Not a Replacement
By : Mikazuki_Hikari
Disclaimer : Jin (Shizen no Teki-P), Shidu, Wannyanpu ©
All Chara belongs to Shidu, Jin, and Wannyanpu sensei
This Fiction belongs to Mikazuki_Hikari
Rate : M (NC-17)
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Pairing: Shintaro Kisaragi x Kokonose Haruka (Konoha)
Cameo : Ayano Tateyama
Warning: Shonen-Ai, Typo(s), EYD tidak sesuai aturan, Male x Male, Lemon, Yaoi, Alternate Universe (AU), Out of Character (OOC)
Don't Like Don't Read
I have warned you
.
.
.
A/N : hai~ /ngapain kamu disini /mau nyelesain utangan MC jadi, mari kita lanjutin ceritanya. Yang bikin saya salut, dateng lagi, fandomnya udah ramai hehehe /ya salah sendiri kelamaan.
Kita masuk ke Alternate Reality Lost Time Memory, chapter kemarin kita udah asik sama Toumei Answer kan?
.
.
"Shinta-"
'Kau mengingatnya?'
Suara itu lagi...
Entah berapa kali lagi harus kudengar suara Ayano yang terus menghantuiku. Apa tidak cukup dengan kepergiannya, yang sudah membuatku berantakan seperti ini, dan sekarang ia ingin menghantuiku? Ayano, kumohon... jelaskan keinginanmu. Aku tidak kuat kalau harus menanggung hal yang seperti ini.
Sekitarku menjadi gelap. Sama seperti saat Ayano menemuiku beberapa saat yang lalu. Yang kuingat terakhir kali adalah, sosok pemuda putih yang hampir terluka karena nyaris tertiban lautan buku. Rasa sakit pada tengkukku mungkin akibat hantaman buku. Sejauh mata memandang, aku hanya bisa melihat hamparan pemandangan berwarna hitam. Aku tidak bisa melihat siapapun, atau apapun disana.
Aku mencoba untuk diam, menunggu seseorang menghampiriku. Memberi tahuku kenyataan bahwa dimana sebenarnya aku berada sekarang.
Sebuah siluet datang mendekat menghampiriku. Pemandangan sekitarku berubah menjadi sosok kelas SMUku senja hari waktu aku masih depresi menunggu kedatangan Ayano yang sebenarnya tidak menentu.
Siapa itu?
Bukan...
Itu bukan Ayano...
Aku?
Kenapa aku ada di sana? Hei! Kau! Ah bukan—Hei! Aku! Apa yang kau lakukan disana?
Aku memegang tanganku sendiri. Sekujur tubuhku nampak baik baik saja. Memiliki dugaan layaknya seperti orang yang sudah mati yang ada di Televisi. Bodohnya aku bisa menduga kalau aku sudah tembus pandang dan—ah, sudah lah, terdengar bodoh nantinya.
"Shinta—" aku mencoba memanggil diriku yang seorang lagi. Bodoh memang kelihatannya kalau kita memanggil diri kita sendiri. Ucapanku terhenti saat aku mendengar diriku yang seorang lagi meneriakkan nama yang tidak asing di telingaku.
"Ayano!" sosokku yang satu lagi berlari menghampiri sisi beranda dekat jendela. Berusaha menggapai sesuatu, namun entah apa.
Pemandangan itu...
'Ayano!' batinku. Diriku yang melihat sosok wanita yang kucintai, terjatuh dari atap sambil tersenyum, mendorong tubuhku untuk melakukan hal yang sama dengan sosok diriku yang masih berusaha mengejar Ayano yang terjatuh tanpa henti.
Kejadian itu berulang.
Apa ini? Sebuah perulangan kejadian? Kejadian saat orang yang kusayang mati di hadapanku.
.
Daze
.
"Kau sudah melihatnya ya?"
Tangan mungil yang lembut menghentikan langkahku untuk menghentikan laju perulangan tanpa henti yang terjadi pada sosok diriku yang ada disana, yang kupikir nampak seperti orang bodoh, yang masih saja tidak menyadari kejanggalan pada peristiwa Ayano yang terjatuh untuk kesekian kalinya. Siapa?
