Disclaimer : Semua kembali pada tangan JKR, kecuali ide cerita :D


CHAPTER 2

Harry menata benda-benda yang seharusnya telah tertata rapi di meja kantor barunya. Mata menatap lurus ke arah tangan yang sedari tadi mengangkat-menaruh-mengangkat lagi-menaruh lagi barang-barang. Sedikit menerawang tanpa memikirkan apa-apa, pandangan kosong. Kemudian mendesah sekali. Suara ketukan di pintu tiba-tiba membuat nyawanya kembali pada tubuhnya yang sekiranya dari tadi ditinggalkan. Dia menegakkan kembali tubuhnya. "Masuk," ujarnya singkat.

"Lagi senggang?" tanya wanita yang baru saja dipersilahkan masuk.

"Seperti yang kau lihat. Senggang tapi lelah bukan main," jawab Harry. Tangan menyisir rambutnya yang tak beraturan.

"Istirahatlah, Harry. Kau harus mendatangi pesta malam ini. Kuharap kau tidak begitu terlihat kelelahan untuk hari pertamamu memperkenalkan usahamu ini," sahut wanita itu, sembari berjalan menuju sofa yang diletakkan di tengah ruangan.

"Aku tak punya waktu cukup untuk beristirahat, Mione. Mengurus perusahaan ternyata juga membuat capek luar biasa. Tapi, yah, aku terbiasa lelah," Harry menjawab sembari menyeringai.

"Jangan bercanda. Gurauan itu sudah lama basi."

"Kau tak seperti mengenalku saja, Mione. Tentu saja aku bercanda," mendengus antara kesal dan lucu Harry menatap Hermione.

"Baguslah."

"Kau serius sekali," ejek Harry yang tidak ditanggapi oleh Hermione, malahan Hermione sedang membuka buku Mantra untuk Rambut Anda dari tasnya. "Ada urusan apa kau kemari?"

"Apa aku harus ada urusan dulu untuk menengok sahabatku sendiri?"

Harry menjengitkan alisnya, membenarkan pernyataan Hermione. "Aku hanya ingin mencocokkan tatanan apa yang cocok untuk rambutmu, Har—"

Sebelum Hermione menuntaskan kalimatnya, seekor burung hantu datang dan mengetuk-ngetukkan paruh ke jendela. Harry membuka laci lemari dan mengambil beberapa owl treat sebagai upah si burung hantu. "Kau masih membeli owl treat?" tanya Hermione. Harry hanya menatapnya seakan berkata hey! tanpa berbicara.

Cukup diketahui oleh Hermione bahwa Harry masih menyimpan rasa rindunya kepada burung hantu putihnya yang tewas beberapa tahun yang lalu, Hedwig. Walau setelah itu dia tidak memelihara burung hantu lagi, tetap saja dia membeli owl treat. Pernah suatu saat Hermione mendorongnya untuk membeli burung hantu lagi. Namun Harry hanya menjawab, "Tidak, cukup menggunakan Pigwidgeon saja." Hermione hanya mendesah pelan, tak ada yang bisa menggantikan Hedwig, sama seperti tidak ada yang bisa menggantikan—

"Dari Ron," ujar Harry tiba-tiba, memotong lamunan Hermione.

"Benarkah? Apa isinya?"

---------------------------

Ho, Harry!

Kudengar kau mendirikan perusahaan baru ya? Kali ini sepertinya kau serius, kupikir hanya bercanda. Aku hanya berkata blak-blakan saja menanggapi omonganmu tentang tumpukan Galleon-mu di bawah tanah London itu.

Kapan kau akan launching usahamu ini, ngomong-ngomong? Maafkan aku kalau tidak bisa menghadiri acara sahabatku sendiri. Charlie benar-benar membutuhkan bantuan untuk mengurusi naga-naga di Rumania. Merepotkan sekali, aku harus melihat Norberta bertelur. Bilang Hagrid, dia sudah jadi kakek.

Kalau begitu aku ucapkan selamat dari jauh. Semoga usahamu sukses dan jangan lupa sisakan tempat untukku, aku berencana kabur dari Rumania.

Ha! Aku bercanda. Salam untuk Hermione juga.

