*DON'T LEAVE ME * PART 2

.

.

CAST:

KIM JONGIN

OH SEHUN

PARK CHANYEOL

HWANG ZI TAO

KIM MINSEOK

LUHAN

BYUN BAEKHYUN

.

.

.

.

.

.

Seorang namja tinggi berhanbok biru melangkah dengan santai memasuki sebuah rumah sederhana, langkahnya terhenti sejenak saat seorang namja bertubuh lebih pendek darinya berdiri di depannya dengan wajah angkuh dan tangan yang di lipat didada.

"dari mana saja kau park?"

"itu bukan urusanmu byun"

"aku pikir kau akan kabur, tadinya aku akan mengejarmu dan memenggal kepalamu jika benar itu yang terjadi"

Chanyeol namja tinggi itu hanya tersenyum meremehkan dan mendorong tubuh kecil baekhyun, baekhyun yang diperlakukan seperti itu hanya mendengus dan menatap tajam punggung chanyeol.

"kau tak berniat untuk kembali ke tempat itu kan park chanyeol?"

"diam lah aku malas mendengar suara mu "

"berengsek kau."

Baekhyun pergi meninggalkan chanyeol di ruangan itu bersama dengan keheningan.

"jongin,, kau baik baik saja ? tunggu lah sebentar lagi "

.

.

.

Jongin berjalan menuju kamar sehun, jongin membuka kamar itu dan masuk tanpa perlu meminta ijin pada pemilik kamar tersebut, jongin bisa melihat punggung lebar sehun yang kini sedang duduk di lantai menatap langit malam.

Jongin melangkahkan kakinya mendekati sehun dan duduk tepat di belakang sehun, jongin meletakkan pedangnya di samping tubuhnya dan menempelkan pipinya di punggung sehun.

"ada apa? Apa ada masalah ?" Tanya sehun tanpa merubah posisi duduknya.

"tak ada apa apa " jongin memejamkan matanya.

"jangan mencoba membohongiku, aku tau pasti terjadi sesuatu kan"

"jika iya apa yang akan kau lakukan ?"

"jika kau tak bisa mengatasinya aku akan turun tangan "

"tapi aku yakin kau pun tak akan bisa mengatasinya sama sepertiku "

"jongin "

"hem "

Hanya deheman yang jongin keluarkan dan setelahnya Hening sejenak , tak ada satupun di antara mereka yang mau membuka suara, sampai ahirnya sehun menghelan nafas panjang, dan hal tersebut membuat jongin membuka matanya dan memandang langit langit kamar sehun.

"sehun tidakkah kau merindukannya ?"

"siapa ?"

"kau jelas tau siapa yang aku maksud"

"aku tak tau dan aku tak mau tau."

Sehun menegakkan tubuhnya membuat jongin tersentak kaget, jongin tau sehun pasti mengerti siapa yang di maksud jongin namun sehun mencoba menyangkalnya. Sehun beranjak dari duduknya menuju tempat tidurnya.

"jika aku. aku sangat merindukannya"

Kalimat yang terlontar dari bibir tebal jongin sukses membuat tubuh sehun membeku di tempat. Sehun memejamkan matanya dan jongin hanya menatap sehun menunggu kalimat yang akan muncul dari bibir tipis sehun.

"jika begitu pergilah bersamanya dan tinggalkan aku di sini, itu akan jauh lebih baik untuk kita "

Sehun segera membaringkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya dengan selimbut, jongin menegakkan tubuhnya dan mulai mendekati sehun lalu membaringkan tubuhnya di samping sehun.

Sehun melirik jongin dengan ekor matanya.

"aku pikir kau akan pergi bersamanaya."

"aku tak tau dia di mana, jadi jika aku memilih pergi bersamanya aku akan pergi ke mana?"

"jadi kau hanya menganggap ku sebagai alternative mu ?"

"tidak sehun, "

"lalu apa? "

"kau sama berharganya dengan dirinya, "

"jadi kau tak dapat memilih?"

Sehun memiringkan tubuhnya hingga kini sehun dapat melihat wajah jongin yang juga sedang menatapnya.

