Catatan gaje :
Keterangan karakter
Naruto Uzumaki
Age : 17
Class : 3-1
Birthdate : October 10th
Height : 145 cm
Weight : 35 kg
Blood type : B
School : Konoha High School
Special skill : Fighting
Favorite thing : Observing Lovey Dovey Yaoi Couple
Favorite food : Ramen
Putri bungsu dari pasangan Minato dan Kushina. Warna mata Biru dengan rambut panjang pirang keemasan turunan dari sang ayah.
Sangat tomboy. Suka hal berbau yaoi dan hobi berkelahi tapi sangat polos juga naif. Impiannya adalah menghidupkan karakter yaoi favoritnya menjadi nyata.
Karena tubuhnya mungil, Naruto sering disangka anak SD.
Walau rambutnya sangat panjang khas anak perempuan feminim ia tetap sering dikira sebagai anak laki-laki yang sedang Crossdress karena dadanya yang super rata..
Naruto tidak akan marah jika orang salah menyebutkan gendernya, ia hanya akan marah jika ada yang mengatainya 'CEBOL' dan sebangsanya.
.
Sasuke Uchiha
Age : 17
Class : 3-1
Birthdate : July 23th
Height : 182 cm
Weight : 75.1 kg
Blood type : AB
School : Konoha High School
Special skill : Silent
Favorite thing : Nothing
Favorite food : Tomato and Onigiri
Putra bungsu dari pasangan Fugaku dan Mikoto. Warna mata hitam pekat. Rambut hitam kebiruan khas klan Uchiha.
Tinggi, tampan dan mempesona.
Suka tempat sepi dan (awalnya) tidak suka mahluk berisik terutama Naruto yang hobi mengekor padanya dengan alasan tertentu.
Perbandingan tinggi mereka, jauh banget. Tinggi Naru Cuma se dadanya Sasu. Ambil tinggi mereka dari Naruto versi 13 tahun vs Sasuke 27 tahun di manganya *walau g akurat xD
.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
No Homo
(Chapter 2)
.
Naruto fanfiction by Unya Puu
Pair: SasuFemNaru
Genre: Romance, Drama
Rate : T
Warning: Gaje plus Garing, Super Duper OOC, Bahasa Amburadul Tidak Sesuai Dengan Pelajaran Bahasa Di Sekolah, Alur Cerita Membingungkan, Cerita Pasaran ala Sinetron-Sinetronan, Bisa Menyebabkan Sakit Mata, Sakit Kepala, Mual-Mual. Dan Sebagainya- Dan Sebegitulah.
.
Uchiha Sasuke - 17 Tahun
Uzumaki Naruto - 17 Tahun
Uchiha Itachi - 20 Tahun
Uzumaki Kurama - 20 Tahun
Uzumaki Kushina & Minato – 38 Tahun
.
.
#TIDAK SUKA, JANGAN BACA
Happy reading ~
.
'Apa yang sebenarnya bocah cebol aneh ini katakan?'
Sasuke berpikir cukup lama untuk hal satu ini, mencerna dengan cermat sebuah kosakata asing yang baru saja di dengar telinganya.
'Uke?'
Dan sebaris kata meluncur dari bibirnya.
"Apa maksudmu?"
"Tidak perlu malu, tidak apa-apa. Aku bisa menjaga rahasia kok" Naruto menggenggam tangan Sasuke lebih erat.
Matanya bulatnya tampak berbinar-binar menatap pemuda yang lebih tinggi darinya.
"Rahasia apa? Aku tidak paham dengan ucapanmu."
"Pemuda tadi, pasti uke-mu bukan?"
"Huh? Kau bilang sesuatu?"
"Maaf tadi aku menendangnya. Kau kan murid baru, aku tidak ingin imej sekolah ini menjadi buruk di matamu karena dia berusaha melukaimu walau dia kekasihmu sendiri."
"Kekasih apa?! Sebenarnya kau ini bicara apa, BOCAH CEBOL?!" Suara Sasuke meninggi.
Naruto langsung menerjang tubuh besar Sasuke hingga pemuda itu terbaring dengan paksa diatas lantai beton.
