YOU ARE MY LORD

Main Genre :

Sains Fiction, Action, Mistery/Thriller

Main Chara :

-Oh Sehun as God of World and Captain of Daqrios Organization

-Lu Han as Captain of Freedom Hunter Organization (FREHO) and Angel in The Dark

Main Pair :

Oh Sehun vs Lu Han

and

Oh Sehun with His Angel in The Dark (Xiao Lu)

WARNING :

ini adalah cerita di mana seorang manusia 'adalah' TUHAN. Sama sekali tidak menyinggung para umat beragama. Membacalah dengan bijak, resapi pesan kehidupan di dalam cerita ini, dan buang yang tidak perlu, terima kasih :)

NOTE :

Cerita ini murni buatan saya. Awalnya menggunakan tokoh buatan sendiri, namun saya remake karena saya suka HUNHAN. Jadi ini dalam rangka menambah FF Hunhan, termasuk dalam genre ini.

YAOI

Maafkan atas segala typo dan kawan-kawannya.

Happy Reading, guys!!

publish : 10 Desember 2018

•~•~•~•

.

.

.

BAB 1 : "God" is Me

.

.

.

.

"Ia adalah manusia, tapi sangat tidak berperikemanusiaan. Seakan hatinya hanya ia gunakan untuk menetralkan racun, bukan untuk menetralkan sisi buruknya."

.

.

.

Kota : Daqr

Negara : Ekasa

Benua : Eurasia

Tanggal : 20 April 2140

.

.

Sehun menaruh gelas berisikan tetesan wine ke nampan, yang disodorkan oleh salah satu pelayan wanita miliknya. Wanita berpakaian maid itu ketakutan saat Sehun tersenyum manis di hadapannya. Wanita itu bernama Minah, yang pernah menjadi budak seks para kaum lelaki di desanya. Sehun menyelamatkan wanita itu sewaktu perjalanan kabur dari desa tersebut. Dia menjadikannya sebagai pelayan pribadi.

Hanya sebatas itu.

Tapi senyum dan aura yang dimiliki Sehun tak bisa dibendung. Itu sangat mencekik dan mengintimidasi.

"Minah."

"yes, My Lord?"

"Bisakah kau tersenyum untukku ? Aku sedang bahagia hari ini."

Minah yang sedari tadi menunduk dalam kini mendongak. Lalu tersenyum semanis mungkin. Walau agak terpaksa.

Sehun melebarkan senyumnya, tapi sedetik kemudian...

Ekspresi itu lenyap.

Kelam.

PLASSHH..!!

Sehun menampar wanita di depannya. Membuat wanita itu terhuyung ke belakang. Pipi Minah memar. Ngilu terngiang di gusi yang berdekatan dengan pipi kanan yang ditampar. Minah menunduk lagi sambil menelan darah yang menggenang di dalam mulutnya.

Dia harus menahan isakannya. Atau ada kemalangan lagi yang menimpanya.

"Aku tidak suka dengan caramu tersenyum," ucap mutlak Sehun yang terkesan dingin. Lalu senyum pengundang mata sabit itu muncul lagi, "bukankah senyum itu ibadah, Minah? Lakukan seindah mungkin agar kau bahagia di dekatku."

"M..Maaf... My Lord... Sa...saya akan me...melakukannya lagi..."

Sehun menggelengkan kepala pelan, mengerutkan bibir, tersenyum sedih.

Sok mengasihani.

"tidak perlu. Simpan tenagamu untuk nanti."

Jangan harap ada yang namanya Sehun bermain seks dengan wanita atau pria.

Dibanding gairah di selangkangan, ia lebih bergairah di hatinya bila ia menginjak sesamanya dengan cara elegan.

Dia suka menindas.

Sehun merapikan sedikit jasnya, lalu pergi ke luar ruangan. Pria itu mengabaikan Minah yang menangis terisak-isak.

"Ini masih... Sttsss... Masih lebih baik daripada dijadikan Budak Seks. Tuan Sehun tak pernah memperlakukanku layaknya jalang. Ya... Aku harus terus bertahan di sisinya."