"jongin"

"hem "

"jika aku membuat sebuah pilihan. Tetap di sini di sisiku atau pergi bersamanya "

"pertanyaan bodoh macamapa itu? Tentu saja aku lebih memilih uhuk…uhukk.."

Jongin segera mengubah posisi nya menjadi memunggungin sehun. sehun menghelan kan nafasnya selalu seperti ini pikirnya, sehun melihat punggung jongin yang bergetar setelahnya sehun segera memeluk jongin dari belakang.

"kau baik baik saja jongin "

Bisik sehun tepat di telinga jongin.

UHUK UHUK

Tak ada jawaban yang terlontar hanya suara batuk tertahan jongin yang menjawab pertanyaan sehun. sehun mempererat peluannya dan menempelkan dahinya di kepala jongin, sedangkan jongin sendiri sedari tadi mencoba untuk meredam suara batuknya.

.

.

.

.

Seorang namja manis berhanbok merah melangkahkan kakinya menuju markas pasukan khusus, di tangannya terdapat kain kecil berwarna kuning, namja tersebut melangkah melewati sebuah kamar hingga langkahnya terhenti saat telinganya mendengar sesuatu.

UHUK UHUK

UHUK

UHUK

Namja tersebut menatap ruangan yang gelap tersebut, matanya menatap khawatir tangannya meremas kain tersebut.

"jongin "

Gumamnya dengan suara yang sangat lemah. Matanya menatap langit gelap tanpa bintang tersebut dan tangannya meremas kain yang sedari tadi dia pegang, kakinya melangkah ke suatu tempat dengan langkah yang perlahan, dan saat tangan putihnya membuka pintu kayu tersebut di sana di dalam sana ada seorang namja berhanbok ungu sedang berdiri memunggungi nya.

"apa yang sedang kau lakukan di sini?"

"tentu saja mennggu mu datang ke pelukanku"

Minseok memutar bola matanya bosan, lagi lagi namja itu sedang merayunya dengan kata kata yang menurut minseok menjijikan.

"berhenti berkata seperti itu, kau ingin membuat aku mengeluarkan kembali isi perutku karna kata kata menjijikan mu itu luhan "

Namja yang di panggil luhan hanya tersenyum lebar dan memperlihatkan senyum menawannya yang bisa membuat semua orang jatuhcinta kecuali minseok tentunya, minseok hanya mendengus kasar dan berjalan melewati luhan, dan memulai kegiatan meracik ramuan yang menjadi rutinitasnya setiap malam.

Luhan melangkah dan berdiri di samping minseok, minseok hanya melirik luhan dengan ekor matanya.

"seokie"

"hemm"

" kau sudah tau ?"

"tentang apa ?"

"tentang pemberontakan terhadap raja ?"

"aku sedang menyelidikinya "

"seokie "

"apa?"

"birkan aku yang menggantikanmu besok malam "

Minseok menatap tajam luhan dan menarik tubuhnya lalu melemparnya menjauh dari ruangann tersebut.

"sepertinya kau benar benar melupakan jika aku ini seorang namja, luhan, berhenti bersikap kekanakan dan biarkan aku bekerja dengan tenang"

Minseok menutup rapat ruangan tersebut dan menyisakan helaan nafas dari luhan.

.

.

.

.

Matahari mulai menyinari dua insan yang kini sedang menikmati kegiatan minum teh di pagi hari, dua namja yang saling berhadapan yang hanya di batasi oleh meja kecil, namja manis yang duduk di hadapan namja tampan terus memperlihatkan senyum manisnya berbanding terbalik dengan namja tampan yang duduk di hadapannya yang hanya memperlihatkan wajah datarnya.

"sehun, kau tau sepertinya aku melupakan sesuatu tadi malam"

"apa yang kau lupakan jongin?"

Jongin memiringkan kepalanya dan berpikir dengan ekspresi yang serius namun terlihat sangat manis di mata sehun, hingga membuat sudut bibir sehun tertarik ke atas menampilkan senyum tampan yang jarang sekali terlihat.

