My Teacher, My Knight

A BTS Fanfiction

Warning!

BxB, Top!Tae, Bot!Kook MPreg

Pairing :

VKook, YoonMin, Namjin, Hoseok and (?)

Genre :

Romance, School-life, Comedy

Rate :

T

Length :

Chaptered/Series

Summary :

Guru olahraga Jungkook yang baru itu kaku sekali bagaikan papan kayu, selain itu ia selalu merepotkan Jungkook setiap kali ada kesempatan. Namun suatu perjamuan makan bersama teman orang tua Jungkook mempertemukan mereka dalam kondisi yang tidak masuk akal. Apakah Jungkook dapat keluar dari sana atau malah terlibat masalah berbelit dengan sang guru? Apalagi ketika masalahnya melibatkan masa depan keduanya.

Halo! Terimakasih karena respon baik kalian aku jadi semangat nulis lagi ehehe. Maaf banget slow update karena sibuk sekolah :") Oh ya, kalo kalian suka Namjin bisa cek oneshoot storyku tentang Namjin juga XD duh jd promosi.

Selamat membaca!


"Eungh.." Jungkook menggeliat. Tidurnya semalam nyenyak sekali, ia merasa nyaman dibalik selimut yang tebal dan hangat serta kasur dan bantal yang empuk.

"Jam berapa ini? Huh? Jam 5 pagi? Aneh sekali biasanya aku jarang bangun pagi. Semalam ada apa denganku?"

Jungkook duduk bersandar pada kepala ranjang, berusaha mengingat - ingat bagaimana ia bisa sampai di kamar kesayangannya ini.

Ia berguling memeluk boneka kelinci putih besar yang ada di sampingnya. Pipinya menggembung, pandangannya menerawang sekeliling kamar. Setelah beberapa detik mata bulatnya membelalak lebar.

"Omo! Kim Taehyung Ssaem! Kok- kok bisa dia tahu rumah Kookie?"

"Aaah! Molla!"

Pemuda manis itu bangkit berdiri lalu mulai mempersiapkan diri untuk bersekolah.

"Jungkook? Tumben pagi sekali, masih jam 6 loh sayang." ucap eomma Jungkook yang sedang menata sarapan di meja makan.

"Entah eomma, aku tiba - tiba terbangun sangat pagi. Apakah aku tidur terlalu pagi kemarin?"

"Ah betul juga, kau tidur jam 7 malam sayang, eomma juga baru ingat."

"Oh ya, apa kemarin Taehyung Ssaem mengantarku, eomma? Kok Taehyung Ssaem bisa tahu rumah Kookie?"

Sang ibu nampak berpikir,

"Ah! Pria tampan itu gurumu? Tanyakan saja sendiri padanya. Eomma baru saja ingin menanyakan tentang pria itu. Kelihatannya ia tampan dan baik hati, kurasa Kookie bakal cocok dengannya."

"Andwaee.. Kim Taehyung itu guru Kookie! Kookie tidak mau sama yang tua-tua!"

"Ssh! Bunny, jangan bicara seperti itu. Tidak sopan," sahut sang ayah tiba-tiba.

Jungkook menoleh ke ayahnya, yang masih menggunakan piyama dengan rambut berantakan, tanda baru bangun tidur. Mata Jungkook berbinar-binar, kemudian dengan segera menerjang ayahnya.

"Appa! Appa pulang! Kookie kangen sekalii~"

Sang ayah hanya terkekeh kemudian mengecup dahi putra tercintanya.

"Maaf sayang, appa memang sibuk sekali akhir-akhir ini. Tetapi setelah ini nanti appa akan terus di korea. Urusan perusahaan di luar negeri sudah beres karena kerjasama dengan perusahaan teman appa.

Oh ya, tapi besok sore jangan pergi-pergi ya sayang. Kamu harus menemani appa dan eomma makan malam bersama teman appa yang telah banyak membantu appa. Nanti mereka akan mengajak anak mereka juga, jadi Kookie bakal punya teman baru."

Jungkook yang sedang mengunyah makanannya dengan lahap mendongak. Ia tersenyum dengan makanan memenuhi pipinya. Kata - kata 'teman baru' membuatnya tertarik.

Kemudian terjadilah perbincangan yang biasa dilakukan keluarga Jeon setiap harinya. Setelah menyelesaikan sarapannya, Jungkook mengecup pipi kedua orang tuanya dan kembali ke kamar untuk mempersiapkan buku dan perlengkapan sekolahnya.

