Something Important

Jung Jaehyun X Lee Taeyong

NCT Members

Threeshot

NCT belong to GOD and SM entertainment

Cerita hanya delusi penulis~


Bagi Jaehyun, hanya medali emas yang terpenting dalam hidupnya.


Part 2


"Ada apa CEO-nim memanggilku?" Johnny tersenyum ketika suara rendah menyejukkan itu memasuki jalur pendengarannya. Dia membalikkan kursinya, tangannya terangkat membuat gestur untuk Taeyong yang kini tengah berdiri didepan pintu yang terbuka agar mendekat padanya.

Taeyong tersenyum perlahan sebelum akhirnya berjalan lalu duduk dimeja yang tepat berada didepan Johnny. Johnny hanya perlu menolehkan badannya kesamping sehingga kini mereka duduk berhadapannya.

Taeyong menarik dasi Johnny yang sedikit berantakan. "Kau sepertinya bekerja keras beberapa hari ini, Youngho-ssi."

Johnny menganggukkan kepalanya, senyum terpatri, tangannya terangkat mengusak surai kehitaman itu dengan lembut.

"Jaehyun ketuk dulu pin-."

Johnny menoleh ketika suara seseorang dan pintu yang terbuka kini berada pada jalur pendengarannya. Disana Jaehyun dan Doyoung membatu, menatap dirinya dan Taeyong dengan tatapan terkejut dan terkhusus untuk Jaehyun, terluka.

Johnny sontak menjauhkan tangan dan dia berdiri tersenyum dengan canggung, Taeyong berdiri, memberikan jarak canggung.

"CEO-nim, saya permisi." Taeyong menundukkan kepalanya canggung, dia sempat melirik Jaehyun dengan ekor matanya, marah, tercetak jelas diwajah.


Sepanjang jalan, Jaehyun terus saja menggerutu. Sialnya, Doyoung tak membawa earphone miliknya atau dia juga tak sempat membelinya dijalan, yang menyebabkan kini dia terus mendengar gerutuan menyebalkan dari Jaehyun walaupun kini mereka telah sampai di lobi perusahan Johnny, suaranya bahkan berhasil mengundang tatapan dari semua karyawan.

"Ada urusan apa lagi sih dia memanggilku lagi ke kantornya?" Gerutu Jaehyun dengan kesal, dia meletakkan tangannya di kantong celananya.

"Kau adalah modelnya Jaehyun. Tentunya itu keputusan dia untuk bertemu denganmu." Dirinya terlihat lelah dan tak berusaha mendebat Jaehyun lebih jauh.

"Tapi aku sungguh tak ingin bertemu dengannya." Gerutu Jaehyun perlahan.

"Kau bicara apa tadi?" Doyoung mendongak, menatap Jaehyun penuh tanya.

"Aku bilang kita sudah sampai." Katanya, tangannya kini telah menyentuh kenop pintu ruang CEO.

"Jaehyun ketuk dulu pin-."

Terlambat semua dan tak ada yang bisa dia sesali sekarang. Ada sebuah jarum yang kini perlahan masuk ke saraf jantungnya.

Apa ini semua karma untuknya?

"Sudah kubilang ketuk pintu dulu." Lirih Doyoung tepat di telinga Jaehyun, merasa bersaah dengan apa yang


Cedera Jung Jaehyun memburuk, Kim Jungkook menjadi harapan satu-satunya Korea Selatan di Asian Games.

Mnh***** : Jung Jaehyun siapa? Kim Jungkook fighting

Bghj***** : Kudengar Jaehyun sekarang menjadi model lol setidaknya dia bisa memanfaatkan dengan baik parasnya yang tampan itu.

Mkj***** : bukankah selama ini Korea hanya memiliki Kim Jungkook lol

nbh***** : Dia terkenal karena memiliki wajah yang tampan bukan karena prestasinya.

Nlk***** : Omong-omong tak ada yang mengharapkannya. Sebaiknya kau berhenti.


Liquid tak pernah bisa tersentuh itu mengalir disekitar tubuhnya, tak bisa mendinginkan suhu otaknya yang kini menanjak naik. Membuka jendela apartemennya sepertinya adalah keputusan yang salah, bukannya mendinginkan, dirinya malah merasa suhu tubuhnya yang menurun dan mungkin-

"Hatchiii." –Dia akan terkena flu.