"ah aku tak tau apa yang aku lupakan aku benar benar bingung," ucapnya dengan senyum lebarnya

"jika tak bisa kau ingat makan jangan kau ingat, dan habiskan teh mu jangan kau sisakan "

"baiklah ketua "

Jongin meneguk tehnya dengan nikmat, setelah habis jongin menegakkan tubuhnya dan pergi dari hadapan sehun dengan kucing yang selalu ada di samping jongin.

.

.

.

Jongin memeluk kucing kesayangannya dengan senyum menghias wajahnya, suara langkah kaki terdengar begitu nyaring, jongin melangkahkan kakinya menuju halaman markas tersebut dan duduk di samping kolam ikan bersama dengan kucing kuning yang setia menemaninya, suasana damai dan tenang seperti ini lah yang jongin sukai, angin berhembus menerpa wajahnya, suara burung yang berkicau suara gemericik air kolam, membuat suasana hatinya tenang dan damai.

Namun kedamaian itu hanya berlangsung sepersekian detik hingga suara bantingan dan beberapa barang yang berjatuhan masuk ke gendang telinga jongin.

Jongin menegakkan tubuhnya dan hal selanjutnya, dia melihat seseorang bertubuh tinggi bermata panda dengan tergesa gesa melangkah dengan langkah lebar menghampirinya, saat mereka sudah saling berhadapan namja panda tersebut menarik kerah hanbok jongin hingga tubuh jongin tertarik lebih dekat kearah namja panda tersebut, jongin hanya tersenyum dan menunggu hal apa yang akan di lakukan oleh namja di hadapannya selanjutnya.

"kenama saja kau semalaman ini? Kau membuat aku berkeliaran tanpa arah apa kau tau ?"

Jongin mengerjapkan matanya dan memiringkan kepalanya, mencoba untuk memproses kata kata yang di ucapkan oleh tao namja panda tersebut.

PROKKK

Jongin menepuktangannya dan tersenyum manis di hadapan tao.

"ah pantas saja aku merasa ada yang terlupakan tadi malam ternyata itu kau heheheh"

Jongin tertawa renyah berbanding terbalik dengan tao yang kini sudah berwajah merah menahan amarahnya.

"BISA BISANYA KAU MELUPAKAN AKU KIM JONGINNNNNNNN"

Jongin menutup telinganya namun masih tetap tersenyum di hadapan tao membuat tao ingin sekali menghajar wajah manis namja di hadapannya, yah jika tao mampu melakukannya dia akan melakukannya tapi dia sadar dia tak akan mampu melakukannya, yang ada malah dia yang akan di tending oleh jongin.

.

.

.

.

"kau masih marah padaku tao?"

Namja yang berjalan di belakang jongin tak menjawap pertanyaan yang di lontarkan oleh jongin dan lebih memilih mengikuti langakah jongin dalam keheningan.

Jongin bukan tipe orang yang senang membujuk orang yang sedangngambek padanya dia lebh memilih diam saja membiarkannya.

BRAKKKKK

"YAKKKK KAU BERANI SEKALI MENENTANGKU"

Langkah jongin dan tao berhenti saat melihat keributan yang terjadi di depan mereka, di hadapan mereka ada seorang yeoja yang di kelilingi oleh 4 orang namja, dari posisi itu tao menyimpulkan jika yeoja tersebut sedang mengalami kesulitan, karna itulah tao melangkah berniat untuk mendekati mereka, namun langkah tao terhenti oleh tangan jongin yang menahan tangan tangan kirinya, tao menatap jongin meminta penjelasan, jongin tersenyum dengan wajah manisnya.

"jangan ikut campur itu bukan urusan kita "

"apa maksudmu bukan urusan kita, coba kau lihat mereka sedang melakukan kekerasan di hadapan kita, dan kau masih tersenyum, melihat hal itu"

"itu jauh lebih baik, tao, sudah ku peringatkan untuk tidak mencampuri urusan kecil seperti itu"

"urusan kecil kau bilang "

Tao menghentakkan tangan jongin dan melangkah mengikuti nalurinya , jongin menghelankan nafasnya dan tersenyum lebar.

"aku sudah memperingatinya,dasar bocah"

Jongin melipat tangannya dan menonton apa yang selanjutnya terjadi.

