Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Waktunya balas komen!
Lollytha-chan : Dengan senang hati. XD
Septi : Masalahnya mungkin apakah Shinichi mau membuka hatinya untuk Shiho dan apakah Shiho mau membuka hatinya untuk Shinichi. He he he. Memang di fesbuk namanya siapa? Sepertinya kemarin ada yang namanya Septi diantara orang-orang yang ku-tag? Itu kamu bukan?
Shu no Tsuki : Masih ingat. He he he. Silahkan kalau mau di-fave.
Shiho cute : Roger that!
Airin-san : Yah, semoga saja tidak ada kekerasan karena Ran bisa masuk penjara, XD. Jaman sekarang orang-orang sangat peduli pada HAM dan kekerasan itu melanggar HAM.
Gudeg jogja : Roger that!
shiho Nakahara : Emang sebelum suka ShinShi, suka apa?
Fujita-san : Hmm, siapa ya kira-kira yang dimaksud Shiho? Jawabannya ada di chapter ini. XD
Aiwha-san : Sepertinya Shiho nggak bakal nemu dan itu semua karena Shinichi. XD
Jessica-san : Di sini mereka berdua sudah kelas 4 SD, jadi berapakah umur mereka?
Infaramona : Yah, memang jahat tapi karena dalam pikiran Conan, cara itu yang paling efektif untuk melenyapkan Shinichi dari hati Ran, dia terpaksa melakukannya. XD
haibara is sherry : Salam kenal juga. Kalau butuh bantuan, bilang aja, oke?
Kongming-san : Kalau aku pakai nama itu, bisa-bisa aku didemo ormas-ormas Islam, XD. Dan rencana itu memang keji. Maklum, tokoh-tokoh laki-laki di DC sebagian besar keji-keji semua, terutama terhadap wanita, baik yang tokoh baik maupun yang tokoh jahat.
Yuzumi Haruka : Salam kenal juga. Senangnya bisa bertemu fans Ai yang lain. Kapan-kapan harus nulis fic juga di fandom DC biar tambah rame fandom DC-nya. XD
ArdhyaMouri : Kalau aku pribadi sih tidak percaya dengan angka keberuntungan atau yang semacam itu. He he he. Angka itu aku ambil dari 4869. Kalau 4 digit kan kepanjangan, jadi ambil tengahnya aja.
Rawr : Coba tebak siapa yang dipikirin Shiho! Tapi jawabannya sudah ada di chapter ini sih, jadi tinggal dicocokin aja. He he he.
steffany choi : Masuk komennya. Ya, nggak versi kecil terus sih. Mungkin sampai versi ABG. Kalau sampai chapter berapa, aku juga belum tahu. Kalau dandanan Shiho, kuserahkan sepenuhnya pada imajinasi pembaca deh. He he he.
Misyel-san : Kalau untuk penampilan Shiho, kuserahkan pada imajinasi pembaca dengan petunjuk Shiho kelihatan cantik. He he he.
