Disclaimer: M. Kishimoto
Warning: AU, tanda baca nyasar, cerita ga jelas, sangat OOC,typos bertebaran,melenceng dari EYD yang berlaku, alur kecepetan,dll
Dont like Dont Read!
.
.
Summary: Sasuke, cowok perfeksionis yang hidupnya hampir sempurna pula, kok bisa menyukai Hinata yang biasa-biasa saja, yang hanya sedikit orang yang mengetahui, mempunyai tingkat kesialan melewati batas normal. Bagaimana permulaan kejadian yang mendorong kisah cinta mereka?
.
Dedicated for Luluk Minam Cullen-san :)
.
Mohon maaf bila ada kesamaan ide dengan author lain. Ide ini murni dari otak Akemi yang rada konslet. Mungkin bila ada kesamaan itu merupakan unsur ketidak sengajaan dan mungkin err.. jodoh?
#plakk XD
Happy Reading :)
.
.
Previous:
"Jangan! Tetaplah disini, Sasuke-san!"
Hinata tertunduk malu
Sasuke yang kaget dengan ucapan Hinata beberapa detik lalu hanya menyeringai kecil.
Entah kenapa ada sesuatu yang janggal di hatinya. Sesuatu yang tak pernah dan baru kali ini dirasakannya. Sesuatu yang membuat hatinya menghangat dan nyaman.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
Title: Lucky Boy and (Un)Lucky Girl
Pair: Sasuke U. & Hinata H.
Genre: Romance
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
.
Kereta tiba-tiba berhenti dengan dorongan pelan. Namun, Hinata yang saat itu masih menunduk tentu tak siap dengan goncangan pelan yang diakibatkan berhentinya kereta. Hinata secara reflex memeluk benda apapun yang berada dalam jarak jangkaunya guna menahan beban tubuhnya agar dirinya tak harus mengikuti hukum gravitasi bumi.
Padahal mengingat roknya yang masih terselip di pintu gerbong, tentu sulit bagi Hinata untuk jatuh sebelum roknya yang sobek lebih dulu.
Sasuke yang baru saja sadar dari lamunannya sontak kaget. Dirinya tadi sempat sedikit lengah begitu mendengar pernyataan yang dilontarkan gadis indigo itu beberapa detik yang lalu.
GREB
'Empuk'
Itu yang dirasakan Sasuke saat goncangan kereta telah terhenti seutuhnya. Bagian antara perut dan dadanya berbenturan dengan benda empuk yang saat dilirik Sasuke ke bawah adalah Hinata. Atau lebih tepatnya err.. dada si gadis indigo yang menempel pada tubuh bagian depan Sasuke. Yang menciptakan sensasi yang nyaman serta empuk itu.
Sasuke ingin detik itu berhenti berjalan dan waktu saat ini berhenti berputar.
Namun, momen romantisnya kali ini diinterupsi oleh colekan tangan seseorang yang tak peka atau memang buta sehingga tak melihat jika Sasuke ingin sedikit menikmati momen itu lebih lama.
'Bosan hidup tuh orang?'
Si bungsu Uchiha melirik dengan sudut matanya. Memberi deathglare termaut khas Uchiha Sasuke.
"Sepupu, bisakah kau menyingkir sebentar? Kau nmenghalangi orang yang akan lewat"
Sai, lengkapnya Uchiha Sai, sepertinya tak menyadari atau malah tak merasakan aura kelam yang diuarkan salah satu sepupu Uchiha-nya. Malah membalas deathglare maut ala Sasuke Uchiha dengan senyum lebar yang hamper menutup kedua kelopak matanya.
Hinata yang baru sadar atas kejadian itu menyingkir ke belakang tubuh Sasuke. Menutupi rasa malunya dengan bersembunyi di balik punggung lebar si Uchiha bungsu.
"Onee-chan, lesleting lok Onee-chan telbuka"
Seorang anak perempuan kecil yang berada di belakang Hinata menunjuk-nunjuk bagian belakang rok seragam yang dikenakannya. Hinata merasa sangat-sangat malu hingga dirinya ingin lenyap saat itu juga. Rona merah menjalari seluruh wajahnya. Hinata bingung. Rok yang dikenakannya adalah ukuran standar yang panjangnya hanya mencapai lututnya. Jadi bagaimana caranya sekadar untuk menutupi bagian resleting itu mengingat kondisi gerbong yang penuh sesak hingga bahkan dirinya sulit untuk bergerak bebas?
