Fate/Abnormal
Pride of Emperor
Yahoo, Zhitachi datang bawa chapter baru nih!.
Oke, untuk penjelasan Servant akan dijelaskan di chapter depan, lengkap dengan deskripsi mereka. Untuk sekarang masih terfokus keseharian tokoh utama dan di akhir Chapter akan menuju ke jalan cerita.
Untuk opening dan ending akan Zhitachi kasih di chapter 3 mendatang.
Disclaimer: Type-Moon, Ufotable.
Genre: History, Supranatural, Tragedy, Action.
Character: All Classes Servant, OC, Chara in Fate Stay Night UBW.
Rate: K+ up to M.
Sinopsis: Kekacauan Grail Wars kelima telah selesai secara tidak terduga, membuat Emiya Shiro menjadi bintang utama dalam Grail Wars ini. 5 tahun kemudian, keluarga Satou masih tidak menerima kekalahan telak pada Grail Wars sebelumnya dan bertekad mendatangkan kembali perang tersebut. Tanpa ada bimbingan pengatur perang, Grail Wars keenam menjadi tidak seimbang, sehingga tragedi 5 tahun yang lalu kembali terulang, di waktu yang sama, namun di tempat berbeda. Siapakah yang mampu menghentikan kekacauan Grail Wars kali ini?.
*A/N: Cerita ini Zhitachi ambil dari alur sesudah Emiya Shiro menyelesaikan sekolah sihirnya di inggris bersama Rin Tohsaka*.
~Not Like, Don't Read~
Chapter Two: Before the Night of Tragedy.
Pagi hari telah tiba dengan sinar matahari menyinari ruangan Taira melalui fentilasi udara. Lambat laun, terdengar suara alarm dari jam beker yang ada di meja. Membangunkan si penghuni kamar.
Istirahat di dojo jauh lebih menyenyakkan daripada tidur di apartemen yang ia sewa. Selain tempat dojo yang lebih natural, di tempat ini seakan seperti mempunyai semacam jiwa yang mampu menenangkan batin. Layaknya seperti kuil, tempat ini sangat sunyi dan tenang walau berada berdekatan dengan rumah bergedung.
*Krek!*.
Taira menutup pintu gerbang dojo. Karin sudah pergi karena ada acara, terlebih lagi bahan makanan sudah mulai habis. Tidak salahnya jika sabtu pagi ini ia pergi jalan-jalan untuk mengganti suasana hati dan juga berbelanja.
1 jam kemudian...
Taira berhenti ketika di depan gerbang dojo, belanjaannya cukup banyak yang ia bawa. Hitung-hitung untuk dua hari ke depan di dojo.
"Taira-kun?" Panggil Machi tak jauh dari Taira.
"Machi".
Machi melangkah pelan menuju Taira, langkahnya terhenti ketika sudah di depan Taira.
"A-Ano, itu apa Taira-kun?".
"Ini?".
Taira memperlihatkan belanjaannya ke Machi.
"Aku membeli bahan makanan untuk dua hari ke depan".
"Dimana Karin-san?".
"Dia pergi pagi buta tadi, katanya ada urusan penting" Balasnya sembari membuka pintu gerbang.
*Kriet!*.
"Mau mampir, Machi?".
"U-Um".
Di dalam ruangan...
"Aku akan memasak makanan untuk nanti siang, kau bisa menunggu di ruang tamu" Ucapnya sambil menaruh sepatunya ke loker dan mengambil sendal.
"A-Aku ikut memasak, Taira-kun".
"Baiklah, jika tidak merepotkanmu".
"Terima kasih, Taira-kun".
"Tidak-tidak, justru aku yang berterima kasih, Machi".
"Ara-ara~ pagi-pagi sudah panas yah" Ucap Karin sembari menutup pintu.
"Ka-Karin-san!" Ucap Machi terkejut.
"Darimana saja kau, Nee-san?".
"Aku hanya ada urusan sedikit... Omong-omong, aku lapar nih".
"Salah siapa pergi pagi buta tidak sarapan" Balas Taira sembari meninggalkan Karin.
"Taira-chan jahat!".
Siang hari...
Seperti biasa, Taira tidak ingin membuang kesempatan untuk membuka buku dan membacanya. Waktu weekend sangat pas untuk ia habiskan membaca buku. Ia bahkan sudah membuat jadwal khusus pada weekendnya kali ini.