moist fla : Nggak bakalan bosen deh. Kalau ada yang mau komen aja, penulis fanfic manapun pasti seneng. XD
Nachie-chan : Kalau menurutku Ran dan Shiho damai-damai saja, tapi menurutku mereka nggak bisa deket karena selain kepribadian mereka yang berbeda jauh, faktor Shinichi dan kemiripan Ran dengan Akemi juga bermain di situ. XD
Lan-san : Nggak apa dan semoga saja mulai sekarang kamu mau rajin komen. He he he. Sepertinya Shinichi nggak akan pernah sadar pada perasaan Shiho sampai Shiho sendiri bilang kalau dia suka sama Shinichi soalnya Shinichi juga nggak pernah sadar kalau Ran suka sama dia sampai Ran bilang sama Conan kalau dia suka sama Shinichi. Ai memang tokoh favoritku makanya aku suka menulis fanfic tentang dia. XD
Mugi-pyon : Yah, karena aku adalah shoujo jadi wajar kalau tulisanku terasa seperti cerita shoujo manga. He he he. Kalau menurutku, satu cowok yang suka tapi nggak sadar (Heiji), satu cowok yang ingin membuat wanita yang dicintainya bahagia (Shuichi) dan satu cowok yang egois (Shinichi) di JBT sudah cukup unik. Tapi yah, setiap orang punya pendapat yang berbeda, dan sudah jelas aku yang menulis cerita itu, jadi aku pasti bilang cerita yang aku tulis itu bagus. He he he. Kalau tentang AiCon dan ShinShi, aku tidak melihat perbedaan antara Shinichi dan Conan atau Shiho dan Ai selain dari segi fisik karena mereka memang orang yang sama. Lagipula aku percaya bahwa Conan akan mengalahkan Organisasi Hitam dan Ai akan menemukan penawar sehingga mereka berdua bisa kembali seperti semula jadi aku lebih suka menulis tentang ShinShi daripada AiCon. Kalau tentang manis dan cantik, menurutku Shiho versi kecil (Ai) itu manis dan Shiho versi sebenarnya itu cantik. Tapi kamu tidak perlu khawatir kalau Shiho nanti bakalan membosankan karena kepribadiannya yang 'manis' itu pasti tidak akan membuat siapapun bosan. XD.
Shin Yi : Lho, siapa bilang Shinichi milih Ai? He he he.
Waktunya curcol!
Chapter ini, sesuai judulnya, berisi tentang penyelesaian rencana Shinichi dan sedikit cerita saat Shinichi dan Shiho pulang dari pesta serta cerita tentang Conan dan Ai saat mereka pulang ke rumahnya masing-masing.
Selamat membaca dan berkomentar!
Tanpa Batas
By Enji86
Chapter 2 – Penyelesaian Rencana
Selama pesta berlangsung, Ran menatap pasangan yang sedang melihat ke luar jendela kantor detektif itu dengan tatapan membunuh. Pesta ulang tahunnya memang diadakan di kantor detektif karena dia hanya mengundang teman-teman yang dikenalnya dengan baik. Dia melihat salah satu lengan Shinichi melingkar di pinggang Shiho dengan santai sehingga dia ingin mematahkan lengan Shinichi itu. Dan hal yang paling membuatnya tidak tahan adalah ketika dia melihat Shinichi mencium pipi Shiho lalu Shiho akan mengelus pipi Shinichi sebentar dengan wajah memerah. Itu juga membuatnya ingin mematahkan tangan Shiho karena Shiho menyentuh Shinichi-nya dengan seenaknya.
Sonoko dan Kazuha pun juga merasa marah pada pasangan yang kelihatan sangat mesra itu, walaupun rasa khawatir mereka terhadap Ran lebih besar. Sejak Shinichi memperkenalkan Shiho sebagai kekasihnya, mereka selalu berada di samping Ran. Mereka berdua juga harus menenangkan Eri yang sudah akan meledak pada Shinichi.
Heiji yang tidak tahu apa-apa tentang rencana Shinichi sedang mengalami konflik dalam dirinya. Dia ingin sekali menarik Shinichi dan menginterogasinya, tapi dia tidak berani karena kekasih palsu Shinichi itu selalu menatapnya dengan tajam setiap dia mencoba mendekat ke Shinichi. Dia bertanya-tanya darimana Shinichi mendapatkan wanita cantik yang mau berpura-pura jadi kekasihnya itu karena sepertinya wanita cantik itu juga tahu kondisi Shinichi. Dia memang bisa menduga rencana Shinichi dan menurutnya ini tidak benar. Apalagi melihat Ran yang begitu terluka, itu membuatnya tidak tega. Meskipun begitu dia juga tidak ingin menghancurkan rencana Shinichi, karena itu dia memilih berdiri di samping Kazuha dan hanya diam saja. Namun ada satu hal yang membuatnya takjub, yaitu Shinichi dan Shiho berakting dengan sangat baik sebagai pasangan kekasih sehingga mereka benar-benar terlihat seperti pasangan kekasih meskipun dia tahu kalau mereka bukan pasangan kekasih.
