01: Tanya
Yaya melongos kala Halilintar membukakan pintu mobil sport ferrari merah untuk ia masuki, memilih memandang ke depan menatap basement gelap dan kotor parkiran perusahaan daripada pria tampan bersetelan putih tajam nan ada di sampingnya.
Ia terombang-ambing pemikiran tentang harga dan martabat. Spesifiknya harga dirinya yang terasa seperti diinjak, diludahi, terus dibuang seenaknya ke sungai.
Ayolah wajah, sembunyikan segala emosiku! celoteh Yaya sambil sembunyi-sembunyi mendebuk dada. Jangan memucat, jangan tampak lesu, dan pastinya jangan... jangan memerah. Plis deh! Aku mohon dengan sangat-... ugh, tidak! Batinku kurang kuat! P-pipiku... panas. Oh Tuhan, apa salah hambamu ini coba?
Helaan napas berat dituturkan oleh Yaya—yang pasti tak luput dari pandangan pemuda pendampingnya, yang lagi-lagi menilai Yaya rendah dengan sorot mata nan menusuk bagai suntik jarum beracun.
Dia mengangkat satu alis, gerak-geriknya menandakan bahwa ia sedang menerka-nerka.
Hendak menangkis tawaran menjadi objek amatan mata tajam Halilintar, Yaya refleks mendekap blazer-nya erat, kepala kembali tertunduk, terlampau tak ingin indra penglihatan mereka bertemu.
Paras sang gadis bertambah kusut saat lagi-lagi mengingat dan sadar kala menunduk, sekarang tahu jelas apa yang ia kenakan. Walau beringinan kuat untuk lari memutar kembali ke ruang OB beserta memasang balik seragamnya, namun apa daya, demi sang calon suami, Yaya buru-buru berganti pakaian yang telah dihadiahkan kepadanya oleh Halilintar: sebuah dress merah muda selutut tanpa lengan yang awalnya dibungkus kotak sepatu berbalut kertas kado keemasan.
Untuk menutup aurat yang secara murahan ia pertunjukan kala pertama memakainya, Yaya mengakali dengan menyampul pundak menggunakan blazer hitam legam nan elegan, yang ia pakai sebelum ia putuskan untuk dibuang sembarangan demi peran kibulannya. Kerudung yang tadi membalut kepalanya rapi terpaksa ia simpan, rambut hitam nan tebal kembali tergerai sebahu, dan lalu mahkota kepala itu balik berhias bando simple senada warna dengan dress bertabur glitter kuadrat. Hak tinggi sialnya juga harus kembali ia pasang. Kasihan sandal jepit, sangatlah naas nasibnya. Mau bagaimana lagi, demi menjaga wajah, Yaya tak punya pilihan lain selain menjobloskannya ke tempat sampah terdekat, berkecimpung bersama cup-cup kopi yang ratusan jumlahnya dan juga basi.
Yaya berpikir bahwa sepasang sandal jepit itu pasti sedang murung sekarang, menangisi ibu mereka yang telah durjana kepada mereka.
(Maafkan Ibu, nak. Salahkan—calon (mungkin)—Bapakmu itu!).
Perangai Yaya saat ini amat menggambarkan keangkuhan nona Belanda nan tak sekira—bersama dagu nan terangkat dan tangan terlipat erat di depan dada; tak untung, pemandangan ini disuguhkan bersimbah glitter menyilaukan penyebab iritasi mata bagi orang-orang setempat.
Namun, sejujurnya, ia ciut. Yaya gamang dan risih akan kejadian yang ia hadapi saat ini. Bagi orang yang teliti, jelas sekali terpampang di hadapan mereka sosok Yaya yang banjir peluh dengan gigi gemeretakkan berkat gigilan nan heboh, persis seperti kucing kurang gizi yang diguyur hujan.
Sungguh, Yaya tak kuasa menahan malu. Calon suaminya baru saja menyaksikan dirinya yang beraksi sebagai OB, mengecoh seorang pemuda polos dan menikamnya bagai singa kelaparan terbuai nafsu, tak ingat diri dengan status sendiri yang terikat cincin pertunangan. Mengenaskan. Di mana lagi coba harus Yaya pajangkan tampang manis nan munafik ini?
Berkeluh kesah, Yaya kesampingkan dambaan akan Boboiboy sekarang ini. Walau benar ia rindu dan ingin segera diselamatkan dari sorot tak mengenakkan dari Halilintar, bukan berarti ia selemah itu dan memilih untuk kabur darinya. Bagaimanapun juga, Halilintar itu adalah tunangannya, pria pilihan orang tuanya. Untuk lari darinya dan bila diadukan oleh Halilintar atau ketahuan kedua orang tua mereka... mati sudah harga dan martabat diri seorang Hanna 'Yaya' Yah.
