Langit berwarna biru tua, sebenarnya lebih cenderung ke warna biru kehitaman, seolah mengatakan bahwa langit sedang tak bersahabat dengan keinginan manusia yang menginginkan langit malam cerah, dipenuhi bintang. Angin juga bersikap sama dengan langit, bertiup cukup kencang jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya dimana angin bertiup pelan. Setidaknya keluar malam dengan baju tipis bukanlah opsi terbaik karena angin akan segera menusuk rusuk. Lalu, butiran salju yang kedatangannya ditunggu selama setahun oleh manusia, turun dengan lebat ke muka bumi, menjadikan suasana semakin dingin.

Ya, singkat cerita cuaca memang sedang tak berbaik hati dengan keinginan manusia.

Dan di sebuah gang yang berada di antara ketinggian gedung yang menjulang tinggi menuju langit, seorang gadis terisak histeris. Rambut ungu tuanya berantakan dikaburkan oleh angin malam, mukanya perpaduan antara ketakutan dan kesedihan, tangan kirinya menggenggam erat sebuah kalung yang melekat di lehernya, dan tangan kanannya berusaha membangunkan seorang pria yang tengah tidur di pangkuannya. Pria yang berlumuran darah.

Darah? Ya, cairan yang berwarna merah pekat berbau amis itu.

"Kaien nii, kumohon bangunlah!!! Kumohon, Kaien nii…" ia berteriak histeris, sedikit mengguncang tubuh yang mulai kaku itu, sebelum akhirnya hanya kegelapan yang ia lihat.


Dark and Snow

Chapter 2

Author: Shizuka Daihyooga yang udah menghilang selama hampir setahun. Masih ada yang ingat?

Disclaimer: Sayang, saya belom bisa merebut hak kepemilikan Bleach dari Om Tite Kubo. Kalo saya punya Bleach, yang akan saya lakukan adalah menghidupkan kembali Kaien Shiba dari kubur. Hahaha…

Genre: Romance

Rating: T aja deh. Saya belum berminat untuk mengubahnya ke rate M.

Pairing: Crack Pairing. Untuk sementara, KaienXRuki. Saya hanya sedikit bosan dengan pairing IchiXRuki (bukan berarti saya membencinya karena bagi saya pairing itu is the best). Saya hanya ingin membuat fict dengan pairing nyeleneh. KaienXRuki contohnya. Yah, sebenarnya saya lebih suka jika mereka dilahirkan sebagai kakak beradik. Lebih manis.

Warning: AU, OOC maybe?, crack pairing, boring, lebay, dan lain-lain. Resiko tanggung sendiri.


Sedikit semi sedikit sinar matahari mulai keluar dari peraduannya, memberikan sinar hangatnya ke permukaan Bumi yang kini dipenuhi salju. Salju mulai mencair, tapi bukan berarti musim dingin sudah hampir berakhir dan digantikan oleh musim semi. Boleh saja pagi hari cerah, tapi menjelang siang bahkan malam cuaca akan beralih dengan sangat cepat. Langit yang semula berwarna biru cerah berganti dengan warna gelap yang siap meniupkan badai. Perubahan cuaca saat ini memang tidak bisa diprediksikan, bahkan ramalan cuaca pun sering meleset. Apa ini salah satu pengaruh dari pemanasan global?

Ah, daripada meributkan masalah pemanasan global atau nama kerennya global warming yang sangat panjang baik cerita maupun penyelesaiannya, lebih baik lihatlah ke sebuah mansion yang berada di pinggir kota. Mansion yang berdiri di atas lahan yang berukuran 5 hektar, sangat luas memang. Mansion yang saat ini mendapatkan sinar hangat matahari dengan sempurna. Hijaunya pepohonan, jernihnya air yang berada di kolam, juga teras-teras yang terbuat dari kayu yang dapat berpadu apik dengan sinar matahari.

Jika kita melihat lebih jauh ke dalam mansion, kita akan melihat seorang lelaki muda berusia 25tahunan, berwajah rupawan, berambut hitam cukup panjang dengan hiasan rambut yang berbentuk seperti roll, dan mengenakan kimono yang sewarna dengan rambutnya dengan obi kontras berwarna putih berjalan tenang melewati teras rumahnya. Kemudian langkahnya terhenti di depan pintu sebuah kamar. Ia mengetuk pelan pintu kamar tersebut.