Shinichi sendiri juga terkejut karena dia bisa berakting dengan sangat baik meskipun hatinya sedang dilanda badai. Mungkin karena dia melihat akting Shiho yang sangat menjiwai. Pipi Shiho bahkan menjadi merah saat dia mencium pipi Shiho sehingga membuatnya sangat kagum dengan bakat akting yang dimiliki Shiho. Shiho benar-benar menjiwai perannya sebagai kekasihnya, begitulah pikirnya. Tentu saja dia tidak pernah menduga bahwa pipi Shiho memerah bukan karena akting.
Shiho sendiri pun juga bertanya-tanya kenapa pipinya memerah dan jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya saat Shinichi mencium pipinya. Dia memang pernah menyukai Shinichi, tapi itu sudah lama berlalu dan sekarang dia menyukai orang lain. Ini membuatnya sangat bingung tapi dia segera menyingkirkan kebingungan tersebut dari kepalanya dan berkonsentrasi pada perannya malam ini.
Tanpa terasa pesta ulang tahun Ran pun sudah selesai dan para tamu juga sudah pulang kecuali Sonoko, Heiji dan Kazuha, tapi Shinichi dan Shiho masih sibuk dengan akting mereka yang sebenarnya sudah tidak seperti akting lagi. Mereka dari tadi membicarakan topik yang paling menyenangkan bagi mereka untuk dibicarakan, yaitu tentang bagaimana perjalanan Jepang menjadi runner up Piala Dunia tahun ini. Dan yang paling membuat mereka bersemangat adalah bagaimana Jepang mengalahkan Brazil di semifinal. Mereka baru berhenti bicara sampai tiga orang wanita yang dari tadi mengamati mereka berdehem untuk kelima kalinya. Mereka pun berbalik untuk menatap ketiga orang wanita yang tampak marah dan geram itu.
"Hei Kudo, apa maksud semua ini? Apa maksudmu dengan membawa wanita ini kemari?" tanya Sonoko sambil memegang kerah baju Shinichi.
Shiho pun kembali ke mode aktingnya sebagai kekasih Shinichi dan dengan santai melepaskan tangan Sonoko dari kerah baju Shinichi dan menggamit lengan Shinichi.
"Maaf, tapi kau tidak boleh memperlakukan kekasihku seperti itu," ucap Shiho sambil tersenyum sehingga Sonoko menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
"Kau...," ucap Sonoko.
Shiho kemudian mengalihkan perhatiannya ke Shinichi.
"Sayang, sepertinya pestanya sudah selesai, apa tidak lebih baik kalau kita pamit sekarang?" tanya Shiho.
"Baiklah, Sayang," jawab Shinichi yang juga kembali ke mode aktingnya.
"Tunggu sebentar," ucap Ran sehingga Shinichi dan Shiho menoleh kepadanya.
"Shinichi, bisa kita bicara empat mata?" tanya Ran.
XXX
Shiho benar-benar tidak sabar. Shinichi sudah terlalu lama berduaan dengan Ran di dalam sehingga dia khawatir Shinichi akan kehilangan kemantapan hatinya untuk mengakhiri hubungannya dengan Ran. Dan dia tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, bukan karena cemburu, melainkan karena Shinichi sudah berusaha keras selama rencana ini berlangsung dan dia pun juga tidak ingin melihat Ran menangis terus karena merindukan Shinichi. Dia pun bergerak mendekati pintu yang menuju ruang kantor detektif tapi Sonoko dan Kazuha langsung menghalanginya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Sonoko.
"Aku agak cemas karena Shinichi-kun sudah terlalu lama berduaan dengan Mouri-san di dalam, jadi aku ingin melihatnya," jawab Shiho sehingga Sonoko tertawa sinis padanya.
"Kau tahu, mungkin saja Shinichi-kun itu sebenarnya mencintai wanita yang sedang bersamanya di dalam, bukannya mencintaimu," ucap Sonoko dengan sinis tapi Shiho hanya tersenyum.
