Author: Kiriya Diciannove
Tittle: Long Way
Disclaimer: All the cast belong to God, themselves, their parent, their Management.
The story is mine. No copas!
Cast: Member TVXQ, JYJ from TVXQ, and other
Rate: Teen, PG-13
Pairing: Yunjae. Yunjae's belong to YJs!
Warning: AU, typo, BL, OOC, Don't Like, Don't Read! ;)
Mind to RnR? :3
Summary: Senin pagi. Kau tahu apa itu artinya/ I Hate Monday/ Menurut kalian siapa saja yang pantas jadi seme?/ Dan kau masih jadi uke yang paling top/ Aku suka Hero, dia indah sepertimu/ jatuh cinta itu membuat orang melakukan banyak hal aneh/AU, BL, OOC, DLDR. Mind to RnR?
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Lasting for far 'n far, long way of wind and sand.
Life is a journey, sometimes we are a bit lost.
Let's just hear the voices of our hearts.
Let's believe and walk the road, which we can only see by closing
Our eyes [Long Way –JYJ]
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
:::::::::::::::::
Long Way © Kiriya Diciannove
:::::::::::::::::
::::::::::
Jaejoong menatap jaket yang sedari tadi tersampir di kursi belajarnya dalam diam. Terbayang olehnya beberapa hal yang terjadi pagi tadi. Salah satunya adegan ciuman lembut di bawah pohon itu. Iya, ciuman… ciuman yang lembut dan hangat…
Plak! Plak!
Jaejoong menepuk kedua pipinya yang telah memerah karena memikirkan hal itu.
"Apa yang kupikirkan!" dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, beberapa detik kemudian kembali menatap ke arah jaket merah itu dengan tatapan kosong dan pikiran yang melayang.
Kembali adegan ciuman itu terlintas dipikirannya, membuat namja itu berguling di kasurnya sambil menutup wajahnya dengan bantal.
10 menit kemudian Jaejoong bangkit dari kasurnya dan duduk dengan rambut yang berantakan.
"Aaahhh! Baiklah, aku akan mengembalikan jaket dan ponsel ini!" seru Jaejoong frustasi ditemani dengan lagu Kiss B yang sedari tadi mengalun di dalam kamarnya itu.
Haah… Jaejoongie… bukannya akan, tapi kau memang harus mengembalikan benda-benda itu, kan.
"Aish… Tapi bagaimana caranya?!" namja itu mengacak-acak rambutnya hingga semakin berantakan.
"Kenapa juga aku mendengarkan lagu ini." Gumamnya lagi. Tangan putih pucatnya mematikan lagu yang terdengar dan mulai berpikir lebih serius dan mendalam.
Changmin.
Benar juga... Dia bisa menitipkan barang-barang itu kepada Changmin besok lalu menyogok anak imut itu dengan setoples kue buatannya.
Uh… tapi bagaimana kalau ada yang bertanya pada Changmin tentang jaket dan ponsel itu nanti? Apalagi tentang insiden kemarin, jaket itu pasti dikenali. Walaupun Jaejoong mengakui kalau Changmin itu jenius untuk anak-anak seumuran itu, tapi anak itu kan polos, iseng, dan kadang evil. Menitipkan benda berbahaya seperti itu kepada Changmin terdengar seperti pilihan yang cukup buruk sekarang.
Dimasukkan dalam bentuk paket kado lalu diserahkan saat ulang tahun Yunho… terdengar cukup bagus. Namja itu mengangguk, 'Lalu kapan ulang tahun Yunho, satu bulan lagi? dua, tiga, empat, lima, haaah? Masih lama.'
Itu juga tidak bisa.
Bagaimana ini, besok Yunho pasti menemuinya untuk mengambil ponselnya. Belum lagi gosip-gosip yang akan menyebar besok. Ah, tidak ada pilihan lain selain mengembalikan besok kepada Yunho secara diam-diam tanpa ada yang tahu! Iya, sepertinya hanya itu rencana yang terpikir di otak Jaejoong sekarang.
Eh, tapi di zaman dengan kemajuan teknologi seperti ini, sekarang ponsel menjadi salah satu benda yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Bagaimana jadinya kalau ternyata Yunho datang mengambil ponselnya malam ini kesini? Andwaeee! Yoochun ada disini, bisa tamat riwayatnya kalau ketahuan!
'Tenang Kim, pikiranmu itu terlalu berlebihan… sepertinya Yunho tidak seambisius itu untuk mengambil ponselnya,'
Jaejoong menatap ponsel yang ada di nakas ambil mengangguk-angguk. Yeaah… sepertinya itu—
Tuk!
Tuk!
"Jaejoongie!" terdengarsuara yang familiar dari balik jendela, membuat Jaejoong menatap horror kearah jendela dan segera menyibak tirai jendela.
Matanya membulat lebar melihat orang yang melambaikan tangan dengan senyum inosennya di depan jendela.
"Hai, Jaejoongie…" tampak seorang namja tampan bermata musang tersenyum kepadanya sambil menadahkan setangkai bunga mawar di depan wajahnya.
"Y—Yunho!"
—salah…
Srek!
