Sampah yang sesunguhnya bukanlah daun atau plastik..
Tapi, 'mereka' yang merugikan negara dari belakang..
'mereka' yang licik, menyedihkan, dan menjijikan..
'mereka' yang sangat munafik..
'mereka' yang tersenyum di atas penderitaan orang lain..
'mereka' yang berhati setan berwujud malaikat..
dan, 'mereka' yang akan MATI sebentar lagi..
BLOOD, HOPE, LAUGHTER, and TEARS
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Rate : saat ini T
Warnings : typo(s), OC, tidak sesuai EYD, aneh, abal-abal, tidak konsinsten dalam penulisan, amburadul, dan kesalahan lainnya
Author Baru, sangat menghargai Review anda..
Tekan back sebelum anda menyesal..
[Tokyo / Kantor Kepolisian Pusat (Ruang Kasus Khusus) / 30 April 20XX / 09.47 a.m]
'Pagi yang mengerikan' itulah yang tergambar di ruangan ini. Beberapa orang tengah berdiri di hadapan pemuda bersurai crimson itu dan sesekali mendapatkan hadiah berupa tatapan tajam yang luar biasa membuat merinding.
"Jadi kalian ingin berhenti dari tim kasus khusus?" ucap pemuda itu yang tak lain adalah Akashi.
"E-etto gomene Akashi-sama, itu benar seperti yang kau katakan." ucap pemuda bersurai coklat itu sambil menunduk.
"Jangan hanya minta maaf Ryo, kenapa kalian berani melakukan ini?"
"Ka-kami masih sayang nyawa Akashi-sama."
"Jadi jika aku masih disini artinya 'aku sudah tidak sayang nyawa' begitu? ingatlah, kalian itu orang-orang terbaik di Kelasnya kenapa bisa—"
"Setiap orang punya pendapatnya masing-masing, Akasi-kun." ucap Kanda memotong perkataan Akashi.
"Berhenti memotong perkataaanku Kanda-san."
Hening..
Hanya suara kertas yang sedang ditata dan dilihat oleh Akashi juga suara AC yang mengisi ruangan bernuansa merah itu.
"Kalian boleh pergi sekarang." ujar Akasi lembut pada 20 rekan(budak)nya, seketika mereka semua bernapas lega termasuk Kanda.
"Tapi, itu artinya kalian tidak boleh menginjakan kaki di ruangan ini, mendapat informasi dari tim ini, juga tidak akan mendapatkan bantuan dariku. MENGERTI?"
"Kami mengerti Akashi-sama." ujar mereka semua bebarengan dan meninggalkan ruangan itu.
Kini Akashi masih mengutak-atik komputernya tidak memperdulikan pengunduran diri dari rekan(budak) satu tim itu.
"Akashi-kun, tidak apa-apa nih tim Khusus hanya berjumlah 5 orang?"
"Itu lebih baik Kanda-san, dari pada banyak anggota tapi tidak bisa berguna untuk menganangi kasus-kasus kecil se—"
"Seperti kasus AOME dan gadis goth loli bernama Yume yang sukses membuatmu pusing itu?"
"Jangan membuat aku mengeluarkanmu juga dari tim ini."
"Hidoi, Akashi-chan jangan gitu dong pada—"
Perkataan Kanda terhenti karena sebuah gunting baru saja mengenai pipi mulusnya dan terlihat luka gores yang mengelurkan darah.
"Jangan membuatku melempar gunting kesayanganku lagi untuk membungkam mulut cerewetmu itu." Akashi sudah mendeath glare Kanda yang tengah mengobati lukanya dengan obat dari P3K yang biasa ia bawa (?).
"Akashi-kun, aku ingin keluar sebentar saja disini capek megurusimu. Ja!"
Tanpa memperdulikan kepergian Kanda, Akashi masih setia dengan komputernya. Sesekali terlihat capek, pusing, dan marah.
"Kau dimana Yume?"
[Tokyo / Taman Y / 30 April 20XX / 11.38 a.m]
"Mama, kakak itu ngapain tidur di tengah taman?" tanya anak perempuan itu sembari menunjuk seorang pemuda yang tengah tidur dengan santainya dan wajahnya ditutupi koran.