"Tentu saja tidak. Aku tahu dia mencintaiku dan aku juga mencintainya. Dan karena aku mencintainya, aku tidak suka dia berduaan terlalu lama dengan wanita lain, jadi bisakah kalian minggir agar aku bisa melihatnya?" ucap Shiho.
"Tidak, kami tidak akan membiarkanmu," ucap Kazuha.
"Kubilang minggir," ucap Shiho dengan dingin sehingga Sonoko dan Kazuha tiba-tiba merasa bulu kuduk mereka meremang. Mereka pun tidak bisa menahan tubuh mereka untuk minggir sehingga Shiho bisa membuka pintu menuju ruangan kantor detektif. Heiji yang dari tadi hanya berdiri diam hanya memandang kejadian di depannya dengan takjub.
Ketika pintu itu terbuka, Shiho langsung disuguhi pemandangan Ran yang memeluk Shinichi dengan erat sambil berlinang air mata. Dari ekspresi wajah Shinichi, Shiho bisa tahu kalau Shinichi sudah hampir kalah sehingga dia pun langsung membuka mulutnya.
"Sayang, apa kau sudah selesai?" tanya Shiho datar.
Shinichi pun langsung menoleh dan begitu dia melihat Shiho, kekuatannya pun kembali dan dia segera melepaskan diri dari Ran yang berdiri terpaku setelah mendengar suara Shiho.
"Sh-Shiho... a-aku...," ucap Shinichi terbata-bata karena melihat kemarahan di mata Shiho. Dia seolah-olah bisa mendengar Shiho mengomel padanya tentang dia yang mencoba mementahkan semua jerih payah mereka malam ini.
"Kalau kau sudah selesai, lebih baik kita kembali ke hotel," ucap Shiho.
"Baiklah," sahut Shinichi. Namun Ran memegang lengannya saat dia sudah akan melangkah dan menatapnya dengan berlinang air mata.
"Shinichi...," ucap Ran.
Shinichi dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit di hatinya melihat Ran yang seperti itu dan melepaskan tangan Ran dari lengannya.
"Maaf Ran. Aku harus pergi. Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi... jadi... selamat tinggal," ucap Shinichi lalu dia melangkah menghampiri Shiho dan menggenggam tangan Shiho kemudian pergi dari situ, sementara Ran jatuh berlutut sambil menangis.
XXX
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Shiho saat dia dan Shinichi sudah duduk selama kurang lebih satu jam dalam keheningan di salah satu kursi taman yang ada di dekat hotel yang mereka tempati.
"Aku pikir begitu," jawab Shinichi.
"Kalau begitu, lebih baik kita kembali ke hotel sekarang," ucap Shiho sambil beranjak dari kursi yang dia duduki bersama Shinichi tapi Shinichi segera menahannya.
Shinichi kemudian melingkarkan lengannya di bahu Shiho untuk memeluk Shiho.
"Kudo-kun," ucap Shiho dengan bingung.
"Sepuluh menit saja," ucap Shinichi.
Shiho pun meletakkan tangannya di pinggang Shinichi dan duduk diam dalam pelukan Shinichi.
XXX
Shinichi meraih selembar kertas tisu untuk menghapus air matanya sementara Shiho juga menangis di sebelahnya. Mereka berdua sedang menonton drama Korea super sedih di kamar hotel Shiho. Shiho memang mengajak Shinichi menonton drama Korea yang disewanya karena dia tidak mau membiarkan Shinichi sendirian saat Shinichi baru saja mengalami patah hati.
Pada awalnya, Shinichi menatap Shiho dengan aneh karena Shiho mengajaknya menonton drama Korea dan sebenarnya dia ingin menolak karena dia merasa sedang ingin sendirian setelah kejadian malam ini. Tapi ketika mata setan Shiho mulai beraksi, dia tidak bisa menolak. Dalam hati Shinichi menggerutu karena Shiho begitu tidak pengertian pada perasaannya. Dia pun terus melontarkan komentar-komentar sinis di episode-episode awal, tapi kemudian setelah menonton selama beberapa lama, dia jadi terhanyut dengan jalan cerita drama Korea tersebut dan sekarang dia sibuk menangis bersama Shiho. Dia tidak menyadari bahwa beban berat di hatinya perlahan-lahan mulai lenyap seiring dengan air mata yang dia keluarkan.
