ELEGI ESOK PAGI

Pairing: Naruto and Hinata

Rating: T

Disclaimer: "Naruto" by Masashi Kishimoto and "Elegi Esok Pagi" by Ebiet G. Ade

"Hope You Like It"

Mereka berdua kini berada di sebuah hutan yang tidak begitu lebat dan masih ada jalan setapak. Di ujung jalan itu ada sebuah danau. Danau itu cukup luas, airnya jernih, dan ikan-ikan yang berenang terlihat dengan jelas. Mereka berjalan menuju tepi danau.

"Naruto-kun, bukankah ini…?" Ucap perempuan itu, wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan.

Naruto tersenyum. "Ya. Apa kau masih ingat?". Ia menatap Hinata, pikirannya kini dipenuhi oleh kenangan-kenangan masa lalu.

Izinkanlah aku kenang sejenak perjalanan…

…oooOOO

Pemuda berambut pirang itu berdiri di jembatan di tepi danau, menghadap seorang gadis berambut indigo dengan potongan pendek. Mentari senja memancarkan sinarnya. Membuat sebuah siluet dua orang yang berhadapan jika dilihat dari jauh. Mereka berdua terlihat sangat canggung.

"Hinata-chan.. Ada yang mau.. aku bicarakan..", Ucap anak laki-laki bermata biru itu, dengan terbata-bata, mukanya memerah sehingga membuat perpaduan antara warna merah dan kecoklatan di kulitnya.

Gadis itu sama saja. Kulitnya yang seputih salju dipenuhi oleh warna merah, bukan darah, "A, ada.. apa, Naruto-kun..?", tanyanya dengan terbata-bata, sama seperti Naruto.

Naruto terdiam.

Dalam pikirannya, ia sedang mencari kata-kata yang tepat agar bisa diutarakan pada gadis yang ada di hadapannya. Sebenarnya, ia sudah punya. Tapi sulit. Lidahnya benar-benar tertahan. Tertahan oleh sebuah benda tak terlihat. Seolah-olah ada seseorang yang menarik lidahnya dengan sebuah tang hingga menjulur keluar.

Bagaimana mungkin? Seorang Naruto yang dikenal hiperaktif dan tidak tahu malu serta berbicara tanpa pernah berpikir terlebih dahulu kini sulit berbicara apalagi dirinya sekarang membatu tanpa sebab yang jelas?

Mungkin hal ini disebabkan oleh kebodohannya yang benar-benar bodoh. Ia tahu bahwa dirinya disukai oleh seorang gadis. Ya. Gadis manis yang polos. Yang menyukai Naruto apa adanya. Tanpa melihat kekurangannya, melainkan kelebihannya. Tapi apa yang dilakukan oleh Naruto? Ia tidak memperdulikan hal itu. Ia malah memilih seorang gadis yang ia tahu sendiri bahwa gadis itu menyukai sahabatnya. Bahkan, gadis itu menolak Naruto, dengan cara yang halus. 'Aku menganggapmu sebagai sahabatku', Begitulah katanya pada Naruto. Setelah itu ia mulai menyadari bahwa Hinata-lah yang selalu hadir disaat ia sendiri. Untuk sebuah curahan hati. Tentang Sakura, bukan Hinata. Naruto sangat menyesali kebodohannya, padahal ia tahu Hinata menyukainya, tapi ia malah curhat pada Hinata tentang Sakura. Apa yang Hinata rasakan? Mengingat hal itu, membuat hatinya tercabik-cabik.

Kenapa ia begitu bodoh? Menyesal. Menyesal. Cinta itu bukanlah sebuah persepsi yang rumit. Cinta itu bukan datang tiba-tiba. Tidak ada yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Itu semua bull-shit! Cinta pandangan pertama hanyalah sebuah saat dimana nafsu dan emosi tertawa dan menari-nari diatas otak kita yang tidak dapat dikontrol dengan baik. Cinta hanya butuh sebuah kebersamaan. Dan Hinata, telah memenuhi syarat sebuah cinta.

Jika ia melihat Hinata yang selalu tersenyum manis, yang ia lihat hanyalah sebuah kesedihan tak berujung dari lubuk hatinya yang ditutupi dengan senyum palsu. Bahkan saat ia memergokinya menangis, gadis itu menampik dirinya menangis dan malah memberikan senyum palsu yang selalu ia perlihatkan. Hatinya benar-benar miris melihat itu.