Di dapur, Machi tengah mencuci piring kotor yang telah digunakan tadi saat makan siang. Ia tersenyum tipis sembari bersenandung kecil, nampaknya ia menikmati kegiatan tersebut.
Kali ini Karin hanya bermalasan sambil menggonta-ganti channel TV. Menurutnya, weekend merupakan neraka buatnya. Tidak ada acara bagus, liburan tanpa hal mengasikkan, bahkan tidak satupun orang yang bisa diajak bercanda. Tentu seperti neraka bagi orang yang suka bersosialisasi seperti dirinya.
Machi berjalan dari arah dapur menuju ke Taira, ia mengelap tangannya yang sedikit basah ke celemek.
"Piring sudah dibersihkan Taira-kun".
Taira menutup bukunya, ia menoleh ke arah Machi.
"Terima kasih, Machi".
"Sa-Sama-sama, Taira-kun" Balas Machi dengan sedikit pipi memerah.
*Tlick! Tlick! Tlick!*.
Suara jari Karin tengah mengganti channel TV.
Taira memejamkan mata sekali, setelah itu menoleh ke arah Karin.
"Jika rasa bosan itu sudah sangat mengganggumu, kenapa kau tidak jalan-jalan ke luar?".
"Males ah, panas".
"Jika memang malas, gak usah bikin orang naik darah juga kali, dasar kakak bodoh!".
"Hm" Balasnya sambil memencet tombol remot.
"Dasar".
"A-Ano, biar aku yang menemani Karin-san".
"Maaf merepotkanmu, Machi".
"T-Tidak apa-apa kok, Taira-kun".
Machi berjalan pelan menuju ke samping Karin lalu duduk. Taira kembali melanjutkan bacaan yang sempat ia tunda.
"Aku ingin bicara denganmu, Machi".
"E-Emang ada apa, Karin-san?".
"Bagaimana keadaan kakakmu?".
"Kakakku?".
Ia terdiam untuk beberapa saat.
"Ia sehat".
"Apa ia mencoba menyembunyikan sesuatu darimu?".
"Se-Sepertinya tidak".
"Begitu... Semenjak ia keluar dari gereja kudus satu bulan lalu, pihak kudus merasa ada hal yang aneh tentang dirinya. Terlebih lagi ketika ia melakukan sebuah penelitian waktu lalu, ia bergegas keluar dari gereja kudus tanpa memberitahukan hasil dan isi dari penelitian tersebut".
'Penelitian?'.
"A-Ano, Karin-san, apa yang anda maksud?".
"Sepertinya aku terlalu banyak bicara, lupakan hal barusan".
"Oke, pertanyaan selanjutnya...".
Karin mencoba membenarkan posisinya, kali ini ia berhadapan dengan Machi.
"Apa yang kau suka dari Taira-chan?".
Hening beberapa saat.
"Eh!".
"Aku ulangi lagi, apa yang kau suka dari Taira-chan?".
"A-Ano i-i-itu...".
Karin tersenyum melihat pola dari Machi.
"Tidak usah malu, kita ini sesama perempuan".
"A-a-ano...".
"Hm?" Ucap Karin seakan seperti menekan Machi.
"Ma-maaf Karin-san, a-aku tidak bi-bisa menjawabnya".
"Gyah! Sudah aku duga" balasnya sembari menepuk dahinya pelan.
Ia menurunkan tangannya, tatapan serius ia tunjukan ke Machi.
"Tolong jaga Taira, aku tidak selalu berada di sampingnya, hanya kau yang selalu berada di dekat dirinya".
Machi tersenyum lembut.
"U-Um".
"Yosh!" Ucap Karin sembari memukul tangan kanannya sekali.
"Taira-chan, waktunya kita latihan" Tambahnya sembari berdiri dari posisi duduk.
"Hm?" Ucapnya sambil menutup buku. Ia juga ikut berdiri dari posisi duduk. Kedua matanya menatap tajam ke arah Karin.
"Kali ini aku akan menang" Jawabnya dengan yakin.
"Silakan dicoba" Balas Karin dengan ucapan mengejek.
~ZHITACHI~
Karin dan Taira berhadapan satu sama lain, tatapan mereka lebih serius dari biasa. Bagi mereka, latihan ini seperti pertandingan resmi.
Perlu diketahui, Karin pernah menjuarai dua kali turnamen kendo nasional dan menjadi runner up pada turnamen besar kendo internasional. Gaya bertarungnya jelas bukan seperti orang profesional, bak sebagai seorang penguasa tertinggi bela diri kendo.
