Semua berawal dari sebuah rencana liburan.
.
The Adventure of Kiseki
petualangan Kiseki no Sedai yang sangat sesuatu
.
Kuroko no Basket Fanfic
Kuroko no Basket by Fujimaki Tadatoshi
Fic by me, harimau-badai-dan-hujan
Genre : mystery, horror
WARNING! Typo (s), OOC, gaje
.
HAPPY READING!
.
Rumah Akashi, 6.00
Ding-dong!
Bel rumah berbunyi. Seorang pelayan bergegas membuka pintu, dan mendapati tak ada siapa-siapa di depan pintu. Si pelayan bingung dan menutup pintu kembali.
"Ano." ucap seseorang sopan. Sang pelayan langsung melonjak kaget begitu mendapati seorang anak berambut baby blue berdiri di depannya sambil menyeret sebuah koper besar. "Akashi-kun di mana?"
"Sejak kapan?" si pelayan kebingungan.
"Barusan aku masuk." balas si rambut baby blue sopan. Matanya melihat seorang berambut merah menuruni tangga.
"Ah, Tetsuya. Kau sudah datang."
"Bawakan koper Tetsuya!" titah Akashi pada pelayannya. Dengan sigap, sang pelayan langsung mengambil koper Kuroko dan membawanya mengikuti Akashi.
"Ikut aku, Tetsuya." Akashi memandu Kuroko masuk ke sebuah ruangan yang besar dan megah. Dalam ruangan itu terdapat 4 buah sofa empuk, sebuah TV berukuran besar, sebuah rak buku yang Kuroko yakin terdapat lebih dari 1000 buku berjejer rapi di situ. Karpet merahnya membentang lebar, terasa lembut ketika dipijak.
"Kau tunggu saja di sini, oke? Aku mau mengurusi beberapa hal." kata Akashi pada Kuroko. Sementara lawan bicaranya hanya mengangguk.
"Yang lainnya belum datang, kah?" tanya Kuroko.
"Shintaro dan Atsushi sudah datang. Shintarou sedang membaca di perpustakaan, Atsushi sedang makan di ruang makan." balas Akashi, "Ryota sedang di jalan, Daiki juga. Setengah jam lagi mereka akan sampai."
.
Ding-dong!
Setengah jam berikutnya, bel berbunyi.
"Biar aku yang buka." kata Kuroko pada pelayan Akashi. Sang pelayan mengangguk. Kuroko bergegas membukakan pintu.
"Kise-kun, Aomine-kun, osoi ne." ucap Kuroko dengan muka datar.
"Maaf, Kurokocchi. Tadi mobilku habis bensin, ssu, lalu aku harus beli air dan bekal dulu, ssu. Jangan marahi aku, ssu yo." Kise langsung menceritakan alasannya. Kuroko melirik Aomine.
"Terlambat bangun. Dan aku salah naik bis." kata Aomine memberi penjelasan. Kuroko menghela nafas.
"Akashi-kun, mereka sudah datang."
"Suruh mereka masuk, Tetsuya!"
"Baiklah." Kuroko mempersilahkan Kise dan Aomine untuk masuk ke rumah Akashi. Keduanya mengucap permisi dan masuk ke rumah besar tersebut.
"Oke, kalian siap ke Hokkaido?" tanya Akashi.
"SIAAPP!" barang-barang dimasukkan ke bagasi. Akashi memandu kelima temannya untuk masuk ke pesawat.
"Aku mau ke kokpit, ssu! Mau lihat cara mengemudi pesawatnya, ssu yo!" kata Kise semangat.
"Jangan." Akashi melarang.
"Kenapa, ssu?" rengek Kise.
"Kubilang JANGAN. Perintahku mutlak, dan kau tidak boleh melanggarnya, Ryota." balas Akashi, membuat Kise langsung menutup mulut.
"Oi, Akashi, bagaimana cara memasang sabuk pengamannya?" tanya Aomine yang tidak terbiasa dengan sabuk pengaman.
"Memangnya kau belum pernah naik pesawat sebelumnya, Daiki? Atau kau saat naik pesawat tidak memakai sabuk pengaman?" selidik Akashi.
"Bukan begitu. Aku hanya tidak tahu cara memasang sabuk pengaman yang seperti ini." balas Aomine.
"Aominecchi kampungan, ssu!" ledek Kise dan langsung dihadiahi sebuah jitakan keras dari Aomine.
"Aominecchi hidoi, ssu yo."
"Salah sendiri." cibir Aomine. Setelah masalah sabuk pengaman itu selesai, pesawat melesat ke angkasa, mengudara di sana.
.
Beberapa menit setelah pesawat lepas landas.
"Aka-chin, snackku habis." kata Murasakibara setengah merengek. Akashi memberi isyarat mata pada Murasakibara untuk menunjukkan letak lemari pendingin. Murasakibara segera beranjak dari tempat duduknya dan hijrah ke Madinah (?), maksudnya ke lemari pendingin.
"Akashi, kapan kita akan mendarat?" tanya Midorima.
"Pukul 8.12, kita akan mendarat di Sapporo." balas Akashi. "Nanti kita akan menginap sehari semalam di Sapporo, baru kita pergi ke Hakodate."
"Jadi kita boleh beli suvenir dulu, ssu?" mata Kise berbinar.
