a.n: Wow guys, terimakasih. Respon kalian sangat berharga untukku. Big thanks for my reviewer and my reader. Ch 2 here, hope u like it ^^
.
.
"Ada apa?"
"Sasuke, hidupmu sepertinya monoton ya, tak bisakah kau basa-basi mengucapkan 'hallo? Itachi-nii? Apa kabar?–"
"Langsung saja Aniki. Ada hal penting apa sampai meneleponku di pagi buta ini?" Sasuke kembali menguap, melihat jam yang menunjukkan pukul 8 pagi. Sebenarnya tak bisa dikatakan pagi buta sih, namun dia masih sangat mengantuk karena kemarin terjaga semalaman, jadi siapa tau kakaknya akan merasa bersalah karena menghubunginya di jam segini dan menutup kembali teleponnya.
"Mau sampai kapan kau bermain-main di New York?"
"Kenapa kau terdengar seperti seorang istri yang merindukan suaminya?" Sasuke kembali memejamkan matanya dan menyeringai.
"Kaa-san sakit."
Mendengar Ibunya sakit, Sasuke langsung membuka kedua matanya. Kantuknya mendadak hilang, tergantikan oleh rasa cemas yang merambat di sekujur tubuhnya. Sasuke mendudukkan diri di atas kasurnya "Kau serius?"
Terdengar helaan napas di seberang sana. "Aku belum pernah seserius ini. Ibu selalu menginginkan kepulanganmu. Makanya dia jatuh sakit."
"Oke. Aku akan tiba di Tokyo secepatnya."
Sasuke sangat menyayangi keluarganya. Ia menganggap keluarga itu penting, bagai rumah tempatnya dia selalu berbuat ulah, pemalas, jarang patuh kepada orang tua dan kakaknya, tapi jika keluarganya membutuhkan dia, dia akan selalu ada. Seperti sekarang, secinta apa pun Sasuke terhadap kota ini, tapi jika ibunya sedang membutuhkannya, ia akan pulang. Meski Sasuke belum siap untuk pulang dan menghadapi masa lalunya.
Dua tahun berlalu semenjak hari itu, namun sampai detik ini dia tak pernah bisa melupakan Hinata. Sudah dipastikan ia tak mau lagi merasakan bagaimana rasanya cinta, karena pada akhirnya ia akan ditinggalkan. Putusnya hubungannya dengan Hinata meninggalkan bekas pada hatinya. Wanita itu bagaikan trauma tersendiri baginya.
.
.
.
Naruto – Masashi Kishimoto
Same Circle (Story) – Dmalf79
WARNING: SasuHina ^^, OOC, AU, Typo(s), DLDR ^w^
.
.
.
Sasuke tiba di bandara Tokyo pukul 9 pagi. Ia sudah meminta Itachi untuk menjemputnya di bandara. Sasuke tak pernah menyukai penerbangan yang memakan waktu lebih dari sepuluh jam karena sensasi jet lag-nya sangat menyebalkan.
"Hoi Teme! Disini!" Naruto melambai-lambaikan tangannya. Merasa terpanggil, Sasuke melangkahkan kakinya menuju sumber suara.
"Mengapa kau disini?" Sasuke membuka kacamata hitam yang membingkai wajahnya.
"Kakakmu berhalangan datang. Ayo cepat, aku disuruh mengantarmu pulang. Tck dasar anak manja!" Apa? Mengapa dari sekian banyak suruhan Itachi, si Dobe sialan ini yang dimintanya menjemput Sasuke?! Hah, sudahlah. Ia sangat lelah untuk berdebat dengan Naruto.
Ngomong-ngomong, pria disampingnya ini adalah sahabatnya sejak lahir. Ayah Naruto bekerja di Uchiha Corp sebagai internal Auditor. Setelah lulus SMA, Naruto memilih untuk berkuliah di Universitas Sunagakure yang ada di daerah Kyoto. Dan ketika pendidikannya selesai, ia bekerja di Uchiha Corp juga sebagai Manajer Produksi.
-o0o-
Kediaman Uchiha adalah salah satu bangunan di Tokyo yang masih mempertahankan ciri khas rumah tradisionalnya. Rumah ini sering dijadikan tempat kerabat-kerabat Uchiha merayakan sesuatu atau sekedar berkumpul. Dulu rumah ini didiami oleh mendiang Madara Uchiha, kakek buyutnya. Kini rumah dengan arsitektur dan interior bergaya Shinden-zukuri ini didiami oleh keluarga Fugaku Uchiha sebagai anak pertama dan pemilik sah dari keturunan Madara.