"Wah, drama Korea barusan benar-benar sedih. Tapi untunglah akhirnya laki-laki malang itu bisa mendapatkan kebahagiaannya dengan wanita yang satunya," batin Shinichi sambil tersenyum saat dia sudah selesai menyaksikan episode terakhir drama Korea itu.
Shinichi kemudian menoleh ke Shiho dan bersiap untuk membicarakan film yang baru ditontonnya dengan Shiho itu namun ternyata Shiho sudah tertidur di bahunya.
"Wah, sejak kapan dia ketiduran? Jangan-jangan dia tidak menonton episode terakhirnya," pikir Shinichi sambil mengamati wajah Shiho yang agak sembab karena menangis.
Tiba-tiba Shinichi tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh wajah Shiho sehingga dia mengulurkan tangannya dan membelai pipi Shiho. Dan sebelum dia menyadari apa yang dia lakukan, dia sudah menyentuh bibir Shiho dengan bibirnya.
"Terima kasih untuk malam ini, Haibara," bisik Shinichi dengan rona merah tipis di pipinya setelah dia mencium bibir Shiho yang tertidur.
Shinichi kemudian menggendong Shiho ke tempat tidur dan menyelimuti Shiho lalu kembali ke sofa untuk tidur karena dia malas kembali ke kamarnya. Dia berbaring kemudian menyentuh bibirnya.
"Setidaknya Shinichi Kudo sudah mendapatkan ciuman pertamanya sebelum dia lenyap untuk selama-lamanya," ucap Shinichi dalam hati sambil tersenyum kemudian dia menutup matanya.
XXX
"Aku pulang," ucap Conan dengan suara agak keras saat dia masuk ke rumah Kogoro yang berada di lantai tiga kantor detektif.
Ran yang sedang menangis di kamarnya langsung berhenti menangis dan menghapus air matanya lalu keluar kamar untuk menyambut Conan.
"Selamat datang, Conan-kun," ucap Ran sambil tersenyum.
"Ran-neechan, apa kau habis menangis?" tanya Conan.
"Ah, tidak kok. Bagaimana liburanmu? Apa menyenangkan? Oh ya, orang tuamu dimana? Kenapa kau kembali sendiri?" jawab Ran sambil bertanya dengan maraton.
"Mmm. Ibuku bilang mereka tidak bisa mampir karena harus mengejar pesawat jadi ibuku minta maaf dan hanya menitipkan salam untuk Paman Kogoro dan Ran-neechan," jawab Conan.
"Begitu ya? Baiklah. Kau pasti capek, jadi lebih baik kau istirahat di kamar, oke?" ucap Ran sambil tersenyum kemudian dia berbalik untuk kembali ke kamarnya. Namun langkahnya terhenti karena Conan kembali membuka mulutnya.
"Ran-neechan, kumohon jangan menangis lagi. Aku tidak suka melihat Ran-neechan menangis. Kalau perlu aku akan melakukan apa saja agar Ran-neechan tidak sedih lagi," ucap Conan sambil menundukkan kepalanya.
Ran membalikkan tubuhnya kembali untuk menatap Conan dan air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Dia pun berlutut di depan Conan lalu memeluk Conan sehingga wajah Conan memerah seperti biasanya.
"Maafkan aku, Conan-kun. Tapi ini sangat berat. Ini sangat berat," ucap Ran. Dan dia terus menangis terisak-isak sambil memeluk Conan sementara Conan hanya bisa diam karena semua ini adalah salahnya.
Setelah Ran merasa puas, dia melepaskan pelukannya pada Conan lalu menatap Conan dalam-dalam.
