"Erza!" teriakku dari kejauhan
Perlahan-lahan ia menengokku dan kemudian menunjukkan senyum khasnya, dia benar-benar Erza! Teriakku kegirangan dalam hati, siapa lagi yang memiliki senyum semanis itu. Aku langsung memeluknya, dia terasa begitu nyata saat aku memeluknya, merasa cukup aku pun melepaskan pelukanku.
"Rupanya kamu benar-benar Erza!" ucapku senang
"Seperti biasanya, pelukan kakak hangat"
"Aku benar-benar rindu padamu. Semenjak kehilangan dirimu aku merasa sedih"
"Sekarang aku berada di sini, bagaimana kalau kita jalan-jalan?"
"Tentu!"
Terkadang lebih baik untuk tidak bertanya, yang paling penting aku bisa bersama Erza sekarang. Rambutnya berkibar-kibar karena ditiup angin, wangi shampoo itu…benar-benar identik dengan dirinya. Entah sudah berapa lama aku tidak sebahagia ini.
Rupanya dia membawaku kesebuah padang bunga, bunga bertebaran di mana-mana, saat itu aku benar-benar terpana dengan pemandangan yang baru pertama kali kulihat. Erza membuyarkan lamunanku dan berlari memutar, menghirup udara segar di sekitar.
"Pemandangannya indah ya?"
"Sangat indah bahkan…"
"Padang bunga ini memiliki sebuah kisah. Siapapun yang pergi kesini, akan mengalami hari-hari yang menyenangkan"
"Kalau begitu kita sering-sering saja kesini. Aku sangat mendambakan hari-hari menyenangkan seperti sekarang"
"Ya…begitu juga dengannku" mendadak raut wajahnya berubah
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita bermain kejar-kejaran?"
"Kalau begitu, kejar aku!"
Raut wajah aneh yang tadi Erza tunjukkan kini berubah menjadi lebih ceria. Kami terus bermain hingga matahari sudah tinggi, setelah itu kami berdua membaringkan diri di atas bunga-bunga. Langit terlihat begitu cerah, burung-burung berterbangan di atas langit, ada begitu banyak awan di atas sana, membuat pemandangan semakin indah terlihat.
"Woahh…lihat!Lihat! Awan itu berbentuk seperti pesawat" teriakku
"Kalau yang itu terlihat seperti…eto…aha! Dinosaurus!" ucap Erza menunjuk sebuah awan
"Itukan anak ayam" ucapku menahan tawa
Akhirnya tawaku meledak. Pada awalnya Erza memajukan bibirnya, membuatnya terlihat semakin lucu saja, akan tetapi pada akhirnya dia tertawa bersamaku. Secara sengaja aku menyelipkan setangai bunga berwarna putih ditelinganya, bunga itu benar-benar membuatnya terlihat lebih manis.
"Kenapa? Kakak terus tersenyum sedari tadi"
"Tidak, tidak hanya saja dengan bunga itu kamu terlihat lebih manis"
"E…eh! Jangan melakukannya tanpa sepengatahuanku" ucapnya dengan pipi merah merona
"Cieee…malu rupanya. Kalau aku beritau bukan kejutan dong"
"Kejutan darimu benar-benar membuatku kaget"
Dengan sengaja Erza mengelitik tubuhku, langsung saja aku membalasnya, karena lelah kami pun terdiam sejenak. Tak lama kemudian aku bangkit berdiri, sekarang giliranku untuk mengajaknya ke suatu tempat, dia pasti menyukainya, aku yakin akan hal itu.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat"
"Kemana?"
"Ra-ha-sia"
"Beritau aku…" rengeknya yang membuatnya terlihat seperti anak berumur lima tahhun
"Rahasia tetap rahasia, tetapi aku yakin kamu pasti menyukainya"
Sepertinya dia kesal, meski begitu tetap saja terlihat manis. Wajah memelasnya tadi hampir saja membuatku buka mulut. Kami berjalan kaki melewati sawah dan bukit-bukit. Pemandangan di sekitar begitu indah, sampai-sampai tanpa sadar aku dan Erza telah tiba di sebuah desa. Kami memasuki desa dan sampaii di taman bunga matahari.