Semangat dan terbiasa membohongi dirinya membuat Minah merasakan perasaan terlarang.

Dirinya mencintai sang pahlawan berhati iblis.

Dalam diam.

.

.

.

.

.

.

Sehun berjalan sendirian dengan langkah cepat. Pakaian kasual dengan jas dan celana hitam mahal selalu menjadi ciri khasnya. Warna hitam membuatnya tampak lebih kuat saat terang, berbaur bersama estetika kegelapan, serta takkan menghasilkan warna apapun saat dipengaruhi warna-warna lainnya.

Hitam itu kuat, menawan, dan misterius.

Seperti diri Sehun selama ini.

Bawahannya, yang terdiri dari para pejabat pemerintah Pusat Dunia, membungkuk hormat setiap kali berpapasan dengannya. Seperti biasa, Sehun tidak membalas. Hanya terus berjalan lurus ke depan sambil memasang telinga apakah ada dari mereka yang membicarakannya. Sehun memiliki panca indera yang sensitif. Sekali kosa katamu salah dalam sebuah kalimat, ia akan melakukan sesuatu yang tak kau pikirkan selama kau hidup.

Ada satu hal yang Sehun kurang suka. Ia tak suka ada yang menatapnya langsung ke bola mata hitam pekatnya itu. Jika ada manusia rendahan seperti itu, maka manusia itu mau menantang dirinya.

Dan itu artinya bunuh diri.

Sehun sendiri suka tantangan. Alasan sepele inilah yang membuat, tak satupun manusia, berani menatap langsung ke bola matanya.

Perintah dan kemauan Sehun itu mutlak.

Ingat baik-baik agar setidaknya, ia membiarkanmu berjalan melewatinya dengan tenang.

Tanpa pengawalan, Sehun sudah sampai di tujuan. Sebuah ruangan membuatnya tersenyum sangat cerah.

Dua penjaga pintu membungkuk ke arahnya. Sehun membalasnya hanya dengan senyuman yang memperlihatkan sedikit gigi taringnya.

"Hari kalian menyenangkan, hm?"

Ditanyai begitu oleh seorang Oh Sehun adalah bencana.

Dua penjaga itu hanya mengangguk sambil meneguk ludah gugup. Sehun benci ketidaksempurnaan. Jadi jika dua berpakaian hitam itu tidak tegak dalam berdiri, Sehun jamin mereka akan dikebiri.

Ah... Itu pasti akan menyenangkan...

Batin Sehun senang.

Sehun memasukkan sidik jarinya ke mesin berbentuk kotak persegi, dengan layar hologram canggih di samping pintu, lalu pemeriksaan retina, dan berakhir pada pemeriksaan suara.

"Oh Sehun," ucapnya dengan suara husky khasnya.

Sidik jari, retina mata, dan suara di—"

BOOM...!!

Suara ledakan kecil muncul.

Mesin kotak itu meledak disaat Sehun hanya bersenandung sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuk di pahanya. Percikan-percikan api, beberapa serpihan besi, berlompatan namun tidak mengenai tubuh Sehun. Asap mengepul setelahnya, membuat Sehun menutup hidung dengan lengan. Gaya yang begitu elegan.

Mesin itu berada di sisi kanan pintu, tepat di samping kepala salah satu penjaga pintu. Karena itulah kepalanya resmi hancur bersama ledakan itu. Menyisakan pecahan tulang dan suwiran daging yang sedikit mengotori lengan Sehun. Tubuh dengan kepala buntung itu ambruk.

Sehun meluruskan lengannya. Mengibaskan jasnya dari bercak-bercak darah. Lalu menatap santai dunia seakan tidak terjadi apa-apa.

Penjaga pintu di sisi lainnya bergidik saat pintu masuk terbuka.

Ia masih merinding ngeri sambil memandangi Sehun yang mulai memasuki ruangan tersebut.

Ruangan HUMAN LABORATORY.

Setelah Sehun masuk, pemuda itu menghubungi petugas kebersihan dengan earphone di sisi kanan telinganya.