Atau ada satu lagi cara untuk mendinginkan suhu otaknya. Tangan Jaehyun yang menggenggam ponsel kini terangkat, bersiap mengantarkan persegi panjang pintar itu ke dinding putih didepannya, tetapi-

"Itu tak akan memperbaiki keadaan, Jung Jaehyun-ssi." Jaehyun menurunkan tangannya, dia meletakkan secara tak elit di meja dihadapannya. Tanpa beranjak dari sofa yang didudukinya inipun, Jaehyun tahu siapa yang telah lancang masuk ke apartemennya, Kim Doyoung.

"Lalu apa yang bisa memperbaiki keadaanku sekarang, hyung? Menjadi model dan mendapat cercaan." Jaehyun bangkit dari duduknya, membuat tangan Doyoung kini menyentuh lengan Jaehyun, menahannya.

"Mau kemana?"

"Yang pasti bukan ke Taereung, hyung." Jawab Jaehyun ketus, dia menggerakkan lengannya kasar, membuat tangan Doyoung kini tak lagi memegang lengannya.


Ketika dia berbalik. "AHHHHH." Jaehyun hanya tersenyum bodoh ketika Taeyong terkejut akan kehadirannya. Sebenarnya dia tidak berniat untuk mengejutkan Taeyong tetapi melihat wajah Taeyong tiba-tiba saja hormon kesenangan ditubuhnya naik secara tajam.

"Aku mengagetkanmu, ya." Sudut bibir kirinya terangkat.

"Tidak." Taeyong kembali berbalik. Dirinya kini kembali sibuk dengan kameranya. Pemandangan padang ilalang menurutnya lebih menarik daripada Jung Jaehyun.

"Jung-ssi, pergilah dari sini, kau menggangguku." Jaehyun terlihat kesal. Ayolah dia bahkan belum mengeluarkan kata-kata –hanya memandang dan Taeyong sudah mengusirnya.

"Tidak mau. Aku akan disini menemanimu, hyung. Aku akan menjagamu." Katanya dengan senyum menggoda diwajah tampan dan sialnya Taeyong sedang memandangnya.

"Maaf Jung-ssi, aku masih bisa menjaga diriku sendir-AHHHH." Salahnya memang terus memandang Jaehyun, kaki kirinya masuk kedalam salah satu lubang kecil. Untung saja, Jaehyun dengan sigap menahan tubuh Taeyong sehingga tubuh kecilnya itu tidak jatuh sepenuhnya.

"Kau masih saja clumsy seperti dulu, hyung." Jaehyun menggerling nakal, ketika menyadari keberadaan tangan Jaehyun yang kini tengah memeluknya, Taeyong mendorong dengan keras. "Berapa banyak luka yang kau buat setelah berjauhan dariku, hyung?"

"Hanya satu dan itu sulit disembuhkan." Bisiknya walau Jaehyun masih bisa mendengarnya. Senyum itu mendadak menghilang dari bias wajahnya. Taeyong berbalik –tak berniat memandang Jaehyun, dia lalu kembali berjalan.

Itu karena aku, lirih Jaehyun dalam hati. Kaki-kakinya kini juga bergerak mengikuti langkah kaki kecil Taeyong.

"Bisa tidak jangan mengikutiku." Taeyong berbalik, nada suaranya kini meninggi, risih dengan Jaehyun yang terus mengikutinya.

"Aku tidak mau, hyung. Sudah kuputuskan aku akan mengikutimu terus hari ini." Taeyong menggeram kesal, tangannya yang memegang kamera terangkat keatas bersiap memukul kepala Jaehyun dengan kameranya.

"Tidak. Tidak. Kameraku terlalu berharga untuk memukul kepala bodohmu itu." Senyum Jaehyun perlahan memudar, matanya terlihat menggelap, tangannya yang berada disamping tubuh mengepal perlahan.

"Jadi kau juga menganggapku, hanya mempunyai wajah bagus saja, hyung." Taeyong merinding, selama mengenal Jaehyun, dia sama sekali tak pernah melihat Jaehyun seperti ini.

Taeyong menelan ludahnya. "Ka-Kau darimana tahu aku disini?" Katanya berusaha mengalihkan pembicaraan.

Perlahan mata itu kembali seperti semula, seorang anak kecil yang lucu. "Dari teman kantormu, hyung. Siapa namanya? Err- Yuta. Dia bilang kau sedang hunting foto disini."

"Awas kau Yuta." Jaehyun terkekeh.

Dasar mood swing, gerutu Taeyong.

"Sudahlah, hyung. Lagipula Yuta-ssi itu berniat baik karena ingin aku menjagamu." Katanya sambil mengimbangi langkah kaki kecil Taeyong, walau sebenarnya tidak terlalu sulit.

"Menjaga apanya? Kalau menganggu sih iya." Jawab Taeyong dengan ketus.