Gadis berambut Mahogany tersenyum dengan sorot mata hangat. Syal merah darah itu tidak bisa berbohong. Dia adalah Ayano Tateyama sendiri.
Lalu, sosok Ayano yang terjatuh tadi...
Siapa?
"Itu bukan aku." Tukas Ayano yang masih memegangi tanganku.
"Aya-"
"Yang kau lihat disana adalah refleksi kekecewaan dirimu Shintaro." Gadis itu tersenyum untuk kesekian kalinya. Lengkung indah mata yang menghiasi senyuman itu perlahan terbuka...
.
Merah
.
Mata Ayano, persis sama dengan mata yang dimiliki adikku, Seto, Mary, Kido, dan Kano. Bagaimana gadis ini bisa mendapatkan hal yang serupa?
"Ayano, mata-" Gadis itu meletakkan jari telunjuk rampingnya di depan mulutku, menghentikan ucapanku untuk bertanya lebih jauh.
"Aku sudah mati..." ia tersenyum.
"Hentikan Ayano, jangan mengucapkan hal yang sedih dan bodoh seperti itu... aku tidak-"
"Aku sudah mati Shintaro..." Gadis itu memeluk tubuhku erat. Tubuhku gemetar. Tanganku kaku. Nafas yang tersendat, dan kerongkongan yang kering.
Ingin menjerit...
Kepalaku penat, dan tatapanku kosong, ingin menangis rasanya.
"Apa kau tidak lihat?" Ayano menunjuk ke arah adegan tragis yang masih terulang untuk yang kesekian kalinya, adegan saat dirinya terjatuh, dan diriku yang masih terus mengejarnya.
Aku memeluk tubuh itu erat, tubuh yang perlahan lahan menghilang...
Lagi...
Pemandangan dihadapanku berubah seketika. Sekarang aku bisa menemukan diriku, yang tadi dengan bodohnya menyaksikan kematian Ayano, sedang duduk termenung seorang diri, di atas tempat tidurku yang berantakan.
Seprai putih yang sudah tidak beraturan. Layar komputer pribadiku masih menyala. Bisa kulihat disana Ene, dengan baju dan rupa yang entah mengapa berbeda dari yang biasa ku lihat, sedang berteriak teriak memanggil namaku, namun aku tidak merespon sama sekali. Diriku sedang memegangi kepala dengan sosok yang sangat menjijikkan. Kantung mata yang tebal, baju lusuh yang entah sudah berapa tidak diganti, badan yang kurus kering, bagaikan tulang yang dibungkus dengan sehelai kulit saja. Apakah benar aku semenjijikkan ini?
"Goshuujiiin!" teriakkan Ene semakin lantang memanggil namaku.
Diriku yang sedari tadi terduduk lunglai, mulai berdiri dan mendekati layar komputer. Dengan penuh kemarahan, ia—diriku yang satu lagi—melangkah dan menatap tajam ke arah Ene.
"BISA TIDAK KAU DIAAM! KAU ITU! JUGA SUDAH TIDAK ADA GUNANYA!" tangannya mengarah ke layar komputer, layaknya mencengkram leher dari sang gadis itu kuat. Menekannya hingga rasanya nampak sesak bagi ene untuk bernafas. Si gadis pixel itu berusaha menjerit meminta tolong, namun apa daya, tidak ada seorang pun yang mampu menolongnya. Gadis itu sedang berada di ambang maut.
Benar saja, sesaat bias cekikan itu usai, layar komputer berubah merah dengan tulisan "error" yang tersebar di seluruh permukaan layar.
Aku, juga telah membunuh Ene...
Apa aku sudah menjadi sejahat itu?
Sosok diriku menjerit histeris saat mengetahui kalau kebodohannya telah membunuh satu satunya harapan terakhir yang ada padanya. Bodoh memang, namun itu lah kenyataannya, pria bodoh itu adalah...
Aku.
Pria yang nampak seperti orang dalam keadaan candu itu melangkah sembarang ke arah meja belajar yang mungkin hampir tidak pernah terpakai. Lengan kurus itu mengarah tepat ke arah laci meja paling atas dan mengeluarkan sebuah benda dari sana.
Gunting?
Untuk apa aku mengeluarkan sebuah gunting besar? Jangan jangan...
.
.
Benar...
