"Jadi tuan siapa nama mempelai wanita mu?" tanya pendeta yang kini sudah berdiri diatas altar dan berdiri didepan gadis bersurai indigo dan pria bersurai kunging.
Dibelakang mereka belasan orang berbaju indah dan berkesan mewah duduk dengan rapi dikursi sambil melihat kearah mereka.
"Siapa nama mu gadis kecil?" tanya sang mempelai pria setengah berbisik.
"Hyu-hyu-hyuuga Hinata." jawab mempelai wanita dengan raut wajah cemas dan juga bingung.
"Hyuuga Hinata namanya." ucap sang mempelai pria, pendeta itu mengangguk mengerti dan mulai mengucapkan kata-kata yang akan menjadi janji suci pernikahan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Love in Konoha
Chapter 1
Genre . Drama Romance
Pair . NaruHina
M
By Mitsuki HimeChan
Baturaja, 12 Juni 2016
Sumatra Selatan
.
.
.
.
.
.
.
.
Kejadian tadi sore sangat cepat berlalu dan Hinata tidak tahu kenapa semua ini terjadi padanya. Baru saja dia ingin pulang ke apartementnya, eehh malah dihadang oleh dua preman yang memang selama ini sering menagih hutang padanya karena ini juga salahnya meminjam uang dengan jumlah banyak kepada mereka untuk operasi adiknya yang sakit dan tuhan tidak mengizinkan adiknya untuk kembali padanya dan kalian pasti sudah tahu kan akhirnya? Pemakaman.
Tapi Hinata tidak menyesal karena dengan itu dia sudah berusaha untuk menjaga adiknya. Mungkin orang lain akan menyesal karena sudah meminjam uang banyak tapi orang itu tidak selamat.
Aksi kejar-kejarannya berakhir dengan dramatis, Hinata menabrak seorang pria pirang dan Hinata sudah meminta maaf tapi pria itu hanya diam dan mengatakan 'Kau yang akan menikah denganku.' Hinata pikir pria itu hanya bercanda tapi ternyata tidak, pria pirang itu menyeretnya masuk kedalam sebuah ruangan lalu menutup pintu kemudian Hinata di make over dan Hinata hanya mampu terdiam karena bingung dengan apa yang terjadi dan berpikir ini hanya mimpi tapi setelah janji suci berakhir dan saat pria itu mengambil ciuman pertamanya barulah dia sadar itu bukan mimpi.
Hinata menggeram kesal dan menghentak-hentakkan kakinya kesal kelantai kamar hotel yang kini menjadi tempat dia akan menghabiskan malam pertama. Hinata merasa takut sekarang membayangkan malam pertamanya dan hal yang berbau seperti itu Hinata bukan tidak mengetahui sama sekali tapi tahu karena dia juga sudah dewasa meski umurnya baru saja masuk tujuh belas tahun. Dia tahu karena Sakura dan Ino sering bercerita apalagi Sakura yang sudah bertunangan dengan seorang pria pembisnis. Sakura sering bercerita betapa dia bahagia dengan pria itu meski usia mereka berjarak tujuh tahun mereka sering menghabiskan waktu bersama dan bercumbu tapi belum sampai menu utama karena menu utama hanya untuk nanti diwaktu yang tepat. Katanya!
Arrrgh... Memikirkannya saja membuat dia pusing tujuh keliling.
Cklek.
Pintu kamar terbuka dan Hinata berhenti berbuat aneh seperti tadi dan memandang pintu itu dengan intens. Seorang pria berstelan tuxedo masuk kedalam kamar lalu menutup pintu dan menguncinya. Pria itu berjalan kearah lemari dan mengeluarkan beberapa helai pakaian dan langsung masuk kedalam kamar mandi dan kedua ametysh Hinata terus menatap pintu kamar mandi yang tertutup dengan rapat.
Saat pria itu sudah mandi, dia mengenakan piayam tidur yang memiliki warna yang sama dengan Hinata. Piayama berwarna biru dan berbahan sutra itu menutupi tubuh Hinata dengan baik.
"Jangan menatapku seperti itu." kata Naruto seraya duduk disofa tepat didepan Hinata yang sedang duduk dipinggir kasur.
"Kenapa kau menculik dan menikahiku dengan paksa?" tanya Hinata dengan mata menyipit.
Pria itu menghela napas panjang dan membalas tatapan Hinata dengan tatapan super dingin andalan miliknya, "Mempelai wanitaku kabur dari pintu belakang dan aku tidak mungkin mengatakan kepada semua orang kalau mempelaiku kabur dan karena kau datang di waktu yang tepat aku segera membawa mu saja." jawab Naruto membuat Hinata mendengus sebal.
"Kalau ada wanita lain yang saat itu datang dan bukan aku, kau akan menikahinya?" Naruto mengangguk.
"Dasar bajingan." desis Hinata tajam.
"Ya aku memang bajingan." sahutnya dingin.
"Dia pasti membenci mu mangkanya dia kabur." ketus Hinata.
"Dia memang membenciku karena aku memaksanya untuk menikah denganku."
"Kenapa kau paksa?"