"Kau masih saja ketus seperti dulu, hyung." Jaehyun menggerling nakal, sebuah ide kini muncul di otaknya. "Apa punggungmu masih sakit juga seperti dulu?" Ujarnya sambil mengelus perlahan punggung Taeyong.

Taeyong merinding. Dia berbalik lalu segera mendaratkan pukulan kuat –dia sebelumnya telah mengalungkan kamera ke lehernya, ke bahu Jaehyun tanpa ampun. "Jangan sembarangan menyentuhku. Dasar bajingan gila. Tak tahu diri. Tak punya hati. Playboy sialan. Mati saja kau sana."

Jaehyun meringis perlahan. Nyeri terasa dibahu, yang sesungguhnya bukan karena pukulan Taeyong tetapi karena-. Jaehyun menangkap kedua tangan Taeyong, menahannya diudara. "Aku memang lebih senang kau yang seperti ini, hyung. Tetapi jangan dipukul lagi, bahuku sak- AHHHH."

Jaehyun sontak melepaskan pegangannya pada tangan Taeyong, keringat kini menggunung di dahinya, walau mulutnya kini tak lagi mengeluarkan ringisan tapi dapat dilihat bahwa Jaehyun sangat kesakitan sekarang.

Apa ini salahnya."Jaehyun kau tak apa?" Raut wajah melembut, tangannya bergerak menyentuh kedua bahu Jaehyun.

"Bahuku sedikit sakit, hyung." Taeyong menggigit bibir bawahnya, dia tidak mengira pukulannya bisa sekuat itu, mengingat Jaehyun adalah seorang atlet.

"Apa karena aku?" Jaehyun menggeleng perlahan, sebenarnya dia ingin tertawa melihat wajah Taeyong. Tapi bahunya sangat sakit sekali.

"Hyung, antarkan aku ke rumah sakit." Taeyong mengangguk, lalu membantu Jaehyun untuk berjalan menuju mobilnya.


"Mengapa bahumu bisa sakit lagi?" Kata namja berperawakan tinggi dan memakai baju panjang berwarna putih itu, dia lalu mendekatkan jarum suntik yang telah dimasukkan sebuah painkiller ke patahan lengan Jaehyun.

Taeyong menyeringit ngeri ketika jarum itu masuk ke kulit Jaehyun. "Sudah kubilang jangan terlalu banyak menggunakan bahumu, bukan? Untung saja ini tak menganggumu pemulihan cederamu. Oh iya, seperti biasa jangan telat." Jaehyun mengangguk perlahan, dokter itu tersenyum perlahan kearah Taeyong dan meninggalkan ruangan. Taeyong bergerak mendekati Jaehyun. Wajahnya kini penuh dengan pertanyaan.

"Kau cedera?" Taeyong sebenarnya ingin menyentuh pundak Taeyong tetapi dia sedikit takut.

"Kau tidak pernah membaca berita, hyung. Uh? Pekerjaanmu kan hanya tidur dirumah dan main games." Taeyong kesal, dia ingin sekali memukul kepala Jaehyun jika saja dia tidak dalam keadaan seperti ini.

"Kau sepertinya sudah sehat. Sebaiknya aku pulang." Taeyong bersiap berbalik.

"Kau jahat sekali, hyung. Semua ini kan juga gara-gara kau." Jaehyun menyeringai ketika Taeyong kembali membalikkan badannya.


"Hyung, ambilkan aku minum."

"Hyung, aku lapar. Buatkan aku makanan."

"Hyung."

"Hyung."

"Hyung."

AHHHHHH. Kepala Taeyong ingin pecah. Dia dan Jaehyun kini tengah berada di apartemen Jaehyun dan yang lebih mengesalkan, Jaehyun –bodoh, itu menjadikannya pembantu. Menyuruh ini dan itu, ketika Taeyong menolak dia akan mengungkit-ungkit tentang cederanya. Padahal sekarang sudah malam dan Taeyong ingin pulang.

Menyebalkan!

Taeyong meletakkan remote TV dengan kesal diatas meja. Memandang Jaehyun dengan kesal.

"Apa?" Jaehyun bertanya dengan polos membuat Taeyong muak. "Siaran televisi memang tak ada yang bagus." Taeyong menghela napas, dia masih enggan untuk duduk di sofa disebelah Jaehyun. "Hyung, bolehkah aku memelukmu?" Jaehyun tak perlu jawaban, dia menarik tubuh kecil Taeyong kedalam dekapan hangatnya.

"Jaehyun." Taeyong memperingatkan dan mendorong pelan tubuh Jaehyun.

