"Tuan, maukah anda membeli apel-ku?"

Len berbalik, mendapati seorang gadis kecil dengan rambut biru es panjang menyodorkan sebuah apel padanya. Si gadis dengan tatapan mata yang memelas, menggunakan kerudung merah, dengan pakaian panjang seputih krim, membawa sekeranjang penuh buah apel merah yang terlihat sangat segar. Yufu memperhatikan Len dari kejauhan, bersandar pada tiang lampu jalan terdekat.

Si detektif merogoh saku-nya, kemudian menyerahkan beberapa koin perak pada gadis itu. Lalu si gadis menyerahkan satu buah apel padanya, kemudian beranjak pergi dari sana, menuju suatu gang sempit. Len terdiam sejenak memandangi bayangan si gadis dengan tatapan datar, namun tak bisa ia menyembunyikan keheranannya pada sosok gadis penjual apel itu.

Yufu memandangi awan putih yang berkelebat diatas kepalanya. Pikirannya terbang jauh, ia kembali mendapatkan pertanyaan yang dulu sering ia tanyakan pada dirinya sendiri; apa yang akan terjadi kalau Len tidak menolongnya dulu?

Si gadis menutup kedua matanya, merasakan desiran angin yang menyapu wajahnya yang sepucat salju. Selang beberapa detik kemudian, saat ia merasakan sentuhan di bahu-nya, ia kembali membuka kedua matanya, dan bertemu dengan iris biru pucat yang Len miliki.

"Maaf lama. Yuuma mana?" tanyanya cepat lalu mengedarkan pandangannya kesekitar, mencari sosok yang ia cari.

Pemilik surai hitam diam sebentar. "Yuuma barusan pergi, katanya mau mencari minum." balasnya. Len menghela napas, lalu bersandar pada satu sisi lampu itu—mengikuti apa yang telah si gadis lakukan. Memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang sambil membawa berbagai barang ditangannya—mulai dari tas kantoran, tas laptop, hingga guci besar yang menghalangi pandangan mereka.

Sementara si gadis kembali menyembunyikan kedua bola matanya, membayangkan bahwa dirinya adalah gadis yang tadi menjual apel. Membayangkan bahwa dirinya menangis tiap malam atas siksaan dari orang-orang yang dulu nyaris memukulnya dengan besi-besi bekas bangunan; yang dulu nyaris memukulnya dengan kayu-kayu yang terlihat tajam disalah satu sisinya.

"—fu-say—ehm. Hei, sadarlah nak!"

Tersentak saat ia merasa terpanggil. Ia menoleh ke samping, mendapati sosok pria yang ditunggu—Yuuma—datang menghampirinya. Disamping si pria, Len terlihat bergumam sebal sambil memegang botol minuman—yang mungkin saja barusan Yuuma berikan padanya.

Yufu kembali berdiri tegak. "Ini yang kau pesan! Nah, kan sekarang sudah leng—ngomong-ngomong Len, kau ngapain ke toilet tadi? Kau tidak salah masuk ke toilet wanit—"

"BERISIK!" potong Len. "Sekali lagi kau mengatakan hal demikian, kupaku-kan lidahmu ke pohon terdekat." ancamnya, membuat Yuuma terdiam, sementara Yufu nyaris tersedak.

Si pemuda memandang kesekitarnya; kembali memperhatikan orang-orang disekitarnya. "Bisa kita pergi sekarang?" tanya Len pada Yuuma dan Yufu. Mereka berdua lalu mengangguk setuju, sementara Len memasukkan apel yang tadi ia beli ke dalam tas yang ia bawa.


.

false detective like i am?

vocaloid (c) crypton future media and yamaha corp.

[—tidak ada keuntungan material yang diperoleh dalam pembuatan fiksi ini]

chapter2: apple salesgirl.

warning: liat chp.1 + judul chapter gak ada hubungannya sama cerita.

summary: penjual apel, dan rumah ditengah hutan adalah sebuah kunci awal. secara diam-diam, len menyadari semua keganjilan ini.