"Keluarganya memiliki hutang yang cukup besar pada perusahaanku bahkan ayahnya sempat terlibat korupsi dan aku mendapat wasiat dari nenekku bahwa aku harus menikah jika mau seluruh warisannya berada didalam genggamanku. Aku mengancamnya, aku hanya akan menikahi dia selama satu bulan lalu menceraikannya. Dan dia kabur dengan pacarnya karena menurutnya hidup dengan bergelimpangan harta jika tidak ada cinta maka hanya akan ada penderitaan."
"Aku setuju dengan gadis itu, dasar kau lelaki bajingan, kau pikir pernikahan itu permainan hah?! Menikah dengan seenak jidat dan bercerai seenak jidat mu? Dengan kau menikah dan berdiri didepan altar itu sama saja kau sedang berhadapan dengan tuhan dan berjanji padanya dan dengan bercerai kau melanggar janjimu dasar brengsek!" pria itu menyeringai kecil.
"Lalu bagaimana dengan mu? Kau sudah berjanji didepan tuhan, apa kau akan menceraikanku?" tanya pria itu sarkastik. Hinata terdiam memandag pria didepannya tajam.
"Kau gadis yang menarik." ucapnya senang.
"Kau!"
"Aa bagaimana kalau malam ini kita berkenalan saja terlebih dahulu bagaimana? Kita suami istrikan? Atau kau mau menghangatkan kasur hotel ini bersamaku hm?" Hinata menggenggam kedua tangannya dan hendak memukul kepala pria itu yang berani-beraninya telah menggodanya bahkan rona merah mulai menghiasi pipi chubby nya.
"Kenapa mau memukulku?" Hinata menurunkan tangannya cepat dan membuang muka karena kesal dan membuat pria itu semakin menyeringai senang. "Kau menikahiku tanpa izin dan kau juga mencuri ciuman pertamaku, aku akan menuntut mu!" Naruto menahan dirinya untuk tidak tertawa. "Dengar beberapa kali kau mencoba untuk menuntutku tidak tidak akan bisa karena aku suami mu dan polisi hanya akan menertawai mu. Mencium istri sendiri, apa itu kejahatan? Dan menikahi mu tanpa izin, apa yang kau punya bukti untuk itu?" Hinata bungkam dan Naruto semakin menyeringai senang melihat Hinata tidak dapat berbuat apa-apa.
"Baiklah dari pada terus berbicara tidak penting aku akan memperkenalkan diri. Namaku Namikaze Naruto dan aku yakin kau pasti sudah mengenalku'kan, kau tahu aku ini sangat terkenal." ujarnya pede, Hinata hampir memuntahkan makan malamnya.
"Aku tidak mengenalmu Namikaze-san!" sahut Hinata ketus. Naruto menggedikan bahu. "Aa... Aku mengerti lalu kenapa marga mu Hyuuga?" tanya Naruto.
"Jika kau mengira aku Hyuuga dari kalang atas maka jangan pernah berharap tuan, di muka bumi ini banyak Hyuuga dan seharusnya kau tahu Hyuuga itu ada dua, ada yang kaya dan ada yang miskin dan aku yang miskin." ujar Hinata tajam.
"Ternyata aku menikahi Hyuuga miskin, tak masalah." sahut Naruto enteng. "So, berapa umur mu Hyuuga miskin?" Hinata mendengus sebal mendengar panggilan Naruto untuknya.
"Kemarin usiaku tujuh belas tahun dan aku tidak menyangka mendapat hadiah dari tuhan untukku begitu mengesankan." jawab Hinata ketus.
"Oh aku tersanjung menjadi kado untuk mu dari tuhan." kekehnya senang melihat ekspresi Hinata saat ini, begitu menyenangkan.
"Umurku dua puluh lima tahun dan aku si tampan yang kaya." Hinata berdecih. "Aku tidak menyangka bahwa aku menikah dengan pria tua." desisnya.
"Ck aku tidak tua, kau tahu aku ini masih muda dan tampan. Kau harusnya bersyukur dapat menikah denganku. Diluar sana ratusan wanita mengantri untuk menjadi istriku bahkan tanpa harus menjadi istriku'pun mereka rela asal bisa mengangkang didepanku." Hinata menggembungkan kedua pipinya menahan kesal mendengar perkataan Naruto bahkan wajahnya memerah dengan sempurna. Pria tua yang duduk didepannya saat ini mesum!
"Oh bagus dengan begitu aku tidak perlu mengangkang untukmu karena diluar sana banyak yang siap mengangkang untukmu!" Naruto tertawa kecil melihat ekspresi Hinata.
"Dengar Hyuuga Hinata, aku tidak pernah sekalipun menyentuh atau mencium ratusan wanita diluar sana, aku jijik dengan wajah mereka yang memelas melihatku seolah-olah mereka tak bisa hidup tanpaku. Mereka semua munafik dan aku tidak mau terkena penyakit jika mencium atau menyentuh milik mereka yang menjijikan, karena mereka sudah bermain dengan pria lain diluar sana." ujar Naruto panjang lebar bahkan saat ini pria itu sudah berdiri dari tempat dia duduk dan mulai melangkah mendekat Hinata yang tampak menggeser duduknya untuk mundur.