Baku hantam antara tao dan ke 4 namja itu tak bisa di hindari, tao tak menyerah dan terus menyerang mereka, hinga ahirnya salah satu dari 4 namja itu menjadikan yeoja yang akan di tolong tao sebagai sandara, dan perlahan lahan melangkah menjauh dari kerumunan , namja itu melangkah melewati jongin yang berdiri dengan melipat tanganya di dadanya, amarah tao memuncak saat jongin membiarkan saja namja itu pergi dan tetap tersenyum dengan tenang.

"kenapa kau hanya diam saja "

"sudah ku katakana itu bukan urusanku "

Jongin membalik badanya dan melangkah dengan tenang, berbeda dengan tao yang berlari mengejar namja tersebut.

Jongin menatap punggung tao yang berlari menjauh darinya.

"huhhhhh, bocah itu benar benar menyusahkanku "

Jongin kembali tersenyum dan membiarkan puggung tao menjauh darinya .

.

.

.

.

Tao terus mengejar namja tersebut hingga masuk ke sebuah hutan, namja itu berhenti melarikan diri dan menghempaskan yeoja tersebut ke tanah lalu berdiri di hadapan tao dengan pedang di tangannya, dan sialnya tao tak membawa senjata apapun, membuat tao menelan ludahnya kasar.

SREKKK

SREKK

SREKK

Tao beberapa kali menghindar dari serangan tersebut, hingga ahirnya tao terjatuh , ujung pedang namja tersebut berada tepat di hadapan tao.

"kau akan mati di sini "

Mata tao terpejam dan kata kata jongin kini terngiang di telinganya.

SYUTTTT

BRUKKKK

Mata tao kembali terbuka saat mendengar suara deguban yang keras dan pemandangan pertama yang tao lihat adalah tubuh namja tersebut yang tersungkur di hadapannya, dan saat tao melihat ke sisi lain, di sana berdiri kim jongin dengan sebuah ranting di tangannya yang dia ayunkan.

"kau benar benar bocah yang merepotkan "

Jongin tersenyum ke arah tao membuat tao berpikir jika jongin adalah malaikat yang di kirim tuhan untuknya.

Tao melihatnya melihat dengan mata kepalanya sendiri kemampuan ini jongin seperti seekor kucing yang sedang bermain main dengan mangsanya,dengan sebuah ranting kecil dia mampu melawan namja yang memegang sebuah pedang,senyum yang terukir dari wajahnya tak luntur, bahkan tak ada rasa cemas atau panic yang tertera di wajah manisnya. kini tao mengerti kenapa jongin menjadi seorang ketua.

.

.

.

Yeoja tersebut membungkuk berterimakasih pada tao dan jongin. Tao kembali membungkukkan badanya, senyum terlukis di wajah tao melihat punggung yeoja itu yang kini tegah menghilang, tao membalikkan badanya di sana di hadapannya tao melihat jongin membantu namja tersebut berdiri, senyum tao semakin lebar melihatnya, bukan hanya manis ternyata jongin juga baik hati bak malaikat, dia tak melukai namja tersebut dan kini dia menolongnya berdiri.

Tao melangkah mendekati jongin hingga beberapa langkah lagi dia sampai ke pada jongin, langkahnya terhenti saat senyum yang selalu jongin tunjukan menghilang dan aura mencekam dan memuat tubuh tao tak dapat bergerak yang keluar dari diri jongin.

SYATTTTTTTTT

Darah segar menempel tepat di pipi tao, membuatnya melebarkan mata pandanya dan kini tao bisa melihat jongin yang sedang menebas tubuh namja di hadapannya, darah segar terciprat di hanbok putih yang di gunakan jongin, jongin menghentikan kegiatannya saat dia tau namja di hadapannya sudah tak bernyawa, dia kembali memasukan pedangnya dan berbalik menghadap kea rah tao.

Tao bersumpah jika ini kali pertamanya merasakan ketakutan yang sangat luar biasa melihat jongin, namja manis yang biasa tersenyum kini berwajah datar, dan mata nya yang terlihat cerah kini berubah kelam dengan aura yang menyeramkan.

"kee….keee.. ? kenapa kau membunuhnhya?"

Jongin menatap tao tajam dan kembali tersenyum, aura yang semua muncul kini hilang dalam hitungan detik.