Harusnya Sasuke yang marah karena bocah di hadapannya ini menafsirkan hal tidak jelas tentang dirinya, tapi justru amarah Naruto yang naik mendengar sang Uchiha memanggilnya dengan kata yang paling tidak ia suka.
Sudah dipanggil 'Bocah' ditambah embel-embel 'Cebol' pula dibelakangnya.
Naruto naik darah.
Wajahnya berubah menyeramkan.
Hanya Kurama yang boleh memanggilnya 'Bocah'.
Sedangkan Sasuke yang berada dibawah meringis menahan nyeri sisa benturan di punggungnya.
"Dengar, anak baru! Jangan berani-berani memanggilku dengan sebutan itu lagi atau kau akan…"
Menghentikan perkataannya sendiri, Naruto lalu melepaskan cengkramannya pada kerah baju seragam Sasuke.
"Haahh, maafkan kekasaranku. Tolong jangan ulangi lagi sebutan itu atau kau akan celaka."
"Aku tidak takut padamu." Sasuke mengerutkan keningnya, merasa tidak suka dilecehkan dan dianggap lemah oleh anak yang katanya 'Perempuan' bertubuh kecil itu..
"Hahaha, aku tahu. Kau kan super seme. Tidak ada yang perlu kau takuti." Naruto tertawa, marahnya hilang seiring dengan membaiknya mood.
"Aku hanya tidak ingin melukai wajahmu yang indah itu. Itukan aset berhargamu untuk menggaet banyak uke." Lanjutnya berniat memuji.
Sasuke menatapnya bingung. 'Apalagi maksudnya itu?'
"Namaku Naruto, Uzumaki Naruto. Ingat itu baik-baik."
Sasuke hanya diam.
Dan mulai merasa ada yang salah dengan posisinya sekarang.
Naruto sendiri dengan santai menduduki perut Sasuke selama perbincangan mereka berlangsung, seolah itu adalah hal yang wajar dilakukan pada orang asing.
'Pose macam apa ini?'
Sasuke bangkit tiba-tiba, membuat Naruto terjungkal kebelakang.
Untung saja tubuhnya terlatih sejak kecil, hingga Naruto tidak perlu jatuh berbenturan dengan lantai.
Gadis itu melakukan Back Flip dengan lincah seperti monyet.
Sedikitnya, Sasuke dibuat kagum.
"Dengarkan aku, ini bukan seperti yang kau pikirkan. Aku bahkan tidak mengenal siapa anak yang kau tendang tadi. Aku juga tidak mengerti apa sebenarnya maumu. Bisa beritahu aku apa maksud dari 'Seme' dan 'Uke' yang kau bicarakan?"
Gadis kecil itu mengangguk mantap dan membatin dalam hatinya.
'Heemmm, sepertinya dia terlalu malu mengakui kenyataan. Tapi baiklah aku akan menunjukkan sesuatu padanya…'
Naruto mengeluarkan smartphone dari saku bajunya lalu menunjukkan sebuah gambar, yaoi manga terfavoritnya bulan ini. Tampak dilayarnya Kurose dengan kaos hitam panjang sedang berusaha mencium Shirotani yang terlihat sedang menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Seperti ini yang kumaksud…"
Naruto mengatakan Seme sambil menunjuk gambar Kurose, dan mengarahkan jarinya pada gambar pria satunya sebagai Uke.
'Tunggu, tunggu!' Sasuke mendelik. 'Bocah ini berusaha memberitahuku tentang percintaan sejenis kekinian? Dan secara langsung menganggapku Homo?!'
Sasuke berdiri, dan langsung berjalan menuju pintu.
"Maaf saja. Aku bukan Homo, Dobe!" ucapnya sambil lalu.
Sasuke murka, seumur hidupnya baru kali ini ada yang berani menyebutnya Homo (secara terang-terangan).
Homo dari segi mananya coba? Jelas-jelas ia pemuda tampan yang normal.
Pemuda berambut hitam kebiruan itu menutup pintu dengan sangat kasar.
Meninggalkan Naruto sendiri di sana.
"Kasihan sekali, Sasuke anak yang pemalu."