"Ah, Sasuke-kun! Mengapa tak mengabari ibu kalau kau pulang hari ini?" Mikoto kegirangan melihat anak bungsunya pulang. Ia memeluk erat Sasuke di pintu masuk. Sasuke mengerutkan keningnya. Ia heran, bukankah ibunya sakit? Tapi mengapa ... oh Itachi sialan!
Tak lama kemudian, si biang keladi datang menampilkan cengiran tak berdosanya. Sasuke sudah akan mengumpat, namun Itachi dengan serius berujar. "Ayah sudah menunggumu." Sasuke tercekat, mengapa langsung ingin bertemu sih? Apa ayahnya tak berpikir kalau Sasuke masih lelah? Ia menelan ludah. Sepertinya sesuatu yang buruk akan menghampirinya.
Ruang tamu kediaman Uchiha sangat sejuk di pagi yang cerah. Bunga-bunga di halaman rumah bermekaran di musim semi menjadi pemandangan yang indah melatar belakangi ruang tamu yang terbuka. Jujur saja, salah satu yang dirindukan Sasuke dari rumahnya adalah suasana ini, namun jadi tak berarti jika ia harus menghadapi ayahnya sekarang.
"Otou-sama." Fugaku melihat Sasuke membungkuk hormat padanya kemudian duduk di depannya dengan menunduk, tak berani melihat ayahnya. 'Sopan sekali dia, lihat saja ... aku tak akan tertipu lagi bocah tengik!' Begitu pikirnya.
"Dua tahun. Sudah puas bermain disana?"
"..."
"Kalau belum sih ya silahkan saja, aku tak akan melarangmu kalau bocah seperti kau ngacir lagi kesana."
"..."
Fugaku mendecak sebal. Jika keadaan seperti ini anak bungsunya sangat jago berakting. Bertingkah penurut bak anjing yang tak banyak omong, namun ketika banyak maunya dia sangat jenius, pintar mengambil kesempatan bahkan sampai bisa memanipulasi ayahnya.
Ia sangat ingat dua tahun lalu Sasuke merengek ingin tinggal di New York. Tentu saja Fugaku menolak mentah-mentah keinginannya. Seharusnya Sasuke langsung menjadi Wakil Direktur Utama mengganti Itachi yang naik sebagai CEO menggantikan dirinya. Wajah bocah banyak tingkah ini licik sekali saat mengajukan kesepakatan padanya, "Aku sudah menduga Tou-san akan menolak penawaran menarik ini. Begini saja, Tou-san beri aku sebuah proyek. Jika aku bisa merampungkannya dalam waktu satu bulan, Tou-san harus mengizinkanku tinggal di New York sementara waktu, tapi jika tidak, aku tak akan membantahmu lagi. Bagaimana? Itu sih kalau Tou-san mau."
Saat itu Fugaku termakan perkataan anaknya sehingga mengiyakan taruhan itu dan memberikan proyek dengan syarat yang sulit. Namun, ia tak menyangka ternyata dirinya kalah telak. Sasuke sukses merampungkan proyeknya, dan mau tak mau Fugaku harus mengabulkan permintaan konyol anaknya. Sejak saat itu, Fugaku menyadari kemampuan Sasuke sebanding dengan Itachi, hanya saja Itachi memiliki pribadi yang lebih matang dan Sasuke terlalu banyak tingkah.
Tapi kali ini Fugaku tak akan masuk kedalam lubang yang sama. "Sasuke, sudah saatnya kau dididik. Kau tak bisa terus main-main seperti ini. Umurmu sudah 25 tahun. Sebentar lagi kau harus jadi ayah sepertiku, seperti Itachi. Kau butuh pribadi yang matang untuk menghadapi masa depanmu." Fugaku menatap lurus anaknya, pertanda dia serius. "Aku sebagai anggota Dewan Komisaris menerimamu di Uchiha Corporation di bagian promosi."
"Apa?! Tunggu, Otou-san apa hubungannya 'menjadi matang' dengan pekerjaan di bagian promosi?" Sasuke membelalakkan matanya, langsung tak setuju dengan keputusan ayahnya. Terlihat sekali ia tak menyukai ini.
"Kau harus punya semangat kerja yang tinggi, jadi kau harus mulai dari bawah agar mendapatkannya."
