Clarity

Mereka bertemu di ruang badan konseling, dengan tujuan yang berbeda. "Kim Taehyung, ingin menguasai dunia." / "Park Jimin, ingin menguasaimu. Kalau bisa." A BTS Fanfiction. VMIN. Kim Taehyung x Park Jimin.

.

.

BANGTANSONYEONDAN belong to BIGHIT ENTERTAINMENT

WARNING!

Typo(s), Mature Content (language, alcohol, sex, etc), AU, OOC, and etc.

PAIR

Kim Taehyung x Park Jimin

.

.

ENJOY

.

.

CHAPTER 2 : Who Are You?

.

.

Taehyung tak habis pikir Ia dilepaskan begitu saja setelah menjanjikan satu botol vodka kepada komisi kedisiplinan aneh itu. Ia benar-benar baru pertama kali melihatnya—atau memang Taehyung yang tak pernah mempedulikan sekitar.

Ia berjalan ke atap sekolah, menatap langit yang sudah mulai menguning dan hawanya mulai dingin. Ia mengeluarkan satu batang rokok dari saku seragamnya, menyalakan pematik api dan mengisapnya dalam-dalam sebelum menghembusnya lembut ke udara.

"Kukira kau tertangkap dan dijadikan tumbal untuk membersihkan kotoran orang."

Taehyung menoleh dan mendapati kawan satu genk-nya berjalan santai mendekati sambil melempar ponsel berlogo buah apel yang telah digigit ke tangan Taehyung. "Kau meninggalkannya di markas."

"Yo, terimakasih." Taehyung mendudukan dirinya di lantai beton, bertumpu pada kedua tangannya untuk bersandar pada angin sementara dua jarinya masih menggamit sebatang nikotin yang masih menyala.

Ada ribuan cabang yang masing-masing bercabang kembali tengah menjalar menumbuhi otak Taehyung, ada begitu banyak pertanyaan tak terjawab maupun retoris masih menulis rapi di pikirannya, membuat puluhan spekulasi sementara tentang seluruh tanda tanyanya soal kejadian hari ini.

"Jadi, bagaimana caranya kau selamat?" Sungjae duduk di samping Taehyung, ikut memandang luasnya langit yang tingkat kebiruannya mulai memudar. Ada difraksi dari cahaya matahari yang membuat seluruh benda di sana pun seolah berwarna jingga.

"Entahlah, aku juga tak mengerti." Taehyung kembali memikirkan dirinya dan Jimin di ruang badan konseling tadi, mencari beberapa benang-benang petunjuk untuk membuatnya mengerti apa isi kepala Park Jimin sebenarnya. "Kau kenal Park Jimin?"

"Tentu, dia orang pertama yang paling terkenal. Nomor duanya kau. Nomor tiganya aku." Sungjae mengeluarkan satu bungkus rokok dari saku celananya, mengambil sebatang dan menjepitnya di antara dua bibir tebalnya. Rasa manis sudah menguar di bibirnya meski Ia belum menyulut puntungnya dengan api.

"Aku tak peduli soal peringkat siapa yang paling terkenal." Taehyung mengoper pematik apinya pada Sungjae dan ditangkap dengan baik oleh si penerima.

"Oke baiklah, dia anggota komisi kedisiplinan. Betul?"

"Ya, aku bertemu dengannya tadi."

Sungjae melirik ke arah Taehyung sambil menyalakan pematiknya, mendapati fakta bahwa yang mengurusi catatan buruk Taehyung adalah seorang Park Jimin.

"Katakan padaku tentang Park Jimin. Aku ingin semua fakta terkecilnya."

.

.

Park Jimin, kelas 2-1, peringkat pertama sekolah dengan nilai hampir sempurna di setiap sudut pelajarannya. Selalu bersaing dengan Jeon Jungkook untuk menempati puncak teratas gunung ujian semester. Lahir dari keluarga berada, desas-desus bilang ayahnya pemilik yayasan sekolah sehingga namanya begitu bersih dari satu coret kasus buruk pun di sekolah.