Ah, kalau dirumuskan, Yaya diibaratkan segelintir tanah apuk untuk emas batang yang adalah keluarga Halilintar: sangatlah jauh pangkatnya dan tak senilai. Gadis kolot itu tak akan bisa berkutik sejadinya calon suaminya itu berkata buruk akan dirinya, dia hanya bisa pasrah, meneguk bulat nasib yang disodorkan dengan nampan beludru mencilang kepadanya. Pernikahan mereka terang saja bakal dibatalkan, ia akan menjadi korban peninggalan di pelaminan bak sinetron picisan dan jika itu terjadi... Yaya bakal pecah, ia hancur, terpuruk dengan image gadis yang ternodai. Takkan ada yang namanya persatuan keluarga besar, segala hubungan pupus sudah, dan keluarga Yah akan jatuh dari singgasananya—bersemayam gugur bersama babi dilumpur.
Gadis itu bergidik ngeri.
Oh Tuhan, apa yang harus hamba perbuat...?
Selama Yaya terapung-apung akan pemikiran ketidak adilan dunia, tak disadari olehnya Halilintar yang sedari tadi memandangnya dingin. Dia mendesah nyaring, mata bergeliut ke arloji yang dibelit bergelimang silver ditangan, menunggu tak sabaran sembari sebelah tangan yang lain terbenam dalam kenop pintu mobil, mematung berposisi membukanya lebar.
Semenit kemudian dan masih dalam pose menunggu layaknya seorang supir, bibir Halilintar berkedut masam. Pemuda itu sungguh sudah kehabisan kesabaran, maklum, orangnya pengidap penyakit emosian dini.
"Masuk sekarang atau ku tarik paksa," supel dia utarakan, bersikap cool dan mengintemidasi, menopang lengan pada baja pintu.
Terbelalak, Yaya menyesal tidak mencoblos pilihan 2 dan lari ke bukit terdekat jauh hari sebelumnya. Spontan memeluk tubuh, ia terloncat dari lamunan, mangut-manggut menurut dan mengguman lirih permintaan maaf.
Yaya berlalu menghormat layaknya anggota paskib dan malu bukan kepalang, lekas ia hempaskan pantatnya ke kursi depan penumpang, terduduk kikuk seraya ia menarik-narik ujung dress-nya supaya utuh menutupi kulit paha yang menyikap tak kunjung letih.
Resah gadis berpenampilan kerlap-kerlip yang sungguh bukan gayanya itu menatap jok seolah dia adalah benda paling menarik sedunia, tak mengungkiri sang calon suami yang menungging senyuman kecil akan kelakuannya, tak jelas belum tentu maksudnya apa. Merencanakan pemakamannya, kah? Ingin menguncinya di dalam mobil, kah? Meninggalkan dan mempermalukan dirinya lebih jauh lagi, kah? Atau jangan-jangan... peluh dingin mulai bercucuran dari pelipis Yaya, oh tidak!
Blam! Tak terduga oleh Halilintar kalau Yaya membanting sendiri pintu disisinya, perasaan bak gado-gado panik mules terbirit-birit tak menentu. Kencang amat pula hampir membuat jemari Halilintar beserta kupingnya lecet terjepit juga dilucuti bunyi-bunyian nista tak diundang.
Dia ini...!
Dengan wajah semakin ditekuk, Halilintar mengumpat terseot-seot memutar menuju bangku pengemudi, prasangka buruk mulai berkecambah diufuk sanubari. Sesampainya dia dikursi, tangannya dia katupkan ke bulatan setir, dan digenggamnya keras. Setelah itu, dia memburu mendelik berpuing perasaan dongkol pada gadis yang dungu terduduk tegap-setegap tiang bendera di sebelahnya.
Tak tahu cara menanggapi, Yaya berwatados ria sambil mengangkat bahu.
"Maaf, nggak sengaja," paparnya, jemari menutup mulut yang sesungguhnya geli menahan tawa.
Ia kalut, tak menyadari dampak apa yang tawanya bawa pada Halilintar.
Pemuda itu buru-buru membuang muka asal, multi-tugas menyalakan mesin.