Karin ahli dalam kendo berkat pelatihan keras kakeknya selama di dojo. Setiap musim panas, Karin dan Taira berlatih di tempat ini untuk menghabiskan masa liburan.
Taira hanya mempelajari seperlima dari seluruh ilmu yang diserap oleh Karin. Walaupun begitu, seperlima saja sudah cukup untuk membawa Taira menuju final turnamen.
Dibandingkan dengan kemampuan Taira, sudah jelas terpaut jauh dengan kemampuan Karin. Setiap kali melakukan sparing, Karin dengan mudah menaklukkan Taira.
Taira tahu, mustahil akan menang melawan kakaknya yang hebat itu. Tapi, di hatinya belum pernah terdengar kata 'Menyerah'.
Asal bisa menemukan titik celah dalam menyerang, itu sudah cukup untuk melakukan serangan balik.
"Apa kau yakin ingin melakukan sparing lagi, Taira-chan?".
"Tujuanku ke tempat ini adalah untuk mengalahkanmu".
"Oke, maju!".
Taira melesat ke arah Karin, ia menurunkan pegangan pedang kayu, bersiap melakukan serangan dari bawah.
Karin masih terdiam semenjak Taira melesat ke arahnya.
"Hiat!".
*Track!*.
Serangan Taira sangat mudah dibaca oleh Karin.
"Seranganmu masih sama seperti yang dulu, sekali-kali pelajarilah teknik serangan lain".
"Tenang saja Nee-san, aku masih ada trik lain untuk menyerangmu".
Taira memutar pedang kayunya ke kanan, ia juga bergerak ke kanan sesuai gerakan pedang.
Pedang kayu Taira berada di samping kiri pedang Karin, ia mengubah posisi pedang menjadi di atas dan melakukan tebasan ke leher.
*Track!*.
Karin menangkis serangan tersebut dengan menahan serangan Taira menggunakan pedang kayu. Ia menahan pedang kayu Taira dengan memegang gagang pedang memakai dua tangan, sehingga daya kekuatan untuk menahan serangan Taira menjadi besar.
"Oh?".
"Masih belum".
Taira melepaskan pegangan pedang dan mengubah posisinya menjadi menunduk. Karin terfokus ke pergerakan tubuh Taira. Ia memprediksi bahwa Taira akan melakukan serangan mendadak.
Posisi pedang milik Taira menjadi jatuh secara perlahan, kedua mata Taira masih terfokus ke arah depan.
Ditatapannya sekarang sudah ada gagang pedang, ia mempertajam matanya.
'Terimalah!'.
Dengan cepat Taira mengambil gagang pedang kayu dengan tangan kiri dan segera melakukan tebasan samping. Karin yang semula tenang kini menjadi terkejut.
"Bagus Taira!".
Beberapa centi sebelum mengenai tubuh Karin.
"Tapi...".
*Trang! Duak!*.
Karin menangkis serangan Taira dan memukul bagian perut Taira dengan gagang pedang.
"Ukh!".
*Set!*.
Taira mundur beberapa langkah. Ia bernapas terengah-engah. Stamina yang barusan ia gunakan sedikit lebih banyak dari yang ia duga.
'Seranganku seharusnya sudah sempurna, bahkan seorang professional seperti dirinya akan kesulitan menangkis dengan posisi seperti itu'.
Taira memegang perutnya yang terkena serangan dari Karin. Ia merasa sedikit linu pada bagian tersebut. Karin memang tidak main-main dalam urusan seperti ini.
"Kemampuan Full Counter milikmu masih mengerikan, Nee-san".
Full Counter, teknik pasif yang hanya bisa dikuasai oleh Karin. Mengandalkan kemampuan serangan musuh dan menangkisnya dengan jumlah kekuatan yang sama. Semakin kuat serangan yang ditangkis oleh Karin, semakin kuat efek pembalik bagi lawan.
Satu hal lagi, Karin merupakan anggota berbakat dari Gereja Kudus yang bercabang di Distrik Adachi. Tersiat kabar bahwa hanya ada satu anggota dari Gereja Kudus yang konon memiliki kekuatan tiada banding. Seorang manusia yang memiliki kekuatan sekelas master penyihir.
"Aku pikir aku akan menggunakan Auto Counter untuk menangkis seranganmu itu. Tapi tidak kusangka serangan barusan hampir membuatku lengah".