Setelah menghubungi petugas kebersihan, Sehun menatap nyalang pada para peneliti berpakaian serba putih. Posisi mereka yang awalnya seperti gula berceceran di atas lantai, langsung berbaris rapi di sisi kiri kanan jalan. Mereka menunduk dalam. Siap mendapat amarah yang hanya mereka respon di benak mereka,

"Bagaimana bisa?" atau "benar-benar sinting."

Ya, Sehun memang sinting.

Namun yang lebih sinting akan segera muncul setelah ini.

"Jangan meragukanku sebagai tuan kalian! Jadi jangan membuatku membuang-buang energi, hanya untuk memeriksa kebenaran bahwa yang datang tadi adalah AKU!" bentak Sehun pada para peneliti yang mengurus PENELITIAN ke-113.

Semua yang ada di sana menunduk takut-takut.

Manusia nomer satu di benua itu, berdecih, "jika kalian takut ada penyusup yang masuk dengan menyamar sebagai diriku, jangan khawatir, persilahkan saja dia masuk dan kupastikan tubuhnya meledak sebelum melewati pintu! PAHAM?!"

"Yes, My Lord..." Ucap semua peneliti tersebut.

"Aku benar-benar akan membunuh kalian jika penelitian kali ini gagal," desis Sehun. Anak-anak rambutnya menjuntai menutupi kedua matanya, menghasilkan tatapan kelam yang menundukkan siapapun.

Semua peneliti mengangguk kaku. Beberapa petugas kebersihan di luar ruangan, mendengar bentakan itu dan membuat mereka seakan lemah tak berkutik. Siapapun yang mendengar amarah Sehun, maka mereka bukanlah manusia yang beruntung. Amarah Sehun bisa melemahkan keberanian dan mental seseorang hingga berada di titik ketakutan mendasar. Tapi itu lebih baik daripada menjadi sasaran amarah.

Ini tidak berlebihan.

Oh Sehun memang manusia kejam yang penuh misteri dengan aura sangat buruk.

"Salah satu dari kalian maju!" Perintahnya.

Salah satu dari sekumpulan tim peneliti maju ke barisan paling depan. Ia memperbaiki posisi kaca mata yang dipakainya, membaca laporan sekilas pada Notebook dengan desain kaca transparan. Sehun bisa melihat segala macam tulisan dan beberapa gambar dibalik Notebook tipis tersebut.

"Hormat saya, My Lord..." Peneliti tersebut membungkuk, disusul peneliti lainnya. Ini adalah awal yang harus dilakukan bila ingin melaporkan sesuatu pada Sehun.

"Hm," hanya itu respon yang secara tak langsung memerintahkan semua peneliti menegakkan badan.

"Saya ingin melaporkan hasil penelitian anda, My Lord. Light Saber tipe Angel, dengan code number 113-101, berhasil hidup."

"Bagaimana dengan faktor pendukung lainnya?"

"Pencangkokan untuk beberapa bagian tubuh khusus, diterimanya dengan baik. Pemberian memori internal berupa ingatan tentang apa-apa yang akan dia lakukan, bahasa yang digunakan, karakter yang akan dia bangun, serta memori eksternal seperti responnya nanti bila berinteraksi dengan lingkungan, semua itu sudah mencapai seratus persen. Dia sudah bisa kita katakan sebagai manusia."

Sehun mengangguk tanda mengerti. Pria berusia 26 tahun itu langsung memerintah, "antarkan aku ke sana."

Semua membungkuk sekali lagi "Yes, my Lord."

.

.

.

.

.

Sehun menyeringai melihat hasil dari penelitian yang selama ini dipimpin dan dibimbing olehnya secara langsung. Walaupun dirinya hanya mengomando, tapi ilmu yang dimiliki otaknya membantu para peneliti.

Penelitian ke - 113 adalah sebuah penelitian yang dilakukan untuk menciptakan mesin pembunuh multifungsi dan multitasking. Mesin itu harus berwujud manusia dan memiliki keabadian. Dan pastinya, bukanlah robot karena mesin pembunuh berupa robot atau android memiliki banyak kelemahan.

