Paper, Art, And Love

Tittle : Paper, Art, And Love

Author : Kanari Amai

Disclaimer : Masashi Kishimoto-Sempai *Just like Tobi XD*

Genre : Romance , Friendships

Pair : SaiKona

Warning : OOC, Typo(s), Gajeness, Abal, Romance yang enggak romance(?),DON'T LIKE DON'T READ! IF YOU WANNA FLAME, PLEASE JUST PM, DON'T FROM REVIEW! :p

Rated : T

Summary : Seni adalah dunia kami, dan mungkin hal itu jugalah yang menyatukan kami. Seperti kertas yang telah bertemu dengan tinta, sesuatu yang saling melengkapi. Kami selalu bersama, dan kami telah berjanji setia untuk melalui selamanya bersama. Tapi, akankah janji kami ini akan terus ada dan teringat sampai kapanpun?-"

-paperartandlove-

Aku masih tidak bisa melupakan kejadian tadi siang. Kenapa Konan bisa tertarik kepada Sasuke? Awalnya aku kira dia hanya bercanda, tapi saat mengatakan itu wajahnya agak memerah. Semoga saja bayangan Konan soal Sasuke segera hilang besok dan ia sama sekali tidak tertarik pada Sasuke lagi. Huh, aku memang jahat. Mendoakan hal yang tidak-tidak. Lebih baik sekarang aku jalan-jalan keliling Konoha. Sekarang memang sudah malam, tapi aku suka berjalan malam hari di Konoha. Jalanannya sepi walaupun masih ada orang yang lewat.

Aku berjalan melewati kedai Ichiraku, toko bunga Ino yang sudah mau tutup, rumah sakit Konoha, dan… rumah Konan. Saat aku melewati rumahnya, aku mendengar Konan bercakap-cakap dengan kakaknya sebentar. Lalu, Konan berjalan menuju kamarnya yang masih dipenuhi cahaya lampu. Ia memasuki kamarnya lalu mematikan lampu. Jadi, sudah pasti Konan mau tidur sekarang.

Setelah melewati rumah Konan, aku duduk sebentar di bangku taman yang terletak tak begitu jauh dengan gerbang Konoha. Aku tidak tahu kenapa aku jadi ingin sekali duduk, padahal aku sama sekali tudak merasa lelah akan perjalanan malam ini. Saat aku duduk di bangku taman itu, aku mendengar derap kaki menghampiriku, dan ada seseorang yang menepuk punggungku, "Hey." serunya sambil duduk disebelahku. Aku menatapnya, lagi-lagi Uchiha Sasuke. Ia menatapku dengan tatapan serius, dan aku tidak mengerti apa yang ingin ia bicarakan kepadaku. Lagipula, aku sama sekali tidak tahu bahwa ia bisa melarikan diri dari kediaman Uchiha untuk berjalan keluar malam ini. "Aku mau bicara hanya empat mata denganmu." ujarnya dengan nada yang serius.

"Mau bicara apa?" tanyaku sambil menatap lekat-lekat matanya.

"Jangan dekati Konan lagi."

"Memangnya kenapa, dan masalah apa yang terjadi padamu bila aku mendekatinya?"

"Jika kau melanggar, kau harus hadapi aku…"

"Tapi, bila ia yang mendekatiku, kau mau apa?"

"Aaargh, sudahlah! Kau ini betul-betul menyebalkan!" seru Sasuke frustasi. Aku hanya mengedipkan mata kepadanya sambil tersenyum, sebagai tanda aku bukan saingannya. Yah, aku memang bukan saingannya. Aku tahu, dia lebih jenius ketimbang aku. Jelas sekali, apalagi dia selalu dapat peringkat 1 di akademi dan dari clan Uchiha. Dia juga tampan, setidaknya lebih tampan sedikit dibanding diriku. Tapi, aku bangga pada diriku. Aku lebih putih darinya, itu sudah jelas. Kulitku seputih salju. Lalu, aku juga bisa menggambar, sedangkan dia tidak. Jadi, aku juga punya keunggulan.

"Aku mau pulang. O,ya. Kemampuanmu untuk menyelinap keluar dari rumah, kuakui cukup hebat…" ujarku sedikit menyindir. Bisa kulihat, Sasuke sedikit lebih mendidih sekarang.

"Darimana kau tahu aku menyelinap dari rumah?" katanya tidak percaya.

"Dengan insting, sobat. Kalau aku begitu jujur, aku bisa beritahukan ini kepada Okaasanmu, Mikoto-Samma…" godaku sambil menghindar dari tangannya yang hendak mencekik leherku. "Awas kau, ya! Lihat saja, aku akan mendapatkan Konan lebih dulu dibanding kau!"

-paperartandlove-

Hari ini aku berangkat ke KHS bersama keenam sahabatku, Nara Shikamaru, Inuzuka Kiba, Akimichi Chouji, Rock Lee, Hyuuga Neji, dan Uzumaki Naruto. Mereka bertiga sering pergi bersama denganku bila aku tidak pergi ke sekolah bersama Konan. Lagipula menurutku, mereka bertiga itu adalah sahabat yang sangat mengasyikkan. Apalagi Naruto yang selalu saja punya kejutan setiap harinya.

"Kau tahu, semalam aku menghabiskan lebih dari seporsi yakiniku, kira-kira… aku menghabiskan sepuluh porsi, itu pun seingatku." Seru Chouji sambil mengelus perutnya. Ia selalu membicarakan makanan sebagai topik awal pembicaraannya, tapi itu cukup menghibur bila kami memang sedang lapar.