"ayo kita pulang "

Jongin berjaan melewati tao begitu saja dan berjalan meninggalkan tao yang masih tak beranjak dari tempatnya.

.

.

.

.

Jongin dan tao memasuki markas pasukan khusus, saat mereka kembali semua mata mengarah pada jongin yang berlumuran darah.

"kau kenapa jong?"

Minseok berjalan menghampiri jongin dan memeriksa keadaan jongin dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"apa di jalan kau diserang seseorang?"

"ani hyung . aku harus membersihkan diri aku permisi "

Jongin membungkukkan tubuhnya dan tersenyum lalu meninggalkan minseok dan luhan yang berada di samping minseok.

"apa yang terjadi pada anak itu?"

"apa dia melakukannya lagi ?" Tanya minseok entah pada siapa

"mungkin"

Luhan dan minseok menatap heran pada tao yang biasanya berisik kini hanya diam dan berjalan lunglai ke arah kamarnya.

"dan ada apa dengan anak panda itu" Tanya luhan dan menatap bertanya pada minseok

"dia mengalami tekanan mental mungkin. "

"mungkinkah dia melihat jongin ?"

Minseok hanya mengendikkan bahunya dan meninggalkan luhan yang menatap perihatin kearah kamar tao.

.

.

.

Jongin melangkah dengan senyum di wajahnya, namun langkahnya terhenti saat dia melihat hanbok hitam di depannya.

Jongin menatap wajah namja yang berdiri di depannya.

"hallo sehun bagaimana kabarmu hari ini?"

Sehun namja berhanbok hitam itu tak mengatakan apapun, tangannya terulur menyentuh pipi jongin yang terdapat bercak noda darah yang cukup banyak, sehun mengusap pipi jongin dan mengakibatkan darah yang ada di pipi jongin memudar meski tak hilang.

Jongin segera menyentuh tangan sehun dan membersihkan tangan sehun dengan tangannya, jongin menatap tangan putih sehun, lalu manatap wajag sehun .

"maaf aku bukannya membersihkan tanganmu. Aku malah semakin mengotorinya karna tanganku yang kotor "

Sehun menghelankan nafasnya dan menggenggam tangan jongin lalu menariknya ke luar dari markas, jongin hanya mengikuti kemana sehun melangkah, dan disini dia berada di sebuah sungai kecil.

Sehun menatap wajah jongin dan memegang bahunya.

"lihat ini baik baik kim jongin"

Sehun menarik tangan jongin dan melangkah memasuki sungai, rasa dingin terasa saat kaki jongin menyentuh aliran sungai tersebut, namun jongin tak menghiraukannya matanya terus tertuju pada punggung sehun yang lebar.

Sehun menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya hingga kini sehun dapat melihat wajah manis jongin, begitupun dengan jongin yang kini dapat melihat wajah tampan sehun.

Sehun tersenyum tipis, lalu yang sehun lakukan selanjutnya adalah berlutut di hadapan jongin dan mengambil air menggunakan tangannya, lalu sehun kembali menegakkan tubuhnya dan sehun menyiramkan air yang ia tampung di tangannya ke kepala jongin membuat jongin kaget dan menatap aneh sehun.

"apa yang kau lakukan sehun?" Tanya jongin dengan mengusap wajahnya.

Sehun tak berkata apapun sehun kembali melakukan kegiatan Tanya, hal itu tentu saja membuat jongin kesal dan mengembungkan pipinya.

"hentikan "

"diam lah"

Jongin memejamkan matanya menikmati aliran air yang mengalir di wajahnya.

GREBBBB

"aku bilang hentikan apa kau tak mendengarnya ?"

Jongin menahan tangan sehun dan meremasnya kuat, nada suaranya tertahan dan tatapan matanya yang kelam menatap sehun tajam.

"aku bilang kau hanya perlu menikmatinya"

"tapi aku tak suka "

Tangan sehun yang lain terangkat menyentuh pipi jongin dan mengusapnya secara perlahan.

"jika kau mengotori tangan ku saat aku ingin menghapus noda ini dari wajahmu, maka yang perlu aku lakukan hanya membersihkannya bersama sama jongin"

Jongin menatap mata sehun yang juga sedang menatapnya, mata kelamnya kini telah hilang entah ke mana, jongin melepaskan genggaman tangannya dari tangan sehun .

