Author's Talk : Yah... Kali ini, saya agak kagok, nih :'D karena reviewnya yang sedikit *lirik review lalu pundung* Tapi saya nggak akan patah semangat karena hanya review! Pasti banyak silent readers yang pengaruh dengan kata-kata saya diakhir cerita kemarin! (Saya ingat, lho~). Makasih untuk yang udah baca, ya!

Sepertinya, author pas ngetik cerita ini harus dengarin lagu yang semangat! Jadi, ada saran lagu yang cocok buat fanfic ini? :'D

? : Author-san, ayo cepatan! Jangan banyak ngomong di pembukaan!

Sabar, nak! Oke, oke! OC author yang nggak sabaran ini sepertinya mulai emosi, kalau begitu author harus pamit dan akan lanjut di akhir cerita! Happy Reading!

Note : - "..." = Bahasa Indonesia

P.S : Akan ada OC author yang mulai membantu author untuk membalas review! Jadi, stay tune~!

A Story in Cruel War

Warning : OOC (pasti(?)), Many OCs, Typo, dll.

Disclaimber : Kuroko no Basuke own to Fujimaki Tadatoshi

Settings : Diantara dua negera yaitu Jepang dan Indonesia. Zaman dimana Jepang menguasai Indonesia.

Genre : Romance, Drama, Hurt-Comfort, Slightly-Humor (untuk sedikit hiburan), dll (Semua genre yang berhubungan perang intinya(?) :'D)

Chapter 2 : Awal dari Perjuangan di Indonesia

Midorima yang sedang termenung sambil jalan-jalan disekitar kota Batavia atau yang sudah diganti menjadi Jakarta oleh Jepang. Untung saja, pimpinannya masih mengizinkannya untuk berkeliling di kota itu. Kota ini tidak buruk juga, pikir Midorima.

Tiba-tiba ada anak laki-laki sekitar berusia 7 tahun berlari dengan riang dan tanpa sengaja, dia pun terjatuh karena tersandung batu, "Hiks... Hiks... Huaaa!" Dia pun langsung menangis raung-raung seperti baru menumpahkan makanannya.

Midorima yang melihatnya langsung terkejut dan langsung berlari kecil ke anak itu, "Hei, apakah kau baik-baik saja?" tanya Midorima sambil jongkok didepannya dan anak itu memandang polos ke Midorima.

Midorima, anak itu tidak mengerti bahasa yang kau ucapkan.

Anak itu memandang Midorima dengan polos dan sepertinya, dia sudah berhenti menangis. "Kakak, ngomong apa?" tanya anak laki-laki itu dengan bingung dan Midorima pun langsung menepuk dahinya. Ah! Aku baru sadar! Kalau ini bukan di Jepang! pikirnya.

"Maksudku, apakah kau tidak apa-apa?" tanya Midorima sekali lagi dengan bahasa Indonesia.

"Baik-baik saja!" jawabnya sambil tersenyum polos.

"Tumanto!" panggil seorang gadis yang cukup familiar dengan Midorima yang sedang berlari menghampiri anak laki-laki itu.

"Kakak!" Anak laki-laki itupun langsung berlari ke gadis itu. Midorima pun langsung diam dan melihat gadis itu dengan tatapan yang 'aneh' menurutnya.

Ketika gadis itu melihat Midorima, "A, a, ano.. Terima kasih sudah menemukan adikku," sahut gadis itu sambil membungkuk sopan dengan bahasa Jepang yang cukup lancar kepada Midorima dengan gugup karena didepannya adalah seorang pasukan Jepang.

"Tidak usah membungkuk seperti itu-nanodayo."

"Ta, ta, tapi aku harus sopan kepada kau karena kau adalah pasukan Jepang."

"Aku seperantara denganmu-nanodayo."

"Eh? Be, be, benarkah?"

"Benar-nodayo."

"Kakak! Aku main di halaman dekat sungai, ya!" kata anak laki-laki yang bernama Tumanto yang sepertinya menyadarkan kakaknya itu, "Ah, iya! Hati-hati!" Tumanto meninggalkan mereka berdua dan membuat gadis itu pun semakin gugup.