"Hei Conan-kun, jangan tinggalkan aku sendiri, ya? Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku seperti Shinichi. Kau mau kan?" tanya Ran.
Conan terdiam sejenak tapi kemudian dia tersenyum.
"Mmm, aku janji aku tidak akan meninggalkan Ran-neechan seperti Shinichi-niichan," jawab Conan sehingga Ran pun tersenyum.
Conan yang melihat senyuman Ran pun merasa sedikit lega karena dia tahu senyuman Ran kali ini bukan senyuman palsu. Dia pun berjanji akan menjadi Conan, adik laki-laki kesayangan Ran, dengan sebaik-baiknya.
"Terima kasih, Conan-kun. Sekarang istirahatlah. Ini sudah malam. Lagipula besok kau sudah masuk sekolah kan?" ucap Ran.
"Baiklah. Selamat tidur, Ran-neechan," ucap Conan.
"Selamat tidur, Conan-kun," ucap Ran.
XXX
"Jadi mana oleh-oleh untukku?" tanya Subaru yang datang berkunjung ke rumah Profesor Agasa saat dia tahu kalau Ai sudah pulang.
"Tidak ada," jawab Ai.
"Tidak ada? Kau pergi keluar negeri dan kau tidak membawakanku oleh-oleh?" tanya Subaru sambil mengerutkan keningnya.
"Iya, aku pergi keluar negeri dan aku tidak membawakanmu oleh-oleh," jawab Ai datar sehingga Subaru pura-pura kesal.
"Lihat ini, Profesor, Ai-chan pergi keluar negeri dan dia tidak membawakanku oleh-oleh. Dia sangat pelit," ucap Subaru pada Profesor Agasa yang sedang surfing di internet sehingga Profesor Agasa menoleh padanya dan Ai yang duduk di sofa.
"Yah, sebenarnya Ai-kun juga tidak membawakan oleh-oleh untukku jadi kau tidak perlu terlalu kecewa, Subaru-kun," ucap Profesor Agasa sambil tertawa kecil.
"Benarkah? Hmm, ternyata Ai-chan benar-benar pelit ya," ucap Subaru sambil nyengir.
"Tutup mulutmu," ucap Ai dengan kesal. "Aku hanya tidak punya cukup waktu untuk membeli oleh-oleh," lanjutnya sambil menggerutu dalam hati karena sebenarnya dia tidak benar-benar pergi keluar negeri dan dia benar-benar lupa tentang oleh-oleh karena pikirannya hanya dipenuhi oleh Shinichi selama dia pergi. Lalu dia beranjak dari sofa untuk pergi ke kamarnya tapi Subaru langsung menahannya. Sementara itu Profesor Agasa sudah kembali mengalihkan perhatiannya ke layar komputer di depannya.
"Kalau begitu kau harus menggantinya," ucap Subaru.
"Huh? Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Ai sambil menatap Subaru dengan alis terangkat.
Subaru tersenyum kemudian dia membawa Ai ke pangkuannya dan memeluk Ai, membenamkan wajah Ai di dadanya, sehingga pipi Ai langsung memerah dan jantung Ai berdetak sangat cepat. Namun Ai segera mengendalikan dirinya dan meronta.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" seru Ai.
"Aku sangat rindu pada Ai-chan," ucap Subaru sambil memeluk Ai dengan erat. Sebenarnya dia sangat khawatir ketika dia tahu Ai pergi bersama Conan karena Conan tidak mengatakan apapun padanya tentang kepergian Ai selama beberapa hari. Dia pun merasa sangat lega ketika Ai sudah pulang dan dia pun segera berkunjung ke rumah Profesor Agasa.
Ai pun tidak bisa menahan senyum terbentuk di bibirnya dan dia berhenti meronta sehingga Subaru tersenyum.
"Apa kau rindu padaku?" tanya Subaru.
"Tidak. Aku sama sekali tidak rindu padamu," jawab Ai dengan angkuh sehingga Subaru tertawa kecil.