"Tutupi dengan tasmu"
Sasuke menoleh dan menarik pergelangan tangan Hinata. Sasuke merasa dirinya gagal melindungi Hinata kali ini. Sasuke ingin segera keluar dari ruangan penuh sesak itu.
Sang Uchiha junior tampaknya sedang dalam mode bad mood hingga tampang terjuteknya yang sanggup membuat bocah kecil menangis tersedu-sedu itu pun keluar. Segera begitu Sasuke mengatakan dua kalimat dengan lantang berbunyi:
'Minggir! Aku ingin lewat',
Sekumpulan manusia yang tadinya berebut ingin keluar sekarang beralih berebut ingin menepi. Memberi jalan yang lebar bagi si bungsu Uchiha dan gadis yang di genggamnya.
Ingat salah satu kisah Nabi Musa saat melewati laut merah? Yah, kurang lebih sama seperti itu. Tapi, hilangkan bagian saat Nabi Musa melempar tongkat. Karna disini Sasuke tak membawa tongkat tapi menggandeng Hinata. Masa iya Hinata dilempar ke tengah sekumpulan manusia yang agresif itu?
Sasuke berjalan dengan langkah pasti. Oh, jangan lupakan lengkap dengan raut wajah bersungut-sungut. Mereka yang masih sayang karir dan masa depan mereka segera menepi sejauh yang mereka mampu takut hanya untuk menyenggol sedikit si Uchiha bungsu yang dalam kondisi mode bad mood.
Ayolah, jangan pernah mengganggu harimau yang sedang kelaparan err.. dalam kasus ini marah, jika kau tak ingin nyawamu melayang yang dalam kasus ini diibaratkan masa depan dan karir.
Berlebihan?
Mungkin iya. Tapi, dengan strata social, harta kekayaan, kedudukan, belum lagi kejeniusan yang dimilikinya, lebih dari cukup untuk membuat seseorang berpikir dua kali hanya sekedar untuk berurusan dengannya.
Dengan uang, Sasuke bisa membayar orang untuk mencarimu bahkan hingga ke ujung akhirat (?) sekalipun.
Dengan kejeniusan, Sasuke bisa membedakanmu dari berpuluh-puluh orang yang mirip denganmu walau hanya bermodal wajah dan mata.
Dengan kedudukan,..
Oh jangan Tanyakan lagi…
Sudah ku bilang jangan Tanya!
Oh baiklah jika kalian memaksa.
Dengan kedudukan, mungkin Sasuke akan menggunakan hubungan relasinya dengan tempatmu bekerja hanya untuk meminta presiden direktur perusahaan itu untuk memecatmu. Itu juga jika kau beruntung hanya sekedar dipecat.
Singkat kata, hidup Sasuke itu -hampir- sempurna. Wajah oke, dompet tebal, otak encer. Kurang apa lagi coba?
Sayangnya, Sasuke memang punya kekurangan. Hai, kesempurnaan hanya milik Tuhan YME. Pernyataan itu dipatenkan dalam pepatah yang mengatakan.
'no body's perfect'.
Sasuke, yang kebanyakan orang mengatakan hidupnya sempurna itu juga punya kekurangan. Yaitu:
Kurang sosialisasi dan kurang ekspresif.
Beda karakter, berbeda pula jalan kehidupannya. Itulah yang dialami oleh gadis yang akrab dipanggil Hinata ini.
Kebalikan nasib berbanding lurus pula dengan kebalikan kehidupan. Itu menurut si gadis indigo. Tapi,Hinata rada risih kalau dibilang bernasib sial. Secara halusnya, nasib si sulung Hyuuga tak sesempurna nasib si bungsu Uchiha.
Sedari lahir nasib Hinata itu tidak terlalu beruntung.
Saat dirinya dilahirkan Rumah Sakit pada tutup karna bertepatan dengan hari cuti Rumah Sakit bersama (?). saat hujan entah kenapa padahal payung Hinata baru itu bocor. Jadi, Hinata basah kuyup sampai rumah. Kapok dengan payung, Hinata beralih dengan mantel atau jas hujan. Eh, malah hilang. Salah Hinata sendiri yang lupa menaruhnya dimana sehingga mau tak mau Hinata menunggu hingga hujan sedikit reda.
Saat hujan deras yang mengguyur bumi Konoha, kamar Hinata yang baru direnovasi tiba-tiba kebocoran. Padahal, kamar dan ruang yang lain baik-baik saja. Jadi, terpaksa, untuk sementara waktu Hinata tidur dengan Hanabi sampai kamarnya selesai direnovasi ulang.