Tak habis pikir dia. Calon istrinya lagi-lagi memohon ampunan dengan iringan merdu gemerincing bel, sebuah nada yang buruknya mendekap membatu dalam hati. Sikapnya membuat Halilintar gemas, membuang napas berat dan sebal akan dirinya sendiri yang terpana. Sungguh, batinnya sudah terbebani dengan kontak 30 menit ini saja dengan gadis yang satu ini, entah kenapa, dan entah juga apa keadaan ini bagus atau tidak. Separah inikah eksistensi seorang pejabat bernama Halilintar dimata dunia sehingga mendapat gadis seaneh ini sebagai istri?
Memutuskan untuk membuang jauh dumelan dan menutupi pipi nan merah dengan mempertahankan diam nan berwibawa, Halilintar nyelonong meluncurkan mobil mewah yang belum jelas asuransinya ada atau tidak melalui jalur pekerja. Tak diindahkannya seruan kelapson truk jingga yang simpang siur geregetan di belakangnya, ataupun jeritan kaget dari Yaya yang berada di sampingnya, tatapannya tetap terfokus lurus ke depan.
Tetapi, sia-sia, hatinya masih gigih mengisi kepalanya dengan image manis seorang Hanna Yah.
Kalo benar dia akan jadi istriku... tancap gas, kedua manik Halilintar mengeras, warna transparan delima mengental mengharu seperti darah. Maafkan aku Hanna, kau gadis yang baik... yah, walau agak aneh. Tapi, tak ada jalan lain, selain pertunangan aku juga terikat kontrak-...
Aku harus mengkhianatimu.
"Warung... Nasi Kandar?"
Halilintar menoleh kepadanya, gelagatnya tersinggung.
"Kenapa? Nggak suka?"
Yaya buru-buru membulatkan matanya, pori-pori tak mau berkooperasi sambil mengibaskan kedua tangannya, lagi-lagi salah tingkah.
"E-enggak! Aku suka, kok! Suka banget!" ujarnya menyakinkan, mengangguk-angguk ala rockstar nyeri leher.
Sepasang calon pengantin itu kembali berlalu menatap bangunan nan ada di depan mereka dengan pikiran yang ironis dari satu sama lain.
Berdiri gagah menjulang menyamai gedung dua tingkat dari bahu jalan nan berkerikil tepat dimana Halilintar menepikan mobilnya, adalah sebuah tempat makan dengan kesan asri berbumbu tradisional. Tempat itu sebagian besar terbuat dari bambu hijau, dari lantai nan merapat dengan sensasi bergelinding sampai ke atapnya yang berbentuk segitiga dengan plang superbesar terpampang ceroboh bertuliskan: 'NASI KANDAR TERBAIK SEDUNIA', dengan tag line kecil di bawahnya: 'JELAS BERSAMA ROTAN KUMAR!', dan yang makin lebih kecil lagi: 'Akan kami puk—layani saudara-saudari sekalian~'.
Pemuda-pemudi (lebih ke pemudinya) melengo mematung kaprah di tempat.
Mencurigakan, pikir Yaya sembari mengatup dagu, mencondongkan badan risih seraya kelopak mata menyipit menatap was-was plang warung dibagian 'puk' yang dicoret asal-asalan bertugas untuk menghapunya dari pandangan orang awam, masih dengan posisi terduduk dan paha terkatup di kursi penumpang depan mobil Halilintar.
Sewaktu fokus dengan hipotesa analisis nan ngawur, tak pernah Yaya sadari kalau Halilintar sudah menampakkan kaki keluar dari mobil meninggalkan bangku dan melenggang ke sisinya; sosoknya terpampang bening menjulurkan sebelah tangan setelah membuka lebar pintu bagian Yaya, mulut tertungging samar ke atas—hampir kasat dari mata.
"Ayo kita makan. Aku laper nih."
Walau Yaya akui dia sempat terpaku menatap binar keping delima itu lekat, ia cepat-cepat sadar diri, tahu kalau dia tidak pantas berharap lebih pada lelaki yang telah ia khianati. Yaya ambil dengan gamang kumpulan jemari nan hangat itu, merajut lembut mengutus tangan mereka untuk menyatu bersimpul erat-erat.
Yaya lalu dituntun cepat namun lembut menuju warung penuh aura yang bukannya damai seperti eksterior, namun justru bergelayut muram mencekam. Tapi sang gadis tak mengampiknya, air wajahnya jernih berparas polos, menatap berangan-angan pada pundak lebar yang terkesan gagah milik sang calon suami yang bertapak laju mengungguli langkahnya.
Perhatian sekali, benak Yaya tertawa renyah akan sikap malu-malu kucing yang Halilintar tak sadari telah suskes dia pertunjukkan, menganggapnya manis.