"Tapi tidak dengan mu sayang. Aku yakin kau masih tersegel dengan baik bahkan tadi aku baru saja mencuri ciuman pertama mu." Hinata menatap kedua shappire Naruto intens bahkan dia baru sadar bahwa Naruto baru saja mendorong tubuhnya hingga terjebab ketempat tidur dengan posisi kaki masih menggantung menyentuh lantai. Naruto'pun memposisikan dirinya tepat diatas Hinata.
"Aku sangat beruntung menemukan bunga dibalik jeruji besi emas diantara ribuan bunga busuk yang sudah tidak tersimpan didalam jeruji." Naruto menyeringai dengan begitu mengerikan dan kedua pergelangan Hinata dia kunci dengan satu tangan kirinya. Hinata berusaha untuk memberontak tapi tak mudah untuk lepas.
Naruto menyingkirkan helaian rambut Hinata dari daerah leher untuk melihat betapa indahnya leher berwarna putih dan mulus itu. Diturunkannya wajahnya dan mengendus disekitar leher Hinata lalu dikecupnya dan digigitnya pelan dan terus turun hingga mencapai pundak dengan batuan tangan kanannya Naruto dapat membuka kancing baju Hinata bagian atas.
Hinata terengah-engah demi menahan suara agar tidak keluar karena bagaimana'pun juga itu memalukan. Hinata menggerekan kakinya keatas dan tanpa sengaja pahanya menyentuh sebuah benda yang cukup keras diantara selangkangan Naruto. Hinata menyeringai jahat. Dia mendapat kartu As.
"Ahh! Naruuu..."
"Arrrrrgh!"
Braaak...
Bersamaan dengan Naruto meremas salah payudara Hinata, kaki Hinata menendang selangkangan Naruto membuat Naruto langsung menyingkir dari atas Hinata dengan terjatuh kelantai sambil memegangi 'adik' kesayangannya yang baru saja Hinata tendang.
Hinata menyeringai senang dan bangkit dari posisinya, memandangi Naruto yang tampak membolak-balikan badannya dilantai karena kesakitan tapi lama-kelamaan Naruto masih terus mengerang kesakitan membuat Hinata tidak tega melihatnya karena bagaimana'pun juga Naruto suaminya meski menikah dengan tidak sadar atau paksaan. Dan dia baru saja menendang masa depan Naruto dan dia tidak bisa membiarkan Naruto tidak dapat menggunakannya lagi.
Hinata turun dari tempat tidur dan berjongkok dibelakang punggung Naruto, Hinata menyelipkan anak rambutnya dibalik telinga dan dengan ragu Hinata menyentuh pundak Naruto. Tanpa dia sadari seringai dengan penuh kemenangan kini menghiasi wajah suaminya itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Hinata khawatir.
"Sssshhh... Sakit Hina." Naruto terus mengerang kesakitan.
"Ma-ma-maaf ya, sakit ya." oh Naruto andai saja saat ini kau mendongkan wajahmu maka kau akan melihat betapa khawatirnya wajah istrimu itu.
"Sakit sekali." Naruto memejamkan kedua matanya erat.
"Sebaiknya kau berbaring dulu diranjang." Naruto mengangguk lemah dan dengan hati-hati Hinata membantu Naruto berjalan menuju ranjang. Hinata tidak sanggup membopong tubuh Naruto yang sangat berat apalagi Naruto sepertinya sengaja membiarkan Hinata merasakan berat badannya saat ini.
Bruuk...
Naruto terbaring dengan posisi menyamping ditempat tidur dengan kaki dia tekuk seolah-olah terlihat kesakitan. Hinata sangat ketakutan saat ini, dia takut Naruto akan memenjarakannya dengan alasan KDRT karena menendang selangkangan suaminya sendiri di malam pertama dan itu tidak lucu sama sekali.
"Arrggh..." Naruto merintih dan hanya kami-sama yang tahu saat ini kalau pria itu sedang berpura-pura kesakitan. Jangan salahkan instingnya yang pernah menjadi atlit beladiri Tekwondo dan Judo saat SMA. Naruto tahu gerak-gerik kaki Hinata tadi dan saat paha Hinata mulai terangkat dan menyentuh paha dalamnya, Naruto dengan cepat menyingkir dan pura-pura jatuh.
"Maafkan aku Naruto." ucap Hinata menyesal dan secara refleks tangan gadis itu menyentuh kedua telapak tangan Naruto yang menyentuh 'adik' milik Naruto. Oh Hinata tidak tahukah kau bahwa suami ini sedang merencanakan hal yang tidak kau tidak ketahui?
Sifat lembut dan kehati-hatian Hinata muncul begitu saja dan dimanfaatkan Naruto sebaik mungkin, ia menyingkirkan kedua tangannya dan masih merintih. Naruto tersenyum puas karena Hinata menyentuh 'adiknya' tanpa gadis itu sadari atau sadar entahlah Naruto tidak tahu.
Naruto memejamkan kedua matanya untuk menikmati setiap pijatan yang Hinata berikan untuk 'adik' kesayangannya itu. Lama-kelamaan Hinata menatap heran perubahan ekspresi Naruto yang tadi terlihat kesakitan kini terlihat seperti menikmati? Tunggu menikmati?
Hinata memberhentikan aksi memijatnya dengan wajah yang memerah padam. Naruto membuka matanya dan melihat wajah Hinata yang menatapnya garang, "Kenapa berhenti sayang, lanjutkan itu sangat nikmat, apa kau mau coba hm?" tanya Naruto dengan seringai menggoda.
