A/N: Akhirnya!!! Chapter dua dapat kami update \o/. Terima kasih kami ucapkan kepada semuanya yang telah bersedia membaca dan mereview Fic kami ini (_ _). Balasan riview ada di bawah. Enjoy…

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Malaikatku © Kami

Gendre:

Romance/Family

Rating:

T

Warning:

Penuh dengan ke OOC-an. Belum keluar adegan gak suka silakan tinggalkan Fic ini. Ada satu OC. Dan lainnya…-males mikir-

Pairing:

SasuxFemNaru

Summary:

Aku menutup mataku, berdoa dalam hati. Agar ia tidak hilang, agar ia tidak pergi secepat itu. Aku masih ingin bersamanya. Menatap mata lembutnya.

Malaikatku

2. Dream

XXXXX

Sasuke mangernyitkan dahinya. Sinar itu terlalu terang untuk diterima oleh retina matanya. Sasuke mangangkat kedua telapak tanganya ke depan mata, menghalangi sinar itu.

Cahaya itu mendekat ke arah Sasuke, makin dekat makin jelas wujud cahaya itu.

Mata Sasuke membulat melihat wujud di depannya itu. Sasuke hanya melihat wujud itu samar-samar karena dihalangi oleh cahaya yang dikeluarkan olehnya. Badannya benar-benar kaku, ia tak bisa bergerak. Lemas.

Sasuke memprekdisi bahwa wujud itu seorang gadis. Gadis itu mempunyai rambut sedikit ikal sepinggul, berwarna pirang yang di biarkan tergerai indah. Matanya tertutup. Terdapat 3 goresan tipis di masing-masing pipinya.

Wajahnya terlihat begitu lembut dan penuh kehangatan, sungguh terlihat cantik. Ia memakai sebuah gaun terusan berwarna putih panjang, menutupi seluruh kakinya. Sungguh cantik sekali.

Sasuke melihat ke arah punggung gadis itu. Ada sesutu yang menempel. Seperti… Sayap? Ya, tidak salah lagi itu sayap. Apakah ia seorang malaikat?

Cahaya itu perlahan redup. Gadis itu membuka matanya. Matanya berwarna biru langit. Sangat indah. Manis.

"Kau…" Sasuke tak mampu meneruskan kata-katanya, ia terus mengagumi gadis di depannya itu.

SINGG

Tiba-tiba sosok itu menghilang. Menghilang begitu saja. Tak meninggalkan bekas. Kecuali Sasuke yang masih merasa sakit di matanya.

"SASUKE…" Panggil Yohachi membuyarkan lamunan Sasuke. Ia menengok ke arah Yohachi kemudian berlari kecil menuju gadis itu. Dan seketika ia telah berada di depan Yohachi.

"Eng… Kak, apa kakak tadi melihatnya?" Tanya Sasuke meyakinkan bahwa tadi bukan halusinasinya.

"Hah? Apa yang kau bicarakan Sasuke?" Tanya Yohachi yang tak mengerti apa yang sedang dibicarakan Sasuke.

"…" Sasuke diam membisu, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi tadi.

'Apakah tadi, hanya halusinasi ku?' Tanya Sasuke dalam hati yang lebih ditunjukan untuk dirinya sendiri.

"Sudahlah Sasuke, Kak Itachi pasti sudah menunggu." Ucap Yohachi memperingatkannya kembali.

"Ya!" Jawab Sasuke singkat. Kemudian ia mengikuti Yohachi dari belakang, menuruni tangga sekolah satu demi satu. Meninggalkan misteri yang masih belum ia mengerti.

XXXXX

"Huh, sialan!" Umpat Sasuke berulang-ulang.

Itu disebabkan karena dua hari lagi akan diadakan Ujian Akhir Sekolah atau yang lebih kita kenal dengan nama UAS. Pastinya itu semua membuat Sasuke menjadi semakin terbebani. Ia harus mau dikurung dalam kamar oleh Itachi, sudah pasti supaya ia mau belajar. Mencuri waktu bersantainya dan membuat Sasuke merasa ia berada di neraka. Ok terlalu berlebihan, namun itulah yang dirasakan oleh Sasuke.