BRUKK

Tubuh jongin jatuh terduduk di dasar sungai dan sehun hanya dapat ikut terduduk di hadapan jongin.

Jongin mengangkat tangannya dan menatapnya, tangan yang masih terdapat sisa darah.

"tanganku, di tanganku sudah banyak nyawa yang ku ambil dengan tanganku ini, dan tanganku akan selalu kotor sehun."

Sehun menggenggam ke dua tangan jongin.

"tanganku jauh lebih kotor darimu, kau jauh lebih tahu itu dari pada siapapun di dunia ini"

"tapi sehun "

Jongin menengadahkan wajahnya menatap wajah sehun yang lebih tinggi darinya.

"kau tau, setiap kali aku melihat pedang, aku selalu ingin menggunakannya untuk membunuh seseorang, apa yang terjadi jika tadi tak ada namja itu? Aku bisa saja membunuh tao, sehun, aku bisa saja membunuhnya, yah aku pasti membunuhnya "

"tak akan,kau tak akan membunuhnya "

"tidak, aku pernah melakukannya dulu"

"itu dulu."

"aku pasti sama seperti dulu, aku pasti akan membunuh nya"

"buktinya tao masih pulang dengan selamat"

"tapi tidak dengannya , dia tak kembali "

"BERHENTI MEMBICARAKANNYA "

Nafas sehun memburu terlihat jelas jika kini sehun sedang emosi, dan yang jongin lakukan hanya, menundukkan kepalanya, sehun yang melihat itu segera mengontrol emosinya.

GERBBBBB

Sehun menarik jongin ke pelukannya dan mengusap punggungnya.

"kau tak akan pernah melakukannya lagi jongin, "

"benarkah "

"hem."

"kau bisa berjanji padaku "

"tentu saja "

Jongin membalas pelukan sehun, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sehun.

Suara angin dan suara aliran sungai begitu terdengar di telinga kedua insan yang kini sedang saling memberikan pelukan.

.

.

.

Seorang yeoja manis dan cantik, masuk dengan anggun ke sebuah rumah hiburan, dan saat yeoja itu masuk semua mata tertuju padanya, kecantikan yang luar biasa di tambah dengan kenggunan gerakannya membuat seluruh namja di sana menginginkannya dan membuat semua yeoja iri padanya.

Yeoja itu berjalan menuju lantai dua, saat sebelumnya dia bertanya pada pelayan di sana terlebih dahulu .

Langkahnya begitu lembut mengarah ke sebuah ruangan, tangan putihnya menggeser pintu dan memasukinya, saat yeoja itu melihat ruangan tersebut dia merasa heran karna tak adasiapapun di sana, yeoja itu menghelankan nafasnya dan duduk menunggu kedatangan sang pemilik ruanga.

SREKKKKK

Pintu itu terbuka dan menampilkan namja tampan dengan hambok biru langgtnya, berdiri angkuh di hadapan sang yeoja, dan hal pertama yang yeoja itu lakukan saat pertama kali melihat namja tampan itu iyalah tatapan membunuhnya.

"wahhh seokiee ku yang cantik ini semakin cantik saja jika kau menatap ku seperti itu, aku sampai lupa jika kau ini seorang namja jika kau berpenampilan seperti itu"

"lu..han . aku bersumpah akan membunuhmu saat kita kembali"

"lakukanlah"

"di mana tuan han?"

"di mana yah aku sendiri tak tau"

"luhan "

"di sebelah "

"kau benar benar berengsek"

Minseok yang menyamar sebagai yeoja itu, kini berdiri menegakkan tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar, namun sebelum sampai ke pintu tangannya sudah di hadang oleh luhan

"jangan pergi"

"lepaskan luhan, apa di saat seperti ini kau masih bisa bersikap kekanakan luhan "

"aku hanya tak rela saja orang lain melihat mu, kau adalah miliku minseok, kim minseok hanya milik luhan"

"ini bukan saatnya kita membicarakan kepemilikan, lepaskan aku sekarang."