Terampil dalam bidang olahraga, seni dan sains. Medali emas olimpiadi kimia, anggota terbaik klub dance dan pemain tetap dalam tiap pertandingan klub boxing sekolah. Ada banyak wanita yang menyatakan cinta namun Park Jimin hanya bermain-main dengan mereka. Selebihnya, Sungjae tak tahu apa-apa lagi soal Jimin.

Taehyung berjalan menendangi aspal jalanan untuk sampai ke apartemennya. Motornya rusak, bung. Salahkan serangan mendadak sekolah sebelah yang membuatnya harus banting setir dan menabrakan motor kesayangannya ke trotoar terdekat. Naik bus dan berjalan kaki dari halte akan menjadi kebiasaan barunya selama satu bulan kedepan.

Angin malam yang menerpa menembus kemeja tipis Taehyung, luka-luka di tubuhnya akibat beberapa hantaman tangan juga ikat pinggang lawannya belum sempat Ia sembuhkan. Ia masih berpikir kenapa Jimin melepasnya begitu saja, tanpa memberi syarat hukuman apapun kecuali satu botol alkohol. Apa Jimin begitu meremehkannya? Tentu saja, Taehyung bukan tandingannya. Meski di sisi lain Ia diuntungkan, Taehyung tetap merasa butuh penjelasan sepanjang dua lembar essay untuk pelepasan sukarelanya ini.

"Park Jimin, hmm."

Dan mulai detik itu, ada nama Park Jimin mulai mendaftar di susunan nama yang harus Taehyung ingat untuk jangka waktu yang lama.

.

.

Datang sebelum pukul delapan adalah hal yang menakjubkan bagi Taehyung, dan itu terjadi hari ini. Ia bangun begitu pagi dengan kepala yang berat dan mengambil bus kedua lalu sampai lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi. Ada satu dua decakan kagum dari teman sekelasnya karena mendapati Taehyung yang namanya menjadi top score terlambat, kini datang cukup pagi.

"Woah, Kim Taehyung, kesurupan setan macam apa datang sepagi ini?" Itu Jung Hoseok, teman sekelasnya yang cukup dekat dengannya. Selebihnya hanya sebatas kenal dan takut jika ditatap oleh Taehyung.

"Setan arwah nenekmu," Hosoek terkekeh sebentar mendapati jawaban tidak hangat dari Taehyung. "menyingkir, aku mau ke toilet."

Taehyung berjalan ke arah toilet pria terdekat, lalu mendapti postur tubuh yang begitu familiar dan masih segar di otaknya tengah berbincang asik dengan seorang guru. Dan dugaannya benar, itu Park Jimin. Jimin tertawa kecil lalu menawarkan diri untuk membantu mengangkut setumpuk kertas milik guru bahasa Korea yang sudah kolot, dan pergi berjalan beriringan bersamanya.

Berjalan begitu saja tanpa menghiraukan apapun lagi, Taehyung menyimpulkan bahwa Jimin memang benar adanya seorang teladan dan idola sekolah. Tapi perjalanan santainya ke toilet begitu terganggu saat ada teladan sekolah yang minta untuk ditraktir ke bar khusus orang berumur dua puluh tahun ke atas.

Ia mengedik bahu saat dipikir sangat tak bermanfaat untuk memikirkan hal demikian. Lalu berjalan dengan lancar ke toilet dan kembali ke kelas untuk tertidur di pelajaran sejarah dunia yang memuakkan.

.

.

"Sial kapan mulut brengseknya itu berhenti kumur-kumur di depan kelas." Taehyung bergerutu sambil mencoret-coret kasar buku catatannya, berdoa untuk petir tiba-tiba menyambar kepala botak guru kimianya dan membuatnya pingsan di tempat. Matanya berusaha untuk terus terbuka sementara alam bawah sadarnya sudah mencapai mimpi indah. Jika tidak untuk guru pembunuh bayarannya ini, Ia tidak akan rela menahan kantuk sampai sebegini susah.

"Kim Taehyung?"

"Ya?" Taehyung menjawab seadanya, menatap ke arah gurunya dengan wajah mengantuk seperti sloth.

"Bisa kau jawab pertanyaan nomor 2?"

Taehyung dengan gelagap membuka buku pembimbing kimianya dan mencari nomor juga halaman yang dimaksud dengan bantuan bisikkan kawan di sampingnya.

