A/N: Sebenernya sih saya kepengen motong cerita ini di chapter yang sebelumnya aja tapi kok kesannya kayak ngajak ribut banget ya. /jduk Ini juga aslinya oneshot sih, cuma saya pisah aja biar greget. /no Oke, Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki dan selamat menikmati bagian dua. :3

(Btw, saya iseng bikin satu fanfik lain juga, Senja, companion (?) dari cerita yang ini, masih MidoAka kok, kalau berkenan boleh dong dilirik. :3 /kokpromosi /dibuang)


"Kenapa kau tidak mengatakannya langsung ke hadapanku?"

"Aku sedang melakukannya sekarang."

Wajah itu tetap tenang, tapi mereka telah bersama untuk waktu yang lama, dan tahun-tahun itu cukup bagi Shintarou untuk mengenal Seijuurou. Ia sedang rapuh. Sama seperti eksistensinya. "Kau paham maksudku."

"Akan jadi terlalu gelap jika aku datang sekarang—"

"Mereka akan membiarkanmu masuk, selalu begitu, kan?" Sosoknya memudar. "Ayolah, Shin, buat ini jadi spesial sedikit."

"Tunggu, Sei—"

Tapi Seijuurou telah menghilang.

Orang-orang menoleh saat kursi yang ada di seberang meja Shintarou terguling sendiri.


"Umm, Senpai, kau tahu lelaki berkacamata yang duduk di meja pojok dekat jendela?"

"Ya, kenapa?"

"Aku rasa dia sedang berbicara sendiri."

"Oh—kau baru ya di sini jadi belum tahu. Biarkan saja. Dia memang selalu seperti itu. Sejak setahun yang lalu, ia selalu datang dan berbicara sendirian."


Malam itu terasa dua kali lipat lebih dingin. Tapi mungkin Shintarou telah mati rasa. Seperti biasa, pelayan di kediaman Akashi mengenalinya dan membiarkannya masuk. Tanpa pertanyaan kenapa ia baru tiba begitu hari gelap, tanpa pertanyaan akan alasannya berkunjung. Karena mereka sudah tahu, tugas mereka hanyalah menyambutnya dengan baik dan menyiapkan kamar tamu untuknya bermalam. Karena mereka telah paham, hanya ada satu alasan kenapa Shintarou selalu datang ke Kyoto setiap bulan, pada tanggal dua puluh atau akhir pekan setelah tanggal tersebut, sejak setahun yang lalu.

Ada makam keluarga di kediaman Akashi. Shintarou hanya pernah sekali ke sana bersama Seijuurou yang masih hidup, sewaktu ia mengajak untuk mengunjungi mendiang ibunya.

Setahun yang lalu, pesawat yang ditumpangi Seijuurou jatuh dalam dua per tiga perjalanannya menuju Tokyo. Hancur seperti onggokan yang tidak penting, jauh di tanah yang asing, membuat heboh beberapa minggu, kemudian menjadi insignifikan setelah ditimpa berita lain. Tadinya, pesawat itu dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Narita pada dua puluh Desember; tapi Shintarou hanya menunggu seseorang yang tidak pernah datang. Cincin yang telah disiapkannya jadi terkesan konyol dan sia-sia.

Tempat itu gelap, dan langit yang berawan sama sekali tidak membantu. Penglihatan Shintarou selalu buruk di tempat yang penerangannya kurang, tapi ia membawa senter yang disiapkan pelayan keluarga Akashi untuknya, dan jika seandainya tidak ada setitik cahaya pun yang membantunya mengenali jalan, Shintarou dan kakinya yang telah hafal akan tetap tiba di sana—kalau perlu dengan merangkak.