"NARUTO MATI KAU!" seru Hinata kesal dan memukuli tubuh Naruto dan itu tidak berefek apa-apa untuk Naruto yang menurutnya itu hanyalah pukulan bayi yang baru saja lahir.
"Menyebalkan! Mesum! Kau laki-laki mesum! Bajingan! Brengsek! Kyaaaaaa..." tubuh Hinata terhempas ketempat tidur dengan posisi Hinata berada dibawah naungan tubuh Naruto. Kedua tangannya terkunci ditangan kiri Naruto tepat diatas kepalanya dan kedua kakinya ditindih kedua kaki Naruto yang berotot.
Sapphire Naruto yang tadi dipenuh kabut nafsu kini hilang saat melihat kedua mata Hinata yang berair dengan ekspresi ketakutan membuat Naruto tidak tega. Alhasil Naruto turun dari tempat tidur dan membenahi bajunya.
"Aku akan memesan satu kamar lagi, kau bisa menggunakan kamar ini sendirian." ujarnya dingin dan pergi meninggalkan Hinata seorang diri didalam kamar pengantin mereka.
.
.
.
.
Naruto mendengus kesal karena saat ini emosinya tengah memuncak dan mencapai ubun-ubun kepalanya. Andai saja tadi dia tidak membuat Hinata ketakutan mungkin saat ini dia masih berdebat dengan Hinata atau menjahilinya.
Naruto kembali menuangkan vodka kedalam gelasnya yang berisi bongkahan batu es kecil-kecil lalu meminumnya, menikmati setiap tetesan liquid itu yang turun membasahi tenggorokannya dan membakar setiap emosinya saat ini.
"Aku tidak akan melepaskan mu Hyuuga Hinata karena mulai saat ini kau adalah milikku dan apapun yang sudah menjadi milikku tidak akan pernah aku lepaskan." ujarnya dengan penuh penekanan disetiap kata yang dia ucapkan. Ya benar, apapun yang sudah menjadi miliknya akan terus menjadi miliknya.
Naruto menghempaskan kepalanya ke sandaran sofa dan menghabiskan semua vodka yang dia pesan dan setelah beberapa jam berlalu sudah ada tiga botol vodka yang dia habiskan dan dua botol wiski.
Naruto belum puas dan dia masih ingin minum tapi semua minumannya sudah habis. Dia menggeram kesal lalu menjatuhkan badannya diatas kasur.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto mengumpat kesal karena waktu tidurnya terganggu oleh sinar matahari yang masuk dari cela-cela gorden kamar tempat dia menginap dan Naruo lupa menutup jendela semalam karena terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Naruto meringis kesakitan karena kepalanya terasa ditusuk belasan jarum. Naruto benci hange over dan kini dia butuh aspirin. Naruto berjalan menuju kamar mandi berharap ada kotak obat disana yang menyediakan aspirin. Dan setelah dilihat ada, Naruto langsung mengkonsumsinya lalu membasahi tubuhnya dengan air untuk meredakan sakit kepala yang dia alami.
Lagi dan lagi. Entah sudah berapa kali pagi ini Naruto mengumpat kasar. Saat membuka pintu kamar tempat Hinata tidur, dia sudah tidak menemukan gadis itu bahkan gitar dan tas jinjing gadis itu tidak ada didalam kamar.
Drrrtttt...
Naruto mengeluarkan ponselnya dan mengangkat telpon yang masuk tanpa melihat nama yang tertera.
"APA?!" jawabnya kasar. Orang yang saat ini menelpon Naruto terkejut bukan main bahkan terdiam sejenak karena sepertinya dia menelpon di waktu yang tidak tepat.
Setelah mendengar suara si penelpon, Naruto berusaha menenangkan pikirannya saat ini dan berkata tanpa mengeluarkan emosi.
"Aku mengerti dan aku akan kesana." ucapanya menyetujui dan langsung pergi begitu saja meninggalkan hotel tempat dia menginap menuju sebuah bandara internasional.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hampir dua bulan Hinata tidak lagi bertemu dengan sosok Namikaze Naruto dan dia bersyukur karena hal itu, terserah dia istri atau bukan dimata Naruto tapi saat ini dia ingin hidup bebas. Sebenarnya kalau saja Naruto saat itu datang dan melamarnya dengan cara yang baik-baik seperti menyatakan cinta terlebih dahulu dan berakhir dengan Naruto melamarnya di sebuah pantai yang indah sambil menikmati sunset. Hinata jamin dia akan menerima pernikahan ini dengan tangan terbuka.
Tapi tidak, ini bukan roman picisan yang ada di tv. Naruto menyeretnya memasuki gereja melalui pintu belakang dan meminta para penata rias untuk meriasnya karena mempelai wanita Naruto kabur di hari H bahkan Hinata terpaksa mengenakan sebuah gaun yang tersimpan didalam tas yang dibawa penata rias sebagai gaun cadangan bila mempelai Naruto tidak suka dengan gaun pertama yang mereka bawa. Tapi setelah mempelai Naruto dirias, mempelai wanita itu meminta untuk menenangkan diri untuk sejenak mereka mingizinkan tanpa mereka ketahu bahwa sang memperlai kabur lewat pintu belakang dengan sang kekasih.