Midorima pun teringat lagi dengan gadis yang pernah dia temui di pelabuhan. "Sepertinya, aku pernah melihatmu-nanodayo," ujar Midorima sambil menatap gadis itu dengan tajam.

"E, eh? I, i, itu hanya perasaanmu!" balas gadis itu dengan gugup.

"Kau bohong." Dua kata yang sangat tajam dari seorang pemuda bersurai hijau itu kepada gadis bersurai hitam yang sekarang sedang gugup.

Midorima pun bisa melihat ekspresi gadis yang menahan rasa takutnya dan berani untuk menatapnya. "Bolehkah aku mengetahui namamu-nanodayo?" tanya Midorima untuk melegakan suasana dan gadis itu pun ikut lega.

"Namaku Maria Lestari Suhermanto dan aku adalah seorang anak pejabat daerah ini, salam kenal," balas Maria sambil membungkuk kecil.

"Namaku Midorima Shintarou, salam kenal juga-nanodayo," balas Midorima juga sambil membalas bungkuk juga.

"Eh, Midorima? Midori bukannya berarti hijau, ya?" tanya Maria dengan polos dan Midorima hanya mengangguk kecil, "Wah! Aku benar!" ucap Maria sambil menepuk tangannya dengan sedikit senang.

"Nama yang unik, Midorima-san... Oh ya, kau sedang berkeliling, ya?" tanya Maria dengan ramah.

Midorima sekali lagi hanya mengangguk karena dia mentutupi rasa gugupnya dengan gadis yang didepannya dan dia tidak pernah bicara kepada gadis yang hampir mirip ibunya (menurut Midorima).

Maria masih menatap Midorima dengan bingung, "Kau tidak apa-apa?"

"Ah, tidak apa-apa-nodayo!" jawab Midorima dengan wajah yang sedikit merona.

Maria pun tertawa kecil melihat Midorima yang merona, "Midorima-san, kenapa kau merona seperti itu?" tanya Maria dengan polos

"Jangan dilihat-nanodayo!" jawab Midorima dengan salah tingkah dan Maria hanya tertawa geli.

"Bagaimana kalau kita keliling dipinggir sungai? Disana banyak orang yang berkunjung, lho!" saran Maria.

Yang hanya bisa lakukan Midorima adalah mengangguk dengan berusaha datar karena dia berusaha menahan wajahnya yang akan seperti kepiting merah.

"Ada apa, Midorima-san?" tanya Maria sambil menatap Midorima dengan polos.

"Ti, ti, tidak ada apa-apa!" Midorima pun langsung berjalan dengan cepat dan kalau bisa, kepalanya keluar asap putih.

Maria pun terdiam sebentar dan sampai dia menyadari sesuatu, "Midorima-san! Bukan disitu!" teriak Maria sambil mengejar Midorima dengan cepat.

Mereka pun berkeliling beberapa tempat yang tidak jauh dari tempat mereka tadi dan Maria pun menjelaskan tentang tempat yang dia kunjungi tanpa berhenti tersenyum.

Midorima yang dari tadi diam hanya mengangguk-angguk karena dia sepertinya terserang penyakit bernama jatuh cinta pada pandangan pertama yang selalu 'diserang' oleh beberapa orang.

Tempat yang indah dan angin yang begitu panas, itulah yang sedang dipikirkan oleh Midorima saat itu dan dia juga tidak bisa berhenti melirik Maria yang sedang menjelaskannya beberapa teman.

Hal yang paling indah untuk Midorima saat ini.

Ayolah, Shintarou! Fokus! Fokus! pikir Midorima sambil mengacak-acak rambutnya sendiri sampai membuat Maria langsung menatapnya dengan kaget.

"Wah! Kakak itu gila, bu!" ucap salah satu anak sambil menunjuk ke Midorima.

"Hei, jangan nunjuk-nunjuk! Itu pasukan Jepang! Ayo, kita pergi dari sini!" balas ibu sang anak sambil menarik tangan anak itu dan berjalan cepat dan anak itu pun menangis.

Maria pun menatap anak itu sesaat dan melihat Midorima kembali, "Midorima-san, kau tidak apa-apa?" tanya Maria dengan khawatir.