"Rukia? Apa kau sudah bangun?" tanya pria itu.

Tak ada jawaban dari seseorang yang dipanggil Rukia itu. Pria itu kemudian menggeser pintu kamar itu pelan, melangkahkan kaki ke dalamnya. Ia melihat seorang gadis berpandangan kosong yang berada di pinggir jendela. Ia merunduk ke bawah, tangannya membelai lembut rambut si gadis. "Rukia, hari ini ada terapi. Kau siap-siap ya?" ucapnya lembut.

Hanya anggukan kecil sebagai balasannya. Tak ada satu pun kata yang keluar dari bibir gadis yang bernama Rukia itu. Pandangannya tetap kosong, tak sekali pun bergerak untuk menatap wajah kakaknya.

Pria yang bernama Byakuya itu menatap Rukia dengan sedih. Seandainya waktu bisa berputar, ia ingin menukar hidupnya dengan hidup laki-laki yang membuat adiknya depresi. Karena hanya dialah yang bisa membuat adiknya tertawa. Dan untuk itu ia rela menukar nyawanya karena senyum adiknya jauh lebih berharga dari dirinya sendiri.


Seorang wanita jangkung berada di hadapan gadis berambut ungu yang memandangnya dengan tatapan kosong. Wanita itu memandang gadis itu dengan lembut, tak menyerah untuk membuatnya berbicara lagi. Ia tahu kasus yang dihadapinya kali ini sedikit berbeda dimana pasiennya sudah tidak berbicara selama hampir setahun, tatapan kosong, sama sekali tak memiliki aura kehidupan. Persis mayat hidup memang. Bahkan psikiater-psikiater yang menangani sang gadis sebelum dirinya sudah menyerah semua, tapi ia tetap memegang teguh prinsipnya bahwa tak ada yang tak mungkin untuk terjadi di dunia ini. Pasti ada kemungkinan, sekecil apapun kemungkinan gadis ini mau berbicara. Dan tugasnya adalah membuat kemungkinan yang kecil itu menjadi besar. Agar gadis ini kembali ke kehidupan normalnya.


"Kau terlalu mengkhawatirkannya, Byakuya," kata seorang wanita berambut hitam dengan kepangan panjang.

Byakuya menoleh ke arah suara itu. "Retsu…"

"Rukia pasti baik-baik saja. Isane psikiater yang berbakat. Aku yakin Rukia pasti bisa sembuh dan kembali seperti dulu lagi."

"Sudah setahun berlalu sejak kejadian itu, Retsu. Dan kondisi Rukia semakin hari semakin memburuk. Dia seperti mayat hidup." Byakuya menghela napas panjang, tatapannya sendu.

Retsu Unohana tersenyum kecil. "Apa kau ingin bilang tak ada kemungkinan bagi Rukia untuk sembuh?"

Byakuya menengadahkan wajahnya ke langit-langit rumah sakit. " Aku tidak bilang seperti itu… Tapi kau tahu kan berapa banyak psikiater yang menyerah untuk menanganinya?"

Retsu menepuk punggung Byakuya pelan. "Byakuya, kau harus percaya bahwa ada kemungkinan Rukia untuk sembuh. Sekecil apapun itu kau harus percaya. Bukankah dulu kau sendiri yang ngotot untuk menyembuhkan Rukia sementara para tetua Kuchiki menyuruhmu untuk menaruh Rukia di Rumah Sakit Jiwa?"

Byakuya menatap Retsu lembut, kali ini dengan sedikit tersenyum. "Aku tahu… Maafkan aku…"


FLASHBACK


Byakuya berjalan mondar-mandir di depan pintu rumahnya. Wajahnya suntuk bercampur cemas. Para pelayan keluarga Kuchiki tak berani untuk menegur tuan mereka. Sudah menjadi rahasia umum diantara para pelayan tentang seberapa protektifnya Byakuya terhadap adik, lebih tepatnya adik ipar kesayangannya. Jika ingin pekerjaan para pelayan itu selamat atau tidak dipecat dengan tidak terhormat, lebih baik diam karena Byakuya paling tidak suka jika ada seseorang tak peduli siapa pun statusnya ikut campur dalam urusannya dengan Rukia.