"Dan juga...".
*Track!*.
Pedang kayu milik Taira retak di beberapa bagian.
Taira menoleh ke arah pedangnya. Ia memang telah mengeluarkan hampir sebagian serangan terbaik kepada pedang itu. Namun, efek pembaliknya bahkan sampai serusak ini.
"Seranganmu kali ini cukup kuat, Taira-chan... Jika tadi aku tidak menggunakan Full Counter, entah apa yang terjadi dengan pedangku ini" Balas Karin sembari menoleh ke arah pedang kayu.
"Kau memang kuat, Nee-san".
Taira membuang pedang kayu ke arah samping, kedua tangannya ia regangkan ke bawah.
"Kali ini aku ingin mengetes hasil latihanku".
Sebuah cahaya biru muncul di setiap bagian tangan Taira. Perlahan, sebuah benang halus berwarna biru muncul di tangannya dan membentuk sebuah replika pedang berukuran sedang.
" Observe! ".
Sebuah pedang berwarna biru muda dengan panjang menengah muncul di kedua tangan Taira.
Observe, teknik andalan milik Taira. Sama seperti kemampuan Trace On milik Emiya, kemampuan ini mampu menciptakan sebuah benda ataupun senjata. Berbeda dengan kemampuan milik Emiya yang mampu meniru hampir ke bentuk aslinya, kemampuan ini hanya bisa meniru cangkang dari benda asli. Kemampuan Taira masih belum berkembang sejak ia memulai kembali pelatihan sihir.
"Langsung memakai teknik andalan? Tak masalah".
Taira memegang erat gagang pedang, ia segera melesat ke arah Karin.
Taira membuka serangan pertama dari arah bawah, disusul serangan kedua dari arah depan. Karin mampu menghindari kedua serangan tersebut dengan mudah. Tidak sampai di situ, Taira menarik kembali serangan pertama tadi dan mengubah arah serangan menjadi seperti serangan kedua. Karin masih bisa menghindari kedua serangan tersebut. Ia bisa saja memberi serangan ketika berada di posisi tersebut. Namun, ia seperti mencari celah yang pas untuk menyerang.
Taira menarik kembali serangannya, ia melakukan tebasan menyamping menggunakan pedang kiri. Karin yang melihat tebasan itu segera menangkisnya.
"Hiat!".
Taira tetap menarik serangannya ke samping, pandangan Karin tertuju ke serangan awalnya, sehingga celah pertahannya sedikit longgar. Taira tersenyum kemenangan, ia melakukan serangan mendadak dari arah depan dan berniat menyerang bagian dada.
Karin terkejut melihat serangan mendadak tersebut, ia mengangkat dengan kuat ujung pedang kayu yang terhalang oleh pedang Taira.
*Track!*.
Serangan mendadak berhasil dihalau, kali ini Karin tersenyum kemenangan.
"Kali ini adalah kemenanganku!".
Hawa di sekitar Karin berubah menjadi dingin, Taira yang sempat merasakan segera pergi menjauh.
"Hiat!".
*Track! Track!*.
Sebuah sayatan putih mengenai kedua pedang Taira dan membuatnya hancur. Taira tidak bergeming sama sekali, ia lebih terkejut ketika menerima serangan tersebut.
"Ini... Full Counter, Bukan, serangan barusan...".
" Auto Counter ".
~ZHITACHI~
" Auto Counter, memanfaatkan semua jenis serangan dan memadukannya menjadi satu tebasan yang kuat".
"Analisa yang bagus".
Taira masih terdiam usai terkena serangan barusan. Rencana yang sudah disiapkan dengan matang jauh-jauh hari bisa dihancurkan dalam beberapa serangan. Karin memang hebat.
Taira berpikir, jika ia melakukan serangan tanpa rencana sama saja memberi musuh kesempatan melakukan balasan. Karin sudah mengeluarkan dua kemampuannya, jika melawannya lagi tanpa perhitungan akan menjadi akhir dari sparing ini.
"Akan kuberitahu alasan kenapa kau selalu miss dalam menyerang".
Taira menoleh ke arah Karin.
Karin memperlihatkan jari telunjuk kanannya ke Taira, pertanda sebagai nomer satu.
"Pertama, kau terlalu fokus kepada penekanan pedangmu, kau terlalu tegang dalam melakukan sebuah serangan. Buatlah tubuhmu serileks mungkin, tuntunlah tubuhmu seakan pedang itu seperti bagian dari dirimu".