Hinata itu pelupa. Jadi, banyak barang-barangnya yang hilang karna kesalahan peletakan barang yang tak diketahui sebelumnya (?).
Hinata itu ceroboh. Jadi, sering jatuh menabrak orang atau malah ditabrak oleh orang lain.
Hinata itu bernasib sial. Jadi, banyak hal yang perasaannya sudah benar, tapi menurut orang lain itu masih salah.
Nyambung nggak? Kalau nggak nyambung emang nggak ada sambungannya.
#plakk XD
Hinata segera membenarkan roknya yang belum tertutup sempurna.
'Gawat!'
Hinata membelalakkan kedua bola matanya dengan sempurna begitu menyadari resleting roknya rusak. Otomatis, bagian belakang tubuhnya akan terlihat oleh orang lain.
Tuh,kan!
Hinata merutuki nasib sial yang selalu mendatanginya. Merutuki Dewi Fortuna yang enggan menyambanginya. Hinata hanya mampu menundukkan kepalanya tanpa berani membalas tatapan bingung yang dilontarkan si bungsu Uchiha padanya.
"Kenapa?"
Sasuke mengerutkan kedua alisnya.
"Ada yang salah?"
Kerutan alis Sasuke menjadi sebentuk garis yang menyambung antara satu sama lain. Pertanda bahwa dirinya berfikir cukup keras saat itu.
Hinata bergeming tak merespon. Hanya menundukkan kepalanya kian dalam.
Sasuke mengedikkan kedua bahunya pelan. Berniat akan menyusul Gengnya yang sudah berjalan menjauhinya sedari turun dari shinkansen.
"Hiks..Hikss.."
Terdengar isakan pelan tertahan dari arah belakangnya. Seandainya kedua telinga si bungsu Uchiha itu tak cukup tajam, mungkin isakan pelan itu tak tertangkap oleh indra pendengarnya. Sasuke menoleh dan berbalik pelan. Terlihat oleh onyx-nya, tubuh gadis mungil yang terlihat ringkih di hadapannya bergetar pelan. Deru nafasnya juga tak beraturan. Tersendat-sendat oleh isakan yang ditahannya.
Buku yang ada dalam dekapan gadis indigo itu ternoda oleh darah walau tak cukup banyak. Yang parahnya, baru disadarinya setelah noda darah itu mongering. Yang artinya, darah itu sudah menodai buku yang berada dalam dekapan si gadis beberapa waktu yang lalu.
Gadis mungil itu terlihat cukup menyedihkan bagi Sasuke. Terlebih, si gadis menahan isakan pelannya dengan telapak tangannya yang kotor oleh darah yang mengering. Tak luput dari pindaian onyx-nya penampilan si gadis yang juga tak disadarinya tak serapi seperti biasanya. Baju seragamnya yang sedikit kusut. Rambutnya yang sedikit berantakan padahal biasanya lurus bak model iklan shampoo.
Berbeda dari biasanya. Mungkin disebabkan kondisi gerbong tadi yang penuh sesak. Dengan rok yang terselip di pintu gerbong yang menyulitkan si gadis untuk sekedar bergerak. Dan mungkin juga Hinata jatuh sebelum naik ke shinkansen, mengingat sedari si gadis naik, roknya yang terselip menjadi penghalang dirinya untuk bergerak. Itu Cuma prediksi si bungsu Uchiha -yang ternyata tepat sasaran.
Sasuke yang melihatnya juga tak tega. Segera ia menarik pergelangan tangan yang terluka itu dengan halus. Menuntunnya berjalan menuju ke took terdekat.
Hinata kaget. Namun, tak dapat berbuat banyak mengingat dirinya takut ditinggal oleh si penarik tangannya dalam kondisi semenyedihkan itu. Hinata malu, jika mengatakan resleting roknya rusak. Hinata terlalu takut untuk mendengar penolakan yang terlontar oleh bibir si bungsu Uchiha saat dirinya meminta pertolongan padanya.
Hinata sangat mengetahui karakteristik para lelaki Uchiha yang terkenal dingin dan acuh. Oh, jangan lupakan yang terpenting..
Cuek!
Hinata merasa sangat kecil dan kerdil. Dirinya hanya mampu menangisi kenyataan bahwa
kesialan selalu saja mendera dirinya.
Tapi, si bungsu Uchiha itu...
Si cowok yang terkenal dengan model rambut yang errr... sulit untuk ditiru itu..