"Lima menit saja. Aku mohon." Jaehyun kembali memperat dekapannya ketika Taeyong kini tak lagi memberontak.

"Mereka jahat sekali, hyung." Dia meletakkan kepalanya di bahu Taeyong, sedikit memiringkan kepalanya, sehingga leher putih itu kini tepat didepan matanya. "Aku sudah melakukan segala hal yang aku punya untuk mendapatkan medali emas itu, walaupun tak berhasil, tetapi bukan berarti mereka bisa mencercaku seperti itu. Tak kasihan kah mereka dengan keadaanku ini."

Taeyong sebenarnya tak tahu apa yang dibicarakan Jaehyun, tetapi dia mengeratkan pelukan dan memberikan usapan perlahan pada punggung Jaehyun.

"Setelah apa yang kulalui dan kukorbankan, mereka malah menyuruhku berhenti." Airmata itu perlahan membasahi pipinya dan menyentuh kemeja biru milik Taeyong.

"Ak-." Dia menggigit bibir bawahnya, lalu menghela napas perlahan. "Aku bahkan mengorbankanmu, hyung."

Jaehyun menunggu. Menunggu reaksi Taeyong tetapi lima menit berselang, Taeyong hanya diam, terdengar suara napasnya yang makin teratur dan tangannya yang memeluk Jaehyun perlahan turun. Jaehyun menjauhkan tubuhnya, tangannya masih memeluk Taeyong erat.

"Dasar. Baru mau romantis-romantisan, dia malah tidur." Jaehyun tersenyum perlahan.


Taeyong meregangkan otot-otot tubuhnya perlahan. Dia sama sekali tidak mengira bisa tidur seenak ini. Dia membuka matanya perlahan,

"YAAKKKK, apa yang kau lakukan dikamarku?" Taeyong sontak menendang tubuh besar Jaehyun yang tidur disamping. Jaehyun yang sebenarnya masih tidur nyenyak kini terbangun, walau dia masih berada ditempat karena dorongan Taeyong itu tidak terlalu berpengaruh padanya.

"Kamarmu?" Jaehyun menggeser tubuhnya, dia menekan setiap katanya, membuat Taeyong kini tersadar.

Kamar dengan konsep laki-laki sekali itu bukan miliknya, poster pemain bola basket, medali perak dan poster perenang, ini bukan kamarnya.

"Maafkan aku." Lirih Taeyong. "Lagipula mengapa aku bisa disini?" Dia kembali meninggikan suaranya.

"Kau tertidur di pelukanku semalam, kau tak ingat?" Taeyong berdehem perlahan.

"Lalu mengapa kau membawaku ke kamar-." Mata Taeyong membola. "Kau pasti melakukan sesuatu padaku, bukan?" Taeyong menarik selimut milik Jaehyun untuk menutupi tubuhnya. "KA-Kau. Dasar mesum." Taeyong melancarkan tendangannya pada tubuh Jaehyun.

Jaehyun bergerak dengan cepat menindih Taeyong. Kedua tangannya menahan tangan Taeyong disamping kedua sisi kepalanya.

"Jaehyun mengodaku, hyung. Aku sudah menahannya sejak semalam. Tapi kau malah mengungkitnya." Jaehyun menggerling nakal pada Taeyong yang berada di bawahnya.

"Lepaskan aku, Jaehyun. Lepaskan aku." Taeyong terus memberontak.

"Hyung, aku memang sedang cedera tapi kekuatanku lebih besar daripada kau." Jaehyun tersenyum menggoda, hyungnya ini benar-benar.

Perlahan Jaehyun mendekatkan kepalanya, mendekati bibir merah itu, yang seolah mengundang. Taeyong masih berusaha memberontak, walau itu sia-sia. Sialnya, ketika Jaehyun hampir siap melahap bibir itu, ponsel sialan milik Taeyong berdering, menganggu semuanya.

Taeyong berhasil melepaskan genggaman Jaehyun. Dia mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas –entah sejak kapan, dia berdeham perlahan, sebelum mengangkat.

"Hallo Johnny."

Mood Jaehyun benar-benar hilang sekarang.


TBC


a/n :

saya kembali dengan agak chessy. Salahkan Taeyong di MV Cure dan penampilan baru bangun tidur Taeyong di FB Live kemarin. Saya kan jadi berfikir yang tidak-tidak, heol, Jaehyun gimana kau bisa survive setiap hari ngeliatin Taeyong. aku aja udah kayak orang gila, senyum-senyum mulu

btw makasih udah mau follow, fav, dan koment. Aku cinta kalian semua Jaeyong shipper *tebar kiss Jaehyun*