Salam hangat,

Ron

---------------------------

"Aku kangen sekali Ron," ujar Hermione dengan pandangan sedih.

"Kalau kangen, seharusnya kau tidak memutuskan hubunganmu dengannya."

"Tidak ada hubungannya, Harry! Jangan teruskan. Aku tahu pembicaraanmu mengarah kemana," Hermione menatap tegas mata Harry yang sepertinya mengejek, "Lagipula kenapa aku tidak boleh kangen dengan sahabatku sendiri?"

Harry bergidik, "Aku kecewa kau malah memilih tupai pirang bodoh itu alih-alih orang selain Ron."

"Dia tidak bodoh. Berhentilah mengejek!"

"Berpihak padanya?"

"Harry!" Hermione berjingkat di kursinya, "Aku datang kemari bukan untuk membahas Draco. Aku serius," Mereka berdua terdiam di tempat masing-masing. "Kupikir kau hanya lelah saja," Hermione mengerang pelan dengan pandangan lemah mengarah kepada Harry. "Kita semua sudah berubah Harry. Kau, aku, Ron, Draco dan Ginny."

Rahang Harry mengeras mendengar pernyataan Hermione. "Ya. Ya. Aku tahu itu, Hermione."

"Maaf."

Harry tersenyum lemah, mengatakan aku-baik-baik-saja-non-verbal kepada Hermione. "Lalu, jika kita hanya duduk-duduk saja disini dan tidak melakukan apapun, lebih baik kita keluar cari udara segar."

* * *

Sepanjang sejarah, baru kali ini Pansy datang ke sebuah pesta sendirian, biasanya dia akan bersama dengan seseorang yang dipilihnya; mungkin Blaise, mungkin Nott dan beberapa pria dari asramanya sendiri. Draco? Jangan ditanya. Pansy telah jarang bercengkrama dengannya lebih dari setengah jam. Lelaki itu selalu sibuk sendiri. Mengurusi semua usahanya dan melatih diri untuk bergabung dengan komunitas Muggle sebagai usaha untuk melangsungkan kehidupan perusahaan. Bicara setengah jam memang kini nenjadi waktu yang teramat panjang bagi mereka berdua. Namun lumrah, toh sudah lama mereka berdua tidak menyandang status sebagai sepasang kekasih lagi.

Pansy ber-apparate di dalam gedung Kementrian. Pesta diadakan di hall khusus di suatu tempat didalam gedung ini. Semua penyihir pebisnis diundang kedalamnya, bahkan ada dua-tiga Muggle pebisnis yang diundang serta.

Pansy melangkahkan kakinya masuk menuju tempat acara. Hall itu sudah disihir sedemikian rupa hingga terlihat seperti bar yang ada di jalanan para muggle. Mata Pansy menelusuri seluruh property yang ada didalamnya. Bar terletak di sisi sebelah barat, sebuah podium mini berdiri di sebelah utara. Dan tentu saja podium itu yang akan digunakan oleh Harry Potter dan beberapa pebisnis muda lainnya untuk memperkenalkan perusahaan barunya.

Pansy menangkap sosok berkepala pirang di antara kerumunan penyihir yang berdiri di dekat meja bar panjang tak jauh dari dirinya, sepertinya berbicara dengan si pemilik rambut cokelat cognac. Siapa lagi kalau bukan Hermione Granger. Semua mata memandang sekilas-sekilas ke arah dua sejoli itu (—'Eww! Sejoli?' ringis Pansy), antara heran dan iri.

"Sedang sibuk?" Pansy menyela dari belakang Draco, yang sedang khusyuk berbincang dengan Granger. Mata si ex-Gryffindor menangkap pandangan dingin Pansy.

"Selamat malam, Pansy. Gaun yang indah," ujar Hermione menyela. Berusaha berbincang dengan Pansy. Hal yang terberat dari memiliki pasangan lawan jenis adalah menjinakkan sahabat pasangannya itu, terutama kalau dia seorang wanita dan kebetulan orang yang paling dihindari nomor 2 di sekolah dulu.

"Malam, Granger. Tidak kusangka kau akan memiliki selera berbusana yang baik," Pansy menatap gaun yang dikenakannya. Midi dress dengan taburan manik di beberapa sisi dan kerah dengan leher terbuka, "Kupikir otak pintarmu tidak sampai untuk memikirkan fashion."