"Tentu saja boleh. Untuk belanja di Sapporo, aku akan memberikan kalian uang saku. Kalian boleh beli apa saja dengan uang itu. Nanti di Hakodate akan kuberi lagi, jadi kalian tidak usah khawatir."
"Tapi aku bawa uang sendiri, ssu." kata Kise.
"Sudahlah, namanya rezeki jangan ditolak, Kise-kun." kata Kuroko.
"Oke, ssu."
"Kalau kalian bosan, kalian boleh tidur di ruang tidur atau main game di ruang bermain." kata Akashi melihat anak buahnya mulai bosan melihat warna biru saja di jendela.
"Akashi." panggil Aomine, "WC di mana, ya?"
"Di belakang." balas Akashi, menunjuk sebuah tanda. Aomine langsung ngibrit ke belakang.
.
Pesawat berguncang. Kuroko terbangun dari tidurnya, dan dengan segera melihat apa yang terjadi diluar. Rupanya pesawat sedang menembus awan kumulonimbus, menyebabkan terjadi guncangan hebat.
Kuroko melirik teman-temannya. Murasakibara yang tingginya 2,08 m itu terbentur langit-langit, tapi dia tetap meneruskan mamah biaknya. Sepertinya dia baik-baik saja.
Kise meringkuk nyaman di tempat tidurnya, tak terganggu dengan guncangan barusan. Sesekali dia mengigau dan bahkan berguling-guling di tempat.
Aomine masih tidur dengan indahnya, sambil mengeluarkan berliter-liter saliva. Midorima juga tidur dengan posisi duduk sambil memegang sebuah buku tebal.
Akashi? Kuroko tidak bisa menemukannya di ruangan itu. Mungkin sedang ke WC atau mengurus hal lain? Entahlah.
KRAAKK!
Sepertinya ada sesuatu yang patah. Kuroko berdoa, moga dia dan teman-temannya baik-baik saja.
Akashi masuk ke ruangan, "Tetsuya?" panggilnya. Kuroko menoleh.
"Kau sudah bangun? Pasti karena guncangan tadi, kan?"
"Ung. Ada apa, Akashi-kun?"
"Ada kerusakan mesin." kata Akashi serIus. Kuroko tercekat.
"Lalu? Apa kita akan jatuh?"
"Sepertinya begitu. Tapi aku yakin bisa diperbaiki. Semua akan baik-baik saja, Tetsuya."
"Akashi-kun..."
"Kau meragukan perkataanku, Tetsuya? Aku selalu benar. Kau tidak perlu khawatir."
"Baiklah."
Akashi tersenyum, "Tidurlah lagi, Tetsuya."
Kuroko menuruti perintah dari kaptennya. Matanya menutup.
.
Bandara Sapporo Chitose, 8.12
"Bangun, Ryota, Daiki, Shintaro, Atsushi, Tetsuya!"
"Ngg, sudah pagi, ssu?"
"Sudah sampai, Ryota. Kalau kau mau langsung diberangkatkan ke Hakodate sebelum kau sempat membeli apa-apa di Sapporo?"
"Tidak mau, ssu!" Kise langsung bangun.
Aomine sudah bangun daritadi, begitu pula dengan Midorima, Murasakibara dan Kuroko.
"Ayo semuanya, kita turun!" kata Akashi. Mereka berjalan beriringan seperti bebek yang ingin keluar kandang. Rapi banget barisannya /abaikan
Udara dingin Hokkaido menyambut mereka.
"Haaachhiii!" Midorima bersin, "Bukan aku yang bersin, nanodayo."
"Udahlah, ngaku sajalah." kata Aomine.
"Semua lihat, kok, Mido-chin." tambah Murasakibara.
"Habis ini kita ngapain, Akashi-kun?" tanya Kuroko.
"Pertama kita taruh barang di hotel dulu, baru kita shopping." balas Akashi. "Kuberi waktu sampai jam makan siang. Nanti temui aku di Ramen Yokocho, oke?"
"Ramen apa? Ramen dikocok?" Aomine salah dengar.
"Ramen Yokocho." kata Kuroko membetulkan.
"Oke, ayo berangkat!"
Dengan naik limousine milik Akashi, mereka pergi ke hotel JR Tower Hotel Nikko Sapporo, salah satu hotel terfavorit di Sapporo.
"Nanti di hotel aku mau sekamar dengan Kurokocchi, ssu!" kata Kise gembira.
"Aku mau sendiri, nodayo."
"Yang penting ada snacknya."
"Aku gak akan sekamar sama si cerewet!"
"Terserah yang lain."
CKRIS! Suasana hening.
"Aku akan bagi kamarnya. Ryota dan Daiki, kamar 1312. Shintaro dan Atsushi, kamar 1313. Aku dan Tetsuya di kamar 1314."
"1312? Memang kita menginap di lantai berapa?" tanya Aomine, sesaat melupakan kalau teman sekamarnya adalah Kise.
"Lantai 13."
DEG. Bukankah itu lantai paling horror dari semua lantai?
.
.
.
#TBC#
Minna, Rain kembali dengan chapter 2!
Terus tunggu chapter berikutnya, ya!
Tapi mungkin Rain tidak akan mengepost kelanjutannya dalam waktu dekat. Karena Rain sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian.
Jadii, harap tunggu dengan sabar, ya!