"Ti, ti, tidak apa-apa-nanodayo!" jawab Midorima sambil membetulkan letak kacamatanya.

Suasana pun hening sampai tiba-tiba ada suara teriakkan khas anak kecil, "Kakak!" teriak Tumanto yang sangat keras dan membuat mereka berdua langsung terkejut.

"Tumanto! Jangan teriak seperti itu! Kau membuat kakakmu dan kakak itu nyaris jantungan, tau gak?"

"Ehehe.. Soalnya, kakak sama kakak itu asyik sendiri dan aku merasa dilupakan."

"Alasan kamu."

Midorima hanya memandang Maria yang sedang mencubit pipi Tumanto yang hanya bisa meringis kesakitan. "Ano.. Midorima-san... Saya dan adik saya harus pulang... Sampai jumpa..." Setelah dua kata itu selesai diucapkan, Maria pun langsung tersenyum dan pulang bersama adiknya.

"Wah.. Midorimacchi pintar cari cewek juga!"

"Kise?! Sejak kapan kau disini?!"

"Dari tadi dan pas aku ingin memanggilmu, kau sedang asyik sama gadis itu! Padahalkan, aku lebih tampan dari Midorimacchi."

"Mana ada gadis Indonesia yang mau sama kau.. Cerewet, narsis, cengeng, dan masih banyak yang lainnya."

Kise pun langsung merasakan sebuah beban seberat 400 ton dipunggungnya karena caci makian yang dikeluarkan oleh mulut tajam Midorima.

"Kau tidak akan bersama dia juga, Shintarou." Mereka berdua pun langsung melihat ke arah suara seseorang.

"A, A, Akashi...?"

"Kau ini tidak pikir, ya? Kita kesini untuk bertugas bukan mencari cinta dan tidak mungkin juga, kita bisa bersama gadis Indonesia yang merupakan negara kekuasaan Jepang."

"Akashicchi! Jaga bicaramu!" Kise menatap sinis Akashi yang sedang menyeringai dan membuat Kise ingin menonjoknya tapi Midorima langsung menepuk pundak Kise yang berarti untuk tenang.

"Kenapa kau berpikir seperti itu? Emang kau sudah membuktikannya?" tanya Midorima sambil menatap Akashi penuh arti.

"Tanpa bukti, itu juga tidak akan terjadi karena kita ini seorang penjajah, sedangkan dia seorang pribumi yang bodoh. Ya sudahlah, aku malas berdebat dengan kali, sampai jumpa." Akashi pun meninggalkan mereka berdua dan Midorima pun mengepal tangannya dengan erat-erat.

"Pasti.. Pasti..." gumam Midorima dan membuat Kise terdiam karena baru pertama kalinya, dia melihat Midorima seperti itu untuk seorang gadis pribumi.

Kise pun menepuk pundak Midorima sambil tersenyum, "Kau pasti bisa, Midorimacchi!"

"Hn!" Midorima pun mengangguk mantap sambil tersenyum kecil.

Tanpa disadari, Maria mendengar semuanya dan sembunyi dibalik tembok sambil tersenyum lembut. Lalu dia pun pergi dari tempat itu dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari wajahnya itu.

-To be Contunie-

Author's Time!

Author : Akhirnya! Author tidak menyangka akan menyelesaikannya dimalam natal!

? : Kau saja yang malas, Author-san!

Author : ... Berisik, kau... Lebih baik, kenalkan dirimu sana!

? : Iya, iya! Namaku Ayumi dan aku adalah al- ralat maksudku asisten author-san disini karena dia butuh bantuan.

Author : Dia berpenampilan seperti seorang pramuka putri penggalang dan lengkap dengan lencananya! Dia adalah scout-freak!

Ayumi : Kau juga, author-san..

Author : Err... Oya! Saya akan balas review untuk chapter selanjutnya!

Ayumi : Dasar author pemalas...

Author : ... Kalau begitu, aku tutup dan sampai jumpa di chapter selanjutnya!

Ayumi : Mohon reviewnya atau... *ambil pisau pramuka*

Author : Eh?! Jangan diancam begitu! Sampai jumpa, semuanya!