"Kau tidak memperhatikan penjelasanku sedari tadi, Tuan Kim?"

Taehyung memutar mata dan melempar bukunya asal, Ia sudah susah payah menahan kantuk agar tak ditarget guru itu tapi tetap saja Ia mendapat lemparan batu. "Ya, pelajaranmu membosankan. Aku jamin semua yang ada disini juga mengantuk sepertiku, tapi mereka dengan berbaik hati menahan kantuknya—"

Seluruh kelas menengok ke arah Taehyung saat Taehyung berucap dengan tanpa saringan sama sekali, mulutnya perlu dicuci untuk bisa menjaga nyawa satu kelas yang terancam.

"Apa yang kau katakan, Kim Taehyung?!" Guru Kim menyalak, telinganya memerah mendengar pernyataan Taehyung yang tentu saja amat sangat menyulut emosi bagi guru mana pun.

"Tidak ada, aku hanya ingin keluar." Taehyung bangkit dari kursinya, menciptakan bunyi derit bising yang bergema karena suasana kelas yang diam dan tegang. "Sampai jumpa."

Dan Taehyung keluar dari kelasnya tanpa suara gangguan apapun lagi, Taehyung dapat menebak Guru Kim sudah bosan untuk berteriak dan menyeret Taehyung untuk diceramahi panjang-panjang tanpa membuahkan hasil yang berguna.

Taehyung membuka ponselnya, mengetikkan kata ajakan membolos di grup percakapan dirinya dan kawan-kawannya. Tapi selama lima belas menit Ia berjalan tidak ada yang membaca pesannya. Ia juga tak bisa ke atap untuk membolos karena tangga disana tengah dalam perbaikan. Ia tak mau repot-repot mati karena membolos.

Ia berjalan mengitari sekolah sebelum sampai ke gudang penyimpanan bangku-bangku lama dan tak terpakai, alternatif terakhirnya untuk membolos selain atap sekolah dan unit kesahatan—ada banyak orang di unit kesehatan jadi Taehyung mengurungkan niatnya untuk pergi kesana.

"Permisi," kata Taehyung, sebenarnya tak diperlukan sapaan tersebut karena ruangan itu selalu kosong. Dan betapa terkejutnya Taehyung saat dua buah netranya menangkap sesosok manusia tengah duduk santai sambil menggamit rokok di bibirnya. "Oh, hai Taehyung-ah."

"Kau ... " Taehyung menatap orang itu, lalu melupakan ribuan pertanyaannya dan memilih berdiri di sudut lain ruangan setelah menutup pintu besi yang hampir berkarat itu. "Tuan komisi kedisplinan bolos juga, eh?"

Jimin tertawa kecil, menyembur asapnya ke arah Taehyung dan membuang abunya ke lantai yang terbuat dari semen. "Aku mendapat dispensasi untuk pelatihan olimpiade untuk satu hari penuh, dan sudah selesai lima menit lalu."

"Dan kau mendapat untung untuk tidak masuk kelas sampai pulang nanti, Shit. Kau begitu beruntung." Taehyung bersandar pada dinding, menikmati wangi mint rokok yang menguar dari asap yang dihembus Jimin.

"Betul sekali."

Taehyung tertawa kecil, menatap Jimin dengan begitu rendah sambil mengambil ponselnya untuk melihat beberapa berita di media sosialnya. "Kau tahu, kau itu begitu menjijikan."

"Wow, kau orang pertama yang menyebutkannya. Aku tersanjung." Jimin berdiri, lalu berdiri di hadapan Taehyung yang masih tak berpindah pandang dari ponselnya. "Biasanya mereka memanggilku tampan. Sebutkan tiga alasan kenapa aku menjijikan."

"Aku tak mau boros dengan tiga, aku hanya butuh satu." Taehyung, menjilat bibirnya yang terasa kering. Menatap mata Jimin seolah tengah beradu siapa yang lebih kuat tatapan tajamnya. "Kau begitu palsu, dan memuakkan."

"Ups, itu dua poin, Bung."