"Aku sih oke-oke saja jika ayah menempatkanku di bagian pembukuan atau pengiriman atau internal auditor saja sekalian seperti paman Minato," Apa? Internal auditor? Anaknya ngawur. Fugaku mulai malas mendengar ocehannya. "Tapi, bagian promosi? Terdengar sangat melelahkan bagiku."
"Tak ada penolakan lagi. Kau sudah bisa bekerja besok."
-o0o-
Sudah satu minggu sejak dirinya bertugas di bagian promosi. Persetan dengan yang ayahnya bilang semangat kerja. Yang dinamakan semangat kerja itu membutuhkan sebuah motivasi bukan pekerjaan yang menumpuk. Apa ayahnya berniat membunuhnya? Jika seperti ini terus bisa-bisa dia mati kelelahan.
Hari ini Sasuke memutuskan mengunjungi kantor Naruto. Meskipun nantinya hanya adu jotos yang didapat, Sasuke tak peduli. Dia butuh refreshing, se-ge-ra!
Sasuke membuka pintu dan langsung mondar mandir menyemburkan semua yang ada dipikirannya. "Kuso! Lama-lama para wanita di bagian promosi semakin menunjukkan taringnya, Dobe! Kau tau? Tadi saja sudah ada tiga wanita yang sengaja membuka dua kancing bajunya di depanku! Aku sih mau saja jika diluar jam kerja, tapi disaat pekerjaanku menumpuk? Yang ada bukan gairah tapi rasa muak! Errgh, bila begini terus aku tak akan bisa fokus bekerja!" Naruto yang mendengarnya langsung berdecak sebal dan terkekeh. Melihat sahabatnya frustasi begini merupakan suatu hiburan tersendiri baginya.
"sebelum masuk ketuk pintu dulu baka." Wajar saja jika para wanita itu sampai nekat membuka kancing untuk Sasuke, siapa sih yang tidak terpesona dengan Uchiha? Mendengar marganya saja membuat semua orang mati iri karena derajat dan kekayaannya. Belum lagi nilai tambah untuk wajahnya yang membuat wanita tak bisa berpaling ketika melihatnya. Oh jangan lupa status single-nya semakin membuat wanita manapun rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya.
Suara ketukan pintu sukses menghentikan sederet sumpah serapah yang diucapkan oleh Sasuke. Setelah dipersilahkan masuk, terlihatlah seorang wanita yang menenteng sebuah dokumen berwarna biru ditangannya. "Ini laporan mingguan yang kau minta, Uzumaki-san."
"Terimakasih. Hinata ingat tidak saat kubilang untuk memanggilku Naruto saja?"
"Uhm. Terdengar kurang sopan jika aku memanggilmu seperti itu saat ada 'tamu' di ruanganmu." Hinata mengangkat kedua lengannya, memberi isyarat tanda kutip lewat tangannya saat dia mengucapkan kata 'tamu' tadi. Sedangkan seseorang yang disebut Hinata sebagai 'tamu' malah termangu bagai melihat sebuah delusi fantasi dihadapannya.
Apakah ini mimpi? Bagaimana wanita ini bisa berada di sini? Apa yang membuatnya bisa... tidak, pertanyaan yang paling cocok untuk Sasuke tanyakan saat ini adalah 'Apakah Kamisama akan kembali mempermainkan takdirnya?'
"Hyuuga, huh?" Seolah keasadarannya kembali, Sasuke terkekeh tak percaya. Mengapa salah satu pewaris kerajaan bisnis Hyuuga, yang kabarnya menguasai pasaran di bidang furniture ini ... bisa nyasar ke perusahaan Uchiha yang bergerak di bidang garment?
"Maaf, apa tuan mengenal saya?" Sasuke merasakan sensasi disiram air es. Dia sangat kaget, apa Sasuke yang salah orang atau wanita yang tak pernah terlupakan olehnya ini hilang ingatan?
"Sasuke kau sudah mengenal Hinata ya?"
Baru saja Sasuke akan menjawab, Hinata lebih dulu membuka mulut, " Mungkin tuan ini mengenaliku sebagai seorang Hyuuga dari warna mataku. Kami tak pernah bertemu sebelumnya," dan mengeluarkan senyum palsu andalannya.
Bagai tersambar petir, Sasuke membelalakan matanya. Sialan! Ternyata wanita ini hanya pura-pura tak mengenalnya. Kejadian brengsek apa sih yang membuatnya bertingkah menjengkelkan seperti ini?! Oh, Sasuke baru ingat. Wanita ini kan menyuruhnya untuk melupakan masa lalu mereka. Jadi maksud dari kata 'mereset' ulang hubungan mereka adalah dia tak mau mengenalnya lagi ya? Atau dia mau main-main? Oke, jika ini yang dia mau, Sasuke akan dengan senang hati meladeninya!