Jaejoong menutup tirainya lagi sambil bersandar di dinding. "Oh my… kau sedang berhalusinasi Kim, kau terlalu banyak berpikir dan kelelahan hari ini."
"Jaejoongie!"
Tuk! Tuk!
"Buka! Aku ingin mengambil ponselku dan jaketku!"
"Argh! Sialan! Ini bukan halusinasi! T-T"
Jaejoong langsung membuka jendela itu, "Aish! Jangan berisik! Aku tidak mau usaha keras siang tadi sia-sia karena ketahuan!"
Hup!
Yunho masuk ke dalam kamar Jaejoong dengan teknik ala parkour.
"Aah… aku masuk ke kamar ini lagi." Ucap Yunho menarik napas sambil menatap pemandangan indah di sekelilingnya. (read: kamar Jaejoong)
"Ya! Kenapa kau masuk! Cepat keluar!" usir Jaejoong.
"Wah, kau jahat, masa tamu diusir seperti ini." Yunho mem-poutkan bibirnya.
"Mana ada tamu yang masuk lewat jendela, pabbo!"
"Kalau lewat pintu pun kau pasti tidak akan mengizinkanku." Sahut Yunho.
"Ya sudah, ambil ponselmu di nakas, lalu cepat pula—"
"Jaejoong-hyung!" suara Yoochun terdengar dari balik pintu.
Jaejoong ber-facepalm.
"Sembunyi." bisik Jaejoong sambil menyerahkan ponsel Yunho kepada pemiliknya, mendorong namja itu ke tempat persembunyian terdekat. Lemari pakaian.
"Mwo?"
"Ppali!"
"Hyung! Jang Geun Suk dan Hyun Joong ingin bertemu denganmu. Katanya hari ini ingin mengerjakan tugas kolompok bersama."
"T—tunggu, aku akan segera keluar." Seru Jaejoong dengan wajah panik, matanya melotot mendapati jaket milik Yunho masih tergeletak dengan cantik di kursi. Langsung saja dilemparnya dalam hitungan detik ke bawah kasur. Namja cantik itu kemudian menarik napas sedalam-dalamnya kemudian berjalan membuka pintu kamarnya. Dia tersenyum kearah Jang Geun Suk dan Hyun Joong sambil mengunci kamarnya.
"K—kamarku terlalu panas, ayo mengerjakan tugas kita di ruang tamu!" ajak Jaejoong tampak bersemangat.
"Wuahh! Semangat yang bagus Jaejoong-ah," seru Hyun Joong sambil merangkul bahu namja cantik itu.
"Haha… ini agar tugas kita cepat selesai…" sahut Jaejoong dengan tawa canggung.
Jang Geun suk mengangguk-angguk sambil memainkan ponselnya, "Semakin cepat semakin bagus."
"Kau bilang begitu tapi masih saja sibuk dengan ponselmu. Cepat matikan." Perintah Jaejoong.
"Tunggu dulu, twitter sedang seru nih."
"Heh? Memangnya kenapa?" Tanya Hyun Joong penasaran.
"Pasti karena foto Yunho hyung dengan seseorang yang tidak teridentifikasi kan," jawab Yoochun yang sedari tadi sibuk menonton televisi.
Jaejoong nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar ucapan Yoochun itu. Baru sebentar lupa tentang permasalahan itu, malah diingatkan lagi.
"Kau benar Chun, lalu apa kau tahu siapa orang itu kira-kira?" lanjut Jang Geun suk.
Yoochun memasang pose ala detektif, "Entahlah, aku tidak melihat dengan jelas karena jaket merah yang menutupi tubuh si 'Heroine' itu." Sahutnya.
Hyun Joong ikut memasang pose yang sedang diterapkan Yoochun, "Heroine ya, hm… terdengar sangat cocok, gadis itu pasti sangat cantik sampai bisa mengambil hati Yunho, hahaha… aku jadi penasaran."
"Lalu bagaimana dengan nasib couple Yunjae?" Tanya Jang Geun Suk sambil melirik Jaejoong.
"Ti—tidak ada hubungannya kan!" sanggah Jaejoong.
"Yang tabah ya Joongie…" hibur Hyun Joong, membuat namja cantik itu sweatdrop.
Namja bermata doe itu menatap Hyun Joong datar. "Hei, ayo kerjakan tugas kita, jangan hanya bergosip! Seperti perempuan saja!" seru Jaejoong galak.
[Long Way]
Kriekk…
Perlahan pintu lemari itu terbuka. Tampak sepasang mata musang itu mengawasi keadaan kamar yang sepi karena ditinggalkan penghuninya itu.
"Sepertinya aman," gumam Yunho pelan sambil keluar dari Lemari. Dia meregangkan ototnya yang terasa kaku karena berada di tempat sempit itu selama beberapa waktu. Mata tajamnya itu mengedarkan pandangan kesegala arah.
'Wuaahh… aku di kamar Jaejoongie!' batinnya bersemangat. Beberapa saat kemudian dia menghempaskan diri di kasur namja pencinta gajah itu.