Sehun tahu bahwa menciptakan manusia itu tidak mungkin. Tapi senjata paling ampuh sekaligus menyenangkan hatinya adalah manusia. Yah... Alat serupa atau mungkin seperti manusia. Punya jantung tuk berdetak, paru-paru untuk bernafas, dan hati untuk berperasaan.

Lalu bagaimana dengan Sehun?

Ia adalah manusia, tapi sangat tidak berperikemanusiaan. Seakan hatinya hanya ia gunakan untuk menetralkan racun, bukan untuk menetralkan sisi buruknya.

Ia adalah contoh manusia paling buruk dari segi peringai.

Sehun memasuki ruangan terisolasi setelah pintu besi terbuka, terpisah di kiri dan di kanan. Pemuda itu masuk dengan langkah mantap, terus menatap tajam tujuan yang ada di tempatnya.

Kemudian, ia berhenti melangkah.

Ruangan luas ini seakan hanya berisikan Sehun di tengahnya. Semua peneliti menepi, membiarkan penggagas penelitian melihat hasil komando dan perintahnya.

Sehun terpana.

Untuk sesaat.

Hasil yang dilihatnya sempurna, di luar ekspektasi selama ini.

Tabung kaca berisikan air dengan bahan kimia, untuk melindungi tubuh si hasil percobaan, adalah sasaran tatapannya.

Di dalam tabung itu terdapat sesosok manusia. Tubuh mungilnya telanjang bulat, melayang di tengah tabung, seakan menari untuk menggoda siapapun yang melihatnya. Rambut coklatnya melambai-lambai menutupi raut tidurnya, karena gerakan air tentunya. Sungguh, membuat Sehun penasaran bagaimana pesona wajah itu apabila terjaga.

Lalu Sehun menurunkan tatapan hingga ke kaki jenjang si hasil percobaan. Kaki putih mulus itu bergerak pelan seakan menggoda penglihatan Ian, melayang menjauhi dasar tabung, terlilit kabel kehidupan sama seperti bagian tubuh lainnya.

Sosok itu sempurna.

Sangat sempurna.

Memang benar kalau yang berhasil hidup adalah tipe malaikat. Karena apa yang dilihat Sehun benar-benar seperti malaikat.

Kelopak mata sosok itu mulai bergerak-gerak. Bola mata di dalamnya bergerak-gerak ingin dibebaskan. Lalu gerakan tarian di dalam air berubah sedikit panik.

Ketika mata itu terbuka...

Sehun terpaku.

Mata itu berwarna merah darah dan bening penuh binar, rambut kecoklatan terayun melambat sehingga masih mengganggu mata indah tersebut, dan bibir mungil layaknya kucing itu bergerak.

Lalu mata itu terbelalak saat bersibobrok dengan Sehun.

Bibir merah ranumnya terbuka...

Sehun melihat malaikat-nya meminta tolong agar dibebaskan. Menggapai dinding kaca di depannya, mengetuk-ngetuk dengan kepalan tangan lemah. Tatapan merah darah itu menembus bola mata hitam Sehun. Tepat sasaran, dan memberikan kesan aneh pada diri manusia terkejam itu.

"Dad...Dad..."

Sehun mengernyit saat membaca gerakan bibir malaikat-nya.

"Daddy... dad...dy..."

Dan saat melihat wajah pucat itu hampir sesak kehabisan nafas, Sehun berseru.

"Bebaskan dia!"

"Yes, my Lord..." Jawab beberapa peneliti.

Air mulai menyusut, menurun dan seakan terhisap oleh dasar tabung. Tubuh malaikat-nya berangsur turun, kaki-kaki jenjang yang terekspos indah itu mulai menginjak dasar tabung. Malaikat-nya lalu terhuyung, bersandar pada dinding tabung di belakangnya sementara kedua tangannya terperosok hingga akhirnya pantatnya menginjak dasar tabung. Tubuh itu benar-benar lemah.

Dan Sehun merasakan perasaan aneh melihat hasil percobaannya.

Dirinya iba.

Maka, pada akhirnya, saat tabung kaca itu seakan tertelan mesin besar di bawahnya, Sehun berlari mendekati Malaikat-nya. Tanpa ekspresi khawatir tapi sigap, ia merengkuh tubuh lemah malaikat-nya. Seakan tubuh itu benar-benar rawan pecah.