"Paman!" teriakku dari kejauhan
"Jellal, rupanya kamu datang untuk berkunjung"
"Setiap liburan musim panaskan, aku pergi ke tempat paman"
"Sudah liburan musim panas ya…waktu berjalan dengan cepat. Tahun lalu kamu kelas satu SMP, sekarang sudah kelas dua, lihat! Kamu bertambah tinggi bahkan"
"Apa iya? Suatu hari nanti aku akan setinggi paman" ucapku bersemangat
"Baiklah, baiklah, kamu pasti bisa menyusul paman. Kamu pergi kesini sendirian?"
"Tidak, aku pergi bersama temanku"
"Temanmu? Tidak ada siapa-siapa disini selain kamu"
"E…eh…souka. Mungkin dia sudah pulang"
"Sayang sekali temanmu sudah pulang. Sepertinya ini pertama kali bagi paman, mendengarmu memiliki teman. Baguslah, kamu sudah bisa bergaul" katanya sambil menepuk-nepuk kepalaku pelan
Ketika menengok kebelakang, aku bisa melihat Erza sedang berada dibelakangku, mendengarkan percakapan kami berduua hingga selesai. Aneh…apa mungkin hanya aku yang bisa melihatnya? Paman menatap heran kerarahku, segera kuhapus pemikiran itu dari dalam otak.
"A…aku mau melihat-lihat sebentar"
"Baiklah, tapi jangan pulang malam-malam ya"
"Oh iya! Petiklah beberapa bunga matahari dari kebun untuk temanmu itu" lanjutnya
Aku hanya menganggukan kepala pelan dan pergi menyelusuri jalan. Saat itu Erza berjalan disebelahku, kami berkeliling di sekitar kebun dan kemudian aku memetik beberapa tangkai bunga matahari untuk diberikan kepadanya. Setelah selesai memetik, kuserahkan bunga tersebut padanya, kemudian aku baru menyadari jika Erza menunjukkan raut wajah yang terkesan aneh.
"Apa kakak tidak penasaran, mengapa pamanmu tidak bisa melihatku?" tanya Erza
"Terkadang lebih baik untuk tidak bertanya, lagipula…"
"Lagipula apa?" ucapnya cepat memotong perkataanku
"Yang paling penting, kita bisa bersama-sama sekarang. Misteri tersebut lebih baik disimpan untuk akhir dari hubungan ini"
"Apa begini baik?"
"Ya, aku sudah memikirkannya dengan matang" ucapku mantap yang dibalas oleh senyuman dari Erza
"Aku sudah selesai memetik. Simpanlah bunga ini, sebagai tanda persahabatan dariku"
"Em…terima kasih"
Selesai berkeliling, aku mengajak Erza pergi ke sebuah tempat, bagiku tempat itu sangat istimewa apalagi hari ini aku datang bersama Erza. Impianku adalah bisa pergi ke tempat itu bersama teman pertamaku, syukurlah sekarang impian itu tercapai. Kami sampai di tempat itu ketika matahari sudah terbenam total.
"Jadi, ini tempat yang kakak maksud?"
"Ya, indah bukan?"
Terdengar suara aliran air yang berasal dari sungai, suara angin dan juga pepohonan. Aku mengajaknya untuk duduk di pinggir sungai sambil memandang langit malam yang dipenuhi oleh bintang.
"Aku menemukan tempat ini secara tidak sengaja dan apa kamu tau perasaanku saat menemukan tempat ini?"
"Memang apa?"
"Aku merasa tempat ini bagaikan surga, ya itu berlebihan sekali bukan…?"
"Menurutku tidak. Tempat ini memang terlihat seperti itu. Air yang jernih, pohon-pohon yang rindang, angin semilir yang lembut, dan juga tempat ini sangat tenang. Siapapun yang pergi kesini pasti merasakan hal itu juga. Aku sangat menyukai tempat ini, terima kasih sudah mengajakku, aku senang"
Mendadak aku menjadi salah tingkah, wajah langsung menunjukkan semburat merah saat melihat senyum yang terukir diwajahnya, entah mengapa sepertinya cahaya dari bulan membuat senyum itu semakin indah. Ini tidak seperti diriku yang biasanya. Sebuah cahya kini berada disekeliling kami, bukankah ini kunang-kunang? Cahaya yang mereka pancarkan membuat suasana hatiku lebih tenang, tetapi tidak dengan Erza, lagi-lagi ekspresi aneh itu muncul.