Sebenarnya cintanya pada Hinata; bukan karena kasihan melihat Hinata yang berada dalam keterpurukan, bukan sebagai rasa terima kasihnya karena ia telah mencintai dirinya , bukan sebagai ucapan minta maaf karena ia telah memperdulikan perasaan Hinata. Tapi karena memang cinta. Bukankah cinta itu abstrak? Tidak ada yang dapat menggambarkan sebuah cinta. Cinta itu berbentuk hati? Memang cinta itu berasal dari hati. Tapi bukan hati dalam arti 'Alat Ekskresi Manusia', melainkan hati yang berasal dari dalam diri manusia itu sendiri, yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang, hanya bisa dilihat oleh perasaan juga. Disini 'Mata Dibalas Mata' berlaku.

Naruto mengakui bahwa Hinata adalah seorang gadis yang cantik. Manis. Baik hati. Juga tidak sombong walaupun dia adalah salah seorang keluarga Hyuuga yang terpandang. Ia juga gadis yang pintar, juga senang berteman dengan semua orang. Tapi hanya satu kendalanya. Malu. Ia benar-benar gadis yang pemalu untuk bisa bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Di saat itulah, Naruto hadir. Ia tidak hanya hadir untuk memberikan dorongan semangat untuk bisa bergaul dengan teman-teman, ia juga hadir mengisi hatinya. Mengisi sebuah tempat bernama 'Cinta' di lubuk hatinya yang terdalam.

Sasuke sebagai sahabatnya sejak kecil selalu menyarankannya agar bersama Hinata. Begitu juga Neji, sebagai seorang sepupu Hinata sekaligus kakak. Semua teman-temannya sudah tahu bahwa Hinata menyukai dirinya. Sakura juga. Bahkan, ia memohon pada Naruto.

Akhirnya, ia mengambil sebuah keputusan. Ia harus menyatakan cintanya pada Hinata. Mungkin ini terdengar sebagai pelampiasan karena tidak berhasil mendapatkan Sakura. Tapi ini benar-benar berasal dari perasaannya sendiri. Bukan karena paksaan. Tetapi cinta. Lagi-lagi cinta. Sebuah jawaban yang sama sekali tidak berujung.

Dan kini keberaniannya sudah terkumpul, "Aku.. suka kamu.. Hinata-chan.."

Gadis itu terdiam. Mencerna kata-kata yang telah ia dengar barusan. Suara sekelompok burung transmigran yang berterbangan di atas danau sedikit mengganggunya untuk membuat otaknya memproses kata-kata. 'Aku'. 'Suka'. 'Kamu'. Ia telah mendapatkan kata-kata itu. Tapi kini perasaannya yang bekerja dan hatinya berbicara, 'Naruto-kun.. menyukai..ku'.

"Maaf, Naruto-kun.. Apa saat ini kamu.. sedang bercanda?" ucapnya pada Naruto.

"Enggak. Aku tidak bercanda. Lihat mataku baik-baik", katanya sambil mendekatkan dirinya pada Hinata, dan memandangi mata Hinata agar Hinata juga melihat matanya yang berwarna biru yang sejernih langit.

Hinata menatap mata Naruto. Memang benar. Tak ada kebohongan. Tak ada sebuah kata 'bercanda'. Yang terlihat adalah sebuah keseriusan dari mata seorang Uzumaki Naruto. Dan tanpa sadar ia mengeluarkan air matanya dan berkata, "Aku menyukaimu, juga.. Naruto-kun.."

Mendengar hal itu, Naruto langsung memeluk Hinata, "Aku ingin selalu bersamamu. Selalu", ucapnya dibalik pelukan yang hangat itu, matanya berkaca-kaca. Ia semakin mempererat dekapannya.

Hinata yang tengah menangis dalam sebuah pelukan orang yang sudah lama dicintainya semakin terisak-isak, "Aku.. juga.."

Mereka pun berpelukan di atas sebuah jembatan kayu yang pagarnya disuluri oleh tanaman rambat. Dua ekor merpati putih hinggap diatas jembatan. Seolah menjadi saksi cinta mereka berdua.

Tiba-tiba…

"SELAMAT, YA!!!" teriak orang-orang yang berkumpul mengelilingi dua orang itu.

"Naruto, Hinata-chan, akhirnya kalian bisa bersama..", ucap seorang gadis berambut merah jambu, bernama Sakura.

"Hn", sepatah kata terucap oleh Sasuke, sahabat Naruto. Ia memberikan sedikit senyuman.

Bukan hanya Sakura dan Sasuke, tetapi juga ada yang lain; Neji, Lee, Tenten, Shino, Kiba, Shikamaru, Ino. Kakashi Hatake dan Gai Maito juga ada. Ya, saat ini mereka sedang mengadakan camping di sana.

"Berbahagialah, Hinata-hime.."