Dan sekarang Ia kabur dari Itachi yang pastinya akan mengurungnya di kamar selama berjam-jam. Tidak boleh keluar kamar, kecuali untuk yang penting saja. Seperti panggilan alam yang sering dialami setiap manusia.

Sasuke kini berada di sebuah taman yang terletak di tengah kota Konoha, sangat jauh dari rumahnya sehingga ia tak akan ditemukan oleh Itachi.

Lama kelamaan Sasuke merasa sangat bosan berada di taman itu. Tak ada kerjaan, hanya duduk santai di sebuah bangku di bawah pohon, melihat orang berlalu-lalang di depannya, dan melamun.

Dan entah apa yang ada dipikiran Sasuke. Ia seolah ditarik oleh sebuah magnet raksasa, yang berada di sekolahnya. Dan akhirnya ia tertarik oleh magnet raksasa itu menuju ke arah sekolahnya.

XXXXX

Sasuke hanya terbengong di depan gerbang sekolahnya yang dikunci oleh gembok berukuran besar. Ia benar-benar bingung untuk apa ia berada di sini. Seolah-olah ia terhipnotis untuk mendatangi tempat itu.

Dan Sasuke memutuskan untuk pulang ke rumah. Tapi… tunggu! Kalau ia pulang, ia pasti akan di tangkap oleh Itachi. Ah, sudahlah daripada harus seperti ini, seperi anak hilang yang tak tahu harus kemana.

Sasuke mulai melangkah menjauhi sekolahnya. Menyusuri pagar besi yang tingi dan kokoh. Sampai suatu suara menghentikan langkahnya yang mulai lelah.

'Tolong…'

Suara rintih kesakitan terdengar samar-samar.

Sasuke melihat ke sekeliling, mencari sumber suara. Namun nihil, ia tak menemukan sumber suara, bahkan satu orang pun tidak ia temukan. Ia mulai bimbang. Akhir-akhir ini ia sering berhalusinasi.

'Tolong…'

Suara itu terdengar lagi. Lebih jelas. Lebih keras. Seakan meminta pertolongan pada Sasuke.

'Sudah Sasuke, itu hanya ilusi. Halusinasimu.' Bentak Sasuke dalam hatinya. Menolak apa yang ia dengar, ia menggeleng-geleng kan kepalanya dengan kencang.

Untung tak ada orang yang melihat. Seandainya ada yang melihatnya, orang itu pasti berpikir bahwa 'Sedang apa anak ini?' atau 'Apa anak ini gila?'.

'Tolong…' Suara itu terdengar lagi.

Kali ini ia tak bisa melawan rasa penasarannya, ia ingin mencari asal suara itu.

Rasa penasaran Sasuke menang. Ia tajamkan indra pendengaranya.

Dan ia menemukan tempat itu. Tempat suara itu muncul. Makin mendekat, suara itu makin jelas.

Merintih kesakitan, penuh kesedihan. Membuat hati Sasuke menjadi tersentuh. Adakah orang lain yang lebih menderita dari pada dirinya?

Makin jelas. Ya! Suara itu terdengar makin jelas. Tak terasa Sasuke sudah berdiri di depan sebuah gedung. Gedung…

Sekolahnya?

XXXXX

' Lupakan Sasuke, lupakan…!!!' Perintah Sasuke pada dirinya sendiri.

Ia sangat tak konsen, dan bukan waktu yang tepat untuknya berhadapan dengan buku-buku pelajaran yang menumpuk diatas lantai kamarnya. Yang telah disiapkan oleh Itachi tentunya.

Sasuke sudah pulang, dan benar apa yang telah difirasatkan olehnya sebelum pulang. Ia menerima luapan kemarahan kakaknya itu. Yang berujung pada dikurungnya Sasuke dalam kamar yang pengap, panas dan bau. Hanya ada satu lubang fentulasi, itupun sempit.

Kamar itu hanya berukuran 3X3 m dengan tinggi atap 4 m. Cukup kecil untuk ukuran kamar biasa. Di dalamnya terdapat lemari pakaian kecil. Dan kasurnya –walau tidak pantas di katakan kasur- hanya menggunakan kasur kapuk yang sudah tua dimakan waktu.

Dan menambah suasana tidak enak lagi oleh tumpukan buku pelajaran yang memenuhi lantai kamar Sasuke.