'Aroma vanilla khas anak itu…' batinnya sambil berguling di kasur itu dari ujung kiri ke kanan kasur, kemudian bangkit berjalan menuju lemari kaca yang berisi banyak boneka gajah dan beberapa boneka lainnya. Matanya mengamati boneka-boneka yang ada itu. Lalu poster gajah ukuran besar yang ada di dinding dekat jendela.
"Wuah, dia benar-benar suka gajah." Matanya kemudian melirik ke arah meja belajar dan mendapati beberapa foto yang menempel di dinding dekat jadwal pelajaran. Perlahan dia meletakkan bunga mawar yang dibawanya sedari tadi ke atas meja belajar sambil menatap foto-foto itu. Ada beberapa foto bersama-sama saat festival, foto Jaejoong dengan gajah di kebun binatang, foto selfie Jaejoong dan beberapa foto narsis lainnya. Tangannya meraih satu foto yang menarik perhatiannya.
"Diambil satu tidak akan apa-apa juga kan?" Tanya Yunho pelan sambil mengambil selembar foto yang tertempel itu, "Aku tidak akan ragu lagi soal perasaanku sepertinya," gumamnya pelan, kemudian mengantongi foto itu. Dia kembali menjelajahi kamar itu.
"Ngomong-ngomong dia meletakkan jaketku dimana?" ucap Yunho. Matanya tidak mendapati jaket merah miliknya dimanapun. Untuk beberapa lama Yunho kembali berguling di kasur Jaejoong sambil melihat album foto yang baru saja dia temukan di laci meja belajar.
Yunho kemudian melirik jam dinding yang berbentuk gajah yang ada di kamar Jaejoong. "Belajar bersama ya, pasti lama. Pulang aja deh," ucapnya pelan.
Sejurus kemudian dia sudah melompat keluar dari jendela kamar Jaejoong dan berjalan pulang menuju rumahnya.
.
.
.
Cklek…
Jaejoong memasuki kamarnya dengan perlahan, kakinya masih terasa sakit kadang-kadang. Tapi dia tidak akan mengeluh hanya karena sakit seperti itu. Dia masih punya harga diri sebagai laki-laki, sepertinya sih…
"Yunho?" ucap Jaejoong sambil mengedarkan pandangannya. Kemudian dia berjalan menuju lemari dan mendapati tempat pakaiannya itu sudah kosong.
Namja pemilik cherry lips itu mendesah pelan, "Dia pasti sudah pulang." Gumamnya. Mata doe-nya tanpa sengaja melirik ke arah meja belajarnya, ada setangkai mawar merah disana.
"Argh! Dia pikir aku yeoja apa?!" seru Jaejoong sambil berkacak pinggang, tangan putihnya itu mengambil bunga itu sambil menjatuhkannya ke lantai dan mendengus pelan. Selama beberapa saat matanya menatap bunga yang tergeletak di lantai itu.
"Aish, baiklah! Aku tidak akan mencampakkanmu seperti itu!" gumamnya pelan pada bunga itu, dia berjongkok lalu memungutnya kembali. Matanya kembali membulat saat menyadari jaket Yunho masih ada di bawah kasurnya. Dia terduduk di lantai yang berlapis karpet berwarna cream itu.
"Ck, menyebalkan!"
[Long Way]
Senin pagi. Kau tahu apa itu artinya. Yeah, memulai semua aktifitas kembali seperti semula.
"I Hate Monday." Gumam Jaejoong sambil memasukkan jaket merah ke dalam ranselnya, disusul dengan buku-buku pelajarannya, kemudian cermin hello kitty miliknya.
"Hyung …" ucapan Yoochun terhenti sambil menatap Jaejoong tanpa berkedip.
"Yoochun!" seru Jaejoong kaget melihat makhluk itu tiba-tiba berada di depan pintu kamarnya.
'Duh, apa dia lihat? Dia lihat ya? Sejak kapan dia disana? Aku harus bagaimanaa?'
"Tumben bangun pagi sekali! Astaga, peningkatan nih! Ada apa? Ingin cepat bertemu Yunho dan mengkonfirmasi siapa 'Heroine' berjaket merah itu yaa?" ucap Yoochun sambil menaik turunkan alisnya.
Jantung Jaejoong yang tadinya sudah berdetak dengan cepat tanda kepanikan melanda dirinya itu mulai kembali berdetak beraturan. 'Lagi-lagi…' batinnya sambil menghembuskan napas.
"Ahahaha… aku sedikit penasaran juga sih…" bohong Jaejoong.
"Benarkah Hyung? Tenang, kita bisa mengkonfirmasinya langsung pada Yunho-hyung hari ini! Kajja, kita segera berangkat!" seru Yoochun bersemangat, yaah, tentu saja ini hari yang menarik. Benar bukan?
"…Ya… mari pergi dan berharap hari ini berlalu dengan cepat…"
"Semoga ini jadi hari yang indah!" lanjut Yoochun sambil melirik setangkai mawar merah yang berada di dalam sebuah gelas berisi air putih.
.
.
.
Yunho baru saja masuk ke kelas dengan santainya, mata musangnya menatap bingung kearah beberapa temannya yang berjalan kearah kursi tempatnya berada.