"Kalau begitu lebih baik kita berkenalan dulu." Sasuke berdiri, melangkah dan berhenti tepat di hadapan Hinata. Sambil mengulurkan lengannya, ia berkata "Sasuke," Menyeringai licik memikirkan sebuah rencana untuk membalas wanita yang main-main dengan dirinya. "Anggota keluarga Uchiha yang sebentar lagi menjadi pemilik perusahaan tempatmu bekerja."
Seriously?! Mendengar itu, Hinata memutar bola matanya. Belum sempat ia membalas, Naruto menginterupsi keheningan yang sebentar lagi menjadi perang diantara mereka. "Direktur utama memanggilku. Tunggu disini, aku belum selesai memeriksa laporannya."
Setelah Naruto keluar dan menutup rapat pintunya, Hinata menepis lengan Sasuke kemudian melipat tangannya di dada. "Sebentar lagi jadi pemilik Uchiha Corp ya? Baru seminggu bekerja saja belagunya sudah tingkat tinggi ternyata."
Sasuke kembali mengeluarkan seringai mautnya, membuat Hinata bergidik melihatnya. "Kau sendiri? Terdampar disini? Apakah kerajaan bisnis Hyuuga terlalu tinggi untuk tingkat kemampuanmu?"
Menggedikkan bahu, Hinata menjawab "Kalau itu sih, pastinya bukan urusanmu."
"Jadi kita kembali ke periode 'urusanmu' dan 'urusanku' ya?"
Hinata menajamkan tatapannya. "Kau yang paling tau makna dua kata legenda itu."
Berdecak kagum, Sasuke selalu merasa bangga terhadap wanita yang ada dihadapannya. Hanya Hinata, wanita satu-satunya yang bisa membalas semua kata-katanya. "Katakan padaku, apa kau berhasil menghapus masa lalu sialanmu?"
"Bisa dikatakan berhasil jika kau tutup mulut tentang apa yang terjadi pada kita di masa lalu." Hinata mendongakkan wajahnya, menantang Sasuke.
"Tenang saja, aku bukan tipe orang yang senang mengumbar masa lalu,"
"Kenapa tidak sekalian saja sih kau menetap di New York? Hidupku sudah tenang selama dua tahun ini."
"Nah, darimana kau tau bahwa aku pergi ke New York?"
Sasuke berusaha mati-matian menahan seringainya melihat Hinata yang mulai tampak gelisah. "Itu artinya kau masih mempedulikanku. Akui saja, kau tak pernah bisa melupakanku." Menyunggingkan senyum simpulnya, Sasuke maju selangkah mempersempit jarak diantara mereka. "Aku belahan jiwamu, Hinata."
"Mundur brengsek!" Mendorong dadanya, Hinata berkata menantang. "Aku tak pernah dan tak akan mau menganggapmu belahan jiwaku! Anggap saja waktu itu aku bodoh mau-maunya jadi bagian dari hidupmu!"
Sudah cukup. Kali ini ia tak akan melepaskannya lagi. Sasuke bersumpah sepenuh hati akan membuat Hinata menjilat ludahnya sendiri! Ini baru yang namanya 'semangat kerja'!. Ia sudah bilang bahwa feelingnya kuat, kan?
-o0o-
Selasa, 1 September.
Ditengah lautan pekerjaan yang menumpuk, Sasuke melirik kalender duduk yang ada di meja kerjanya. Sudah satu minggu berlalu sejak ia bertemu dengan Hinata lagi di Kantor Naruto. Hm ... pertemuan pertamanya dengan Hinata saat di kampus waktu itu juga terjadi di tanggal yang sama seperti hari ini, 1 September. Sasuke tersenyum kecil mengingatnya. Saat itu... kurang lebih enam tahun yang lalu...
'
'
"Disini kalian akan merasakan bagaimana kerasnya kehidupan yang sebenarnya. Dengarkan peraturan ini baik-baik: Satu. Senior selalu benar. Dua, Senior tidak pernah melakukan kesalahan. Tiga... jika Senior melakukan kesalahan, kembali ke peraturan awal. Senior selalu benar. MENGERTI?!"
"Siap. Mengerti!"