"Aku anggap itu satu, aku tak pandai berhitung dengan ucapan." Taehyung tersenyum miring, menyimpulkan beberapa kata yang akan dikeluarkannya untuk mencerca Jimin. Ia hanya begitu membenci pria ini sekarang, berbeda dengan saat pertama kali Ia bertemu dengan Jimin. "Aku tak suka dengan orang munafik sepertimu. Mencari perhatian dengan tabiat malaikatmu di depan banyak orang, dan menjadi iblis di belakang punggung mereka."

"Aku tidak pernah mengakui diriku malaikat, tapi karena kau mengakuinya, aku juga akan mengakuinya." Jimin tersenyum, menatap Taehyung dalam-dalam dan mencoba memenangkan pertempuran tanpa deklarasi yang Jimin tak tahu berasal dari percikan masalah yang mana. "Aku tidak membuat masalah denganmu, aku melepaskanmu dengan baik, apa kau punya masalah pribadi denganku sehingga berujar demikian?"

"Tidak, aku tidak punya masalah pribadi denganmu. Aku tak se-level dengan orang sepertimu, aku hanya rendahan. Sungguh." Taehyung melipat tangannya di belakang kepala, menggunakannya untuk bantalan agar tak terlalu keras saat belakang kepalanya bersandar pada tembok. "Tapi, melihatmu tadi pagi begitu menebar kebaikan dan melihatmu sekarang berbuat dosa di belakang, kurasa kau yang lebih rendah dariku."

"Jika merokok dan membolos adalah dosa, hidupmu juga demikian. Bung."

"Hidupku sudah delapan puluh persen dosa sejak dulu, dan aku tidak menutup-nutupinya seperti dirimu. Kau orang termunafik yang pernah aku temui." Taehyung tersenyum begitu bangga dengan huruf-huruf yang dikeluarkan dari mulutnya, memprovokasi Jimin dan membuatnya menatap dengan marah. "Aku yakin, bahkan orang tuamu tak tahu kau seperti ini. Teman satu kelasmu, sahabatmu—Oh apa kau punya hal semacam itu? Aku yakin tidak, karena dirimu terlalu tinggi untuk berpijak di tanah bersama orang lain. Teruslah terbang di langitmu sendirian."

Jimin menggapai kerah Taehyung, menariknya hingga hidung mereka hampir bersentuhan dan menatapnya tanpa ada kata ragu di pancarannya. "Tahu apa kau tentang aku?"

"Hmm, apa ya?" Taehyung memasang wajah berpikirnya dengan cara yang bagi Jimin begitu menyebalkan. "Kau anak kepala yayasan; selalu sendiri di kelas dengan tumpukan buku setebal buku telepon; anggota kedisplinan yang memakai tindik, merokok, membolos dan mengajakku ke bar; dan berlindung di segala kekuasaan yang kau miliki. Benar?"

Jimin menatap Taehyung dengan kobaran amarah yang membakar ujung kepalanya, jantungnya tak ingin berdegup pelan-pelan dan Ia ingin marah dengan ungkapan Taehyung meski sepenuhnya benar. Ia melepas cengkraman kerahnya, dan membuang tatapan ke arah lain. "Kau tidak tahu apa-apa tentangku."

Hanya ada segelintir orang yang benar-benar mengerti siapa itu Jimin, mengapa dia seperti itu, bagaimana kehidupannya, dan poin-poin lainnya yang khalayak tak tahu. Banyak yang ingin mendekati untuk sekedar mencari informasi, tapi Jimin akan selalu memberi tanda merah dan berlalu meninggalkannya.

Taehyung balas menarik kerah Jimin, sedikit mengangkatnya dan mencengkramnya teramat kuat tak ingin kalah dari Jimin barusan. "Bagaimana aku bisa tahu jika kau terus berada dibalik topeng kepalsuanmu itu, bajingan? Kau hanya perlu keluar dan menunjukkan wujudmu yang asli. Itu saja." Taehyung tersenyum, melepaskan kaitan jari di kerah Jimin dengan pelan dan memundurkan badannya. "Aku yakin hanya aku disini yang tahu seluruh tinta hitammu, dibalik kain putihmu yang bersih yang selalu kau kibarkan pada dunia."

