…

To be continued…


Makasih yah yang udah review, itu membangun sekali lho. :3