"Jangan di hentikan..." Sosok Ayano lagi lagi muncul dan menghentikan langkahku. Mengapa Ayano? Bukankah aku bisa merubah nasibku jika aku menghentikan pemuda malang itu dari kegiatannya yang pasti akan berujung dengan kesia-siaan?
"Kau akan tau..." lagi-lagi gadis itu membaca pikiranku dan tersenyum.
Sebuah tikaman yang tepat mengarah ke tenggorokkanku, dan berhasil mulus mengakhiri nyawa pria frustasi yang tak berdaya itu menuju keabadian.
Aku juga telah mati...
.
.
Aku menghembuskan nafas panjang setelah melewati kejadian-kejadian aneh yang ada di luar akal sehatku, namun kejadian itu memang nyata adanya, dan sekali lagi, pemandangan di sekitarku pun berubah. Kali ini sedikit berbeda, semuanya berwarna putih. Aku juga bisa melihat seseorang disana. Seorang gadis, ah tidak, mungkin wanita. Ya, sesosok wanita berperawakan mungil menatap ke arah sebuah rentetan angka yang berjalan maju. Di belakang wanita itu aku bisa melihat diriku yang sedang terduduk lemah tak berdaya.
Wanita itu mengarahkan tangannya ke deret angka yang terus melangkah maju itu. Kusadari akhirnya, bahwa rentetan angka itu adalah sebuah penanggalan dan jam yang terus melangkah maju, dan berubah. Dari rambut wanita itu muncul sosok seekor ular yang berbisik di telinga wanita hitam yang sekarang sedang melambaikan tangannya pada jam yang masih melangkah maju.
Dalam satu lambaian, dan bisikan bibir mungil sang wanita, jam itu bergerak mundur... hingga mencapai tanggal lima belas Agustus seperti sedia kala saat jam itu mulai bergerak...
Lima belas Agustus...
Ya...
Lima belas Agustus.
Wanita itu menghampiri sosok diriku yang lunglai dan tak berdaya, wanita itu hendak berbisik. Ayano muncul dari belakangku dan mendorong tubuhku tepat ke arah wanita itu berada.
"Sekarang, kau boleh melakukan apa yang ingin kau lakukan." Ia tersenyum.
Mengerti apa yang Ayano maksudkan. Aku melangkahkan kakiku ke arah wanita itu, dan melakukan hal yang persis seperti yang Ayano lakukan padaku. Aku menarik lengan mungil wanita itu. Seketika ia berhenti dan terkejut melihatku. Dan akhirnya aku pu mengerti...
Sebuah langkah awal untuk merubah semuanya, merubah sebuah ketidak pastian menjadi lembaran baru yang lebih indah, dimana jika kau tidak melangkah, waktu yang kita lihat itu tidak akan berhenti berputar.
"Aku ingin keluar." Tukasku singkat, dan wanita itu tersenyum...
Nama dari wanita itu adalah...
.
Azami
.
.
.
"Shintaro..." Sosok Ayano kembali muncul di hadapanku. Pemandangan di sekitarku kembali menyerupai kelasku, namun menjadi lebih berbeda. Aku sudah tidak melihat pemandangan naas yang sedari tadi berulang tanpa henti.
Kelas yang hening dengan mentari senja yang indah dan cantik, dengan sosok Ayano yang tersenyum manis. Indah, bagai sebuah maha karya dari seorang pelukis handal, terutama Ayano yang sekarang udah tersenyum dengan tulus, walau sebenarnya sedari tadi ia nampak selalu tersenyum, namun senyumannya kali ini berbeda, ada rasa yang mengatakan, bahwa ia sekarang sudah jauh lebih bahagia.
Mata merah itu menatap nanar ke arahku, tangannya mengurai syal merah yang melingkar di lehernya. Tangan mungil itu lalu mengarah tepat ke arahku, mengalungkan syal itu tepat ke arahku, lalu gadis manis itu tertawa. Matanya pun sudah tidak berwarna merah.
Mataku terbelalak. Pada refleksi jendela kelas aku bisa melihat wjaahku, dengan mataku yang sekarang berubah menjadi semerah darah, persis seperti yang dimiliki teman temanku.