Ugh, bukan begitu yang sebenarnya dirasakan Sasuke nak…
..…
..…
unyapuu unyapuu
..…
..…
..…
Kediaman Uchiha…
"Wajahmu kusut sekali, Sasuke."
Sasuke membanting tasnya ke lantai. "Hn."
Itachi mematikan televisi. "Ada masalah apa hari ini disekolahmu?"
"Bocah cebol itu menganggapku Homo. Kau dengar? Homo!"
Itachi tertawa terbahak-bahak.
"Ya, tertawa saja sana. Kau senang sekali melihatku menderita."
"Jadi kau sudah bertemu dengannya?"
Sasuke tak menjawab.
Ia amat sangat kesal hari ini. Besok, apa yang harus dilakukannya untuk menghindari bocah itu?
Sasuke yakin, Naruto tetap akan mempermasalahkan hal yang sama jika mereka bertemu besok pagi.
"Berpikirlah positif. Mungkin saja Naruto memang tertarik padamu dan menghalalkan segala cara untuk mendapat perhatianmu seperti gadis-gadis yang lain." Kata Itachi usil sambil menahan tawa.
"Kau tidak tahu apa yang sudah dilakukannya padaku hari ini." Sasuke mendesis.
"Oh? Memang apa yang sudah dilakukannya padamu?"
Sasuke kembali bungkam.
"Kau tahu, sebenarnya Naruto anak yang baik. Mungkin saat ini kau tidak bisa melihat letak kebaikannya." Itachi coba memuji adik temannya itu.
"Aku tidak ingin melihat kebaikan yang kau katakan barusan."
Sambil menunggu makan malam siap, Itachi menceritakan beberapa hal yang ia dapatkan dari Kurama tentang Naruto. Sasuke enggan mendengarnya, tapi cerita-cerita kakaknya tetap masuk ke dalam pendengarannya.
'Sial, aku harus memikirkan cara untuk menjauh darinya.'
Sang kakak tiba-tiba tersenyum super bijak melihat tingkah Sasuke yang sedang badmood.
"Jika kau benar-benar kesal dengan tingkahnya, kenapa tidak berusaha melakukan sesuatu?"
"Cih, apa maksudmu?" Sungut si adik sekali lagi.
Senyuman di bibir sang kakak semakin lebar.
"Mau kuberi tahu cara efektif menjinakkan mahluk liar?"
.
Sementara itu di kediaman Uzumaki…
"Wah, Naru sedang senang? Apa ada yang menarik di sekolah?" Kushina menata meja makan.
Naruto yang baru selesai mandi tersenyum lebar. Kepalanya mengangguk mantap.
"Ada teman baru di sekolah" Naruto lalu duduk di salah satu kursi di ruang makan itu.
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki."
"Tampan?"
"Tentu saja tampan. Dia seperti super seme dalam manga favoritku."
Kurama menyemburkan teh yang diminumnya begitu mendengar jawaban Naruto.
"Kuu, kau jorok."
"Berisik bocah."
'Kasihan sekali adikmu, Uchiha.'
Roda setan mulai berputar, perlahan mengelinding menjerat sang mangsa dalam lingkaran hitam tak terputus. Kurama mengucapkan bela sungkawa sedalam-dalamnya kepada adik temannya itu.
Malam itu sambil makan malam, Naruto menceritakan pertemuannya dengan Sasuke kepada seluruh anggota keluarganya.
Gadis itu menceritakannya dengan mata berkilauan.
Seperti habis menemukan berlian saja.
Kushina mendengarnya dengan seksama sambil sesekali tertawa mengikuti jalan pikiran putrinya yang amburadul.
Sedangkan sang ayah hanya terbatuk-batuk mendengarnya karena beberapa kali tersedak makanan. Tapi tetap saja berusaha memakan menu yang ada sampai habis karena tidak boleh menyisakan makanan.
Kurama sendiri hanya bisa menggerutu karena terjebak dalam percakapan gawat darurat yang pernah membuatnya stress sampai hampir botak.
Sayangnya ia tak bisa meninggalkan meja makan sebelum semuanya selesai. Ia tak mau dibanting sang ibu lagi jika melanggar peraturan yang ada.