"Yunho-oppa, katakan siapa yeoja itu!"
"Dia bukan pacarmu bukan?!"
"Siapa orang itu?"
"Oppa!"
Yunho masih setia memasang wajah bingung, baru saja dia memasuki kelasnya, dia sudah diberondong berbagai pertanyaan. "Yeoja apa?"
"Ini! Yang ada di foto ini!" seru Soyoung sambil memperlihatkan ponsel miliknya.
Bibir hati Yunho membentuk huruf 'O', "Wow, dari mana kau mendapatkan foto ini?"
"Kemarin Junsu-oppa menguploadnya di twit. Katakan siapa orang ini, oppa!"
Yunho menarik napas perlahan, "Kalau kalian tahu siapa di foto itu, apa yang akan kalian lakukan?"
"I—itu…" beberapa murid lain terdiam.
"Apa kalian akan membully-nya?" Tanya Yunho lagi.
Tiffany melirik kearah beberapa temannya yang terdiam, "Aku bukan orang yang seperti itu, oppa. Tapi mungkin yang lain begitu… tapi kau sendiri yang jahat. Apa kau tidak memikirkan perasaan fansmu dan perasaan Jaejoong-oppa?" ucap Tiffany.
"Mwo?" Jaejoong yang baru datang dan mendengar ucapan Tiffany tampak memasang wajah kesal, "Yah! Memangnya kenapa denganku!" ujarnya ketus sambil menyeruak kerumunan yang menghalangi pintu itu sambil membanting tasnya ke atas mejanya.
"Lihat oppa, Jaejoong-oppa sepertinya sangat kesal." Bisik Tiffany.
'Yaaah, aku bisa lihat itu, tapi sepertinya dia kesal karena hal yang berbeda,' batin Yunho.
Namun melihat ekspresi Jaejoong yang seperti itu memang hal yang menyenangkan baginya.
"Tidak apa, Tiff. Kau tenang saja," Yunho tersenyum pada teman sekelasnya itu. "Semua akan baik-baik saja."
.
.
.
Jam pelajaran kedua, pelajaran olahraga.
"Ini penyiksaan. Kenapa siang seperti ini malah pelajaran olahraga," keluh Yuri.
"Ini masih pagi," sahut Yoona yang merenggangkan kakinya.
Jaejoong menarik napasnya, pagi ini terasa berjalan dengan lambat. Saat berganti pakaian dengan baju olahraga dan celana training, sebenarnya namja cantik itu sudah berniat untuk mengembalikan jaket Yunho, tetapi… terlalu banyak saksi mata, sehingga pengembalian jaket yang dipakai 'Heroine' itu kembali tertunda.
'Aku harus bisa mengembalikannya hari ini…' batin Jaejoong.
"Jaejoong-oppa, kau melamun?" Tanya Jin Hee yang melakukan sit up dibantu oleh namja bermata doe itu.
"Ah, iya. Maaf ya." Jaejoong tersenyum kecil.
Jin Hee menggeleng, matanya melirik kearah tengah lapangan dimana para namja sedang sibuk bermain voli. "Tidak ikut bermain, oppa?"
Jaejoong yang ikut melirik kearah lapangan menatap kearah para temannya yang tampak berebutan bola voli seperti sedang tawuran, dia bergidik pelan. Kakinya bisa jadi bulan-bulanan para temannya. "Kakiku sedang tidak fit, jadi aku melakukan pemanasan saja. Mumpung Kang-seonsaengnim tidak masuk." Sahut jaejoong.
"Kakimu kenapa, oppa?" Tanya Yuri.
"Oh, Cuma jatuh dengan tidak elit kok, tidak perlu khawatir!" sahut Jaejoong.
Ya, jatuh nyungsep karena dikejar anjing. Udah gitu pulangnya digendong.
Yoona yang sedari tadi melakukan pemanasan di dekat mereka ikut duduk dibawah pohon rindang. "Ne oppa, apa kau tidak tahu siapa Heroine berjaket merah itu?"
Jaejoong tersentak, "T—tidak, aku tidak tahu. Lagipula, dari mana kau dapat julukan itu?" Tanya Jaejoong heran. 'Bukannya itu julukan dari Yoochun?' batinnya.
"Yoochun-oppa menyebutnya seperti itu." Sambung Yuri.
Jaejoong menghela napas pelan, tangannya masih menahan kaki Jin Hee yang masih melakukan sit up, "Bukankah Heroine itu artinya pahlawan wanita? Kenapa dinamakan begitu."
Yoona tampak berpikir sejenak, "Hm.. karena sudah jelas, Yunho-oppa adalah pemeran utama pria jadi orang yang tidak diketahui itu sudah jelas memiliki posisi sebagai pemeran utama perempuan alias Heroine."
"Memangnya orang yang berjaket merah itu yeoja?" sahut namja itu sambil menggerutu dalam hati.
Yoona dan Yuri memasang wajah kaget lalu berpandangan sesaat.