Para peneliti yang tadi sibuk dengan pengendali mesin dan peralatan laboratorium lainnya, membungkuk sejenak saat Sehun melewati mereka. Mereka sedikit terpana dengan perbuatan Sehun. Manusia kejam itu tengah menggendong malaikat yang telah dirinya tetapkan sebagai miliknya. Digendong ala pengantin, dengan tubuh basah berbau bahan kimia yang menusuk. Pemilik tubuh mungil itu tersenyum simpul melihat wajah Sehun dari dekat.

Makhluk manis ciptaan Sehun itu menyandarkan pipinya di dada bidang Sehun.

"Dad...dy..."

Sehun tak peduli dengan panggilan itu untuk sementara waktu.

Kenapa aku bisa bertindak bodoh ?

.

.

.

.

.

Minah tengah membersihkan istana megah yang menjadi tempat tinggal Sehun. Istana itu berada jauh dari pusat kota dan Sehun nyaman berada di rumah ini.

Semenit setelah kepergian Sehun dari ruang kerjanya, seorang pengawal pribadi Sehun memberi Minah pesan. Yaitu Sehun menyuruhnya kembali ke istana megah milik pemuda itu. Wanita cantik dengan tatapan lembut itu, jadi agak bingung saat orang-orang Sehun membawanya kembali ke istana mewah ini. Padahal pemiliknya belum pulang.

Minah jadi khawatir. Tidak biasanya Sehun menyuruhnya pulang lebih dulu.

Karena biasanya mereka berangkat dan pulang bersama.

Tentu saja sebagai majikan dengan pelayan pribadinya.

"Nona Minah, Tuan Muda Sehun sudah datang," kata salah satu pelayan pria di rumah besar itu.

Minah langsung berlari, seusai membereskan kamar Pribadi Sehun.

Perlu diketahui, hanya Minah saja yang boleh mengotak-atik kamar itu.

Minah merasa ia berada di posisi teratas menjadi salah satu yang dimiliki Sehun.

Tapi wanita berusia 28 tahun itu sadar, bahwa Sehun takkan menganggapnya lebih. Jadi ia tak ingin kelewatan. Ia tak boleh lancang.

Semua pelayan berbaris di pintu masuk yang mulai dibuka oleh para pengawal Sehun.

Minah sendiri berdiri di tengah-tengah kedua barisan tersebut, menyambut Sehun dengan rasa kagum dan takut yang membuncah bersamaan.

Saat pintu itu resmi dibuka, cahaya menyeruak masuk, mengakibatkan sosok yang begitu dipuja Minah seperti tengah menampakkan bayangan hitam. Bayangan itu membawa sesuatu yang besar di gendongannya.

Minah terperangah.

Saat Sehun mendekat ke arahnya, bersamaan dengan dua baris pelayan yang tengah membungkuk ke arahnya, Minah melihat sosok yang digendong Sehun.

"Indah..." Itu gumam Minah saat melihat sosok itu. Sosok yang kini dilapisi selimut warna biru langit tipis, namun menghangatkan tubuh telanjang malaikat-nya.

"Dilarang memandangi milikku!"

Perintah mutlak itu membuat Minah mematung. Ia buru-buru membungkuk hormat. Tapi Sehun tak peduli dan berjalan mantap melewati Minah. Wanita itu bangkit berdiri, hanya menatap punggung Sehun dengan sedih.

"Aku tak pernah melihat sosok seindah itu..."

Gumam Minah.

"Apakah sosok bak malaikat itu akan kau jadikan iblis, My Lord ?"

.

.

.

.

.

"Berhenti memanggilku Daddy!"

Perintah mutlak Sehun membuat sosok bak malaikat itu menunduk sedih. Sosok itu kini memakai piyama berbentuk kimono warna putih bersih. Sosok polos tak tersentuh yang dibungkus kain sutra halus dan menghangatkan. Pipinya sungguh bulat, bersemburat merah, dengan ujung hidung memerah dan rengut bibir yang menggemaskan.