Sungguh cerita yang tidak patut dibicarakan saat makan malam.
.
Keesokan harinya…
"Sasuke, selamat pagi!" sapa Naruto riang.
Misi pertamannya adalah menjadi akrab dengan pemuda dingin itu.
Naruto tahu Sasuke tak menanggapinya, namun ia tetap berpikir positif. 'Sasuke kan pemalu' Pikirnya sambil mendudukkan diri di bangkunya.
"Rupanya kau sudah tertangkap monster sinting itu, Uchiha."
Chouji mengunyah keripik kentang kesukaannya.
"Aku turut berduka cita." Shikamaru mengangkat kepalanya, menatap Sasuke dengan tatapan kasihan.
Sasuke tak peduli.
Ia kembali fokus pada buku yang dibacanya.
'Jangan pedulikan bocah cebol itu. Jangan pedulikan dia. Jangan pedulikan.'
Rapal Sasuke dalam hati. Berulang-ulang.
Semenjak kejadian di atap itu. Setiap hari, Naruto selalu berusaha melakukan pendekatan pada Sasuke.
Ia selalu memulai percakapan-percakapan tidak penting, mengikuti kemanapun Sasuke pergi.
Dan tetap berada disekitar sang Uchiha berharap agar Super Seme itu bisa berada dekat dengannya dan Naruto berusaha membuatnya nyaman.
Walau kenyataannya Sasuke merasakan hal yang tidak sama.
Selama itu pula Naruto menahan keinginannya untuk tidak membicarakan tentang calon Uke ideal sampai Sasuke benar-benar dekat dengannya.
Benar-benar gadis yang tidak mengerti perasaan orang.
Hari kedua…
Hari ketiga..
Hari keempat..
Hari kelima..
Dan juga hari selanjutnya..
Sasuke berasa memelihara tuyul pesugihan berambut panjang saking rajinnya Naruto mengekorinya.
Dari sejak pagi, saat istirahat sampai saat jam pulang berbunyi.
Pemuda itu sampai berpikir mungkin saja Naruto sebenarnya memang terlahir sebagai hantu penguntit yang akan menghantui sepanjang harinya.
..…
..…
unyapuu unyapuu
..…
..…
..…
Jengah, itu yang kini dirasakan Sasuke.
Sudah seminggu ini, Naruto dengan setia mengikutinya seperti anak anjing.
Manis sih, asal dia tidak dijadikan bahan percobaannya yang gila itu Sasuke sama sekali tidak keberatan.
Ditambah lagi Naruto sangat imut untuk ukuran anak kelas 2 SMA.
Walau Naruto bukan tipenya…
'Eh?! Apa yang kupikirkan?!'
Ah, sepertinya sepekan dihantui Naruto, Sasuke jadi mulai kacau.
'Aku harus segera menyingkirkannya dari sisiku!' tegas sang Uchiha pada dirinya sendiri.
'Tapi dengan cara apa?'
Sasuke berpikir keras. Penolakan sama sekali tidak mempan pada mahluk sebebal Naruto.
Istirahat siang kali ini, mereka duduk diatas atap gedung barat.
Sebenarnya Sasuke ingin sendiri saja menikmati makan siangnya tapi karena Naruto terlalu ngotot mengekorinya. Ia tidak bisa berbuat banyak selain tetap membiarkan gadis cebol itu berada disekitarnya.
"Katakan padaku.."
Sasuke meletakkan sumpitnya, selera makannya lenyap dibawa angin. "Kenapa kau begitu ngotot ingin mencarikanku kekasih?"
"Tentu saja karena aku ingin membantumu menemukan bahagia." Jawab Naruto dengan sangat enteng.
Pemuda itu menelan ludah. "Jadi menurutmu aku tidak bahagia begitu?"
"Eh? Bukan seperti itu sih, hmm bagaimana cara menjelaskannya ya.." Naruto mengetuk ujung bibirnya dengan sumpit. Mode berpikir.
'Benar-benar menyebalkan, memangnya dia siapa merasa berhak mengatur-ngatur hidupku?!'
Diantara cuap-cuap Naruto yang tidak didengarnya, perkataan Itachi tiba-tiba mampir di kepala pemuda jangkung itu.