Ibu Jungkook berjalan mendekati sang ayah, kemudian merangkul suaminya dengan wajah khawatir.

"Namjoon-ah, apa kau yakin Jungkook akan setuju dengan ini?"

"Aku harap begitu Jinseok."

"Tetapi kita tidak bisa memaksanya, sayang."

"Semoga Kookie mau menerimanya."


Pulang sekolah adalah waktu yang terbaik menurut Jungkook. Sekolah sudah mulai sepi dan Jungkook sangat menyukai keadaan sepi seperti ini. Ia langsung menuju ke rooftop dan berdiri di tepi pagar pembatas menikmati angin sepoi yang cukup kencang. Setelah beberapa saat menikmati keheningan yang disertai suara angin bertiup perlahan, Jungkook dikejutkan oleh sebuah suara.

"Jeon, kau masih di sini?" kata suara berat yang terasa amat familiar di telinga Jungkook.

"Eoh? Kim Taehyung Ssaem?"

"Kau tidak pulang? Sudah mulai petang, Jeon. Berbahaya kalau kau terus berada di sini. Kau tidak dengar sekolah ini cukup angker?"

"Ah- mungkin sebentar lagi Ssaem. Tidak apa biasanya aku berada di sini hanya sebentar kok. Toh sekolah juga akan ditutup ketika malam."

Setelah percakapan yang singkat itu terjadilah keheningan luar biasa di antara keduanya. Jungkook dengan canggung memandang matahari yang mulai turun dari posisinya sambil melirik guru mudanya yang cukup 'aneh' itu. Sedangkan sang guru malah terdiam sambil menenteng tas kerjanya dan menyampirkan jas dibahunya. Mata tajamnya menghadap ke arah matahari, rambut pirangnya tertiup angin menyibaknya, menampakkan dahinya yang entah bagaimana mampu membuat Jeon Jungkook terpana.

Gurunya itu memang tampan. Tampan sekali sampai membuat pipi Jungkook bersemu merah.

"S-ssaem aku akan pulang dulu. Berhati-hatilah. Uh! Daah!" ucap Jungkook terburu-buru. Ia ingin segera pergi dari sana karena kecanggungan yang membuatnya tidak nyaman. Lagipula Jungkook kesal dengan dirinya sendiri. Apa-apaan tadi menganggap gurunya tampan? Dia kan tidak suka pada guru muda menyebalkan yang sok itu! Seharusnya ia jauh-jauh dari guru tersebut!

Jungkook berbalik dan mulai berjalan mendekati pintu yang menghubungkan rooftop dengan lantai di bawahnya. Namun di tengah jalan bahunya ditahan, membuatnya harus berbalik menatap guru mudanya yang kini menatapnya tajam.

"Ada apa Ssaem?"

"Pulanglah bersamaku."


Kini pemuda kelinci itu tengah duduk di kursi penumpang mobil milik gurunya. Jarinya bergerak-gerak dimainkan, seperti kebiasaannya saat canggung, bingung, dan panik. Ia masih tidak mengerti bagaimana ia tetap berakhir di sini. Ya, tentu saja ia menolak ajakan guru muda yang akan mengantarnya sampai ke rumah itu. Tetapi sang guru memaksa dan menariknya dari rooftop hingga ke parkiran, lalu begitu saja membukakan pintu dan mendorongnya masuk ke mobil.

Pipi Jungkook menggembung sedikit sebal atas tingkah gurunya yang hobi memaksa. Kini sang guru sedang melajukan mobil dengan kecepatan sedang, keluar dari sekolah yang sangat sepi karena sudah hampir gelap. Matanya terfokus pada jalanan dihadapannya, sama sekali tidak memperhatikan Jungkook yang jelas-jelas ada di sampingnya. Jungkook yang merasa tidak dianggap merasa bosan. Baterai hpnya telah habis dan ia tidak tahu mau melakukan apa. Dengan canggung tangannya menyalakan radio mobil yang ternyata memainkan lagu terbaru keluaran Bangtan, boygrup yang sedang populer di Korea Selatan.

Sang guru menoleh, menatapnya dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.

"Matikan."

Jungkook kebingungan mendengar suaranya yang dingin tersebut.

"H-hah?"

"Matikan, Jeon."

"Tidak mau!"

"Kubilang matikan!"