"Hanya yakiniku saja! Aku sudah menghabiskan berpuluh-puluh mangkuk ramen di Ichiraku. Apakah itu kurang menakjubkan?" ucap si mulut besar, Naruto. 'Berpuluh-puluh mangkuk' yang dimaksud oleh Naruto adalah saat ia memakan ramen di Ichiraku dua hari yang lalu, saat ia mendapatkan kupon gratis makan di Ichiraku sepuasnya. Ia mentraktir kami bertiga, namun sudah pasti yang paling banyak makan hanyalah Naruto dan Chouji. Jujur saja, aku hanya memakan satu mangkuk dan sudah cukup kenyang, bahkan aku tidak menghabiskan kuahnya. Kuah ramen yang tersisa di mangkukku itu langsung dituangkan Naruto kedalam mangkuknya, dan itu selalu terjadi…

"Ngomong-ngomong soal makanan, aku kemarin pergi ke sebuah restoran kare dekat sini bersama Gai-sensei. Kare disana sangat enak dan harganya juga murah. Aku dan Gai-sensei sampai tambah berkali-kali, tapi tidak sebanyak kau, Naruto!" seru Rock Lee. Aku hanya bisa menghela napas mendengarkan ocehan ketiga sahabatku ini. Biasanya, Kiba selalu menengahi 'pembicaraan soal makanan' mereka itu, tapi sepertinya hari ini agak lain.

Hari ini, sepertinya Naruto sedang hobby berceloteh, maksudku… ya, aku tahu ia sangat suka bicara dan ia memang orang yang cukup bawel. Tapi, biasanya ia tidak pernah bicara selengkap, sepadat, dan tidak jelas seperti ini. Huh, apapun itu tetap saja ia adalah Naruto, anak aneh sekaligus hebat yang selalu saja berhasil mencairkan suasana…

-paperartandlove-

Sepulang dari KHS, aku mengajak Konan pulang bersama sebelum Sasuke sempat mengajaknya duluan. Aku memang tidak menganggap Sasuke sebagai rival untuk sekarang, tapi nanti, aku pasti akan menganggapnya sebagai rival terberatku. Aku tahu, ia adalah lelaki incaran banyak kunoichi di KHS ini, tapi itu tidak menutup kemungkinan bila ada beberapa yang tidak menyukainya. Hm, seperti contohnya Hinata, atau Tayuya, atau… yaah, paling tidak beberapa tidak begitu menyukainya.
"Sai, menurutmu Sasuke itu baik atau bagaimana? Maksudku, yaaah, sifatnya itu seperti apa?" tanya Konan tiba-tiba. Apa? Itu, barusan seperti ada yang menusuk langsung pas kediriku. Kenapa, kenapa tiba-tiba ia mengatakan hal yang seperti itu?

"Ahaha, bagaimana, ya? Dia itu..." Aku rasanya cukup gugup menjawab pertanyaan Konan, apalagi sekarang Konan terus menatap ke arahku. Bagaimana ini? Apa yang harus kau lakukan?...Ah! Aku baru ingat! Aku harus menceritakan kejadian jelek Sasuke kepadanya agar ia tidak terus-terusan memikirkan Sasuke, "Kau tahu tidak hal-hal jelek yang pernah dilakukan Sasuke?" Konan melebarkan matanya, ia tampak kaget. Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya lalu langsung menatapku dengan penuh penasaran.

"Hal jelek yang suka dilakukannya adalah ia suka sok keren. Banyak, sih, hal jelek yang pernah ia lakukan. Tapi yang terparah menurutku adalah, ia pernah menyelinap keluar rumah tanpa sepengetahuan siapapun hanya untuk memaki orang!" seruku sambil mencoba mengubah sedikit inti cerita malam tadi. Aku menjaga identitasku sebagai orang yang dimaki olehnya semalam, walaupun akhirnya aku lah yang memenangkan adu mulut semalam.

"Aaah, apakah kau bersungguh-sungguh? Tapi banyak orang pernah melakukan kesalahan, dan Sasuke juga termasuk orang yang kumaksud. Sejujurnya, aku sendiri pernah berkeliaran pada malam hari untuk bermain di rumah Hyuuga Hinata tanpa sepengetahuan orangtua ku. Dan, soal sok keren yang itu…aku rasa semua orang pernah merasa sok keren. Jadi, siapa yang harus kita salahkan?"

A…Apa yang dikatakannya barusan itu? Ia baru saja membela Sasuke di depanku, dan itu sama sekali tidak kuharapkan! Aku sama sekali tidak menginginkan hal tersebut terjadi, dan… Sasuke… Andai saja Konan tahu bagaimana Sasuke itu sebenarnya. Dan juga, andai saja Konan mengetahui isi hatiku kepadanya… sayang sekali semua itu belum terwujud…

-paperartandlove-

Endingnya jelek banget, sumpah jelek banget! Gomen, ne reader, Kanari buat ending yang parah banget, semoga aja chapter selanjutnya enggak kayak gini… Soalnya, gitu deh. Kanari selalu buruk saat nentuin tiap ending, dan Kanari sendiri enggak tau kenapa bisa kayak gini. Huh. Oh, ya! Kanari baru aja inget, Kanari lagi buat juga FF baru tapi Kanari belum mau bocorin cerita tentang apa. Gomeeeeen banget kalo Kanari suka banget bikin FF multichapter dan lama banget nge-postnya. Soalnya, Kanari sangaaaaaaaaaaat buruk dalam ending. Jadi, tolong maafkanlah Kanari ini, ne… *bow*

With 'Many' Love

Kanari Amai