Ayano memercayakan matanya padaku. Sebuah ciuman manis perpisahan mendarat di bibirku. Pada ciuman itu Ayano berkata kepadaku, bahwa, sosok yang akan melindungiku, dan menggantikannya ada tepat di hadapanku, saat aku membuka mata nantinya, dan ia memberikan satu nama pada telingaku.
.
Kokonose Haruka
.
Atau yang sekarang disebut sebagai
.
.
Konoha
.
.
.
.
.
Mataku terbuka, lebar, badanku menimpa tubuh tinggi yang masih sibuk menjilati pipiku, entah apa yang dilakukannya.
"Shintaro... kau sudah bangun..." ucapan datar itu menghantarku pada akhir dari pada lamunan panjangku, atau mungkin pingsan? Ah, entahlah.
Ucapan Ayano terngiang di telingaku, membuat hati dan tubuhku terasa panas, ingin rasanya aku memeluk anak ini, dan langsung saja aku merealisasikan keinginanku.
Aku memeluk erat tubuh pucat yang masih terdiam layaknya mayat hidup. Setiap jengkal pelukan itu membuatku semakin ingin memilikinya, seutuhnya.
Aku menginginkannya... Semuanya... dan kalau memang ia adalah pengganti Ayano...
Aku menginginkan keberadaannya.
Tanpa pikir panjang, aku langsung mencium bibir pucat milik konoha, tanganku pun sudah dengan leluasa menjamah bagian bawah pemuda lugu ini, membuat anak itu sangat terkejut.
"Aku menginginkanmu Konoha..."
"Shinta-"
Tanganku mengelus badan ramping Konoha, menyusur lekuk pinggangnya yang ramping. Lidahku menjilati daerah dada, hingga ke navel milik pemuda bersurai putih itu, merasakan betapa manisnya pemuda putih yang menggairahkan ini. Saat sudah tiba pada navel milik Konoha, lidahku kugerakkan naik dan melingkat di pinggir kedua titik sensitif miliknya yang mulai mengeras secara perlahan, kugoyangkan salah satu titik merah muda itu dengan lidahku yang terus menerus menginginkan keberadaannya. Puas dengan apa yang lidahku lakukan, Aku mulai menghiasi tubuh Konoha dengan bekas kemerahan, tanda anak ini sudah menjadi milikku seutuhnya. Aku melepas seluruh penutup bagian bawahnya dan juga milikku lalu merebahkan tubuhnya ke lantai. Memperlihatkan kejantananku yang sudah menegak sempurna.
"Aku ingin kau menikmatinya, dan, lepaskan celanamu, aku juga ingin melakukan hal yang sama padamu."
Konoha merona, dan hanya bisa menurut apa yang kuperintahkan. Mungkin anak ini tidak akan pernah membayangkan kalau benda sebesar milikku akan masuk ke dalam tubuhnya, dan pastinya akan sakit sekali. Konoha yang lugu memberikan jilatan percobaan pada kepala kemerahan yang sudah menatang wajahnya. Saat ia mencoba memasukkan milikku kedalam mulutnya, ia bisa merasakan kejahilanku lebih dahulu, dimana aku melakukan hal yang lebih pada miliknya, membuat getaran kecil akibat desahan yang keluar dari mulut Konoha, hal itu pun menjadi stimulan tersendiri bagi kejantananku yang semakin mengeras.
Tak tanggung memberikan kesan dan sensasi pertama pada bagian bawah miliknya, kejantanannyaa ku lahap dalam mulutku sekaligus, sementara tanganku sudah asik bermain dengan pintu masuk Konoha yang masih sangatlah sempit. Satu jari kumasukkan, membuat pemuda yang sedang asik mengulum lolipop miliknya berjengit. Jari ke dua dengan gerakkan menggunting pun kumasukkan dan menambah desahan datar keluar dari mulut yang sedingin es itu.
"Shinta...ro..." desah Konoha disela aktifitasnya memanja kejantananku. Aku tersenyum dan menambahkan dua jari sekaligus pada tempat yang sedang ku gali dengan jemariku. Setelah merasa sudah cukup lebar, Aku menjilat otot yang tegang itu guna membuatnya menjadi lebih relaks nantinya, serta menjadi lubrikasi lainnya untuk mempermudah jalan kejantananku di dalam.