Cara yang disarankan sang kakak untuk membuat Naruto berhenti mengejar-ngejarnya sepertinya terpaksa harus dilakukan.
'Toh Itachi bilang, ini adalah cara paling efektif menghadapi manusia ngotot seperti bocah tengil ini.'
Ia harus berpura-pura menjadi apa yang Naruto inginkan.
"Baiklah. Kuterima tawaranmu, Dobe."
Naruto tidak jadi melahap nasi kepal ditangannya. "Sungguh?"
"Hn."
"Kau serius?"
"Aku tidak akan mengulangi perkataanku lagi, ingat itu."
"Oke, aku akan berusaha keras. Kita akan bersama-sama mencari uke yang pantas untukmu." Mata Naruto berbinar-binar.
Ini pertama kalinya ia mendapat sambutan baik atas niat tulusnya yang sebenarnya cuma modus.
"Karena aku belum berpengalaman tentang ini, kau bersedia membantuku bukan?" Sasuke memainkan nada suaranya, sangat OOC hingga sang author harus berkali-kali melewati jembatan naga dan menemui raja neraka sebab mati dicincang pedang tajamnya karena telah menistakan karakter aslinya yang cool.
"Tentu saja aku akan membantumu, kita kan teman." Naruto tampak sumringah. "Lalu apa yang bisa kubantu?"
"Potong rambutmu sependek mungkin, dan jadilah patner latihanku sebelum kau menemukan 'Uke' yang pantas untukku."
Naruto membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Apa?!"
"Kau sudah janji akan membantuku, kita kan teman…?"
'Menyerah saja kau dan cari saja korban yang lain, Dobe…'
Sasuke menyeringai licik. Ia sangat yakin akan berhasil.
Mendengar kata 'Potong Rambut' membuat wajah Naruto memucat.
Ia ingat ancaman ibunya.
'Bagaimana ini? Padahal Sasuke adalah klien pertamaku. Apa yang harus kulakukan?' batin si bocah pirang bergejolak.
Berlagak ala konselor percintaan namun ia sangat bingung menghadapi dilemma yang melandanya.
"Ma..maafkan aku, Sasuke.." Naruto menundukkan kepala.
Senyum Sasuke semakin lebar melihat raut wajah Naruto yang berubah warna.
"Aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu yang terakhir….."
Sasuke lalu merasa diatas angin.
Rencana untuk menyingkirkan mahluk seberisik Naruto akan segera terlaksana.
'Akhirnya aku akan mendapatkan ketenanganku kembali.' Batin pemuda itu senang.
"Kau tahu? Sebenarnya aku sangat ingin memotong habis rambutku. Tapi aku tidak mungkin melakukannya."
Ada jeda panjang diantara kalimat yang ingin diutarakan Naruto.
Sementara sasuke ingin berbicara namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.
"Tapi tenang saja. Aku bersedia menjadi patner sementara-mu sampai kita menemukan uke impianmu, oke? Kau tidak perlu bersedih, kakakku bilang aku sangat mirip laki-laki walau rambutku sepanjang ini. Jadi kau hanya perlu berpikir jika aku adalah laki-laki yang suka berdandan ala perempuan. Dan jika kau tidak puas dengan itu akan kucarikan jalan keluarnya"
Naruto tersenyum tulus penuh kemenangan, ia merasa lega karena menurutnya ia dapat memecahkan masalah rumit yang melanda teman pertamanya dan satu-satunya.
'Demi Tuhan. Apa-apaan perkataannya itu?!'
Ingin rasanya Sasuke terjun ke lubang buaya saat ini juga.
Bukannya menyerah, gadis bebal itu malah menyetujui ide sintingnya.
Ini sih, menggali lubang kuburmu sendiri Uchiha muda.
Dan sekarang, giliran wajah putih Sasuke yang pucat.
Ternyata saran kakaknya tidak manjur.
'Awas kau Itachi…'
.
.
.
To be Continue ….
Terimakasih untuk yang sudah bersedia mampir dan membaca.
Salam Damai~
-Unyapuu, 02 April 2015 04:10 PM –
.
*edited version – February, 10 2016