Kini jari tengah ia angkat, pertanda sebagai nomer dua.
"Kedua, kau memang hebat dalam segi menyerang, tapi gaya menyerangmu masih sangat polos. Jika ini pertandingan internasional, kau mungkin akan kalah dalam beberapa detik. Kembali ke masalah pertama, santailah dalam melakukan serangan. Amati pergerakan musuhmu, perkirakan jarak kemampuanmu dengannya. Lalu, ketika dua hal itu sudah kau amati dengan baik, balaslah serangannya!".
Jari manis ia angkat, pertanda sebagai nomer tiga.
"Terakhir, ubahlah kebiasaanmu dalam melakukan serangan. Kedua matamu terlalu fokus ke segi seranganmu".
Taira menundukan sedikit kepalanya.
"Jadi begitu".
Karin mengangkat pedang kayu dan menaruhnya di pundak.
"Oke, untuk hari ini sampai di sini".
"Ya"
Karin pergi meninggalkan Taira yang berdiri diam ditempat. Machi segera menghampirinya dan memberikan sebuah handuk.
"Mu-mungkin lain kali Ta-Taira-kun bisa mengalahkan Karin-san" Jawabnya sembari memberikan handuk ke Taira.
Taira menoleh ke arah Machi, tangannya menerima handuk tersebut sembari tersenyum tipis.
"Ya".
Sore hari...
Karin tengah berjalan-jalan di sekitaran dojo sembari meminum susu botol. Cahaya sore ini sangat pas untuk melakukan refresing sesaat. Akhir-akhir ini ia sering mendapat banyak tugas sebagai seorang guru honorer. Terlebih lagi ia baru saja mandi, sungguh kenikmatan yang pas.
Karin mendengar suara dari balik ruangan. Ia membuka sedikit pintu dojo, terlihat Taira tengah berlatih menggunakan pedang kayu.
Karin tersenyum tipis, Taira memang anak yang berbakat. Meskipun ia mempunyai banyak kelemahan, selama ia mampu menutupi kelemahan tersebut, ia akan menjadi kuat. Karin bersyukur jika kemampuan hebatnya mampi menginspirasikan Taira untuk maju.
Hari Minggu, siang hari...
Seperti biasa, kegiatan Taira sama seperti hari Sabtu. Namun, ia lebih terfokus pada buku yang ia baca. Sesekali Machi mampir ke dojo dan menemani Taira. Karin sendiri sudah pergi sejak pagi buta dan belum kembali sampai sekarang.
"A-Ano Taira-kun... O-Omong-omong, kemana Karin-san pergi?".
"Sepertinya ia kelupaan sesuatu di sekolah" Balasnya sambil tidak melirik, kedua matanya lebih terfokus ke buku yang ia pegang.
Sore hari...
Karin tengah berjalan santai menuju ke gerbang sekolah, ia menguap pelan, tidak disangka bahwa ia melupakan tugas sebanyak itu di sekolah. Mana tugas tersebut harus diselesaikan sekarang.
"*Hoam!* Aku ingin tidur~".
Sebuah pangilan masuk ke telepon Karin, dengan langkah malas ia mengambilnya dan menerima panggilan.
"Yah, ini Karin" Jawabnya dengan malas.
"Karin-san, tuan Ardas ingin bertemu empat mata denganmu".
Mendadak wajah Karin menjadi serius.
"Beritahu tempatnya".
Di bandara...
Seorang pemuda berambut merah dengan berjas hitam berjalan pelan usai melewati alat pemeriksaan sembari mengambil koper. Dibelakangnya, ada gadis dengan gaya rambut pony tail juga ikut mengambil koper. Sama seperti pemuda itu, gadis itu juga memakai jas hitam.
"Sudah lama kita tidak kembali ke tempat ini" Ucap pemuda itu.
"Kalau tidak salah kita sudah 5 tahun meninggalkan kota Fuyuki" Balas gadis itu.
"Sekarang mau kemana, Rin?" Panggil pemuda itu ke gadis yang bernama Rin.
"Um... Sebenarnya aku mau pulang ke rumahku dulu. Berhubung dojomu tidak jauh dari sini, boleh kan aku tinggal sementara?".
"Tentu, siapa yang melarang?".
Mereka berdua berjalan menuju ke pintu keluar.
Malam hari...
"Hati-hati di jalan".
"Um".