Oke, kembali ke Byakuya. Kecemasannya tentu saja beralasan. Langit mendung dengan salju turun dengan lebat, angin bertiup kencang, dan adiknya belum pulang ke rumah??? Lagipula ini sudah jam 11 malam, bagaimana bisa adik kesayangannya itu belum pulang ke rumah??? Rukia tidak pernah pulang selarut ini, kalau pun pulang larut ia pasti bilang dulu, sehingga Byakuya bisa menjemputnya. Tapi kali ini?

Sulit untuk mengusir pikiran-pikiran buruk yang mungkin terjadi pada adiknya. Bagaimana pun juga ini pertama kalinya adiknya lepas dari pengawalannya. Seharusnya tadi saat Rukia pergi ia suruh beberapa pelayannya untuk membututi Rukia dari belakang. Ia merasa sangat menyesal.

"Tuan, ada telpon untuk tuan…" suara seorang pelayan wanita tua membuyarkan bayangannya.

"Hn," tanpa berkata panjang ia raih telepon dari tangan si pelayan. "Hallo."

"Apa benar ini dengan Kepala Keluarga Kuchiki?" dari seberang terdengar suara berat seorang lelaki.

Deg! Kami-sama, kumohon! Semoga Rukia baik-baik saja! Kumohon! "Ya, ini siapa?"

"Saya Kenichi Makoto dari kepolisian Tokyo. Saya harap Kuchiki-sama untuk segera ke Rumah Sakit Tokyo."

Rumah sakit? Debar jantungnya semakin tak menentu. Firasatnya buruk. "Maaf, apa yang Anda bicarakan?"

"Rukia Kuchiki adik Anda, bukan?"

"Ya, ada apa dengan adik saya?"

"Adik anda…"


Byakuya segera bergegas mengendarai Porsche hitamnya menuju Rumah Sakit Tokyo. Firasat buruknya jadi kenyataan. Ucapan polisi itu masih terbayang di benaknya.

"Adik Anda dan seorang temannya menjadi korban salah sasaran dari tawuran antar geng yang terjadi di Shibuya. Kondisi teman adik Anda tak bisa diselamatkan, sementara adik Anda pingsan. Sampai sekarang belum sadar…"

Ia sudah tak menghitung lagi berapa banyak orang di rumah sakit yang ia tabrak. Yang ingin ia lakukan hanyalah segera bertemu dengan Rukia. Bagaimana pun kondisinya.

Rukia masih tak sadarkan diri saat Byakuya memasuki kamar tempat Rukia dirawat. Byakuya menyentuh lembut wajah Rukia yang tertidur, sangat lembut karena ia takut akan menyakiti adiknya.

"Kenapa harus kau, Rukia?"


Seminggu. Tujuh hari.

Selama itu Rukia belum terbangun dari tidurnya dan selama itu pula rumah sakit telah menjadi rumah kedua bagi Byakuya Kuchiki. Pria itu belum kembali ke rumahnya semenjak ia pergi saat kabar buruk itu menghampirinya, belum kembali bekerja menjalankan perusahaan keluarganya. Ia ingin berada di samping Rukia. Ingin saat pertama kali Rukia membuka matanya, gadis itu melihatnya. Ingin mendengarnya bersuara karena suaranya menyenangkan, membuat hatinya tenang.

Ia meninggalkan Rukia hanya saat ia harus menghadiri pemakaman Kaien Shiba, orang yang meninggal saat insiden berdarah itu terjadi. Saat itu, Byakuya hanya tidak menyangka keluarga Shiba tidak menyalahkan Rukia atas meninggalnya Kaien. Bukankah biasanya manusia mencari pelampiasan dengan menyalahkan orang lain? Bahkan mereka mengatakan mereka berdoa untuk kesembuhan Rukia. Manusia memang tidak bisa ditebak, bukan?