"aku tak mau"

Minseok menghelankan nafasnya dan menatap luhan kearah matanya.

"baiklah aku tak akan pergi"

"nah itu baru minseokku"

Sudut bibir minseok terangkat dan menampilkan senyum iblisnya, membuat luhan berigidig ngeri.

"tapi kau yang menggantikan aku pergi "

"maksudmu"

"kau yang menyamar sebagai yeoja dan pergi ke sebelah untuk mencari informasi "

"kau gila? Aku berpakayan yeoja, sampai matipun aku tak akan pernah melakukannya"

"perlukah aku membunuhmu terlebih dahulu baru aku bisa pergi? Jangan kekanak kanakan di saat seperti ini luhan. Aku sedang menjalankan tugas kau mengerti?"

"baiklah baiklah pergi sana "

Minseok mendengus saat luhan cenberut dan ber ekspresi seperti bocah yang permennya di rebut, dan demi apapun minseok tak pernah perduli dengan sikap luhan yang satu itu.

"hati hati sayang "

Minseok benar benar bersumpah akan menghajar wajah luhan yang terlihat sok tampan dengan melambaikan tangannya ke arahnya.

"berengsek kau luhan"

Minseok menutup pintu itu kasar dan mendengus kesal.

.

.

.

.

Bulan sabit tengah berada di atas kepala menandakan waktu tentngah menunjukan tengah malam, mnseok mengetuk pintu kamar sehun, dan sang pemilik kamar segera mempersilahkan minseok untuk masuk, menseok segera membuka pintu kamar sehun dan hal selanjutnya yang minseok lihat adalah keberadaan jongin di kamar sehun,suf=dah menjadi pemandangan yang biasa.

"ada hal apa yang membuatmu segera datang ke mari"

"aku hanya ingin melaporkan informasi yang aku dapat"

"baiklah duduk lah"

Minseok masuk ke kamar sehun dan duduk di depan sehun, lalu jongin menegakkan tubuhnya dan memangku monggu kucing kuning yang tidur di pangkuannya.

"kau mau ke mana jongin?" Tanya minseok

"aku hanya ingin jalan jalan sebentar"

"kau tak ingin mendengar nya jongin" kini sehun yang bertanya

"tak mau, saat aku mendengarkan laporan aku selalu mengantuk dan itu benar benar menyebalkan"

Jongin segera melangkah meninggalkan kamar sehun.

"anak itu. Apa dia meminumnya dengan teratur"

"tentu saja, kau tak perlu khawatir hyung. "

"kelihatanya kau jauh lebih khawatir di banding aku"

"sudahlah apa yang ingin kau laporkan padaku "

Minseok melaporkan semua yang ia dapat kepada sehun.

Jongin melangkah mengelilingin markas dan dia melihat tao yang duduk di bawah pohon dengan pandangan matanya yang mengarah ke langit.

Jongin menghelankan nafasnya dan melangkah ke arah tao. Jongin duduk di samping tao.

"apa yang sedang kau lihat ?"

Suara jongin benar benar mengagetkan tao, terlebih pemilik suara itu adalah jongin.

"hari ini pasti hari yang sangat berat bagimu "

"ti..tidak "

"hahahaha kenapa kau begitu gugup?"

"ti..tidak"

"apa kau takut padaku sekarang?"

"tidak"

Jongin tersenyum dan mengusap bulu halus milik monggu.

"kau belum menenal tempat ini, kau hanya mendengar kami dari luar, kau tak tau kami ini sebenarnya apa."

"apa maksudmu?"

"kau melihatnya? Di dalam diriku ada iblis yang haus akan darah, bukan hanya aku tapi sehun, minseok hyung dan bahkan luhan hyung pun memilikinya. Saat kau datang kemari kau harusnya tau kau masuk ke sarang iblis. Kami membunuh tanpa pandang bulu, dan membunuh adalah kesenangan tersendiri untuk kami."

Jongin menatap wajah tao yang juga menatap wajahnya.

"kau harus kembali ber pikir untuk tetap berada di sini, saat kau memutuskan ingin tetap berada di sini kau akan menjadi iblis seperti kami"

Jongin beranjak berdiri dan mengusap kepala tao lalu tersenyum indah di depan tao.