"Jangan dipikirkan, ayo pergi saja."
Entah sudah berapa tanya, ejekan dan kritik dari orang-orang yang berlalu lalang di taman itu. Sang pemuda tetap berada di posisi tidurnya sampai..
DUAGH
"Aduh, sakit banget-ssu siapa yang berani melempar bola basket ini sih?" kini yang pemuda bersurai kuning itu sedang menegok kesana-kemari untuk membalas dendam pada sang pelaku pelempar bola itu. Tapi matanya menangkap sesosok gadis yang tengah menyeringai dengan amat manis(menyeramkan) kepadanya.
"Aku pelakunya, Kise-kun"
[Tokyo / Taman Y (Street basketball) / 30 April 20XX / 11.45 a.m]
"Yumecchi, kalo mau membangunkan orang jangan pakek acara lempar bola basket segala kan sakit-ssu." ucap pemuda yang diketahui bernama Kise itu sembari memantul-mantulkan bola dan bersiap untuk menembak three point.
"Kau memarahiku?" tanya Yume disertai death glare.
"Bu-bukan be-be-begitu Yu-yumecchi."
"Lalu?"
"A-aku ha-hanya i-ingin—"
"'Ingin' apa? kau tau kan aku benci kota siang hari tapi kau malah memintaku menjeputmu?! lancang sekali kau."
"Aku hanya ingin menghilangkan phobia anehmu itu Yumecchi."
Tamatlah Kise karena death glare Yume menjadi 100x lebih menyeramkan (Reader bisa bayangkan?).
"Yasudah, aku minta maaf-ssu. Oh, ya bagaimana pendapatmu tentang detektif baru itu?"
"Dia seperti orang yang kehilangan arah."
"Hah?"
"Maksudku dia sepertinya tidak menyukai pekerjannya saat ini, terlebih lagi warna mata kirinya itu benar-benar mirip seperti 'orang' yang diceritakan Ketua."
"Lalu apa rencanamu-ssu?"
"Di tugas selanjutnya kita pastikan ia juga ikut menikatinya."
[Tokyo / Kantor Kepolisian Pusat / 7 Mei 20XX / 10.56 a.m]
Kantor yang tidak pernah sepi, entah sudah berapa banyak kasus baru bermunculan dari hari ke hari. Kasus pembunuhan, penyiksaan, pelecehan, tidak asusila, teroris, dan AOME. Semenjak keluarnya beberapa anggota Tim Kasus Khusus, sudah ada lebih dari 24 kasus baru bermunculan di Tokyo, Sapporo, Osaka dan berbagai tempat di Jepang. Banyak hipotesa dan protes masyarakat menyerang kepolisian Jepang yang dianggap tidak tegas dalam menangani kasus ini. Semua hal itu dikumpulkan oleh Tim informasi dan sebagian ada pada komputer di ruangan ini. Ruangan Kepala Kepolisian Jepang.
TOK TOK
"Pak Kepala, ini Akashi dari Tim kasus khusus."
"Silahkan masuk, Akashi-san"
Pemuda bersurai crimson itu langsung memasuki ruangan itu dan memberikan beberapa berkas pada pria paruh baya yang tengah meminum kopinya dengan sangat santai.
"Maaf jika lancang tapi apa sebenarnya maksud anda meminta saya untuk mencarikan bekas tentang 'Pembakaran Sebuah Tempat Pelatihan Pembunuh Bayaran' di Kanagawa 12 tahun yang lalu?" tanya Akashi to the point.
"Hahaha, tidak perlu seformal itu Akashi-san, alasanku sederhana kerena hanya ingin bernostalgia tentang kasus-kasus yang sudah pernah kuselesaikan."
BRAK
Akashi mendobrak meja di depannya itu bahkan suaranya terdengar sampai luar ruangan dan mengundang beberapa orang untuk mengintip keadaan di dalamnya.
"SAYA MENCARI BERKAS-BERKAS INI SELAMA HAMPIR 6 JAM DAN SEMUA DIDASARI DARI 'HANYA'?"
"Jaga sikapmu terhadap seseorang yang lebih tua dan terhadap atasanmu ini!"
"Tapi tetap saja saya tidak terima."