.


Pohon-pohon hijau menghiasi pandangan ketiganya. Jalan setapak yang mereka lalui tampak tertutupi oleh tumbuhan-tumbuhan liar. Berbagai serangga bersayap tampak terbang kesana-kemari. Angin menggerakan dedaunan, membuat mereka bergesekan, menimbulkan bunyi desiran.

Yufu bersandar pada pohon raksasa yang terletak tak jauh dari posisi mereka bertiga. Ia menyingkirkan peluh yang membasahi wajahnya, "Bi—bisa kita istirahat se—sebentar…?" pinta Yufu. Len dan Yuuma berbalik di saat yang bersamaan, lalu memandangi Yufu yang mulai meneguk air putih yang ia bawa.

Len—akhirnya juga mengikuti Yufu. Ia duduk di rerumputan, lalu merebahkan dirinya. Yuuma menghela napas, tersenyum memandangi kedua anak-anak yang tampak kelelahan. Ia mengikuti Len untuk tidur di rerumputan. "Oh ya, Len. Kalau tidak salah kau membawa apel tadi. Boleh kumakan?"

Pemilik surai honey-blonde membuka mulutnya sedikit—menarik napas. "Ambil saja di-tasku." Yuuma membuka tas yang—bekas—anak asuh-nya bawa, kemudian mengeluarkan sebuah apel merah. Dengan cepat ia memakannya, tak memperdulikan Yufu yang sepertinya juga mau sepotong.

Yuuma merebahkan dirinya, mengikuti Len yang tampaknya akan tertidur beberapa saat lagi. Pria itu menutup matanya sejenak, melayangkan pikirannya pada masa dimana ia bertemu dengan Len yang berhasil membuktikan bahwa eksistensi-nya berarti, dan tidak sia-sia.

Yuuma—pria itu—selalu berpikir bahwa ke-jeniusannya hanyalah untuk membanggakan orang tua yang membesarkannya; hanya untuk dimanfaatkan dan menjadi boneka, yang bila suatu hari nanti tidak dibutuhkan akan dibuang dan dilupakan.

Tapi, saat ia menemukan Len terbaring lemah di depan rumahnya, bocah itu mengajarinya berbagai macam hal. Ia kurang bersyukur atas hidupnya, hidup Len—jauh lebih menyedihkan dibanding dirinya. Ia akhirnya memutuskan untuk merawat Len, ingin mempelajari hal lain yang belum pernah ia rasakan.

Dengan rajin ia mendengar cerita yang keluar dari mulut Len. Setiap hari, bagaimana caranya ia bernapas dalam rumahnya yang layak penjara itu—dulu, Yuuma tak pernah diperlakukan demikian, tumpukan buku adalah neraka banginya—tapi, ia tak tahu ada yang lebih parah dari neraka yang ia rasakan.

Ia memutuskan untuk terus hidup, dengan membantu orang-orang yang kesulitan—ia tak menggunakan otak jenius-nya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia menggunakan hati yang tulus untuk mendapatkan kekayaan terbesar di dunia ini—kebahagiaan.

(Sama seperti saat ia merawat Len, hingga ia menjadi pemuda sombong dan sinisa—ehm.)

Tanpa sadar, waktu telah berlalu cukup lama. Ketiganya telah tertidur lelap karena terlalu lelah berjalan di jalanan tanpa ujung.


.

.

.

Atap kayu adalah pemandangan pertama yang ia lihat saat ia membuka matanya.

Secepat kilat si gadis terbangun dan berlari keluar dari ruangan tempatnya tidur. Mendobrak pintu kamar itu, dan ia dapat melihat Len dan Yuuma terduduk bersebelahan, tampak berargumen dengan seorang gadis belia yang duduk dihadapannya. Yufu mengerjap—oh ya, ngomong-ngomong, jaket-ku mana?