"saat bulan purnama ikutlah bersama kami dan setelah itu kau bisa memutuskan sendiri ingin tetap berada di sini dan menjadi salah satu dari kami atau pergi dan menjalani hidupmu seperti semula, saat kau memutuskan berada di sini tak ada jalan untukmu kembali"

Jongin melangkahkan kakinya meninggalkan tao yang masih dalam kebingungan.

.

.

.

Hari itu ahirnya tiba hari di mana bulan purnama muncul, dan tao kini berada di belakang jongin yang sedang bersembunyi di balik pepohonan dan objek mereka hanya satu yaitu sehun yang berdiri samping sungai.

Tak lama berseling muncul seorang yeoja. Mata tao membulat saat melihat siapa yeoja tersebut, yeoja itu adalah yeoja yang tempo hari ia tolong, tao menatap kea rah jongin yang sedang menyandarkan tubuhnya di pepohonan. Jongin tersenyum kearah tao.

"aku sudah berkata sebelumnya untuk tidak ikut campurkan "

Jongin segera memberi kode untuk tao dan yang lainnya untuk lebih waspada.

Yeoja itu datang menghampiri sehun dan memeluk tangan sehun.

"tuan tangan anda begitu kekar"

"ada apa kau memintaku untuk datang kemari "

"aku memiliki informasi yang bagus"

"benarkah"

"tentu saja "

Yeoja itu menunjukan sikap genitnya, dia mengelus ngelus tangan sehun dan mencoba menggoda sehun.

GREBBBBBB

"AKHHHHH"

Sehun melepaskan tangannya dari pelukan yeoja tersebut dan mencekik leher yeoja itu.

"akhhh lee.. pas…kan"

"kau memang cantik namun sayang aku tak tertarik pada yeoja. Terlebih yeoja sepertimu, KELUARLAH"

Sehun berteriak dan menatap tajam ke arah belakang yeoja tersebut di sana ada sekitar 20 orang namja yang bersembunyi.

"yeoja berengsek"

SREEEEKKKKKK

Dengan sekali tebas sehun memenggal kepala yeoja tersebut dan berlari ke tempat para namja bersenjata itu bersembunyi, dan di lain sisi di tempat jongin berdiri, jongin sudah tersenyum dan memberi aba aba untuk yang lainnnya untuk keluar dari persembunyian mereka.

Jongin memandang tao yang terlihat sangat shok.

"inilah kami pasukan khusus, atau iblis yang diciptaka oleh pemerintahan "

Setelah berkata sepeti itu jongin berlari ke tempat sehun berada meninggalkan tao yang diam mematung melihat pemandangan di depannya.

Malam purnama yang penuh dengan darah itu menyadarkan tao akan banyak hal.

.

.

.

Sementara di di sisi lain. Berdiri dua orang namja dengan tinggi yang berbeda.

"kau merindukannya?"

"tutup mulutmu"

"aku belum selesai berbicara park, maksudku bukan pasukan khusus, aku tau kau tak akan pernah merindukan pasukan yang telah membuangmu. Yang aku maksud adalah namja itu, namja yang cukup manis itu. Apa kau merindukannya"

"bisakah kau menutup mulutmu byun?"

"namja itu, kalo tak salah namanya kim jongin , dia cukup terkenal dia anak berusia 8 tahun yang dapat membunuh 30 orang dewasa itukan "

"aku sudah memperingatkanmu untuk menutup mulutmu"

"ah. Atau kim jongin yang pernah hampir membunuhmu park chanyeol"

Chanyeol menatap tajam baekhyung yang kini melankah meninggalkannya.

"aku tak ingin terlibat dalam drama melonkolis kalian sebaiknya persiapkan dirimu chanyeol"

"setelah ini selesai aku pasti akan membunuhmu"

"lakukan jika kau mampu"

.

.

.

.

.

.

TBC….

Maaf ini lama pake banget, aku gak tau part ini bagus atau engga aku benar benar sulit menulis ahir ahir ini jadi aku yakin lanjutannya cukup lama.

Terimakasih karna sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca ff aneh aku. Dan saya mohon kritik dan sarannya gomawooo