"KELUAR atau KUPECAT KAU SEKARANG JUGA!"
Dengan berat hati Akashi meniggalkan ruangan itu dengan wajah sangat marah dan beberapa kata-kata kotor terlontarkan dari mulutnya.
"Baru kali ini Akashi-san dimarahi sama pak Kepala." bisik salah satu perempuan yang tadi sempat menguping tadi ke orang-orang di sebelahnya.
"Mau bagaimana lagi, pak Kepala memang orang yang seenaknya sendiri saat kasus AOME merajalela beliau masih sempat-sempatnya pergi ke klab malam." bisik perempuan lainnya.
"Apa perlu kita ajukan surat protes saja ke pemerintah?" tanya salah satu pemuda yang ikut dalam pembicaraan sejenak itu.
"Kau gila? dengan kondisi seperti ini memangnya kau berani melakukan hal itu? jika ingin pergi ke pusat harus dapat izin dari pak Kepala."
"Kau benar juga, tapi—"
"Sudahlah, ayo kembali kerja. Bubar – bubar semua." perintah salah seorang polisi disana.
[Tokyo / Kantor Kepolisian Pusat (Ruang Kasus Khusus) / 7 Mei 20XX / 11. 21 a.m]
"Akashi-kun, yang sabar ya menghadapi pak Kepala." ujar Kanda menenangkan Akashi yang kini sudah mendekati batasan kesabaranya.
"Aku tau kau berusaha menyemangatiku tapi terkadang aku benci juga pada 'Orang menjijikan' itu."
"Ya ampun, pak Kepala sampai kau ejek begitu bisa-bisa bukan hanya kau yang dipecat tapi juga pebubaran tim Kasus Khusus."
"Itu lebih baik lagi."
"Eh? kalo tim ini dibubarkan kau kira berapa orang yang bersedia untuk menyelesaikan kasus AOME sekalipun itu mendapatkan hadiah 1 Milyar Yen."
'Yang dikatakan Kanda ada benarnya juga.' batin Akashi.
"Lagi pula, kalo Akashi-kun dipecat kau tidak bisa mencari Mibuchi Reo 'kan?"
Hening...
Hanya saja kini mata heterokom milik Akashi sedang menatap tajam Kanda yang langsung ngacir keluar ruangan sambil bilang "GOMENE AKASHI-SAMA!"
[Tokyo / 7 Mei 20XX / 09. 52 p.m]
Akashi POV
KLONTANG
'Sebal! bisa-bisanya aku dimarahi pak tua itu apa haknya melakukan hal itu?' batinku sembari menendang beberapa kaleng minuman di depanku.
Sekarang aku berada di salah satu gang kecil yang dulu pernah menjadi TKP kasus AOME, lebih tepatnya kasus pertama AOME. Entah apa yang ada dipikiranku sampai membawa tubuh ini menuju tempat ini. Apa mungkin karena 'orang itu'?
Flashback
[5tahun lalu / 08.25 a.m]
Saat itu Tim Kasus Khusus baru dibentuk dan kantor kepilisian tidak seramai sekarang. Selama 1 minggu saja kurang dari 8 kasus yang masuk secara resmi.
TOK TOK
"Silahkan masuk." ucapku saat ada yang mengetok pintu ruangan yang masih bercat putih dan baru dipakai ini.
"Sa-saya Ka-kanda ya-ya-yang jadi wakil a-a-nda A-Akashi-sa-san." satu lagi, Kanda yang dulu masih belum sok dekat seperti sekarang.
"A-ano, ada ka-kasus ba-ba-baru. Kasus pem-pe-pembu-pembunuh-pembunuhan, pak Kepala meminta ki-kita u-untuk mena-me-menangani-ny-nya."
"Kenapa harus kita?" tanyaku sekaligus memandangi berbagai dokumen yang belum kutanda tangani.
"itu karena ini bukan kasus biasa."
TBC
Saya baru nyadar kalo di chap. 1 belum kukasih tau ini TBC ato ngak..
Sudah gitu typo(s) bertebaran dengan liar(?)..
Maaf ya reader sekalian..
Terima kasih kepada kalian yang mau membaca FF ini
Mohon reviewnya