"Aku tak sudi untuk bergabung dengan kobaran kain hitammu yang kotor dan kau banggakan, juga kau pamerkan tiap waktu." Jimin mendecih, Ia tak mau mengakui bahwa ucapan Taehyung benar—meski tiga dari sepuluh isinya omong kosong tapi Jimin tetap menanggapi hal itu benar adanya. Ia menghisap kembali rokoknya, lalu menyemburkan asapnya ke wajah Taehyung. "Aku lebih tua darimu, pastikan untuk tak berkata lancang padaku."

Taehyung mengibas tangannya untuk mengusir asap yang mengenai wajahnya, wangi mentol pekat bercampur aftershave menguar di hidungnya dan Ia bisa saja sesak napas. "Kita satu angkatan, kenapa masih memperdebatkan umur? Aku yakin aku hanya beberapa bulan lebih muda darimu jika kau berkata demikian." Taehyung tersenyum, "Lagipula, disini kau yang baby face dan tingginya pendek."

"Aku hanya berbeda mungkin satu atau tiga sentimeter darimu. Siapa yang kau panggil baby face? Wajah tampan dan manly seperty ini?"

Taehyung tertawa, amat sangat keras. Mendapati fakta bahwa Jimin begitu narsis dan fakta bahwa Jimin tengah mengalihkan pembicaraan serius awal mereka. "Dengar ya, aku tak peduli kalau kau manly atau girly sekalipun, yang terpenting aku tak suka saat topik pembicaraanku dialihkan."

"Aku juga tak suka dengan orang yang mengungkit-ungkit masalahku, urus saja masalahmu sendiri, sayang." Jimin meraih rambut Taehyung, menjambaknya dan membuatnya menengadah, mendengar ringisan kecil Taehyung dari mulutnya membuat Jimin tersenyum kecil. "Mari kita bahas topik yang lain sebelum kau k.o. di tanganku, oke?"

Taehyung melepas tangan Jimin kasar, mendapat tantangan begitu besar soal saling menghajar dan Taehyung tak ingin diam. Ia amat sangat ingin menghajar manusia di depannya sampai bercucur darah dan berlukis lebam di tubuhnya, tapi Ia juga masih sayang nyawa jika mengingat siapa Jimin dan seluruh silsilah keluarga juga pelindungnya yang samar.

"Sebenarnya kau yang akan berlabuh di nirvana lewat tanganku tapi ... baik, ganti topik." Taehyung merapikan seragamnya, juga rambutnya yang dengan lancang ditarik dan membuatnya sedikit messy. "Mari kita mulai dari topik basa-basi," Taehyung bergumam memikirkan beberapa bahasan basi yang biasa digunakan untuk bercakap dengan orang asing dikala bosan. "Apa kabarmu?"

"Kau orang sinting," Jimin memasukkan tangannya ke dalam saku celana bahan longgarnya setelah membuang rokoknya yang tinggal satu per empat. "Kau sudah berkata ini itu tanpa ingin tahu perasaanku, dan kini bertanya kabarku?"

"Tentu saja aku harus menanyakan kabar orang yang telah aku serang, kau baik-baik saja?" Taehyung memasang muka khawatirnya, berperan dengan sangat baik sampai rasanya Jimin ingin memuntahkan seluruh susu pisang yang beberapa jam lalu Ia minum.

"Kau pikir aku baik-baik saja?" Jimin menjawab dengan tanya, menatap Taehyung jengah dengan seluruh omong kosongnya setengah jam terakhir.

"Hmm, kurasa tidak." Taehyung menatap Jimin, seperti meneliti apakah hipotesisnya soal Jimin tak baik-baik saja adalah positif dan tak perlu penelitian mendalam. "Matamu berkantung, aku yakin kau tak bisa tidur semalaman karena belajar atau memikirkan sesuatu. Lalu, telingamu memerah, kau pasti amat sangat marah padaku, tapi aku tak akan minta maaf, 'cause please dude, say sorry is not my style. Dan terakhir ... tubuhmu terlihat akan langsung jatuh jika hanya ku dorong dengan dua jari."

Jimin tertawa, keras tapi dengan durasi yang pendek. "Kau seolah membuat pernyataan deduksimu menjadi ilmu eksak," repons Jimin, "Tapi dua dari tiga benar, yang ketiga hanya prespektif matamu saja. Aku masih sekuat baja dan sesegar anak sekolah dasar."