Draco hanya nyengir mendengarnya, menatap Pansy dengan pandangan you-got-it. Pansy berseringai balik. Hermione hanya terkekeh kecil. Semua sinisme ini hanya bumbu klasik untuk memulai entah apa bisa disebut dengan komunikasi, atau tidak. "Terima kasih, Parkinson. Sepertinya otakku sedikit mengalami degradasi.. atau mungkin regradasi, eh?" balas Hermione.

"Atau konslet." Draco menyela. Hermione melotot padanya, dan Draco hanya menggidikkan bahunya, tak peduli.

"Yah, tapi sebaiknya anggap ini sebagai berita baik, karena mungkin malam ini berita kalian akan muncul di koran-koran edisi depan. Merencanakan untuk mempublikasikannya?" tanya Pansy menantang.

"Seperti yang kau lihat sendiri, Pansy." Draco menjawabnya seraya merentangkan tangannya untuk merangkul bahu Hermione. ("Lepaskan, Draco, banyak orang melihat!")

"Kupikir seleramu akan lebih baik lagi." Pansy menumpaskan kalimat terakhirnya sebelum berbalik meninggalkan Hermione yang rahangnya terlihat sedikit mengeras akibat ucapan Pansy barusan.

Pansy menatap sekeliling. Mencari sosok orang yang seharusnya tidak usah dicari. Orang itu berdiri di pojok dekat podium, mungkin bersiap untuk memberikan presentasi singkat. Segelas wine merah ada di tangannya, berbicara sopan pada orang-orang di sekitarnya. Sangat mungkin jika Harry Potter memang dilahirkan untuk mengurusi para penggemarnya. Lihat saja, tidak hanya pebisnis yang melingkarinya, tapi ada beberapa wanita—Potterfreak. Namun tak ada tanda-tanda wanita berambut merah kebanggaannya. Mengherankan. Karena biasanya dimana ada Potter pasti disitu ada she-Weasley. Aneh sekali, karena beberapa bulan ini, setelah pemberitaan pensiunnya Potter dan Weasley dari kantor Auror, berita tentang hubungan Potter dan adiknya si Weasleyboy tidak pernah terdengar. Rumor yang didengarnya, Potter ditinggal keliling dunia oleh si Weasleygirl. Kasihan.

Pansy memindahkan pandangan kepada hal lain, mencari rekan tim-nya yang hari ini bekerja untuk dirinya, mewawancarai beberapa pengusaha muda, termasuk Harry Potter. "Maggot!" serunya saat dia melihat sesosok perempuan mungkin berbalut busana kerja berkelebat di pinggiran meja cocktail. Wanita bernama Maggot itu menghampirinya.

"Ya, Miss Parkinson?" ujarnya dengan nada datar.

"Aku ingin memastikan kau yang mewawancarai Potter. Jangan sampai kau kelewatan beritanya. Karena nasibku juga berada di tanganmu, mengerti?" ucapnya pada Maggot secara cepat, jelas dan tepat. Masa bodoh jika dia disebut dengan editor tirani yang selalu memerintah melulu. Well, karena memang seharusnya begitu: bawahan bekerja untuk atasan. Dan Pansy bekerja untuk si Smith itu. Maggot hanya bisa mengangguk pelan dan bergumam, "Baik, Miss."

Sepuluh menit kemudian acara inti benar-benar dimulai. Perkenalan dan presentasi kepada pemilik perusahaan baru atau yang sedang melakukan inovasi pada bisnisnya. Hanya segelintir saja pengusaha muda. Pansy menopang kepalanya di satu lengan di meja bartender. Memandang dari jauh acara yang dinanti-nanti,

"Sambutan untuk Mr. Potter, beri tepuk tangan!"