"Huh…" Dengus Sasuke kesal. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti kemauan kakaknya. Walau dengan ogah-ogahan, ujung-ujungnya Sasuke pasti belajar juga.

Tapi masih ada yang mengganjal di dalam otaknya. Ya! Kejadian saat diatap sekolah tadi dengan suara itu. Suara yang ia dengar di depan sekolahnya tadi sore. Dia masih sangat penasaran dengan suara minta tolong itu. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar berulang-ulang dalam otaknya. Dan itu membuat Sasuke semakin tidak bisa berkonsetrasi belajar. Lengkap sudah penderitaan Sasuke.

"HUWAAA!!! AKU SUDAH TAK TAHAN LAGI…!!!" Jerit Sasuke yang sudah merasa otaknya seakan mau pecah.

SRAKK

Sasuke melempar bukunya ke sembarang arah. Dan dengan sukses membuat buku itu mendarat di atas lemari kecil yang lumayan tinggi itu.

Sasuke merebahkan diri di kasurnya yang tidak bisa dibilang empuk dan tidak ada lembut-lembutnya.

Mata Sasuke terasa berat untuk dibuka. Otaknya sudah lelah, ototnya sudah menegang, dan energinya sudah habis. Akhirnya ia memutuskan untuk tidur. Toh… Ujian bukan besok. Masih ada dua hari lagi.

XXXXX

Sasuke P.O.V

Dimana ini?

Aku membuka mataku. Yang terlihat hanya bayangan hitam dimana-mana. Rasa dingin menyerang hingga serasa menusuk tulangku.

Aku menyebarkan pandangan, menyapu seluruh ruangan yang gelap dan tak berujung itu. Berusaha membiasakan retina mataku dengan kegelapan.

Dimana ini? Tanyaku lagi.

Aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi dengan diriku.

Tiba-tiba terlihat siluet sinar berwarna putih terang. Makin dekat. Makin dekat. Dan akhirnya sampai di depanku. Mataku membulat. Sosok di depanku seperti gadis itu.

Gadis berambut pirang panjang digeraikan. Dan bermata biru langit, warna yang kusuka.

Gadis yang sama dengan gadis yang kutemui di atap gedung sekolah saat pulang sekolah waktu itu. Ia menatapku dalam.

DEG

Sensasi apa ini? Aku serasa berada di suatu dunia yang seperti surga. Pancaran matanya begitu damai, indah, dalam, dan menunjukan sesuatu. Er… kesedihan? Pilu, dan seakan dirinya sendiri di dunia ini.

Hatiku merasakan suatu getaran, lembut, saat mata onyxku menatap matanya iba, ya! Aku merasakan persamaan derita. Yang kuhadapi dengan yang dihadapi oleh gadis itu.

Seketika sosokya menjauh. Meninggalkan diriku. Seakan ditarik oleh sesuatu. Aku ingin berteriak. Namun, tenggrokanku serasa dicekat oleh sesuatu, tak bisa bersuara. Tak ada pilihan lain, aku berlari, mengejar sosok itu yang menjauh dariku. Aku melihat matanya mulai derkaca-kaca. Menangiskah ia?

Aku terus berlari. Namun semakin aku cepat berlari, semakin cepat ia menjauh. Dengan sisa energiku, aku berlari sangat cepat. Secepat yang aku bisa, melewati lorong hitam yang tak berujung itu.

Aku menutup mataku, berdoa dalam hati. Agar ia tidak hilang, agar ia tidak pergi secepat itu. Aku masih ingin bersamanya. Menatap mata lembutnya.

Saat aku membuka mata. Aku terkejut. Sosok gadis itu sudah di depan mataku. Dan aku tak bisa mengerem kakiku yang terus berlari. Dan akhirnya aku menerjang tubuhnya. Aku memeluknya dengan erat, tak mau kehilagan sosok yang entah kenapa menarik hatiku.

Kami terjatuh. Atau rasanya seperti terbang? Entahlah…

"Sasuke…"

Panggilnya padaku. Tunggu, dia kenal aku?

"Sasuke…"

Dia memanggilku lagi. Kali ini suaranya jelas. Tunggu, sepertinya aku sangat kenal suara ini.

"Sasuke…"

Ya! Benar aku kenal suara ini. Bukan hanya kenal, namun sangat akrab.