Saat ia akhirnya sampai, Seijuurou yang berwajah bosan sedang duduk di atas batu nisan, dengan satu kaki menggantung ke bawah dan satunya lagi ditekuk ke dada seperti ketika ia bermain shogi. Jika situasinya lain, mungkin itu adalah hal yang sangat kurang ajar—menduduki batu nisan, maksud Shintarou—tapi rasanya kau tidak mungkin bisa kurang ajar pada dirimu sendiri, dan terlebih yang diduduki oleh Seijuurou adalah batu nisan untuk dirinya.

"Kau seharusnya tidak berada di sana."

"Apa?" Seijuurou menoleh padanya dengan wajah acuh tak acuh. "Setelah akhirnya memutuskan hubungan denganku, kau sekarang berusaha menjadi pengusir setan?"

"Bukan." Sinar kuning dari senter menyinari kanji yang diukir dengan hati-hati di batu kelabu itu. "Maksudku, kau seharusnya tidak di sana, tidak di seberang sana." Senternya mengarah ke tanah yang ia pijak. "Kau seharusnya masih di sini." Mata mereka bertemu. Suaranya memelan, nyaris tidak terdengar, "Bersamaku."

Sapuan angin terasa dingin di pipinya, tapi tidak sebeku jari-jari Seijuurou saat lelaki yang serupa bayangan itu beranjak ke hadapannya, menyentuh sisi wajahnya. "Aku sudah mati."

"Aku tahu."

Shintarou menarik pundak Seijuurou dan merengkuhnya. Memeluk bukanlah gayanya, sama sekali bukan—setidaknya itulah yang ia pikir ketika Seijuurou masih hidup. Sekarang, yang ada hanyalah kesadaran akan seberapa rindu dirinya mendekap lelaki itu dalam lengannya, menghirup harum tubuhnya, membagi kehangatan mereka.

Ia memeluknya sekuat mungkin, yang dulu akan membuat Seijuurou terkekeh sambil berkata "Aku sesak," dengan napas yang terputus-putus. Tapi tidak ada yang berkata apa-apa sekarang. Shintarou tidak bisa merasakan naik-turun dada Seijuurou ataupun hangatnya napas lelaki itu di sisi lehernya; ia sadar, hanya ada satu jantung yang berdetak di sana. Tangan Seijuurou merayap ke punggung Shintarou dan membalas pelukannya, nyaris tidak terasa. Memang seharusnya Shintarou tidak memeluk apa pun dan memang seharusnya juga tidak ada yang memeluknya balik.

Ada banyak kata-kata yang ingin disampaikannya, tentang kesalahannya tidak menghentikan Seijuurou saat ia berniat kembali ke Kyoto, tentang seberapa menyesal ia tidak menerima undangan Seijuurou untuk menyusulnya ke luar negeri waktu itu, tentang bagaimana Shintarou tetap tidak bisa menyingkirkan barang-barang Seijuurou yang tersisa di apartemennya meski semuanya sudah lewat setahun lamanya. Ia bermaksud mengatakannya semuanya sekarang, saat kesempatannya datang dan momennya pas, dan ia akan menandai hari ini sebagai terakhir kalinya ia bicara dengan Seijuurou atau pun dihantui oleh bayangan akan dirinya.

Namun Shintarou hanya tidak bisa. Ia berdiri di sana memeluk hantu Seijuurou seperti orang dungu, sama kaku dan sama dinginnya dengan patung es yang dipajang di tengah pusat perbelanjaan tempat ia membeli cincin setahun yang lalu.

Shintarou tidak tahu apa yang berusaha ia cari, apa yang ia berusaha temukan, atau apa yang ia berusaha buktikan. Seijuurou sudah tidak ada dan ia sadar akan hal itu. Tapi lalu siapa yang sedang bersamanya saat ini? Siapa yang sedang tenggelam dalam rengkuhannya sekarang? Shintarou bisa merasakan tubuhnya bergetar, menahan emosi yang selama ini telah ia sumbat, menenggelamkan wajahnya ke pundak Seijuurou, berusaha menemukan sisa-sisa kehangatan atau tanda-tanda kehidupan apa pun. Suaranya keluar dalam bisikan, dalam situasi normal, ia tidak akan mengatakannya dengan sebegitu bebas dan jujur tanpa membuat wajahnya sendiri bersemu malu, tapi sekarang, dalam gelap langit musim dingin di tengah sepinya pemakaman, ia berkata, "Aku masih mencintaimu."