Tanpa sepengetahuan akal nan beroperasi, hati Yaya seolah sudah takluk pada lelaki nan berperingai bak singa itu; merasa nyaman, menyungging senyuman, dan—untuk pertama kalinya semenjak berkontak langsung dengannya—bahagia.
Hampir sama terasa, menyamai kebahagiannya... saat bersama Boboiboy.
Mengikuti alunan ayunan langkah cepat lelaki bermata delima itu, Yaya larut dalam pemandangan kaki jenjang terbalut hak tinggi nan yang lain dan tak bukan adalah miliknya. Otak berputar bak bumi yang mengikuti porosnya.
Kenapa rasanya, hawa Halilintar itu mirip nalar Boboiboy, ya?
Apa mungkin, ini hanya imajinasinya? Lagi-lagi ngelantur mengira-ngira sesuatu yang tak seharusnya?
Benak Yaya termangu kusut mecoba mencari titik temu dari analisisnya, ibarat metode ilmiah, masih kukuh pada tahap observasi. Sikap Halilintar yang terasa janggal pun, juga tak membantu rasa gatal ini. Ah, kenapa? benak sang gadis bertanya. Kenapa hati Yaya berkata bahwa lelaki yang menuntunnya ini bersikap layaknya seseorang yang hanya hendak bersahabat, bukannya mengilhami status pacangannya dengan Yaya?
Kenapa? lagi ia bertanya bisu.
Mereka masuk ke dalam warung tersebut, berselimut haru dan bergelayut di dalam pikiran masing-masing.
Disclaimer: Boboiboy bukan hak ane. Sumpah. Sumpah Pramuka!
A/N: Oke, oke. Dapat dilihat dari disclaimer yang tidak berbelit-belit ngawurnya dan kurang ngenesin kegajeannya, dan juga dari penulisannya yang singkat, padat, dan mengoyak hati (?), bahwa ane ini nggak punya waktu yang banyak. Kenapa? Well...
Oala! Si Abang Warnet udah pada celingak-celinguk ke arah ane tuh! Aduh, gimana nih?!
Hmm... uhuk, uhuk. Tolong maklumi, ya, si Abang ini. Ane yang salah, kok. Ane udah nebeng selama dua jam nih di komputer nomor... nomor 10. Iye, itu dia! Hehe. Jadi tau kan kenapa ane harus cepet sekarang? Waktu paket ane hampir abis! #plak.
Tempulu ane belum ditendang keluar ama si Abang, ane cuma pengen informasikan bahwa ane kembali menggeluti kegalauan. Pengen tau kenapa? Kagak? Ah, tetap! Ane bakal beri tau ente-ente pada! Laptop ane harus balik lagi ke servis komputer, diutak-atik ama si Paman Rambo. Hu hu... seneng banget, ya, lo Lap? Terus-terusin hancurin hati ama chapter-chapter yang baru ane tulis? Mentang-mentang laptop ane satu-satunya! Beli laptop baru, baru tau rasa lo!
Eh? Ane pada ngelenceng, ya? Sori, kebiasaan~ #plak.
Aheeem! Buat para Readers semua yang udah baca Yang Ada di Loteng (kalo belum, tolong baca, ya~ #jaelahsempat-sempatnyapromosi), pasti pada tau kalo ini (sambil ngitung kejadian tempo hari) udah kedua kalinya terjadi sama ane. Laptop ane lagi-lagi kepanasan, terus ngelunjak mati nggak tau diri melahap semua tulisan-tulisan ane.
Nah, udah tau kan apa yang terjadi selanjutnya? Ane harus tabah nulis chapter kedua buat Dusta lagi, dan terpaksa ane harus lenggak-lenggok ke warnet setempat. Ish, chapter yang para Readers baca ini sebenarnya percobaan ane yang ketiga lho. Yang ke-ti-ga.
...
KETIGA KALINYA!
Hiks, udah deh, ane nyerah. Ane perlu hiburan.
Kalo pada pengen tau, percobaan pertama ane berbuah menjadi 3k banyak hurufnya. Percobaan kedua 3,5k.
Dan percobaan yang ketiga ini? Cuma 2k...
Hu hu hu... apes, apes!
Eh? Wualah! Si Abang tiba-tiba berdiri dari kursi! Plis jangan ke tempat ane, plis jangan ke tempat ane...
Anu, sesi balas review-nya nanti aja, ya, di-chapter selanjutnya? Yah, yah, yah?
Oke deh, kalo begitu... daaah! Sampe jumpa! Doain ane supaya dapet diskon dari si Abang Warnet, ya? #plak.
Oke, oke, ane serius sekarang: bye-bye!
(PS: Plis review, fav, dan follow?)