"Ai-chan, kenapa kau bisa begitu lucu?" ucap Subaru sambil mengacak-acak rambut Ai sehingga Ai langsung mendongak dan menatap Subaru dengan tatapan membunuh. Subaru pun langsung merapikan kembali rambut Ai sambil tersenyum gugup. Dalam kamus Ai, menyukai seseorang bukan berarti mengijinkan seseorang itu berbuat seenaknya padanya.
"Nah, Ai-chan, karena ini sudah malam, lebih baik sekarang kau tidur. Besok kau sudah mulai masuk sekolah lagi kan?" ucap Subaru sambil melepaskan pelukannya lalu dia menurunkan Ai dari pangkuannya.
"Baiklah. Selamat malam," ucap Ai lalu dia menoleh ke Profesor Agasa. "Selamat malam, Profesor," ucapnya dan tanpa menunggu balasan, dia bergegas ke kamarnya. Dia serasa ingin meledak karena dia baru saja dipeluk oleh laki-laki yang disukainya.
Subaru terus menatap punggung Ai sampai Ai hilang dari pandangannya dan begitu Ai hilang dari pandangannya, dia menyadari bahwa Profesor Agasa sedang menatapnya dengan alis terangkat.
"Ada apa, Profesor?" tanya Subaru.
"Yah, aku hanya sedang bertanya-tanya, apa kau, entah bagaimana, menyukai Ai-kun?" jawab Profesor Agasa sambil balik bertanya.
"Huh?" ucap Subaru dengan terkejut.
"Ah, lupakan saja pertanyaanku barusan," ucap Profesor Agasa dengan cepat ketika dia melihat Subaru yang terkejut. Dalam hati dia mengomeli dirinya sendiri yang menanyakan pertanyaan seperti itu. Itu terdengar seperti dia menuduh Subaru sebagai seorang lolicon, karena di mata Subaru, Ai hanyalah anak kelas 4 SD, walaupun sebenarnya Ai sudah berusia 21 tahun. Tapi dia tidak bisa menahan dirinya ketika dia melihat ekspresi wajah Subaru ketika memeluk Ai barusan.
"Ah, tidak apa-apa. Tentu saja aku sangat menyukai dan menyayangi Ai-chan. Dia sudah seperti adikku sendiri," ucap Subaru sambil tersenyum setelah dia sadar dari rasa terkejut akibat pertanyaan Profesor Agasa.
"Oh begitu ya? Aku sangat berterima kasih karena kau mau memperhatikan dan menyayangi Ai-kun," ucap Profesor Agasa sambil tersenyum lega.
"Tidak perlu, Profesor. Akulah yang harus berterima kasih karena Profesor dan Ai-chan selalu memperlakukanku seperti keluarga dan memperhatikanku," ucap Subaru.
"Kau tidak perlu sungkan, Subaru-kun," ucap Profesor Agasa sambil tertawa.
"Kalau begitu aku pulang dulu, Profesor, karena ini sudah malam," ucap Subaru sambil bangkit dari sofa.
"Baiklah," sahut Profesor Agasa.
"Selamat malam, Profesor," ucap Subaru.
"Selamat malam," sahut Profesor Agasa.
Sesampainya di depan pagar rumah keluarga Kudo yang sekarang ditempatinya ini, Subaru terdiam sejenak dan merenung.
"Ada apa sebenarnya dengan Profesor Agasa? Kenapa dia bertanya seperti itu? Tentu saja aku tidak menyukai Ai-chan seperti yang dia maksudkan. Aku kan laki-laki normal. Ai-chan hanyalah anak SD. Yah, memang sebenarnya Ai-chan bukan benar-benar anak SD. Tapi sekarang Ai-chan adalah anak SD, anak SD yang super manis seperti boneka. Hanya itu," pikir Subaru lalu dia membuka pintu pagar dan masuk ke dalam. Dia tidak tahu bahwa yang menganggap Ai 'super manis seperti boneka' saat itu hanya dirinya.
Bersambung...