"Aku tahu."

Shintarou menolehkan kepalanya dan mereka bertemu. Sejak setahun yang lalu, Seijuurou selalu menghilang terlebih dahulu dan Shintarou hanya tertinggal di sana—di dalam kafe, di perempatan, atau di jalan menuju rumah keluarga Akashi—sendirian, bertanya-tanya apa rasanya mencium hantu, atau apakah hal itu mungkin dilakukan. Kalau dipikir-pikir memanglah mustahil, tapi saat Seijuurou ada di sana, logikanya berhenti bekerja. Ia tidak butuh segalanya jadi masuk akal (lagi pula, hidup Shintarou sejak setahun lalu memang sudah tidak terasa masuk akal lagi).

Seijuurou masih terasa sama; masih manis, masih membuat kecanduan. Ia hanya tidak hangat, ia hanya tidak bernapas, dan Shintarou pikir ia sudah sinting. (Mungkin memang iya, sedikit, bagaimana pun, hanya ia yang bisa melihat Seijuurou sejak pesawatnya jatuh setahun yang lalu.) Seijuurou yang ini terasa selembut permen kapas dan meleleh di bibirnya; Shintarou tidak yakin apakah ia akan pernah puas.

Saat mereka berpisah, yang terengah-engah hanya Shintarou, napasnya membuat potongan-potongan putih di antara wajah mereka. Seijuurou menatapnya tanpa berkedip, sama sekali tidak membutuhkan udara. "Kita masih bisa melanjutkan ini, aku tidak akan ke mana-mana." Ekspresinya tidak terbaca. "Aku akan mengikutimu kalau kau mau, atau kita bisa terus bertemu sebulan sekali. Aku tidak keberatan. Waktu sudah berhenti mempengaruhiku."

Shintarou menatapnya lama, kemudian mengecup puncak kepalanya. "Tapi kita tidak bisa—aku yang tidak bisa, aku sudah menahanmu di sini terlalu lama."

"Memangnya aku di sini hanya karena kau beharap begitu?" Sekilas, Shintarou tersenyum ketika bisa menangkap jejak keangkuhan dan sikap aku-selalu-benar yang lama tidak dilihatnya. "Aku di sini karena aku mau."

"Tidak, kau ada di sini karena aku tidak mau kau pergi."

"Jangan mendebatku, aku selalu benar."

"Sudah mati pun kau tetap tidak mau kalah, ya."

"Itu karena aku selalu menang."

Senyum mereka berdua samar.

Shintarou sudah hampir lupa dengan dinginnya cuaca jika saja angin tidak berembus, mengingatkannya kalau ia memang tidak berniat untuk menjadikan perpisahan itu berlama-lama. Ia menghela napas, panjang, setengah berharap waktu untuk berdamai dengan kematian Seijuurou tidak akan pernah datang.

"Kenapa sekarang?" Seijuurou bertanya. "Kenapa baru sekarang? Setahun adalah waktu yang lama, kau bisa datang kapan saja. Kenapa harus menunggu selama itu hanya untuk melepaskanku?"

"Aku menunggu…." Shintarou memulai, tangannya mengusap helaian rambut yang kemerahan. "Alasanku egois, memang, tapi aku menunggu karena aku perlu waktu untuk berdamai dengan kematianmu—dengan diriku sendiri, untuk menerima kenyataan kalau kau memang benar-benar telah tiada."

"Tapi aku merusak semua usahamu itu dengan tetap berada di sini."

"Aku bahkan tidak tahu apakah kau benar-benar gentayangan atau hanya bayanganku saja."