Naruto yang saat itu merasa kesal hanya berdiri diam didepan pintu sambil merokok untuk menjernihkan otaknya. Dia tidak bisa membatalkan pernikahan ini karena hari ini hari terakhir seperti yang ada didalam surat perjanjian maka saat melihat Hinata datang, dia langsung menyeret Hinata untuk dia jadikan tumbal karena setelah satu bulan yang akan datang dia akan menceraikan Hinata setelah semua harta keluarganya jatuh kedalam genggamanya. Mudah bukan?
Hinata tidak peduli dengan Naruto saat ini, apa pria itu mencarinya atau tidak, dia tidak peduli atau jangan-jangan satu bulan yang lalu pria itu sudah menceraikannya seperti apa yang pria itu katakan padanya?
Peduli amat yang penting kehidupan normal seorang Hyuuga Hinata sudah kembali. Setelah membereskan semua barang-barangnya masuk kedalam tas. Hinata bergegas keluar dari dalam kelas bersama dua sahabatnya Sakura dan Ino lalu kedunya berpisah di depan gerbang dan Hinata berjalan kaki ketempat diberkerja paruh waktu. Hinata mengukir senyumannya dengan lebar karena hari ini dia gajian secara bersamaan. Menyenangkan bukan?
Pulang sekolah langsung berkerja sebagai pelayan cafe sampai sore lalu berkerja sebagai kasir di sebuah mini market dari jam tiga sore sampai jam delapan malam lalu sisanya waktu yang ada Hinata berkerja sebagai pelayan disebuah rumah makan mewah dan karena kecantikannya inilah Hinata diperkerjakan.
Jam murah yang saat ini melingkar dipergelangan tangan Hinata telah menunjukan pukul satu dini hari. Hinata mengganti seragam pelayan dengans seragam sekolah dan berpamitan pulang kepada pekerja yang lain.
Hinata menghela nafasnya panjang sambil menikmati belaian lembut angin malam yang menyentuh kulitnya dengan lembut. Tidak ada bintang-bintang yang menghiasi langit malam Konoha dan hanya ada kilau ratusan lampu yang menghiasi setiap gedung pencakar langit.
Dia tersenyum miris, hidupnya begitu menyedihkan. Ayahnya pergi meninggalkan dirinya dan juga ibunya yang sedang mengandung adiknya dan tak pernah kembali. Lalu tuhan memanggil ibunya saat adiknya baru bisa merangkak lalu adiknya meninggal beberapa bulan yang lalu akibat leukimia limpotik saat operasi tapi Hinata tidak menyerah untuk menyelamatkan adiknya saat itu meski dia berhutang dengan seorang rentenir. Hinata tidak menyesal karena telah sia-sia meminjam uang banyak dan berakhir dengan kematian adiknya.
Dan sekarang cerita hidup Hinata sedikit menyimpang karena pernikahannya dengan seorang pria tidak di kenal hanya karena harta, ya ampun pria tidak ada yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya, mereka semua brengsek termasuk ayahnya dan juga pria gila itu!
"Tadaima." ucap Hinata pelan saat membuka pintu apartementnya dan tidak ada jawaban dari dalam.
"Hinata, kau harus semangat karena kau harus maju, lupakan pria gila itu dan raih masa depan mu." Hinata menganggukkan kepalanya untuk memberi semangat pada dirinya sendiri.
.
.
Sementara itu disalah satu bandara internasional Konoha, Naruto baru saja keluar dari salah satu pesawat dengan seorang wanita bersurai ungu gelap. Naruto berstelan jas dan wanita itu mengenakan dress biru gelap berlengan panjang yang panjang hingga dengkul dan sepangang high heels hitam lima centi melekat dikakinya. Dan untuk rambut panjangnya dibiarkan tergerai. Dibelakang keduanya, seorang pria berjalan mengekor seraya menarik dua koper besar milik keduanya.
"Pesta yang cukup buruk." desis Naruto tajam. Wanita itu hanya meirik lewat ekor matanya.
"Ku harap kau tidak akan pernah lagi menanamkan saham mu diperusahaannya." ujarnya.
"Tanpa kau pinta, aku tidak kan melakukannya lagi." sahut Naruto.
"Oh ya Yugao, aku mau kau mencari data bocah kecil itu nanti."
"Hn."
"Selengkap mungkin dan akan aku tunggu dimeja kerja ku besok dan printahkan anak buah untuk menyeretnya kepadaku."
"Aku yang akan membawanya padamu."
"Bagus."
.
.
.
.
.
Mengawali pagi sebelum berangkat sekolah, Hinata terlebih dahulu mengantarkan koran kesetiap rumah sambil berlari dan setelah selesai barulah dia kembali keapartemen untuk mengambil gitar dan berangkat kesekolah dengan berlari tergesah-gesah.
.
.
"Ternyata dia pekerja keras." ucap Naruto membaca hasil laporan Yugao.
Hyuuga Hinata.