"M..ma...maafkan aku..."

Dalam hati, Minah sangat gemas dengan pemuda mungil yang kini duduk di atas ranjang milik seorang Oh Sehun. Bahkan pemuda itu diperlakukan seperti seorang ratu.

Kemudian senyum Minah luntur.

Pelayan yang dibebaskan dari perbudakan itu tahu, bahwa si mungil hanya dijadikan sebagai mesin pembunuh.

Tidak lebih.

"Panggil aku sama seperti yang lainnya, bocah!" Ucap Sehun setengah kesal. Tapi pemuda bak malaikat itu menatapnya seperti seorang anak kecil yang protes karena permennya dicuri.

Bibir merahnya bergetar, seperti ingin menangis.

"Aku tidak mau!! Aku kesulitan mengucapkan huluf ell..ell...!! Aku tidak mau memanggilmu My Lold..!"

"KAU?!"

"Dad...Daddy..." Cicit si mungil sambil meringkuk di depan kepala ranjang.

Cadel rupanya... Batin Minah gemas.

Sehun menghela nafas. Kalau bukan karena yang di hadapannya ini adalah hasil percobaan paling eksklusif, Sehun takkan mau MENGALAH.

Mengalah adalah kutukan untuknya.

"Terserah dirimu. Aku tidak mau berdebat panjang dengan—"

"Jadi aku boleh memanggil anda DADDY ?!"

Sial! Sebenarnya memori siapa yang orang-orang tua itu masukkan ke dalam otak bocah ini?!Bukan karakter seperti ini yang kuinginkan, brengsek!

Mata Sehun memerah menahan amarah karena ada yang memotong ucapannya. Namun amarahnya langsung sirna hanya karena pemandangan manis di depannya.

Binar di bola mata merah darah itu kembali menghipnotis Sehun selama sedetik penuh. Kemudian Sehun berdeham, "intinya, jangan sampai kau protes dengan seluruh perintahku setelah ini! Bahkan jika perintahku adalah untuk membunuh dirimu sendiri, paham?"

"Ya Dad ! Aku akan melakukannya untukmu!"

Senyum lebar itu, dengan mata terpejam gemas, dan kepala dimiringkan, menambah kehangatan di kamar yang selalu dingin mencekam bagi Minah. Lalu wanita itu melirik Sehun. Pria itu masih menatap datar dunia.

Pemuda dengan penampilan remaja berusia 15 tahun itu membuka matanya. Saat mata itu menatap mata hitam kelam Sehun, dirinya entah kenapa merasa gugup. Tapi ia tutupi dengan simpul senyum.

"Panggilanmu, Xiao Lu. Hanya itu. Aku akan memanggilmu Xiao Lu untuk komunikasi kita nanti."

Si mungil mengangguk-angguk, "wah... Xiao Lu... Nama yang bagus!!" Katanya dengan unjuk dua ibu jari.

Si mungil bernama Xiao Lu dan Minah tertegun kala majikan mereka tersenyum kecil. Walau hanya sebentar.

Sehun melirik Minah, "dan kau, Minah, aku akan menjadikanmu pelayan pribadinya selama aku pergi."

Minah membungkuk, berusaha menutupi senyum senangnya.

"Yes, My Lord..."

Saat Sehun hendak berbalik, dua pelayan yang sigap menemaninya kini tengah melepaskan jasnya. Lalu menggantikan jas itu dengan hoodie coklat gelap yang membuat Sehun mirip seperti remaja berusia belasan tahun. Jangan lupakan topi yang dipakai terbalik tersemat di kepalanya.

Xiao Lu menatap punggung tegap dengan bahu lebar itu, penuh binar antusias, "Daddy mau kemana ?!!"

"Pergi."

Sontak Xiao Lu merubah binarnya menjadi sangat redup. Ia murung. Jawaban tanpa nada, bahkan satu kata itu, membuat hati sensitif pemuda manis tersebut terluka.

"Eng... Begitu..." Bibirnya mencebik lucu.

Sehun menghela nafas lagi, "aku akan kembali jam tujuh malam. Jadi Minah, siapkan makan malam untukku dan Xiao Lu di kamar ini."