"Kak, jika aku ini hanya bayangan, apa pendapatmu?"
"A-apa maksudmu? Aku tidak mengerti"
"Gomen, aku tidak tau bagaimana cara mengatakannya, mungkin ini terlalu mendadak. Kutanya sekali lagi, jika aku hanya bayangan, apa pendapat kakak?"
"Bu…bukankah sudah kubilang, aku tidak mengerti"
"Meski kakak tidak mengerti, kumohon katakan sesuatu!" pintanya setengah berteriak yang memecah keheningan malam
Perasaanku yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi campur aduk, antara bingung dan takut. Apa pertanyaannya barusan memiliki maksud tertentu? Aku mencoba untuk berpikir secara rasional, tetapi tetap saja hal ini di luar akal sehat. Mana mungkin sekarang aku mengobrol dengan bayangan?
"Tidak…tidak bisa…aku tidak bisa mengatakan apapun" ucapku sambil menahan air mata
"Apa sekarang kakak mengerti?"
"Mengerti? Mengerti tentang apa? Aku tidak mengerti apapun! Yang kutau sekarang kita sedang bersama dan mengobrol. Bukankah itu lebih dari cukup? Aku harus mengerti tentang apa? APA?!"
"Hal ini memang berat, akan tetapi aku hanyalah bayangan yang terbentuk dari mimpimu"
"Apa maksudmu? Kamu itu nyata, bukan…?"
"Aku hanyalah bayangan. Segala hal yang kita lakukan hari ini adalah bagian dari mimpimu. Aku terbentuk dari mimpimu kak…" jelasnya
Mendengar penjelasan dari Erza membuatku terdiam seribu bahasa. Aku benci mengakui hal ini, perlahan-lahan aku mulai mengerti apa maksud dari perkataan Erza. Yang dikatakannya tadi memanglah benar, kegiatan yang kita lakukan hari ini adalah salah satu dari banyaknya mimpi yang kupunya, yang ingin kuwujudkan hanya bersamanya.
"Apa yang harus kulakukan? Aku harus sedih atau senang?" tanyaku gemetar
"…."
"A…aku senang menghabiskan waktu bersamamu, tetapi mengapa malah air mata yang keluar? Kenapa bukan senyum yang mengembang?" tanyaku sambil mengusapnya berkali-kali
Secara tiba-tiba, Erza memelukku dari samping kanan. Aku memegang tangannya erat-erat, berharap ia tidak akan pergi dari sisiku, aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi, tetapi aku sadar, mungkin ini terakhir kalinya aku bisa merasakan pelukannya, bisa melihat senyum yang tergambar diwajahnya. Kesempatan terakhirku, bersamanya….
"Terima kasih untuk hari ini, kak" ucapnya pelan
"Baka! Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Tanpamu hari ini, hanya kehampaanlah yang kurasakan"
"Kakak terlalu berlebihan…"
"Berlebihan dari mananya? Hal yang kukatakan tidak salah bukan? Aku serius! Aku…aku…" ucapku terisak-isak
"Ini saatnya kita berpisah, tersenyumlah" Erza mengatakannya sambil mengelus pipiku pelan
"Setidaknya, biarkan aku memelukmu untuk terakhir kalinya"
"Tidak ingin mengucapkan sampai jumpa?" tanyanya
"Untuk apa? Jika ada hari ini, maka ada hari esok dan esoknya lagi, pasti kita bisa bertemu lagi"
"Kenapa kakak sangat yakin?"
"Karena aku percaya pada keajaiban"
"Ya…aku percaya kita pasti bisa bertemu kembali, meski tidak terjadi keajaiban sekalipun, suatu hari nanti…"
"Benar, suatu hari nanti…"
Setelah itu, Erza menghilang bagaikan ditelan cahaya, ia menghilang dalam pelukanku, pergi tanpa meninggalkan jejak. Apa aku bisa melihatnya kembali? Ketika sedang termangu, paman datang untuk menjemputku, rupanya aku sudah cukup lama berada di sini.