Dan dalam kasus ini, Uchiha Sasuke itu...
Mau menolongnya.
Membelikan perban untuknya. Mengobati lukanya dengan cukup lembut menurut kadar Hyuuga-nya.
Hinata merasa aman, nyaman dan entah kenapa Hinata merasa.. terlindungi. Seolah tak ada apapun di dunia ini yang memiliki aura negatif dapat menyentuhnya dari benteng sempurna yang berada di hadapannya.
Ya.. Jadi kronologi kejadiannya kurang lebih seperti ini.
Flashback on
Sasuke yang merasa tak tega, menuntun Hinata ke suatu toko yang berada di dekat stasiun kereta.
"Duduklah di bangku itu dan jangan coba-coba pergi sebelum aku menemuimu"
Hinata bingung. Hal terakhir yang diinginkan si sulung Hyuuga di pagi yang sangat sial ini adalah Sasuke meninggalkannya sendiri disini. Dengan luka baru.
Dan hal terakhir yang diinginkan oleh Hinata benar-benar terjadi.
Padahal, Hinata baru saja menganggap si bungsu Uchiha yang satu ini baik dan berbeda dari yang selama ini diperkirakan serta dipikirkan olehnya.
si gadis indigo menunduk dalam. Menyembunyikan tangis hatinya yang kembali terluka.
Sasuke menarik ganggang pintu kaca toko tersebut dan masuk. Tak berapa lama si bungsu Uchiha keluar dari toko kecil itu dengan membawa beberapa barang dalam genggamannya.
Tanpa meminta izin si gadis beriris unik itu, si bungsu Uchiha menarik tangan Hinata yang terluka kepangkuannya. Mengolesi luka itu dengan antibiotik yang baru dibelinya tanpa banyak bicara. Dengan pelan Sasuke menutupi senti demi senti kulit telapak tangan Hinata dengan obat itu dan membalutkan perban bersih di luka kering itu.
Hinata hanya mampu terpesona dengan sempurna oleh perlakuan Sasuke saat ini padanya. Perih yang umunya dirasakan saat sebuah luka ditetesi oleh antibiotik tak terasa olehnya.
Flashback OFF
"Ayo!"
Sasuke menarik tangan Hinata yang bebas. Mengajak gadis itu untuk berjalan mengikutinya. Hinata bingung dan baru menyadari jika lukanya sudah terbalut sempurna dengan perban putih. Sangat sempurna hingga bagian tangan Hinata menyerupai mumi.
"Eh .. kemana?"
Hinata menatap Sasuke dengan tampang polosnya. Sasuke memutar bola matanya keatas, bosan. Kenapa dirinya yang hampir punya segalanya, malah tertarik dengan seorang gadis yang sangat lugu nan polos dan hanya memiliki sedikit kelebihan macam Hinata, sih?
"Sekolah. Atau apa kau ingin ke tempat lain? Aku bersedia dengan suka rela menemanimu"
Sasuke mengatakan hal itu dengan desahan lembut dan tatapan sayu menggoda.
Oh, jangan lupakan satu fakta penting bahwa Sasuka bukan hanya terkenal karna kekayaan, ketampanan serta kejeniusan seantero KHS alias Konoha High School. Tapi, Sasuke juga terkenal dengan rekor bolos yang berada pada urutan ke lima terparah seantero KHS setelah si pemalas namun jenius, Shikamaru. Si rubah pirang, Dobe. Si siswa pindahan yang menjadi buah bibir di kalangan siswi KHS, Gaara. Dan yang terakhir yang berada di atasnya adalah Sepupu tirinya yang teramat polos, Sai.
TBC
Saya excited banget saat mendapat ripyu yang nggak pernah saya sangka sebelumnya. Sumpah saya sampe nyengir gaje terus jingkrak2 nari dora en de geng. Tapi setelah itu saya berpikir, saya nggak pantes dan mungkin nggak bisa untuk melanjutkan fic ini lagi.
Dan jawaban saya atas pertanyaan itu (stress bgt dah, nanya diri sendiri jawab sendiri pula – - 'a)
Saya akan berusaha melanjutkan fic ini semampu yang saya bisa. :)
Maaf Cullen-san, akemi mengecewakanmu T.T
#pundung di pojokan XD
Maaf juga karna nggak bisa bales ripyu satu-satu, abis saiia OL via hape butut keluaran 1990
Gomen ne T.T
#bungkuk gak balik2
23-03-13
Akemi M.R