"Oh ya? Aku yakin kau bahkan tak bisa membantingku."

"Sadar diri, di sini siapa yang badannya sekurus papan penunjuk jalan."

Taehyung menatap tubuhnya sendiri, emmang benar tubuhnya lebih tipis dibanding Jimin yang terlihat begitu padat di balik kemeja putih seragam sekolah mereka. "Ukuran tubuh tak menjamin kekuatan."

"Lupakan, ganti topik basa-basi lainmu. Topik kali ini tak bermutu, berapa sih harga otakmu?"Jimin menarik salah satu kursi yang sudah usang dan mendudukinya dengan nyaman, setelahnya Taehyung juga mengikuti tindakannya untuk meraih sandaran kursi lalu mendudukinya secara terbalik berhadapan dengan Jimin.

"Otakku tak berharga, sepertinya. Hanya sekitar empat persen yang kugunakan. Tidak akan laku di pasaran." Taehyung menaruh dagunya di atas sandaran kursi, dan memikirkan beberapa topik lain yang bisa diobrolkan bersama Jimin.

Sejujurnya, ini adalah momen terabsurd milik Taehyung selama tujuh belas tahun hidupnya. Biasanya, jika dia menyuut amarah orang dengan kritikan yang begitu pedas—seperti apa yang Ia lakukan pada Jimin, akan berakhir sebuah perkelahian besar yang membuat tulang jarinya linu karena terlalu banyak menghantam wajah orang.

Tapi dengan Jimin, semua berbelok ke arah pembicaraan tak masuk akal seperti sekarang dan lebih parahnya mereka mendiskusikan topiknya terlebih dahulu. Terlihat seperti orang bodoh, memang. Taehyung memang bodoh dan Ia mengakuinya, meski kadang Ia mengakui dirinya genius dalam beberapa hal. Tapi setidaknya, kali ini Ia tak akan membayar mahal untuk alkohol serta kapas untuk pengobatan tubuhnya.

"Apa makanan kesukaanmu?" Taehyung berkata, nadanya begitu bersemangat tapi wajahnya sedatar aspal jalan tol dalam kota Seoul.

"Aku pemakan segala, tapi mungkin aku suka jjajjangmyeon." Jimin menjawab dengan nada serupa dan ekspresi wajah yang persis seperti anak kembar. "Kau?"

"Hamburger, Pizza, ColaTidak, cola itu minuman," Taehyung sedikit berpikir, "dan akhir-akhir ini aku juga suka jjajjangmyeon dengan ekstra saus kental hitam."

"Kau adalah sampah yang memakan sampah, tapi selera jjajjangmyeon kita sama."

"Sampah sudah menjadi lauk pauk-ku semenjak lahir di dunia, tak perlu khawatir aku keracunan timbal dan kelebihan kolestrol." Taehyung menatap Jimin dengan tajam dengan serangan pertama yang Jimin lancarkan, dan tersenyum sedikit saat mengetahui ada orang yang punya selera jjajjangmyeon yang sama dengannya.

"Paling kau mati," sarkas Jimin.

"Tepat dan akurat. Kau, pintar sekali sih? Ingin rasanya membunuhmu."

"Sebelum kau membunuhku, akau akan meningkatkan kapasitas kerja otakmu menjadi tujuh persen agar laku di pasaran. Aku tidak ingin kau mati sia-sia, setidaknya kau bisa menjual otakmu."

Perdebatan tak berguna ini sungguh membuat hawa ruangan kecil sempit dengan ventilasi minim ini menjadi panas dan sempit, seolah oksigen merapat pada masing-masing punggung mereka untuk memberi persedian amunisi.

"Aku juga akan menyuling paru-parumu sebelum kubunuh, paru-parumu harus bersih dari Malboro Mint sebelum menjualnya ke nenek tua sesak napas." Ekspresi Taehyung kian mengencang, alisnya mengerut dan kepalanya hampir berasap jika saja dia bukan Lava girl. Karena dia laki-laki, tentu saja.

"Dan aku akan—" Jimin menjeda ucapannya, saat menyadari sesuatu yang dikatakan Taehyung begitu mengganjal pemikirannya. "Hei, kau tahu merk rokokku?"