"Sasuke…"

Hei, ini kan suara kakak???

XXXXX

"Ukh." Aku membuka mataku perlahan. Kembali ke dunia nyata. Dan hal pertama yang aku lihat adalah hal yang paling tidak ingin kulihat.

Wajah khawatir kakak. Matanya memandangku lekat-lekat menuntut penjelasan tentang semuanya. Sungguh aku paling tak ingin melihat wajahnya seperti itu.

Normal P.O.V

"Ukh…." Sasuke mengeluh panjang. Ia membuka matanya. Nafasnya memburu.

"Kau kenapa Sasuke?" Tanya Itachi yang sudah duduk di samping Sasuke yang masih berbaring. Mukanya, menggambarkan raut kekhawatiran.

"Apa yang terjadi?" Tanya Sasuke sambil memegangi kepalanya yang serasa bertambah berat dua kali lipat. Ia medudukan diri di pinggir kasur yang sedikit basah karena keringat Sasuke. Itachi mengelus rambut Sasuke lembut.

"Kau tadi berteriak. Apa kau mimpi buruk?" Tanya Itachi khawatir.

"Ya, aku mimpi buruk." Jawab Sasuke.

Namun, tidak dengan hatinya. Ia yakin itu semua nyata. Raut wajah gadis itu terus terniang. Sentuhan itu nyata. Lembut kulitnya, mata birunya, dan rambut pirang yang tergerai dengan indah. Bagi Sasuke semuanya nyata.

"Kau tak mau bercerita?" Tawar Itachi. Itachi siap menerima semua curahan hati Sasuke.

Sasuke termenung sebentar. Bingung antara ingin bercerita atau tidak. Ia tahu Itachi dapat dipercaya memegang rahasia. Tapi entah kenapa, untuk kali ini Sasuke merasa bimbang atas pilihanya.

"Kalau tidak, ya tak apa-apa. Kakak tidak memaksa." Sambung Itachi sambil tersenyum lembut. Walau sebenarnya dalam hatinya ia ingin sekali mendengar cerita Sasuke.

"Hah…" Ia menghela nafas panjang.

"Ya sudah, kau tidur lagi saja." Kata Itachi sambil mengelus lembut rambut adiknya itu. Itachi lalu berdiri dan berjalan melangkah keluar kamar.

"Kak…" Panggil Sasuke tiba-tiba yang sukses menghentikan gerakan Itachi yang sudah hampir mencapai gagang pintu.

"Ya?" Itachi membalikan badan menghadap ke arah Sasuke yang masih duduk. Itachi kembali tersenyum hangat.

"Aku akan menceritakanya." Kata Sasuke. Itachi tersenyum lembut.

XXXXX

"Apa kau yakin yang kau lakukan?" Tanya seorang perempuan pada lelaki yang berada di depannya.

Lelaki itu memakai jubah dengan motif kobaran api. Rambunya berwarna keemasan. Cahaya matahari manambah indah rambutnya.

Lelaki itu memunggungi tubuh perempuan yang sedang bertanya tadi.

"Hn…" Lelaki itu hanya menjawab seadanya. Matanya terfokus menatap gumpalan awan di langit biru. Mengingatkanya pada seseorang. Gadis yang mempunyai warna sama dengan warna langit itu.

"Tapi--" Kata-kata perempuan itu tepotong.

"Percayalah padaku, Kushina." Pinta lelaki itu. Kali ini ia memandang gadis yang dipanggil Kushina itu.

Gadis berambut lurus sepinggang berwarna merah cerah itu memandang suaminya dengan tatapan tak mengerti.

"Ia harus membayar apa yang telah ia lakukan itu. Biarkan ia mengetahui makna sebuah keluarga. Hukuman ini pantas ia terima." Jelas lelaki berambut pirang jabrik itu, Minato.

"Lagi pula ia sudah menemukan orangnya. Kita percayakan saja semua pada dia sekarang…" Sambung Minato. "Tak ada salahnya mengirim dia ke dunia manusia…" Lanjutnya lagi.

Minato berjalan mendekati Kushina yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia rengkuh badan istrinya dalam pelukan hangatnya. Memberikan ketenangan pada Kushina.

"Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya…" Kata Minato di tengah pelukanya.

"Naruto..." Guman Kushina.