Ketika Seijuurou hanya tersenyum, Shintarou melanjutkan, "Lagi pula, tepat setahun sudah lewat, hari ini tanggal itu, kan? Dua puluh Desember, tanggal kelahiranmu—"

"Dan tanggal kematianku."


"Tanggal seharusnya aku memberikanmu ini," Shintarou mengeluarkan kotak beludru kecil itu dari sakunya, "tepat setahun yang lalu."

Mata dwiwarna itu melebar.

"Tanjoubi omedetou, Sei."


"Dua puluh Desember itu, aku sudah melakukan semua yang mungkin dilakukan manusia agar segalanya berjalan dengan sempurna. Aku menunggu kabar darimu dengan waswas, berharap bisa menjemputmu di bandara secepat mungkin. Tapi kau tidak pernah datang." Shintarou menyelami manik merah dan keemasan itu, terkejut sendiri mendapati dirinya kini begitu tenang, dibandingkan dengan setahun yang lalu. Ia tersenyum, tipis dan lemah. "Lalu ketika aku datang ke sini, aku melihatmu lagi, waktu itu aku kira aku pasti berhalusinasi."

"Dan mulai sejak itu kau selalu kembali ke sini sebulan sekali, untuk peringatan kematianku setiap tanggal dua puluh."

"Ya," ia berjalan mendekati batu nisan, "aku pikir kita akan baik-baik saja terus seperti itu, tapi semakin lama aku semakin sadar kalau ini salah. Aku tidak berhak menahanmu di tempat yang seharusnya sudah kau tinggalkan, Sei."

Shintarou berlutut, lama menatap nama yang terpatri di batu, sebelum meletakkan kotak beludru itu di tempat persembahan. "Aku pikir kalau aku tidak memberimu ini, aku tidak akan pernah bisa membiarkanmu pergi." Ia menarik napas. "Kalau ini bisa meringankan bebanmu sedikit, aku akan lebih lega. Masih banyak hal yang ingin kukatakan padamu, tapi aku rasa ini saja sudah cukup." Ia mengatupkan kedua tangannya dan menunduk. "Aku harap kau bisa melanjutkan perjalananmu dengan tenang. Memang butuh waktu yang lama, tapi perlahan aku akan belajar untuk merelakanmu."

Selesai. Ia menyudahinya dengan Seijuuoru. Inilah hari penting yang telah ia tunggu-tunggu. Seijuurou bisa pergi dengan tenang. Pertemuan sebulan sekali mereka berakhir sudah. Malam-malam yang ia habiskan dalam ketidakpercayaan dan mata yang mengering karena tangis pun telah berakhir. Shintarou bisa merasakan matanya menghangat, beban yang selama setahun terakhir ini telah membuat dadanya sesak perlahan mulai terangkat, ia lega, ia sangat le—

"Kalimatmu yang barusan itu benar-benar sudah kau latih dari lama, ya?" Di sampingnya, Seijuurou tertawa geli dengan cara yang sedikit mengejek, kemudian bertepuk tangan seakan ia adalah anak kecil yang habis menonton pertunjukan sulap. "Normalnya, sifat tsundere-mu akan menghalangimu untuk mengatakan sesuatu yang sejujur itu dengan kelancaran yang barusan. Kau akan tergagap, kemudian wajahmu memerah, dan mencari-cari alasan untuk menyembunyikannya dengan membetulkan kacamatamu."

"Kau masih di sini?!"

"Aku tadi bilang kan kalau aku di sini karena keinginanku sendiri."

"Astaga." Ia membuang muka, udaranya masih dingin, tapi sekarang semuanya terasa benar-benar panas.

"Hei," Seijuurou tertawa lagi, "jangan malu begitu—"

Shintarou menepis tangannya. "Pernahkah aku bilang kalau kau itu benar-benar menyebalkan?"

"Maaf, maaf, aku tidak bisa tidak menggodamu."

"Jangan mendorongku, Seijuurou—"

"Shin."