"Meskipun Heroine itu bukan yeoja, tidak mungkin Yunho-oppa yang jadi uke kan!" sahut Tiffany tiba-tiba muncul sambil berkacak pinggang dengan senyuman menghiasi wajahnya. Dia mengusap keringatnya, "Ini hari yang indah." Ucapnya lagi sambil mengedarkan pandangan ke lapangan.
"Wuahh, kau tampak bersemangat Tiff," ucap Hyun Joong yang menghampiri mereka seraya mengambil sebotol air mineral yang ada di dalam tasnya.
"Tentu saja indah," Jin Hee menggerakkan dagunya, "Para namja tampan yang sedang berolahraga."
"Mereka… keren!" ucap Tiffany.
Jin Hee mengangguk, "Bisa kencan dari salah satu anggota klub sport terdengar hebat!"
"Menurut kalian siapa saja yang pantas jadi seme? Ah, aku tahu, pasti kalian memilih Siwon kan?" ucap Tiffany panjang lebar masih menatap ke depan.
Jaejoong dan teman-teman lainnya saling berpandangan.
"Sepertinya apa yang kita pikirkan berbeda," gumam Jin Hee pelan.
"Biarkan dia tersesat di dunianya." Ucap Yoona yang diamini oleh yang lain.
"Tapi tenang saja Jae-oppa, seme yang paling pantas untukmu masih dipegang oleh Yunho-oppa!" ucap Tiffany berapi-api. "Dan kau masih jadi uke yang paling top," yeoja yang memakai baju olahraga itu mengacungkan jempolnya.
Kembali para teman Jaejoong mengangguk tanda mengiyakan.
"Kalian ini!" protes Jaejoong tidak terima.
.
.
.
Sesekali Yunho melirikkan matanya ke arah tepi lapangan, tempat dimana beberapa anak lainnya hanya melakukan pemanasan ringan lalu bersantai, sejurus kemudian dia kembali fokus dan melakukan spike yang berhasil dengan sempurna, membuatnya mendapatkan teriakan riuh dari para supporter-nya yang kebanyakan adalah para yeoja.
'Aku juga ingin berada disana dan mengobrol dengan Jaejoong…' batinnya sambil menghela napas.
"Yunho! Awas, bolanya!" seru Siwon yang menjadi setter.
Jduak!
Baru sepersekian detik, sebuah hantaman keras dari bola voli itu menghantam wajah Yunho.
Cukup keras dan membuatnya oleng, namun tidak membuat namja itu sampai pingsan, Yunho mengelus kepalanya yang terbentur bola itu.
Terdengar beberapa teriakan khawatir para penonton dan teman-teman se tim salah satu flower boys itu.
Yunho tersenyum kecil sambil memegangi kepalanya yang terbentur, "Aku tidak apa-apa kok, tapi aku izin istirahat ya? Minho, tolong gantikan aku ya…" ucapnya sambil keluar dari lapangan dan berjalan menuju tepi.
.
"Wah, Yunho-oppa terkena bola!" pekik Jin Hee.
"Itu pasti keras sekali." Gumam Hyun Joong.
"Dia kesini!" seru Yoona.
Beberapa orang yang berada disana melirik Jaejoong, membuat namja itu bingung.
"Apa?" Tanya Jaejoong heran.
"Tentu saja mengkhawatirkan Yunho-oppa, misalnya bilang, 'kamu tidak apa? Dimana yang sakit? Sini aku cium lukamu!' seperti itu!" ucap Tiffany antusias.
"Hah?" jaejoong melihat kearah Tiffany dengan tatapan tidak tertarik. Matanya seakan berkata, 'mana-mungkin.'
"Yuri, aku haus nih, kita cari minum yuk," ajak Yoona.
"Boleh, boleh, ayo ke kantin." Sahut Yuri.
"Aku ikut!" seru Jin Hee sambil bangkit dari posisi duduknya.
Tiffany dan Hyun Joong bertatapan sejenak.
"Ah, mana Nickhun-oppa ya…" Tiffany melenggang pergi sambil mencari kekasihnya itu.
Hyun Joong menepuk tangannya, "Astaga, aku janji ingin mengajari nona Lee men-serve bola!" ucapnya sambil kabur.
"Yah! Yah! Kalian sengaja kabur kan!" seru Jaejoong sambil menatap tajam satu-satu temannya yang pergi. Sementara Yunho sudah datang mendekat padanya.
"Mereka kenapa pada pergi?" Tanya Yunho bingung.
"Karena kau datang!" sahut Jaejoong ketus dan berniat menjauh juga. Tapi keburu ditahan Yunho.
"Jangan pergi juga dong, gak kasihan padaku?"
"Aish!" Jaejoong kembali duduk.
"Kakimu masih sakit?"
"Biasa saja." Sahut Jaejoong singkat.
Hening.
Merasa terlalu hening, Jaejoong menoleh pada Yunho, matanya mendapati Yunho bersandar pada pohon sambil memejamkan mata.
"Hei, bola itu benar-benar menghantam kepalamu dengan keras ya? Sesakit itu? Kau yakin baik-baik saja?" terdengar nada khawatir terselip dalam ucapan Jaejoong.