Xiao Lu memekik senang. Membuat Minah tersenyum singkat lalu membungkuk sambil berkata "yes, My Lord..."

Dan saat Sehun keluar kamar diikuti dua pelayan yang lainnya, Xiao Lu merengut tak suka. "Padahal aku ingin belsama Daddy telus..." Cicitnya.

Minah menahan diri untuk tidak bermain-main dengan pipi yang menggembung itu.

"Jangan khawatir, Tuan Muda Lu. Kita bisa bermain bersama... ah ya, anda bisa memanggil saya Minah..." Minah membungkuk sambil berkata, "salam kenal."

Xiao Lu memiringkan kepala sambil tersenyum lebar, "Salam kenal juga! Hehehe..."

Bolehkah Minah mencubit pipi si mungil?

"Tante Minah ? Boleh aku memanggilmu demikian?"

Minah mengangguk gemas.

"Huaaaa !!!" Xiao Lu bertepuk tangan, lalu bangkit untuk merangkul leher pelayan pribadinya, "Terima kasih Tante Minah !!"

Dan Minah berdoa dalam hati, ia ingin selalu merawat pemuda manis yang kini tengah senang dielus rambutnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Other Place...

Pria manis itu menatap dingin sebuah pigora besar yang terpajang di dinding kamarnya. Pemuda itu berambut coklat gelap, dengan bola mata hijau bersemburat keemasan yang indah, dan kulit seputih salju nan lembut. Aura yang dipancarkan membuat siapapun segan padanya.

Pigora besar itu menampilkan sosok pria dewasa bersetelan jas hitam, mata sipit yang tajam, dan bibir merah sensual.

"Oh Sehun... Aku benar-benar akan membunuhmu, itu tujuan hidupku!" Geramnya.

Dan tujuan itu adalah nafasku.

Aku akan sangat sesak jika aku tidak mewujudkannya.

Dengarkan isi hatiku ini baik-baik, 'Tuhan'ku.

Aku akan membunuhmu!!

Manusia biasa ini akan membunuhmu!!

Kemudian setetes air mata mengaliri pipi kanannya.

Yah...

Dia harus membunuh orang itu agar jutaan manusia merasakan kedamaian kembali.

Walaupun...

Lu Han sangat mencintai suaminya itu...

Oh Sehun.

•TBC•

•••

ENSIKLOPEDIA EURASIA

1. Daqr adalah salah satu kota besar yang menjadi markas Pemerintah Pusat Dunia. Berasal dari bahasa Inggris, yaitu 'Dark' yang artinya gelap. Presiden Dunia ke-dua, Oh Sehun, memberikan nama itu sesuai dengan warna kesukaannya. Yaitu hitam.

2. Ekasa adalah salah satu negara yang menjadi markas Pemerintah Pusat Dunia. Berasal dari bahasa sansekerta, 'Eka', yang artinya 'satu'. Karena negara ini adalah markas pertama Organisasi Daqrios.

•••

AUTHOR NOTE :

Lu Han ?

Atau,

Xiao Lu?

Suka yang mana?

Yang pasti, keduanya suka Ayah Thehun!!

oh ya, ini terakhir kalinya aku fast update. di fileku, cerita ini hanya sampai bab 2 (itupun belum kuedit nama tokohnya dan menyesuaikan dengan app FFN ini).

aku fast update sebagai ucapan terima kasih buat kalian yang menyambut cerita ini dengan antusias. maaf sekali lagi kalau bab ini kurang memuaskan.

psstt!! Sehun di sini itu antagonis, tapi gak kok di korea sana :3

selain itu, aku lagi UAS. otomatis, dua minggu ke depan gk update. mohon pengertiannya ya. karena nyaris dua tahun jadi reader FFN, DIGANTUNGIN itu emang gak enak.

Jadi, jelas aku bakal lanjutin ini. walau slow. hehehe.

jangan lupa mampir di ceritaku yang lain, judulnya 'MY OTHER DEVIL". itu GS, hehehe.

salam penulis Newbie...

Surabaya, 10 Desember 2018

•••