"Sekarang sudah malam, ayo pulang" ajaknya
"…." hanya menganggukan kepala
"Kau terlihat murung, bukankah ini tempat kesukaanmu?" tanya pamanku sambil memandangi kunang-kunang
"Ya, memang dan sampai kapanpun ini akan menjadi tempat kesukaanku"
"Lalu kenapa murung?"
"Aku tidak murung, justru hari ini adalah hari yang paling membahagiakan yang pernah terlewati"
Terlihat jelas dari raut wajahnya jika paman sama sekali tidak mengerti ucapanku. Kami berdua pun pergi menyelusuri jalan setapak dan sampai di rumah dengan selamat. Tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu, ay iya! Bunga mataharinya ketinggalan!
"Bunga mataharinya ketinggalan ya?" tanya pamanku
"A…ah, iya…"
"Dasar…tetapi tenang saja, paman masih memiliki beberapa tangkai dari hasil panen kemarin"
"Apa tidak apa-apa?"
"Ya, lagipula paman sudah menduga jika hal ini akan tejadi"
"Besok aku mau pulang, sekalian ingin mengunjungi temanku"
"Cepat sekali, tidak ingin menemuinya saat masuk sekolah nanti?"
"Tidak, aku ingin segera bertemu dengannya"
"Baiklah, paman mengerti. Ayo makan malam"
Malam itu kuhabiskan berdua dengan paman. Kehidupan di desa sangatlah damai, apalagi liburan musim panas tahun ini aku pergi ke desa bersama Erza dan mengakhiri liburan musim panas juga bersamanya. Aku berjanji tidak akan pernah melupakan hari ini, sampai kapanpun…
Keesokan harinya…
Kami berangkat meninggalkan desa sekitar jam sembilan pagi. Saat itu jalanan masih sepi sehingga tak terasa sudah sampai di kota. Sepertinya jarak yang harus ditempuh masih jauh.
"Rumah temanmu di mana?"
"Belok kiri, terus lurus"
"Setelah itu?"
"Lurus lagi dan belok kanan"
Untuk sesaat paman sempat mengernyitkan dahi, sudah kuduga dia pasti merasa heran. Ketika sampai, aku turun dari mobil dan berlari menuju makan Erza, pamanku berjalan dibelakangku dan saat aku berhenti dia juga ikut berhenti.
"Memang temanmu berada di kuburan?" tanya pamanku bertambah heran
"Ya, lebuh tepatnya berada di dalam sini" ucapku sambil menunjuk tanah
"Maksudmu, temanmu itu sudah…"
"Dia sudah meninggal" ucapku cepat
"Jadi maksud perkataanmu kemarin itu, dia sudah pulang ke surga?"
"Namanya Erza, kami bertemu ketika dia sedang menangis dibalik tirai. Meski persahabatan kami singkat, dia adalah seseorang yang paling berharga dalam hidupku"
Paman hanya terdiam seribu bahasa mendengar ucapanku barusan. Selesai bercerita, kuletakkan bunga matahari tersebut di atas tanah dan kemudian berdoa, aku pun masuk kedalam mobil dan duduk terdiam di sana. Saat mobil melintasi jalan, sesaat aku sempat melihat bayangan Erza yang tak lama kemudian menghilang, apa aku berhalusinasi?
"Ada apa?"
"Ti…tidak. Paman fokus saja menyetir"
Mendadak aku mengerti akan suatu hal. Pertemuanku dengan Erza, sehari yang kami lewati bersama, perpisahan yang terjadi di antara kami berdua, ya…kejadian ini memang memiliki makna tersirat yang baru kusadari sekarang.
"Bodoh…bagaimana bisa aku melupakannya?"
"Melupakan PRmu?"
"Bu…bukan apa-apa"
"Kamu menjadi aneh sekarang"
"Bukankah selama ini Erza selalu berada disisiku? Pertemuanku dengannya kemarin adalah bukti yang paling konkret. Bagaimana bisa aku tidak menyadari hal ini? Dia selalu hidup disampingku, mengawasi dan menemaniku sampai kapanpun" ucapku dalam hati
"Terima kasih sudah membuatku mengerti, Erza…"
Tamat
A/N : Akhirnya tamat juga :v Bagus gak? Kalau jelek gomen yah, aku hanya berusaha sebisa mungkin. RnR please?