Yunho membuka matanya, dia tersenyum, "Wah, apa ini? Kau benar-benar khawatir padaku ya? Senangnya!"
"Jangan terlalu percaya diri!" sanggah Jaejoong.
Yunho terkekeh pelan, "Cukup menyakitkan… bahkan masih terasa berdenyut." Sahutnya, "Ngomong-ngomong, banyak yang penasaran pada Heroine berjaket merah."
"Huaaah, ini buruk!" Jaejoong menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa yang buruk?" Tanya Yunho.
"Akan banyak hal yang terjadi, seperti yang biasanya ada dalam drama-drama di televisi!" jawab Jaejoong. "Bukannya apa-apa, hanya saja itu merepotkan. Mendengarkan ocehan mereka. Tidakkah kamu juga sebenarnya berpikir begitu?" lanjut Jaejoong.
"Kau mungkin benar, tapi kupikir itu karena mereka peduli. Itu tidak sepenuhnya buruk."
Jaejoong mendengarkan ucapan Yunho. "Kau benar-benar orang yang baik."
"Kau boleh berpikir begitu," sahut Yunho sambil tertawa pelan, membuat namja dengan doe eyes itu terkesima selama beberapa saat padanya. "Meskipun begitu, kenapa tidak membalas pernyataanku, Jaejoongie?"
Jaejoong mengalihkan pandangannya sambil mendengus pelan, tidak ingin menampakkan wajahnya yang tadi sempat memerah pada Yunho.
"A—aku belum terpikirkan hal seperti itu." Ucapnya, "Sudah jam istirahat!" Jaejoong mendadak bangkit, "Aku akan mengembalikan jaketmu nanti! Jangan lupa ke UKS kalau merasa masih sakit."
Yunho melihat kepergian namja itu sambil menumpu dagunya disalah satu lututnya. "Mungkin itu yang disebut dengan tsundere. Manis sekali… tapi kalau seperti ini, mendapatkan hatimu pasti susah…" gumamnya.
[Long Way]
Srettt…
Jaejoong yang masih setia dengan pakaian olahraga berwarna biru khas sekolahnya itu tampak bersandar di dekat lokernya, meskipun hampir semua teman-temannya sudah selesai berganti dengan seragam sekolah.
"Hyung, kenapa masih belum berganti?" Tanya Junsu heran.
"Sebentar lagi, aku masih ingin santai sebentar." Sahut Jaejoong, matanya melirik lokernya yang masih tertutup. Masih ada jaket Yunho disana, dan dia tidak ingin mengambil resiko.
Junsu mengangguk, "Baiklah, aku duluan ke kantin ya, hyung!" Junsu melambaikan tangannya.
Jaejoong mengangguk, "Ne."
Namja itu kemudian melirik jam dinding, "Kemana orang itu? Apa dia tidak berniat ganti baju? Atau dia ke UKS?" gerutunya sambil membuka lokernya, berniat melepas baju olahraganya.
"Oh, Jaejoongie. Kau masih disini?" Tanya Yunho yang tiba-tiba masuk dan mengagetkan Jaejoong.
Panjang umur.
"K—kau mengagetkanku!" seru Jaejoong sambil menetralkan detak jantungnya.
"Hm, wae? Jantungmu berdetak kencang karena kemunculanku? Sepertinya kau sudah jatuh cinta padaku, haha." Canda Yunho.
"Itu karena aku kaget!" bantah Jaejoong.
Yunho mendekatkan wajahnya pada Jaejoong, "Ya ya ya, aku tahu. Aku kan hanya bercanda." Yunho masih terkekeh pelan.
Jaejoong mendengus pelan, lalu memalingkan wajahnya. Sesaat kemudian dia tersentak, "Oh ya, aku ingin mengembalikan jaketmu." Ucapnya sambil membuka lokernya lalu mengambil jaket itu.
Dia merentangkan jaket itu, "Tenang saja, sudah ku cuci kok," lanjutnya lagi.
"Wah! Benarkah? Pantas terlihat seperti baru. Ini benar-benar jaket kesayanganku kau tahu. Aku mendapatkannya ketika menonton konser DBSK!" Sahut Yunho bangga sambil mencium bau jaketnya. Bau khas Jaejoong. Vanilla.
"Kau serius? DBSK? K—kau bercanda!" seru Jaejoong.
Yunho menggerakkan telunjuknya ke kiri dan kanan, "Tentu saja tidak, walaupun kuakui ini tampak seperti jaket biasa saja sih. Tetap saja aku mendapatkannya dari Hero."
"A—aku tidak percaya," sahut Jaejoong sambil memegang kembali jaket itu. "Aku tidak tahu kalau kau suka DBSK juga. Dan jadi fans yang seberuntung itu!"
"Aku suka Hero, dia indah sepertimu."
Plak!
Jaejoong menggeplak kepala Yunho, "A—apa maksudmu itu huh? Mau mengejekku?"
Yunho menggeleng sambil mengelus kepalanya.
Jaejoong mulai menerawang, "Kalau aku menyukai Max. Dia tinggi."
"Aku juga tinggi darimu."
"Keren."
"Aku juga keren."
"Pintar."