Sebenarnya hari ini adalah hari pertama para junior melaksanakan Masa Orientasi Mahasiswa yang dipimpin oleh Neji Hyuuga–ketua BEM angkatan ke-24–, namun rasanya bagaikan bertahun-tahun di neraka. Dalam waktu dua jam para Senior berhasil menanamkan sebuah ideologi pada para Juniornya bahwa Senior adalah dewa. Mereka menguji para juniornya dengan berbagai macam tugas dan hukuman.
Karena tak mau direpotkan, Sasuke sekuat tenaga menghindari kesalahan sekecil apapun yang bisa membuat para Senior tertarik untuk menyantapnya. Namun sialnya, saat jam makan siang...
"Hei Gaara, cewek yang dipanggil kedepan itu... adiknya si Neji ya?" Sasuke berbisik kepada Gaara yang ada di sebelah kirinya. Gaara adalah teman pertama yang dia kenal sejak menginjakkan kaki di universitas ini.
"Hm? Kayanya iya, soalnya warna matanya sama seperti si Neji."
"Nasibnya malang sekali...ditunjuk si Temari pimpin makan." Mata Sasuke fokus melihat cewek yang sedang kalang kabut di depan aula karena tak bisa pimpin makan. Kalau iya emang adiknya, kenapa si Neji tak bantu dia sih? Kan kasian, matanya sudah berkaca-kaca gitu.
"Kamu yang disana! Maju! Bantu dia pimpin makan!" Sasuke kaget karena Neji menunjuknya yang duduk di depan barisan.
Sialan! Ngapain sih si Neji pake tunjuk-tunjuk Sasuke segala, mana dia lupa tata cara pimpin makan, jujur saja ia tak pernah berekspektasi akan ditunjuk begini jadi dia tak pernah menghafal hal yang tak penting seperti itu. "Ya, senpai." Siaal... Sasuke belum menyiapkan apapun!
"Ayo mulai." Kata Neji.
Nah sekarang wajah Sasuke sama paniknya dengan cewek disebelahnya. Saking paniknya, tanpa sadar Sasuke mengerutkan wajahnya dan bergumam "Tck, duh lupa,"
"Apa kau bilang? Lupa? Siapa namamu, hm?" Kuso! Telinga si Neji kok tajam sekali sih? Lagian ngapain juga Sasuke pake acara kelepasan ngomong gitu, Baka! Kalau sudah begini tak akan mungkin tak jadi santapannya si Senpai-senpai sialan ini.
"S-Sa-Sasuke, Senpai."
"Hah?! NGOMONG TUH YANG JELAS! KAMU COWOK APA CEWEK SIH?!" Bentakan Neji yang tepat berada dihadapan Sasuke, terdengar sampai ke penjuru lapangan, membuat para junior yang lainnya tersentak, bahkan cewek yang dipinggirnya ini sampai melonjak karena kaget.
Apa? Cewek katanya? Sontak Sasuke balas teriak di depan muka Neji "Tsk, SASUKE UCHIHA, SENPAI!" Aneh sekali, jelas-jelas si Neji sendiri yang keliatan mirip cewek, terbukti dari rambut panjangnya, malah nuduh Sasuke. Bila seperti ini ia jadi jengkel.
Shion yang dari tadi menonton Sasuke dibentak Neji, tak terima jika juniornya berani melawan Neji, nanti bisa-bisa para junior lain ikut-ikutan melawan seperti dia. "Berani betul kamu balas bentak-bentak seperti itu! Uchiha ya? Kamu itu disini cuma junior... jangan sok jagoan kamu Uchiha, mau lawan Seniormu, huh?"
"Tidak, Senpai." Kalau sudah menyangkut cewek, lebih baik Sasuke nurut aja apa yang Shion mau. Mengalah karena percuma jika lawan cewek, takutnya dia dibilang banci nanti. Semenyebalkan apapun perkataan Shion, Sasuke harus jadi gentleman.
Sayangnya si Neji mengambil kesempatan ini untuk menghukumnya. "Kalau begitu, hukumanmu bersihkan semua toilet lantai satu. Kuberi waktu hanya satu jam karena kau tidak tau cara pimpin makan. Pergi!"
Emang dasarnya sial dari awal, si Neji makin memperburuk keadaan. Belum tentu dia sendiri bisa pimpin makan, huh dasar! Enak sekali jadi Neji, bisa memerintah seenak jidatnya. Kalau begitu pokonya Sasuke harus jadi ketua BEM nanti!
"Neji, kau mau biarkan cewek ini lolos ya? Dia juga kan tak tau cara pimpin makan. Ups, lupa. Dia kan adikmu. Wajar saja." Ck emang dasar Shion taat aturan, berani-beraninya dia nyindir Neji.