Nama itu tertera didalam laporan. Gadis itu masih diberusia tujuh belas tahun dan siapa yang mengira kalau dia berkerja di tujuh tempat berbeda selama satu minggu. Gila memang tapi itu adalah kehidupan Hinata. Senin sampai jum'at dia berkerja dari sepulang sekolah di tiga tempat yang berbeda lalu sabtu dan minggu dia berkeja di empat tempat yang berbeda pula dan khusus dihari sabtu dan minggu dia berkerja disebuah cafe sebagai penyanyi, tepat jam tujuh malam sampai sembilan malam.
"Culik dia saat pulang sekolah." titahnya dan melempar hasil laporan dari Yugao ketempat sampah.
"Ku pikir kau akan menceraikannya." sahut Yugao yang sejak tadi masih berdiri didepan meja kerja Naruto.
"Memang tapi tidak akan pernah aku lakukan jika itu Hinata. Aku suka saat menganggu kehidupannya." timpal Naruto dengan seringai yang cukup membuat Yugao tersenyum tipis.
"Aku akan jatuh cinta padanya jika kau terus menganggunya."
"Cinta hanya untuk orang-orang yang bodoh."
"Kita lihat saja nanti Naruto-sama." ucapnya dan berbalik untuk pergi meninggalkan ruang kerja Naruto dan mengerjakan tugasnya sebagai seketaris utama. Naruto memiliki dua seketaris, satu bernama Iruka yang selalu setia mengerjakan tugasnya dan terkadang dia juga yang mengatur semua jadwal Naruto sedangkan Yugao, dia jarang berkerja dan kalau'pun kerja dia hanya mengurus beberapa dokumen penting saja dan pergi keluar bersama Naruto jika ada rapat penting diluar kantor dan Iruka lebih sering menghabiskan waktu dikantor.
"Yugao." panggil Naruto.
"Hn." sahut Yugao seraya menahan tangannya untuk tidak menarik gagang pintu.
"Gunakan uangku untuk melunasi hutang bocah itu dan buat bukti kalau kau sudah membayarnya agar preman itu tidak menganggu Hinata lagi."
"Aku mengerti."
.
.
.
Hinata melambaikan kedua tangannya kearah kedua sahabat baiknya dan mereka berpisah didepan gerbang. Hinata tersenyum lebar dan membalikan tubuhnya kebelakang. Dia terkejut bukan main saat melihat seorang wanita berdiri didepannya dengan tampang dingin.
Dilihatnya penampilan wanita itu dari atas hingga bawah, wanita kantoran. pikir Hinata. "Permisi." ucapnya.
"Ayo ikut denganku, Naruto-sama ingin bertemu dengan mu." Hinata menatap wanita itu tidak percaya. "Khehehe... Kau pasti bercanda, aku tidak mengenal pria gila itu dan sekarang aku harus pergi karena aku tidak mau terlambat kerja." Yugao mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti, pria gila? Tidak ada didunia ini yang berani menyebut Naruto pria gila, lagi-lagi Yugao tersenyum tipis.
"Aku sudah memberhentikan mu dari semua tempat kau berkerja." Hinata membuka mulutnyaa lebar dan hendak menghardik Yugao tapi tertahan. "Jangan bercanda nyonya, memangnya kau tahu tempat aku berkerja hm?" Yugao menatap Hinata lama, nyonya? Dia belum menikah. Apa wajahnya mirip nyonya-nyonya?
"Cafe Q, mini market, rumah makan, kantor koran, toko buku, cafe di departemen store, cafe Flowers, rumah makan tradisional." Hinata menganga lebar. Wanita ini detektif atau apa? Kenapa dia bisa tahu? Kalau semua yang dia kataka benar maka Hinata saat ini pengangguran.
"Kau! Kau pikir kau siapa hah?!" terika Hinata kesal. Yugao diam saja dan tanpa basa-basi lagi dia membuka pintu mobilnya dan menyeret Hinata dengan paksa untuk masuk kedalam mobil.
"Lepaskan! Tolong!" terika Hinata keras tapi dia tidak memiliki kukuatan yang cukup untuk melawan dan akhirnya dia masuk dan pintu tertutup rapat dan tidak bisa dia buka.
Yugao masuk kedalam mobilnya dan mengendarainya secepat mungkin dan ini bertujuan agar Hinata tidak berteriak dan tidak coba-coba untuk keluar dari dalam mobil yang sedang berjalan. Lagi pula siapa yang berani keluar dari dalam mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi seperti mobil balap?
"Yak! Aku belum mau mati!" seru Hinata prustasi melihat Yugao yang tampak santai mengendarai mobilnya dan berhenti tepat didepan pintu masuk gedung NM Group dengan suara decitan ban mobil yang memekakkan telinga.
"Keluar." Yugao melepas sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil sedangkan Hinata masih berusaha untuk mengembalikan nyawanya yang tadi sempat melayang-layang.
Karena Hinata tak kunjung, Yugao membuka pintu untuk Hinata dan dilihatnya wajah Hinata yang pucat. "Kau sakit?"
"Aku tidak sakit tapi hanya merasa gila." jawab Hinata.
"Bagus." sahut Yugao. Hinata turun dari mobil dan Yugao langsung menutup pintu mobilnya.