"Aku masuk peringkat 3 besar."
Jaejoong menatap Yunho. "…jangan membandingkan dirimu dengannya. Dia idol lho."
"Aku tahu, susah juga, idol hanya bisa dikagumi, tidak bisa dimiliki."
Jaejoong mengangguk-angguk tanda setuju. Beberapa saat kemudian dia sweatdrop. Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba saja pembicaraan mereka nyambung? Namja bermata doe itu kemudian mengalihkan padangannya pada jaket yang dipegangnya itu. "Dari Hero kah? Keren juga…"
Krieet…
Srett!
Dalam hitungan detik Yunho mengambil jaket itu dari tangan Jaejoong dan memasangkan jaket hoodie-nya pada namja itu, merengkuhnya dengan cepat sampai-sampai namja yang lebih pendek darinya itu tidak sempat mengatakan apapun.
"Seseorang datang." Bisik Yunho, membuat Jaejoong bungkam dan tenggelam dalam pelukannya.
Minho yang membuka pintu tempat ganti namja itu terdiam melihat Yunho memeluk seseorang berjaket merah di ruangan sepi itu.
"Maaf, bisa keluar dulu. Aku sedang ada hal penting disini," ucap Yunho sambil tersenyum pada namja bermarga Choi itu.
Refleks namja itu mengangguk, "Eh, maaf mengganggu waktumu sunbae!" Minho menunduk lalu kembali menutup pintu itu.
Dalam keheningan kedua namja itu diam.
Bugh!
Jaejoong memberikan bogem mentah pada Yunho, membuat namja tampan itu mengelus perutnya pelan.
"Kau bodoh ya, kenapa malah memakaikan jaket ini padaku, bukannya menyembunyikannya!" ucap Jaejoong setengah berbisik.
"Tapi lokerku di ujung sana… dan aku tidak tahu kode lokermu." Sahut Yunho polos.
"Kau kan bisa memberitahuku lebih cepat!" sergah Jaejoong masih dengan menahan suaranya.
"Maaf, itu refleks…" sahut Yunho lagi sambil nyengir.
"Kau mencari kesempatan, pabbo!" tuduh Jaejoong.
"Mau gimana lagi, jatuh cinta itu membuat orang melakukan banyak hal aneh." Ucap Yunho sambil memegang kedua bahu Jaejoong.
"B—berhenti menatapku seperti itu!" ucap Jaejoong ketus, matanya melirik kearah lain ketika mendapati Yunho menatapnya dengan intens.
"Jaejoongie," ucap Yunho setengah berbisik seraya berjalan maju mendekat pada Jaejoong, namja yang merasa Yunho mendekat padanya itu mundur perlahan kearah pintu dengan gelagapan. Baiklah, situasi mulai membuat Jaejoong merasa terpojok.
"A—apa?"
"Kau tahu, wajahmu saat ini benar-benar tampak menggemaskan."
.
"Yunho-sunbae berani membawa pacarnya ke dalam ruang ganti namja. Apa yang mereka lakukan ya," pikiran Minho mulai melayang tidak jelas. Tampak namja itu masih berjalan pelan di koridor.
"Minho, apa kau melihat Yunho? Aku harus membahas masalah klub dengannya. " Tanya Heechul sang manajer klub mereka.
"Eh, i—tu, Yunho-sunbae sepertinya sedang sibuk dengan pacarnya." Sahut Minho sambil menunjuk pintu ruang ganti.
"Huh?" Heechul mengerutkan alisnya, "Pacar? Yunho punya pacar?"
"Aku tadi melihatnya memeluk seseorang berjaket merah di ruang ganti." Ucap Minho.
"Apaah? Kenapa kau baru bilang? Ayo kita lihat siapa Heroine berjaket merah itu!" seru Junsu tiba-tiba dengan semangat.
"Hah? Jadi Heroine itu anak sekolah kita juga ya ternyata?" pekik Tiffany.
"Ayo segera kesana!" mereka segera menuju ruang ganti dengan kecepatan penuh.
"Wah, aku harus mengabari Jaejoong-hyung." Ucap Yoochun sambil mengirim pesan pada Jaejoong. Meninggalkan Minho yang hanya memasang wajah bingung.
"Kenapa mereka?"
.
"Stop!" seru Jaejoong sambil mengarahkan kedua tangannya ke depan. Menahan Yunho yang berjalan mendekat padanya.
"A—ada pesan masuk." Ucap Jaejoong sambil merogoh ponsel yang bergetar di kantong celana trainingnya.
From: Yoochun
Hei Hyung, cepat pergi ke ruang ganti. Disana ada Heroine berduaan dengan Yunho-hyung! Kami sedang menuju sana, ayo kau juga! Kita ungkap siapa Heroine itu!
Jaejoong langsung shock, lalu mengunci pintu ruang ganti yang berada tidak jauh darinya.
"Ada apa?" Tanya Yunho heran.
Tok! Tok! Tok!
"Dikunci."
"Yunho, kami tahu kau di dalam sana dengan Heroine berjaket merah bukan? Ayo buka pintunya!"
"Kami ingin berkenalan dengannya oppa!"