"Siapa bilang?" Hah... sudahlah. Toh disini Neji sebagai ketua BEM, bukan sebagai kakak. "Kau juga, ikut dia!"
Mereka berjlan menuju gudang mengambil alat-alat pembersih yang diperlukan dan mulai membersihkan toilet. "Bego banget sih kau, kenapa pake keceplosan bilang lupa sih, parahnya kau sampe nyentak-nyentak senior segala! Gara-gara kau, aku jadi ikut dihukum!"
Karena kesal, Sasuke membanting sikat yang dia gunakan untuk membersihkan dinding toilet. "Kau! Cukup bersihkan dan tutup mulut, oke?!" Kemudian Sasuke membasahi dindingnya.
Cewek dipinggirnya tampak kesusahan menyikat lantai. "Aku menyerah! 10 menit lagi waktunya habis dan kita baru membersihkan 5 dari 15 toilet yang ada di lantai satu. Kau punya cara cepat?"
"Sayangnya tidak. Entah kenapa otakku sedang tak mau berfungsi sekarang." Sasuke keluar dari toilet menuju dinding yang bisa dijadikan tempat duduk diikuti cewek yang senasib dengannya.
Mereka duduk bersisian. "Emang dari tadi tak berfungsi, kan? Buktinya kau dengan begonya cari-cari masalah dengan senior tadi."
"Tck, jangan ngungkit-ngungkit hal payah itu lagi! Kau sendiri? Apa otak encermu punya ide brilian, hn?"
"Punya sih, tapi tak yakin akan manjur."
Sasuke tampak tertarik, dia menolehkan kepalanya kesamping kanan, melirik cewek itu. "Hn? Katakan."
"Kita banjuri dindingnya, toh mereka tak akan periksa sampe detail. Tapi aku sudah bilang, aku tak tau apakah ini bakal berhasil atau tidak."
"Kita lakukan saja." Sasuke berdiri menegakkan tubuhnya, melangkah ke hadapan cewek itu dan menjulurka lengannya, "Aku Sasuke, Kau?"
"Hinata. Ngomong-ngomong aku sudah tau namamu tadi waktu kau menyentak kakakku. Minggir, tanganmu kotor. Cuci dulu baru aku mau berjabat tangan denganmu." Hinata berjalan meninggalkannya sendirian. 'Huh dasar adik kakak sama-sama menyebalkan,' pikirnya.
.
.
Perkenalan yang kurang menyenangkan bukan? Namun sejak saat itu Sasuke menyukai cara dirinya dan Hinata bekerja sama. Entah kenapa rasanya nyaman. Mungkin Hinata bisa membuat Sasuke menjadi dirinya apa adanya, beda dengan perempuan lain yang hanya memandang dari segi fisiknya saja.
Ia berjalan menuju ruangan Itachi di lantai atas. Ketika sampai di tujuan, ia mengetuk pintu dan masuk setelah mendapatkan jawaban dari dalam ruangan. "Selamat siang, Aniki." Kemudian ia duduk di kursi yang ada di depan meja Itachi.
"Biasanya kalau kau mengunjungiku pasti ada maunya. Katakan." Itachi masih memeriksa dokumen-dokumen yang berserakan di mejanya, tak berniat sama sekali untuk memandang adiknya.
Sasuke menyeringai mendengarnya. Kakaknya sangat tau dan mengerti dirinya luar dan dalam. "Aku sudah siap menjadi wakilmu."
Itachi tertarik dengan apa yang Sasuke bicarakan. Ia sangat yakin ucapan Sasuke belum selesai sehingga ia mengangkat alisnya.
"Dan aku ingin Hinata Hyuuga yang jadi asisten pribadiku."
Itachi terbatuk-batuk, tersedak ludahnya sendiri. "APA KAU BILANG?" Ia tak pernah mengerti jalan pikiran Sasuke jika kegilaan adiknya sedang kambuh.
.
.
.
Aku tersiksa selama kau pergi. Aku tak akan pernah membiarkanmu pergi lagi.
.
.
.
For the first time in my life, feelin all the love deep within
(Aint never felt so amazin – hits me in so many ways 'n)
For sure I, would never get by, I need you by my side thick 'n thin... yeah
(You lovin' me is like heaven – don't wanna let you go never)
(Always – BigBang (English Translation))
.
.
.
Dia akan selalu membuatnya berada di lingkaran yang sama.
.
.
BERSAMBUNG
Review? Let me know what you think.
You always made my day ^^