Shintarou tidak yakin apakah hantu masih mempunyai berat tubuh, tapi ia jatuh terduduk dengan Seijuurou di pangkuannya. Hanya ada sejengkal jarak yang memisahkan wajah mereka; ia tepat bertatapan dengan mata Seijuurou, yang sama tajam dan menawannya seperti ketika ia masih hidup. "Kau tidak akan memakaikan cincinnya di jariku, nih?"

"Aku tidak mau menikah dengan orang mati."

Seijuurou tersenyum dan tertawa lagi, sekali ini dengan tulus, murni tanpa maksud sarkastis apa pun, hal yang jarang dilakukannya bahkan ketika jantungnya masih berdetak. Sesaat, Shintarou pikir ia melihat ada uap putih dari napas Seijuurou yang berembus. Sekilas, ia kira ia melihat rona sehat kembali ke wajah Seijuurou yang pucat. Sekejap, ia hampir merasa ada kehangatan dari tubuh yang menindihnya.

"Kalau saja aku masih hidup, aku akan menerima cincin itu dan aku akan bilang aku akan menjaganya hingga ke kuburanku." Seijuurou tersenyum (secuil sarkasme kembali ke dalam kalimatnya tapi lelaki yang satunya sudah tidak peduli), ia mengusap air mata dari pipi Shintarou, yang bahkan tidak sadar kapan titik-titik hangat itu turun. "Sekarang aku ingin bilang kalau aku bahagia pernah mengenalmu dan menghabiskan hari-hariku denganmu.

"Aku memang ada di sini karena aku masih mau bersama-sama denganmu—entahlah, mungkin karena aku merasa seharusnya masih ada suatu hal penting yang terjadi jika aku masih hidup?" Senyumnya menghilang. "Biarpun harus kuakui aku agak—sangat—tersinggung dengan caramu 'mengusirku'."

Shintarou memalingkan wajahnya. "Maaf."

"Aku akan pergi, kalau itu bisa membuatmu lebih tenang." Seijuurou menangkup wajahnya, matanya jail. "Tapi kalau tahu-tahu aku masih di sini, aku tidak mau kau menyalahkan dirimu sendiri karena itu adalah murni keinginanku."

"Ya ampun, pergilah."

"Pejamkan matamu."

Shintarou menurut dan Seijuurou menciumnya sekali lagi. "Kalau kau menemukan pacar baru—misalnya si Takao itu atau siapalah—dan dia membuatmu tidak bahagia, aku akan menghantuinya."

"A-apa hubungannya Takao dengan—"

"Jangan buka matamu." Mulutnya kembali dibungkam dan kalimatnya terputus. "Kalau kau mengusirku kemudian sampai menyesal, aku bersumpah aku akan menghantuimu lagi sampai giliranmu punya makam sendiri, Shin."


"Omong-omong, ceritamu itu, sudah kau beri judul?"

"Hmm, mungkin Senja atau yang semacam itulah." Sesuatu yang mengingatkanku padamu.

"He, jangan buat cerita yang terlalu cengeng."

"Pergi sana."


Ketika Shintarou membuka mata, Seijuurou sudah tidak ada. Senternya tergeletak di dekat tempatnya duduk, masih menyala namun agak redup. Ia sendirian lagi.

Shintarou tidak yakin berapa lama ia berada di sana, tapi seluruh tubuhnya terasa begitu kaku dan pipinya benar-benar dingin. Ia merasa jika tidak segera bergerak, ia akan sungguh-sungguh membeku. Maka dokter muda itu memungut senternya dan perlahan bangkit ke posisi berdiri. Mata hijaunya memandang sebentar ke batu nisan yang ada di sampingnya, lalu mengucapkan selamat tinggal dalam kebisuan sebelum akhirnya berjalan menjauh.

Di pergelangan tangannya, arloji menunjukkan waktu telah lewat tengah malam. Sudah tanggal 21.

end