Kaien Shiba… Ia berusaha mengingat wajah itu. Wajah penuh semangat, jujur, dan bukan lelaki brengsek yang biasanya mendekati adiknya hanya karena harta. Byakuya tahu Rukia menyukainya. Ia bisa melihatnya dengan melihat tatapan mata adiknya yang berbinar saat memandang pria itu. Byakuya juga tahu Kaien juga menyukai adiknya. Tatapan mata mereka sama, dapat dibaca dengan mudah. Meski ia yakin keduanya tidak menyadari perasaan yang lain, mereka kan bebal.

Selama ini ia memang terkesan menghalangi hubungan mereka berdua karena ia ingin tahu seberapa seriusnya Kaien terhadap Rukia. Menguji apakah ia hanya berniat main-main pada adiknya atau tidak. Dan Kaien telah memenuhi kriterianya. Kriteria lelaki yang pantas untuk berada di samping adiknya.

Tapi, kenapa begini jadinya?

Kalau ia tahu seperti ini akhirnya, ia pasti akan 100 kali lipat lebih protektif terhadap Rukia. Menghalangi adiknya bertemu dengan Kaien, mengirim pengawal untuk mengawasi Rukia karena bukankah dengan begitu Rukia tak akan tersakiti seperti sekarang?

Lamunannya buyar.

Ia rasakan tangan Rukia yang ia genggam bergerak. Pandangannya terfokus pada Rukia. Mata ungu gadis itu sedikit demi sedikit mulai terbuka.

"Rukia, kau baik-baik saja?" tanya Byakuya lembut, membelai rambutnya.

Tak ada jawaban dari Rukia. Mata ungunya memang terbuka, tapi tak ada cahaya kehidupan di dalamnya. Pandangannya kosong, hampa.

Detik itu, Byakuya tahu bahwa Rukia mungkin tak akan menjadi Rukia yang ia kenal lagi.


Seminggu kemudian, Rukia dinyatakan sembuh dan diijinkan pulang dari rumah sakit. Setidaknya sembuh secara fisik, tapi secara mental harus menjalani beberapa terapi. Kenapa harus dilakukan terapi? Karena semenjak Rukia bangun dari tidurnya, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya, wajahnya kosong, tanpa ekspresi. Kata dokter Unohana yang merawatnya, hal itu disebabkan oleh guncangan hebat yang melandanya, yang menjadikannya seperti mayat hidup.

Perubahan cuaca yang ekstrim dimana salju turun dengan lebat, langit menunjukkan gejolak yang biasanya tak disukai oleh manusia-badai-, dan angin yang siap untuk menusuk rusuk tulang manusia menyambut kedatangan Nona Rukia Kuchiki kembali ke kediaman Kuchiki.

Yang pertama keluar dari Porsche hitam seharga puluhan juta yen itu adalah Byakuya. Kemudian lelaki itu membuka pintu mobil untuk adiknya, membimbingnya untuk keluar dari mobil.

"Kau bisa jalan sendiri, Rukia?"

Hanya anggukan lemah sebagai jawabannya.

Mata ungu Rukia memandang langit hitam yang tengah menghiasi Bumi. Perlahan pandangan matanya berubah. Tidak lagi pandangan kosong yang hari-hari ini menghiasi wajahnya, melainkan raut wajah ketakutan. Sangat ketakutan apalagi ketika butiran salju menggapai telapak tangannnya yang mungil.

Byakuya menghentikan langkahnya. Ia mendengar pekik ketakutan Rukia yang berjalan di belakangnya. Ia segera berlari mendekati Rukia. Kondisi gadis itu tiba-tiba histeris, memegangi kepalanya, sangat labil dan rapuh.

"Rukia…" Byakuya menyentuh punggung Rukia, berusaha menenangkannya.

Yang ada adalah Rukia semakin histeris, ketakutan, dan akhirnya ia menangis. "Nii-sama… Aku takut salju…"


Bagi Keluarga Kuchiki, kesempurnaan adalah segalanya. Baik dinilai dari segi tampang, kecerdasan, ketenangan diri, dan segalanya. Tak ada sejarah seorang Kuchiki mengalami depresi berat. Kalau pun ada, orang itu pasti sudah dibuang ke tempat sampah karena itu akan merusak kesempurnaan yang sudah tertanam dalam diri Kuchiki sejak generasi pertama.

Kasus yang terjadi pada Rukia menimbulkan ketegangan antara para tetua Kuchiki yang terkenal kolot dan Byakuya Kuchiki yang notabene kepala keluarga Kuchiki.