"Ssaem! Aku bosan! Sedari tadi kita hanya diam saja seperti patung, toh memangnya kenapa sih? Kan cuma menyetel lagu!"

Kim Taehyung tampak tertegun. Kemudian ia berbicara lagi, dengan nada yang lebih lembut.

"Baiklah, aku akan berbicara padamu, tetapi matikan radionya. Lagunya terlalu berisik. Kenapa anak muda menyukai lagu macam ini?"

"Ih! Dasar anak muda seleranya buruk! Ssaem kan juga anak muda! Keren tauk! Ini lagu terbarunya bangtan judulnya Idol, bukan lagu yang asal-asalan saja, lagunya bermakna kok. Coba deh ssaem kapan-kapan cari."

Perkataan Jungkook hanya ditanggapi gumaman pelan oleh Taehyung. Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Untuk kesekian kalinya, Jungkook merasa kesal. Ia merasa ia perlu mengajak guru ini berbicara karena tidak ada jalan lain. Lagipula memang ada hal mengganjal yang ingin ia tanyakan.

"Ssaem, bagaimana kau tahu rumahku?"

Taehyung lagi-lagi nampak terkejut, namun dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar lalu memikirkan jawaban yang sebaiknya ia berikan pada anak didiknya.

"Aku melihatnya di data murid-muridku saat itu, kebetulan rumahmu cukup dekat Jeon."

"Oh? Benarkah? Ssaem tinggal di mana?"

"Di perumahan yang sama, hanya berbeda blok saja."

"Ah, begitu."

Tepat ketika pembicaraan mereka berakhir, mobil sang guru telah berhenti di hadapan rumah Jungkook. Taehyung melepaskan seat beltnya, kemudian mendekat pada Jungkook yang kesusahan membuka seat belt nya dan Taehyung membantunya. Ketika melepaskan seat belt itu dari tubuh Jungkook, wajah Taehyung begitu dekat dengan wajah Jungkook, yang lagi-lagi bersemu merah. Bahkan ketika Taehyung mendongak untuk menatap wajah Jungkook, bibir dan hidung mereka hampir saja bersentuhan.

"Ada apa Jeon? Kau sakit?"

Jungkook tidak mendengar perkataan gurunya, yang ada di otaknya saat ini hanyalah seorang Kim Taehyung itu tampan sekali.

"Jeon?"

"H-hah?"

Taehyung mendengus.

"Turun, sebaiknya kau beristirahat. Biar ku antar sampai ke depan rumah."

"Ssaem? Tidak usah! Di gerbang sini saja sudah cukup kok! Uh.. anu.. Bye! Terimakasih tumpangannya!"

Jungkook mendorong sedikit dada guru muda tersebut, lalu terburu-buru keluar dari dalam mobil dan membawa barang bawaannya. Ia sempat menoleh ke arah Taehyung yang masih terpaku menatapnya, lalu dengan cepat membalikkan badan dan berlari menuju pintu rumahnya yang tinggi dan besar itu.

Taehyung yang melihatnya hanya menggelengkan kepala, "Hah.. Ada apa sih dengan kelinci manis itu?"


"Uwahh.. Gila! itu tadi dekat sekali." ucap Jungkook pada dirinya sendiri. Nafasnya terengah, ia terduduk di balik pintu kamarnya. Ia tidak menyangka gurunya itu bahkan sampai mengantarnya dan membantunya melepaskan sabuk. Bukankah itu adalah kegiatan sepasang kekasih? Lagipula untuk apa Jungkook merona, dia kan benci sekali dengan guru yang satu itu.

Sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi, Jungkook memukuli kepalanya pelan. Memaki-maki kepada tembok atas perlakuannya yang bodoh.

"Kookie gila! Kookie bodoh sekali! Tidak mungkin kan Kookie suka pada guru seperti itu? Dia kan jauh lebih tua dari Kookie!"

"Tapi, Kim Taehyung Ssaem masih muda sih.. Ah! Molla! Molla!"

Teriakannya berhenti ketika ketukan lembut menyapa indera pendengarannya.

tuk tuk tuk

"Kookie-ah? Ada apa sayang? Ayo turun makan malam!"

"Ah, ne eomma."


Hari ini, Jungkook dijemput lebih awal oleh sopir pribadi keluarganya. Tentu saja karena akan ada jamuan makan malam khusus dengan teman ayahnya itu.