Aku membalikkan tubuh Konoha dan membiarkan anak itu membelakangi tubuhku, memperlihatkan pemandangan dari punggung Konoha yang halus. Kulit putih yang jarang sekali dimiliki oleh seorang laki-laki. Aku menjilat bibirku karena terkagum akan pemandangan indah yang Tuhan ciptakan di hadapanku sekarang.
Dengan sekali hentakan aku melesakkan besar milikku ke dalam liang milik pemuda bersurai putih itu, membuat tubuh itu mengejang sempurna. Guna mengurangi rasa sakit dari pompaan yang ku lakukan, lidahku kembali menjilati punggung Konoha, dan meremas bokong mungil itu dengan kedua tanganku yang sangat tidak sabaran.
"Aannhhh... Shintaroo..." desahnya.
"Konoha..." Aku mempercepat tempo permainanku, membuat tubuh Konoha menggelinjang hebat, berulang kali aku berhasil menghujam tepat di daerah sweet spot milik pemuda bersurai putih ini di dalam sana, membuat ekspresi menakjubkan Konoha yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Aku kembali meninggalkan bekas kemerahan lainnya di punggung Konoha, mungkin ini akan menjadi hobi baru untukku. Aku menarik wajahnya dengan tanganku. Aku mencium bibir ranum yang luar biasa manis itu. Lidahku mengabsen satu persatu gigi Konoha, dan bergulat dengan lidah Konoha yang nampaknya belum terbiasa dengan hal ciuman.
Kejantanan Konoha tidak ku biarkan menganggur. Aku kembali dengan permainanku semula. Kejantananku yang mulai terkulai lemah itu kembali pada bentuk tegaknya yang semula. Gerakan kejantanan Konoha dan pompaan kejantananku sangatlah selaras, membuat Konoha mencapai puncaknya. Cairan kenikmatan miliknya membasahi tanganku. Kucicipi cairan keputihan yang membasahi tanganku. Aroma khas yang tajam menggoda hidungku saat aku mencicipi cairan lezat milik Konoha, rasa sedikit masam namun manis menjalar pada lidahku. Kutelan sebagian cairan itu, dan mengulum yang sebagian lagi. Kembali kucium bibir yang kini sudah membengkak itu, aku ingin Konoha juga menikmati hasil puncaknya yang notabene masih bersarang di mulutku. Merasakan cairannya sendiri di dorong saliva manis milikku membuat sensasi yang asing di mulut Konoha, semakin ia dimabuk oleh permainan manisku.
"Konoha, aku mau- AAAAAAKHH-" Kucabut paksa benda besar dan panjang milikku, dan memasukkannya lagi dalam satu hentakkan sebelum aku mengeluarkan semua hasratku di dalam perut Konoha
Tiga kali kejantanan besar milikku menembakkan hasratnya di dalam tubuh Konoha, hingga lelehannya mengalir keluar, Konoha mungkin bisa merasakan perutnya sangatlah penuh, dan tidak lagi kuat untuk menampung milikku di dalam.
Kejantanku yang mulai lunglai mengalir keluar bersamaan dengan derasnya lelehan putih miliknya yang mengotori lantai sekitar kami.
"Shintaro... aku lelah..."
"Aku tahu..." Aku mengelus surai putih itu sayang, sebuah hadiah kecil atas dirinya yang sudah menjadi milikku seutuhnya.
Aku tahu ini salah, namun, satu yang kurasakan sekarang...
Aku mencintainya.
Dan kuharap... bukan sosok Ayano yang kulihat.
Namun dirinya...
~FIN~
.
.
.
A/N : yap! Selesai sudah fic yang satu ini~ Otsukaresamadeshita~ semoga puas dengan kerja mika yang satu ini, no profit gained yaah~ Maaf kelamaan, mika ada ujian di kampus, terimakasih kesediaannya menunggu. Mika tau, pasti bete /ya
Sampai jumpa di fic lainnya~ mungkin akan lebih sering ke sini daripada main ke Shuuen-red mika juga nulis di fandom itu XD sama yang di fandom rumah banyak utangan ey /dibunuh /curhat mele mik, ga asu? /AUS! /ya /kamu kan kebanyakan utangan mik /ya alhamdullilah ini udah selesai satu
Matta nee~
Jangan lupa ripiu /nodong gunting