Machi berjalan menuju ke rumah. Taira masih menatap kepergian Machi. Setelah Machi sudah masuk ke pintu rumahnya, ia juga masuk ke dojo dan menutup gerbang.
Sepertinya Karin tidak pulang dalam beberapa hari. Ia sempat menerima sms dari Karin, katanya ia ada tugas penting di luar kota.
Taira memakluminya, semenjak Karin masuk ke Gereja Kudus, dirinya jarang bertemu dengan Karin kecuali hari libur. Mungkin kali ini ia akan sering bertemu dengan kakaknya, namun hal itu hanya terjadi di sekolah.
Di dojo lain...
"Wuah capeknya~" Ucap pemuda berambut merah sembari melempar tubuhnya ke sofa empuk.
"Kenapa kau yang santai, Emiya-kun! Liat tuh, masih banyak barang yang harus di benahi!" Balas Rin sembari menunjuk ke dus yang bejimbun.
"Aku ingin istirahat sebentar, lagian aku sudah membersihkan seluruh ruangan" Balas Emiya.
"Oh, Oke! Tapi gak ada jatah makan malam!" Kali ini ancaman Rin sukses membangunkan semangat Emiya.
Di jalan besar, terihat Karin tengah memandangi gedung-gedung pencakar langit yang dihiasi cahaya malam dengan tangan kiri menahan wajahnya. Perasaannya sedikit kacau untuk hari ini. Pasalnya ia seperti dihantam oleh puluhan tugas dalam satu hari.
Wajahnya seperti sangat kesal. Pagi hari belum sarapan, siangnya hanya memakan roti, sorenya ia dijemput oleh pihak Gereja secara mendadak. Belum lagi panggilan ini terkesan terburu-buru. Gimana tidak kesal jika masalah seperti itu menghantamnya tanpa peringatan dini?.
"Jika masalah ini membuatku kecewa, akan aku obrak-abrik ruanganmu, Ardas!" Ucapnya dengan nada lirih nan mengancam.
Ruang bawah tanah...
Sebuah pola sihir berbentuk merah menyala di tengah ruangan, pemuda yang bernama Shinji berjalan pelan ke arah kakek bertubuh pendek. Langkahnya berhenti ketika berada di samping kakek itu.
"Sudah waktunya, Shinji".
"Ya".
Shinji mengulurkan tangan kanan yang terdapat pola segel ke depan.
"Wahai pengabul segalanya, tuntunlah kami menuju gemerlap cahaya yang mengenai kesucianmu... Bawalah kami seorang pemandu untuk menuntun sebuah tujuan mulia... Jika kau mendengar harapanku, datanglah di hadapan diriku!".
Pola segel di tangan Shinji beserta pola sihir menyala terang. Perlahan, gumpalan asap muncul secara berkala dan membentuk sebuah gumpalan kegelapan.
*Wush!*.
Gumpalan kegelapan perlahan mulai menipis, memperlihatkan sosok manusia dengan berbadan setengah membungkuk dengan memakai jubah hitam pekat. Hanya terlihat sebuah topeng tengkorak tanpa rahang bawah berwarna abu-abu, seakan seperti warna kedua bagi sosok itu.
Sebuah nafas berat terdengar dari sosok itu, mata menyala seakan titik temu kegelapan dan kehampaan terlukis di balik topeng tersebut.
"Servant Assasin menerima panggilanmu, Master".
Kakek bertubuh kecil itu tersenyum iblis, raut wajahnya seakan tidak sabar untuk melanjutkan rencana kedua.
"Waktunya pembalasan".
Hitungan mundur Perang Cawan dimulai... 25 jam 14 menit.
~TBC~
Fuah! Akhirnya selesai juga. Untuk ke depan akan menjadi cerita menarik. Mungkin di chapter depan para Reader sekalian akan penasaran seperti apa sistem GHW keenam ini.
Oke, sesuai perkataan Zhitachi di chapter satu, Zhitachi akan menjelaskan siapa saja Servant dan juga Master yang akan memeriahkan perang ini. Langsung aja...
1. Nero Claudius Bride As Saber.
2. Tomoe Gozen As Archer.
3. Scathach As Lancer.
Untuk penjelasan Master akan Zhitachi terangkan usai para Servant selesai. Daripada kelamaan langsung Zhitachi tutup, sampai jumpa di minggu depan...
*Kritik dan Review dari Reader sekalian akan sangat memotivasi Zhitachi untuk menjadi lebih baik*.