Suara pembawa acara membahana di seluruh hall. Seperti menghadiri upacara pemakaman, seluruh hadirin mendadak membungkam mulut, menunggu Harry Potter memulai presentasi. Dan Pansy masih menopang kepalanya, malas. Apa yang dimaksud Draco dengan berbaur, huh? Bahkan orang satu-satunya yang diajak bicara hanya Hermione Granger. Itu pun dengan suasana permusuhan yang masih terasa. Pansy menelengkan kepalanya ke arah Draco. Wajah datar, sepertinya tidak menikmati acara. Tapi juga terkesan tidak kebosanan juga. Lihatlah, tangan melingkar di pinggang Granger. Pansy memutar bola mata, membelakangi podium, menghadap ke arah bartender yang tampaknya menunggu Harry Potter bersuara juga.

"Terimakasih, Mr. Faulchette. Selamat malam." Harry Potter menyapa seluruh undangan dengan canggung. Diliriknya Hermione yang berdiri bersebelahan dengan Draco. Sirat kuatir terlukis di wajah wanita itu, namun tetap melempar kata-kata 'teruskan' non-verbal ke arahnya. "Malam ini saya akan mengumumkan perusahaan saya, yang baru berdiri satu bulan yang lalu: Broomstechnology Corporation. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi untuk sapu terbang," Harry menghela napas. Seumur hidupnya dirinya tidak pernah melakukan presentasi di depan orang banyak. Er- mungkin pernah. Tetapi yang jelas di bidang yang bertolak belakang dengan yang saat ini terjadi. Memang, mengajar mantra pertahanan terhadap ilmu hitam lebih nyaman ketimbang presentasi mengenai bisnisnya. "Karena saya melihat banyak permintaan untuk menginovasikan sapu terbang, terutama untuk para atlet Quidditch. Maka dari itu saya mendirikan perusahaan ini atas dedikasi saya terhadap dunia olahraga Quidditch yang memang saya gemari." Harry tersenyum datar. "Sekian, selamat malam." Pungkasnya. Sorak sorai tepuk tangan membahana menyambut akhir presentasi Harry. Disambutnya jabat tangan yang terulur dari beberapa mitra perusahaan dan para pebisnis yang lain.

"Mr. Potter, kau sungguh inovatif. Selama ini tidak ada penyihir yang kepikiran untuk meningkatkan teknologi sapu terbang!" ujar salah seorang undangan dengan perawakan tua. Wajah kotak tirusnya terlihat begitu panjang akibat usia yang dibawanya saat ini.

"Teknologi sapu terbang! Kombinasi dengan teknologi Muggle rupanya!" ujar salah seorang wanita berbusana kelewat glamour untuk acara sederhana seperti ini. Dan dia menggiring seorang pengusaha yang wajahnya hanya tampak tersenyum lemah. Sepertinya Muggle. Pansy melirik semua kejadian dari pantulan kaca di balik meja bartender. "Firewhisky satu lagi," ujarnya pada bartender di ujung sana.

* * *

Harry duduk di kursi bartender setelah beberapa jam melayani celotehan para undangan yang mendukung keputusannya membuat perusahaan ini. Ada yang menjilat dan ada yang hanya ingin sekedar dikenal, barangkali ingin diingat saat Harry membutuhkan mitra anyar.

Terimakasih kepada Malfoy dan Hermione juga, jika bukan pikiran para undangan beralih pada penampakan mereka berdua yang makin terlihat intim, Harry takkan ada habisnya meladeni semua orang sampai pagi.

Harry berbalik setelah berbincang dengan Hermione sebentar, sepertinya ada beberapa fotografer yang meminta wawancara dan konfirmasi singkat tentang hubungan Malfoy dan Hermione. Dan disinilah Harry, meneguk butterbeernya sendirian.

"Butterbeer, Potter? Sungguh berkelas." Pansy menatap dingin Harry. "Kupikir kau akan minum Ogden, atau apalah. Pebisnis tidak minum Butterbeer," cemoohnya.

"Tetap dengan lidah ularmu, Parkinson?" sahut Harry tanpa perlu menolehkan kepala ke arahnya.

"Tentu saja. Dan kau masih dengan wajah haus ketenaran itu, rupanya." Harry terdiam. Masih tetap dengan cemoohan klasik. "Sendirian disini, memikirkan cara untuk menyelamatkan dunia lagi, eh? Dunia bisnis?"

"Benar, dan aku akan menyelamatkan apapun yang akan kau kacaukan saat ini."