XXXXX

"Mungkin itu bukan sekedar mimpi." Opini Itachi setelah mendengarkan pejelasan panjang lebar Sasuke tentang semuanya

"Begitukah menurut kakak?" Tanya Sasuke dengan wajah antusias.

"Yeah…" Jawab Itachi.

"Mungkin itu jawaban dari semua permintaanmu pada Tuhan." Lanjut Itachi sambil memegangi dagunya, sok berpikir.

"Hm…mungkin" Guman Sasuke.

Cit…cit… cit…cit…

Suara burung yang berkicau menggema dalam kesunyian rumah satu ini. Menandakan hari sudah pagi.

"Tunggu…" Kata Sasuke menyadari sesuatu. Ia terdiam beberapa saat, berpikir. Sedangkan Itachi hanya bengong tak tahu apa yang dikatakan Sasuke.

"Jam berapa ini?" Tanya Sasuke setelah menyadari apa yang membuatnya tidak tenang.

"Entahlah…" Jawab Itachi.

Itachi lalu membuka jendela kecil yang kebetulan berada di samping tubuh Itachi.

Cahaya matahari memasuki ruangan yang agak gelap itu. Udara segar mengisi setiap sudut ruangan, menggantikan udara kotor yang masih tersisa kemarin diiringi kicauan burung yang menggema.

Mata Sasuke membulat melihat pemandangan di luar jendela.

"Hah!! Aku bisa terlambat berangkat sekolah." Teriakan Sasuke yang dengan sukses merusak suasana pagi yang damai dan tentram saat itu.

Sebegitukah lamanya Sasuke bercerita?

Sasuke berlari kencang menuju kamar mandi disusul oleh Itachi yang tertawa-tawa kecil melihat tingkah adik satu-satunya ini. Ia juga tak menyangka, ternyata ini sudah pagi.

Apakah mereka berdua terlalu terbawa suasana cerita Sasuke sehingga mereka tak sadar waktu?

Setelah Sasuke selesai mandi dan telah selesai menggenakan seragam sekolah, mereka berdua pergi meninggalkan kamar Sasuke dengan tenang. Mareka tidak menyadari perubahan yang terjadi di kamar Sasuke.

TBC

Next chapter:

Angel

Balasan review:

Aoi No Tsuki: Iya nih… baru bisa publish fic sekarang, itupun nekat XP. Disini Naru dah keluar tuh, walau sedikit –ditendang-. Makasih atas masukanya.

Shia Malay Login & NakamaLuna: Disini SasuFemNaru. Makasih reviewnya.

Mikazuki Chizuka: Makasih… -blushing tingkat tinggi-. Makasih atas koreksinya. Kalau ada yang salah bilangin lagi ya –nyuruh sambil bawa golok-.

Azahi Kisashi & Sana Uchimaki: Nih dah up-date. Makasih reviewnya.

Dani-Itachikoi: Iya. Kalau mau protes, protes aja ke alur ceritanya yang maksa –ditendang-. Nih dah up-date. Makasih reviewnya.

Yuuzu-Chan & Chiaki Megumi: Makasih atas sarannya.

Wild Witch 13: Makasih atas semua koreksinya. Jujur, kami juga baru menyadarinya setelah membaca review kalian (--;). Untuk masalah OC, sepertinya sudah banyak dijawab oleh author lain di luar sana. Makasih reviewnya.

Nate River is Still Alive: Senpai?? 0.o Kami masih baru juga, dan rasanya gak enak kalau di panggil begitu. Makasih reviewnya.

Uchiha Nirmala-chan: Yang mau masuk SMA itu Hito, kalau Hoshi baru mau kelas 9. Pasti kami do'ain. Makasih reviewnya.

Hanaruichi: WHAT!!! SIAPA YANG KAU PANGGIL HIU-TEME?!!! –Hoshi ngasah golok-. Awalnya memang pengin nyiksa Sasuke lebih kejam, tapi... –lirik-lirik Sasuke's FG-. Makasih reviewnya ya yayang… XD

x Hinamori Sakura x: Kami usaha'in biar Sakura muncul kapan-kapan. Tapi gak janji loh –ditendang-. Makasih reviewnya.

ARIGATO GOZAIMASU

REVIEW OR FLAME??