"Halo Yufu-sayang!" sapa Yuuma—dan mendapatkan tatapan sinis dari Len. "Oh, Len-sayang juga mau, sini kupelu—eeeh… Maafkan aku, Len. Yang itu hanya bercanda kok, sungguh."

Si gadis lalu menghampiri Len dan Yuuma. Dan ia dapat melihat lawan bicara kedua pemuda itu tersenyum padanya. Yufu membalas senyuman itu, dan ia melihat iris biru langit si gadis memandangi penampilannya.

"Ah, kau pasti Yufu kan? Aku sudah mendengar tentang kau dari orang konyol itu—" menunjuk pemilik surai merah muda. "yang terus berkata Yufu-ini, Yufu-itu—membuatku tidak bisa mendengar jelas cerita dari Tuan Len." lanjutnya. "Kalian semua belum tahu namaku kan? Aku IA."

Len memandangi si gadis. "Ngomong-ngomong, ini dimana?" tanyanya.

"Ini rumahku." balasnya. "Kupikir kalian tersesat, jadi aku membawa kalian kemari." si gadis—IA—lalu berjalan menuju dapur yang memang terlihat dari ruang utama rumah minimalis ini. "Aku meminta bantuan adikku untuk membawakan bawaan kalian kemari. Aku tidak mengambil apapun kok, tenang saja."

Yuuma memandangi rumah kecil itu, lalu pandangannya berhenti tepat di pintu yang barusan Yufu buka. "Err… kita bisa tinggal disini sementara ya, Len?" bisiknya pada Len—yang sibuk membuka satu-per-satu majalah di meja.

"Hmm?" Len menutup majalah yang berada di pangkuannya. "Entahlah, tanyakan saja padanya sendiri." balasnya—membuat Yuuma mendecih sebal.

"Kau yang sekarang tidak ada manis-manisnya." gumamnya—walau pernyataan itu setengah main-main juga.

IA berlari dari dapur. "Nah! Ayo kita makan, kalian pasti belum makan kan?" Yufu mengalihkan perhatiannya, lalu ia berjalan mengikuti IA, diikuti Len dan Yuuma yang masih bergumam sebal soal sifat Len yang tiba-tiba dingin padanya—padahal sih, seharusnya Len bersikap sarkas padany—eh sama saja kan?


"Ini Oliver, adikku." lalu IA membawa seorang anak kecil berusia kira-kira delapan tahun, dengan sebelah matanya yang tertutup perban. Rambut kuning-nya terurai berantakan, dan semburat kemerahan tampak menghiasi wajahnya, dari sisi wajah ke sisi lainnya. Ia bersembunyi dibelakang tubuh kakaknya, malu saat bertemu pandang dengan iris hitam milik Yufu.

IA terkikik geli. "Maafkan adikku, ia memang pemalu." Len mengangguk sebagai jawaban, wajar. Yufu mengalihkan pandangannya dari adik IA, ia memandangi langit malam melalui jendela.

Entah kenapa bulan malam hari ini tampak sendirian, dan bintang-bintang mengintai dari balik awan hitam. Tak ia pedulikan riuh-nya pertentangan antara Len dan Yuuma, sementara IA tampak berusaha melerai mereka berdua, dan sesekali meminta bantuan Yufu.

Matanya kosong; perasaannya mengatakan hari ini akan terjadi sesuatu yang mengerikan.


chapter2.e.n.d


a/n: ffn gagal ini akan diselesaikan secepat mungkin. soalnya lagi setres dan butuh pencerahan—orz. oya, judul chapter gak ada hubungannya sama cerita ;-;

yeay~ mungkin ini ffn pertama saya yang akan daily/weekly update pada saat dan hari tertentu. tapi gak sampe pending sebulan kok. orz—saya setres gak ada ide bikin OS. jadi fanfict ini pelarian multichapt. (soalnya alur multichapt. lain udah lupa /dasarpikun)

ada yang minat baca fanfic kagepro lama saya? jangantimpuksaya, tapi itu setokano sih /numpangpromosi

review? :3