"Hah! Mencoba kembali menjadi auror? Lalu kenapa kau tinggalkan pekerjaan lamamu itu? Tidak banyak menghasilkan Galleon rupanya."

"Mungkin obsesiku hanya ingin menjatuhkan Malfoy-mu itu."

"Obsesi yang menarik. Mengaku kalah dari Draco, hm?" Pansy menyeringai sinis. Harry hanya terdiam. Mereka duduk cukup dekat. Setidaknya untuk area pendengaran. Terdiam dalam sepi, hanya ada bartender yang mengocok ramuan paduan firewhisky dengan jus labu.

"Untuk apa kau kemari?"

"Memang apa pedulimu?"

"Hanya berjaga-jaga, barangkali kau kemari untuk membunuh Hermione."

"Wah. Tampaknya Granger itu tidak memberitahumu, ya? Aku diundang."

"Oleh Malfoy pastinya, bukan Hermione."

"Walaupun aku ada rencana membunuhnya, Potter. Tidak malam ini. Terlalu instan, dan tidak misterius. Tidak berkelas."

"Aku menangkap bahwa kau memberi ijin kepada Draco-mu untuk tetap lanjut dengan Hermione, bukan begitu?"

"Bukannya kau begitu juga, merelakan Granger tersayangmu dengan Draco, eh?"

Harry menggidikkan bahunya, "Hanya saja jika kutahu Hermione terluka karena Malfoy, aku bersumpah untuk membunuhnya." Harry memutar kursinya menghadap kepada wanita ex-Slytherin itu dengan pandangan memberi peringatan, namun wanita itu tak membalas pandangannya. Dirinya masih menghadap lurus kedepan. "Untuk apa kau kemari, Parkinson," tanyanya lagi.

"Jika pun kujawab, apa untungnya untukku hah?" Pansy menyeruput Firewhiskynya, sebuah ide muncul mendadak, "Atau kau ingin mencari pasangan malam ini, eh?" godanya. Bukan menggoda Harry, tentu saja. Hanya ingin menyinggung keberadaan Ginny Weasley.

"Untuk apa? Tidak ada pesta dansa. Dan denganmu? Mati saja."

"Oh. Kuduga, si wanita berambut merah itu sudah pulang rupanya."

Harry terdiam, rahang mengeras. Tak ada jawaban.

"Atau.. rumor itu benar. Kau dicampakkan." Pansy tersenyum puas.

"Tutup mulutmu, Parkinson," geramnya lemah.

"Ah, ternyata itu benar. Kasihan sekali kau. Ternyata si Anak Yang Hidup Kembali mati hanya karena dicampakkan seorang wanita? Tunggu saja headline koran-koran nanti jika rumor ini terkuak juga: Harry Potter dicampakkan Wanitanya. Sungguh menarik."

"TUTUP mulutmu, sundal! Dan pergi dari sini."

"Memangnya siapa kau, Potter? Pemilik Kementrian?" desis Pansy marah. Mata mereka beradu, saling benci jelas sekali tergambar. Pansy menegakkan tubuh. "Dan terimakasih atas sarannya. Aku tak perlu repot untuk berlama-lama disini. Dan satu lagi, aku tahu masalahmu. Cepat atau lambat itu akan terkuak." Seringai dingin terlukis di wajah Pansy. Meraih tas tangan, lalu cepat-cepat angkat kaki dari ruangan yang memang sudah direncanakannya untuk ditinggalkan. Jika bukan karena kesabarannya, dia tidak akan mendapat sekelumit bukti nyata masalah pribadi Harry Potter dengan Ginny Weasley.

Patient is virtue. Pansy tersenyum puas.


A/N

Wew.. chapter ini selesai di tengah-tengah gw berjuang mengerjakan deadline tugas kuliah yang ga ada habisnya. Plot sih udah jadi dari kapan tau, tapi baru kesampaian diketik dan dikembangkan kali ini. Dengan sangat abalnya gw jadiin chapter dua. Makanya sorry kalo terkesan garing atau apapun lah. Kalian bisa kasih masukan, saran, kritik, cemoohan bagi gw dengan ngeklik link 'review' dibawah ini. Masukan kalian sangat berarti bagi gw.. :D