""Oooo.. Benar-benar mengharukan!!! Masa muda yang benar-benar indah!!!"

"Ehm, hiraukan dia. Selamat, ya, Naruto-kun, Hinata-chan"

"Akhirnya…"

"Jaga Hinata-chan baik-baik, Naruto.. Awas kau!"

"Kalau kalian begini `kan aku sudah tidak risih dan repot lagi.."

Mendengar ucapan-ucapan yang terlontarkan dari mulut teman-temannya, Naruto dan Hinata tersenyum. Naruto tersenyum lebar, sambil tertawa-tawa, karena bahagia. Hinata tersenyum, tetapi menangis, menangis bahagia. Ya. Hanya bahagia yang mereka berdua rasakan.

"Hey, Kakashi-sensei dan Gai-sensei!", tegur Ino.

"Eng, ada apa, Ino?" Tanya Kakashi dan Gai berbarengan.

Ino mulai tersenyum jahil dan tertawa tekekeh-kekeh, " Apa kalian tidak mau seperti mereka? Masa` kalian mau terus jadi bujang lapuk seumur hidup, sih?"

"ENAK SAJA!!!" Sahut Kakashi dan Gai berbarengan, dengan nada kesal.

Asuma dan Kurenai yang berada tidak jauh dari mereka, hanya menyaksikan mereka sambil tertawa-tawa. Mereka baru saja bertunangan.

Senyum. Air mata. Doa. Harapan. Kasih sayang. Juga cinta. Kini menghadiri kehidupan mereka. Ini bukanlah akhir melainkan awal. Awal dari sebuah perjalanan yang akan disongsong mereka berdua.

Dan biarkan kumengerti…

Apa yang tersimpan di matamu…

Hinata menghentikan lamunannya, menatap danau yang memantulkan cahaya bintang dan sinar bulan purnama. Mata lavendernya berkaca-kaca, "Ya, tentu saja aku ingat, Naruto-kun.." Ia masih mengingat-ingat peristiwa itu.

"Ya. Awal dari segalanya…", Naruto mengadah ke langit.

.

.

"Oh, ya, tutuplah matamu sebentar, Hinata-chan…", pinta Naruto.

"Eh? Ada apa?" tanya Hinata heran.

"Sudahlah, lakukan saja".

Hinata menutup kelopak matanya sehingga mata lavendernya yang indah itu tidak terlihat, "Sebenarnya ada apa, Naruto-kun?". Jantungnya mulai berdebar-debar. Ia menundukkan kepalanya, menutupi wajahnya yang memerah.

Beberapa saat kemudian, "Nah, kau boleh buka matamu".

Hinata perlahan membuka matanya. Merah. Itulah yang pertama kali ia lihat. Ia lalu membuka matanya penuh-penuh, dan melihat sebuah kotak kecil berwarna merah dipegang oleh Naruto. Tanpa terasa, ia mengucurkan air matanya dan menutup mulutnya, seakan-akan mengetahui apa isi kotak itu dan apa yang akan dilakukan Naruto.

.

.

"Hinata-chan, will you.. marry me..?"

.

.

HAAAAAAH, AKHIRNYA SELESAI JUGA!!! DENGAN INI SATU BEBANKU BERAKHIR!!!

Pesanku sebagai author: Sebagai manusia kita harus bisa mencintai. Tanpa cinta hidup jadi hampa. Cintailah orang yang kita cintai. Juga cintailah Tuhan Yang Maha Esa melebihi apapun.

Terima kasih buat reviewnya dan saran-sarannya…

Dan lagi, aku baru saja mengetahui bahwa songfic itu dilarang… Maafkan aku… Aku masih pemula, aku sama sekali tidak tahu menauh soal itu… Lagipula ini sudah terlanjur di-publish… Kalau dihentikan di tengah jalan.. bukanlah PRIA namanya... Aku ini berprinsip, "Seorang pria tidak akan menyelesaikan sesuatu setengah-setengah"… Kurasa chapter ini agak mengecewakan, menurutku… Bisakah kalian berikan sebuah saran, kritik, ataupun pendapat kalian padaku? Dan lain kali, aku tidak akan buat songfic lagi!!! Janji!!! Ini adalah yang pertama dan terakhir…

Oh, ya, apa kalian tahu apa yang dilakukan Naruto dan Hinata diantara dialog "Ya. Awal dari segalanya…" dan "Oh, ya, tutuplah matamu sebentar, Hinata-chan…"??? Sebagai anak muda, kalian pasti tahu… He he he… Ah, sudahlah! Lupakan pertanyaanku yang tidak jelas itu! (untung saja tidak ada lemon disini)

Mind to review?

KOSUKE GEGE