"Kau masuklah kedalam terlebih dahulu, ruang kerja Naruto ada di lantai dua puluh lima setelah keluar dari dalam lif, jalan saja kearah kanan lalu belok kiri dan kau akan menemukan ruangannya yang bertuliskan president direktur. Kau bisa tuntut dia karena telah menyuruhku untuk memberhentikan mu dari tempat kau berkerja, dan kalau dia bertanya aku ada dimana, katakan aku sedang ada urusan sebentar." Hinata mengangguk patuh dan mulai berjalan memasuki gedung perkantoran NM Group sedangkan Yugao kembali masuk kedalam mobil.
Hinata melangkahkan kakinya memasuki loby dan semua mata karyawan yang berlalu lalu lalang langsung saja melihat kearahnya dan Hinata risih melihat tatapan mereka. Dipercepatnya langkah kaki dan masuk kedalam lift bersamaan dengan beberapa karyawan lainya.
Hinata menekan tombol menuju lantai dua puluh lima dan kebetulan beberapa karyawan juga menuju kelantai yang sama. "Apa yang dilakukan anak kecil ditempat ini hm? Ini bukan tempat pencarian penyanyi." desis seorang pria yang berdiri dibelakang Hinata.
"Diam kau!" seru Hinata dan memeluk gitarnya erat.
"Cih!" pria itu berdecih dan Hinata tidak peduli.
"Siapa yang kau cari nona?" tanya seorang wanita yang berdiri disamping Hinata.
"Bertemu pria gila." jawab Hinata sarkastik, wanita itu berdehem.
"Tidak ada pria gila disini." ujarnya.
"Ada." timpal Hinata.
"Hei bocah kau ini mau apa hah? Ini bukan tempat bermain." karyawan yang lain mulai ikut bersuara. Sudah cukup Hinata merasa ingin memukuli mereka semua tapi demi tuhan lift ini sudah terasa sesak dan ditambah mereka bersuara membuat kualitas udara menjadi lebih buruk saja.
"Diamlah kalian membuatku sesak bodoh!" umpat Hinata kesal dan semua karyawan itu terdiam mendengar pernyataan Hinata membuat mereka yang sedang stres semakin kalut.
"Berani-beraninya kau gadis kecil!" seru seorang pria dan hendak memukul kepala Hinata tapi pintu lift terbuka dengan cepat hingga Hinata keluar lebih dulu.
Semua karyawan keluar dan pergi berpencar dan ada beberapa juga yang mengekori Hinata termasuk pria yang hendak memukulnya.
Hinata melihat pintu besar bertuliskan president direktur dan langsung dekati pintu itu.
"Maaf nona anda tidak bisa masuk kedalam ruangan, Namikaze-sama sedang sibuk." ujar Iruka.
"Lalu apa urusannya denganku." timpal Hinata tak suka dan memegang gagang pintu.
"Iruka-san kami ingin menyerahkan laporan." lapor pria yang tadi ingin memukul Hinata mereka terdiri dari dua karyawan pria dan dua karyawan wanita.
"Silahkan." ujar Iruka. Pria itu menyeringai dan mengetuk pintu sebelum masuk.
"Anda tidak boleh masuk nona." titah Iruka.
"Kau siapa berani memerintahku?" ketus Hinata. Iruka memijit dahinya yang berkerut.
"No-" ucapannya terhenti saat pintu terbuka dan Hinata yang lebih dulu menerobos masuk.
"Dasar kau pria gila! Kau pikir kau siapa?! Hah!" bentak Hinata keras sambil menggebrak meja kerja Naruto. Lima karyawan Naruto masuk kedalam ruangan dan salah satu dari mereka menarik lengan Hinata.
"Lepaskan aku!" bentaknya keras.
"Lepaskan dia." ujar Naruto kemudian melepas kaca matanya.
"Tapi tuan dia su-"
"Diamlah kepalaku pusing." ujar Naruto tak suka dan kelimanya terdiam saat Naruto menatapnya tajam.
"Ada apa Hinata?" tanya Naruto dengan wajah tanpa dosa.
"Kau memberhentikan aku dari tempat aku kerja dan sekarang aku pengangguran! Kau pikir kau siapa? Aku kerja untuk hidup bukan mengemis! Aku harus mem-"
"Cukup." Hinata menggeram kesal melihat tingkah laku Naruto.
"Namikaze Hinata, kau tidak perlu lagi kerja sana-sini untuk hidup, kau cukup sekolah dengan tenang dan les untuk persiapan ujian kelulusan tanpa memikirkan uang karena kau istriku." katanya mutlak. Kelima karyawan Naruto menatap boss mereka tidak percaya, bocah kecil yang mereka bentak tadi istri Naruto? Bagus hidup mereka saat ini ada di ujung tanduk.
"Ku pikir kau sudah pergi dan membuangku setelah semua keinginan mu terwujud dan mencari wanita yang bisa mengangkang didepan mu setiap malam. Karena kau tidak akan pernah melakukannya." mendengar penuturan Hinata membuat karyawan Naruto terkejut bahkan wajah mereka merah sempurna. Gadis ini hanya luarnya saja terlihat anggun dan diam tapi mulutnya, ya ampun.
"Aku tidak suka wanita lain mengangkang untukku karena aku suka kau yang mengangkang untukku." Iruka menutup wajahnya dan hendak berjalan pergi tapi ditahan oleh keempat yang lain dan memberikan semua laporan mereka kepada Iruka.