"Buka pintunya!"
"Dia tidak akan membuka pintu sepertinya."
"Cepat pinjam kunci duplikat!"
Hening…
"Baiklah, aku tahu yang terjadi…" gumam Yunho sambil melihat wajah memelas Jaejoong.
Jaejoong tampak berniat melepas jaket yang dipakainya.
"Kalau kau melepasnya, akan langsung ketahuan kalau kau adalah Heroine. Ruangan ini paling ujung, kalau ingin kesini harus melewati koridor kiri. Sedangkan Minho baru saja datang ke sini. Ah, pasti dia yang bilang pada yang lain." Gumam Yunho pelan. "…Kalau aku diam disini, mungkin aku akan dianiaya mereka juga," lanjut Yunho sambil bergidik pelan.
"Apa maksudmu? Lalu aku harus bagaimana?" panik Jaejoong tidak mengerti dengan ucapan Yunho.
"Maksudku adalah tidak mungkin tiba-tiba Heroine menghilang dan kau tiba-tiba muncul disini sedangkan jalan kesini hanya ada satu yaitu koridor. Dan Minho baru saja berjalan di koridor itu. " jelas Yunho. Matanya kemudian melirik kearah jendela, "Pakai jaketnya dengan benar. Bersyukurlah kita tidak berada di lantai dua."
.
"Aku… hah… mendapatkan kuncinya!"
"Bagus, ayo kita buka pintunya!"
"Kuncinya bukan yang ini! Yang ini juga bukan… yang ini… ah ini dia!"
"Tertangkap kalian!"
Siiiing…
Yang didapati oleh mereka hanya ruang ganti yang kosong dan jendela yang terbuka. Tampak tirai jendela itu tertiup angin.
Heechul segera berlari menuju jendela dan melihat sekelebat bayangan Yunho berlari dengan menggendong seseorang dengan jaket merah.
"Mereka kabur…"
.
Ini de javu.
Digendong seorang namja bermata musang dengan menggunakan hoodie merah dengan berlari.
"Kyaaa, bukankah itu Yunho oppa? Kenapa dia lari sambil menggendong seseorang?"
"Mana? Mana?"
"Masih belum aman, sembunyikan wajahmu sebentar lagi ya." bisik Yunho pada Jaejoong sambil berlari menuju tembok belakang sekolah.
Dengan napas tersengal Yunho menurunkan Jaejoong. Tangannya menunjuk pohon yang ada di samping tembok.
"Kau bisa memanjatkan? Lihat apa yang kulakukan dan ikuti." Perintah Yunho sambil naik dahan pohon itu.
"Kita akan bolos?" Tanya Jaejoong panik.
"Karena kau memilih tidak ingin ketahuan." Sahut Yunho sambil mengulurkan tangannya.
Jaejoong menarik napas lalu menerima uluran tangan Yunho untuk naik ke dahan pohon yang paling dekat dengan tanah. Tampak Yunho sudah berhasil menapakkan kakinya di atas tembok gerbang belakang sekolah.
Hup!
Namja itu melompat dari atas tembok dan mendarat di tanah dengan selamat. Membuat Jaejoong menganga melihat namja yang telah seenaknya mendarat dengan mudah dari jarak setinggi itu. Sementara dirinya masih terdiam di atas tembok karena tidak berani melompat. Serius, kakinya masih sakit lho. Kalau dia melompat dari sana, kakinya apa kabar?
Yunho anak klub olahraga, jadi bisa melakukan hal seperti itu sangat dapat dimaklumi. Nah, kalau Jaejoong kan anak klub seni. Apa kau yakin dia bisa melompat dengan selamat?
"Jangan takut, aku akan menangkapmu!" seru Yunho sambil merentangkan kedua tangannya.
"Terlalu tinggi. Kau ingin membuat kakiku patah?" ujar Jaejoong dengan nada takut.
"Kau akan baik-baik saja," ucap Yunho.
Jaejoong meneguk ludahnya sambil melihat ke bawah. Diam masih terdiam di atas tembok tanpa bergerak sedikitpun. Mungkin lebih baik dia kembali turun saja lewat dahan pohon.
"Wah! Kau!"
Deg!
"Hei, kau Heroine itu kan?" terdengar suara dari belakang. Jaejoong terdiam tanpa berani menoleh. Menoleh sama dengan bunuh diri. Tapi Jaejoong bisa dengan jelas mengenali suara orang itu.
Go Ara, anak klub drama.
TBC
A/N: tanpa banyak berpikir aku malah melanjutkan fanfic ini. Padahal… padahal…
Mau gimana ya, dapat inspirasi sih.
Thanks to:
RedsXiah | gwansim84 |Vic89|TitaniumSP | FitChan | Rie Yunjaeyoosumin | irengiovanny | JungJaemma | niaretha | AuroGo | han eunji | Guest | vampireyunjae | Ai CassieEast | ifa . p . arunda | bearnya jung | Lawliet Jung | reader yang sudah bersedia mampir untuk membaca
Annyeong… ^^
Kapuas Timur — Kalimantan Tengah, 07/31/2014
-Kiriya-
Mind to Review?