"Byakuya, kami tidak peduli betapa sayangnya kau pada gadis itu, tapi kau harus ingat. Gadis itu telah menorehkan hitam dalam sejarah Kuchiki…"

Byakuya memotong pembicaraan salah seorang tetua. "Aku yang akan bertanggung jawab dengan ini semua."

"Untuk saat ini kau masih bisa berkata demikian, tapi bagaimana kalau orang luar mengetahui tentang kondisi Rukia? Bagaimana dengan image Kuchiki di mata masyarakat?"

"Jadi kalian ingin mengatakan bahwa sebaiknya Rukia keluar dari Kuchiki?" Byakuya menajamkan pandangannya pada tetua Kuchiki.

"Kami tidak mengatakan demikian. Opsi terbaik untuk kasus Rukia adalah menaruhnya di Rumah Sakit Jiwa…"

"Rukia tidak gila!!!" ujar Byakuya keras. Kurang ajar sekali mereka berani mengatakan adiknya gila! Rukia hanya sedikit tertekan, tapi itu bukan berarti gila! Orang yang berani mengatakan hal seperti itu sama saja dengan meludahi dirinya!

"Byakuya… Sampai kapan kau akan mengatakan bahwa Rukia tidak gila? Sudah jelas bahwa mental gadis itu terganggu…"

BRAKK!!! Byakuya memukul meja keras dan mendesis, "Hentikan kata-kata kalian!" Kemudian pria itu berjalan menjauhi ruangan sambil berkata, "Kalau kalian berani membawa Rukia ke Rumah Sakit Jiwa, maka detik itu aku akan keluar dari Keluarga Kuchiki!"

Skak mat! Tak ada yang berani membantah ucapan Byakuya sekarang, karena seandainya Byakuya benar-benar keluar dari Kuchiki, maka bisa dipastikan kejayaan Kuchiki hanya tinggal kenangan indah.


Rukia sedang tertidur ketika Byakuya mengunjungi kamarnya, melihat apakah Rukia baik-baik saja. Ia memandang wajah tenang gadis itu, mengingat memori saat insiden itu belum terjadi. Adiknya memang bukan tipe gadis ceria yang mudah mengungkapkan segala sesuatunya dengan mudah. Tapi saat Rukia tersenyum, maka segalanya akan menjadi indah. Sangat mirip dengan almarhumah istrinya, tapi aura yang dipancarkan Rukia lebih menyenangkan dan menenangkan.

Byakuya membelai rambut Rukia lembut, sangat lembut karena ia takut Rukia akan terbangun karenanya. "Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu kembali menjadi Rukia yang dulu… Aku janji, Hisana…"


FLASHBACK END


Di sebuah tempat yang berada ribuan kilometer dari tempat terapi Rukia…

"Kenapa kau datang ke sini?" ucap seorang pria muda dengan nada tidak suka.

"Apa aku salah menjemput putraku yang baru saja menyelesaikan tahap terapinya? Aku sudah memesan tiket pulang ke Jepang lho!" balas pria paruh baya dengan sedikit bercanda.

"Terserahlah!"


Pojok curhat author:

Saya minta maaf udah lama banget menghiatuskan fict ini. Udah hampir setahun ya? Salahkan saja segala jenis ujian dan tugas kuliah yang membuat mood menulis saya hilang entah kemana!!! Karena udah lama ga nulis, jujur aja, saya lupa dengan gaya menulis saya yang dulu. Saya tahu, tulisan saya kali ini pasti banyak salahnya. Boring banget kan?

Pairing yang ada untuk sementara memang KaienXRuki, tapi kenapa saya ngrasa di chapter ini hint ByakuXRuki kerasa banget ya? Ada yang merasa demikian juga? Detail tentang kematian Kaien Shiba sengaja belum saya ungkapkan. Kenapa? Karena hanya Rukia yang tahu dan saat ini dia masih 'tertidur'. Tunggu aja!

Oke, singkat cerita, ga perlu banyak basa-basi, minta reviewnya ya? Kalo bisa kritik yang membangun, agar penulisan saya semakin berkembang.

Thanks for read and review. ^^

Regards,

Shizuka Daihyooga