Sang ibu turut menyertai menjemput Jungkook, kemudian mereka langsung menuju ke salon langganan sang ibu. Hal ini membuat Jungkook kebingungan, sepenting itukah makan malam yang akan dilakukan? Sampai ia dan ibunya harus berdandan terlebih dahulu?

Sang ibu tampaknya tahu kebingungan yang dipendam anaknya, lalu mengelus kepala putranya lembut.

"Kookie kita harus tampil baik karena teman appa adalah orang yang penting. Akan sangat memalukan apabila kita tidak menjaga penampilan kita di hadapan mereka. Lagipula mereka telah banyak membantu kita, sayang. Oh ya, mereka juga akan membawa anak bungsu mereka untuk dikenalkan padamu jadi kau bisa mendapatkan teman."

Jungkook hanya mengangguk-anggukkan kepala. Ia bingung ingin menjawab apa.

Akhirnya mereka tiba di salon. Yah, Jungkook memang tidak asing karena sudah sering pergi ke salon ini. Bahkan pemiliknya adalah teman baik ibunya. Begitu mereka sampai, Jungkook dan Seokjin langsung disambut oleh wanita cantik pemilik salon tersebut.

"Seokjin-ah, sudah lama sekali! Aku akan melakukan yang terbaik untuk pertemuan yang sangat penting ini. Akan kubuat Jungkook menjadi manis sekali!" katanya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Jungkook yang kebingungan.

"Terimakasih Sunghwa. Kuserahkan semuanya padamu, terutama Jungkook."

"Tentu. Ayo segera ke dalam." ajak Sunghwa.

Setelah berada di salon tersebut hingga berjam-jam- yang membuat Jungkook sungguh mengantuk, akhirnya Seokjin dan Jungkook berangkat juga ke restoran italia yang cukup terkenal di daerah Gangnam. Di sana, Namjoon ayahnya telah menunggu kedatangan dua lelaki kesayangannya. Restoran yang sudah disewa secara pribadi itu terletak tepat di tepi Sungai Han. Letaknya yang strategis serta masakan yang terkenal lezat hingga mendunia banyak menarik para pelanggan, termasuk Namjoon yang hobi sekali mengadakan meeting di sana.

Jungkook turun dari mobil, tanpa terasa langit telah menghitam dihiasi kerlap-kerlip bintang. Jungkook masuk dan memilih duduk di kursi yang terletak di pinggir dekat sungai, agar ia bisa memandangi Sungai Han yang semakin indah di malam hari. Kebisingan kota serta lampu dari gedung-gedung pencakar langit seakan mewarnai suasana restoran dan sungai tersebut.

Namjoon dan Seokjin sedang menata kembali pakaian mereka, lalu mengkonfirmasi ulang pesanan untuk makan malam saat itu. Kemudian keduanya duduk di samping Jungkook, menunggu kehadiran teman ayahnya itu.

"Eomma, kenapa lama sekali?" kata Jungkook tidak sabar.

"Tunggu sebentar lagi sayang, mungkin ada suatu kendala sehingga mereka terlambat. Semoga tidak terlambat sampai lama." jawab Seokjin.

Jungkook menggembungkan pipinya, ia sudah lapar sekali belum makan dari siang tadi, malahan tamu yang ditunggu tidak datang-datang. Kedua tangannya memainkan pisau serta garpu yang digunakan untuk memotong stik. Dan ketika itulah suara denting bel tanda seseorang masuk ke dalam ruangan mengejutkan Jungkook. Kepalanya mendongak, menatap pria berbadan tegap yang ia perkirakan seumuran dengan ayahnya, serta pria cantik yang dirangkulnya di sebelahnya. Keduanya melangkah maju dan bersalam-salaman dengan Namjoon dan Seokjin. Sampai pada akhirnya Jungkook melihat sosok yang sedari tadi berada di balik kedua pria teman orangtuanya itu.

"Kim Taehyung Ssaem?"

TBC

.

.

.

Halo halo! Maaf ya lama gak update, sibuk sekolah :" semoga bisa agak cepet kedepannya. Chapter ini bosenin ya? Sebenarnya aku agak bingung menyampaikan ceritanya sih walaupun sudah punya alur :""" tapi semoga kalian suka ya, tunggu chapter selanjutnya! Terimakasih sudah mau membaca sampai sini. Terimakasih juga untuk review-review kalian, yang sudah memfollow bahkan menambahkan cerita ini ke favorite. I purple you!