"Tentu, wanginya khas saat kau menyemburkannya dengan menyebalkan ke depan wajah tampanku." Jimin memutar mata jengah namun Ia mengakui bahwa rokok yang digunakannya memang memiliki wangi asap yang khas dan paling berbeda. "Dan aku menggunakan rokok itu juga."

Jimin mengangkat tangannya tinggi ke atas, dan disambut dengan baik oleh tamparan keras telapak tangan Taehyung yang mendarat sempurna di atas telapak tangan Jimin yang terasa lebih kecil.

"Jjajjangmyeon, dan rokok. Apa kita akan punya sesuatu yang kompak lagi?" seru Taehyung antusias luar biasa.

"Aku sih tidak mau menambah kekompakan denganmu. Kau yang bilang sendiri, aku tak selevel denganmu."

"Kau pasti akan menjawab ini meski kau membenciku sampai ke ubun-ubun." Taehyung tersenyum penuh kebanggaan. "Megu Fujiora, atau Shirosaki Aoi?"

Jimin melotot ke arah Taehyung, "Yang benar saja—" Jimin tertawa meremehkan. "Seluruh pria akan menjawab Megu Fujiora sebagai tubuh teridealnya. Aku yakin aku akan puas jika hanya meremas dadanya."

"Tapi Shirosaki Aoi juga imut, cocok memerankan loli dengan pakaian maid. Wah, aku jadi ingin mengunduh beberapa video lagi nanti malam." Taehyung menerawang pandangannya ke atas dan tersenyum.

"Dasar lolicon."Jimin tertawa melihat Taehyung, lalu berujar kembali padanya.

"Ayumi Sonoda?"

"Ayumi Sonoda!"

Dan Taehyung pun Jimin kembali saling menubrukkan kedua telapak tangannya dengan begitu antusias sambil menyorakkan suara kemenangan para pria.

"Ayumi Sonoda tak pernah mengecewakan, bung. Aku yakin seratus per seratus kau akan orgasme hanya dengan mendengar suaranya."Jimin melepaskan tangan Taehyung sambil mengacungkan jempol ke arah wajahnya, dan atehyung mengangguk-angguk setuju.

"Seratus per seratus keyakinanmu benar adanya."

Dan mereka kemudian tertawa tanpa alasan setelah omongan kotor mereka yang terjadi tanpa pemilihan topik sebelumnya, keduanya sampai lelah berebut mengambil oksigen untuk menetralkan tawa masing-masing yang terdengar begitu menggema di ruangan yang hanay terisi mereka, dan tumpukan meja juga kursi kayu.

"Jadi ... " Jimin menyeka matanya yang hampir meneteskan air mata, "mau ke bar sekarang untuk menraktirku vodka?"

"Boleh, aku sudah terbiasa bolos sampai dua hari. Tak masalah."

.

.

Dan pertemuan kedua mereka masih begitu samar, masih ada puluhan tanda tanya yang saling berkait untuk mengetahui satu sama lain. Tapi yang pasti, mereka sudah tak akan saling menghunus omongan pedas juga saling menodong tinju amatir.

.

.

-to be continued-

.

.

Author Notes :

Loli : anak kecil yang lucu imut, atau bisa juga orang dewasa yang bergaya seperti anak anak yang imut dan polos

Lolicon : orang yang suka loli

Megu Fujiora, Shirosaki Aoi dan Ayumi Sonoda : hmm gimana aku ngomongnya ya, ini artis film JAV :'v /jangan tanya kenapa aku bisa tau mereka, tentu saja aku searching)

Another Author Note's :

Hai hai, this is overflakkie. Maaf yang chap kemaren ada sedikit typo/? Itu banyak dan fatal sih sebenernya, harusnya Kim Taehyung x Park Jimin malah Kim Taehyung x Jeon Jungkook. Maafkan :") ini soalnya tadinya mau aku jadiin vkook tapi aku masih menyayangi tiga puluh persen kepolosan bayi bunnyku. Hehehe. Jadilah ini aku bikin vmin. :'v

Special presents for Rices_Friedtofu and Alestie :')

Oke sekian. Review juseyooongggg ,

[Overflakkie, 2016]