"Jangan coba-coba kalian keluar dari dalam ruangan ini." ucap Naruto tajam. Kelimanya terdiam dan berhenti bersikap aneh.
"Cari saja wanita diluar sana bodoh! Dasar pedopil!" Naruto menyeringai senang. Oh dewa baru kali ini mereka berlima melihat seringai seksi seorang Namikaze Naruto yang begitu seksi dan menggoda karena biasanya wajah itu selalu terlihat dingin dan jarang tersenyum.
Seringainya saja seksi bagaimana kalau pria itu menarik mu keranjangnya? Waaaahh... Mereka para wanita mulai berpikir kotor kecuali Hinata.
"Aku senang menjadi pedopil kalau bocah kecilnya adalah kau." Hinata menggeram kesal.
"Sudahlah Hinata, aku tidak punya waktu berdebar dengan mu saat ini. Kalian serahkan laporan kalian." ujar Naruto yang mulai berubah menjadi serius.
"Mereka mengatai ku bocah, dan mengejekku karena ketempat yang salah kalau ingin menjadi penyanyi, dan dia juga mau memukul ku!" sembur Hinata sambil menunjukan salah satu karyawan pria dan menatap semuanya dengan benci. Sekarang dia terlihat seperti anak kecil yang sedang melapor pada ibunya karena dijahili.
Naruto menatap tajam semua karyawannya. Siapa yang berani menganggu Hinatanya hm?
"Aku tidak suka mereka." Hinata menggembungkan pipinya. Mereka berempat minus Iruka terlihat ketakutan.
"Iruka kembalilah ketempat mu." Iruka mengangguk mengerti. Naruto tahu sifat Iruka dan dia yakin Iruka tidak pernah mengatai orang bahkan sikapnya sangat sopan dan tidak pernah memandang orang rendah seperti dirinya. Kecuali empat karyawannya, dia tidak tahu sifat mereka tapi melihat dari bahasa tubuh mereka, mereka gelisah dan ketakutan.
"Jadi kenapa kau mau memukul istriku?" tanya Naruto dingin dan terdengar mengerikan.
Salah satu dari mereka maju kedepan. "Gomenasai Namikaze-sama!" pria itu membungkukkan badannya.
"Kalian berempat ku maafkan tapi jangan harap bulan ini kalian mendapat gaji." mereka menatap Naruto tidak percaya termasuk Hinata. Padahal Hinata berharap pria itu hanya memarahi mereka saja dan bukanya seperti ini.
"Lebih baik dari pada aku pecatkan?"
"Na-na-naruto ja-jangan seperti ini, a-aaku hanya i-ingin kau me-ma-marahi mereka saja bukan seperti ini." ucap Hinata merasa bersalah.
"Aku tidak peduli, siapapun yang menganggu apa yang sudah menjadi milikku akan aku musnahkan tapi kali ini aku ampuni. Sekarang kalian keluarlah dan kau Hinata tetap disini." timpalnya. Mereka'pun menaruh beberapa map diatas meja kerja Naruto dan langsung pamit undur diri tak lupa meminta maaf pada Hinata dan Hinata juga meminta maaf karena bulan ini mereka tidak mendapat gaji.
Yugao mengeriyit bingung melihat para karyawan yang keluar dari ruangan Naruto bertampang lesu dan menyesal lalu dia bertanya kepada mereka dan akhirnya dia tahu.
Yugao menghela nafas dan langsung masuk kedalam ruang kerja Naruto. "Naruto-sama, ini berkas bukti bahwa aku sudah melakukan pembayaran terhadap mereka dan ini berkas Hinata-sama, dia bisa les privat mulai besok." Naruto mengangguk mengerti dan Hinata menatap Yugao tajam.
"Semua hutang mu sudah aku lunasi Hinata dan besok kau bisa les, Yamato akan mengantar mu kemana saja yang kau mau dan aku juga sudah masukan uang saku kedalam rekening mu. Kau bisa menggunakannya sesuka hati mu. Dan aku tidak mau lihat kau berkerja paruh waktu lagi." ujar Naruto tanpa melihat kearah Hinata karena dia tahu gadis itu sedang menatapnya dengan tajam.
"Yugao, antar dia pulang."
"Ha'i Naruto-sama."
.
.
.
Hinata membuka pintu kamarnya dan melihat kamar barunya terlihat sangat rapi dan maskulin. Hinata menaruh tas dan juga gitarnya disamping meja belajar. Semua buku-buku Hinata terusun rapi disana, sepertinya Naruto sudah memindahkan beberapa barangnya kekamar ini dan mungkin sisanya sudah pria itu buang.
Di bukanya salah satu pintu lemari dan melihat pakaiannya tersusun rapi tapi hanya sedikit karena sisanya Hinata melihat banyak pakaian yang terlihat baru bahkan semua pakaian dalamnya juga baru, tunggu kenapa Naruto tahu ukuran dada dan...
"NARUTO! BAKA NO ERO!" teriak Hinata histeris.
.
.
.
.
.
Thanks to reviews
Fania HimeChan, diinda16, vi2NHL, Muham.96, Helena Yuki, Salsabillah 12, sukanyaanimesamakpop, anishl, vicagalli, Vonya Maria Issakson.
